Tampilkan postingan dengan label Spirits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spirits. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2017

SUDAHKAH ANDA BERDIKARI – MANDIRI – SWASEMBADA ?

Danz Suchamda.

Istilah teknis term spiritualnya : self-sufficiency atau
aloneness. Bedakan antara aloneness dengan lonely
ya. Lonely itu misery (merana), tetapi aloneness itu
bahagia.
Bule-bule itu kalian pikir begini untuk nyari susah
dalam hidup? atau apa?
Zaman sekarang, freedom itu suatu kemewahan!
Kemewahan bukan karena kita tidak memilikinya,
tetapi karena kita selama ini telah membuang harta
azasi yang dimiliki oleh umat manusia. Karena selama
ini manusia telah LUPA dan MEREMEHKAN hal itu.
Sampai pada suatu titik dimana dunia mencapai titik
kritisnya masa kini, baru mereka mulai SADAR.
Dengan menyendiri itu, sebenarnya mereka juga
MENYELIDIKI...bagaimana cara hidup yang baru
(environmental-awareness for sustainable way of life
for the next stage of human evolution). Atau
setidaknya menyelidiki bagaimana hidup terlepas dari
ketergantungan jerat laba-laba modernitas, terutama :
uang.
http://www.becomingminimalist.com/the-man-who-
quit-money-an-interview-with-daniel-suelo/
Hidup manusia modern dikejar oleh rasa takut dan
angan-angannya sendiri. Sehingga tidak pernah
berhenti barang sejenak pun untuk menyadari telah
berdiri dalam pondasi yang goyah. Pengejaran
semakin menuntut kompetisi dan percepatan yang
semakin tidak manusiawi. Sadarkah anda, bahwa hidp
kalau tidak dikejar angan-angan itu sebenarnya
nyaman? Siapa yang menyuruh anda selama ini
mbulet sehingga akhirnya kusut sendiri? Hehehe
Saya sudah mengingatkan ini semenjak awal dimana
saya mulai melihat persoalan ini secara definitive
(2008).
http://primordialnature.blogspot.co.id/2008/03/
lepaskan-rantai-yang-membelenggumu.html
Tresna Wisnu Wardhana : Waduh..saya juga masih
terjerat tuh ma jaring laba-laba terutama yg namanya
UANG..hhh saya nyeletuk jika saja konsep hidup
adalah kebersamaan..menjalankan segala hal atas
dasar keahlian dan kesadarannya..lantas ditiadakan
yg namanya uang..menurut saya hidup masih tetap
bisa berjalan da tuh..hhh tapi eh malah
diketawain..tpi ga pa lah..namanya juga fikiran
nyleneh..wkkk
Danz Suchamda : Hmmmmm.....kebersamaan?
Ini hal lain lagi yg ingin saya kritik terhadap salah
kaprah pada bangsa kita ini. "Kebersamaan" seringkali
ditafsirkan sebagai hidup himpit-himpitan bau ketek.
Yang tak perlu menunggu lama lalu kotak sempit
'kebersamaan' itu menjadi menyengat aroma bau
politik tengik.
NO !
Kebersamaan itu tidak harus diartikan secara fisik.
Tetapi lebih merupakan suatu sikap batin yang
mampu sharing. Sharing tetapi sekaligus memberi
RUANG KEBEBASAN (private space) pada masing2
individunya. Tidak saling memaksa atau
menginterferensi!
Lihat bagaimana kenyataan hidup di perkampungan
kumuh ibukota dimana begitu buka mata bangun pagi
harus sudah naik darah dan adu keras kepala dengan
tetangga? Sudah pulang kerja kecapaian, baru dapat
tidur malam2 karena house musik alay sebelah yang
bangun 'pagi'nya jam 10 malam? Ehh,..baru sejenak
terlelap sudah dibangunkan suarat TOA yang lebih
ahoy daripada speaker diskotik? Belum lagi ditambah
teriakan2 amarah tetangga akibat urusan parkir yg
kurang mepet sehingga bikin macet? Apakah
kesehatan mental anda dapat terus dipertahankan
dalam sikon semacam itu??
Bahkan keheningan alami di pedesaan sekarang pun
sudah mulai terancam oleh bisingnya suara dangdut
koplo yang disetel dengan speaker mega-bomb di
tengah siang hari bolong. Saya tidak tahu apakah
penghuninya tidak pergi bekerja, ataukah karena
ortunya bekerja maka anaknya berkonaks ria?
Entahlah tapi saya merasa itu adalah suatu
kekonyolan dari modernisasi yang salah arah : gadget
modern tapi mental masih primitif. Akibatnya ya
Kumpul Kebo dalam artian sebenarnya. Dugem
konaks dengan para kebo yang bengong di
kandangnya (karena suara menguaknya sekarang
kalah menarik dan kalah keras dengan stereo-set
aduhai-berisik).
Lihatlah betapa ironinya mereka yang di desa
merasakan ketidakpuasan hidup lalu berbondong-
bondong urbanisasi ke kota tanpa bekal pengetahuan
dan kemampuan yang cukup. Akibatnya sama saja
bagai mencari belenggu penjaranya sendiri dengan
