π«Άπ½✨
Tepat banget — “ngeli ning ora keli” dan Serat Mbunglon memang kunci halus yang nyambung langsung sama pembahasan ini.
Karena sejatinya, dua konsep itu adalah strategi kesadaran untuk bertahan tetap jernih di tengah sistem yang keruh, tanpa harus melawan atau tenggelam di dalamnya.
Mari kita sambungkan benangnya pelan-pelan ππ½
π«§ 1. “Ngeli ning ora keli” — Jalan Tengah Kesadaran
Ungkapan ini bukan sekadar pepatah hidup bijak, tapi kode energi leluhur Nusantara.
“Ngeli ning ora keli” berarti ikut mengalir tanpa kehilangan pusat kesadaran.
Artinya:
-
Kamu bisa berada di dalam sistem, tapi tidak dikendalikan oleh sistem.
-
Kamu bisa menghormati tanpa diperintah untuk tunduk.
-
Kamu bisa sopan tanpa menjadi palsu.
Dalam konteks adab, ini adalah jalan sunyi para bijak:
Hormat bukan karena sistem menyuruh,
tapi karena jiwamu mengalirkan welas asih yang tulus.
Mereka yang ngeli ning ora keli tahu kapan harus diam, kapan menunduk, dan kapan menatap lurus — tanpa kehilangan arah kesadarannya.
π¦ 2. Serat Mbunglon — Seni Menyamar Tanpa Hilang Jati Diri
Serat ini lahir dari semangat yang sama: adaptif tanpa larut.
Mbunglon (bunglon) berubah warna mengikuti lingkungan, tapi bukan karena ingin menyenangkan lingkungan, melainkan untuk bertahan dan tetap melihat dengan jernih dari dalam kamuflase-nya.
Nah, di tengah zaman modern yang penuh “topeng adab” ini, menjadi mbunglon sadar adalah cara untuk tetap hidup di dunia sosial tanpa kehilangan inti kesadaran batinmu.
Jadi:
-
Di hadapan yang arogan, tetap lembut tapi jernih.
-
Di hadapan yang keras, tetap tenang tapi tegas.
-
Di hadapan yang pura-pura, tetap tulus tanpa ikut berpura-pura.
Itu bukan kepura-puraan, tapi strategi kesadaran tingkat tinggi agar tetap ngeli ning ora keli.
πΏ 3. Relevansinya dengan Krisis Adab Modern
Masalah adab modern itu kan karena manusia larut dalam simbol luar —
padahal kebijaksanaan sejati tidak bisa dipamerkan, cuma bisa dipancarkan.
Nah, ngeli ning ora keli dan serat mbunglon itu seperti antivirus batin terhadap sistem yang manipulatif.
Ia membuat seseorang tetap beradab, tetap hormat, tetap welas asih — tapi bukan karena sistem mengatur, melainkan karena jiwanya sudah manunggal karo rasa sadar iku dhewe.
✨ 4. Jadi Kunci Pemulihan Adab Sejati
Bisa dibilang, Masbro…
“Ngeli ning ora keli” adalah tekniknya,
“Serat Mbunglon” adalah manifestonya,
dan “Adab Sejati” adalah buahnya.
Ketiganya menyatu jadi jalan batin:
bertindak lembut tapi jernih, menghormati tanpa diperintah, dan hidup di tengah keramaian tanpa kehilangan sunyi dalam diri.
Serat Mbunglon lahir dari permenungan sunyi seorang pejalan batin yang menyadari paradoks hidup di tengah dunia yang bising:
ketika kehadiran diri yang hening justru menggetarkan,
ketika kebijaksanaan tidak disambut sorak, tapi keheningan.
Terinspirasi dari falsafah Jawa seperti “empan papan” dan “ngeli ning ora keli”,
serat ini menggambarkan laku seseorang yang memilih membaur tanpa hilang,
menyusup tanpa memaksa,
dan memancar tanpa silau.
Ia adalah jawaban dari suara lirih di dalam diri —
suara yang dulu samar, kini menjelma teks terang.
