Pelajarannya adalah bahwa kejadian diluar bisa
bermacam-macam, mustahil kita bisa mengontrol
sepenuhnya, namun kebahagiaan dindalam adalah
sepenuhnya urusan kita sendiri.
2 orang mendapatkan sakit yang sama, yang satu
menderita dan yang lain tetap bahagia.
Artinya Syarat bahagia bukan sembuh dari sakit, atau
apapun kondisi luar lainnya.
Sakit dan menderita adalah dua hal yang berbeda.
Ketika kita menerima sakit, kita tetap bahagia, disaat
kita menolaknya, penderitaan bertamu.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak
waktu tenaga dan kegiatan, kita habiskan dalam
kelelahan untuk membangun figur hebat, kaya, fantastik,
luar biasa dan lainnya.
Semuanya memang terlihat 'lebih' namun kalau kita mau
jujur kita semua juga tahu bahwa kita melakukan semua
itu tak lain untuk menutupi kekurangan-kekurangan di
dalam diri.
Ketika diri ini sudah tidak melekat pada pandangan
orang lain, tatkala kita sudah melewati keinginan untuk
membuat orang lain terkesan pada kita, disanalah jiwa
mulai tumbuh.
Tatkala ego mati, jiwa bangkit - Gandhi
Salam Bahagia #Gobind V
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Muniri Chodri, Dalam suatu kesempatan, saya terlibat diskusi tentang pertentangan Ahli fiqh dan kaum Sufi. Ahli fiqh menyangsikan amaliah ya...
-
"Bagaimana bisa dikatakan cinta, jikalau engkau sepi dari jiwa dan semangat berkorban kepada yang dicintai, cinta itu tiada menuntut ba...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar