Tampilkan postingan dengan label Awarenes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Awarenes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Januari 2018

MEMAHAMI POHON KEHIDUPAN DAN POHON KEMATIAN

Kalau konflik itu bukan diakari oleh sentimen dan kepercayaan agama, maka tidak mungkin menjadi begitu kompleks dan berlarut-larut seperti ini.
Karena alasan bahwa itu sengketa tanah / wilayah , adalah sebuah kedustaan atau penutupan belaka dari hal yang sebenarnya, yaitu : memusnahkan yahudi seperti diperintahkan dalam al quran. Dan utk itu maka segala macam penghalalan cara digunakan, gali dusta tutup dusta tak berkesudahan.
Seandainya pihak-pihak adalah berpijak pada kejujuran dan fakta, maka rekonsiliasi sebetulnya bukan hal yg sulit. Tapi justru tepat pada faktor inilah sebagai sebuah hal yg tidak pernah terjadi. Dusta demi dusta diluncurkan untuk menghasut dan merekrut lebih banyak orang dari daerah lain, sehingga akhirnya konflik meluas menjadi issue dunia.
Bisa menyanggah pernyataan ini dengan argumen dan bukan dengan hasutan / tuduhan / caci maki?
Wong Pethok : Sebenarnya setiap manusia itu bisa menilai mana yg baik dan mana yg buruk, asalkan mau mengosongkan diri/ netral/ tdk berpihak barulah bisa menilai dg benar, tdk mendahulukan ego.
Yohanes Johan Cahyadi : *tetap sadar diri untuk tetap menjadi penonton, dan bukan bidak catur....
Kristian Hartino : persoalan beragama di bumi ini bukan siapa yg mulai duluan bikin keonaran/chaos di bumi. Chaos (Iblis dan pekerjaannya) sudah ada sejak manusia belum berdosa.
Jadi persoalannya mengapa manusia mau diajak chaos oleh Sang Chaos (Iblis). Hingga kini, ya persoalannya itu2 aja. Semakin kita berbuat mencari manusia/bangsa/agama penyebab chaos lalu membela agama sendiri (bukan Tuhan).. maka diri kita semakin masuk ke dalam pusaran chaos yg dikerjakan Sang Penuduh.

Danz Suchamda : 
Bisakah anda melihat pola iblis ini (ingatlah lagi kisah tentang bagaimana kejatuhan malaikat yg kemudian disebut iblis itu) :

SEMAKIN INGIN MENJADI BENAR, AKAN SEMAKIN JAUH DARI KEBENARAN TUHAN.
Karena malaikat itu jatuh karena ingin dibenarkan.
Maka jangan pikir asal modal INGIN benar atau MERASA benar lalu serta merta sudah benar di hadapan Tuhan.
Jadi jelas bahwa langkah menuju Tuhan adalah dengan memakan buah Pohon Kehidupan....alias memahami realitas/ kasunyatan.....ngerti sangkan paraning dumadi. Dan itu artinya adalah gemblengan melalui proses matangnya buah Pohon Kehidupan itu sendiri. Yang mana artinya adalah melalui proses naik dan turun, salah dan benar, jatuh dan bangun, keliru dan mengoreksi diri.
Oleh karena itu, langkah menuju Tuhan melalui koreksi diri sudah jelas ada di semua agama-agama , yaitu :
1. Menyelidiki segala hal ihwalnya dengan seksama dan jujur. Dengan cara komunikasi, menyimak dan understanding (pengertian).
Anda boleh mendebat, tidak setuju, dan mempertanyakan segala sesuatunya........tapi itu berbeda dengan menghasut, mengingkari, memutar-balik, berdusta atau caci maki mengancam-ancam.
2. Mengakui kesalahan
3. Melihat dan memahami kesalahannya dimana yang dipandu oleh pengertian benar.
4. Menyesal
5. Mengubah sikap

Apakah anda punya konsep pertobatan versi lain yang berseberangan dengan 5 point di atas wahai saudaraku umat agama-agama, khususnya muslim?
Kalau iya, katakanlah.

Inilah kasunyatan yang saya ajak saudara2 semua untuk menyelami lebih mendalam, karena sifatnya yang sangat halus dan elusive (apa bhs indonya?).....'tidak dapat digenggam"?
Hidup itu mengalir, sedangkan mati itu diam kaku.
Maka kalau saudara menggenggam 'kebenaran' sebetulnya sudah menuju kematian. Karena hanya sesuatu yang mati yg dapat anda genggam semaunya. Karena barangsiapa ingin menuju Hidup, ia harus menemukan Pohon Kehidupan, yang artinya adalah segala fenomena perubahan, pertumbuhan, percabangan, mekar dan berbuahnya realitas ini. Itulah yg disebut DHARMA. Sedangkan bila mengingkari realitas, menggenggam yang mati / beku karena ego ingin demikian, maka disebut Adharma.

Wong Pethok : //Jgan menjudge org lain kafir, syirik dan masuk neraka krn tdk seagama. Dg begitu yg menghukumi tdk sadar klo dirinya sudah mendua, syirik, krn itu sebenarnya adalah hak Allah.//
Danz Suchamda : 
Betul !
Manakala berpikir bahwa ada pihak lain selain dari Tuhan yang menciptakan fenomena kafir, syirik dsb...senyatanya dia TELAH MENDUAKAN TUHAN. Berpikir bahwa ada pihak lain sebagai sumber hal-hal itu. Padahal, hanya Tuhanlah sumber dari segala sesuatu fenomena yang ada , pernah ada dan akan ada di semesta ini.

Jadi.......kalau tidak terima 'tanah' itu saat ini dihuni oleh orang Yahudi. .......silakan lawanlah Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi.
Kalau anda hendak memusnahkan suatu kaum atau bangsa di dunia ini yang mengada atas ciptaan Tuhan.......silakan lawanlah Tuhan yang menciptakan mereka.
Kalian mampu melawan dengan apa?......... tidak lain tidak bukan hanya dengan dusta demi dusta untuk menciptakan "realitas yang lain".
Selamat! Anda sudah berdiri di seberang realitas.
Tahu kan istilah khusus yg digunakan untuk merujuk pada "Pihak di Seberang Realitas" (The Other Side / Sitra Achra)?
Baca saja tulisan2 saya sebelum ini, maka anda akan jelas.

Tolong diperhatikan....saya bukan mau mengubah agama anda. Tapi saya hanya hendak menyadarkan mereka yang mampu sadar. Dan saya tahu , jumlahnya tidak banyak.
Karena sudah pasti tetap harus digenapi apa yang sudah dinubuatkan dalam Kitab-kitab para Nabi.....bahwa harus ada pasukan dajjal yang akan berusaha melawan Tuhan. Yang menimbulkan peperangan, dan kekacauan di atas muka bumi ini pada akhir jaman.
Oleh karena itu, ini hanyalah sekedar wacana pertimbangan belaka bagi anda untuk membuat pilihan. Ingat, sekedar wacana membuka wawasan. Tapi untuk selanjutnya terserah anda.
Saya tidak peduli apa pun pilihan anda. Karena itu bukan urusanku, manusia, tapi urusanmu sendiri dengan Tuhan Sang Pemilik Realitas.

Maaf, mohon jangan keliru mengartikan ini secara negatif. Bukankah sebagai saudara sebangsa yang memiliki itikad baik kepada saudaranya harus saling ingat mengingatkan supaya saudaranya tidak terjatuh dalam kesengsaraan?
Semoga anda tidak membuat pilihan yang keliru.

Rahayu! 


Source : Danz Suchamda

Senin, 16 Oktober 2017

MENTALITAS MENJADI KORBAN

Danz Suchamda,
Seperti kita ketahui bahwa sikap rendah-hati itu adalah sikap yang terpuji. Tapi manakala keliru menjadi rendah-diri maka itu menjadi sesuatu yang buruk. Bedakan antara rendah-hati (tidak sombong) dan rendah-diri (minder).
Perasaan rendah-diri ini tidak baik karena berasal dari batin yang berpusat pada ego. Ego yang selalu membanding2kan mengukur2 dirinya dengan orang / pihak lain. Dasarnya adalah rasa iri yang tersembunyi dan ter-represi. Apalagi apabila punya sikap mental "merasa selalu menjadi korban". Maka itu adalah egoisme yang sangat tinggi. Kegagalan menerima keadaan seperti apa adanya. Ia hanya mau mengasihani dirinya sendiri tanpa melihat adanya kepentingan orang-orang lain di sekitarnya.
Apalagi bila sikap "merasa jadi korban" ini lalu dibuat pembenaran-pembenarannya. Maka akibatnya adalah delusi. Dari delusi itu muncul kebencian kepada pihak lain yang dianggap menyebabkannya menderita. Maka alih-alih introspeksi diri untuk memperbaiki keadaan justru bisanya hanya menyalahkan pihak lain.
Karena dimatanya pihak lainlah yang selalu salah menjadikan dirinya 'korban', maka akibatnya muncullah kemarahan dan niat balas dendam.
Dengan kata lain, marah karena percaya kebohongannya sendiri. Lalu mengganggu orang lain. Akhirnya orang lain membalas. Lalu dia membenarkan kecurigaan bahwa orang lain itu membencinya. Lalu akhirnya berpusar-pusar saja pada niat2, pemikiran, sikap atau perbuatan yang negatif. Suatu lingkaran setan yang berpusar merosot ke jurang tanpa batas. Ini yang menyebabkan batinnya penuh kegelapan dan semakin merasa kekurangan. Ini yg disebut jurang tanpa dasar atau abyss atau Abaddon.
Sayangnya, sikap batin "merasa jadi korban" ini selalu dikembang-suburkan di lingkungan strata sosial tertentu yang memang terpuruk. Sadarlah, bahwa dengan sikap mental demikian anda tidak akan menjadi lebih baik tapi malah justru semakin terpuruk. Cobalah keluar dari lingkungan sosial yang beracun itu dan mencari lingkungan sosial yang membawa aura positif dan konstruktif. Jangan takut menerima kritik, karena hanya dengan mengoreksi dirilah kita bisa keluar dari pusaran jurang tanpa dasar tersebut. Anda tidak sendiri di dunia ini. Ribuan bahkan jutaan orang lain dengan problem yg sama bahkan lebih berat, tapi mereka menanggapi kehidupan ini dengan ceria dan penuh harapan, berjuang-keras tapi tetap rendah-hati karena bisa menerima apa adanya.

Bagaimana dengan rendah-hati?
Jawab :
Justru sebaliknya. Rendah hati muncul dari KEPENUHAN atau keberlebihan yang meluber. Karena bisa mengecilkan ego dengan meninggikan prestasi, maka apa pun yang diterima merasa memenuhi lalu meluber keluar. Pada waktu dikecilkan oleh pihak lain , ia tidak lagi merasa kecil karena memang sudah kecil, dan tidak ada masalah untuk menempatkan diri sebagai kecil karena memang sudah terpenuhi. Jadi, dasar dari perasaan rendah-hati ini justru berasal dari perasaan kaya (abundance mentality). Tidak mungkin seorang yg mempunyai mental kekurangan (poor-mentality) bersuka cita dalam memberi tempat pada orang lain. Justru sebaliknya ia akan terus berusaha meminta dan meminta atau setidaknya minta imbal-balik (transaksional). Termasuk meminta respek dan penghargaan terhadap harga dirinya, statusnya atau identitasnya.
Tapi karena pengaruh budaya mental yang buruk (yg saya sebut diatas sebagai lingkungan kejiwaan yang beracun - poisonous psychological environment) maka sering terjadi dalam masyarakat kita yaitu penilaian terhadap orang yang merasa berlebih terutama BILA berlainan pihak (bukan satu kelompok) maka dipersepsikan sebagai kesombongan! Karena memang kesannya "Besar" sedang yang menerima merasa "dikecilkan" karena memang egonya dalam kondisi selalu menjadi victim. Pada akibatnya malah mencurigai macam-macam bukannya bersyukur berterimakasih. Nah terbalik kan???
Tapi sewaktu ditegur atas sikapnya yang tidak berterimakasih atau mensyukuri ybs malah kemudian merendahkan diri untuk minta dikasihani (misal : 'kami hanya orang kecil', 'kami orang2 tertindas', dst). Victimized complex! Ini namanya rendah-diri bukan rendah-hati. Akibatnya menggulung seperti saya jelaskan dalam status diatas tadi.
Maka dari keterbolak-balikan ini penanggapan secara negatif bisa menulari pihak yang tadinya positif itu turut menjadi negatif (misal : yg surplus berhenti memberi kepada yang minus). Bila ini terjadi maka bisa menjadi siklus yang akibatnya berpusar menggulung masyarakatnya itu menuju Anomie, yaitu masyarakat gagal! masyarakat yang miskin kebajikan spontanitas yang segar!

MENUJU SURGA ITU SEDERHANA

Dari keseluruhan ajaran agama dan berbagai macam tradisi dan aliran spiritual yang kemudian melalui laku praktek mendapatkan kekayaan insight, maka saya ingin menyederhanakan hal-hal yang tertimbun (bahkan kadang tersembunyi) di balik kerumitan ajaran falsafah / theologisnya. Satu hal untuk kali ini : mencapai surga itu sederhana.
Sederhana itu artinya tidak rumit, tidak berbelit-belit, tidak perlu teknik atau ritual ibadah aneh-aneh. Tapi sederhana juga bukan berarti mudah. Mudah ya mudah tapi sulit ya sulit. Mudah buat manusia, sulit buat yang belum jadi sepenuhnya manusia.
Bagi manusia, maka melakukan kebajikan kepada pihak lain, ..... tidak harus sesama manusia tetapi juga bisa hewan, tanaman atau alam lingkungan hidup (benda-benda mati) ..... adalah pasti menjadi hitungan untuk menghantar ke surga. Mengapa saya katakan demikan?
Karena sudah jelas dan nyata, bahwa setiap melakukan pengorbanan diri baik secara material maupun non-material kepada liyan, selalu menghasilkan perasaan kebahagiaan yang damai dan sukacita yg sangat2 halus, bersih, jernih dan indah. (Mohon bedakan antara : sukacita / bliss dan kesenangan / carnal desire. Sukacita ini bersifat batiniah, dimana justru tercapai bila diri berkorban untuk kesejahteraan liyan).
Tinggal seberapa banyaklah hal itu kita lakukan sehingga menjadi kebiasaan batin (mind habit) atau menjadi sifat karakter alami kita (becoming our spontaneous nature).
Sebaliknya, bila kita belum sepenuhnya menjadi manusia, maka sungguh sulit untuk melakukan kebajikan non-ego. Sekalipun disuruh-suruh atau diancam pun enggan. Kepada mereka yg ditaraf ini maka hanya bisa dilakukan pembinaan melalui cambuk dan hadiah, ancaman dan iming-iming. Kesadaran manusiawinya belum bersemi. Inilah akar alasan yg menyebabkan segala macam variasi dan kerumitan ajaran agama yg pada dasarnya adalah bagaimana 'memotivasi' atau kasarnya 'membujuk' para 'binatang' itu agar terangkat statusnya menjadi sepenuhnya manusia. Kerumitannya tergantung dari seberapa rumit batin 'binatang' yg hendak dikelola itu.
Semakin rendah maka aturannya semakin pada hal-hal yang kasar (carnal) dan sangat spesifik sehingga perlu mengatur dengan penuh lika-liku belat-belit seiring dengan kelicinan akal muslihatnya. Sebaliknya, makin tinggi tahap realisasi seseorang maka batinnya menjadi semakin luas, mendalam dan halus. Dirumuskan dalam kalimat-kalimat justru tampak seperti biasa-biasa saja tidak ada apa-apanya. Cukup prinsip dasar, yg walau tampak sederhana tapi bisa digali dengan sangat mendalam. Mendalam tapi sangat expansive selaras dengan pencapaian keluasan kesadaran (expansive awareness / sadar jagad-raya/ cosmic consciousness) yang berhasil dicapainya. Jadi pada dasarnya, taraf tertinggi batin mahluk yang telah menjadi sepenuhnya manusia adalah : nothing to do. Tidak ada satu hal pun yang harus / perlu diperbuat. Berbuat tanpa berbuat. Just Be.
Hidup di bumi ini adalah bagai membuat sebuah citra (image) yang cetakannya adalah kehidupan ini. Semasa hidup ini bila kita mengukir cetakannya bagus, maka ketika badannya mati dan cetakan itu dilepas, maka yg tertinggal adalah produk jiwa yang indah. Apa yang tercetak secara batiniah adalah tergantung mal-cetakan (molding) nya selama kita menggarapnya semasa berbadan kasar.
Bila cetakannya kasar, penuh keserakahan dan ratapan, maka sudah pasti alam berikutnya yg menanti adalah alam kasar, penuh keserakahan dan ratapan yang beribu kali lipat. Bila cetakannya halus, penuh keindahan dan kesukacitaan, maka kehidupan setelah kematiannya juga akan halus, penuh keindahan dan kesukacitaan yang beribu kali lipat. Inilah yang disebut Surga.
Maka apa yang engkau tanam dan pupuk dalam kehidupan di dunia ini sungguh sangat menentukan hasil akhirnya nanti.
Demikianlah sekilas. Mudah-mudahan bermanfaat.

Rahayu.
DS

Rabu, 11 Oktober 2017

FENOMENA AGAMA SEKARANG

Artikel ini adalah penglihatan realita dari kacamata pribadi melihat fenoma agama - agama sekarang, sebagai wujud kontemplasi diri dan pembaca yg budhi man...

"Dulu agama menghancurkan berhala.Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya,yg penting agamanya.
Dulu orang berhenti membunuh karena agama.Sekarang orang saling membunuh karena agama.
Dulu orang saling mengasihi karena beragama.Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.
Lalu yg berubah apanya?
Manusia nya?
Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya.
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.
Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya,yg paling cerdas di antara orang2 lainnya, Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.
Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian.
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.
Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama.
Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan.
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan,tak kan pernah dianggap salah,tak pernah ditolak,dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi,tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diperTuhan kan ,sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan.
Agama kini menghujat Tuhan.
Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, menghianati istri (poligami ) sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan.
Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan aturan agama."

Rahayu!

Jumat, 01 September 2017

APAKAH KITA LEBIH MULIA DARI SAPI?

(Sebuah Renungan di Hari Qurban: Hari Raya Idul Adha, Djumat Wage, 1 Sept 2017 (1438 H)

"Manusia harus membuang sifat-sifat hewan di dalam dirinya...."
BENARKAH DEMIKIAN ? APAKAH SAPI/DOMBA LEBIH BURUK DARI KITA?
Tolong sebutkan sifat hewan mana yang harus dibuang/
dikorbankan:
1. Hewan tidak memiliki EGO
2. Hewan hidup selalu sesuai FITRAHnya
3. Hewan tidak pernah korupsi
4. Hewan tidak pernah KESETANAN
5. Hewan hanya mengambil sesuatu kebutuhan, tidak penah menimbun harta!
6. Hewan tidak pernah MERUSAK ALAM.

SAPI/DOMBA ADALAH MESIN PRODUKSI PALING SEMPURNA YANG TIADA BANDINGANNYA.
BERI DIA SEONGGOK RUMPUT, MAKA DIA AKAN MEMBERIMU:
- TENAGA UNTUK MEMBAJAK SAWAH
- DAGING
- SUSU
- KULIT;
- TULANG/TANDUK
- PUPUK KANDANG

SANGGUPKAH ANDA ?

Masihkah Anda merasa lebih hebat dan mulia dibanding SAPI/DOMBA?
Dia sanggup mengorbankan nyawanya untuk membahagiakan orang lain dan menjadikan dagingnya sebagai santapan bergizi.....
SANGGUHKAH KITA SEDIKIT SAJA BERKORBAN (Waktu, Tenaga, Pikiran, Perbuatan, Perkataan, seulas senyum) UNTUK MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN? TAK USAH NYAWA.......
Sanggupkah ???!!!

APA YANG TELAH KITA LAKUKAN SELAMA INI? MEMBAHAGIAKAN ORANG ATAU MENCELAKAKAN ORANG LAIN?
MASIHKAN ANDA MERASA LEBIH MULIA DARI SEEKOR SAPI ATAU DOMBA?

Selamat Hari Qurban
Lamb of God
Rahayu!

Kamis, 03 Agustus 2017

GENERASI PENGHAYAL

Dan ketahuilah....salah satu ciri kekacauan (chaos) pada masa kita sekarang ini adalah : BIAS, DISTORSI dan DELUSION.

Tiada lain karena manusia sudah terlalu lama hidup dalam Hyperreality (agama2 politik). Perkembangan teknologi yg sedemikian cepat tidak diimbangi dengan kesiapan psikologis utk tetap berpijak pada realitas. Korbannya terutama anak-anak muda pengkhayal yang 10-20 tahun lagi akan jadi beban berat bangsa/ dunia.

Generasi muda diprogram untuk jadi penghayal?
Sudah merupakan konsekwensi dari kemajuan teknologi yang tidak seimbang dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi secara psikologis.

Contoh :
Jaman dahulu remaja ingin mendengarkan musik Top Hits terkini, mendengarkan radio yg suaranya kresek-kresek. Tidak puas. Untuk puas dia harus beli casette. Menabung dulu seminggu baru beli. Itu pun diputarnya berulang-ulang sampai pita kasetnya molor.

Tapi karena proses itu, kita merasakan kenikmatan.

Jaman sekarang?

Asal punya android dan "minta papa pulsa", mau dengar lagu apa saja bisa tinggal sejauh click. Sehari bisa dengarkan puluhan lagu. Mendengarkan musik seharian.
Puas??
Sebaliknya!!!

Semakin mudah kesenangan terpenuhi, apalagi sampai bertubi-tubi...hasilnya justru stress...

Akibatnya apa kalau stress?

Menuntut kesenangan yang lebih "tinggi" lagi (semacam dosis kecanduan morfin). Kalau dipenuhi terus akan semakin gila. Lalu timbul tindakan ngawur / nekat.
Hidup terasa hampa.
Apa yang natural dirasa kurang sip, lalu dengan akal pikirannya mencoba mereka-reka "yang lebih baik", "lebih efisien", "lebih benar", akibatnya hidup rumit sekali dan satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat yg lain mengejar "cita-cita ideal"nya masing-masing...
bukan semakin baik tapi semakin absurd... Tetapi "kegatalan" tidak enak kalau tidak digaruk....maka semakin bingung semakin ngoyo memutar pikiran.... akhirnya yg terjadi hanyalah BIAS, DISTORSI dan DELUSI... menjadi manusia super bawel seperti nenek-nenek yang mengkhayal sedang hidup di jalan PALING benar. Tiap-tiap orang dalam gelembung khayalnya masing-masing.
Mesti satu keluarga duduk bersama makan malam tubuhnya hadir semua, tapi nyawanya masing-masing entah terbang kemana.

Bukankah itu gejala penyakit modern ini?

Inilah salah satu contoh KETIDAKSIAPAN psikologis manusia atas lompatan teknologi yg super cepat. (Ingat, pesawat terbang saja baru ditemukan 100 tahun yg lalu. Jaman sekarang --saya dengar-- sudah ada yg menemukan teknologi atau minimal secara konsep teori untuk terbang / melayang dengan menggunakan vortex energy pada suatu wahana yg dirancang dari bahan dengan struktur crystalline).

Akibatnya, hampa....tapi mencari pemenuhan sementara melalui puja-puji hebrink dengan teknik NLP (Neuro Linguistik Program = motivasi) maupun katarsis musikal.

Ini jelas bukan merupakan solusi dari kehausan eksistensial tersebut. Bukti kegagalan itu adalah munculnya bigotry tersebut sebagai diagnosisnya. Tapi orang awam pada umumnya tidak mengerti hal ini. Karena ini kasunyatan, sementara mereka hidup dalam hyperreality mereka sendiri (dan bersikeras). Tentu gagal melihat.

Rahayu!
Danz Suchamda


SPIRITUAL : BERKETUHANAN TIDAK HARUS BERAGAMA

Danz Suchamda

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.

Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.
Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik dan lainnya terlalu kecil untuk uji statistik secara valid.

Anak-anak yang dibesarkan dari keluarga ateis memiliki empati lebih tinggi dibanding anak-anak Islam dan Kristen, sedangkan anak-anak Islam sendiri paling tinggi keinginan menghukum orang lain.

Anak-anak Muslim paling membahayakan dalam hubungan interpersonal dengan sikap dominan dan kegemaran menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga agama lain dan ateis.

"Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang-orang religius tidak lebih baik daripada rekan-rekan non-religius," kata Jean Decety, neurosaintis University of Chicago.

"Studi kami melampauinya dengan menunjukkan bahwa orang-orang religius kurang murah hati dan tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak juga," kata Decety.

Hari ini 5,8 miliar manusia mewakili 84% populasi dunia mengidentifikasi iman kepada akherat dan pada saat yang sama orang tua berasumsi bahwa agama adalah standar moral menjadi manusia yang baik.

Satu teori bahwa orang tua beragama mengajarkan anak-anak menjadi baik dengan cara takut kepada tuhan, sedangkan orang tua ateis mengajar anak-anak untuk menjadi baik dengan hal-hal yang memang patut dilakukan.
Anak-anak beragama hanya merasa terdorong untuk bersikap baik atau bermurah hati jika mereka berpikir ada seseorang yang menonton, bukan karena perbuatan baik memang baik dilakukan.

Pola perilaku anak agama cenderung dikaitkan dengan lisensi moral wahyu langit, roh ilahi dan sebagainya. Sedangkan anak-anak ateis cenderung bertindak atas dasar orang lain, aturan-aturan moral sosial dan lain-lain.

The Negative Association between Religiousness and Children’s Altruism across the World
Jean Decety et al.
Current Biology, November 05, 2015, DOI:10.1016/
j.cub.2015.09.056

http://www.laporanpenelitian.com/2015/11/29.html?m=1

Rahayu!

Rabu, 26 Juli 2017

KEBENARAN YANG HIDUP

Copas artikel dari master mbah Danz Suchamda

INIQUITY

Kemaren saya buka pintu untuk komen2 nyinyir, sentimentil emosional yang tujuannya hanya penyerangan pribadi atau disinformasi, pemfitnahan, blackpainting, dsb.... Agar publik luas dapat melihat sendiri kenyataannya. Bahkan ada akun2 bernama arab/islam pun ternyata isinya adalah domba2 bertaring.

Hari ini mulai saya bersihkan. Beberapa yang memang murni hatred langsung saya banned. Yang masih mengandung reason saya biarkan secara terbatas.

Tujuan saya adalah agar pesan2 saya dalam komentar dapat terbaca dengan jelas , alih-alih ditenggelamkan dengan komentar2 yg tidak perlu, unrelevan, iniquity dan OOT.
Sami mawon.

Kalau yang satu mengkafir-kafirkan orang. Menuduh mamarika, rheumason, preman sorry.
Yang ni nuduh sesat, murtad, iblis, tukang sihir, kuasa gelap.

Suka bikin perang tapi bilang pembawa DAMAI.
Suk menghasut orang untuk menjauhi pihak lain, pemecah belah keluarga dan persatuan umat manusia, tapi bilang agen tunggal KASIH.
PODO WAE.

Ketahuilah! bahwa Mesiah yang sejati itu akan datang untuk mempersatukan umat manusia dan bangsa-bangsa memasuki masa milenium damai yang diistilahkan New Jerusalem. "Shalem" sendiri artinya adalah KEUTUHAN.

Jadi bukan suatu IDOL yang mengajarkan NEUROTICISM (kecemasan dan ketakutan) agar manusia terpecah-pecah menjadi golongan-golongan saling curiga. Sadarlah!

Kalau pun dia dikatakan sebagai menjadi pemimpin pasukan surgawi menaiki kuda putih, maka itu artinya adalah simbolisme memerangi pihak-pihak yang memecah belah, melawan ajaran2 yang fragmentasi (tidak tamim) dan menanamkan ketakutan itu!

Mengacalah diri!

Tidak sadar kah kalian bahwa perang itu akarnya adalah RASA TAKUT. Justru bukan keberanian.

Takut hidup. Takut hidup berdampingan dengan orang lain yang dipersepsikan membahayakan atau mengancam hidup anda. Entah karena dia bawa-bawa golok atau karena "pelihara setan".
Berpikir, "Lebih baik mati, daripada hidup ketakutan"...."

Mari kita mati membela X melawan 'setan' yg membawa kematian kekal". Lihat!....pada dasarnya adalah ego yang krisis karena terancam! Ego yang ingin exist!

Pertanyakanlah : siapa yang menanamkan 'pengetahuan' (info-info) yang membuatmu merasa terancam dan ketakutan itu kalau bukan PEMIMPIN AGAMAMU SENDIRI!!!??? Merekalah yang menanamkan "grain of sand" di dalam hati dan pikiranmu, sehingga selalu iritasi di bawah sadar sehingga setiap saat dapat diledakkan jadi api yang berkobar!

Karena merasa terancam oleh pihak lain, maka pikiran manusia berdelusi berproliferasi dalam angan-angannya menimbulkan sikap antipati terhadap pihak yang lain. HAMPIR 90% TIDAK DIDASARKAN OLEH ALASAN-ALASAN REAL!
Ini adalah lawan kata dari TRUST atau saling percaya satu sama lain antar bagian sosialita masyarakat yang majemuk berbeda-beda dan unik tapi saling melengkapi.

So, be REAL !

Belajarlah menelisik ke dalam hati dan pikiranmu sendiri dulu.

Inilah tujuan penyibakan-penyibakan ini walau rasanya pahit dan menyakitkan pada awalnya.
Mungkin saudara menuduh bahwa saya pun menuduh. Marilah kita selidiki apa-apa saja yang kita perkatakan dan arahnya kemana.

Hai saudara.....apakah anda takut, curiga dan menjauhi saudara (setanah air maupun keluarga) anda sendiri?
Sementara mempercayai OMONGAN orang asing yang alamatnya pun anda tidak ketahui? Mempercayai orang asing untuk menjauhi dan curiga kepada saudara anda sendiri???

Anda mendengar OMONGAN ORANG tentang Tuhan, lalu anda menganggap bahwa itu adalah omongan Tuhan???

Dewasakanlah dan matangkanlah caramu berpikir!

Renungkanlah dengan jernih!!!

Rahayu!

Kamis, 06 Juli 2017

AGAMA ADALAH BAHASA

AGAMA ADALAH BAHASA
Post ini adalah sebagai penyambung dan sebagai bentuk pelestari wawasan kesadaran spiritual bagi soul - soul yang mencari pelita.
Rahayu!

Copyleft from :
http://primordialnature.blogspot.co.id/2016/08/ringkasan-pesan.html

Note : Mengingat besarnya animo untuk membungkam topik ini, maka justru menjadi SANGAT JELAS bahwa Elite Imperialisme selama ini telah menjajah, memanipulasi, mengeksploitasi kita melalui BAHASA !


AGAMA ADALAH BAHASA

Realitas itu berlapis-lapis (layered) dan memiliki tatanan (order) nya masing-masing untuk tiap layer. Seperti misalnya order pada layer sosial akan berbeda dengan order pada tataran individu, beda pula dengan order pada tataran sel...dst hingga atom dan pertikel sub-atomik. Itu baru dimensi fisik (materi).

Yang ada di dimensi Baqa (supra-mundane, adi-duniawi, alam Ketuhanan) bukanlah seperti yang kita kenali dalam fenomena dan benda-benda yang ada di alam Fana (mundane, duniawi) ini.

Maka untuk mengkomunikasikan pengertian tentang hal-hal yang Baqa memerlukan pointers dengan apa yang telah kita kenali dari apa yang berasal dari dunia ini. Tetapi anda harus memegang Hikmat bahwa pointers (alat penunjuk) itu hanyalah --secara kasar-- mewakili pengertian yang hendak disampaikan. Oleh karena itu jangan terjebak dengan kata-kata bahasa yang dari dunia bawah ini.

Mereka yang tidak pernah nglakoni praktek spiritual tidak akan pernah melampaui bahasa. Mereka akan disesatkan oleh bahasa. Sayangnya, tiap-tiap agama memiliki set istilah dan caranya masing-masing untuk membahasakan apa yang ada di realm Ketuhanan. Karena pada masa itu penduduk bumi belum global seperti sekarang yang bisa memahami simbol, gesture, tata-cara, budaya dari penduduk yang berada di daerah lain. Pada saat itu, ilmu pengetahuan pun masih belum berkembang. Maka daya-daya abstrak pada semesta ini mau tidak mau harus dibahasakan dengan sesuatu yang mungkin dapat dimengerti oleh penduduk masa itu.

Saya ambil contoh istilah "Malaikat" (Malach).
Dalam Torah diajarkan bahwa malaikat itu adalah asisten Tuhan, dan ia tidak memiliki kehendak sendiri melainkan 100% patuh pada Tuhan. Ia memiliki tugas mengeksekusi keputusan2 Tuhan.

Nah, dari cara-pengungkapan kuno yang anthropomorphis ini artinya apa?

Tidak mungkin orang pada masa itu akan mengerti konsep Force, Daya atau Gaya, atau Energi. Saat itu iptek baru sampai cara bercocok tanam dan beternak atau teknik2 pertukangan yang sifatnya benda mati. Bagaiman penduduk masa itu mungkin memahami bahwa suatu Force itu memiliki dinamika interaktif? Mereka cuman kenal benda-benda mati yang statis dan tidak interaktif. Oleh karena itu, untuk menyampaikan ide digunakan metafor berupa sosok yang hidup seolah seperti manusia, bersayap, bagai cahaya, dsb. Kenapa seperti manusia? Lhaya kalau digambarkan seperti kambing apa nenek-moyang kalian akan muncul respek dan awe (takjub)?

Nah, kalau era sekarang mestinya kalian tahu bahwa yg disebut Malaikat itu adalah Natural-Force atau Daya-daya Alam yang bekerja mengikuti hukum alam (maka itu dikatakan patuh 100% tidak punya kehendak sendiri) melainkan mengikuti Law-of-Nature (Sunnatulloh). Gak ada tow gaya gravitasi pilih-pilih kasih bekerja di negeri tertentu atau pada umat agama tertentu saja? Meskipun dijelaskan dengan nalar seperti ini, tentu saja anda juga jangan sebaliknya jadi meremehkan, merasa tahu. Karena masih banyak daya-daya yg bekerja di alam ini yg belum kita ketahui. Terlebih lagi daya-daya abstrak yang non-fisis (diluar fenomena materi). Itulah mengapa bila seseorang melalui laku praktek bersentuhan, berhubungan dan berinteraksi langsung dengan Force itu maka akan segera memahami dengan melampaui bahasa!

Contoh lain,..singkatnya saja...misalnya kitab suci menggunakan istilah 'wajah Tuhan', 'tangan Tuhan', 'tahta', 'bintang', 'Tuhan menangis', 'Bapa', dsb termasuk penuturan-penuturan dengan menggunakan kisah-cerita yang panjang2. Tentu semua itu jangan dibayangkan seperti yang kita kenali dari-dunia ini, melainkan carilah MAKNA DI BALIK istilah/kisah itu! Istilah-istilah yang berasal dari dunia-bawah-ini digunakan semata karena kita tahunya cuman hal-hal / benda-benda / fenomena dari yang kasat mata-daging kita.

Misalnya mengapa Tuhan disebut 'Bapa' karena bagai hubungan emosional yang sangat erat antara bapak dan anaknya, dimana sang anak patuh karena percaya bapaknya itu dapat diandalkan, mendidik walau seringkali keras (sifat laki2). Sementara dalam kesempatan lain hubungan itu digambarkan bagai dengan 'Raja' atau antara 'Tuan dan hambanya', antara 'Ibu dan anaknya' bila ingin mengkomunikasikan aspek kelembutanNya, antara 'Penggembala dengan hewan gembalaannya' bila ingin mengemukakan aspek kawanan (flock order), 'calon pengantin' bila ingin menyampaikan aspek persiapan dan kesetiaan cinta, dst dst. Itulah maka --seperti dalam TS yang lalu-- dikatakan bahwa untuk pengenalan terhadap Tuhan maka kita harus BEBAS dari yang-diketahui (Freedom from the known).

Nah, jadi jelas bahwa hanya melalui laku praktek spiritual yang nyata maka barulah kita dapat mengenali / memahami apa yang sebenar-benarnya dimaksudkan oleh para tokoh spiritual pendahulu (misal : nabi, avatar, mahasiddha, buddha, dsb).

Perbedaan antara orang yang paham dan yang tidak-paham akan jelas sekali disini. Mengapa? Karena pengalaman adalah suatu pengetahuan (knowledge and understanding) pada level Soul (Roh). Dan Soul itu berada pada order sebelum Pikiran (otak materi).

JADI KALAU SOUL ANDA MENGERTI, MAKA TIDAK AKAN LAGI TERBELENGGU OLEH ISTILAH-ISTILAH BAHASA YANG MERUPAKAN ALAT UNTUK PIKIRAN BEKERJA.

Itulah maka dikatakan memiliki Hikmat. Dalam Hikmat itu ada fleksibilitas, kreatifitas, relevansi dengan kekinian, kejutan2 jawaban dan mampu menjawab berbagai problema / issue yang tidak/ belum pernah terjabarkan / tertulis. Penjelasan anda tidak akan terbatasi oleh bahasa / term / istilah / dogma / theologi / ilmu kalam. Semua ini tak mungkin dapat diraih bila seseorang hanya 'mengerti' dalam tataran pikiran (cognitive). Yang mana akan cenderung kaku dan mengandalkan analisa (tafsir, hermeneutika,dsb) yg pada dasarnya adalah pekerjaan-pekerjaan di level analisa bahasa. Maka jangan heran bila bahasanya berbeda (baca : agamanya berbeda) lalu bertengkar. Seperti yg saya jelaskan dulu-dulu bahwa apa yang berasal dari pikiran (eg.: analisis) akan selalu menimbulkan fragmentasi (keterpecahan).

Semoga sekarang semua penyimak setia page ini menjadi terbuka matanya dan mulai menetapkan komitmen untuk praktek spiritual guna meningkatkan pengenalan pribadi akan Tuhan. Itulah yang disebut sebagai Berketuhanan Yang Maha Esa.
Rahayu!
=================
DISKUSI

DISKUSI 1
Danz Suchamda : Lagi lagi dan lagi ...just now. Masih anget.
(Capture hilang)
444 = the key, the lock, code of God, mesiah, omega, occult, gospel, preacher, parable, jewish, redeemer, ruler, the king, yeshua, kingdom, branch, damaskus : "a city so fruitful and fair as to be often called Paradise"
65 = supreme Lord; The Lord (divinity). (G D 6+5=11: the formula of completion of the Great Work); mezusah, Adonai.
Terserah mau dipercaya atau tidak. Sekedar referensi daripada saya tahu tapi disimpen sendiri. Lha wong saya juga tidak tahu dan baru tahu.
Ada yang mau bersaksi bahwa angkanya tidak saya buat2 dan baru saja terjadi belum 1 menit yg lalu?

Joko Ngulandara : Wah aku nggak nyampe Pak De 🙏

Danz Suchamda : Kok gak nyampe? Coba lihat di TS ini saat sekarang ada berapa like dan berapa share?

Joko Ngulandara : Pak Danz Suchamda ; iya, maksudnya sampai sedalam itu Pak Danz menyibak dengan kode kunci 444 🙏

Danz Suchamda : Ahhh....saya tinggal buka internet cari di google kok, apa susahnya? :D
Joko Ngulandara : Saya jadi ingat TS Pak De tentang code Phi yg full numbers dan alhasil blank gak nyambung blas Pak De. Ora tekan!!!
Danz Suchamda : "The formula of completion" gimana ngerasa relevan gak pak dengan TS ini? Bukan kebetulan toh angka itu muncul sebagai sign dariNya? :D

Joko Ngulandara : Lah, saya itu meyakini bahwa di kehidupan dunia ini TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Sedangkan revealasi itu pun ibarat kata hanya sekian mikron dari air di samodra. Justru dibalik revealasi itu sebenarnya yg mesti ditembus "pengajarannya" dan saya nggak bisa atau blm diijinkan 🙏

Danz Suchamda : Tapi jangan besar kepala dulu.....
Seperti saya copy paste dari web gematria mengatakan "the FORMULA of completion". Seperti misalnya anda bersekolah dan dapat PR matematika lalu diberi formula oleh guru anda di kelas. Apakah berarti anda sudah selesai??
YA BELUM !!! anda baru dapat formulanya tapi sama sekali belum mengerjakan PR nya....hahaha :D
Lebih parah lagi, ini baru diberi formula...anda belum ngeh (tembus) secara realisasi langsung. Saat realisasi langsung itu barulah disebut BARU MULAI masuk PATH. Jadi baru AWAL mulai berjalan. Sementara sebelum2nya (teori2, dogma2, ritual2 dan segala macam remeh temeh itu) sama sekali BELUM berada di Jalan ! nothing more just a business of thoughts dan religious-pride! :v

Danz Suchamda : So kalau kalian berdoa Al Fatehah atau HaPatchah..."tunjukkanlah kami Jalan yang Lurus"...itu baru sampai ditunjukin ke Path-nya. Anda belum berjalan di Path. :v
Parah kan?? :v

The real "chemistry" baru mulai bekerja pada SOUL anda ketika sudah mengijak Path. :)
Baru nanti terakhir FRUITION (buahnya) bila sudah tercerahkan. Tentu stage by stage.
Itulah yang disebut PENGANGKATAN. :)
Joko Ngulandara : Ya... ya...ya... betul. Itu pun baru minta ditunjukkan jalan yg lurus. Lihat jalan yang lurus pun belum, apalagi jalan di jalan yg lurus. 🙏

Danz Suchamda : Sebenarnya simpel ya?...lhawong hidup kelak-kelok ala orang mabok ndangdut , ngomong muter2, tipu sana tipu sini, janji sering ingkar, omongan gak bisa dipegang, lain luar lain dalam, dalam berpolitik licinnya ngelebih-lebihin belut, dsb .... mana ada belut jalannya lurus?? hahaha
gitu kok ya yakin kalau dirinya sudah lurus? hehehe :)

Joko Ngulandara : He..he..he... dereng saget lan dereng wantun matur Pak De, karena saya ada di ROMBONGAN itu 🙏

Danz Suchamda : Memang idiom ULAR jadi tepat sekali. Saya rasa memang karena semua ini maka pengarang Alkitab menggunakan idiom ular :
- berjalan melata di tempat rendah dengan perutnya (perut = makan = nafkah yg jadi alat geraknya bukan kaki yg bebas)
- gigitannya berbisa mematikan
- lidahnya bercabang dua (standar ganda, dusta)
- berada di tempat rendah
- mengendap2 bersembunyi dalam semak2 siap menggigit kalau terinjak atau terganggu.
- bisa ganti kulit
- jalannya berkelak-kelok
- cara hidupnya di pohon dengan cara melilit bergantung (dependent on others : morotin, hidup dari pemberian, memeras, dsb)
- sanggup memangsa yang jauh lebih besar dari mulutnya.
- anak2nya begitu menetas dari telur sudah berbisa
- menjijikkan dan membuat takut (orang geli / takut)
- tinggalnya di lobang (terobsesi lobang)...huahahaha

Joko Ngulandara : Dan diperlengkapi dengan senjata FAKE MIRROR

Danz Suchamda : Fake Mirror, Painted Mirror ,Crazy Mirror dan Spion Mundur :v
Giggs Lee : Dalam 2 bulan ini sudah 4 kali 444 muncul pas lihat hp. Menunjuj waktu... 2 kali pagi, 2 kali sore... sesuatu...
Danz Suchamda : Wah...malah saya gak memperhatikan. Terimakasih bro. :)
Guntur Saketi : Nderek nyimak...

DISKUSI 2

Joko Ngulandara : /JADI KALAU SOUL ANDA MENGERTI, MAKA TIDAK AKAN TERBELENGGU OLEH ISTILAH-ISTILAH BAHASA (agama) YANG MERUPAKAN ALAT UNTUK PIKIRAN BEKERJA/ matur nuwun Pak De atas babaran "kaweruh" nya yg super sekali.
Dalam pandangan saya ada "BAHASA" lain yg berfungsi pada suatu KEPUTUSAN atas dualisme. Ambil contoh begini ; bahwa ketika seseorang dalam KEGELAPAN (kesesatan,kejahatatan, dosa dsb) naturenya itu ada SIGNAL yg membahasakan ke hidup jiwanya. Disatu sisi bahasa itu berbunyi STOP dan di sisi lain bunyi UDAH LANJUT AJA. Bukankah itu sebenarnya juga signal bekerjanya SOUL?

Danz Suchamda : Tahukah anda raw experience itu apa?
Saat sendirian malam hari di tempat sepi tiba2 pundak anda ditepuk, apakah anda berpikir "ini tangan cewe atau tangan cowo"?

Joko Ngulandara : Blm tau Pak De

Joko Ngulandara : Mohon penjelasannya 🙏

Danz Suchamda : Kalau terjadi demikian pasti anda njudhil (kaget), kan?
Waktu kaget apa berpikir itu tangan laki atau perempuan?
Tentu TIDAK.
Setelah sepersekian detik kemudian anda tengok kiri kanan belakang ternyata tidak orang, barulah tiba2 anda merasa TAKUT karena PIKIRAN anda menyimpulkan itu HANTU..
Setelah lari terbirit-birit terkencing-kencing ditolong oleh seorang penduduk situ, barulah anda tahu cerita konon nya.
- kalau diceritain disitu dulu ada perempuan hamil bunuh diri, maka lalu PIKIRAN anda menyimpulkan bahwa itu tangan hantu-cewe.orang
- kalau diceritakan disitu dulu bekas tempat perang kemerdekaan, maka lalu PIKIRAN anda menyimpulkan bahwa itu tangan hantu-cowo.
PERHATIKAN bagaimana PIKIRAN membuat penilaian SETELAH proses refleksi dan penilaian-terhadap-hal-hal-lain atas pengalaman-mentah yang terjadi.

TAPI, mau bagaimana kesimpulan-pikiran anda...apakah itu tangan hantu cowo atau cewe atau tangan malaikat bahkan tangan tuhan, atau itu mimpi atau ada yg ngerjain, dsb terkandung bagaimana pikiran anda dikondisikan lingkungan setempat (contemporary conditioning).
Nah, spiritual itu adalah bagaikan pengalaman-langsung terhadap Raw-Experience itu.

Setelah proses refleksi dan konseptualisasi sesuai kultur dan keterkondisian setempat (dan database / memory yang tersimpan di otak anda) barulah itu jadi sebuah teori. Bila teori itu disambung2kan antara satu dengan yg lain jadi sebuah sistem-kepercayaan yang diorganisasikan dan di-enforcement dengan kekuatan politik, maka itulah disebut AGAMA.

Jadi tidak betul pernyataan anda itu bahwa SOUL akan menilai berdasar ukuran2 konseptual hasil dari proses refleksi sekunder dan reflektif tersier (yang terjadi jauh hari dari detik pengalaman langsung itu).

Yang sekunder dan tersier itu anda sudah menilainya dari PERSEPSI, INGATAN dan BERPIKIR. Jadi adalah output hasil keterkondisian OTAK FISIK, bukan lagi pengalaman numinous dari SOUL (Moment of Truth of touching with Reality).

Di saat itulah ada celah untuk menjadi 'tuhan' bagi orang lain , alias playing God. Oleh karena itu dikatakan KEJI karena berasal dari 3 akar racun (termasuk kegelapan batin) yang manipulatif, exploitatif (memperalat orang2 awam yg lugu).
Joko Ngulandara : Kalau begitu apakah nilai baik atau buruk, kebajikan atau kefasikan itu juga buah dari konseptualisasi atas persepsi peresepsi, atau olah pikiran dan ingatan? 🙏

Danz Suchamda : Joko Ngulandara Lha dari dulu saya jelasin apa???
Ngapain saya cape2 ngejelasin soal Buah Pohon Pengetahuan Baik dan Buruk. Ada kali kalau 10x lebih...

Joko Ngulandara : iya ya 🙏

Danz Suchamda Apa baru ngeh??
Weleh...

Joko Ngulandara : Nggih Pak De, lagi connected. suwun pencerahannya 🙏

Danz Suchamda : Tuh kan. Dari dulu saya menilai pak Joko Ngulandara itu temasuk salah satu peserta dialog yang sangat cerdas intelektualitas dan luas wawasannya.
Terbukti kan hanya IQ dan wawasan tidak mencukup untuk tembus (walau tembus intelektualitas doank masih! belum tembus realisasi).

Joko Ngulandara : Matur nuwun Pak De. Ya karena "kegelisahan" atas realisasi itulah yg sebenarnya tak kunjung bisa aku tembus.
Semoga keberkahan dan kesehatan selalu bersama Pak De agar menjadi penyalur berkat dan pemcerahan bagi kami 🙏

Joko Ngulandara : Dari situlah saya baru paham kenapa Pak De "murtad" dari agama agama. Suatu proses pergulatan "pertobatan" yang super luar biasa karena Pak De telah berproses dan nembus, BEYOND RELIGION. But Not everyone can do. Rahayu 🙏

Danz Suchamda : Cobalah sekarang PRAKTEK meditasi mengobservasi ke dalam. Lihat ke dalam batin anda sendiri pak, 'lihat' bagaimana pikiran anda sendiri berceloteh...menanggapi ini itu...ke masa lalu...ke masa depan....sadari saja secara pasif tanpa menolak tanpa menerima...cuman sadar mengamati.

Tidak menganalisa, tidak berusaha menghentikan, tidak juga terhanyut... lihat...lihat....
Setiap pikiran muncul catat dalam batin "pikiran muncul....pikiran muncul..."
Pada saat berpikir catat, "berpikir...berpikir..."
Pada saat ingat sesuatu catat dalam batin , "mengingat...mengingat...mengingat".. dst dst.

Setiap fenomena dicatat dalam batin (ini tahap awal utk melatih agar anda sadar / mindful terhadap apa yg terjadi dalam batin anda).
Perhatikan bagaimana celoteh pikiran itu memberi konsep ini itu , ingat dogma ini itu, ingat pengalaman ini itu, muncul penilaian ini itu....dst dst dsb.... itulah akar masalahnya!

Itulah celoteh konsep2 yg diketahui / dihapal / diingat selalu berceloteh terus menerus (inner chatter) tanpa henti...bikin marah, bikin gelisah, bikin sedih..dst. Itulah yang kalau di Buddhism disebut sebagai CONCEPTUAL-OBSCURATION (pengotoran konseptual; Skt. jñeyavaraṇa; Tib. ཤེས་བྱའི་སྒྲིབ་པ་, ཤེས་སྒྲིབ་, shé drip; Wyl. shes sgrib ).

Teruskanlah latihan itu sesering mungkin (kalau bisa intens di retret lebih baik)...sampai tembus dari awan-awan konseptual itu!
Sampai melihat "matahari di tengah langit biru yang maha luas" (ini idiom ya) !

Joko Ngulandara : Baik Pak De. Trimakasih atas bimbingannya 🙏

Danz Suchamda : Sudah paham sekarang mengapa dikatakan sebagai kaum langit-langit / magog (atap rumah = gog) vs kaum langit (atas awan)? :)

Joko Ngulandara : https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.379551665549169/735603483277317/?type=3


Danz Suchamda : Vicks Formula 444 : "The formula of completion" gimana ngerasa relevan gak pak dengan TS ini? Bukan kebetulan toh angka itu muncul sebagai sign dariNya?
(Itulah kalau di spiritual yg otentik ada sebuah catatan tentang signs / tanda2 , yang kalau di agama2 [tertentu] dihakimi sebagai tahayul. Ya memang mungkin jadi tahayul beneran karena orang2nya gak ngerti dan gak menjalani. So what the use all of those sign-system?? :) ...)

Tapi jangan besar kepala dulu.....
Seperti saya copy paste dari web gematria mengatakan "the FORMULA of completion". Seperti misalnya anda bersekolah dan dapat PR matematika lalu diberi formula oleh guru anda di kelas. Apakah berarti anda sudah selesai??
YA BELUM !!! anda baru dapat formulanya tapi sama sekali belum mengerjakan PR nya....hahaha :D

Lebih parah lagi, ini baru diberi formula...anda belum ngeh (tembus) secara realisasi langsung. Saat realisasi langsung itu barulah disebut BARU MULAI masuk PATH. Jadi baru AWAL mulai berjalan. Sementara sebelum2nya (teori2, dogma2, ritual2 dan segala macam remeh temeh itu) sama sekali BELUM berada di Jalan ! nothing more just a business of thoughts dan religious-pride!

Joko Ngulandara : Lah, saya itu meyakini bahwa di kehidupan dunia ini TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Sedangkan revealasi itu pun ibarat kata hanya sekian mikron dari air di samodra. Justru dibalik revealasi itu sebenarnya yg mesti ditembus "pengajarannya" dan saya nggak bisa atau blm diijinkan 🙏

Danz Suchamda : So kalau kalian berdoa Al Fatehah atau HaPatchah..."tunjukkanlah kami Jalan yang Lurus"...itu baru sampai ditunjukin ke Path-nya. Anda belum berjalan di Path. :v
Parah kan?? :v
The real "chemistry" baru mulai bekerja pada SOUL anda ketika sudah menginjak Path. :)
Baru nanti terakhir FRUITION (buahnya) bila sudah tercerahkan. Tentu stage by stage.
Itulah yang disebut PENGANGKATAN :)
Guntur Saketi : Super mbah...merinding aku baca coment ini...maturnuwun pencerahanipun...WOW
------- -

DISKUSI 3

Agus Machrul Alam : Laku praktek spiritual pada tiap individu apakah sama ya Mbah?
Karena pemahaman pada tiap individu juga beda...

Danz Suchamda : Tidak.
Sesuai kapasitas kemampuan, bakat , minat, dan pangilan hidupnya masing2.

Danz Suchamda :Itulah mengapa Tuhan memberikan banyak macam agama, aliran dan cara. Termasuk atheism pun adalah cara Tuhan!
Agus Machrul Alam : Baik. Apakah benar pengertian bahwa praktek spiritual tersebut yang saya pahami sampai saat ini adalah berlaku baik secara natural Mbah?
Karena semakin menyimak penuturan sampean, di sisi lain ada pertentangan di lingkungan saya baik secara langsung maupun tidak Mbah.

Danz Suchamda : Konflik itu adalah nature dari dualisme semenjak awal penciptaan semesta (baca : "Jadilah langit dan bumi, memisahkan terang-gelap, dst dst" (Kejadian1).
Hanya saja semakin lama osilasi antara pertentangan itu seharusnya semakin kecil. Itulah dinamakan manusia semakin beradab / berbudaya halus...finesse...
Itu akan terjadi pada sistem yang dampened (teredam, termoderasi). Jadi pertanyaan anda ttg adanya pertentangan itu adalah suatu keniscayaan bagian dari proses. Tinggal bagaimana saja diri kita (sebagai individu maupun komunitas) saling tanggap menanggapi agar tercipta peredaman menuju peningkatan cara berbudaya yang semakin halus / luhur...sampai pada infinity-horizon yaitu UNISON (United).
Dari Unison (Adam = Human) ==> split jadi milyaran individual sense ==> back to Unison. Inilah yang dimaksud REDEMPTION.
Yg di emulasi sebagai "penebusan" (not correct meaning).

Agus Machrul Alam : Matur nuwun Mbah..

Agus Machrul Alam : Btw. Kemarin tiba tiba menerima kiriman dari grup telegram... Beliau mencounter bahwa di Indonesia ini tidak segawat apa yang sampean gambarkan ( kondisi sosial, agama dll ). Kok ya nyambung Mbah...
Inilah salah satu konflik itu, di satu sisi bahwa seakan semua baik baik saja, di sisi lain saya sepakat dengan sampean bahwa kalau mau melihat lebih jauh sebenarnya ada hal yang sangat perlu dirubah..

Danz Suchamda : Kan saya selalu bilang : Bila ada cahaya maka ada bayangan. Bayangan akan selalu menguntit. Dan selalu menciptakan lawannya.
Agus Machrul Alam : Enggih Mbah. Matur nuwun...

Guntur Saketi : Top coment nya...terimakasih ...rahayu

Aan Susanto : mewek mbah semakin jelas semakin mewek huhuhhu

Danz Suchamda : Aku malah bingung , kenapa jadi mewek?

Faqih EL Sentanu : Super duper tanan, sesi pembahasan di ts kali ini...,
------

DISKUSI 4

Cahyanto Candrakusumah : Mencerahkan pakdhe, terima kasih banyak share nya
Saya sempat beranggapan begitu hanya saja sulit mengungkapkannya secara jelas dan sederhana.

Danz Suchamda : Itulah fungsi dari Clarity, atau kejernihan batin.

Ada perkataan dari Laozi :
有清有濁,有動有靜
You qing you zhuo , you dong you jing;
Ada bening ada keruh; ada gerak ada tenang ;

天清地濁,天動地靜
tian qing di zhuo , tian dong di jing
Surga jernih bumi keruh; langit bergerak bumi diam (yg mana adalah ilusi keterbalikan karena keterbumian kita, dan sekaligus suatu cara tersirat untuk ubah perseneleng : langit diam bumi gerak). Maka dikatakan cara untuk berspiritual adalah duduk-diam (meditasi; walau tidak harus berarti literal badan tak bergerak). Tapi lebih berarti pada makna ABIDE (lihat TS saya yg kemaren di bagian komen dgn link video musiknya James Last "Abide With Me".

Jadi, orang berspiritual seharusnya semakin bening, jernih, terang. Bukan menjadi semakin solid, keruh, gelap. Itulah pembedanya sejati dan palsu.

http://www.silkqin.com/02qnpu/27sjts/sj03qjj.htm

Komentari TS kemaren : https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.379551665549169/829875243850140/?type=3&comment_id=829881997182798&comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D
---

DISKUSI 5

Mohawk Bronx : Hanya orang cerdas yg bisa memilah dan menterjemahkan ,mengerti yg tertulis dalam kitab2 konteks saat itu , dan menerapkan di jaman modern ini!!

Danz Suchamda : Maka jelaslah sudah ...bahwa pembodohan dan pendangkalan umat adalah cara Setan untuk membajak perahu Tuhan? (Baca TS kemaren).

Mohawk Bronx : Pasti!! PEMBODOHAN adalah kerja nyata Iblis yg cerdas utk membinsa!Kan manusia dengan segala macam tipu daya, dusta, karena IBlis adalah Raja Dusta!!
---

DISKUSI 6

Fery Setyanto : Analisanipun Manteb mbah suwun.....rahayu3.

Danz Suchamda : Bukan analisa!
Tahukan anda apa analisa itu?

Fery Setyanto : mgkn sy slh tulis maksudnya pencerahan jenengan sae dan sy setuju....ngapunten klo sy kliru comentnya....rahayu.

Danz Suchamda : Nah, mau gunakan istilah bahasa sebaiiknya tahu benar apa yang digunakannya. Salah komunikasi itu bisa sangat berbahaya / merusak. Tidak perlu terlihat canggih2an. Saya menggunakan istilah yg sulit karena-- justru sebaliknya--, yaitu karena sulit / belum menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesianya -- termasuk aspek diksi bahasa, nuansa kultur, dsb. Saya ingin ketepatan (akurasi). Maka suatu keterpaksaan, bukan untuk keren-kerenan.

Menulis dalam page itu perlu efisiensi. Di tala utk segmen pembaca tertentu. Implikasinya mengorbankan / meninggalkan segmen tertentu yg tak akan mampu paham. Apa boleh buat? Oleh karena itu saya mengharapkan terjadi inisiatif estafet secara sukarela.

Segitu aja sering dikeluhkan kepanjangan. Bagaimana kalau tidak menggunakan padatan2 istilah? Bisa mbleber jadi panjang sekali.

Fery Setyanto : inggih mbah matur suwun koreksinya....semoga membuat sy lbh hati2 agar tdk menyinggung orang lain....suwun

Harry Yanto : Mohon koreksi mbah maksudnya adlh apa yang bisa digambarkan itu berarti bukan tuhan? Atau emboh mbah klo bingung nulise.....nuwon

Poedji Soesila : Insight atau Hidayah atau Hikmat diterima secepat cahaya, namun saat dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain bisa selambat matahari terbit hingga terbenam.. Memang demikianlah hukum naturenya..

Danz Suchamda@ Harry Yanto : Sudah pasti!
Menganggap apa yang bisa digambarkan sebagai Tuhan adalah IDOLATRY (musryik).

Danz Suchamda @Poedji Soesila : Banyak para spiritualis yang handal, tapi sedikit yg mampu membahasakannya dengan baik. Keterbatasan konsep2 bahasa, yang mana adalah akumulasi dari wawawasan pengetahuan aka. pendidikan akademis dan kecerdasan intelektual semata.

Danz Suchamda : Bila anda sebagai juru bicara sudah tentu perlu kemampuan verbal (mengelola bahasa). Tapi bila anda tipe penggembala, maka kesabaran, kemampuan berkorban, dan keteladanan akan jauh lebih dituntut. Bagi tugas saja. Karena memang Tuhan menghendaki sedemikian agar satu sama lain saling bergandiengan bahu-membahu, bukan dikuasai satu orang. Kehilangan makna nanti proses Penciptaan Manusia itu (bila memuja satu orang).

Poedji Soesila : Leres, Pak Danz.. Karena banyak, mohon maaf, beginner atau pemula yang ingin segera mengerti, memahami, menguasai tanpa laku, alias pragmatis, praktis, necis, klimis..
Selalu pengen tembak langsung:...

Danz Suchamda : Itulah diistilahkan "hijab" atau "tirai pembatas ke ruang Maha Suci (Holiest of the Holy)"

Poedji Soesila : By the way, HIJAB itu yang HARUS ditemukan sendiri oleh sang penciptanya, alias HaShatan (ego yang suka merengek-rengek).. Xixixi..

陈新 : Matursuwun mbah Danz... Sugeng enjang...Rahayu.

Danz Suchamda @Poedji Soesila : I don't think so that ego will ever find it.
---

DISKUSI 7

Urip Danu Wijoyo : ketika agama merupakan tafsir maka tafsir atasnya menjadi point sangat penting. Bagaimana agama/bahasa itu ditafsirkan. Kebenaran yg diajukannyapun tafsiriyah sifatnya, menjadi naif ketika hal tafsiriyah itu disikapi sebagai hal yg mutlak.

Agusadri : Rahayu Pak Danz.
Pencerahan yg cukup jelas menurut penangkapan saya, yg susah mengkomunikasikan kekomunitas saya.
Mungkin karma yg mereka miliki belum cukup untuk mencerna tulisan bapak.
Sejauh ini tulisan bapak saya rangkum lebih pendek untuk saya share kekomunitas.
Semoga suatu saat kesadaran mereka muncul dan bisa memahami.
Rahayu

Sukat Sukat : Tuhan bukan calo surga dan tuhan bukan tukang cuci dosa...
Engkau adalalah pelindung bagi dirimu sendiri dan pewaris dari setiap buah dari perbuatanmu sendiri...
Tajamnya bilah pisau bukan karena doa tp karena diasah..

Irawan Dias : Jleb

Mesih Andana : Nuwun romo Danz, kaberkahan senantiasa dari GUSTI kang murbeing dumadi

Jowo Joko Jowo : JD inget kata eyang siapa menguasai bahasa.. Rahayu romo

Dhani Christian : tentang 'malaikat' sgt mencerahkan.. matur suwun, rahayu!
Teguh Santoso : Rahayu Romo......penjelasan yg gamblang...terimakasih

Aan Susanto : Rahayu mbah Danz Suchamda greget yuk poro sedulur dimulai prakteknya
-------

DISKUSI 8

Wisnu Wardhana : Apakah pengunjung page yg sexy ini sadar bahwa seluruh page adalah juga terali "penjara"???

Mesih Andana : tergantung tamu, bila tamu kemudian terhipnotis oleh isi page ini dan lalu berhenti mengaji ya bisa jadi keterpenjaraan itu serasanya, berapa banyak pun individu tamu yg belajar melalui page inipun tanpa kemudian ada kesadaran kolektif plus untuk mengg...

Danz Suchamda : Jadi praxis boleh tapi jangan jadi theory.

Mesih Andana : jadi ingat...teorypun sejatinya tidak pernah baku...selalu berkembang ( hidup ) progresif tak berujung , semua berkat sang hidup itu sendiri....supaya kita tidak jalan ditempat / merasa sudah sampai...melainkan maju jalan.

Danz Suchamda : Benar. Tuhan itu Hidup, bukan sesuatu yang bisa dimatikan dalam rumusan.
Faqih EL Sentanu : Like this..., sangat mencerahkan.

Rahayu!

Minggu, 11 Juni 2017

THE ALONENES

Kemampuan untuk menyendiri adalah kemampuan untuk mencintai. Ini mungkin terlihat paradoks bagimu, tapi sebenarnya tidak. Ini adalah kebenaran eksistensial:Hanya orang-orang yang mampu sendirian saja yang mampu mencintai, berbagi, masuk ke inti terdalam orang lain - tanpa memiliki yang lain, tanpa menjadi tergantung pada yang lain, tanpa mengurangi yang lain menjadi sesuatu hal, dan tanpa Menjadi kecanduan yang lain. Mereka membiarkan kebebasan mutlak untuk orang lain, karena mereka tahu bahwa jika yang lainnya pergi, mereka akan bahagia seperti diri mereka sendiri sekarang. Kebahagiaan mereka tidak dapat diambil oleh pihak lain, karena tidak diberikan oleh pihak lain.

OSHO-Being in Love: "How to Love with Awareness and Relate Without Fear"

Semua orang berhak hidup sesuai dengan pengalamannya sendiri
Dan menemukan jalannya sendiri.
Tidak ada agama di dunia ini yang mengatakan
Untuk berperilaku dengan penuh kasih,
hormat, terhadap orang lain.
Setiap agama menganggap mereka satu-satunya
orang yang benar;
Mereka memiliki monopoli akan kebenaran
Dan yang lain salah.
Pendekatanku adalah
Bahwa setiap orang berhak untuk menjadi benar atau salah.
Dan jika seseorang memutuskan untuk salah,
Tetap saja dia harus diberi segala hormat dan setiap cinta.
Ini adalah keputusannya, dan jika dia ingin menjalani keputusannya,
Bukan urusan siapa pun untuk ikut campur dalam hidupnya
dan dalam filosofinya.

Rahayu!

Minggu, 04 Juni 2017

AGAMA WARISAN APAKAH ITU ADA?

Assalamu 'alaiukum wr. wb.

"Agama Warisan" yang menjadi viral membuat admin tergerak ikut membedahnya, baik dari sudut pandang yang pro ataupun kontra.
Untuk itu, dibawah ini akan admin sajikan tulisan yang merujuk tentang Agama Warisan tersebut dari beberapa sumber.
Berikut tulisan yang membahasnya :

Tuisan ke 1
MELALUI KEMATIAN YANA ZEIN, ALLAH BUKTIKAN "AGAMA WARISAN" AFI TIDAK BENAR
~ By Erwyn Kurniawan ~

Begitu cepat Allah swt memberikan bantahan terhadap tulisan Asa Firda Inayah alias Afi ttg "Agama Warisan". Melalui kisah tragis kematian artis Yana Zein, artikel tsb menjadi kehilangan makna & hanya pepesan kosong.

Afi menulis begini:
“Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."
Tulisan ini menjadi viral atau sengaja diviralkan. Afi sontak menjadi terkenal, diundang media arus utama yg selama ini menjadi pendukung Ahok. Presiden Jokowi segera mengundangnya ke Istana Negara tepat di Hari Kelahiran Pancasila. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin pun rela berfoto bersama Afi sambil tersenyum untuk memberikan dukungan terhadap tulisan tersebut.

Artikel yg kemudian diketahui PLAGIAT itu dikampanyekan sebagai buah pikir yang tepat utk mendukung kebhinekaan & NKRI. Dua tema yg mendadak ramai sejak Ahok menista agama & kemudian dipenjara. Tujuannya jelas: menohok umat Islam dan para ulama yg selama ini terus berjuang menuntut keadilan terhadap Ahok.

Di saat bersamaan seorang artis senior wafat. Namanya Yana Zein. Bukan kematian biasa karena saat akan dimakamkan, terjadi peristiwa menyedihkan karena antara ayah & ibu almarhum bersitegang soal agama anaknya.
Swetlana, ibu Yana Zein, mengaku memiliki bukti bahwa putri tersayangnya tersebut telah menganut agama Kristen.

"Saya ibunya, saya punya bukti kalau KTP dia Kristen. Waktu sakit keras, Yana bilang 'tolong kalau ada apa", saya mau dikuburkan secara Kristen'. Agama semua sama, saya kira Yana berhak memilih. Yana juga ada tanda tangan sendiri kalau dia jadi Kristen," ujarnya.
Sang ayah, Nurzaman Zein, tak kalah argumen.

Dia meminta Yana harus dikuburkan secara Islam.
"Namanya Suryana Nurzaman Zein. Dia meninggal di bulan Ramadhan. Dia meninggal dengan khusnul khotimah," kata Nurzaman.
Rumah duka akhirnya gaduh. Sang ibu menjerit histeris saat ayah Yana melantunkan ayat suci Al-Quran di sebelah peti jenazah.

Kisah pilu ini membuktikan bahwa agama bukanlah warisan. Keimanan seorang manusia tidak diturunkan otomatis dari ayah dan ibunya. Jika memang warisan, Yana Zein pasti beragama Islam dan tak perlu ada kericuhan saat akan dimakamkan.

Bagi orang beriman, tulisan Afi & kematian Yana Zein yg terjadi saat bersamaan harus dilihat dalam kacamata keimanan. Bahwa inilah campur tangan Allah swt untuk memberi bukti tidak ada "agama warisan". Dan jika masih ada di antara kita yg membenarkan tulisan Afi meski Allah swt sudah "membantahnya" melalui kematian Yana Zein, saya tak tahu dgn cara apalagi Dia harus memberi petunjukNya.
Wallahua'lam bishshowab
Tamat...
-------------

Tulisan ke 2
AGAMA WARISAN
Oleh: Muhammad Zazuli

Nebeng ikut bicara soal “agama warisan” yang sempat viral dan heboh beberapa waktu lalu.

Tidak hanya agama, sesungguhnya semua yang ada pada diri kita ini adalah warisan. Tubuh fisik kita ini juga adalah warisan dari DNA dan genetika yang diturunkan secara biologis dari bapak-ibu bahkan nenek moyang kita sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Pemikiran dan identitas kita juga adalah warisan dari dogma dan ajaran yang diberikan oleh orangtua, guru agama, guru sekolah, teman, lingkungan, pengalaman dan semua yang ada di sekitar kita termasuk buku-buku yang kita baca, ceramah yang kita dengarkan dan tontonan yang kita lihat.

Bumi kita inipun juga adalah warisan dari debu-debu supernova dan bintang-bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu. Matahari kita juga adalah warisan dari reaksi nuklir paduan dari hidrogen dan helium yang ada di galaksi. Bahkan galaksi kitapun adalah warisan dari pemuaian alam semesta yang kemudian mendingin, mengerut dan berputar di sebagian kawasan di jagad raya ini.

Intinya adalah segala sesuatu terjadi dan berjalan karena Hukum Alam dan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada akibat yang terjadi tanpa sebab tertentu dan tak ada sebab yang tak mengakibatkan terjadinya akibat tertentu. Jadi jika dulu saya terlahir di Rusia tentu nama saya bukanlah Zazuli tapi bisa saja menjadi Zazulov dan saya menjadi orang yang atheis atau komunis. Jika saya terlahir di kerajaan Romawi masa lampau mungkin nama saya akan menjadi Zazulius dan menyembah dewa-dewi pagan. Jika saya terlahir di China maka bisa saja nama saya menjadi Zhang Zhu Ling dan saya menyembah Dewa Langit (Thian) atau bahkan dewa dapur. Jika saya terlahir di kawasan bawah laut Bikini Bottom (tempat tinggal Spongebob) maka bisa saja nama saya menjadi Zazuklu dan saya menyembah kerang ajaib uluk-uluk-uluuuk......

Jadi bukan hal yang aneh dan istimewa jika ada yang mengatakan bahwa agama Anda adalah agama warisan dari orang tua, keluarga, leluhur dan lingkungan masyarakat yang ada di sekeliling Anda. Memang faktanya seperti itu. Yang aneh justru adalah orang yang marah, kejang-kejang, ngamuk, protes bahkan mengancam membunuh gadis remaja yang menuliskan soal hal itu. Orang bodoh tapi arogan dan keras kepala memang cuma bisa bikin onar dan bikin masalah saja, tidak bisa diajak berpikir dan berdiskusi secara jernih dan sehat. Yang dikecam dan diancam bunuh bukannya makin surut namun makin jadi tenar dan bersinar. Bagaimanapun suara kebenaran tidak akan bisa dibungkam oleh suara kedzaliman.

Tapi saya juga bisa memahami amarah mereka. Sewaktu masih SMA sebenarnya saya termasuk cukup fanatik dalam beragama. Saya bahkan membaca buku-buku karya Abdullah Azzam yang adalah gurunya Usamah bin Laden (pemimpin jaringan teroris global Al Qaedah) dan bertekad untuk menjadi seorang jihadis. Soal dalil-dalil jihad dan perang saya sudah hapal di luar kepala, jadi jangan ajarin lagi saya soal itu. Saya bahkan pernah membenci semua orang, semua golongan, semua negara, semua agama, semua simbol dan semua hal yang saya anggap sebagai “musuh Tuhan” (betapa gobloknya dulu saya karena mengira bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa masih bisa punya musuh).

Namun puji Tuhan alhamdulillah saya akhirnya bahagia karena kemudian saya “tersesat di jalan yang benar”. Belasan tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang sufi pengembara yang beraliran tasawuf Syekh Siti Jenar. Beliau berkata : “Dulu Rasulullah SAW datang untuk menghapus ajaran nenek moyang. Lah kamu ini sekarang malah juga beragama dengan agama nenek moyang. Kamu pikir agama kamu itu juga bukan agama nenek moyang ya?” Satu ungkapan beliau lagi yang dulu membuat saya bingung adalah : “Jika kamu ingin belajar tasawuf / ilmu hakikat maka penggal dulu kepalamu.”

Tidak hanya bertemu dengan sufi pengembara, saya juga pernah bertemu dengan seorang Sekjen dari sebuah “Secret Society” yang ada di Indonesia. Beliau mengundang saya untuk menjadi anggotanya bahkan menawari saya beasiswa untuk belajar mengenai aliran tersebut langsung dari markas mereka di luar negeri meskipun kemudian saya tolak dengan halus karena saya tidak mau terikat dengan organisasi. Mungkin inilah makna dari pepatah dalam dunia spiritual “Saat murid siap, maka Guru akan datang sendiri.”

Dan kini saya baru paham apa makna dari ungkapan guru tasawuf yang membingungkan tadi. Sepanjang hidupnya manusia itu terlahir sebanyak dua kali.

Kelahiran pertama adalah kelahiran alami yang sebagian besar perannya dilakukan oleh kodrat alam di luar kekuatan dan kehendak sadar kita yang mewariskan kepada kita segala identitas kita secara “an sich” dan tinggal terima saja termasuk bagaimana fisik kita, dimana dan kapan kita lahir dan di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita tidak bisa memilih di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita juga tidak bisa memilih dalam keluarga yang beragama apa kita lahir karena agama keluargalah yang akhirnya akan lebih dominan dalam menentukan agama yang kita anut sepanjang hidup kita. Hanya sedikit saja orang yang kemudian memutuskan untuk menganut agama yang berbeda dengan agama warisan keluarganya, itupun biasanya karena faktor duniawi saja seperti pernikahan.

Kelahiran kedua adalah kelahiran jiwa atau spiritualitas kita yang kita pilih berdasarkan kehendak bebas dan kesadaran kita. Ada orang yang terlahir dalam keluarga miskin tapi dengan kemauan, kehendak dan usahanya dia bisa menjadi orang yang sukses. Inilah yang saya maksud dengan “kelahiran kedua” yaitu kelahiran mental dan jiwa seseorang yang baru. Inilah yang dimaksud dengan evolusi kesadaran meskipun mungkin masih hanya sebatas kesadaran fisik atau kesadaran materi saja, tapi itupun adalah sebuah prestasi dan kelahiran baru bagi sang jiwa yang ternyata akhirnya mampu menunjukkan kemandiriannya dan mengalahkan batasan dan kondisi dunia yang ada di luarnya.

Begitu juga dengan agama. Agama warisan adalah agama yang Anda ikuti berdasarkan “kehendak alam semesta” dimana Anda dilahirkan, bukan berdasarkan kesadaran pribadi, pilihan sadar dan kehendak bebas Anda. Jadi jika dulu guru tasawuf saya mengatakan “penggal dulu kepalamu” itu berarti bahwa saya harus mengosongkan gelas pikiran saya yang sudah penuh dengan dogma dan ajaran yang saya terima dan dipaksakan masuk ke dalam kesadaran saya sejak kecil (termasuk pikiran sadar dan bawah sadar saya) karena hanya gelas kosong saja yang bisa diisi dan dipenuhi dengan “air segar yang baru”.

Semua agama adalah baik, benar dan sempurna dalam pandangan penganutnya. Dan Anda tidak bisa memaksakan bahwa hanya agama Andalah yang paling baik, paling benar dan paling sempurna kepada orang lain yang tak seagama dengan Anda. Itu adalah tindakan yang paling bodoh, paling egois dan paling kontra produktif. Semua penganut agama selalu berpikir dan percaya bahwa hanya agamanyalah yang paling baik dan paling benar. Tidak peduli apapun agamanya, sesungguhnya agama yang terbaik bagi seseorang adalah agama yang bisa mengubah jiwanya dan membawanya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih damai, lebih bijak, lebih sabar, lebih berwelas asih dan semua sifat baik lainnya. Untuk tujuan kebaikan inilah maka agama-agama yang berbeda itu mengajarkan doktrin yang berbeda yang dapat membantu manusia mengubah dirinya menjadi lebih baik, lebih sadar dan lebih bijak.

Secara eksoterik (bentuk luar) semua agama pastilah berbeda baik dalam hal dogma, ritual, konsep, simbol, metode, aturan maupun berbagai hal lainnya (sebagaimana manusia yang berbeda-beda dalam hal ras, suku, bangsa dan warna kulit). Tapi secara esoterik (hakikat dalam) pastilah semua agama memiliki prinsip yang sama mengenai cinta kasih, kebaikan, kejujuran dan semua sifat dan karakter baik lainnya (sebagaimana semua manusia apapun warna kulitnya selalu mendambakan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan). Persamaannya inilah yang terpenting dan harus kita tekankan dan justru bukannya menekankan pada perbedaan yang justru akan memancing konflik dan permusuhan yang justru bertolak belakang dengan hakikat, makna, maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.

Pada tahun 1666, ilmuwan terkemuka Sir Isaac Newton berhasil memecahkan misteri warna pelangi melalui sebuah percobaan di kantornya di Lincolnshire, Inggris. Melalui sebuah prisma kaca dia menemukan bahwa tujuh spektrum warna pelangi (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) sebenarnya hanyalah merupakan hasil pembiasan dari cahaya putih matahari. Di alam maka titik-titik air hujanlah yang berfungsi sebagai prisma kaca yang membentuk 7 spektrum warna pelangi. Dengan demikian maka sesungguhnya cahaya putih matahari adalah kumpulan dari semua warna dan ketujuh warna pelangi itu sebenarnya sudah ada secara potensial di dalam cahaya putih matahari yang kemudian bisa diuraikan melalui prisma kaca ataupun titik air hujan menjadi tujuh warna pelangi.

Begitu juga halnya dengan ilmu Hakikat atau ilmu Kesejatian (The Truth) bisa diibaratkan sebagai cahaya putih matahari yang Tunggal di alam Absolut. Sedang agama / religi hanyalah turunan, tafsir, deviasi, diferensiasi atau hasil pembiasan dari Cahaya Putih tersebut yang menjelma dan termanifestasi menjadi 7 spektrum warna pelangi di alam dunia ini. Jadi meskipun berbeda namun sesungguhnya ketujuh spektrum warna pelangi itu hakikatnya adalah Tunggal dan eksis secara potensial di dalam cahaya putih matahari (cahaya Illahi). Sesungguhnya Hidup itu adalah Tunggal. Seluruh makhluk sejatinya sekedar berbagi Hidup yang sama yang berasal dari Sang Tunggal tersebut. Oleh karena itu hormatilah agama orang lain sebagaimana engkau menghormati agamamu sendiri. Menghina dan memaki agama orang lain sebenarnya hanyalah menunjukkan kebodohan, kekerdilan dan kesombongannya sendiri.

Masalah timbul setelah terjadinya pembiasan. Antara warna merah, kuning, hijau merasa saling terpisah, saling berbeda dan saling berdiri sendiri. Mereka lupa dengan asal usulnya yang berasal dari cahaya putih matahari. Akhirnya mereka saling berdebat dan bertarung sendiri. Memang setelah melewati prisma kaca (atau prisma manifestasi / alam ilusi) yang merah akan tetap tampak sebagai merah, yang kuning akan tetap tampak sebagai kuning dan yang hijau akan tetap tampak sebagai hijau. Mereka saling berbeda dan tidak bisa disatukan.

Tapi di balik prisma sebelum terjadinya pembiasan (manifestasi) maka sesungguhnya merah, kuning, hijau tadi tidak ada namun eksis secara bersamaan dan potensial di dalam cahaya putih (kemurnian asal, Wu Chi). Warna sesungguhnya juga tidak ada, yang ada hanyalah panjang gelombang cahaya. Jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 5.500 Angstrom dan diterima oleh sensor visual / syaraf mata kita maka otak kita akan mempersepsinyanya sebagai benda berwarna kuning, jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 4.500 Angstrom kita menyebutnya sebagai merah begitu seterusnya.
Hanya mereka yang berwawasan dan berkesadaran tinggi saja yang bisa memahami bahwa cahaya putih adalah satu-satunya hakikat sejati atau satu-satunya realitas akhir sedangkan merah, kuning, hijau dan lain-lain hanyalah sekedar ilusi yang bersifat maya, fana dan sementara dan akan segera hilang musnah saat prisma kaca tersebut diangkat dan diambil. Secara hakikat maka warna-warni pelangi tadi tidak ada karena yang ada hanyalah cahaya putih matahari saja. Adanya tujuh warna pelangi hanya karena ditopang keberadaannya oleh cahaya putih matahari. Tanpa cahaya putih matahari maka ketujuh warna pelangi niscaya tidak ada sama sekali.

Itulah sebabnya sehingga Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi, ulama sufi dan mistikus Islam yang paling terkemuka, paling dikagumi dan paling dihormati oleh dunia Barat pernah berkata : “Aku bukanlah orang Nasrani, aku bukanlah orang Yahudi, aku bukanlah orang Majusi, dan aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampauilah gagasan sempitmu tentang benar dan salah sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” (yaitu Cahaya Putih Illahi, sumber dari 7 pelangi agama) tanpa dibatasi oleh berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.“

Dan hal inipun juga tidak bertentangan dengan ayat Al Quran yang menyatakan : ”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin (penyembah matahari), barang siapa yang beriman diantara mereka itu kepada Tuhan dan hari akhir (kematian, kefanaan) serta berbuat kebajikan maka untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tak ada ketakutan atas mereka dan tiada mereka berduka cita”. (Al-Baqarah : 62). Inilah bukti bahwa Islam sebenarnya mendukung dan mengajarkan toleransi serta pluralisme.

Tidak semua orang bisa memahami makna dan hakikat sejati dari agama. Hanya mereka yang sudah mulai berkembang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya saja yang bisa memahami esensi spiritual dari semua ajaran agama.

Mereka yang masih bergelung, bergelut dan terbelenggu di dalam kepompong jiwa yang berupa ego kelompok, teologi konflik, berhala mental, ideologi tertutup / anti kritik, dogma sempit, kaku & parsial, ilusi & delusi spiritual, pola pikir linear, pikiran dualistis, mindset keterpisahan, violence mentality dan jiwa yang terbelah pastilah tidak akan sanggup memahami makna dan tujuan sejati dari semua agama dan akan terus terjebak pada ego dan kesombongan untuk selalu merasa benar sendiri, sulit mengasihi, tidak bisa menghargai hak orang lain, gemar menghakimi, sikap suka memaksakan kehendak dan hanya mau menang sendiri saja.

Ada tujuh dimensi / lapisan alam yang terdiri dari : alam Illahiah, alam Monadiah, alam Rohaniah, alam Intuisional, alam Mental, alam Astral dan alam Fisik (beserta kembaran eteriknya). Di alam astral dan seterusnya maka agama yang diyakini seseoranglah yang akan menjadi penyelamat setelah jasmani fisiknya terurai / meninggal asalkan orang itu murni, tulus dan lurus dalam hati, jiwa, pikiran, perkataan dan perbuatan. Tanpa agama orang tidak akan mengenal jalan pulang karena hanya agamalah yang mengajarkan tentang keabadian jiwa serta hubungannya dengan Sang Pencipta / Sang Sumber, bukan ilmu seni, filsafat, politik, bisnis ataupun sains. Agama juga adalah alat, sarana, tali sambung dan jembatan rohani menuju Tuhan. Tapi yang menjadi tujuan sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri.

Mengenal Tuhan adalah tujuan sejati kehidupan (Sangkan Paraning Urip). Menjadikan agama sebagai tujuan adalah salah karena itu berarti musyrik dan mempersekutukan Tuhan. Orang yang telah mengenal Tuhan tidak mungkin akan menebar kebencian, permusuhan dan kekerasan melainkan hanya akan menebar kedamaian, kebajikan dan welas asih. Sedang orang yang memuja agama tapi belum mengenal Tuhan masih berpeluang besar menebar kebencian, permusuhan, kekerasan dan kekacauan karena seringkali dia tidak bisa membedakan antara ego, ambisi, nafsu dan prasangkanya sendiri dengan hidayah / cahaya petunjuk Illahi.

Dengan demikian sifat Kasih Sayang (Rahman Rahim) adalah satu-satunya tolok ukur untuk melihat apakah seseorang sudah mengenal Tuhan ataukah belum. Orang yang suka menebar kebencian dan permusuhan antar sesama manusia jelas bukanlah orang yang sudah mengenal Tuhan meskipun mungkin dia hapal sejuta dalil agama. Religiousity and Spirituality are really different things.....

Dan kebetulan semboyan dasar negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda namun satu. Aslinya semboyan ini diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular di abad 14 yang kutipan lengkapnya berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya “Meski berbeda-beda namun hakikatnya adalah Satu, tak ada dharma / ajaran kebenaran yang mendua” untuk menunjukkan kesatuan antara ajaran Hindu Ciwa dengan ajaran Buddha yang berkembang di Majapahit kala itu. Kebetulan juga semboyan ini mirip dengan slogan pada Great Seal of United States (Segel Agung Amerika Serikat) yang diciptakan oleh kaum Mason para Bapak Bangsa Amerika yaitu “E Pluribus Unum” yang artinya "Banyak Yang Adalah Satu". Dalam Al Quran sendiri juga dituliskan : “ Maka kemanapun engkau hadapkan wajahmu di situ akan kamu lihat wajah Allah.” (QS Al Baqarah : 115)
Saya tidak tahu apakah setelah saya menulis ini akan ada yang memaki saya kafir, sesat, bangsat, liberal, sekuler, PKI, anjing, babi, iblis dll (memaki, mengancam, mengintimidasi, menyerang dan melakukan kekerasan adalah reaksi khas mereka jika kalah dalam berlogika dan berdiskusi) atau bahkan mungkin akan ada yang mengancam membunuh saya. Atau bisa jadi setelah diancam bunuh, saya malah bisa seperti dek Afi yang jadi terkenal n bisa masuk tivi bersama Najwa dan Rossi serta ketemu pakdhe Jokowi hihi... Kan malah lumayan meskipun lu manyun hehe.... Tapi jika dibully saya akan tetap mengikuti teladan mbah wali Gus Dur dan ulama-ulama khos dan kyai sakti NU lainnya yang paling cuma akan ngomong “Halah, gitu aja kok repot...” (Terima kasih kepada NU yang selalu konsisten menebarkan dakwah bil hikmah, akhlakul karimah dan menjaga citra Islam sejati yang rahmatan lil alamin).

Sebagai penutup saya akan kutipkan nasehat dari Bhagwan Shree Rajnesh dan Pierce Teilhard de Chardin :
“Sejauh menyangkut agama, maka setiap orang mustilah dilahirkan sebanyak dua kali. Kelahiran pertama adalah karena kehendak alam sedang kelahiran kedua adalah karena bangkitnya kesadaran pribadi.”
“Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Tapi kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia.”

Sudah paham kan sayangku? Sudah ya, jangan mudah marah, baper dan ngamuk-ngamuk lagi yaah... Sekali-kali cobalah beragama dengan akal sehat dan hati nurani agar engkau menjadi lebih bijak dan mengerti, jangan cuma pake ego, ambisi dan emosi yang akhirnya cuma bikin gigit jari, sakit hati dan nurani jadi mati....
Saya Indonesia. Saya Pancasila. Saya Waras.
Salam Waras bin Cerdas wal Sadar
# Kami bersama TNI, Polri, Banser & Anshor NU tolak radikalisme demi keutuhan NKRI

---------------------

Itulah diatas beberapa argumen tentang Agama Warisan dari kedua belah pihak. Semoga bisa menjadikan admin khususnya dan pembaca menjadi bijaksini dan bijaksana, menjadi lebih menyelami makna dan tujuannya bukan untuk menjadikan pembenaran diri (egoistik) untuk menyerang pihak lain, menjadikan kesadaran dalam berspiritual bahwa Tuhan tidak menciptakan satu kaum saja.
Terimakasih.
Walaikumsalam wr. wb.
Semoga semua mahluk bahagia.
Rahayu!

Minggu, 28 Mei 2017

AGAMA BERMAKNA TIDAK KACAU

Makna Agama Itu Tidak Kacau, Jadi Kalau Menjadikan Kacau...???

Dulu agama menghancurkan berhala...
Kini agama jadi berhala...
Tak kenal Tuhannya...
Yang penting agamanya...
Dulu orang berhenti membunuh karena agama...
Sekarang orang saling membunuh karena agama...
Dulu orang saling mengasihi karena beragama...
Kini orang saling membenci karena beragama....
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu...
Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu...
Lalu yg berubah apanya?
Manusia nya?
Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya...
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja...
Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kebijakannya, yg paling cerdas di antara orang2 lainnya ....
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama...
Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian...
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus...
Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan...
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama...
Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan...
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan, tak kan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.
Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tau lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diperTuhankan , sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan...
Agama kini menghujat Tuhan...
Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan...
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.
Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan aturan agama...

Sabtu, 27 Mei 2017

KONSEP AGAMA BARU MUNCUL DI ABAD KE - 4

Intuisi saya mengatakan Agama adalah fenomena yg muncul pada abad2 pertama Masehi. Ternyata perkiraan saya meleset. Munculnya Agama baru pada era yg lebih muda lagi :abad ke-4 !

Dari awal Masehi hingga 300 tahun kemudian tidak terjadi sesuatu berarti kecuali gosip2 yang sporadis dari berbagai macam spekulasi para 'theologian' di berbagai penjuru wilayah jajahan Romawi. Tapi segala sesuatunya berubah.

Tepatnya 28 Oktober 312 M Kaisar Constantine mendapat mimpi penampakan salib di langit yang dia maknai sebagai perintah untuk berperang demi Romawi. Dalam kisah legenda didongengkan bahwa Yesus menampakan diri kepadanya dan Dia berkata "Taklukkan!". Keesokan harinya ia bertempur dan berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya Maxentius, sehingga dirinya berkuasa di atas seluruh Imperium Romana. Saat itulah dia berpikir membutuhkan suatu institusi dan segala kelengkapannya (kitab, ritual, apology sejarah, dsb) yang disebut agama , untuk menyatukan kekuasaan politiknya diseluruh wilayah jajahan.

Selanjutnya tonton sendiri....
https://www.youtube.com/watch?v=J3kJ9iV925g

Dan satu hal lagi intuisi saya benar : situasi pada saat itu terdiri dari begitu banyak aliran , pandangan dan pengaruh2 dari 'agama' lama. Jadi terbentuknya memang memang dari hasil sintesa penyampuran / mixed atau gado-gado. Tidak mengherankan bila pola yang sama diulang pada 3 abad berikutnya untuk ekspansi politik Imperialisme yang lebih luas :

https://www.facebook.com/suchamda/photos/
a.379551695549166.1073741826.379551665549169/
749117178592614/?type=3

http://www.reformation.org/vatican-and-islam.html

Jadi adalah salah untuk mengatakan bahwa Agama sudah ada semenjak dari zaman para nabi Israel. Seperti sudah saya katakan dan jelaskan sebelum2nya , bahwa sebelum itu semua fenomena rohani adalah dalam bentuk SPIRITUALITAS.

Sesuatu yang sangat berbeda bagai perbandingan antara sumber mata air murni yang bebas untuk siapa saja yang hendak meminumnya, dengan --ibarat-- air kemasan botolan yang dijual dengan merek tertentu (walau diklaim berasal dari sumber mata air murni).

X : Tiap orang punya ageman sendiri yang tidak sama dan tiap orang bebas mengagemnya.

Jawab :
Dalam bahasa Inggris maka definisi dari kata "religion" adalah suatu belief system.
Tapi dalam bahasa Indonesia kata "religion" itu menjadi "agama" dengan definisi : "suatu sistem kepercayaan yang memiliki NABI, KITAB, INSTITUSI, SET LITURGI/RITUAL /TATACARA dan UMAT.

Definisi "Agama" (versi Indonesia) itulah yang saya kritik !

Jelas beda bila sampeyan merujuk pada 'ageman' yg tiada lain berarti TRADISI SPIRITUAL NUSANTARA juga LAYAK untuk disebut AGEMAN atau RELIGION (per definisi Internasional).

Kebusukan politik lewat definisi BAHASA inilah yg hendak saya ungkap !
Mengapa disini sistem kepercayaan lokal itu dikotakkan tersendiri TIDAK DIAKUI SEBAGAI AGAMA agar bisa DI ANAK TIRIKAN??? WHOIIYY !!

Kenapa semenjak kudeta 1965 via rezim ORBA pengertian Pantja Sila sila-1 "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang original per definisi yang dipidatokan pada Hari Kelahiran Pantja SIla digeser JUSTRU MENGIKUTI definisi IMPERIALIS !!??? (Jadi kewajiban beragama, itupun harus dibatasi 5 yang diakui rezim).
Seluruh rakyat harus tanya kenapa !!!

Rahayu!

Jumat, 26 Mei 2017

MENGAPA NEGARA-NEGARA ISLAM MASIH DI KOYAK PERANG ?

Oleh : Scott Gilmore, October 20, 2016
Diterjemahkan oleh : Danz Suchamda

Saya terjemahkan dari Boston Globe :

Untuk pertama kali dalam sejarah, Belahan Dunia Barat dalam keadaan damai, suatu tonggak sejarah yang tidak banyak menarik perhatian publik. Konflik terakhir yg berkelanjutan di Amerika adalah Colombia. Tetapi, setelah 4 tahun negosiasi antara pemerintah dan gerakan gerilya FARC, perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada bulan Agustus. Dan meskipun perjanjian perdamaian diingkari secara tak terduga pada referendum bulan ini, gencatan senajat tetap, dan kedua belah pihak tetap mau duduk pada meja perundingan.

Akhir perang di Amerika adalah bagian dari trend global yang lebih besar. Menurut data yang dikumpulkan oleh Proyek Keamanan Manusia, sejak berakhirnya Perang Dingin, jumlah konflik bersenjatan telah turun hampir separuh. Perdamaian muncul bak jamur di berbagai tempat.

Dimana saja, kecuali, pada dunia Islam. Menurut Lembaga Hubungan Internasional Penjejak Konflik Global, setelah terjadinya perdamaian di Colombia, maka di dunia hanya ada 6 perang sipil di dunia ini. Lima darinya berada di negara-negara Islam. Hal yang sama, empat dari perang sektarian melibatkan grup-grup Islamist, dan semua dari lima terorisme internasional yang berlangsung melibatkan kelompok Islamist Militan. Bila semua dihitung, maka dari sisa 28 konflik global yang terjadi dari berbagai macam jenis yang terlacak oleh lembaga, 22 darinya melibatkan negara Islam atau faksi Islam.

Ini memunculkan pertanyaan, apabila dunia memasuki era baru perdamaian, mengapa di negara-negara Islam masih dikoyak oleh perang? Terdapat beberapa jawaban.

Pertama, marilah kita buang idea bahwa Islam itu sendiri secara inherent adalah lebih mengandung kekerasan. Mayoritas besar dari perang-perang pada abad terakhir ini adalah perang-perang dari negeri-negeri Kristen. Dan, seperti yang ditunjukkan oleh seorang penulis bernama Steven Pinker, dari seluruh dunia, mayoritas besar dari pembunuhan berencana adalah dari level perorangan, dan tingkat pembunuhan pada negara-negara Islam hanyalah secara tipikal sepertiga dari dunia non-Muslim. Sebagai perbandingan, Louisiana, salah satu negara bagian Amerika yang paling religius dengan 90% populasinya mengindentifikasikan dirinya sebagai Kristen, memiliki angka pembunuhan 50% lebih tinggi daripada Afghanistan.

Terdapat beberapa kemungkinan penjelasan, sumber daya alam adalah salah satunya. Banyak dari konflik Islami saat ini melibatkan negara-negara penghasil minyak, yang mana mengalami apa yang disebut “kutukan sumber daya alam”. Para Ekonom mencatat bahwa negeri-negeri dengan sumber daya alam yang berlimpah dapat secara paradox mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, institusi yang lebih lemah, dan kesenjangan sosial yang lebih besar ketimbang negeri-negeri dengan sumber daya yang lebih minim. Ini adalah karena “uang cepat” yang datang dari minyak adalah sulit untuk dimanajemeni dan dengan mudah dapat mendistorsikan ekonomi maupun mentidakstabilkan sosial.

Petunjuk lain dapat ditemukan pada mengapa negeri-negeri lain berada dalam keadaan damai. Pertimbangkan pertumbuhan demokrasi, sebagai contoh. Telah diakui secara luas bahwa negara-negara demokratis lebih jarang berangkat pergi berperang satu sama lainnya. Bukan merupakan kebetulan, jija jumlah konflik internasional drop setelah 1989, manakala jumlah negara demokratis meningkat dobel. Dan bagaimana dengan dunia Islam? Negeri yang demokrasinya sehat hanyalah Bangladesh dan Indonesia, dan ...kedua negeri itu berada dalam keadaan damai.

Juga terdapat lonjakan tajam dalam bidang komunikasi – adalah lebih sulit untuk menghasut negara tetangga apabila anda membaca bukunya, sharing ide-ide, atau sesederhana berlibur kesana. Disini pun, negara2 Islam jauh tertinggal dibanding negeri-negeri lain. Sebagai contoh, Timur Tengah tertinggal dalam setiap bagian di dunia kecuali Afrika ketika itu berhubungan dengan akses Internet dan kecepatan koneksi. Negara-negara Islam jauh lebih sedikit menerbitkan karya tulis ilmiah per kapita ketimbang bagian-bagian lainnya di dunia. Dan penduduk dari negara-negara Islamist (sebagai mana didefinisikan oleh Organisasi Kerjasama Islam) mengizinkan lebih sedikit perjalanan bebas-visa, ketimbang negeri2 lainnya termasuk Africa. Kesimpulan kumulatif adalah bahwa negeri2 Islam lebih terisolasi dan diskonek terhadap bagian dunia lainnya.

Trend global lainnya yang terjadi pada negeri2 Islam adalah perkembangan ekonomi dan sosialnya. Dalam 50 tahun terakhir telah terjadi pengurangan besar dalam tingkat kemiskinan dunia sepanjang sejarah bumi. Terjadi peningkatan tingkat pendidikan, kesehatan yang lebih baik dan kohesi masyarakat sipil yang lebih kuat. Tetapi, pada dunia Islam pertumbuhan ini jauh lebih lambat. Index Pertumbuhan Social telah merekam jejak dari belasan indikator seperti tingkat kematian bayi, tingkat akses ke pendidikan, dan kesetaraan gender. Bila anda mengelompokan negeri-negeri Islam, maka mereka berada di rangking-rangking bawah bahkan bila dibanding dengan Africa. Tanpa perkembangan, ketidakstabilan, dan perang adalah penyebab yang paling memungkinkan.
Meskipun demikian, terdapat harapan. Trend global terhadap interkoneksi, pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan kohesi masyarakat sipil yang lebih erat tidak dilewati samasekali oleh dunia Islam. Hanya saja bertumbuh jauh lebih lambat. Beberapa penelitik akademis memprediksikan bahwa kita akan melihat akhir dari kemiskinan ekstrim pada 20 tahun ke depan. Mungkin harapan yang terlalu muluk untuk melihat akhir dari perang-perang pada masa itu, tetapi dapat dipahami bahwa kita sebagai manusia pada akhirnya akan sampai pada era perdamaian sejati.

*Scott Gilmore adalah anggota senior dari Munk School of Global Affairs, pendiri dari lembaga non-profit Building Market, dan ex diplomat Kanada.
Original Source : http://www.bostonglobe.com/ideas/2016/10/19/why-islamic-world-still-torn-war/2ZeWixhA50AnDt4SnemjpM/story.html
------------------------------------
Danz Suchamda :
Marilah kita sorot hal-hal apa yang dilakukan oleh menteri-menteri dari kader partai PKS di era rezim SBY :
1. Menteri Pendidikan menghapus bahasa Inggris (upaya membatasi asupan informasi pencelik mata). Menetapkan tujuan pendidikan untuk bidang2 pelajaran termasuk Fisika, Kimia dsb yg bersifat sains dalam koridor agama (upaya pengaburan tujuan bidang sains). Penghapusan bahasa daerah dari mata pelajaran (upaya penghapusan identitas).

2. Dalam dunia Informatika (Menteri Informasi Tifatul Sembiring) : Tidak peduli terhadap kualitas internet Indonesia yang buruk , bandwith sempit dan lelet. "Buat apa internet cepat-cepat?" itu seloroh ybs yg tercatat dalam ingatan saya.

3. Kita lihat upaya penanaman kultur timur tengah yang masif melalui acara-acara TV, iklan komersial, dsb.

4. Terekam para wartawan bahwa calo-calo politik asing mondar-mandir di lingkungan Gedung DPR/MPR.

5. Upaya segregasi dan diferensiasi gender yang masif dari kampanye-kampanye secara tidak langsung melalui selubung dunia entertainment, pendidikan,dsb.

6. Penyusupan kader2 islamis ke jajaran pemerintahan dan institusi2 non-governmental.

7. Merebaknya kasus-kasus kekerasan atas nama agama, pemaksaan-pemaksaan ke sekolah-sekolah non-islam, merebaknya aturan-aturan (UU s/d Perda) yang didasari logika syariah (bukan hukum nasional).


*Sharing knowledge dari Pak Ginanjar*, it's nice to know :

Maaf saya sedang di Boston, sejenak kembali ke Harvard. Saya membaca diskusi di WAG tentang HTI. Saya ingin berbagi pandangan mengenai HTI dan konsep khilafah yang mendasarinya, mungkin bermanfaat. Saya peroleh bahannya dari seorang aktivis dan intelektual muda Islam, yang tidak pernah sekolah di luar negeri, S1 di UIN, S2 di UI dan S3 di Unpad, jadi tidak bisa dituduh sebagai agen dan pembawa ajaran asing.
Khilafah singkatnya adalah konsep kepemimpinan tunggal dimana seluruh umat Islam di dunia ada dibawah satu Pemimpin yang dinamakan Khalifah sebagaimana yang ditunjukkan di zaman Khulafaurasyidi
n (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Bin Abi Thalib).

Dalam konsep itu, tidak ada batas-batas negara bangsa (nation state) dan tidak diakui kepemimpinan berdasarkan kebangsaan karena menurut mereka, itu berasal dari Barat. Mereka tidak mengakui adanya konsep nasionalisme karena nasionalisme itu merupakan produk dari barat.

Mereka menolak demokrasi karena lagi-lagi demokrasi itu tidak ada dalam Islam dan merupakan produk dari Barat
Hizbut Tahrir lahir di Yordania (dimana HT dilarang) berawal dari sempalan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tokoh utamanya Taqiyudin An Nabhani memandang bahwa Ikhwanul Muslimin masih mengakui adanya nation-state dalam politik Arab.

Dalam pandangan pendukung Hizbut Tahrir di seluruh dunia, khilafah adalah satu-satunya institusi atau entitas politik yang bisa mempersatukan umat Islam seluruh dunia. Menurut mereka, hanya dengan khilafah, umat Islam sedunia dapat mengatasi berbagai masalah, semacam keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan berbagai bentuk kenestapaan lain. Karena itulah, dari waktu ke waktu selalu ada kelompok di kalangan umat Islam yang mengorientasikan cita gerakan mereka untuk pembentukan khilafah. Di antara mereka ada yang bergerak secara damai atau kekerasan seperti ISIS.

Padahal, konsep khilafah itu sendiri problematis dan utopian. Terdapat banyak perbedaan konsep dan praksis khilafah di antara para pemikir Muslim penggagasnya sejak dari Jamaluddin al-Afghani, ’Abdul Rahman al-Kawakibi, Abu al-A’la al-Mawdudi, sampai Taqiuddin al-Nabhani.
Utopianisme khilafah juga terletak pada kenyataan bahwa kaum Muslim di sejumlah kawasan dunia telah mengadopsi konsep negara-bangsa berdasarkan realitas bangsa dengan tradisi sosial, budaya, kondisi geografis; dan pengalaman historis masing2. Karena itu, ”unifikasi” seluruh wilayah dunia Muslim di bawah kekuasaan politik tunggal merupakan angan-angan belaka.

Ormas-ormas Islam Indonesia pernah membentuk Califat Comite seiring dengan penghapusan "khilafah" di Turki pada 1924 oleh kaum Turki Muda. Mereka bermaksud membela dan menuntut agar "khilafah" di Turki dihidupkan kembali. Merespons gejala ini, "the grand old man" Haji Agus Salim menyatakan, komite itu beserta khilafah tak relevan dengan Indonesia. Menurut beliau apa yang disebut "khilafah" di Turki adalah kerajaan despotik dan korup yang tak perlu dibela, apalagi diikuti umat Islam Indonesia. Pasca Califat Comite, khilafah hampir sepenuhnya absen dalam wacana pemikiran Islam di Indonesia. Ormas-ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, tak pernah bicara tentang khilafah, sebaliknya menerima dan mengembangkan konsep dan praksis negara-bangsa Indonesia.

Bagi Hizbut Tahrir, khilafah akan dicapai melalui tiga tahap: kultural, interaksi, dan revolusi. Pada tahap kultural, mereka akan menyebarluaskan gagasan khilafah kepada seluruh lapisan masyarakat, kaum Muslim khususnya, dengan beragam cara; diskusi, ceramah, penerbitan, dan cara persuasi lainnya. Tahap itu yang sekarang sedang mereka lalui di Indonesia.

Setelah itu, tahap kedua, interaksi, infiltrasi, dan advokasi ke lembaga militer, keamanan, dan institusi2 kunci. Setelah semua terpengaruhi, dan jika momennya sudah tepat, mereka akan menegakkan hukum Islam. Dan, pada tahap inilah rezim khilafah dinyatakan berdiri.

Gagasan mengenai khilafah sebetulnya tidak hanya diusung oleh HT, termasuk HT di Indonesia. Pada tingkat tertentu gerakan tarbiyyah yang condong ke Ikhwanul Muslimun, juga mencita-citakan negara Islam, meski namanya bukan khilafah. Mereka sama-sama mendambakan pemerintahan yang merujuk Al-Quran dan Sunnah.

Selain kedua gerakan tersebut, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) malah sudah mendeklarasikan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah. Mereka mengklaim negara khilafah telah ditegakkan di wilayah yang mereka kuasai. Sejumlah hukum Islam telah mereka terapkan. Perempuan yang keluar rumah dengan pakaian selain warna hitam dihukum mati. Tentara musuh dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.

Terlepas dari debat sesama pengusungnya, khilafah tidak mengenal demokrasi. Dalam khilafah tidak ada penyusunan hukum oleh representasi warga, apa pun latar belakangnya.

Khilafah hanya mengakui hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Tidak mungkin bagi penganut khilafah mengakui dasar negara lain, misalnya Pancasila. Meskipun sifatnya diametral namun khilafah sebetulnya serupa dengan komunisme, dengan diktator (proletariatnya), internasionalisme nya, dogmatismenya, militansinys, kebrutalan nya, brainwashing-nya, dan intoleransi nya terhadap perbedaan.

(Ginanjar Kartasasmita )

GERAK IKHWANUL MUSLIMIN DI INDONESIA..

Bagaimana pemerintahan kita nanti jika Jokowi kalah pilpres 2019 ?

Untuk melihat itu kita harus melihat dulu krisis di Mesir sesudah Ikhwanul Muslimin disana diberantas habis oleh Jenderal Al Sissy.
Mesir yang merupakan induk dari keberadaan IM sekarang menjadi neraka buat mereka.

Pimpinan mereka dihukum mati dan organisasinya diberi label terlarang. Al Sissy tahu betul betapa bahayanya IM yang gerakan mereka halus sekali dengan militansi dan penguasaan masjid, majelis taklim, pengajian dan lain-lain.
Hebatnya IM ini, mereka tidak bergerak sendiri. Mereka menggunakan "tangan orang lain" untuk mewujudkan hasrat mereka, menguasai kepemimpinan di suatu negara.

Mereka memainkan "bisikan halus" kepada para politikus yang haus kekuasaan dan harta, kepada para gerakan radikal yang mudah diperdaya dan kepada mafia ekonomi yang nantinya bersedia dijadikan sapi perah mereka.

Karena sudah mengakarnya IM di Mesir dan penguasaan tempat ibadah disana yang juga menjadi basis kekuatan mereka, maka Al Sissy tidak mempunyai cara lain selain "membunuh" mereka dengan segala resiko yang ada.

Dan kita lihat, membunuh IM di Mesir tidak mudah. Mesir chaos berbulan-bulan sebelum akhirnya kembali tenang.

Ketika Ikhwanul Muslimin diperangi habis di Mesir, saya pada waktu itu memperkirakan, IM akan memindahkan basisnya di kedua negara dengan penduduk muslim terbesar, yaitu Turki dan Indonesia.

Coba perhatikan situasi waktu "kudeta" di Turki.
Tiba-tiba saja Erdogan mengumumkan bahwa terjadi kudeta di negerinya. Dan dengan alasan itu, Erdogan membersihkan jajarannya dari jaringan "Fethullah Gulen" seorang ulama besar di Turki.

Jaringan Gullen termasuk jaringan terkuat di Turki. Mereka menguasai perpustakaan, acara televisi, pendanaan yang kuat. Bahkan gerakan Gullen yang mengenalkan Islam yang damai, agamis, berwawasan menjadi gerakan baru di sana yang sudah muak dengan konsep sekuler.

Pemikiran Gullen yang demokratis ini juga banyak di adopsi oleh para hakim, tentara dan aparat sipil negara. Gerakan Gullen inilah yang mencemaskan Erdogan yang "ingin berkuasa selamanya"

Maka masuklah Ikhwanul Muslimin dan membisikkan bagaimana cara Erdogan mewujudkan mimpinya. Keinginan Erdogan dan IM bertemu dan dibuatlah cara yang halus dengan main kudeta2an. Ribuan orang yang dituding pengikut Gullen ditangkap dan dipenjarakan.
Ikhwanul Muslimin yang kemudian menguasai pemerintahan dengan Erdogan sebagai boneka hidupnya.

Dengan model referendum yang dimenangkan oleh Erdogan, IM memantapkan kekuasaannya dengan memberikan pengaruh yg lebih kuat di Turki.

Erdogan itu hanya boneka sementara dengan janji manis terhadap kekuasaan. IM menunggu sampai Erdogan wafat untuk kemudian menggantinya nanti dengan orang mereka sendiri dan penguasaan Turki akan menjadi sempurna.
Coba perhatikan...

Mesir mengusir IM tahun 2013 dan IM menguasai Turki dengan kudeta halus tahun 2016. IM hanya butuh 3 tahun saja untuk bisa berpindah dari satu inang ke inang lainnya. Cepat sekali...
Dan sesuai prediksi, sasaran berikutnya adalah Indonesia.

IM - dengan nama lain PKS - sudah menancapkan pengaruhnya di Indonesia melalui pemerintahan SBY. Dan bertahun-tahun di pemerintahan, mereka sudah ada dimana-mana di lembaga pemerintahan, menyebarkan benih mereka.
Ketika Pemilu 2014, PKS tersingkir. Jokowi yang memerintah.

Maka kita lihat bahwa PKS selalu ada di tempat yang berseberangan dengan koalisi Jokowi. Mereka harus merebut kembali kekuasaan atas wilayah.

Ciri IM dalam memilih pemimpin sementara punya pola yang sama. Orangnya suka retorika, haus kekuasaan dan tidak sungkan menghalalkan segala cara. IM memainkan politikus, pengusaha dan kelompok radikal dalam satu gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Dan jangan salah, selama 10 tahun berada di lembaga pemerintahan pada waktu SBY berkuasa, IM sudah menguasai posisi-posisi penting disana.
Menteri boleh ganti, tapi jajaran bawah yang menguasai teknis tetap orang mereka. Itulah kenapa saya tidak berharap banyak ketika Menkominfo mengatakan akan memblokir situs radikal. Tidak akan ampuh, karena sebelum diblokir sudah ada peringatakan duluan supaya situs radikal itu membuat alamat2, baru.

Lah, mereka sudah menguasai Kominfo sejak lama. Orang2nya sudah pada mapan disana.
Itulah kenapa situasi Jokowi sangat lemah. Banyak perintahnya yang tidak berjalan dan efektif. Departemen agama, pendidikan sampai kominfo sudah dikuasai. Dan sangat mungkin aparat militer juga ada yang di pihak mereka.

Gerak mereka sekarang melemahkan kredibilitas Jokowi supaya tidak terpilih lagi di 2019 dan akan memilih lawannya yang sudah disiapkan. Anda pasti tahu siapa..

Jika lawannya berkuasa, maka akan ada satu waktu dimana sinetron kudeta Turki dimainkan untuk memperkuat posisi mereka disana.
Akan ada Gullen baru yang mereka singkirkan nantinya. Kira-kira siapa model Gullen yang ada di Indonesia yang tidak akan sepemikiran dengan mereka ?

Tentu saja, Nahdlatul Ulama...
Pahit kopinya ? Ayo seruput dulu biar bisa membayangkan gambar besarnya..
www.dennysiregar.com

Next to come akan jauh lebih mengerikan! Kalau kalian tidak mau sadar sekarang. Bangun, bangkit dan berjuang bersama sebagai saudara sebangsa dalam Persatuan Nasional berdasar Pantja Sila !

Ingat! Pantja Sila itu bukan buatan 01 Djoeni 1945. Tapi merupakan perumusan ulang / pemadatan esensi Jati Diri bangsa Nusantara pada masa era keemasannya! (sebelum korup dan akhirnya dijajah bangsa-bangsa -- karena korupnya itu).

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...