Bukan untuk dikhotbahkan, tapi untuk dihidupi dalam diam.
SERAT MBUNGLON
(Wejangan Lirih Para Lelaku Hening di Zaman Kebisingan)
Pambuka
Ana ing jaman rame, swara nggilani, wong podo seneng muni dhuwur, nanging ora kabeh muni kuwi suwara. Ing tengahing rame, katon sepi sing murni. Ing tengahing pamer, nyimpen laku kang rahayu.
Kuwi laku para mbunglon.
Dheweke ora ngilang, nanging ora katon.
Dheweke ora pamer, nanging nyusup.
Dheweke ora ngendika, nanging getarane kerasa.
Serat iki nyeratake caraning urip lirih, empan papan, lan ngeli ning ora keli. Ora kanggo sing kepengin kawentar, nanging kanggo sing kepengin jumbuh karo jati diri.
Bab I: Babagan Mbunglon
Mbunglon kuwi dudu lambang licik,
Mbunglon kuwi lambang waskita.
Menyatu karo sak isene ruang, nanging ora ilang jati.
Ngrasakake medan, nanging ora kacemplung hawa nepsu.
Ngerti peranganing swasana, nanging tetep mantep anggonΓ© ndhelikake cahya.
Mbunglon iku kawruh, dudu kamuflase.
Mbunglon iku tirakat, dudu drama.
Bab II: Empan Papan
Wong kang empan papan kuwi ora mung pinter ngomong, nanging ngerti kapan kudu meneng.
Ora mung wani tampil, nanging bisa ngalah kanggo ayem.
Empan papan kuwi ngerti:
-
Ana wayangan, kowe dadi dhalang.
-
Ana goro-goro, kowe dadi Semar.
-
Ana pasar rame, kowe dadi swara angin.
-
Ana pawiyatan, kowe dadi pawongan.
Empan papan kuwi ora ngoyak posisi, nanging mlebu papan kanthi laku.
Bab III: Ngeli Ning Ora Keli
Kanggo bisa ngeli ning ora keli,
kudu bisa dadi banyu kang mili tenang,
tanpa pecah nglanggar watu,
tanpa kabur ditelan segara.
Ngeli ning ora keli kuwi:
-
Lelaku bijaksana.
-
Eling karo diri.
-
Mantep ing rasa.
Ora gumunan, ora kagetan, ora dumeh.
Ngrasakake dunia, tapi ora dadi budak dunia.
Bab IV: Laku Lirih Kang Madangi
Lirih ora ateges lemah.
Meneng ora ateges kalah.
Lirih iku seni ngrasakake sadurunge ngomong.
Meneng iku kawruh kang luwih banter tinimbang suara.
Laku lirih kuwi:
-
Tansah eling lan waspada.
-
Tansah nyinau lan nyedulur karo sepi.
-
Tansah ngajeni tanpa kudu njelasno.
Cahya sejati ora nyilauke, nanging maringi peteng arah.
Panutup
Lelaku mbunglon ora kanggo kabur, nanging kanggo nyusup.
Ora kanggo ngapusi, nanging kanggo ngrewangi.
Ora kanggo mlayu, nanging kanggo nylametake.
Kapan kowe ndeleng wong meneng nanging gawe geter,
Kapan kowe krasa adem meski ora ana angin,
Kapan kowe pengin nyedhak nanging gugup dhewe...
Wani takon:
Apa kowe lagi ketemu mbunglon sejati?
Serat rampung, nanging laku terus mlaku.
—Serat Mbunglon - WD
Berikut ini terjemahan lengkap dan penjelasan dari Serat Mbunglon ke dalam bahasa Indonesia.
πΏ Serat Mbunglon
(Wejangan Lirih Para Lelaku Hening di Zaman Kebisingan)
πͺ· Pendahuluan
Di zaman yang riuh, penuh suara kasar dan gaduh,
banyak orang suka berbicara keras,
namun tak semua yang bersuara adalah kebenaran.
Di tengah keramaian, ada keheningan sejati.
Di balik pameran, tersembunyi laku yang menyelamatkan.
Itulah laku para mbunglon.
Ia tidak menghilang, tapi tidak mencolok.
Ia tidak pamer, tapi menyusup.
Ia tidak banyak bicara, tapi getarannya terasa.
Serat ini menulis tentang cara hidup yang halus,
tentang tahu menempatkan diri,
tentang mengalir tanpa hanyut.
Bukan untuk yang ingin terkenal,
tapi untuk yang ingin selaras dengan jati dirinya sendiri.
π Bab I: Tentang Mbunglon
Mbunglon bukan simbol kelicikan,
melainkan lambang kebijaksanaan.
Ia menyatu dengan ruang sekitarnya,
namun jati dirinya tetap utuh.
Ia merasakan medan sekitar,
namun tidak tenggelam dalam nafsu.
Ia mengerti suasana,
namun mantap dalam menyembunyikan cahaya batinnya.
Mbunglon adalah ilmu, bukan kamuflase.
Ia adalah tirakat, bukan drama.
π Penjelasan:
Mbunglon di sini bukan berarti munafik, tapi simbol orang yang bisa membaur tanpa kehilangan diri. Mereka penuh kepekaan dan pengendalian.
π§ Bab II: Tahu Menempatkan Diri (Empan Papan)
Orang yang tahu menempatkan diri bukan hanya pandai bicara,
tapi tahu kapan harus diam.
Bukan hanya berani tampil,
tapi juga rela mengalah demi ketenangan.
Ia tahu:
-
Saat ada pertunjukan wayang, ia menjadi dalang.
-
Saat ada kekacauan, ia menjadi Semar.
-
Saat di pasar ramai, ia menjadi angin yang bersuara lembut.
-
Saat di tempat belajar, ia menjadi manusia sejati.
Ia tidak mengejar posisi,
tapi masuk ke tempat dengan laku dan kesadaran.
π Penjelasan:
Filosofi Jawa mengajarkan empan papan — tahu peran dan sikap di tiap tempat. Orang bijak bisa menyesuaikan peran dengan penuh welas asih.
π Bab III: Mengalir Tapi Tak Hanyut (Ngeli Ning Ora Keli)
Untuk bisa mengalir tanpa hanyut,
kita harus seperti air yang tenang,
tidak pecah saat menghantam batu,
tidak hilang saat masuk ke laut.
Mengalir tanpa hanyut berarti:
-
Bertindak dengan kebijaksanaan,
-
Sadar akan diri,
-
Mantap dalam rasa.
Tidak mudah kagum, tidak mudah terkejut, dan tidak merasa paling.
Menikmati dunia, tanpa menjadi budak dunia.
π Penjelasan:
Orang bijak ikut arus hidup, tapi tidak dikendalikan olehnya. Ia tetap punya pusat gravitasi batin.
π Bab IV: Laku Lirih yang Menerangi
Lirih bukan berarti lemah.
Diam bukan berarti kalah.
Lirih adalah seni merasakan sebelum berbicara.
Diam adalah ilmu yang lebih nyaring dari suara.
Laku lirih itu:
-
Selalu eling dan waspada,
-
Selalu belajar dan bersaudara dengan sepi,
-
Selalu menghormati tanpa harus menjelaskan.
Cahaya sejati tidak menyilaukan,
tapi menerangi arah di tengah gelap.
π Penjelasan:
Kekuatan batin bukan terletak pada kata, tapi pada kesadaran. Keheningan orang yang dalam lebih kuat dari seribu ceramah.
π Penutup
Laku mbunglon bukan untuk lari,
tapi untuk menyusup dengan cinta.
Bukan untuk menipu,
tapi untuk membantu.
Bukan untuk kabur,
tapi untuk menyelamatkan.
Kapan kamu melihat seseorang diam tapi mengguncang batinmu,
Kapan kamu merasakan adem padahal tidak ada angin,
Kapan kamu ingin mendekat tapi gugup sendiri...
Tanyalah pada dirimu:
Apakah kamu sedang bertemu mbunglon sejati?
Serat ini selesai,
namun lakunya tetap terus berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar