Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan adat dan kebudayaan yang bernilai tinggi. Di jaman Mataram Kuno, sekitar tahun 750M bangsa kita telah mampu membuat maha karya dunia semacam Candi Borobudur, dimana dimasa-masa ini pasukan Islam sedang berusaha menjajah Bizantium. Bahkan di jaman Majapahit, wilayah Nusantara meluas hingga mencakup sebagian selat Malaka. Namun kebesaran Nusantara perlahan terkikis dengan hancurnya kerajaan Hindu Budha ini.
Sejarah mencatat bahwa hancurnya Majapahit adalah akibat pengaruh agresi kerajaan Islam Demak. Tak banyak jejak untuk melacak bagaimana sejarah penghancuran Budha Nusantara oleh Islam. Tak banyak pula informasi sejarah mengenai kapan dan bagaimana masuknya Islam ke bumi Nusantara ini. Kehancuran Majapahit, serta perebutan kekuasaan antar para wali setelah runtuhnya Majapahit, menyebabkan penjelajah Eropa dengan mudah memonopoli pasar rempah di Indonesia.
Menurut para intelektual Islam, terdapat 3 teori mengenai asal muasal datangnya Islam ke Indonesia. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Teori ketiga, adalah Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah pada abad ke-12 atau 13.
Menurut para pakar, Islam masuk Indonesia secara DAMAI, bukan dengan peperangan. Islam masuk melalui para pedagang dan pendakwah Arab yang bermigrasi ke bumi Indonesia. Benarkah demikian?
Saat ini team kami sedang melakukan riset untuk menggali sejarah penyebaran Islam, dan kemunduran Budhisme di Indonesia. Namun sebelum itu marilah kita melihat beberapa tulisan kuno yang mungkin bisa sedikit membuka mata kita mengenai penyebab kemunduran agama Budha, dan upaya2 para wali untuk menyebarkan Islam di Indonesia.
Terdapat tulisan sejarah yang sedikit membuka mata kita mengenai seperti apa sesungguhnya cara Islam masuk ke Indonesia. Teks sejarah ini bernama DARMOGANDHUL. Tulisan ini adalah karya sastra Jawa klasik, berbahasa jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Suluk ini ditulis oleh Ki Kalamwadi (nama samaran, kemungkinan besar adalah Ronggo Warsito), waktu penulisan hari sabtu legi, 23 ruwah 1830 Jawa. Isi teks menceritakan jatuhnya kerajaan Majapahit karena serbuan tentara Demak Bintara yang dibantu para wali.
Kita tentu saja tidak dapat mempercayai keakuratan sejarah DARMAGANDHUL 100%, tapi bagaimanapun juga isi suluk ini mengagetkan kita yang selama ini mengira bahwa masuknya agama Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai tanpa muncratan darah, terpenggalnya kepala dan tetesan air mata. Namun kaburnya para pemeluk Hindu dan Budha ke berbagai wilayah, misalnya ke Pulau Bali, ke kawasan pegunungan dan hutan rimba, adalah salah satu pertanda bahwa mereka menghindari tindakan pembantaian massal oleh sekelompok orang yang ingin menggulingkan kekuasaan berkedokkan agama.
Berikut ringkasan dari Darmo Gandul
Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti agama Islam. Lantas, Ki Kalamwadi pun menjawab:
"Aku tidak mengerti. Tetapi guru yang dapat dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti memeluk agama Islam. Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum tahu menjadi tahu."
Pada zaman dulu Majapahit (1292-1478) bernama Majalengka. Majapahit hanyalah kiasan. Bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit dianggap sebagai nama kerajaan. Prabu Brawijaya V adalah raja terakhir yang berkuasa. Ia menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam. Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam. Ketika sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama itu.
Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa kecuali kemuliaan agama Islam. Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad ( Sunan Ampel ). Ia mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka. Sang Prabu mengabulkan. Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento-Surabaya. Banyak ulama Arab kemudian datang ke Majalengka. Menghadap sang prabu mohon izin tinggal di wilayah pesisir. Permohonan itu dikabulkan. Akhirnya berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.
Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam tinggal di daerah Bonang, termasuk wilayah Tuban. Sayid Kramat ( Sunan Bonang ) namanya. Ia maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah.
Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya. Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama Budha dan memeluk agama Islam. Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang mengikuti ajaran Islam. Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun. Menyembah kepada Budi Hawa. Budi adalah Dzat Tuhan. Sedangkan Hawa adalah minat hati.
Sang Prabu mempunyai seorang putra bernama Raden Patah. Ia lahir di Palembang dari rahim Putri Campa. Sejak kecil Raden Patah telah dididik secara Islam. Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen (Husein / Raden Arya Pecattanda ).
Sang Prabu bingung memberi nama putranya. Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di pegunungan. Dari jalur ibu disebut Kaotiang. Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib. Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan. Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu itu dinamakan Bambang. Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya lahir di tempat lain. Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain. Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama Babah Patah.
Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cina dan Jawa disebut Babah. Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk menentangnya. Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak. Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat. Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel. Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak. Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang. Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam. Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya Pecattanda.
Ajaran Islam makin berkembang. Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan. Sunan artinya budi. Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk. Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin. Pada waktu itu para ulama baik budinya. Belum memiliki kehendak yang jelek. Banyak yang mengurangi makan dan tidur. Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut Sunan. Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.
Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya. Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai Brantas yang meluap. Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang. Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat. Sudah Islam atau masih beragama Budha . Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan Bandung Bondowoso. Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka. Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka. Setiap hari itu, mereka bersama-sama makan enak dan bergembira ria.
Kata Sunan Bonang, " Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah. Artinya, tidak hitam, putih pun tidak. Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah." Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.
Kutukan Sunan Bonang terhadap Seorang Wanita
Hari terik. Waktu sholat dhuhur tiba. Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu. Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk. Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud. Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah. Tak terlihat laki-laki di sini. Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun. " Hai Gadis, aku minta air simpanan yang jernih dan bersih," kata sahabat itu. Perawan itu terkejut. Ia menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki. Ia salah paham. Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya. Ia menjawab kasar :
"Kamu baru saja lewat sungai. Mengapa minta air simpanan. Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya."
Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit. Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan. Tiba di hadapan Sunan Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan. Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam. Keluarlah kata-kata keras. Sunan menyabda tempat itu akan sulit air. Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua. Begitu juga dengan kaum jejakanya. Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua.
Terkena ucapan Sunan Bonang, aliran sungai Brantas menyusut. Aliran sungai berbelok arah. Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun. Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang. Dan setelah itu kering seketika. Sampai kini daerah Gedhah sulit air. Perempuan-perempuannya menjadi perawan tua. Begitu juga kaum laki-lakinya. Mereka terlambat berumah tangga.
Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing. Menempati sumur Tanjungtani yang sedang dikerumuni anak cucunya. Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum mahluk halus dan menonjolkan kesaktian. Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang. Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka mengganggu lagi.
Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat menemui Sunan Bonang. Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan Bonang. Badannya terasa panas seperti dibakar. Setan-setan itu berhamburan. Lari tunggang langgang. Mereka lapor ke Kediri menemui rajanya.
Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis. Buta Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha. Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri. Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama negara.
Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya. Buta sendiri artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya. Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.
Ketika Prabu Jayabaya muksa ( mati bersama raganya hilang ) bersama Ni Mas Ratu Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut muksa. Ni Mas kemudian menjadi ratu setan di Jawa. Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Angin-Angin. Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti kepada Ni Mas Ratu Angin-Angin ( Nyi Loro Kidul ). Buta Locaya menempati Selabale. Sedangkan Kyai Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar agar tidak merusak desa sekitar.
Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas kasur babut dihias bulu merak. Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Paji Sektidiguna dan Panji Sarilaut. Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis.
Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para setan dan penduduk daerah itu. Mendengar laporan Nyai Plencing, Buta Locaya murka.
Tubuhnya bagaikan api Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang. Para setan dan jin itu bersiap berangkat. Lengkap dengan peralatan perang. Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum. Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai Sumbre. Sementara setan dan jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.
Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara. Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan jin sedang menghadang perjalanannya. Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api. Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh. Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang. Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan hawa panas. Dua sahabatnya pingsan dan demam.
Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru. Sunan Bonang dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedah karena tidak jelas agamanya. Sunan Bonang berkata;
"Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak diberi. Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air. Sedangkan jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang kuminai air itu perawan desa."
Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang.
“Salah yang tak seberapa, apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi penderitaannya dirasakan oleh banyak orang. Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman berat karena merusak daerah.”
(Lihat peristiwa Muhammad menyuruh pengikutnya menyerang suku Yahudi di Medinah, Bani Qaynuqa, gara2 seorang wanita Muslim diganggu oleh seseorang anggota Bani Qaynuqa. Ini dipakai Muhammad sebagai alasan untuk menyerang dan mengusir Bani Qaynuqa dari tanah nenek moyang mereka itu. Sifat Muhammad ini dicontoh Sunan Bonang : cepat naik darah, tidak seimbang, tidak memiliki maaf, sombong, selain licik dan haus kekuasaan.)
Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka. Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah. Buta Locaya berkata masygul :
" Ucapan tuan bukan ucapan yang paham aturan negara. Itu pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, mengandalkan kesaktian. Janganlah sombong. Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu berbuat sekehendak hati. Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa sebab.”
Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan, tapi mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa. Tuan akan dijauhi orang2 baik budi bila tetap berbuat demikian. Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil ? Aji Saka menjadi raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa seluruh sumber air di Medang. Ia Hindu. Suka membuat sulit air.
Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak, tetapi ternyata tidak demikian. Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak tahan digoda anak kecil. Lekas naik darah. Sunan apakah itu ?
Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat kebajikan. Tuan menyiksa orang tanpa dosa. Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah menciptakan neraka jahanam. Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di dalam air mendidih."
Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selam dengan manusia, tetapi hamba masih memperhatikan nasib manusia. Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan kepada keadaan semula. Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba mohon agar dikembalikan. Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba teluh supaya mati. Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut Selatan."
Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya. Ia berkata,
" Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku. Aku hanya bisa membatasi saja. Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti semula."
Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya.
" Kembalikan sekarang juga. Bila tidak, tuan akan hamba ikat."
Sunan Bonang menjawab:
" Sudah, jangan berbantah lagi. Aku mohon diri akan berjalan ke timur. Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di daerah dan kesedihan manusia dengan setan. Kumohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya menjadi asam. Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam. Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini bernama Desa Sumbre. Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai. Terkenal sampai kini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan Kawanguran. Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan akal. Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang berkepala dua di bawah pohon Trenggulun. Banyak buah trenggulun yang berserakan. Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya.
Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin bertambahlah kemarahannya.
" Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita. Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan mengetahui tekat para wanita Jawa.”
Sunan Bonang pun berkata,
" Kau ini bangsa jin. Jadi kalau berani berdebat dengan manusia, namanya jin yang sombong.”
Kata Buta Locaya,
" Apa bedanya. Tuan Sunan, saya ratu Jin,"
Sunan Bonang berkata,
“Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan kelak, bahwa aku berdua debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.”
Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara. Ketika menjelang salat asar, beliau akan bersiap salat. Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba. Sumur itu kemudian digulingkan. Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk bersalat. Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling." Setelah salat, Sunan melanjutkan perjalanan. Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon dadap yang berbunga. Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya. Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang berjatuhan.
Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan. Patung itu berukuran sangat besar. Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki. Lingkar pinggulnya 10 kaki. Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat. Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya diludahi.
Buta Locaya marah lagi.
"Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan. Kini menjadi jelek. Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya. Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?"
Sunan Bonang :
"Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi sesaji dan diberi kemenyan. Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin."
Kata Buta Locaya,
"Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya dan berkuasa. Bukan Tuhan, maka mereka layani. Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia. Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ? Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum. Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman. Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh. Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar.Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia."
Sunan Bonang Khilaf. Buta Locaya berkata,
" Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ? Mendapat wahyu agar pandai dan cermat penglihatannya. Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula, mendapatkan wahyu mulia. Dia pun pandai dan kaya ilmu. Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi. TUAN BERPEDOMAN KITAB, ORANG JAWA PUN BERBEDOMAN PETUAH DARI PARA LELUHURNYA. SAMA2 MENGHARGAI KABAR, LEBIH BAIK MENGHARGAI KABAR DARI LELUHUR SENDIRI DENGAN PENINGGALAN YANG MASIH BISA DISAKSIKAN.
Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup. Tanah berpasir murah air. Apa saja ditanam dapat tumbuh. Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya. Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya. Silakan tuan ukur. Seandainya tidak benar, pukullah.
Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya. Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi ? Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini. Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud. Tuan akan kami keroyok. Dapatkah tuan menang ? Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ? Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba ? Mari ke Selabale menjadi murid hamba."
Sunan Bonang :
" Tak sudi mengikuti kata-katamu. Kau hantu brekasaan."
Buta Locaya berkata,
" Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja. Abadi selamanya. Tuan belum tentu seperti hamba. Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya. Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan, MENENTANG ADAT, MENENTANG AGAMA, MERUSAK KEBAIKAN, MENGGANGGU AGAMA LELUHUR. Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado."
Sunan Bonang tak menggubris. Ia berkata :
" Dadap ini bunganya kunamai celung, buahnya bernama kledung, karena aku kecelung ( sesat ) pemikiran dan salah bicara. Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan pemikiran. Sudah, aku akan pulang ke Bonang."
Buta Locaya berkata,
" Ya sudah, silakan tuan pergi. Di sini tak ayal akan membikin panas. Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan, menyebabkan mahal air, dan mengurangi air."
PEMBUNUHAN SYECH SITI JENAR
Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang patih tentang adanya surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi kerusakan di wilayah itu akibat ulah Sunan Bonang. Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya. Setelah tiba, sang patih melaporkan semua yang telah terjadi. Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu kemana.
Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di Pulau Jawa pergi. Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan menyebarkan agama Islam. Apabila menolak akan dibunuh.
Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh patihnya, karena ulama Giripura telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan kerajaan sendiri. Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu. Maka, diseranglah Giri hingga kocar-kacir.
Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Prabu Brawijaya di Majalengka, Sunan Bonang mengajak Sunan Giri ke Demak. Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati Demak (putera PB alias Raden Patah) dan mengajak menyerbu ke Majalengka.
Kata Sunan Bonang (Muslim tulen yg penuh akal bulus itu),
"Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka yang telah berumur 103 tahun. Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak menjadi Raja. Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus. Jangan sampai ketahuan. Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud dengan senjata perang. Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala tentaranya."
(Baca cerita2 Modus Operandi Jihad Islam diseluruh dunia Inilah cara Muslim mengakali musuh mereka : dengan cara tipu daya.)
Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula tidak mau mengikuti saran Sunan Bonang.
" Saya takut merusak negeri Majalengka. Melawan ayah, apalagi melawan seorang raja yang telah memberikan kebahagian dan kebaikan di dunia. Kata kakek saya di Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski beragama Budha atau pun kafir."
Mendengar jawaban demikian, Sunan Bonang berkata,
" Meskipun melawan ayah dan raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir. Merusak kafir tua kamu akan masuk surga. Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar. Seberapakah pengetahuan santri Ngampelgading. Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku, Sayid Kramat, Sunan Bonang yang dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul anutan semua umat Islam. Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang. Tetapi, semua manusia se Jawa masuk Islam. Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.
Tuhan masih cinta kepadamu. Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan dirimu. Buktinya, kamu diberi nama Babah. Babah itu artinya tidak baik. Hidup hanya untuk mati. Benih Jawa yang dibawa Putri Cina. Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan raksasa. Itu memutus cinta namanya. Ayahmu tetap berhati tidak baik. Karena itu, balaslah dengan halus. Pokoknya jangan kelihatan. Dalam hati, isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya."
Kemudian, Sunan Giri (juga seorang Muslim tulen yang penuh dengan akal bulus) menyambung,
" Aku tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku tidak menghadap ke Majalengka. Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan disuruh memandikan anjing. Banyak orang Cina yang datang ke Jawa. Di Giri banyak yang ku-Islamkan. Sebab, menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan surga. Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu. Aku takut kepada patih dan ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka berzikir. Katanya, sakit ayan pagi dan sore. Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini."
Jawab sang Adipati Demak,
" Ayahanda memburu tuan itu betul. Karena tuan Sunan mendirikan kraton. Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja yang lebih berkuasa. Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena Sunan tidak menyadari makan minum di Pulau Jawa."
Namun, Sunan Bonang berkata lagi,
"Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan rugi. Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua. Atau kepada menantunya, Ki Andayanigrat di Pengging. Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja. Mati melawan kafir mati sabilillah, mati menerima surga. Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir. Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan menghilangkan agama Budha."
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pelindung-pelindungmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung-pelindungmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS 9:24)
Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan mau merusak Majalengka. Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan orang tuanya karena kafir.
Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara datang semua ke Demak. Berkumpul untuk mendirikan masjid. Kemudian sembahyang bersama di masjid yang beru didirikan. Usai sembahyang pintu masjid ditutup. Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit. Bila semua setuju akan segera dimulai. Semua setuju dan para bupati pun setuju.
Hanya Syech Siti Jenar yang tidak setuju. Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar. Yang disuruh membunuh adalah Sunan Giri.
(Satu lagi tindakan Islami para Sunan yang mencontoh kelakuan nabi! Bunuh mereka yg tidak sepaham denganmu, karena itu dianggap melawan nabi dan melawan Islam)
Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat menjadi raja menguasai tanah Jawa bergelar Senopati Jimbuningrat dengan patih dari atas angin bernama Patih Mangkurat. Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati. Berjalan berarakan seprti Grebeg Maulud. Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung, para sunan dan para ulama.
Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia. Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan. Bagaimana cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.
PERANG BUDHA MAJAPAHIT VS ISLAM DEMAK
Alkisah, sepulang dari Giri, sang patih melaporkan hasil penaklukan terhadap Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena. Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang. Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.
Dalam berperang mereka lincah seperti belalang. Sementara pasukan Majapahit menembaki. Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima peluru. Senapati Setyasena menemui ajal.
Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.
Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah Kertosono. Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat melawan dengan perang.
Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan dikirim ke Demak. Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat terkenal (Menak Tanjangpura), mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.
Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Para Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam mendukung. Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi Surya Alam di Bintoro.
Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah kepada Patih cara menghadap kepada raja. Surat dari Pati itu bertanggal 3 Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan wuku Prabangkat. Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.
Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja. Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat itu.
Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut. Diam membisu, lama tak berkata. Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang memiliki kemauan seperti itu. Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak dan merusak Majapahit.
Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka. Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin. Tidak masuk akal akan perbuatan jelek mereka itu.
Pikiran sang raja sangat gelap. Kesedihan itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi hutan. Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan para ulama serta bupati tega melawan Majapahit. Patih pun menjawab tak mengerti. Ki Patih juga heran, pemikiran orang Islam ternyata tidak baik, diberi kebaikan membalas dengan kejahatan.
Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya sendiri. Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyebarkan agama Islam.
Dari kebingungan hatinya, ia menyumpahi orang-orang Islam.
" Kumohonkan kepada Dewa yang Agung, balaslah kesedihan hamba. Orang-orang Islam kelak terbaliklah agamanya, menjelma menjadi orang-orang kucir, karena tak tahu kebaikan. Kuberi kebaikan membalas dengan kejahatan."
Sabda sang raja yang berada dalam kesedihan itu disaksikan oleh jagad. Terbukti dengan adanya suara menggeletar membelah bumi. Terkenal sampai sekarang, ulama terbaik namanya, tengkuknya dikucir putih.
Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang Prabu meminta pertimbangan dari Patih. Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk menguasai Majapahit harus dengan cara peperangan. Seumpama diminta dengan cara baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja telah lanjut usia.
Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja. Jangan sampai merusak bala pasukan. Patih diminta memanggil Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga karena putra yang ada di Majapahit belum saatnya maju berperang.
Setelah memerintahkan demikian, sang Prabu meloloskan diri pergi ke Bali diikuti Sabdopalon dan Nayagenggong. Ketika memberi perintah itu, Pasukan Demak telah mengepung istana. Maka Sang Raja segera pergi dengan terburu-buru.
Wadya Demak kemudian perang dengan pasukan Majapahit. Patih Majapahit mengamuk di tengah peperangan. Para Bupati Nayaka Majapahit delapan orang juga ikut mengamuk. Perang itu sangat ramai. Pasukan Demak tiga puluh ribu, pasukan Majapahit hanya tiga ribu. Karena Majapahit digulung musuh yang jumlahnya sekian banyak itu, prajuritnya banyak yang tewas berguguran. Hanya Patih dan Bupati Nayaka yang mengamuk semakin maju. Setiap prajurit Demak yang diterjang pasti mati tegelempang. Putra Sang Prabu bernama Raden Lembu Pangarsa mengamuk di tengah peperangan, bertanding dengan Sunan Kudus. Ketika sedang ramai-ramainya perang tanding itu, Patih Mangkurat dari Demak meluncurkan tombaknya. Putra raja terluka dan semakin hebat mengamuk. Ia menerjang bagaikan banteng terluka, tidak ada yang ditakuti.
Patih Majapahit tidak mempan senjata apapun, seperti tugu baja, tidak ada senjata yang bisa menggores tubuhnya, siapa pun yang diterjang bubar berlarian, yang menghadang terjungkal mampus. Bangkai manusia tumpang tindih. Patih diberondong (peluru) dari kejauhan. Jatuhnya peluru seperti hujan jatuh di batu watu. Sunan Ngundung menghadang kemudian memedangnya tetapi tidak mempan. Sunan Ngundung balas ditombak, tewas. Patih lalu dikerubuti prajurit Demak. Pasukan Majapahit lama-lama habis. Seberapa kuat satu orang sendirian, akhirnya Patih Majapahit gugur. Tetapi raganya musnah dan meninggalkan suara, “Ingat-ingat orang Islam, kalian diberi kebaikan oleh rajaku tetapi membalas kejahatan, tega merusak negara Majapahit, merebut negara melakukan pembunuhan. Kelak kubalas, kuajari kalian benar salah, kutiup kepala kalian, kucukur rambut kalian bersih-bersih.”
Setewasnya Patih Majapahit, para Sunan kemudian masuk ke istana. Tetapi Sang Prabu sudah tidak ada, yang ada hanya Ratu Mas, yaitu putri Campa, Sang Putri diajak menyingkir ke Bonang. Para prajurit Demak kemudian masuk ke istana. Mereka merampok sampai bersih. Orang kampung tidak ada yang berani melawan. Raden Gugur yang masih kecil melarikan diri. Adipati Terung kemudian masuk ke dalam istana, membakari semua buku-buku ajaran Buddha. Orang-orang di sekeliling istana bubar, beteng dan bangsal dijaga anak buah Adipati Terung. Orang Majapahit yang tidak mau takhluk kemudian mengungsi ke gunung dan hutan-hutan. Adapun yang mau takhluk, kemudian dikumpulkan dengan orang Islam, disuruh bersyahadat. Mayat para keluarga istana dan pamong praja dikumpulkan, dikubur di sebelah tenggara istana. Kuburan tadi dinamakan Bratalaya. Menurut suatu riwayat disitu juga kuburan Raden Lembu Pangrasa.
NASEHAT NYAI AGENG KEPADA RADEN PATAH
Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati Terung. Mereka diperintahkan menjaga keamanan keadaan dan segala kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur’an. Sebagian pasukan dan para Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah wafat, hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh orang Ampel. Sang Prabu Jambuningrat (Raden Patah) sesampainya di Ampel, kemudian menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Para Sunan dan para Bupati berganti-ganti menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu majapahit, dan melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu, agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang memotong.
Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ageng tersayat-sayat perih. Demikian ia berkata “Cucuku, kamu dosa tiga hal. Melawan raja dan orang tuamu, serta yang memberi kedudukan sebagai bupati. Mengapa kamu tega merusak tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama? Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas kejahatan, kini mati hidupnya beliau pun tidak ada yang tahu.”
Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, “Angger ! Aku akan bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa dan siapa yang mengizinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?”
Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah benar-benar ayahandanya yang mengangkat dirinya menjadi raja memangku tanah Jawa dan semua bupati pesisir, dan yang mengizinkan para Sunan. Mengapa negara majapahit dirusak, karena Sang Prabu Brawijaya tidak berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak dawuk seperti kuwuk.
Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya merangkul Sang Prabu, dengan berkata, “Angger! Ketahuilah, kamu itu dosa tiga hal mestinya kamu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi anugrah kepada kamu. Kamu beran-beraninya mengganggu orang tanpa dosa. Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari keinginan diri sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati itu utama. Apabila Gusti Allah sudah mengizinkan, tidak usah disuruh, sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah bersifat rahman, tidak memerintahkan dan tidak menghalangi kepada orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.
Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar, hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah asal-asalmu, ibu-mu Putri Cempa menyembah Pikkong, berwujud kertas atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama Buddha. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega menelan kepada ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tata krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib dijunjung tinggi.
Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir, karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir, mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan sangat menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang tua dari segi kekafirannya, tetapi posisinya sebagai orangtuanya. Maka Wong Agung selalu menjunjung hormat kepaa mertuanya itu. Itulah angger yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda disia-siakan, mentang-mentang kafir Buddha tidak mau berganti agama. Itu bukan patokanmu. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?
Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis dan berkata, “Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi di jaman kuno, ia berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mukjizat kepadanya, tetapi tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama Islam, tetapi ajakan tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan orang tua, lahir batin tidak salah. Tapi orang seperti kamu? Mukjizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama, coba keluarkan apa mukjizatmu, aku lihat?”
Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mukjizat apa-apa, hanya menurut perkataan buku, katanya apabila mengislamkan orang kafir besok akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah amarahnya. Kata-kata saja kok dipercayai, pun bukan buku dari leluhur. Orang mengembara kok dituruti perkataanya, yang mendapat celaka ya kamu sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di luar, di dalam merah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya? Kini kamu minta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti buwana balik namanya. Karena kamu yang semestinya memberi izin kepadaku, karena kamu Khalifutullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas, sedangkan jika kamu nanti tia, akan tetap menjadi tuanya seorang raja.”
Nyai Ageng Ampel berkata lagi, “Cucu! Kamu aku ceritakan sebuah kisah, dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud, putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak lama kemudian Nabi Dawud bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik kuda melarikan diri kehutan, kudanya lepas tersangkut-sangkut pepohonnan, sampai ia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang dinamakan hukum Allah.
Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu-buru tahta ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmara dari tanah seberang datang ke Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang jawa banyak yang cinta kepada aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Ajisaka diangkat menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur ke laut, dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemuian mati. Ada lagi cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang kuceritakan tadi, semua menemui sengsara. Apa lagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang tanpa tata susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang demikian itu hukum Allah”. Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.
Nyai Ageng Ampel masih meneruskan, “Kamu itu dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu koq mau menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi musuh orang tua raja. Karena itu bertobatlah kepada Yang Maha Kuasa, kiraku tidak bakal memperoleh pengampunan. Pertama memusuhi ayah sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Penging pasti tidak akan menerima rusaknya Majapahit, pasti ia akan membela kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu.”
Nyai Ageng tumpah-ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun. Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah bertemu dimohon pulang kembali ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke Ampelgading. Akan tetapi apabila tidak berkenan, jangan dipaksa, karena jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.
PRABU JIMBUN (RADEN PATAH) KEMBALI KE DEMAK
Setelah Prabu Jimbun tiba di Demak, para pengikutnya menyambutnya dengan gembira dan berpesta ria. Para santri bermain rebana dan berdzikir, mengucap syukur dan sangat gembira atas kemenangan mereka dan kepulangan Sang Prabu Jimbun atau Raden Patah.
Sunan Bonang menyambut kepulangan Sang Prabu Jimbun. Sang Raja kemudian melaporkan kepada Sunan Bonang bahwa Majapahit telah jatuh, buku-buku agama Buddha sudah dibakari semua, serta melaporkan kalau ayahandanya dan Raden Gugur lolos. Patih Majapahit tewas di tengah peperangan, Putri Cempa sudah diajak menugungsi ke Bonang.
Pasukan Majapahit yang sudah takhluk kemudian disuruh masuk Islam. Sunan Bonang mendengar laporan Sang Prabu Jimbun, tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia mengatakan peristiwa itu cocok dengan perkiraan batinnya. Sang Prabu melaporkan bahwa ia telah mampir ke Ampeldenta (pesantren Ampel Gading) untuk menghadap Eyang Nyai Ageng Ampel. Kepada Eyang Nyai Ageng Ampel ia mengatakan kalau baru saja dari Majapahit, serta memohon izin bertahta menjadi raja tanah Jawa. Akan tetapi di Ampel ia malah dimarahi dan diumpat-umpat. Ia dikatakan tidak tahu membalas kebaikan Sang Prabu Brawijaya. Akhirnya ia diperintahkan supaya mencari dan mohon ampun kepada ayahandanya. Semua kemarahan Nyai Ageng Ampel dilaporkan kepada Sunan Bonang.
Mendengar hal itu Sunan Bonang, dalam batin merasa menyesal dan bersalah karena khilaf akan kebaikan Prabu Brawijaya. (masak sih??) Tetapi (karena gengsi dan sudah kepalang tanggung) rasa yang demikian tadi ditutupi dengan pura-pura menyalahkan Prabu Brawijaya dan Patihnya, karena tidak mau pindah agama Islam.
Sunan Bonang mengatakan agar perintah Nyai Ageng Ampel tidak perlu dipikirkan benar, karena pertimbangan wanita pasti kurang sempurna, lebih baik penghancuran Majapahit dilanjutkan. Jika Prabu Jimbun menuruti perintah Nyai Ampeldanta, Sunan Bonang lebih baik akan pulang ke Arab. Akhirnya Prabu Jimbun berjanji kepada Sunan Bonang untuk tidak menjalani perintah Nyai Ampel.
Sunan Bonang memerintahkan kepada Sang Prabu, jika ayahandanya memaksa pulang ke Majapahit, Sang Prabu Brawijaya diperintahkan menghadap dan meminta ampun akan semua kesalahannya. Akan tetapi bila beliau ingin bertahta lagi, jangan di tanah Jawa, karena pasti akan mengganggu orang yang pindah ke agama Islam. Ia disuruh bertahta di negara lain di luar Jawa. (Benar2 Sunan yang tau berbalas budi, persis seperti nabinya)
Sunan Giri kemudian menyambung, agar tidak menganggu pengislaman Jawa, Prabu Brawijaya dan putranya lebih baik di tenung saja. Karena membunuh orang kafir itu tidak ada dosanya. Sunan Bonang serta Prabu Jimbun sudah mengamini pendapat Sunan Giri yang demikian tadi. (Masak Islam mau tenung Budha, ga mampu lah)
Referensi Selanjutnya klik Disini
Sumber : http://primordialnature.blogspot.co.id/2017/12/masuknya-islam-ke-indonesia.html?m=1
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Tampilkan postingan dengan label Javanism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Javanism. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Desember 2017
Kamis, 23 November 2017
TURCO - MONGOL (SEJARAH YANG PERLU DI KETAHUI MASYARAKAT NUSANTARA)
Inilah power dari utara yg bikin Nusantara kegoncangan terus menerus hingga mengalami degradasi.
1. KEKAISARAN MONGOLIA (1206–1368)
Kekaisaran Mongolia berawal dari abad 13 sampai abad 14. Wilayahnya membentang dari Eropa timur ke Asia. Kekaisaran ini adalah gabungan dari bangsa Mongol dan Turki setelah Genghis Khan diproklamirkan sebagai pemimpinnya pada 1206. Pada masa puncak kejayaanya, wilayahnya membentang dari Sungai Danube di Eropa sampai ke laut jepang. dan dari Benua Artika sampai ke Kamboja. Luas wilayahnya mencapai 24. 000. 000 km2. Dibagi menjadi 3 wilayah pemerintahan (khanate) yg didasarkan oleh agama yg berbeda-beda. Di wilayah barat : Islam.
Ketika sentral kekuasaannya di daratan China berhasil digulingkan oleh dinasti Ming, maka para Jendral Yuan yang tiba-tiba kehilangan wilayah teritorial itu menjadi "hantu" berkeliaran di sepanjang pesisir Asia Selatan dan Tenggara. Dan itulah yang kita kenal dengan penyamaran sebagai para Wali. Mereka menghasut penduduk Nusantara yang pada saat itu merupakan negara sahabat dengan daratan Tiongkok untuk membenci orang Han (tionghua). Disitulah awalnya persoalan rasisme di Nusantara itu. Belanda hanya memanfaatkan sikon yang sudah berkembang sebelumnya.
Akibat penguasaan Mongol di Asia Tenggara maka jalur perdagangan Selat Malaka dikuasai oleh mereka. Inilah yang menyebabkan pemerintah Ming atas perintah Kaisar Yong Le mengirimkan ekspidisi Ceng He untuk menangkapi gerombolan pengacau keamanan Mongol. Akibat dari terputusnya jalur perdagangan laut ini maka menggunakan kembali jalur darat yang jauh lebih mahal, dan makan waktu dari Timur ke wilayah Barat. Itulah maka negeri-negeri Barat pun berlomba mengirimkan armadanya ke Asia Tenggara untuk menguasai wilayah strategis nan subur ini. Begitulah asal muasalnya penjajahan Nusantara ini dimulai.
Ironisnya, kerajaan Mataram pecah menjadi Kesunanan Solo dan Kesultanan Jogjakarta. Kalau Kesunanan Solo menghasilkan tokoh-tokoh Nasionalis. Yang Kesultanan, mendapatkan hegemoni power sebagai negeri vassal protektorat dari kesultanan Turki, maka Sultannya boleh menyandang gelar "Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah" (Panglima Kalifatullah). Berdasarkan ini maka politik rasis dijalankan. Maka jangan heran bila WNI keturunan tionghua tidak mungkin diperkenankan memiliki tanah dengan sertifikat HM, pasti HGB (maksimal).
Pada 1294, kekaisaran mongol pecah menjadi 4 bagian dan bermetamorfosis menjadi berbagai macam power terselubung yang sampai detik ini masih menggurita di dunia. Seorang kawan memberikan informasi konektivitas dengan imperium2 ini :
2. KERAJAAN MOGUL (1526–1858)
Kerajaan Mogul adalah kerajaan Islam yang mengatur sebagian besar wilayah India dan berawal pada 1526. Kerajaan ini mengatur sebagian besar Asia Selatan pada akhir abad 17 dan awal abad 18 dan berakhir pada pertengahan abad 19. Kerajaan Mogul adalah keturunan dari Timurid dari Turkistan pada tahun 1700 an, kerajaan ini mencakup seluruh daratan India. Wilayahnya pada waktu itu 4.000.000 km2.
Kerajaan ini bermula dari kepemimpinan Jalaluddin Mohammad Akbar atau Akbar yang Agung dan berakhir pada 1707 setelah kematian Kaisar Aurangzeb meskipun masih berlangsung sampai 150 tahun kemudian.
3. KERAJAAN INGGRIS
Kerajaan inggris terdiri dari domini, koloni, protektorat dan mandat dan semua wilayah yang diatur oleh kerajaan Inggris. Sampai tahun 1922 Kerajaan Inggris memiliki 450 juta jiwa dan itu merupakan 1/4 penduduk dunia waktu itu. Wilayahnya seluas 33. 700. 000 km2. dan mempunyai kekuatan militer paling besar dalam sejarah.
4. KEKAISARAN OTOMAN (Turki 1299–1923)
Adalah kerajaan Islam yang berlangsung dari 1 November 1299 sampai 24 Juli 1924. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini meliputi 3 benua, mengatur sebagian besar Asia Barat, Timur dan Tenggara Eropa, daerah pegunungan Kaukasus dan Afrika Utara. Kekaisaran ini berlangsung paling lama yaitu selama 7 abad. Mereka juga toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi.
Harap maklum ya, yg saya endus secara intuitif ini masih sangat-sangat kasar. Perlu studi kajian historis yang fulltime profesional untuk dapat mengusut dan merunut jalur-jalur power tirani jadul ini. Mengingat Rothschild dan Soros adalah orang GEORGIA yang mana adalah salah satu poros dalam sejarah Mongol via pintu Barat, maka kita bisa melihat pola bagaimana POWER PLAY di dunia modern ini dimainkan. Termasuk menaikkan atau menurunkan presiden sebuah negeri guna memuluskan jalannya menguasai dunia. Dan ingatan kalian pun telah diplokotho mereka sehingga suka memuja-muji menyembah para pembantai nenek moyangmu.
Kalian tidak akan mengerti hakikat dosa dan penebusan (redemption) bila tidak saya tarik ajak paham ke level blood and pus dan segala macam bentuk pemerkosaan jiwa anak manusia ini.
Berbicara ndakik2 teori theologis indah-indah yang dicorongkan di tempat-tempat ibadah untuk utopia kedamaian pada dasarnya adalah ritual penguburan terhadap kebenaran.
Yang dapat di simpulkan yaitu, itulah ini sejarah yang perlu dikupas, agar bangsa ini tidak buta atas berbagai even politik yg tjd od era ini. Sebuah kronologib sejarah yg selama ini TIDAK pernah diajarkan dlm SYSTEM pendidikan umum.
Itu berarti kesimpulannya, para wali yg awalnya menyebar ideologi islam itu aslinya mantan jenderal mongol pasca pecahnya kekuasaan Gengis khan yg bergerilya ke nusantara dg tujuan utk membangun kekuatan politis dg menggunakan doktrin ideologi islam sbg alat utk memprovokasi.
ideologi yg awalnya diciptakan oleh rom barat yg secara tidak langsung dirancang utk menyerang rom timur....dg kata lain sejauh peristiwa politik yg sampai detik ini terjadi, berarti merupakan perpanngan konflik antara rom barat dan timur...
Dan politik anti china itu memang sudah dirancang sejak waktu itu dg tujuan utk merebut kembali kekuasaan mongol di china, sekaligus utk memerangi pihak-pihak yg berafiliasi dg rom timur.
Rahayu!
Baca juga judul yang relevan :
* SEJARAH SINGKAT POLITIK DUNIA
* FAkTA SEJARAH NKRI
* Wali-9 & Runtuhnya-Kerajaan-Hindu-Jawa
.
* INDIA & ISLAM
1. KEKAISARAN MONGOLIA (1206–1368)
Kekaisaran Mongolia berawal dari abad 13 sampai abad 14. Wilayahnya membentang dari Eropa timur ke Asia. Kekaisaran ini adalah gabungan dari bangsa Mongol dan Turki setelah Genghis Khan diproklamirkan sebagai pemimpinnya pada 1206. Pada masa puncak kejayaanya, wilayahnya membentang dari Sungai Danube di Eropa sampai ke laut jepang. dan dari Benua Artika sampai ke Kamboja. Luas wilayahnya mencapai 24. 000. 000 km2. Dibagi menjadi 3 wilayah pemerintahan (khanate) yg didasarkan oleh agama yg berbeda-beda. Di wilayah barat : Islam.
Ketika sentral kekuasaannya di daratan China berhasil digulingkan oleh dinasti Ming, maka para Jendral Yuan yang tiba-tiba kehilangan wilayah teritorial itu menjadi "hantu" berkeliaran di sepanjang pesisir Asia Selatan dan Tenggara. Dan itulah yang kita kenal dengan penyamaran sebagai para Wali. Mereka menghasut penduduk Nusantara yang pada saat itu merupakan negara sahabat dengan daratan Tiongkok untuk membenci orang Han (tionghua). Disitulah awalnya persoalan rasisme di Nusantara itu. Belanda hanya memanfaatkan sikon yang sudah berkembang sebelumnya.
Akibat penguasaan Mongol di Asia Tenggara maka jalur perdagangan Selat Malaka dikuasai oleh mereka. Inilah yang menyebabkan pemerintah Ming atas perintah Kaisar Yong Le mengirimkan ekspidisi Ceng He untuk menangkapi gerombolan pengacau keamanan Mongol. Akibat dari terputusnya jalur perdagangan laut ini maka menggunakan kembali jalur darat yang jauh lebih mahal, dan makan waktu dari Timur ke wilayah Barat. Itulah maka negeri-negeri Barat pun berlomba mengirimkan armadanya ke Asia Tenggara untuk menguasai wilayah strategis nan subur ini. Begitulah asal muasalnya penjajahan Nusantara ini dimulai.
Ironisnya, kerajaan Mataram pecah menjadi Kesunanan Solo dan Kesultanan Jogjakarta. Kalau Kesunanan Solo menghasilkan tokoh-tokoh Nasionalis. Yang Kesultanan, mendapatkan hegemoni power sebagai negeri vassal protektorat dari kesultanan Turki, maka Sultannya boleh menyandang gelar "Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah" (Panglima Kalifatullah). Berdasarkan ini maka politik rasis dijalankan. Maka jangan heran bila WNI keturunan tionghua tidak mungkin diperkenankan memiliki tanah dengan sertifikat HM, pasti HGB (maksimal).
Pada 1294, kekaisaran mongol pecah menjadi 4 bagian dan bermetamorfosis menjadi berbagai macam power terselubung yang sampai detik ini masih menggurita di dunia. Seorang kawan memberikan informasi konektivitas dengan imperium2 ini :
2. KERAJAAN MOGUL (1526–1858)
Kerajaan Mogul adalah kerajaan Islam yang mengatur sebagian besar wilayah India dan berawal pada 1526. Kerajaan ini mengatur sebagian besar Asia Selatan pada akhir abad 17 dan awal abad 18 dan berakhir pada pertengahan abad 19. Kerajaan Mogul adalah keturunan dari Timurid dari Turkistan pada tahun 1700 an, kerajaan ini mencakup seluruh daratan India. Wilayahnya pada waktu itu 4.000.000 km2.
Kerajaan ini bermula dari kepemimpinan Jalaluddin Mohammad Akbar atau Akbar yang Agung dan berakhir pada 1707 setelah kematian Kaisar Aurangzeb meskipun masih berlangsung sampai 150 tahun kemudian.
3. KERAJAAN INGGRIS
Kerajaan inggris terdiri dari domini, koloni, protektorat dan mandat dan semua wilayah yang diatur oleh kerajaan Inggris. Sampai tahun 1922 Kerajaan Inggris memiliki 450 juta jiwa dan itu merupakan 1/4 penduduk dunia waktu itu. Wilayahnya seluas 33. 700. 000 km2. dan mempunyai kekuatan militer paling besar dalam sejarah.
4. KEKAISARAN OTOMAN (Turki 1299–1923)
Adalah kerajaan Islam yang berlangsung dari 1 November 1299 sampai 24 Juli 1924. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini meliputi 3 benua, mengatur sebagian besar Asia Barat, Timur dan Tenggara Eropa, daerah pegunungan Kaukasus dan Afrika Utara. Kekaisaran ini berlangsung paling lama yaitu selama 7 abad. Mereka juga toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi.
Harap maklum ya, yg saya endus secara intuitif ini masih sangat-sangat kasar. Perlu studi kajian historis yang fulltime profesional untuk dapat mengusut dan merunut jalur-jalur power tirani jadul ini. Mengingat Rothschild dan Soros adalah orang GEORGIA yang mana adalah salah satu poros dalam sejarah Mongol via pintu Barat, maka kita bisa melihat pola bagaimana POWER PLAY di dunia modern ini dimainkan. Termasuk menaikkan atau menurunkan presiden sebuah negeri guna memuluskan jalannya menguasai dunia. Dan ingatan kalian pun telah diplokotho mereka sehingga suka memuja-muji menyembah para pembantai nenek moyangmu.
Kalian tidak akan mengerti hakikat dosa dan penebusan (redemption) bila tidak saya tarik ajak paham ke level blood and pus dan segala macam bentuk pemerkosaan jiwa anak manusia ini.
Berbicara ndakik2 teori theologis indah-indah yang dicorongkan di tempat-tempat ibadah untuk utopia kedamaian pada dasarnya adalah ritual penguburan terhadap kebenaran.
Yang dapat di simpulkan yaitu, itulah ini sejarah yang perlu dikupas, agar bangsa ini tidak buta atas berbagai even politik yg tjd od era ini. Sebuah kronologib sejarah yg selama ini TIDAK pernah diajarkan dlm SYSTEM pendidikan umum.
Itu berarti kesimpulannya, para wali yg awalnya menyebar ideologi islam itu aslinya mantan jenderal mongol pasca pecahnya kekuasaan Gengis khan yg bergerilya ke nusantara dg tujuan utk membangun kekuatan politis dg menggunakan doktrin ideologi islam sbg alat utk memprovokasi.
ideologi yg awalnya diciptakan oleh rom barat yg secara tidak langsung dirancang utk menyerang rom timur....dg kata lain sejauh peristiwa politik yg sampai detik ini terjadi, berarti merupakan perpanngan konflik antara rom barat dan timur...
Dan politik anti china itu memang sudah dirancang sejak waktu itu dg tujuan utk merebut kembali kekuasaan mongol di china, sekaligus utk memerangi pihak-pihak yg berafiliasi dg rom timur.
Rahayu!
Baca juga judul yang relevan :
* SEJARAH SINGKAT POLITIK DUNIA
* FAkTA SEJARAH NKRI
* Wali-9 & Runtuhnya-Kerajaan-Hindu-Jawa
.
* INDIA & ISLAM
Minggu, 15 Oktober 2017
PASOPATI SENJATA ARJUNA
Kita di Nusantara ini mengenal dari kisah perwayangan bahwa Pasopati adalah senjata pamungkasnya Arjuna untuk mengalahkan bala Kurawa (golongan Raksasa Brekasakan). Apakah sebetulnya makna rahasia dari senjata yg dinamakan Pasopati itu? Marilah kita simak.
Paso dari kata Pashu (sanskrit) yang artinya adalah ternak atau secara simbolik merujuk pada Ātman (soul, self, breath --> ingat Nefesh!). Pati adalah artinya gembala ternak atau dengan kata lain Tuhan (Brahman). Dengan kata lain Pasopati artinya adalah "Tuhan langsung menggembalakan umat manusia". Hubungan langsung antara manusia dan Tuhan inilah yang disebut juga dengan Yashar (hubungan langsung) dengan Tuhan (El) yang kita kenal dengan nama "Israel". Nah!Dalam pengertian Shivaisme, maka ada 3 hal yang menggambarkan Realitas / Kasunyatan itu : Pashu, Pati dan Pasam. Pasam ini artinya adalah kuk (tali pengikat) ternak. Jadi, sang gembala menempatkan kuk pada kawanan ternaknya. Triangularitas antara ketiga crux itu membentuk Realitas kita saat ini dimanapun kapanpun. Suatu penggembalaan jiwa.
Mengapa digunakan metafori ternak dan gembalanya?
Ingat, manusia zaman 3000 tahun sebelum Masehi itu cara penghidupannya bagaimana? Tiada lain tiada bukan, hal-hal yang paling dapat dimengerti dan relevan dengan sikon nya adalah hal-hal yang berhubungan dengan ternak. Nah oleh karena itu digunakanlah metafora2 yg berasal dari alam penggembalaan, pertanian dan hubungan kekerabatan. Tapi zaman selalu mengalami perubahan. Dan setelah 6000 tahun kemajuan, maka manusia modern sudah seharusnyalah mengambil esensi (hakikat) maknanya dari segala cara tutur kuno itu. Tapi bagaimana caranya? Tiada jalan lain, haruslah kita gali sejarah dan meneliti secara anthropological cara manusia mengada dan bersosial pada masanya.
Anda perhatikan, bahwa cult sapi ini sudah ada semenjak zaman purba. Sementara dalam tradisi tertulis (literate culture), maka dikisahkan bahwa asal muasal peradaban dan penyebaran manusia di dunia adalah berasal dari daerah lembah subur Mesopotamia antara sungai Tigris dan Effrat, yg kala itu dikenal dengan Peradaban Sumeria. Disitulah pertama kali dikenal mitologis tentang cult terhadap Banteng (entah disebut kerbau atau sapi, yg jelas jenis sebenarnya adalah Auroch -- yg sudah punah). Dalam epic Gilgamesh maka dapat kita baca peperangan antara Gilgamesh dan Enkidu (Kerbau Langit). Itulah mengapa di tradisi Semit (yahudi) yg juga secara genetik berasal dari gen Sumer, mengenal kisah penyembahan Sapi Emas (Golden Calf). Di India Nandi (Lembu putih tunggangan Shiva), dan di budaya Mesir kuno disebut Apis yg merupakan manifestasi dari Ptah dan kemudian Osiris. Cult sapi yang disebut Taur itu dikenal di seluruh bagian muka bumi ini. Maka jangan heran bila anda kenal minuman "Krating Daeng" (atau Red Bull) yang berlambangkan banteng itu saya duga berasal karena mengandung zat aktif yg disebut Taurine. Maka jangan heran bila di Nusantara juga dikenal tradisi Suronan dengan mengarak kebo-bule (kerbau putih).
Yang jelas, semua kisah itu bertujuan menyampaikan bahwa realitas manusia ini adalah analogic dengan ladang penggembalaan. Antara Tuhan (Sang Penggembala) dan manusia (ternaknya). Akan tetapi, bila hubungan langsung itu dibajak (di-intermediasi) kan oleh simbolismenya yang diangkat melebihi dari maknanya, maka itulah jatuh pada pemberhalaan. Maka jangan heran, kisah Musa murka akibat bani Israel memuja Sapi Emas (Golden Calf) atau di Quran ada surah al'Baqarah (Sapi Betina) sebetulnya adalah --tidak dapat dipungkiri lagi-- mengkritik fenomena yang saya jelaskan di atas.
Oke, kita kembali lagi ke soal Pasopati.
Dalam mitologi Tantra pra-Veda (sebelum Veda), maka Pasopati adalah penjelmaan Shiva yang awal pertama, sebelum perubahan pada era selanjutnya dimana dikatakan Nandi (lembu putih) adalah kendaraan tunggangan Shiva. Ini mengingatkan kita pada kisah Lao Zi yang mana menunggang kerbau sembari duduk menghadap ke belakang , pergi menuju Gerbang Barat. Mereka yang di Barat mencari ke Timur, yang di Timur berjalan ke Barat. Luar biasa kan sinkronisitas dari seluruh kisah-kisah ini menganyam suatu makna keutuhan dari seluruh bagian dunia?
Perhatikanlah....jangan menganggap diri kita sekarang ini SUDAH modern apalagi sempurna. Kenyataannya...
dalam ladang penggembalaan jiwa ini...ternyata masih mengulang-ulang kembali pola-pola lama terjatuh dalam idolatry (pemberhalaan) itu.
Dan bila kita menyimak dari apa yg dikatakan dalam Upanishad ini :
"Atman (self, soul, jiwa) adalah tentu saja Brahman. Ātman juga berarti intelek, Manas (batin), dan nafas-vital (nefesh), dengan mata dan telinga, dengan bumi, air, angin dan ākāśa (sky, space, ruang), denan api dan yanb bukan-api, dengan desire (motivasi) dan tanpa desire, denan kemarahan dan tanpa kemarahan, dengan kebenaran dan dengan ketidakbenaran, dengan segala sesuatunya -- itu dikenali , atau terkenal sebagai, dengan ini (yang dipersepsikan) dan dengan itu (yang dipersangkakan). Karena ini [Ātman, self, soul] mengada dan bertindak, maka ia menjadi (dumadi) : dengan melakukan baik jadi baik, dengan jahat jadi jahat.
Ia menjadi baik melalui perbuatan yang baik, dan menjadi keji melalui perbuatan yang jahat. Lainnya, maka dikatakan, "Self (diri) dikenlai dari keinginan / motif semata. Apa yang menjadi motif nya itu yang didapat, maka ia menyelesaikan itu; apa yang ia selesaikan, maka itulah aksi (karma) nya; dan apa yang menjadi aksinya ia menuai reaksi".
— Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, 9th century BCE[28]
....maka jelaslah bahwa apa yang didefinisikan sebagai penyembahan berhala / musryik atau menduakan Tuhan...bukanlah sekedar urusan patung-patung atau citra saja,....tetapi lebih fundamental daripada itu...persis selaras dan relevant dengan apa yang dikatakan oleh Rabbi Dov Ber Pinson di TS ini :
Penyembahan berhala bukan sekedar berarti menyembah sesuatu, melainkan menyembah satu hal diatas yang lainnya--
(Not as worshiping something but one thing OVER the everything). Karena sesungguhnya, segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan. Tapi manakala anda mulai mengatakan berhubungan hanya dengan satu hal, itulah dimulainya apa yg disebut PENYEMBAHAN BERHALA (IDOL WORSHIP).
~ Rav.DovBer Pinson
http://primordialnature.blogspot.co.id/2015/09/definisi-idolatry-penyembahan-berhala.html
Yang mana saya ulang katakan agar lebih sederhana dan mudah dimengerti :
Penyembahan berhala adalah manakala anda terjatuh pada simbol-simbol dianggap sebagai tujuan, ketimbang menyelami untuk memahami makna hakiki-nya.
Btw, sekedar info : Keris yang diagem pak Jokowi adalah berdapur Pasopati.
Rahayu!
Danz Suchamda
------------------------------
DIALOG PENTING
> Danardono Wisnu Prabu : tali kekang itu apakah bisa di ibaratkan iman atau agama?
> Danz Suchamda : BUKAN.
Tali kekang = kuk = yuj...yg jadi asal kata yoga. Bahasa Jawanya "LAKU"...(lakuning urip)...eg: Ilmu tinemune kanthi laku. Alias PRAKTEK.
BUKAN teori agama.
Pelihara kerbau untuk bajak sawah apa untuk disekolahin kerbaunya jadi pendeta tapi gak pernah dibawa turun ke sawah? hahahaha
Ini lagi-lagi plokotho bahasa :
Yoga.....orang diplokotho bahasanya sehingga memahami yoga itu sekedar urusan senam stretching. Itu adalah super-super dangkal.
Yoga itu adalah PRAKTEK LAKU.
Kalau di tradisi Hindu pada umumnya dikenal 4 jalur praktek laku mencapai pencerahan :
1. Bhakti Yoga (laku dengan bakti / devosi)
2. Karma Yoga (laku dengan praktek amal, berbuat kebajikan, dll)
3. Jnana Yoga (laku dengan penyelidikan analitis)
4. Raja Yoga (laku dengan bhavana , mis : meditasi, tapa, puasa, dsb dsb) . Memang hal yg terakhir inilah yg kebanyakan orang mengira adalah "yoga", padahal itu hanya satu sub bagian.
> Danardono Wisnu Prabu : katanya lho ini kalau romo atau pendeta itu kepanjangan dari Tuhan.
Tuhan kan butuh Kuk untuk mengarahkan jemaatnya. kalau gak ada kuk gimana mengarahkan sapinya?
> Danz Suchamda : Kan katanya si tukang klaim? Betul? hehe
Yang ngarahin sapinya??
Walah walah NGELUNJAK!
Gembalanya itu ya TUHAN LANGSUNG !
Gini....
Antara pendeta / ulama dsb dengan umat biasa terendah sekalipu.... itu SAMA DERAJATNYA di mata Tuhan.
Bedanya adalah : mereka yang menempatkan diri berdiri di barisan paling depan gol.manusia sesamanya itu dianggap bertekad melaksanakan LEBIH.
Jadi...motivasi LEBIH besar.
Upaya LEBIH besar.
Pengorbanan LEBIH besar.
Ujian LEBIH besar.
Beban LEBIH besar.
Tapi semua itu dalam rangka menggembleng jiwanya sendiri!
Ingat rumus yg pernah saya jelaskan di TS dulu :
The greater the desire, the greater the light will be absorbed.
Jadi, artinya...the greater the desire maka the greater pula the YOKE (beban) !...
Bukan untuk menempatkan diri LEBIH dari sesamanya! Tettottt BESAR !
Karena seharusnya dia mampu menempatkan dirinya justru lebih rendah daripada sesamanya manusia! Itulah pengertian MELAYANI (service to God)!
------------------------------
Pranala luar untuk mengkaji :
- https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati#Pashup ati_seal
-https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati_seal
- https://en.wikipedia.org/wiki/Sacred_bull#Mesopotamia
- https://en.wikipedia.org/wiki/Nandi_(bull)
- https://en.wikipedia.org/wiki/%C4%80tman_(Hind uism)
- https://en.wikipedia.org/wiki/Pasam_(Saivism)
https://en.wikipedia.org/wiki/Shiva
------------------------------
DIALOG PENTING
> Danardono Wisnu Prabu : tali kekang itu apakah bisa di ibaratkan iman atau agama?
> Danz Suchamda : BUKAN.
Tali kekang = kuk = yuj...yg jadi asal kata yoga. Bahasa Jawanya "LAKU"...(lakuning urip)...eg: Ilmu tinemune kanthi laku. Alias PRAKTEK.
BUKAN teori agama.
Pelihara kerbau untuk bajak sawah apa untuk disekolahin kerbaunya jadi pendeta tapi gak pernah dibawa turun ke sawah? hahahaha
Ini lagi-lagi plokotho bahasa :
Yoga.....orang diplokotho bahasanya sehingga memahami yoga itu sekedar urusan senam stretching. Itu adalah super-super dangkal.
Yoga itu adalah PRAKTEK LAKU.
Kalau di tradisi Hindu pada umumnya dikenal 4 jalur praktek laku mencapai pencerahan :
1. Bhakti Yoga (laku dengan bakti / devosi)
2. Karma Yoga (laku dengan praktek amal, berbuat kebajikan, dll)
3. Jnana Yoga (laku dengan penyelidikan analitis)
4. Raja Yoga (laku dengan bhavana , mis : meditasi, tapa, puasa, dsb dsb) . Memang hal yg terakhir inilah yg kebanyakan orang mengira adalah "yoga", padahal itu hanya satu sub bagian.
> Danardono Wisnu Prabu : katanya lho ini kalau romo atau pendeta itu kepanjangan dari Tuhan.
Tuhan kan butuh Kuk untuk mengarahkan jemaatnya. kalau gak ada kuk gimana mengarahkan sapinya?
> Danz Suchamda : Kan katanya si tukang klaim? Betul? hehe
Yang ngarahin sapinya??
Walah walah NGELUNJAK!
Gembalanya itu ya TUHAN LANGSUNG !
Gini....
Antara pendeta / ulama dsb dengan umat biasa terendah sekalipu.... itu SAMA DERAJATNYA di mata Tuhan.
Bedanya adalah : mereka yang menempatkan diri berdiri di barisan paling depan gol.manusia sesamanya itu dianggap bertekad melaksanakan LEBIH.
Jadi...motivasi LEBIH besar.
Upaya LEBIH besar.
Pengorbanan LEBIH besar.
Ujian LEBIH besar.
Beban LEBIH besar.
Tapi semua itu dalam rangka menggembleng jiwanya sendiri!
Ingat rumus yg pernah saya jelaskan di TS dulu :
The greater the desire, the greater the light will be absorbed.
Jadi, artinya...the greater the desire maka the greater pula the YOKE (beban) !...
Bukan untuk menempatkan diri LEBIH dari sesamanya! Tettottt BESAR !
Karena seharusnya dia mampu menempatkan dirinya justru lebih rendah daripada sesamanya manusia! Itulah pengertian MELAYANI (service to God)!
------------------------------
Pranala luar untuk mengkaji :
- https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati#Pashup ati_seal
-https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati_seal
- https://en.wikipedia.org/wiki/Sacred_bull#Mesopotamia
- https://en.wikipedia.org/wiki/Nandi_(bull)
- https://en.wikipedia.org/wiki/%C4%80tman_(Hind uism)
- https://en.wikipedia.org/wiki/Pasam_(Saivism)
https://en.wikipedia.org/wiki/Shiva
Jumat, 01 September 2017
APAKAH KITA LEBIH MULIA DARI SAPI?
(Sebuah Renungan di Hari Qurban: Hari Raya Idul Adha, Djumat Wage, 1 Sept 2017 (1438 H)
"Manusia harus membuang sifat-sifat hewan di dalam dirinya...."
BENARKAH DEMIKIAN ? APAKAH SAPI/DOMBA LEBIH BURUK DARI KITA?
Tolong sebutkan sifat hewan mana yang harus dibuang/
dikorbankan:
1. Hewan tidak memiliki EGO
2. Hewan hidup selalu sesuai FITRAHnya
3. Hewan tidak pernah korupsi
4. Hewan tidak pernah KESETANAN
5. Hewan hanya mengambil sesuatu kebutuhan, tidak penah menimbun harta!
6. Hewan tidak pernah MERUSAK ALAM.
SAPI/DOMBA ADALAH MESIN PRODUKSI PALING SEMPURNA YANG TIADA BANDINGANNYA.
BERI DIA SEONGGOK RUMPUT, MAKA DIA AKAN MEMBERIMU:
- TENAGA UNTUK MEMBAJAK SAWAH
- DAGING
- SUSU
- KULIT;
- TULANG/TANDUK
- PUPUK KANDANG
SANGGUPKAH ANDA ?
Masihkah Anda merasa lebih hebat dan mulia dibanding SAPI/DOMBA?
Dia sanggup mengorbankan nyawanya untuk membahagiakan orang lain dan menjadikan dagingnya sebagai santapan bergizi.....
SANGGUHKAH KITA SEDIKIT SAJA BERKORBAN (Waktu, Tenaga, Pikiran, Perbuatan, Perkataan, seulas senyum) UNTUK MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN? TAK USAH NYAWA.......
Sanggupkah ???!!!
APA YANG TELAH KITA LAKUKAN SELAMA INI? MEMBAHAGIAKAN ORANG ATAU MENCELAKAKAN ORANG LAIN?
MASIHKAN ANDA MERASA LEBIH MULIA DARI SEEKOR SAPI ATAU DOMBA?
Selamat Hari Qurban
Lamb of God
Rahayu!
"Manusia harus membuang sifat-sifat hewan di dalam dirinya...."
BENARKAH DEMIKIAN ? APAKAH SAPI/DOMBA LEBIH BURUK DARI KITA?
Tolong sebutkan sifat hewan mana yang harus dibuang/
dikorbankan:
1. Hewan tidak memiliki EGO
2. Hewan hidup selalu sesuai FITRAHnya
3. Hewan tidak pernah korupsi
4. Hewan tidak pernah KESETANAN
5. Hewan hanya mengambil sesuatu kebutuhan, tidak penah menimbun harta!
6. Hewan tidak pernah MERUSAK ALAM.
SAPI/DOMBA ADALAH MESIN PRODUKSI PALING SEMPURNA YANG TIADA BANDINGANNYA.
BERI DIA SEONGGOK RUMPUT, MAKA DIA AKAN MEMBERIMU:
- TENAGA UNTUK MEMBAJAK SAWAH
- DAGING
- SUSU
- KULIT;
- TULANG/TANDUK
- PUPUK KANDANG
SANGGUPKAH ANDA ?
Masihkah Anda merasa lebih hebat dan mulia dibanding SAPI/DOMBA?
Dia sanggup mengorbankan nyawanya untuk membahagiakan orang lain dan menjadikan dagingnya sebagai santapan bergizi.....
SANGGUHKAH KITA SEDIKIT SAJA BERKORBAN (Waktu, Tenaga, Pikiran, Perbuatan, Perkataan, seulas senyum) UNTUK MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN? TAK USAH NYAWA.......
Sanggupkah ???!!!
APA YANG TELAH KITA LAKUKAN SELAMA INI? MEMBAHAGIAKAN ORANG ATAU MENCELAKAKAN ORANG LAIN?
MASIHKAN ANDA MERASA LEBIH MULIA DARI SEEKOR SAPI ATAU DOMBA?
Selamat Hari Qurban
Lamb of God
Rahayu!
BELAJAR KAWRUH JAWA (bag. 1)
Sadarilah emosi (rasa) itu menyesatkan.
Tapi digadang-gadang pelaku Kejawen bahwa batu-uji segala sesuatunya itu ROSO. Maka pantes jadi Galauman, mahluk superhero tersinggungan yang lucu.
Keblinger karena menganggap emosi (rasa) itu barometer hidupnya , lalu menepis penggunaan akal-pikiran / kecerdasan (intelek). Padahal, aslinya Kawruh Jawa tidak mengajarkan demikian!
Perhatikan :
Kawruh Jawa yang otentik mengatakan bahwa yang dimaksud ROSO itu adalah ROSO SEJATI.
Lha kalau ada yang "sejati" itu tentu ada yang "tidak sejati", tow? Yang tidak sejati itu juga rasa/roso...tapi istilahnya Roso Sari. Jadi kalau nggugu roso sari ya jelas kejlungup!!
Roso SEJATI itu juga disebut Rosoingsun (Roso Ingsun). Ingsun itulah tataran batin dimana melampaui "aku kecil" alias ego yg biasa kita bahas-kritik setiap saat disini.
Jadi Galauman itu tidak enak. Bagai coklat rasa taik kucing. Tapi itu memang sebuah proses natural pengangkatan. Kalau istilahnya di Taoism disebut "melewati gerbang setan" (gak satu aja).
Jadi, kalau orang awam biasanya merasakan taik kucing rasa coklat. Maka dalam proses penggemblengan jiwa itu bagaikan sudah dapat coklatnya tapi rasa taik kucing.
Barulah kalau sudah tembus merasakan coklat dengan rasa coklat asli... "nyam..nyammmm....huahahahaha...
Yang jelas tahap Galauman dengan gelora arus rasa yang begitu tebal menggulung mobat-mabit gak keruan tak dapat dijelaskan tapi bikin bingung ga ngerti...(ini yg bikin frustasi) itu --kalau ga salah-- yg dalam tassawuf disebut Dzauq.
Masa-masa Majnun.
Alangkah baiknya dan amannya.....kalau kalian start awal bukan dari perasaan tetapi dari pikiran. Raihlah dulu pikiran benar melalui pembelajaran teori Dharma (termasuk asah logic). Lalu setelah itu mengembangkan faktor batin yg disebut Mindfulness (sati) melalui vipassana mengamati badan (kayasati, a.l melalui puasa, tirakat, mutih, dsb intinya BELAJAR* mengendalikan badan eg.rasa lapar, ngantuk, dsb), lalu kemudian pikiran (cittasati). Karena badan dan pikiran itu adalah lapisan2 "self-delusion" yang paling luar, sehingga paling mudah dikupas. Setelah itu bener dan pener, baru tahap berikutnya masuk ke mengamati fenomena perasaan, baru terakhir mengamati fenomena Consciousnes yg tak lepas dari pengamatan fenomena luar (benernya inilah yg banyak saya bahas di page ini hasil dari observasi Dharma / Fenomena inner-outer and in between).
* = jadi, tirakat, puasa, mutih itu hanyalah MEANS tapi bukan ENDS (sekedar CARA / ALAT tapi bukan TUJUAN). Jadi kalau mikir bahwa asal sudah tirakat-puasa-mutih bisa serta merta suci, itu KOPLAK. Karena yang menggunakan Gergaji bukan untuk motong kayu balok tapi buat motong kursi nemu, ya hasilnya bukan furniture tapi menghancurkan furniture tetangga! Sebutannya bukan lagi tukang kayu tapi preman somplak.
T : Meditasi vipassana lebih terasa efeknya dripada dzikir 1001x..
J : Dzikir itu hakikatnya adalah placement-meditation. Fungsinya beda.
Dari Panca-kandha : Persepsi (sanna), Perasaan (vedana) , Formasi Pikiran (sankhara), Consciousness (vijnana) .... itulah Sedulur Papat versi lain.
Tengah palsunya ya Body (yang bagi orang awam sering diidentikkan dengan 'aku'. "Aku iki yo awakku iki".
Maka harus leap-over (tembus lipatan) sehingga menemukan Pancer.
Pengangkatan itu sendiri artinya adalah mengubah 4 setan atau 4 binatang, menjadi 4 malaikat. Suatu ekstensi dari 'Aku' (huruf besar alias Ingsun which is Empti-NESS ) dalam cara mendunia yang baru (tidak berakar pada 3 racun : lobha-dosa-moha ; tapi pada beautiful-mind-roots : alobha-adosa-amoha atau bahasa inggris/indo-nya : kindness / altruism/ dermawan - compassion / welas asih - wisdom / hikmat).
Anda akan sedikit mulai paham tentang pengelihatan Ezekiel of God dari bagian apa yang disebut Four Living Creatures (Cheruvim).
Tidak hanya mengenali nafsu, tapi MENTRANSFORMASI nafsu.
Selagi masih manusia, tidak bisa hidup tanpa nafsu (bagaimana mau merawat tubuh kalau tidak punya nafsu makan, nafsu ngantuk, meneruskan species, dsb)? Tapi bila nafsu2 itu sudah ditransformasi, maka LAIN. Gitu aja singkatnya.
"Sastra Jendra Pangruwating Diyu"
S45P itu ajaran mendalam dan harus praktek baru tembus pengertiannya. Dan sayangnya wacana Kawruh Jawa dalam hal ini sudah banyak bolong2 (hilang filosofi penghubungnya) sehingga tampaknya hanya sbg suatu ketahayulan. Namun ilmunya masih efektif asal nemu guru pembuka yg tepat.
Wejangan Sastra Jendra
https://youtu.be/xpISuCd05ao
Emosi/rasa Semua itu sebaiknya terjadi dengan natural. Semua perasaan yang hadir cukup disadari saja, tidak perlu ingin begini begitu, itu adalah pikiran. Suatu pengingkaran hanyalah memperkuat emosi tersebut. pikiran ini yang malah akan membentuk roso sari, bukan roso sejati.. kalo begitu bisa mengarah pada sikap galauman yang super sensitif...
Oleh : Danz Suchamda
Rahayu!
Tapi digadang-gadang pelaku Kejawen bahwa batu-uji segala sesuatunya itu ROSO. Maka pantes jadi Galauman, mahluk superhero tersinggungan yang lucu.
Keblinger karena menganggap emosi (rasa) itu barometer hidupnya , lalu menepis penggunaan akal-pikiran / kecerdasan (intelek). Padahal, aslinya Kawruh Jawa tidak mengajarkan demikian!
Perhatikan :
Kawruh Jawa yang otentik mengatakan bahwa yang dimaksud ROSO itu adalah ROSO SEJATI.
Lha kalau ada yang "sejati" itu tentu ada yang "tidak sejati", tow? Yang tidak sejati itu juga rasa/roso...tapi istilahnya Roso Sari. Jadi kalau nggugu roso sari ya jelas kejlungup!!
Roso SEJATI itu juga disebut Rosoingsun (Roso Ingsun). Ingsun itulah tataran batin dimana melampaui "aku kecil" alias ego yg biasa kita bahas-kritik setiap saat disini.
Jadi Galauman itu tidak enak. Bagai coklat rasa taik kucing. Tapi itu memang sebuah proses natural pengangkatan. Kalau istilahnya di Taoism disebut "melewati gerbang setan" (gak satu aja).
Jadi, kalau orang awam biasanya merasakan taik kucing rasa coklat. Maka dalam proses penggemblengan jiwa itu bagaikan sudah dapat coklatnya tapi rasa taik kucing.
Barulah kalau sudah tembus merasakan coklat dengan rasa coklat asli... "nyam..nyammmm....huahahahaha...
Yang jelas tahap Galauman dengan gelora arus rasa yang begitu tebal menggulung mobat-mabit gak keruan tak dapat dijelaskan tapi bikin bingung ga ngerti...(ini yg bikin frustasi) itu --kalau ga salah-- yg dalam tassawuf disebut Dzauq.
Masa-masa Majnun.
Alangkah baiknya dan amannya.....kalau kalian start awal bukan dari perasaan tetapi dari pikiran. Raihlah dulu pikiran benar melalui pembelajaran teori Dharma (termasuk asah logic). Lalu setelah itu mengembangkan faktor batin yg disebut Mindfulness (sati) melalui vipassana mengamati badan (kayasati, a.l melalui puasa, tirakat, mutih, dsb intinya BELAJAR* mengendalikan badan eg.rasa lapar, ngantuk, dsb), lalu kemudian pikiran (cittasati). Karena badan dan pikiran itu adalah lapisan2 "self-delusion" yang paling luar, sehingga paling mudah dikupas. Setelah itu bener dan pener, baru tahap berikutnya masuk ke mengamati fenomena perasaan, baru terakhir mengamati fenomena Consciousnes yg tak lepas dari pengamatan fenomena luar (benernya inilah yg banyak saya bahas di page ini hasil dari observasi Dharma / Fenomena inner-outer and in between).
* = jadi, tirakat, puasa, mutih itu hanyalah MEANS tapi bukan ENDS (sekedar CARA / ALAT tapi bukan TUJUAN). Jadi kalau mikir bahwa asal sudah tirakat-puasa-mutih bisa serta merta suci, itu KOPLAK. Karena yang menggunakan Gergaji bukan untuk motong kayu balok tapi buat motong kursi nemu, ya hasilnya bukan furniture tapi menghancurkan furniture tetangga! Sebutannya bukan lagi tukang kayu tapi preman somplak.
T : Meditasi vipassana lebih terasa efeknya dripada dzikir 1001x..
J : Dzikir itu hakikatnya adalah placement-meditation. Fungsinya beda.
Dari Panca-kandha : Persepsi (sanna), Perasaan (vedana) , Formasi Pikiran (sankhara), Consciousness (vijnana) .... itulah Sedulur Papat versi lain.
Tengah palsunya ya Body (yang bagi orang awam sering diidentikkan dengan 'aku'. "Aku iki yo awakku iki".
Maka harus leap-over (tembus lipatan) sehingga menemukan Pancer.
Pengangkatan itu sendiri artinya adalah mengubah 4 setan atau 4 binatang, menjadi 4 malaikat. Suatu ekstensi dari 'Aku' (huruf besar alias Ingsun which is Empti-NESS ) dalam cara mendunia yang baru (tidak berakar pada 3 racun : lobha-dosa-moha ; tapi pada beautiful-mind-roots : alobha-adosa-amoha atau bahasa inggris/indo-nya : kindness / altruism/ dermawan - compassion / welas asih - wisdom / hikmat).
Anda akan sedikit mulai paham tentang pengelihatan Ezekiel of God dari bagian apa yang disebut Four Living Creatures (Cheruvim).
Tidak hanya mengenali nafsu, tapi MENTRANSFORMASI nafsu.
Selagi masih manusia, tidak bisa hidup tanpa nafsu (bagaimana mau merawat tubuh kalau tidak punya nafsu makan, nafsu ngantuk, meneruskan species, dsb)? Tapi bila nafsu2 itu sudah ditransformasi, maka LAIN. Gitu aja singkatnya.
"Sastra Jendra Pangruwating Diyu"
S45P itu ajaran mendalam dan harus praktek baru tembus pengertiannya. Dan sayangnya wacana Kawruh Jawa dalam hal ini sudah banyak bolong2 (hilang filosofi penghubungnya) sehingga tampaknya hanya sbg suatu ketahayulan. Namun ilmunya masih efektif asal nemu guru pembuka yg tepat.
Wejangan Sastra Jendra
https://youtu.be/xpISuCd05ao
Emosi/rasa Semua itu sebaiknya terjadi dengan natural. Semua perasaan yang hadir cukup disadari saja, tidak perlu ingin begini begitu, itu adalah pikiran. Suatu pengingkaran hanyalah memperkuat emosi tersebut. pikiran ini yang malah akan membentuk roso sari, bukan roso sejati.. kalo begitu bisa mengarah pada sikap galauman yang super sensitif...
Oleh : Danz Suchamda
Rahayu!
Kamis, 03 Agustus 2017
SPIRITUAL : BERKETUHANAN TIDAK HARUS BERAGAMA
Danz Suchamda
Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.
Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.
Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.
Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.
Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.
Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik dan lainnya terlalu kecil untuk uji statistik secara valid.
Anak-anak yang dibesarkan dari keluarga ateis memiliki empati lebih tinggi dibanding anak-anak Islam dan Kristen, sedangkan anak-anak Islam sendiri paling tinggi keinginan menghukum orang lain.
Anak-anak Muslim paling membahayakan dalam hubungan interpersonal dengan sikap dominan dan kegemaran menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga agama lain dan ateis.
"Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang-orang religius tidak lebih baik daripada rekan-rekan non-religius," kata Jean Decety, neurosaintis University of Chicago.
"Studi kami melampauinya dengan menunjukkan bahwa orang-orang religius kurang murah hati dan tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak juga," kata Decety.
Hari ini 5,8 miliar manusia mewakili 84% populasi dunia mengidentifikasi iman kepada akherat dan pada saat yang sama orang tua berasumsi bahwa agama adalah standar moral menjadi manusia yang baik.
Satu teori bahwa orang tua beragama mengajarkan anak-anak menjadi baik dengan cara takut kepada tuhan, sedangkan orang tua ateis mengajar anak-anak untuk menjadi baik dengan hal-hal yang memang patut dilakukan.
Anak-anak beragama hanya merasa terdorong untuk bersikap baik atau bermurah hati jika mereka berpikir ada seseorang yang menonton, bukan karena perbuatan baik memang baik dilakukan.
Pola perilaku anak agama cenderung dikaitkan dengan lisensi moral wahyu langit, roh ilahi dan sebagainya. Sedangkan anak-anak ateis cenderung bertindak atas dasar orang lain, aturan-aturan moral sosial dan lain-lain.
The Negative Association between Religiousness and Children’s Altruism across the World
Jean Decety et al.
Current Biology, November 05, 2015, DOI:10.1016/
j.cub.2015.09.056
http://www.laporanpenelitian.com/2015/11/29.html?m=1
Rahayu!
Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.
Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.
Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.
Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.
Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.
Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik dan lainnya terlalu kecil untuk uji statistik secara valid.
Anak-anak yang dibesarkan dari keluarga ateis memiliki empati lebih tinggi dibanding anak-anak Islam dan Kristen, sedangkan anak-anak Islam sendiri paling tinggi keinginan menghukum orang lain.
Anak-anak Muslim paling membahayakan dalam hubungan interpersonal dengan sikap dominan dan kegemaran menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga agama lain dan ateis.
"Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang-orang religius tidak lebih baik daripada rekan-rekan non-religius," kata Jean Decety, neurosaintis University of Chicago.
"Studi kami melampauinya dengan menunjukkan bahwa orang-orang religius kurang murah hati dan tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak juga," kata Decety.
Hari ini 5,8 miliar manusia mewakili 84% populasi dunia mengidentifikasi iman kepada akherat dan pada saat yang sama orang tua berasumsi bahwa agama adalah standar moral menjadi manusia yang baik.
Satu teori bahwa orang tua beragama mengajarkan anak-anak menjadi baik dengan cara takut kepada tuhan, sedangkan orang tua ateis mengajar anak-anak untuk menjadi baik dengan hal-hal yang memang patut dilakukan.
Anak-anak beragama hanya merasa terdorong untuk bersikap baik atau bermurah hati jika mereka berpikir ada seseorang yang menonton, bukan karena perbuatan baik memang baik dilakukan.
Pola perilaku anak agama cenderung dikaitkan dengan lisensi moral wahyu langit, roh ilahi dan sebagainya. Sedangkan anak-anak ateis cenderung bertindak atas dasar orang lain, aturan-aturan moral sosial dan lain-lain.
The Negative Association between Religiousness and Children’s Altruism across the World
Jean Decety et al.
Current Biology, November 05, 2015, DOI:10.1016/
j.cub.2015.09.056
http://www.laporanpenelitian.com/2015/11/29.html?m=1
Rahayu!
Senin, 03 Juli 2017
SURO DIRO DJAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha
Natkala pangarep-arep suwe jroning panganti,
Wus kagarit sahasra sesulih kadhapuk jroning babad,
Sanadyan sewu rupa wus imbal gumanti,
Sanadyan saben kawuryan beda werna,
Malah wujude tansah datan ajeg,
Tanapi ponang wektu tansah miyak sasab pangalinge.
Kalaning dewi candra praba sihe surem kalingan runguting wit-witan,
Sira tansah padha,
Milang tyas kang demeng lan blawu,
Kang ana jroning jaja pirang-pirang keti manusa.
Kala kartikaning adil rarem kalingan jaladara,
Sira tansah padha,
Sumusup jroning sukma kadhapuk dadi nata ingaurip,
Nyongok wateke manusa,
Nyebar bibit kesrakahan,
Jroning buntelan lelamisan,
Jroning gendhaga wicitra.
Nyecongok adnyana manusa,
Nuwuhake keserakahan,
Ing lemah paugeran,
Kang sira rabuk kinarya sesongaran.
Kalaning bagaskara bebener ambles lumebeng walike cakrawala,
Sira tansah padha,
Ndadekake batur manusa jroning angsane,
Njurung harda katumlak sajroning piangkah pribadya,
Saningga lila ndadekake bebanten watak kamanungsane.
Anaging ingsun,
Raden Dharma Yodha, tunas tarunaning bangsa,
Siyaga adilaga lumawan sira,
Wahai ... kadhakahan ...!
Wahai ... Ambek sura...!
Wahai ... kang demen cidra...!
Ponang Angkara Murka malaning ati,
Arep dak tujah sira,
Kinarya sanjata pangandel kang kenceng dak regem,
Amrih Nagringsun ruwat sangka cencangan wibawanira,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”
TERJEMAHANNYA :
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha
Ketika pengharapan lama dalam penantian,
Telah tertoreh seribu pergantian peran dalam sejarah,
Walau seribu rupa telah berganti,
Walau setiap muncul berbeda warna,
Bahkan wujudpun selalu tak sama,
Tetapi sang waktu selalu menyibak tabirnya.
Ketika dewi rembulan sinar kasih sayangnya tampak redup dibalik pepohonan,
Kau selalu sama,
Menghitung hati yang hitam dan kelabu,
Yang ada di dalam dada berjuta-juta manusia.
Ketika bintang keadilan beristirahat dibalik awan,
Kau selalu sama,
Menyusup dalam sukma berperan sebagai raja kehidupan,
Kendalikan watak manusia,
Menebarkan benih ketamakan,
Dalam bungkus kebohongan,
Dalam kemasan pencitraan.
Kendalikan pikiran manusia,
menumbuhkan keserakahan,
Di tanah peraturan,
Yang kau pupuk dengan kepongahan.
Ketika mentari kebenaran tenggelam terbenam dibalik cakrawala,
Kau selalu sama,
Memperbudak manusia dalam ambisinya,
Mendorong keinginan terjerumus ke dalam keegoisannya,
Hingga rela korbankan sifat kemanusiannya.
Tetapi aku,
Raden Dharma Yodha, tunas muda bangsa,
Siap berperang melawanmu,
Wahai ... Ketamakan...!
Wahai ... Kepongahan...!
Wahai Keangkuhan...!
Sang Angkara Murka Penyakit Hati,
Akan kuterjang kau,
Dengan senjata keyakinan yang erat kugenggam,
Agar Negeriku bebas dari belenggu kuasamu,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”
Rahayu!
Buah Karya : Ki Dharma Yodha
Natkala pangarep-arep suwe jroning panganti,
Wus kagarit sahasra sesulih kadhapuk jroning babad,
Sanadyan sewu rupa wus imbal gumanti,
Sanadyan saben kawuryan beda werna,
Malah wujude tansah datan ajeg,
Tanapi ponang wektu tansah miyak sasab pangalinge.
Kalaning dewi candra praba sihe surem kalingan runguting wit-witan,
Sira tansah padha,
Milang tyas kang demeng lan blawu,
Kang ana jroning jaja pirang-pirang keti manusa.
Kala kartikaning adil rarem kalingan jaladara,
Sira tansah padha,
Sumusup jroning sukma kadhapuk dadi nata ingaurip,
Nyongok wateke manusa,
Nyebar bibit kesrakahan,
Jroning buntelan lelamisan,
Jroning gendhaga wicitra.
Nyecongok adnyana manusa,
Nuwuhake keserakahan,
Ing lemah paugeran,
Kang sira rabuk kinarya sesongaran.
Kalaning bagaskara bebener ambles lumebeng walike cakrawala,
Sira tansah padha,
Ndadekake batur manusa jroning angsane,
Njurung harda katumlak sajroning piangkah pribadya,
Saningga lila ndadekake bebanten watak kamanungsane.
Anaging ingsun,
Raden Dharma Yodha, tunas tarunaning bangsa,
Siyaga adilaga lumawan sira,
Wahai ... kadhakahan ...!
Wahai ... Ambek sura...!
Wahai ... kang demen cidra...!
Ponang Angkara Murka malaning ati,
Arep dak tujah sira,
Kinarya sanjata pangandel kang kenceng dak regem,
Amrih Nagringsun ruwat sangka cencangan wibawanira,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”
TERJEMAHANNYA :
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha
Ketika pengharapan lama dalam penantian,
Telah tertoreh seribu pergantian peran dalam sejarah,
Walau seribu rupa telah berganti,
Walau setiap muncul berbeda warna,
Bahkan wujudpun selalu tak sama,
Tetapi sang waktu selalu menyibak tabirnya.
Ketika dewi rembulan sinar kasih sayangnya tampak redup dibalik pepohonan,
Kau selalu sama,
Menghitung hati yang hitam dan kelabu,
Yang ada di dalam dada berjuta-juta manusia.
Ketika bintang keadilan beristirahat dibalik awan,
Kau selalu sama,
Menyusup dalam sukma berperan sebagai raja kehidupan,
Kendalikan watak manusia,
Menebarkan benih ketamakan,
Dalam bungkus kebohongan,
Dalam kemasan pencitraan.
Kendalikan pikiran manusia,
menumbuhkan keserakahan,
Di tanah peraturan,
Yang kau pupuk dengan kepongahan.
Ketika mentari kebenaran tenggelam terbenam dibalik cakrawala,
Kau selalu sama,
Memperbudak manusia dalam ambisinya,
Mendorong keinginan terjerumus ke dalam keegoisannya,
Hingga rela korbankan sifat kemanusiannya.
Tetapi aku,
Raden Dharma Yodha, tunas muda bangsa,
Siap berperang melawanmu,
Wahai ... Ketamakan...!
Wahai ... Kepongahan...!
Wahai Keangkuhan...!
Sang Angkara Murka Penyakit Hati,
Akan kuterjang kau,
Dengan senjata keyakinan yang erat kugenggam,
Agar Negeriku bebas dari belenggu kuasamu,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”
Rahayu!
Jumat, 26 Mei 2017
BUDI PEKERTI NUSANTARA, berguru pada alam
Ki Buyut Dalu,
Spirit hidup manusia nusantara sejak jaman dahulu adalah keluhuran Budi Pekerti.
Karena lebih menekankan pada Budi Pekerti Luhur, maka keyakinan ini sering disebut dengan "Agama Budi".
Namun teman-teman tetangga sering menyebutnya “Agama Bhumi”. Karena dianggapnya keyakinan leluhur nusantara datangnya dari tradisi turun temurun para leluhur, bukan merupakan wahyu Tuhan.
Keyakinan yang kebenarannya relatif dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan yang lebih pada hal kebendaan dan kemanusiaan serta keduniawian daripada sorga. Demikian tetangga menyebut.
Tapi apapun sebutannya, agama budi dalam sejarahnya telah menuntun manusia nusantara menuju kemuliaan, kebersamaan, beradaban, gotong-royong, tenggang rasa, kehalusan budi, dan kecerdasan pikiran. Agama budi -yang dijuluki agama bumi- memuliakan alam, memuliakan manusia, Leluhur, Batara, Dewa, dan Sang Hyang Embang.
Agama Budi yang menjadi anutan para leluhur nusantara sejak jaman dahulu telah membentuk manusia berbudi, berbakti, berperikemanusiaan, bermusyawarah, berkeadilan, berbudaya, berbhineka, dan kreatif. Agama Budi membentuk manusia nusantara “seutuhnya” yakni manusia nusantara yang hak-hak hidupnya terpenuhi baik secara duniawi maupun akhirat, manusia berbudi, berkepribadian dan memiliki jati diri.
Agama Budi lahir dari pemurnian spiritual manusia di dunia fana. Terbentuk melalui proses spiritual dari manusia – manusia nusantara yang tulus dan “putus” (lepas dari ikatan duniawi), yang mampu menyerap kemuliaan “wahyu alam” sebagai perpanjangan tangan Hyang Tunggal.
Kebajikan yang diajarkan oleh “manusia - manusia paripurna” yang telah dapat menyatukan kekuatan Ibu Pertiwi dan Bapa Akasa. Menyatukan kekuatan Purusa Pradana, menyatukan kekuatan “Dunia” dan “Sunia” (akhirat), menyatukan kekuatan “Sekala Niskala” (nyata dan tak nyata). Menyatukan kekuatan “bhukti” (kebendaan) dan “mukti” (keimanan).
Kekuatan Purusa Pradana menjadi Ardhanareswari sebagai kekuatan Sanghyang Tunggal. Darinya menjadi kekuatan Sanghyang Maha Wisesa yang memancarkan energi kosmis, menebar vibrasi kesucian, membangkitkan kecerdasan budi, yang pada akhirnya melahirkan “sujana” (kebijaksanaan).
Agama Budi tak berharap - harap sorga atau mengelak - elak neraka. Ia mengalir terus mengikuti irama “karma” dan “samsara” (reinkarnasi). Berjalan tulus di jalur budi perkertinya yang damai di dunia, damai di hati dan damai di alam sunia untuk mencapai kemurnian Sang Atma dalam penyatuannya kepada Sang Hyang Jagatnata.
Agama Budi bisa hidup dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Sehingga ia diberi julukan oleh Sang Waktu sebagai Sanatana Dharma, kebenaran abadi. Kearifannya telah melahirkan “Sarjana Sujana” tanpa universitas, yakni insan - insan yang cerdik pandai penuh kebijaksanaan. Terbentuk oleh kemuliaan alam, serta kehalusan budi yang diajarkan oleh Ibu Pertiwi dan kekukuhan hati yang digembleng oleh Bapa Akasa.
Itulah Agama Budi Nusantara, berpijak pada Budi Pekerti Leluhur Nusantara.
Semoga semua mahluk hidup berbahagia.
Semoga leluhur nusantara memberi tuntunan.
#AgamaBudiNusantara #NusantaraJaya #
Rahayu!
Sumber : kanduksupatra.blogspot.com
Spirit hidup manusia nusantara sejak jaman dahulu adalah keluhuran Budi Pekerti.
Karena lebih menekankan pada Budi Pekerti Luhur, maka keyakinan ini sering disebut dengan "Agama Budi".
Namun teman-teman tetangga sering menyebutnya “Agama Bhumi”. Karena dianggapnya keyakinan leluhur nusantara datangnya dari tradisi turun temurun para leluhur, bukan merupakan wahyu Tuhan.
Keyakinan yang kebenarannya relatif dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan yang lebih pada hal kebendaan dan kemanusiaan serta keduniawian daripada sorga. Demikian tetangga menyebut.
Tapi apapun sebutannya, agama budi dalam sejarahnya telah menuntun manusia nusantara menuju kemuliaan, kebersamaan, beradaban, gotong-royong, tenggang rasa, kehalusan budi, dan kecerdasan pikiran. Agama budi -yang dijuluki agama bumi- memuliakan alam, memuliakan manusia, Leluhur, Batara, Dewa, dan Sang Hyang Embang.
Agama Budi yang menjadi anutan para leluhur nusantara sejak jaman dahulu telah membentuk manusia berbudi, berbakti, berperikemanusiaan, bermusyawarah, berkeadilan, berbudaya, berbhineka, dan kreatif. Agama Budi membentuk manusia nusantara “seutuhnya” yakni manusia nusantara yang hak-hak hidupnya terpenuhi baik secara duniawi maupun akhirat, manusia berbudi, berkepribadian dan memiliki jati diri.
Agama Budi lahir dari pemurnian spiritual manusia di dunia fana. Terbentuk melalui proses spiritual dari manusia – manusia nusantara yang tulus dan “putus” (lepas dari ikatan duniawi), yang mampu menyerap kemuliaan “wahyu alam” sebagai perpanjangan tangan Hyang Tunggal.
Kebajikan yang diajarkan oleh “manusia - manusia paripurna” yang telah dapat menyatukan kekuatan Ibu Pertiwi dan Bapa Akasa. Menyatukan kekuatan Purusa Pradana, menyatukan kekuatan “Dunia” dan “Sunia” (akhirat), menyatukan kekuatan “Sekala Niskala” (nyata dan tak nyata). Menyatukan kekuatan “bhukti” (kebendaan) dan “mukti” (keimanan).
Kekuatan Purusa Pradana menjadi Ardhanareswari sebagai kekuatan Sanghyang Tunggal. Darinya menjadi kekuatan Sanghyang Maha Wisesa yang memancarkan energi kosmis, menebar vibrasi kesucian, membangkitkan kecerdasan budi, yang pada akhirnya melahirkan “sujana” (kebijaksanaan).
Agama Budi tak berharap - harap sorga atau mengelak - elak neraka. Ia mengalir terus mengikuti irama “karma” dan “samsara” (reinkarnasi). Berjalan tulus di jalur budi perkertinya yang damai di dunia, damai di hati dan damai di alam sunia untuk mencapai kemurnian Sang Atma dalam penyatuannya kepada Sang Hyang Jagatnata.
Agama Budi bisa hidup dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Sehingga ia diberi julukan oleh Sang Waktu sebagai Sanatana Dharma, kebenaran abadi. Kearifannya telah melahirkan “Sarjana Sujana” tanpa universitas, yakni insan - insan yang cerdik pandai penuh kebijaksanaan. Terbentuk oleh kemuliaan alam, serta kehalusan budi yang diajarkan oleh Ibu Pertiwi dan kekukuhan hati yang digembleng oleh Bapa Akasa.
Itulah Agama Budi Nusantara, berpijak pada Budi Pekerti Leluhur Nusantara.
Semoga semua mahluk hidup berbahagia.
Semoga leluhur nusantara memberi tuntunan.
#AgamaBudiNusantara #NusantaraJaya #
Rahayu!
Sumber : kanduksupatra.blogspot.com
Rabu, 03 Mei 2017
CULT
Mind-Manipulating Groups:
Fenomena “Cult”
“Orang-orang yang mengikuti cult adalah orang
normal. Mereka pada umumnya cerdas, berpikiran terbuka dan jujur. Mereka
bersedia untuk berkorban untuk manfaat yang lebih besar dari suatu grup. Mereka
tertarik pada pengembangan diri dan perbaikan dunia. Orang-orang terbaik,
biasanya, menjadi target dari cult ini. Kekurangan mereka menyebabkan mereka
sangat dibutuhkan sebagai anggota cult.
Dr J W West, Professor of Psychiatry,
University of California
Definisi “Cult”
The Concise Oxford Dictionary mendefinisikan
cult sebagai : “suatu system pemujaan religius; devosi /penyembahan,
penghormatan kepada seseorang atau sesuatu”. Menurut C.T Russel : A
religion or religious sect generally considered to be extremist or false, with
its followers often living in an unconventional manner under the guidance of an
authoritarian, charismatic leader.
Sekarang, didalam benak masyarakat,
kata-kata “cult” adalah cenderung lebih diasosiasikan sebagai kegiatan
cuci-otak (brain-washing), manipulasi kepada para pengikutnya, skandal public
dari para pemimpin cult, pemerasan dan pembunuhan masal; daripada sebuah
kegiatan penyembahan religius.
Salah satu kesulitan
mendefiniskan sebuah ajaran sebagai cult, karena organisasi mereka berada pada
kondisi yang mengalami tahapan perkembangan. Sebuah cult religius biasanya pada tahap awal, pertengahan
dan akhir dari sebuah evolusi perkembangan organisasinya.
Pada awalnya, cult terdiri dari sedikit
kelompok orang yang memfokuskan diri mereka di sekeliling seorang pemimpin
religius dimana memiliki kharisma tertentu yang menyebabkan mereka tertarik.
Pada akhirnya, hal itu dapat menjadi bersifat manipulatif, eksploitatif dan
bahkan menjadi organisasi multi-nasional. Apa yang biasa orang perbincangkan
sebagai sebuah “cult” biasanya adalah NRG (New Religius Group) yang mana biasanya
berawal dalam bentuk perguruan, kelompok doa, atau unit2 kecil lainnya yang memiliki
karakteristik hubungan kekeluargaan. NRG dapat berupa sebuah organisasi yang
memiliki tahap pertengahan-akhir dari evolusinya.
Ada sekitar 40 macam
karakteristik dari sebuah cult. Meskipun demikian, untuk mengidentifikasikan
sebuah cult yang berevolusi menjadi cult yg berbahaya, seseorang cukup menilai
/ mendiagnosisnya dilihat dari lifestyle pemimpinnya dan sikap para member terhadap
pemimpin tersebut.
Biasanya, ketika NRG
telah berevolusi pada tahap pertengahan-akhir, pemimpinnya akan bersikap
otoriter, mengumumkan dirinya sebagai titisan Allah / Buddha /Dewa, mengaku
punya hubungan khusus dengan Allah/Buddha/Dewa dan dipercayai demikian oleh
para pengikutnya.
Mengikuti / mempercayai
pimpinan diyakini sebagai salah satu jalan pencerahan / keselamatan. Para
pemimpin hidup dalam kemewahan dari hasil pembiayaan murid2nya, melepaskan
dirinya dari tubuh organisasi secara eksklusif. Pemimpin adalah tak terjangkau
terkecuali oleh segelintir anggota ‘elite’.
Pemimpin akan membuat
nubuatan tentang kejadian2 dikemudian hari dimana grup tsb bersiap-siap utk
menghadapi. Para pengikut tunduk tak bersyarat kepadanya dan memperlakukannya
sebagai orang suci, titisan Dewa, santo/santa, Buddha Hidup, dll.
Setiap cult memiliki paling tidak 5 karakteristik dibawah ini”
1.
Memiliki penyimpangan /
deviasi dengan doktrin ajaran agama yang ortodoks (host)-nya.
2.
Menggunakan taktik psikologis (iming-iming
kesaktian, bujukan, janji-janji, tekanan, intimidasi, sumpah, ancaman, menakut-nakuti,
emotional abuse, dsb) untuk merekrut anggota, mengindoktrinasi, untuk
mempertahankan kesetiaan dan untuk mengendalikan anggotanya.
3.
Membentuk sebuah
kelompok kemasyarakatan yang elit / eksklusif/ khusus (contoh: kelompoknya adalah orang2 terpilih; sumpah2
tertentu, segregasi kelas keelitan tertentu, gelar2 spiritual, kemampuan
supranatural tertentu; dsb) yang bersifat totaliter (dikontrol oleh otoritas dengan power yg absolute; menolak
system distribusi kekuasaan dan kontrol; tunduk pada semua aspek kehidupan
secara tak bersyarat kepada otoritas pemimpin).
4.
Menunjuk dirinya
sendiri sebagai Pemimpin / pendiri (self-appointed), bersifat dogmatic,
messianic, pernyataan2nya tak dapat dipertanggungja
wabkan secara riil
(unaccountable), dan memiliki kharisma. Kecenderungan narcissistic pada
pemimpin dan kelompok elitenya.
5.
Mempercayai 'the end
justifies the means' (menghalalkan
cara) untuk mendapatkan dana, merekrut orang2, menginfiltrasi dan
merusak nama baik musuh-musuhnya.
6.
Kekayaan dan assetnya
(tangible dan intangible) tidak memberi manfaat kepada masyarakat secara luas
(hanya terbatas pada kelompoknya).
7.
Grup memiliki pandangan
elitist tentang dirinya dan dalam hubungannya dengan pihak lain : merekalah
yang paling benar, setiap orang lainnya adalah salah; hanya merekalah yang
melakukan kehendak Tuhan/Dewa/Nabi secara benar.
8.
Mengekang hak personal
dan kebebasan individu anggotanya. Abuse ini dapat dilakukan secara theologis,
sosiologis, psikologis maupun spiritual.
9. There will be great emphasis on loyalty to
the group and its teachings. The lives of members will be totally absorbed into
the group's activities. They will have little or no time to think for
themselves because of physical and emotional exhaustion. This is also a vital
part of the mind control process.
10.Setiap keraguan atau pertanyaan kritis
tentang ajaran grup akan mendapatkan tentangan, ejekan, atau tidak dilayani.
Kritik dianggap pengkhianatan. Penekanan2 pada otoritas , kepatuhan tak
bersyarat, tunduk.
11.Usaha
untuk meninggalkan atau mengungkapkan fakta memalukan tentang kelompok akan
berhadapan dengan ancaman. Beberapa bahkan mengambil sumpah kesetiaan untuk
menjaminkan hidupnya dan merasa terancam dengan hal itu. Orang yang mengungsi
dari grup biasanya menghadapi konfrontasi, pelecehan, pengucilan ataupun
cara-cara penekanan lainnya.
12."US
VERSUS THEM" MENTALITY - Isolation from
the community in general. Anyone and everything outside the group is seen as
"of the devil" or "unenlightened" etc.
(Source : arsip tulisan lama saya tahun 2000)
Akhir-akhir ini banyak sekali tumbuh cult-cult yang tumbuh berselubung agama inangnya. Dan ignoransi masyarakat tentang hal ini menyebabkan fenomena ini tidak terpantau radar masyarakat. Pada akhirnya banyak kaum muda yang menjadi korban. Sampai pada titik membahayakan sistem hankam negeri. Pemerintah harus mengambil tindakan terhadap cult-cult yang berbahaya. Dan para korban anggota cult harus mendapatkan perawatan dan penanganan post-traumatic syndrome dari para ahli kesehatan jiwa secara memadai. Tanpa itu dapat menimbulkan dampak problem sosial yang lain.
Silakan simak ini agar lebih jelas : https://
www.youtube.com/watch?v=zxJyfqeaKU8
PEDIGREE (SILSILAH)
Bagaimana menilai suatu tradisi spiritual adalah otentik atau palsu (cult)?
Perhatikan.....bagaimana tradisi2 yang otentik selalu memiliki silsilah yang otentik dari generasi tradisi yg sebelumnya, diakui atau setidaknya dimaklumi oleh tradisi yg sebelumnya.
Misal : Buddha, jelas dianggap sebagai salah satu Avatara dari Kalki (Hindu) atau bahkan salah satu penjelmaan dari Vishnu. Dan ajaran Buddha sendiri diterima sebagai salah satu garis otentik dan sah dari tradisi Hindu sekalipun tidak disetujui sepenuhnya.
Perhatikan,...bagaimana nabi-nabi dalam Taurat satu sama lain saling mengesahkan dan mengakui, tersirat maupun secara tidak langsung.
Sekalipun keberadaan eksistensi tokoh2nya bisa berada pada negeri2 lain (Yudea, Israel, Mesir, Babylonia, dst). Cross-reference dari sejarah negeri2 yg berbeda tidak bisa dipermak sesuka hati dengan mudah.
Perhatikan,...bagaimana Shiva dapat ditelusuri eksistensinya sampai masa sebelum pra-sejarah dalam bentuk Tantra. Dimana ...sekalipun tradisi yg lebih baru (Vedic, suku Aryan) tidak setuju dengan Tantra, tetapi tetap mengakui bahwa eksistensinya itu ada sebelumnya (suku Tamil).
Perhatikan,...bagaimana Laozi, walaupun secara sejarah adalah mitos, tetapi catatan2 tertulis dalam bentuk yg belum selengkap sekarang dapat ditemukan pada archive peninggalan sejarahnya. Pun diterima menjadi suatu bagian dari keutuhan tradisi Tiongkok. Chinese folk-belief (sekarang dihimpun dalam organisasi Tridharma) tidak menolak eksistensinya.
Demikian pula pada tradisi Tibetan, dimana eksistensi pertumbuhan Buddhism di Tibet terakomodir dan teradopsi oleh tradisi yg sebelumnya : Bon. Suku-suku di India Utara dan Nepal, mengakui faktualitas eksistensi proses sejarahnya.
Terlebih gila lagi...in a far away of place and time.... secara cross-cultural, ternyata tradisi2 Timur pun mendapat general acknowledgement lineage dari tradisi Abrahamic (Genesis 25 : 1-8).
See.....???
BERBEDA dengan CULT yang biasanya SELF-PROCLAIMED (mengklaim diri sendiri).
Meskipun demikian tetap hati-hati. Karena kepintaran manusia, maka yang self-proclaimed pun sudah sadar akan kemungkinan deteksi ini, oleh karena itu tak jarang sering membawa-bawa otentifikasi dari tradisi yg sebelumnya, tentu dengan cara KOOPTASI (main comot lepas konteks dengan memaksakan fakta / makna).
Cara menilainya gampang : telitilah dengan seksama apakah tradisi sebelumnya atau guru-guru atau generasi tetuanya memberkahi liineage itu. Istilahnya : MEMILIKI PEDEGREE.
Atau : Have the blessing of unbroken enlightened lineage. Monggo diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sendiri2 saja.
Tapi perhatikan arahnya : apakah 'yang lama' memberkahi 'yang baru', ataukah 'yang baru' begging acknowledgement dari 'yang lama'.
Sementara kalau muncul tiba-tiba tanpa pedigree, apalagi hendak memusnahkan tradisi yang ada sebelumnya sampai ke akar-akarnya sehingga tidak lagi bisa meninggalkan jejaknya. Anda perlu curiga besar!!!
Untuk itu, biasanya...dan khususnya tradisi2 Timur, setiap pengalihan estafet selalu mewariskan satu atau beberapa benda pusaka sebagai tanda otentifikasi kebersinambungan silsilah. Dan biasanya itu disimpan secara rahasia (tidak dipertunjukkan umum). Itulah salah satu fungsi kegunaan dari Pusaka.
Rahayu!
Fenomena “Cult”
“Orang-orang yang mengikuti cult adalah orang
normal. Mereka pada umumnya cerdas, berpikiran terbuka dan jujur. Mereka
bersedia untuk berkorban untuk manfaat yang lebih besar dari suatu grup. Mereka
tertarik pada pengembangan diri dan perbaikan dunia. Orang-orang terbaik,
biasanya, menjadi target dari cult ini. Kekurangan mereka menyebabkan mereka
sangat dibutuhkan sebagai anggota cult.
Dr J W West, Professor of Psychiatry,
University of California
Definisi “Cult”
The Concise Oxford Dictionary mendefinisikan
cult sebagai : “suatu system pemujaan religius; devosi /penyembahan,
penghormatan kepada seseorang atau sesuatu”. Menurut C.T Russel : A
religion or religious sect generally considered to be extremist or false, with
its followers often living in an unconventional manner under the guidance of an
authoritarian, charismatic leader.
Sekarang, didalam benak masyarakat,
kata-kata “cult” adalah cenderung lebih diasosiasikan sebagai kegiatan
cuci-otak (brain-washing), manipulasi kepada para pengikutnya, skandal public
dari para pemimpin cult, pemerasan dan pembunuhan masal; daripada sebuah
kegiatan penyembahan religius.
Salah satu kesulitan
mendefiniskan sebuah ajaran sebagai cult, karena organisasi mereka berada pada
kondisi yang mengalami tahapan perkembangan. Sebuah cult religius biasanya pada tahap awal, pertengahan
dan akhir dari sebuah evolusi perkembangan organisasinya.
Pada awalnya, cult terdiri dari sedikit
kelompok orang yang memfokuskan diri mereka di sekeliling seorang pemimpin
religius dimana memiliki kharisma tertentu yang menyebabkan mereka tertarik.
Pada akhirnya, hal itu dapat menjadi bersifat manipulatif, eksploitatif dan
bahkan menjadi organisasi multi-nasional. Apa yang biasa orang perbincangkan
sebagai sebuah “cult” biasanya adalah NRG (New Religius Group) yang mana biasanya
berawal dalam bentuk perguruan, kelompok doa, atau unit2 kecil lainnya yang memiliki
karakteristik hubungan kekeluargaan. NRG dapat berupa sebuah organisasi yang
memiliki tahap pertengahan-akhir dari evolusinya.
Ada sekitar 40 macam
karakteristik dari sebuah cult. Meskipun demikian, untuk mengidentifikasikan
sebuah cult yang berevolusi menjadi cult yg berbahaya, seseorang cukup menilai
/ mendiagnosisnya dilihat dari lifestyle pemimpinnya dan sikap para member terhadap
pemimpin tersebut.
Biasanya, ketika NRG
telah berevolusi pada tahap pertengahan-akhir, pemimpinnya akan bersikap
otoriter, mengumumkan dirinya sebagai titisan Allah / Buddha /Dewa, mengaku
punya hubungan khusus dengan Allah/Buddha/Dewa dan dipercayai demikian oleh
para pengikutnya.
Mengikuti / mempercayai
pimpinan diyakini sebagai salah satu jalan pencerahan / keselamatan. Para
pemimpin hidup dalam kemewahan dari hasil pembiayaan murid2nya, melepaskan
dirinya dari tubuh organisasi secara eksklusif. Pemimpin adalah tak terjangkau
terkecuali oleh segelintir anggota ‘elite’.
Pemimpin akan membuat
nubuatan tentang kejadian2 dikemudian hari dimana grup tsb bersiap-siap utk
menghadapi. Para pengikut tunduk tak bersyarat kepadanya dan memperlakukannya
sebagai orang suci, titisan Dewa, santo/santa, Buddha Hidup, dll.
Setiap cult memiliki paling tidak 5 karakteristik dibawah ini”
1.
Memiliki penyimpangan /
deviasi dengan doktrin ajaran agama yang ortodoks (host)-nya.
2.
Menggunakan taktik psikologis (iming-iming
kesaktian, bujukan, janji-janji, tekanan, intimidasi, sumpah, ancaman, menakut-nakuti,
emotional abuse, dsb) untuk merekrut anggota, mengindoktrinasi, untuk
mempertahankan kesetiaan dan untuk mengendalikan anggotanya.
3.
Membentuk sebuah
kelompok kemasyarakatan yang elit / eksklusif/ khusus (contoh: kelompoknya adalah orang2 terpilih; sumpah2
tertentu, segregasi kelas keelitan tertentu, gelar2 spiritual, kemampuan
supranatural tertentu; dsb) yang bersifat totaliter (dikontrol oleh otoritas dengan power yg absolute; menolak
system distribusi kekuasaan dan kontrol; tunduk pada semua aspek kehidupan
secara tak bersyarat kepada otoritas pemimpin).
4.
Menunjuk dirinya
sendiri sebagai Pemimpin / pendiri (self-appointed), bersifat dogmatic,
messianic, pernyataan2nya tak dapat dipertanggungja
wabkan secara riil
(unaccountable), dan memiliki kharisma. Kecenderungan narcissistic pada
pemimpin dan kelompok elitenya.
5.
Mempercayai 'the end
justifies the means' (menghalalkan
cara) untuk mendapatkan dana, merekrut orang2, menginfiltrasi dan
merusak nama baik musuh-musuhnya.
6.
Kekayaan dan assetnya
(tangible dan intangible) tidak memberi manfaat kepada masyarakat secara luas
(hanya terbatas pada kelompoknya).
7.
Grup memiliki pandangan
elitist tentang dirinya dan dalam hubungannya dengan pihak lain : merekalah
yang paling benar, setiap orang lainnya adalah salah; hanya merekalah yang
melakukan kehendak Tuhan/Dewa/Nabi secara benar.
8.
Mengekang hak personal
dan kebebasan individu anggotanya. Abuse ini dapat dilakukan secara theologis,
sosiologis, psikologis maupun spiritual.
9. There will be great emphasis on loyalty to
the group and its teachings. The lives of members will be totally absorbed into
the group's activities. They will have little or no time to think for
themselves because of physical and emotional exhaustion. This is also a vital
part of the mind control process.
10.Setiap keraguan atau pertanyaan kritis
tentang ajaran grup akan mendapatkan tentangan, ejekan, atau tidak dilayani.
Kritik dianggap pengkhianatan. Penekanan2 pada otoritas , kepatuhan tak
bersyarat, tunduk.
11.Usaha
untuk meninggalkan atau mengungkapkan fakta memalukan tentang kelompok akan
berhadapan dengan ancaman. Beberapa bahkan mengambil sumpah kesetiaan untuk
menjaminkan hidupnya dan merasa terancam dengan hal itu. Orang yang mengungsi
dari grup biasanya menghadapi konfrontasi, pelecehan, pengucilan ataupun
cara-cara penekanan lainnya.
12."US
VERSUS THEM" MENTALITY - Isolation from
the community in general. Anyone and everything outside the group is seen as
"of the devil" or "unenlightened" etc.
(Source : arsip tulisan lama saya tahun 2000)
Akhir-akhir ini banyak sekali tumbuh cult-cult yang tumbuh berselubung agama inangnya. Dan ignoransi masyarakat tentang hal ini menyebabkan fenomena ini tidak terpantau radar masyarakat. Pada akhirnya banyak kaum muda yang menjadi korban. Sampai pada titik membahayakan sistem hankam negeri. Pemerintah harus mengambil tindakan terhadap cult-cult yang berbahaya. Dan para korban anggota cult harus mendapatkan perawatan dan penanganan post-traumatic syndrome dari para ahli kesehatan jiwa secara memadai. Tanpa itu dapat menimbulkan dampak problem sosial yang lain.
Silakan simak ini agar lebih jelas : https://
www.youtube.com/watch?v=zxJyfqeaKU8
PEDIGREE (SILSILAH)
Bagaimana menilai suatu tradisi spiritual adalah otentik atau palsu (cult)?
Perhatikan.....bagaimana tradisi2 yang otentik selalu memiliki silsilah yang otentik dari generasi tradisi yg sebelumnya, diakui atau setidaknya dimaklumi oleh tradisi yg sebelumnya.
Misal : Buddha, jelas dianggap sebagai salah satu Avatara dari Kalki (Hindu) atau bahkan salah satu penjelmaan dari Vishnu. Dan ajaran Buddha sendiri diterima sebagai salah satu garis otentik dan sah dari tradisi Hindu sekalipun tidak disetujui sepenuhnya.
Perhatikan,...bagaimana nabi-nabi dalam Taurat satu sama lain saling mengesahkan dan mengakui, tersirat maupun secara tidak langsung.
Sekalipun keberadaan eksistensi tokoh2nya bisa berada pada negeri2 lain (Yudea, Israel, Mesir, Babylonia, dst). Cross-reference dari sejarah negeri2 yg berbeda tidak bisa dipermak sesuka hati dengan mudah.
Perhatikan,...bagaimana Shiva dapat ditelusuri eksistensinya sampai masa sebelum pra-sejarah dalam bentuk Tantra. Dimana ...sekalipun tradisi yg lebih baru (Vedic, suku Aryan) tidak setuju dengan Tantra, tetapi tetap mengakui bahwa eksistensinya itu ada sebelumnya (suku Tamil).
Perhatikan,...bagaimana Laozi, walaupun secara sejarah adalah mitos, tetapi catatan2 tertulis dalam bentuk yg belum selengkap sekarang dapat ditemukan pada archive peninggalan sejarahnya. Pun diterima menjadi suatu bagian dari keutuhan tradisi Tiongkok. Chinese folk-belief (sekarang dihimpun dalam organisasi Tridharma) tidak menolak eksistensinya.
Demikian pula pada tradisi Tibetan, dimana eksistensi pertumbuhan Buddhism di Tibet terakomodir dan teradopsi oleh tradisi yg sebelumnya : Bon. Suku-suku di India Utara dan Nepal, mengakui faktualitas eksistensi proses sejarahnya.
Terlebih gila lagi...in a far away of place and time.... secara cross-cultural, ternyata tradisi2 Timur pun mendapat general acknowledgement lineage dari tradisi Abrahamic (Genesis 25 : 1-8).
See.....???
BERBEDA dengan CULT yang biasanya SELF-PROCLAIMED (mengklaim diri sendiri).
Meskipun demikian tetap hati-hati. Karena kepintaran manusia, maka yang self-proclaimed pun sudah sadar akan kemungkinan deteksi ini, oleh karena itu tak jarang sering membawa-bawa otentifikasi dari tradisi yg sebelumnya, tentu dengan cara KOOPTASI (main comot lepas konteks dengan memaksakan fakta / makna).
Cara menilainya gampang : telitilah dengan seksama apakah tradisi sebelumnya atau guru-guru atau generasi tetuanya memberkahi liineage itu. Istilahnya : MEMILIKI PEDEGREE.
Atau : Have the blessing of unbroken enlightened lineage. Monggo diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sendiri2 saja.
Tapi perhatikan arahnya : apakah 'yang lama' memberkahi 'yang baru', ataukah 'yang baru' begging acknowledgement dari 'yang lama'.
Sementara kalau muncul tiba-tiba tanpa pedigree, apalagi hendak memusnahkan tradisi yang ada sebelumnya sampai ke akar-akarnya sehingga tidak lagi bisa meninggalkan jejaknya. Anda perlu curiga besar!!!
Untuk itu, biasanya...dan khususnya tradisi2 Timur, setiap pengalihan estafet selalu mewariskan satu atau beberapa benda pusaka sebagai tanda otentifikasi kebersinambungan silsilah. Dan biasanya itu disimpan secara rahasia (tidak dipertunjukkan umum). Itulah salah satu fungsi kegunaan dari Pusaka.
Rahayu!
DS
Sabtu, 22 April 2017
SPIRITUAL JAWA
Tuhan tak pernah tidak adil, dan tak pernah pilih kasih baik kepada ras, etnik tertentu dan golongan tertentu. Tetapi manusia sering menghindari sikap yang ditunjukkan Tuhan dan malah menjadikan perbedaan sebagai masalah.
Bangsa Indonesia yang mengaku agamis, perlu mengaku kalah langkah dengan bangsa yang dianggap sekuler yang senyatanya bisa menangkap rumus dan tatanan kodrat Tuhan dengan seksama.
Kita terjebak dalam emosi kemarahan yang tercetus karena perbedaan kulit ataupun yang hanya sekadar baju, sehingga hidup penuh rasa curiga terhadap sesama. Itukah religius. Itukah agamis.
Kalau mengutamakan curiga, dan menutup mata terhadap bangsa lain, atau bahkan saudara kita sendiri, jangan disalahkan kalau kita tertinggal dalam segala hal dan senantiasa sengsara sebagai bangsa.
Manusia harus menggapai kemajuan dan kemuliaan hidup. Hal itu bisa dicapai kalau manusia mengutamakan hidup positif dan tidak pernah bosan dengan kritik pribadi.
Niyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama. Demikian sasmita dari leluhur bahwa niatnya hanyalah menyebarkan keharuman nama, dengan hati yang baik dikedepankan dengan ajakan yang baik diutamakan, ditambah laku keutamaan melayani sesama.
Semua itu didasari pada karepe rasa bukan rasane karep. Kemudian dilaksanakan dengan semangat tapa ngrame, sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Membuat orang lain senang, karyenak tyasing sesami. Dengan demikian anugerah Ilahi bakal tercurah kepada kita masing-masing, dan kepada bangsa ini.
Rahayu!
Bangsa Indonesia yang mengaku agamis, perlu mengaku kalah langkah dengan bangsa yang dianggap sekuler yang senyatanya bisa menangkap rumus dan tatanan kodrat Tuhan dengan seksama.
Kita terjebak dalam emosi kemarahan yang tercetus karena perbedaan kulit ataupun yang hanya sekadar baju, sehingga hidup penuh rasa curiga terhadap sesama. Itukah religius. Itukah agamis.
Kalau mengutamakan curiga, dan menutup mata terhadap bangsa lain, atau bahkan saudara kita sendiri, jangan disalahkan kalau kita tertinggal dalam segala hal dan senantiasa sengsara sebagai bangsa.
Manusia harus menggapai kemajuan dan kemuliaan hidup. Hal itu bisa dicapai kalau manusia mengutamakan hidup positif dan tidak pernah bosan dengan kritik pribadi.
Niyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama. Demikian sasmita dari leluhur bahwa niatnya hanyalah menyebarkan keharuman nama, dengan hati yang baik dikedepankan dengan ajakan yang baik diutamakan, ditambah laku keutamaan melayani sesama.
Semua itu didasari pada karepe rasa bukan rasane karep. Kemudian dilaksanakan dengan semangat tapa ngrame, sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Membuat orang lain senang, karyenak tyasing sesami. Dengan demikian anugerah Ilahi bakal tercurah kepada kita masing-masing, dan kepada bangsa ini.
Rahayu!
Senin, 27 Maret 2017
AGAMA APA YANG PALING BAIK ?
Seorang ahli dari kelompok "The Theology Of Freedom" dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pada Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet, "Yang Mulia, apakah agama terbaik?Sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab, "Agama terbaik yaitu agama yg membuat anda menjadi orang yang lebih baik. ""Apakah tanda agama yang membuat kita menjadi lebih baik? "Jawaban Dalai Lama, "Agama apapun yang bisa membuat anda Lebih welas asih, Lebih berpikiran sehat, Lebih objektif & adil, Lebih menyayangi, Lebih manusiawi, Lebih punya rasa tanggung jawab, Lebih ber-etika.Agama yang punya kwalitas seperti di atas adalah agama terbaik."Leonardo Boff terdiam sejenak & ter-kagum² atas jawaban Dalai Lama yang bijaksana & tidak dapat dibantah.Selanjutnya, Dalai Lama berkata, "Tidak penting bagiku, Apa agamamu, Tidak peduli anda beragama atau tidak. Yang betul² penting bagi saya adalah perilaku anda didepan kawan² anda, di depan keluarga, lingkungan kerja & dunia."Akhirnya, Dalai Lama berkata :"Jagalah pikiranmu, Karena akan menjadi perkataanmu. Jagalah perkataanmu, Karena akan menjadi perbuatanmu. Jagalah perbuatanmu, Karena akan menjadi kebiasaanmu. Jagalah kebiasaanmu, Karena akan membentuk karaktermu.Jagalah karaktermu, Karna akan membentuk nasibmu, Jadi nasib muberawal dari pikiran mu..."Semoga semua makhluk berbabahagia.
Selasa, 21 Februari 2017
SUDAHKAH ANDA BERDIKARI – MANDIRI – SWASEMBADA ?
Danz Suchamda.
Istilah teknis term spiritualnya : self-sufficiency atau
aloneness. Bedakan antara aloneness dengan lonely
ya. Lonely itu misery (merana), tetapi aloneness itu
bahagia.
Bule-bule itu kalian pikir begini untuk nyari susah
dalam hidup? atau apa?
Zaman sekarang, freedom itu suatu kemewahan!
Kemewahan bukan karena kita tidak memilikinya,
tetapi karena kita selama ini telah membuang harta
azasi yang dimiliki oleh umat manusia. Karena selama
ini manusia telah LUPA dan MEREMEHKAN hal itu.
Sampai pada suatu titik dimana dunia mencapai titik
kritisnya masa kini, baru mereka mulai SADAR.
Dengan menyendiri itu, sebenarnya mereka juga
MENYELIDIKI...bagaimana cara hidup yang baru
(environmental-awareness for sustainable way of life
for the next stage of human evolution). Atau
setidaknya menyelidiki bagaimana hidup terlepas dari
ketergantungan jerat laba-laba modernitas, terutama :
uang.
http://www.becomingminimalist.com/the-man-who-
quit-money-an-interview-with-daniel-suelo/
Hidup manusia modern dikejar oleh rasa takut dan
angan-angannya sendiri. Sehingga tidak pernah
berhenti barang sejenak pun untuk menyadari telah
berdiri dalam pondasi yang goyah. Pengejaran
semakin menuntut kompetisi dan percepatan yang
semakin tidak manusiawi. Sadarkah anda, bahwa hidp
kalau tidak dikejar angan-angan itu sebenarnya
nyaman? Siapa yang menyuruh anda selama ini
mbulet sehingga akhirnya kusut sendiri? Hehehe
Saya sudah mengingatkan ini semenjak awal dimana
saya mulai melihat persoalan ini secara definitive
(2008).
http://primordialnature.blogspot.co.id/2008/03/
lepaskan-rantai-yang-membelenggumu.html
Tresna Wisnu Wardhana : Waduh..saya juga masih
terjerat tuh ma jaring laba-laba terutama yg namanya
UANG..hhh saya nyeletuk jika saja konsep hidup
adalah kebersamaan..menjalankan segala hal atas
dasar keahlian dan kesadarannya..lantas ditiadakan
yg namanya uang..menurut saya hidup masih tetap
bisa berjalan da tuh..hhh tapi eh malah
diketawain..tpi ga pa lah..namanya juga fikiran
nyleneh..wkkk
Danz Suchamda : Hmmmmm.....kebersamaan?
Ini hal lain lagi yg ingin saya kritik terhadap salah
kaprah pada bangsa kita ini. "Kebersamaan" seringkali
ditafsirkan sebagai hidup himpit-himpitan bau ketek.
Yang tak perlu menunggu lama lalu kotak sempit
'kebersamaan' itu menjadi menyengat aroma bau
politik tengik.
NO !
Kebersamaan itu tidak harus diartikan secara fisik.
Tetapi lebih merupakan suatu sikap batin yang
mampu sharing. Sharing tetapi sekaligus memberi
RUANG KEBEBASAN (private space) pada masing2
individunya. Tidak saling memaksa atau
menginterferensi!
Lihat bagaimana kenyataan hidup di perkampungan
kumuh ibukota dimana begitu buka mata bangun pagi
harus sudah naik darah dan adu keras kepala dengan
tetangga? Sudah pulang kerja kecapaian, baru dapat
tidur malam2 karena house musik alay sebelah yang
bangun 'pagi'nya jam 10 malam? Ehh,..baru sejenak
terlelap sudah dibangunkan suarat TOA yang lebih
ahoy daripada speaker diskotik? Belum lagi ditambah
teriakan2 amarah tetangga akibat urusan parkir yg
kurang mepet sehingga bikin macet? Apakah
kesehatan mental anda dapat terus dipertahankan
dalam sikon semacam itu??
Bahkan keheningan alami di pedesaan sekarang pun
sudah mulai terancam oleh bisingnya suara dangdut
koplo yang disetel dengan speaker mega-bomb di
tengah siang hari bolong. Saya tidak tahu apakah
penghuninya tidak pergi bekerja, ataukah karena
ortunya bekerja maka anaknya berkonaks ria?
Entahlah tapi saya merasa itu adalah suatu
kekonyolan dari modernisasi yang salah arah : gadget
modern tapi mental masih primitif. Akibatnya ya
Kumpul Kebo dalam artian sebenarnya. Dugem
konaks dengan para kebo yang bengong di
kandangnya (karena suara menguaknya sekarang
kalah menarik dan kalah keras dengan stereo-set
aduhai-berisik).
Lihatlah betapa ironinya mereka yang di desa
merasakan ketidakpuasan hidup lalu berbondong-
bondong urbanisasi ke kota tanpa bekal pengetahuan
dan kemampuan yang cukup. Akibatnya sama saja
bagai mencari belenggu penjaranya sendiri dengan
menggadaikan kebebasan hidup damainya di desa.
Lihatlah pula bagaimana pemerintah di masa lalu
menggalakan transmigrasi dan berbagai macam
upaya mengatasi urbanisasi tetapi tanpa hasil yang
efektif? Mengapa?
Saya jawab : Ya karena masyarakat kita tidak dibekali
dengan cara pandang dan pengertian yang memadai
tentang makna sesungguhnya hidup. Fenomena
urbanisasi, materialisme, dsb itu kan HANYA
MERUPAKAN BUAH dari CARA PANDANG dan POLA
PIKIR yang diagem masyarakatnya. Maka hanya
mengatasi gejala tanpa memahami AKARnya adalah
suatu perbuatan sia-sia (pemborosan dana anggaran)
.
Apakah mungkin meninggalkan modernitas?
Bagaimana dengan penyakit2 yg membutuhkan
obat2an mutakhir dengan peralatan kedokteran yg
canggih?
Coba selidikilah bagaimana kehidupan suku-suku
pedalaman yg masih pristine? Adakah penyakit2
modern yg kita alami diderita oleh mereka?
Penjelasan dari Dr.Bergman ini menjawab keheranan
kita :
https://www.youtube.com/watch?v=p3V3TITSDxc
Anda mungkin menganggap pandangan saya ini
adalah bersifat Utopian (ideal yg tak mungkin
tercapai).
Saya jawab : TIDAK !
Isue ini bukan sekedar mengambang di awang-awang,
tetapi adalah study dari REAL WORLD dari berbagai
belahan dunia. Apakah anda pernah mendengar
bahwa kemakmuran suatu negeri tidak lagi semata
diukur dari index GNP (Gross National Products/
Pendapat Domestik Bruto) melainkan dari GNH (Gross
National Happiness / Tingkat Kebahagiaan Nasional)?
Bhutan adalah negeri pilot project itu. Bhutan dikenal
sebagai negeri yang penduduknya paling bahagia di
atas bumi ini. Berdasar survey statistik, bukan klaim
cocology agamis.
https://www.oneworldeducation.org/bhutan-worlds-
happiest-country
Apa point-point penting yang membuat Bhutan
menjadi negeri yang penduduknya paling berbahagia
saat ini?
1. Memanage hal spiritual dan material secara
seimbang.
2. Mereka tidak terobsesi dengan modernitas.
3. Mereka melestarikan jati diri dan budaya mereka.
4. Peduli dengan lingkungan hidup. 50% dari arealnya
dipertahankan sebagai Cagar Alam
5. Mereka mengukur kebahagiaan bukan dari ukuran
luar.
6. Pemimpinnya dekat dengan rakyat. Jarak
kesenjangan antara yang diatas dan dibawah tidak
besar.
7. Mengambil cara hidup sesuai dengan Dharma ( =
fenonmena, natural law, kasunyatan).
8. Budaya yang mengajarkan bahwa kualitas sejati
yang di dalam lebih berarti daripada kualitas semu
dangkal dari apa yang tampak di permukaan.
Ingat! Bhutan adalah negeri kontinental di lereng
gunung Himalaya yang berbatu. Nusantara jauh lebih
kaya dan subur. Negeri ini dulu pernah menjadi negeri
yang berbahagia gemah ripah loh jinawi. Kenapa
sekarang menjadi negeri yang didera oleh penderitaan
bahkan menjadi salah satu negeri yang indeks
pengidap gangguan kejiwaan yang tertinggi? Sangat
menyedihkan sekali.
Bahkan seorang bekas presidennya, orang yang no.1
paling berkuasa di negeri ini pun mengeluh merasa
pihak yang paling dizholimi. Sungguh menyedihkan!
Adakah angkatan kita sekarang ini mau segera sadar
dan menata ulang mindset, cara pandangan dan cara
hidup kita saat ini sehingga dapat menyelamatkan
generasi anak cucu kita kelak? Ataukah kita bersikeras
dengan kebebalan kita untuk menghancurkan masa
depan mereka? Ingat! ketika berurusan dengan alam,
tidak ada jalan mundur! Menoleh ke belakang
menyesali tiada guna. Penyesalan hanya menjadikan
jiwa anda patung garam. Salah-salah malah
terjerumus makin dalam karena batin yang semakin
sakit. Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Ingat! kita memiliki sumber daya alam dan aset local
wisdom dalam bentuk budaya maupun tradisi yang
jauh lebih dulu daripada yang di Bhutan. Mengapa kita
melupakan ini? Sudah selayaknyalah pemerintah
memperhatikan hal ini : tidak untuk mengejar
modernitas ala Barat yang kini mereka sendiri sedang
berusaha meninggalkannya. Tetapi galilah potensi dan
kapabilitas leluhur kita ini agar bangsa Indonesia bisa
melakukan lompatan ke depan. Loncat satu langkah
di depan mereka bule-bule itu! Bukan menjadi konyol
karena turut tersesat akibat mengekor yg salah!
Sehatkan cara pandangmu dan wawasan
pengetahuanmu menjadi akurat terlebih dahulu. Ingat!
Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Rahayu!
Istilah teknis term spiritualnya : self-sufficiency atau
aloneness. Bedakan antara aloneness dengan lonely
ya. Lonely itu misery (merana), tetapi aloneness itu
bahagia.
Bule-bule itu kalian pikir begini untuk nyari susah
dalam hidup? atau apa?
Zaman sekarang, freedom itu suatu kemewahan!
Kemewahan bukan karena kita tidak memilikinya,
tetapi karena kita selama ini telah membuang harta
azasi yang dimiliki oleh umat manusia. Karena selama
ini manusia telah LUPA dan MEREMEHKAN hal itu.
Sampai pada suatu titik dimana dunia mencapai titik
kritisnya masa kini, baru mereka mulai SADAR.
Dengan menyendiri itu, sebenarnya mereka juga
MENYELIDIKI...bagaimana cara hidup yang baru
(environmental-awareness for sustainable way of life
for the next stage of human evolution). Atau
setidaknya menyelidiki bagaimana hidup terlepas dari
ketergantungan jerat laba-laba modernitas, terutama :
uang.
http://www.becomingminimalist.com/the-man-who-
quit-money-an-interview-with-daniel-suelo/
Hidup manusia modern dikejar oleh rasa takut dan
angan-angannya sendiri. Sehingga tidak pernah
berhenti barang sejenak pun untuk menyadari telah
berdiri dalam pondasi yang goyah. Pengejaran
semakin menuntut kompetisi dan percepatan yang
semakin tidak manusiawi. Sadarkah anda, bahwa hidp
kalau tidak dikejar angan-angan itu sebenarnya
nyaman? Siapa yang menyuruh anda selama ini
mbulet sehingga akhirnya kusut sendiri? Hehehe
Saya sudah mengingatkan ini semenjak awal dimana
saya mulai melihat persoalan ini secara definitive
(2008).
http://primordialnature.blogspot.co.id/2008/03/
lepaskan-rantai-yang-membelenggumu.html
Tresna Wisnu Wardhana : Waduh..saya juga masih
terjerat tuh ma jaring laba-laba terutama yg namanya
UANG..hhh saya nyeletuk jika saja konsep hidup
adalah kebersamaan..menjalankan segala hal atas
dasar keahlian dan kesadarannya..lantas ditiadakan
yg namanya uang..menurut saya hidup masih tetap
bisa berjalan da tuh..hhh tapi eh malah
diketawain..tpi ga pa lah..namanya juga fikiran
nyleneh..wkkk
Danz Suchamda : Hmmmmm.....kebersamaan?
Ini hal lain lagi yg ingin saya kritik terhadap salah
kaprah pada bangsa kita ini. "Kebersamaan" seringkali
ditafsirkan sebagai hidup himpit-himpitan bau ketek.
Yang tak perlu menunggu lama lalu kotak sempit
'kebersamaan' itu menjadi menyengat aroma bau
politik tengik.
NO !
Kebersamaan itu tidak harus diartikan secara fisik.
Tetapi lebih merupakan suatu sikap batin yang
mampu sharing. Sharing tetapi sekaligus memberi
RUANG KEBEBASAN (private space) pada masing2
individunya. Tidak saling memaksa atau
menginterferensi!
Lihat bagaimana kenyataan hidup di perkampungan
kumuh ibukota dimana begitu buka mata bangun pagi
harus sudah naik darah dan adu keras kepala dengan
tetangga? Sudah pulang kerja kecapaian, baru dapat
tidur malam2 karena house musik alay sebelah yang
bangun 'pagi'nya jam 10 malam? Ehh,..baru sejenak
terlelap sudah dibangunkan suarat TOA yang lebih
ahoy daripada speaker diskotik? Belum lagi ditambah
teriakan2 amarah tetangga akibat urusan parkir yg
kurang mepet sehingga bikin macet? Apakah
kesehatan mental anda dapat terus dipertahankan
dalam sikon semacam itu??
Bahkan keheningan alami di pedesaan sekarang pun
sudah mulai terancam oleh bisingnya suara dangdut
koplo yang disetel dengan speaker mega-bomb di
tengah siang hari bolong. Saya tidak tahu apakah
penghuninya tidak pergi bekerja, ataukah karena
ortunya bekerja maka anaknya berkonaks ria?
Entahlah tapi saya merasa itu adalah suatu
kekonyolan dari modernisasi yang salah arah : gadget
modern tapi mental masih primitif. Akibatnya ya
Kumpul Kebo dalam artian sebenarnya. Dugem
konaks dengan para kebo yang bengong di
kandangnya (karena suara menguaknya sekarang
kalah menarik dan kalah keras dengan stereo-set
aduhai-berisik).
Lihatlah betapa ironinya mereka yang di desa
merasakan ketidakpuasan hidup lalu berbondong-
bondong urbanisasi ke kota tanpa bekal pengetahuan
dan kemampuan yang cukup. Akibatnya sama saja
bagai mencari belenggu penjaranya sendiri dengan
menggadaikan kebebasan hidup damainya di desa.
Lihatlah pula bagaimana pemerintah di masa lalu
menggalakan transmigrasi dan berbagai macam
upaya mengatasi urbanisasi tetapi tanpa hasil yang
efektif? Mengapa?
Saya jawab : Ya karena masyarakat kita tidak dibekali
dengan cara pandang dan pengertian yang memadai
tentang makna sesungguhnya hidup. Fenomena
urbanisasi, materialisme, dsb itu kan HANYA
MERUPAKAN BUAH dari CARA PANDANG dan POLA
PIKIR yang diagem masyarakatnya. Maka hanya
mengatasi gejala tanpa memahami AKARnya adalah
suatu perbuatan sia-sia (pemborosan dana anggaran)
.
Apakah mungkin meninggalkan modernitas?
Bagaimana dengan penyakit2 yg membutuhkan
obat2an mutakhir dengan peralatan kedokteran yg
canggih?
Coba selidikilah bagaimana kehidupan suku-suku
pedalaman yg masih pristine? Adakah penyakit2
modern yg kita alami diderita oleh mereka?
Penjelasan dari Dr.Bergman ini menjawab keheranan
kita :
https://www.youtube.com/watch?v=p3V3TITSDxc
Anda mungkin menganggap pandangan saya ini
adalah bersifat Utopian (ideal yg tak mungkin
tercapai).
Saya jawab : TIDAK !
Isue ini bukan sekedar mengambang di awang-awang,
tetapi adalah study dari REAL WORLD dari berbagai
belahan dunia. Apakah anda pernah mendengar
bahwa kemakmuran suatu negeri tidak lagi semata
diukur dari index GNP (Gross National Products/
Pendapat Domestik Bruto) melainkan dari GNH (Gross
National Happiness / Tingkat Kebahagiaan Nasional)?
Bhutan adalah negeri pilot project itu. Bhutan dikenal
sebagai negeri yang penduduknya paling bahagia di
atas bumi ini. Berdasar survey statistik, bukan klaim
cocology agamis.
https://www.oneworldeducation.org/bhutan-worlds-
happiest-country
Apa point-point penting yang membuat Bhutan
menjadi negeri yang penduduknya paling berbahagia
saat ini?
1. Memanage hal spiritual dan material secara
seimbang.
2. Mereka tidak terobsesi dengan modernitas.
3. Mereka melestarikan jati diri dan budaya mereka.
4. Peduli dengan lingkungan hidup. 50% dari arealnya
dipertahankan sebagai Cagar Alam
5. Mereka mengukur kebahagiaan bukan dari ukuran
luar.
6. Pemimpinnya dekat dengan rakyat. Jarak
kesenjangan antara yang diatas dan dibawah tidak
besar.
7. Mengambil cara hidup sesuai dengan Dharma ( =
fenonmena, natural law, kasunyatan).
8. Budaya yang mengajarkan bahwa kualitas sejati
yang di dalam lebih berarti daripada kualitas semu
dangkal dari apa yang tampak di permukaan.
Ingat! Bhutan adalah negeri kontinental di lereng
gunung Himalaya yang berbatu. Nusantara jauh lebih
kaya dan subur. Negeri ini dulu pernah menjadi negeri
yang berbahagia gemah ripah loh jinawi. Kenapa
sekarang menjadi negeri yang didera oleh penderitaan
bahkan menjadi salah satu negeri yang indeks
pengidap gangguan kejiwaan yang tertinggi? Sangat
menyedihkan sekali.
Bahkan seorang bekas presidennya, orang yang no.1
paling berkuasa di negeri ini pun mengeluh merasa
pihak yang paling dizholimi. Sungguh menyedihkan!
Adakah angkatan kita sekarang ini mau segera sadar
dan menata ulang mindset, cara pandangan dan cara
hidup kita saat ini sehingga dapat menyelamatkan
generasi anak cucu kita kelak? Ataukah kita bersikeras
dengan kebebalan kita untuk menghancurkan masa
depan mereka? Ingat! ketika berurusan dengan alam,
tidak ada jalan mundur! Menoleh ke belakang
menyesali tiada guna. Penyesalan hanya menjadikan
jiwa anda patung garam. Salah-salah malah
terjerumus makin dalam karena batin yang semakin
sakit. Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Ingat! kita memiliki sumber daya alam dan aset local
wisdom dalam bentuk budaya maupun tradisi yang
jauh lebih dulu daripada yang di Bhutan. Mengapa kita
melupakan ini? Sudah selayaknyalah pemerintah
memperhatikan hal ini : tidak untuk mengejar
modernitas ala Barat yang kini mereka sendiri sedang
berusaha meninggalkannya. Tetapi galilah potensi dan
kapabilitas leluhur kita ini agar bangsa Indonesia bisa
melakukan lompatan ke depan. Loncat satu langkah
di depan mereka bule-bule itu! Bukan menjadi konyol
karena turut tersesat akibat mengekor yg salah!
Sehatkan cara pandangmu dan wawasan
pengetahuanmu menjadi akurat terlebih dahulu. Ingat!
Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Rahayu!
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...