menggadaikan kebebasan hidup damainya di desa.
Lihatlah pula bagaimana pemerintah di masa lalu
menggalakan transmigrasi dan berbagai macam
upaya mengatasi urbanisasi tetapi tanpa hasil yang
efektif? Mengapa?
Saya jawab : Ya karena masyarakat kita tidak dibekali
dengan cara pandang dan pengertian yang memadai
tentang makna sesungguhnya hidup. Fenomena
urbanisasi, materialisme, dsb itu kan HANYA
MERUPAKAN BUAH dari CARA PANDANG dan POLA
PIKIR yang diagem masyarakatnya. Maka hanya
mengatasi gejala tanpa memahami AKARnya adalah
suatu perbuatan sia-sia (pemborosan dana anggaran)
.
Apakah mungkin meninggalkan modernitas?
Bagaimana dengan penyakit2 yg membutuhkan
obat2an mutakhir dengan peralatan kedokteran yg
canggih?
Coba selidikilah bagaimana kehidupan suku-suku
pedalaman yg masih pristine? Adakah penyakit2
modern yg kita alami diderita oleh mereka?
Penjelasan dari Dr.Bergman ini menjawab keheranan
kita :
https://www.youtube.com/watch?v=p3V3TITSDxc
Anda mungkin menganggap pandangan saya ini
adalah bersifat Utopian (ideal yg tak mungkin
tercapai).
Saya jawab : TIDAK !
Isue ini bukan sekedar mengambang di awang-awang,
tetapi adalah study dari REAL WORLD dari berbagai
belahan dunia. Apakah anda pernah mendengar
bahwa kemakmuran suatu negeri tidak lagi semata
diukur dari index GNP (Gross National Products/
Pendapat Domestik Bruto) melainkan dari GNH (Gross
National Happiness / Tingkat Kebahagiaan Nasional)?
Bhutan adalah negeri pilot project itu. Bhutan dikenal
sebagai negeri yang penduduknya paling bahagia di
atas bumi ini. Berdasar survey statistik, bukan klaim
cocology agamis.
https://www.oneworldeducation.org/bhutan-worlds-
happiest-country
Apa point-point penting yang membuat Bhutan
menjadi negeri yang penduduknya paling berbahagia
saat ini?
1. Memanage hal spiritual dan material secara
seimbang.
2. Mereka tidak terobsesi dengan modernitas.
3. Mereka melestarikan jati diri dan budaya mereka.
4. Peduli dengan lingkungan hidup. 50% dari arealnya
dipertahankan sebagai Cagar Alam
5. Mereka mengukur kebahagiaan bukan dari ukuran
luar.
6. Pemimpinnya dekat dengan rakyat. Jarak
kesenjangan antara yang diatas dan dibawah tidak
besar.
7. Mengambil cara hidup sesuai dengan Dharma ( =
fenonmena, natural law, kasunyatan).
8. Budaya yang mengajarkan bahwa kualitas sejati
yang di dalam lebih berarti daripada kualitas semu
dangkal dari apa yang tampak di permukaan.
Ingat! Bhutan adalah negeri kontinental di lereng
gunung Himalaya yang berbatu. Nusantara jauh lebih
kaya dan subur. Negeri ini dulu pernah menjadi negeri
yang berbahagia gemah ripah loh jinawi. Kenapa
sekarang menjadi negeri yang didera oleh penderitaan
bahkan menjadi salah satu negeri yang indeks
pengidap gangguan kejiwaan yang tertinggi? Sangat
menyedihkan sekali.
Bahkan seorang bekas presidennya, orang yang no.1
paling berkuasa di negeri ini pun mengeluh merasa
pihak yang paling dizholimi. Sungguh menyedihkan!
Adakah angkatan kita sekarang ini mau segera sadar
dan menata ulang mindset, cara pandangan dan cara
hidup kita saat ini sehingga dapat menyelamatkan
generasi anak cucu kita kelak? Ataukah kita bersikeras
dengan kebebalan kita untuk menghancurkan masa
depan mereka? Ingat! ketika berurusan dengan alam,
tidak ada jalan mundur! Menoleh ke belakang
menyesali tiada guna. Penyesalan hanya menjadikan
jiwa anda patung garam. Salah-salah malah
terjerumus makin dalam karena batin yang semakin
sakit. Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Ingat! kita memiliki sumber daya alam dan aset local
wisdom dalam bentuk budaya maupun tradisi yang
jauh lebih dulu daripada yang di Bhutan. Mengapa kita
melupakan ini? Sudah selayaknyalah pemerintah
memperhatikan hal ini : tidak untuk mengejar
modernitas ala Barat yang kini mereka sendiri sedang
berusaha meninggalkannya. Tetapi galilah potensi dan
kapabilitas leluhur kita ini agar bangsa Indonesia bisa
melakukan lompatan ke depan. Loncat satu langkah
di depan mereka bule-bule itu! Bukan menjadi konyol
karena turut tersesat akibat mengekor yg salah!
Sehatkan cara pandangmu dan wawasan
pengetahuanmu menjadi akurat terlebih dahulu. Ingat!
Batin yang sakit akan membayangkan masalah
secara keliru dan sudah pasti cenderung memilih
solusi yang keliru pula.
Rahayu!

Jumat, 18 November 2016

KAROMAH WALI, ILMU HIKMAH, WASKITO

Tentang Karomah Wali Allah, Ilmu Hikmah dan Waskito ================================= Saya akan membahas tentang tiga hal diatas sekaligus, karena ketiganya sering membawa kerancuan dalam masyarakat..... dan sekaligus banyak "korban" salah fokus gara gara salah pengertian tentang hal hal diatas.... Karomah wali Allah, sebagaimana yang berkembang di masyarakat sejak berabad abad itu dalam pikiran mereka rata rata beranggapan seperti ini contohnya: "ketika seseorang bisa tiba tiba saja membelah diri jadi 7, berjalan diatas air dan sebagainya keanehan keanehan, maka itu dianggap sebagai karomah wali Allah.... Pikiran seperti itu yang saya terima dari masyarakat sejak dahulukala..... Lalu bilamana saudara berlandaskan anggapan bahwa seorang wali Allah adalah orang yang mampu membuat keanehan keanehan alias keajaiban yang memukau, kemudian misalnya ada orang yang mampu menggandakan ataupun mengadakan uang dihadapan anda, tiba tiba "cling" ada segepok uang dihadapanmu, maka anda akan cendrung mengganggapnya seorang yang memiliki kelebihan atau sederhananya dia wali Allah yang berkaromah mendatangkan uang secara ajaib..... saudara benar benar tolol, jika berpandangan demikian..... Mari saya ajak mikir sesaat..... Kalaupun ada orang yang "benar benar" bisa tiba tiba mengadakan atau menggandakan uang dihadapan mata anda, maka satu pertanyaan timbul, darimana uang tersebut berasal?..... jangan jangan itu uang orang yang dipindahkan sesaat, seperti jaman nabi Sulaiman ketika seorang bangsa jin berkata mampu memindahkan singgasana balqis dalam sekejab....nah kalau itu uang orang yang dipindahkan, bukankah itu namanya "maling"?.... Uang syubhat alias uang yang samar tidak jelas asal usulnya, maka tindakan kita adalah "menghindarinya", karena menghindari syubhat adalah perintah Tuhan..... Nah kembali keperihal karomah wali Allah, maka dalam hal ini jangan salah persepsi, jangan beranggapan karomah wali Allah itu sama dengan kemampuan wali Allah untuk buat hal yang aneh aneh/ajaib, bukan begitu..... karomah itu dari kata karim yang maksudnya "kemuliaan", jadi karomah wali Allah adalah kemuliaan yang diberikan Allah kepada para waliNya.... Karomah bukanlah ilmu gaib..... "Wujud dari karomah wali Allah adalah ketaqwaannya, kesabarannya, kebaikannya, keikhlasannya, ketawadhu'annya, kesholehannya, kemuliaan akhlaknya dsb dsb", itu loh yang dinamakan "karomahnya wali Allah"..... Jangan keblinger, ingat itu baik baik.... Kalaupun ada seorang katakanlah yang "dianggap wali Allah", sekali lagi dianggap wali oleh orang orang, kemudian ia mampu berjalan diatas air, maka hal itu tidak akan menambah sedikitpun kemuliaannya dihadapan Allah...... Tidak menambah karomahnya sedikitpun..... Jika bertambah ketaqwaannya, maka itulah bertambah "karomahnya"..... Nah sudah mengerti kan masalah karomah wali, itu bukan ilmu gaib, tapi adalah kemuliaan dan kedudukan wali Allah itu dihadapan Tuhan...... Saya prihatin tentang kesalahan pengertian selama berabad abad lamanya dalam menterjemahkan istilah "karomah wali Allah" ini, sehingga sering kali "dukun" dianggap wali....... akhirnya pada kena tipudaya dukun, karena mengira karomah itu yah bikin "cling cling" seperti pesulap saja..... pesan saya: "Jangan panjang angan angan, kalau pengin kaya, maka kerja keras dan tekun, jangan mengandakan uang, lama lama bukannya uangmu yang berlipat ganda, malah dosamu yang digandakan"..... ======================== Ilmu Hikmah Nah ini juga pengertiannya bermasalah, saya menangkap dimasyarakat banyak yang beranggapan ilmu hikmah itu sama dengan ilmu gaib lewat amalan amalan yang diambil dari Qur'an dsb..... Hikmah itu yah asalnya dari Hakim artinya itu bijaksana...... Jadi ilmu hikmat itu bukan ilmu gaib, melainkan ilmu tentang kebijaksanaan hidup, kemampuan mengambil pelajaran dari hidup, dari pengalaman, dari analisa analisa, yang kemudian diramu menjadi nasehat nasehat kebajikan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Lukmanul Hakim, yang mana nama Luqman diabadikan jadi Surat AlQur'an, yang berbagai nasehat, kumpulan wejangan wejangan Luqman itu adalah hasil dari perjalanan hidupnya, itulah namanya ilmu hikmah..... bukan ilmu amalan gaib ini itu..... ========================= Waskito Nah ini juga banyak salah anggapan di masyarakat yang mengira orang yang "waskito" itu sama dengan orang yang pinter "ngimpleng", alias penerawangan penerawangan gaib..... Tiba tiba bisa tahu ini itu rahasia yang disembunyikan..... Bukan seperti itu..... Saudara, orang yang waskito itu maksudnya adalah orang yang pandai melihat cela kesalahan dirinya pribadi, dengan maksud untuk memperbaikinya...... Karena sehebat apapun "pengimplengan" itu, penerawangan melihat rahasia orang lain, hal itu tidak ada manfaatnya sama sekali bilamana kita tidak bisa melihat cela kesalahan diri kita sendiri, itu tidak pantas disebut waskito..... "Jangan salah ngimpleng, awas bintitan" #FK_/|\_

Minggu, 21 Agustus 2016

.:: LAYAKAN DIRIMU DULU ::.

Arya Dewandra Seorang sahabat saya adalah seorang penjual berbagai macam kerajinan berbahan kulit asli, mulai sabuk, dompet, jaket, dll.. Harga paling rendah kisaran 100rb, harga paling tinggi kisaran 4jt an, selama dia jualan yang sering laku adalah barang yang harganya ratusan ribu, yang jutaan jarang banget laku, padahal yang namanya pedagang pasti sangat mengharapkan kalo barang yang laku itu yang harga paling tinggi, ya kan? Nah pernah dia minta saran ke saya, lalu saya suruh dia pergi ke toko kulit di tempat lainnya, saat itu pula saya suruh dia membeli barang yang harganya paling tinggi disana.. Wakakaka... Dia langsung ngomong ." Wah edyan kamu bro.. Mintak saran malah disuruh belanja barang ke toko orang..! " Saya pun bilang udah lah jangan banyak omong, langsung Action kalo mau berubah.. Akhirnya dia pun meberanikan membeli jaket kulit di toko lain seharga 4.250.000 barang yang paling tinggi harganya di toko itu.. Hahahaha... Nah sampai sini ternyata dia mulai ketagihan membeli barang harga mahal, karena selain barangnya kualitas bagus ada rasa bangga memiliki barang dengan harga tinggi.. Nah kebiasaan itu membawa berkah.. Sepanjang sejarah dia berjualan jarang banget barang dagangannya yang harganya tinggi cepet laku, nah sekarang justru keadaannya kebalik, sekarang yang paling sering laku adalah barang yang harganya paling tinggi.. Bahkan karena permintaan meningkat, konsumen yang membeli barang yang harga tinggi harus memesan terlebih dahulu... Emejing bukan? Mengapa bisa begitu? Semisal anda membeli sesuatu di tempat lain entah itu barang/jasa, anda akan membeli yang harga paling rendah atau yang paling tinggi? Saya yakin diantara kita memilih dengan harga yang paling rendah atau maksimal harga menengah.. Ya nggak? Nah jika anda menginginkan barang jualan anda yang paling tinggi harganya agar cepat laku sedangkan anda kalo membeli barang diluar sana gak berani membeli yang harganya tinggi bagaimana kehidupan bisa "mengirimkan" orang untuk membeli barang anda yang harganya paling tinggi..? Karena hakekatnya dari sudut pandang halus (quanta) kita ini satu kesatuan, saya adalah kamu, kamu adalah saya, jika saya berbuat jelek kepada kamu itu sama halnya saya berbuat jelek pada diri saya sendiri, begitu sebaliknya..Jika saya membayar kamu dengan harga tinggi itu sama halnya saya akan dibayar tinggi pula.. Sampai sini paham kan? Jadi Salah satu cara membangun RASA LAYAK adalah ketika kita berani membayar orang lain dengan HARGA TINGGI dan tidak itung itungan maka kehidupan akan mengirim orang lain untuk membayar kita dengan HARGA TINGGI.. Nah pertanyaannya berani gak kita membayar orang lain dengan harga tinggi?jika anda seorang penjual baju berani gak anda membeli barang dagangan orang lain yang harganya tinggi? Jika anda seorang pedagang kosmetik berani gak anda membeli barang dagangan orang lain yang harganya tinggi? Jika anda seorang konsultan berani gak anda membayar konsultan lain dengan harga tinggi? Jika anda seorang terapist berani gak anda membayar terapist lain dengan harga tinggi? Hal yang sungguh paling aneh di dunia ini adalah ketika kita berharap dibayar mahal, tapi kita sendiri masih perhitungan dalam membayar mahal orang lain.. #Salam Spirit

Rabu, 03 Agustus 2016

.:: MAKNA SEBUAH TITIPAN ::.

WS. Rendra Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan. Bahwa mobilku hanya titipan-Nya, bahwa rumahku hanya titipan-Nya, bahwa hartaku hanya titipan-Nya. Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan. Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika. “aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…" “Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Minggu, 31 Juli 2016

.:: MENERIMA PENOLAKAN, MENCINTAI KEBENCIAN ::.

Putu Yudiantara,

Menerima Penolakan, Mencintai Kebencian

28 JULI Sebagaimana sering saya ulang-ulang, salah satu point dalam Meditasi Tantra ( Chakra Sudhi ) ini adalah bagaimana mengkondisikan diri berada dalam kondisi kesadaran tanpa penilaian, tanpa penghakiman dan menerima setiap sensasi dengan penuh cinta dan penerimaan. Kondisi kesadaran ini penting terutama untuk mengharmoniskan kembali titik- titik energi ( chakra) dan jalur-jalurnya ( nadi) agar bebas dari segala sumbatan yang mendatangkan ketidakharmonisan. Salah satu sumber utama berbagai sumbatan di tubuh energi yang kemudian mendatangkan berbagai “masalah” baik di tubuh fisik maupun tubuh mental adalah karena kesadaran kita (keseluruhan pola kognisi dan emosi) terkondisikan dalam pola-pola yang tidak memberdayakan, penuh penilaian dan penghakiman yang dilandasi dinamika “ego yang terluka”—kita kemudian mengalami berbagai konflik dalam diri, berbagai ketidakpuasan, keluhan dan bahkan ketidakharmonisan sosial. Jadi kondisi yang berusaha dijadikan pola alami dalam meditasi (yaitu penuh penerimaan dan welas asih) adalah “kebalikan” dari pola yang telah terkondisikan dalam keseharian kita (dengan atau tanpa kita sadari), yaitu penuh penghakiman dan kondisi emosional yang tidak menyamankan. Namun tidak jarang, saat melatih meditasi—saat menyadari setiap anggota tubuh dan menyadari setiap chakra satu per satu —kita terbawa dalam dinamika kesadaran kita ( chitta vritti , kalau memakai istilah Patanjala Raja Yoga) yang tidak memberdayakan tersebut, sehingga yang terjadi adalah alih-alih menyadari setiap anggota tubuh dan chakra dengan penuh cinta dan penerimaan (untuk mengharmoniskan aliran energinya) namun kita malah terbawa dalam ketakutan, kesedihan, kemarahan dan sejenisnya yang malah akan semakin mengganggu aliran energi anda di setiap lapisan. Mungkin saat anda bermeditasi tiba-tiba muncul memori yang tidak mengenakkan ke permukaan sehingga anda mengalami kembali berbagai kondisi emosional tidak mengenakkan yang dibawa memori tersebut. Atau mungkin saat anda bermeditasi ada bagian tubuh yang tiba- tiba merasa sangat tidak nyaman sehingga menginduksikan kemarahan, ketakutan, kekawatiran dan lain sebagainya. Atau bisa jadi karena pengaruh lingkungan; anjing yang terus menggonggong, kendaraan yang lalu lalang, atau anak-anak yang sedang ribut bermain. Semua kondisi tersebut, baik internal maupun eksternal dengan mudah membawa kita kembali ke dalam berbagai kondisi kesadaran yang tidak memberdayakan saat kita sedang asik duduk bermeditasi, apa lagi jika anda adalah tipe orang yang memang sudah terpolakan untuk bereaksi secara emosional, cepat marah dan cepat terganggu. Sekilas, kondisi-kondisi ini seperti “gangguan” dalam proses meditasi ini, namun sejatinya kondisi-kondisi ini merupakan “Guru” yang sedang datang untuk membantu anda dalam proses perkembangan kesadaran anda, menjadikannya lebih cepat. Misalkan, selama anda bermeditasi pikiran anda dipenuhi berbagai memori buruk yang sudah lama terkubur namun muncul lagi ke permukaan, atau tubuh fisik anda mengalami berbagai sensasi tidak nyaman yang membuat anda ingin cepat-cepat bangun dan menyelesaikan meditasi anda. Saat kedua hal ini sedang terjadi, anda sedang dihadapkan pada “bom waktu” yang tadinya terkubur agar bisa anda tangani dan selesaikan dan jangan sampai meledak dalam bentuk gangguan mental maupun penyakit fisik. Demikian pula halnya jika muncul berbagai gangguan eksternal yang seolah mengganggu meditasi anda, saat itu anda sedang dihadapkan pada “kelas percepatan”, karena saat paling tepat untuk melatih kesabaran adalah saat muncul banyak alasan untuk marah, saat paling tepat untuk melatih menguatkan diri adalah saat banyak hal melemahkan terjadi, saat paling tepat untuk melatih kondisi kesadaran tanpa penghakiman dan penuh penerimaan adalah saat muncul banyak hal yang bisa dengan mudah dikeluhkan. Jadi, saat berbagai “guru” tersebut datang selagi anda sibuk bermeditasi sehingga nampak seolah sedang “mengganggu” anda, apa yang perlu anda lakukan agar janga malah anda semakin terjebak dalam kondisi kesadaran yang memperparah ketidakharmonisan dalam sistem psikofisik dan spiritual anda? Sederhana, sadari dan terima berbagai kondisi internal dan eksternal tersebut tanpa penghakiman , atau jika muncul penghakiman, maka sadari penghakiman tersebut; sama halnya jika ada hal yang membuat anda takut, sadari ketakutan anda sambil terus menyadari tubuh atau chakra tertentu yang sesuai dengan momen tersebut. Jika saat meditasi anda merasa tidak nyaman, sadari ketidaknyamanannya, jika anda merasa marah, sadari dan terima kemarahan tersebut. Sebutlah misalkan saat anda sedang asik memberi perhatian penuh cinta pada Chakra Dasar anda, kemudian entah kenapa tiba-tiba ada kendaraan dengan suara bising melintas sehingga anda tergoda untuk mengeluh “aduh, terganggu sudah meditasiku” dan bahkan kemudian (tanpa anda sadari) anda marah oleh keadaan tersebut. Sampai di titik ini, semua normal saja, karena anda masih manusia biasa, seperti halnya dengan saya. Hal yang perlu anda lakukan adalah kembali sadar —sadar dengan kemarahan dan keluhan anda saat itu—sambil tetap menyadari Chakra Dasar anda (atau chakra lain yang saat itu menjadi titik fokus anda). Jangan berusaha menekan atau mengabaikan kemarahan anda, namun jangan pula memperhatikan Chakra Dasar anda dengan kemarahan; tetap sadari chakra dasar anda sekaligus menyadari kemarahan anda saat itu. Dengan demikian anda bisa menetralisir emosi tersebut (dan bahkan memori yang menjadi akarnya atau pola-pola yang menguatkan keberadaanya) sekaligus tetap bisa melanjutkan meditasi anda dengan “benar”. Dan ingat, bukan hanya saat duduk bermeditasi anda perlu melatih diri menyadari dan menerima segala gejolak emosional ini, namun dalam setiap detik keseharian kita pun kita bisa melatihnya.

Sabtu, 23 Juli 2016

.:: KAMU ADALAH AKU ::.

Gobind Vashdev 'Kualitas yang tidak Anda tidak sukai di orang lain, ada dalam diri Anda' mungkin banyak yang tidak setuju bahkan menyangkal dan mengatakan 'tidak mungkin' atau yang langsung sama sekali tidak percaya kalimat diatas. saya tidak memaksa siapapun untuk percaya , tapi supaya fair , kenapa tidak mencoba membuktikannya? Tulis di sebuah kertas paling tidak 10 kualitas orang yang tidak Anda sukai, mungkin orang uitu adalah lawan, musuh atau sahabat Anda, siapapun orangnya tidak masalah, yang penting adalah ketika tindakan tersebut di lakukan oleh seseorang , emosi Anda langsung meletup. Misalnya bertemu dengan orang yang suka membantah, yang serakah, atau yang kekanak-kanakan. lalu, carilah seseorang yang mengetahui sisi luar dan dalam diri ini, dan serahkan kertas itu padanya sambil tanyakan "tolong jawab denga jujur, apakah kualitas yang tertulis di kertas itu ada pada diri saya?" Pengalaman saya di Indonesia jarang yang akan mengatakan straight to the point "ya" namun setelah saya mencoba dengan diri sendiri dan juga melihat hasil dari beberapa teman , hasilnya memang susah dibantah. selagi kecil, kita menelan program dualitas "baik" dan "buruk" , apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh. apa yang harus dijunjung dan pendam. kita bertumbuh dengan pelajaran serupa, yaitu, melakukan apa-apa yang dianggap baik oleh lingkungan dan memendam dan menutupi apapun yang di pandang jelek di masyarakat. kita menggelembungkan sisi positif dan mengubur yang negatif. kita melakukan ini agar diterima, dihargai dan ada kemungkinan untuk dipuji. Apa yang terjadi di luar adalah refleksi dari apa yang ada di dalam diri ini" begitulah kurang lebih bunyi teori kehidupan ini, dengan kata lain, tidak mungkin ada kekacauan diluar tanpa didahului keruwetan didalam. manakala kita tidak menyukai orang lain, sebenarnya kita bukan tidak demen dengan kualitas yang melekat padanya, namun lebih dalam dari hal tersebut, bahwa kita tidak suka bagian diri kita yang memiliki kualitas tersebut. Musuh, orang sulit, orang yang membuat hati mendidih adalah bagaikan cermin yang memberitahu sisi gelap yang selama ini kita sangkal. begitu juga sebaliknya bila kita mengaggumi seserorang, sedikit banyak sifat yang kita sukai itu ada dalam diri kita. Kita memiliki sifat yang dibawa oleh Pemimpin yang kita kagumi juga karakter yang ditunjukan oleh pemimpin yang berseberangan dengan yang kita kagumi , ketika kita memuji mereka kita sendang mengendorse sisi-sisi yang kita terima dalam diri kita, dan ketika kita kejelekannya dan menghujatnya, percayalah itu juga ada didalam diri ini. mereka yang tidak menyenangkan muncul bukan untuk dihujat melainkan agar kita masuk dan memeluk sifat itu di dalam diri kita. ketika kita mampu menerima sisi terang dan gelap di dalam, disaat itu kesadaran akan mengantakan kita pada kedamaian sejati _/|\_

Kamis, 21 Juli 2016

.:: ANTARA PURNAMA , PUASA DAN TIDAK WARAS ::.

Gobind Vashdev, Baru saja saya keluar rumah sambil menggendong Rigpa berjalan disamping sawah ditemani kunang-kunang dan bulan yang sedikit lagi berstatus purnama. Rigpa terbengong melihat bulan yang terdekorasi awan dihamparan kanvas langit, dan saya pun tertegun melihat reaksi kekagumannya pada alam ini. Saat itu benak memanggil semua memori saya tentang Bulan ,bagaimana diri ini disambut bulan purnama utuh sewaktu saya menginjakkan kaki di Bali. Pikiran juga mengajak saya pergi ke masa kecil dimana orangtua saya mewajibkan kami anak-anaknya untuk bervegetarian pada hari dimana bulan sedang purnama. saya sempat bertanya "kenapa?" , jawaban klasik muncul, "ya memang dari dulunya begitu." Tidak puas dengan jawaban tersebut saya mencari ke sahabat kepecayaan lain, dan bukannya jawaban yang saya temukan melainkan sebuah kepercayaan bahwa tidak hanya waktu bulan purnama mereka bervegetarian dan berdoa, namun juga pas bulan mati atau istilah lainnya bulan baru. Ce It , Cap Go, istilah populernya yaitu tanggal 1 dan 15. tanggal 1 adalah bulan baru dan tanggal 15 adalah bulan purnama. sementara bila di bali, walaupun tidak pantang memakan daging , namun upacara tidak pernah terlewatkan di dua waktu ini. Sempat saya menyimpulkan bahwa ritual ini hanyalah ritual kuno dari suku primitif yang mirip dengan kelompok bangsa romawi yang menyembah dewa matahari. Kecurigaan saya mulai luntur ketika saya seseorang di televisi yang sudah saya lupa namanya, memberikan alasan yang masuk diakal saya. ia mengatakan kurang lebihnya begini; Seperti pernah diajarkan di sekolah bahwa posisi bulan dan matahari berpengaruh pada gravitasi bumi. Ketika bulan purnama gravitasi mencapai titik terendahnya,dan itu bisa dilihat jelas dari tingginya pasang naik air laut. Dan seperti tubuh, unsur terbesar otak manusia adalah air, sekitar 70-80% bahkan ada yang mengklaim diatas itu. Sedikit banyak apa yang terjadi di alam juga terjadi di dalam diri yang mendiaminya. Kita bisa melihatnya dengan adanya tingkah binatang yang berbeda, seperti anjing yang melonglong sewaktu bulan purnama, sementara di manusia adanya ada yang mengklaim bahwa tingkat kriminalitas dan hormon tertentu meningkat dimulai dari 3 hari sebelum sampai terbentuknya bulan purnama. Bahkan istilah Lunatic dalam kosa kata bahasa inggris yang artinya 'tidak waras' diambil dari kata Luna yang artinya bulan. konon para peneliti melihat adanya peningkatan agresifitas menjelang bulan purnama pada mereka yang menetap di rumah sakit jiwa. saya percaya bahwa fenomena yang terjadi pada manusia di bulan purnama ini menjadi salah satu pertimbangan penting para leluhur di bali, India ,China dan tempat lainnya dalam memutuskan untuk mengadakan upacara dan juga bervegetarian. Sementara itu bagaimana dengan di Arab, menurut Muh. Ma'rufin Sudibyo yang di tulis di kompas.com , Nabi Muhammad SAW menekankan keutamaan berpuasa sunnat tiga hari di pertengahan bulan kalender yang dikenal sebagai ayyamul bidh (hari-hari putih), yang lantas ditafsirkan sebagai hari ke-13, 14 dan 15 di setiap bulan kalender Hijriah. Sekarang saya Rigpa dan Istri tentu tidak pernah memikirkan ritual yang diminta orangtua saya, karena kami selalu bervegetarian, namun nilai penting yang kami dapatkan dan semoga selalu kami ingat adalah, petuah,kebiasaan, adat, budaya, atau apapun yang diajarkan oleh para leluhur yang kita dengar dari orangtua atau siapapun walaupun terdengar konyol dan tidak masuk akal, tetaplah untuk terbuka. mereka memang tidak sepintar kita dalam berpresentasi , menjelaskan, atau menerangkan secara logika namun para tetua telah lama belajar dan hidup sangat dekat dengan salah satu Guru terbaik yaitu alam ini. Saya dan Istri belum tahu apakah Rigpa akan sekolah atau tidak nantinya, kami juga belum tertarik mengetahui minat dan bakatnya. sekarang ini kami hanya ingin memberi kesempatan ia untuk bermain dan bermain, baik disawah,kolam atau di kasur, dengan pasir, tanah atau lego. kami percaya alam dengan segala kebijaksanaannya akan menuntunnya ke sebuah kesadaran yang terbaik untuknya. _/|\_

Rabu, 20 Juli 2016

.:: WELAS ASIH ::.

saya, Anda dan kita semua adalah manusia-manusia yang terluka. Sudah terlalu banyak kemarahan, kebencian, makian, hujatan dan kutukan yang kita lontarkan, kita tidak memerlukan itu semua, saat ini yang sangat diperlukan adalah penyembuh luka yang bernama welas asih. Disaat ada orang yang marah dan membenci atau melakukan tindakan keras , selalu ingat mereka adalah orang yang terluka, menambahkan kemarahan pada mereka sama seperti menambahkan luka. Hadirlah saat ini, sadarilah tugas diri ini bukan menambah luka namun dengan mengambil waktu duduk hening transformasikan reaksi kemarahan didalam menjadi menjadi sebuah kreasi indah nan tulus yang bernama kasih sayang. Tiba-tiba saya teringat pada lyric lagu dari The Beatles And in the end, the love you Take is equal to the love you Make kemarahan,kebencian yang kita lempar bukan hanya mencederai yang lain namun juga menambah luka pada diri ini, begitu juga dengan cinta dan welas asih yang kita tabur selain memberi ketentraman bagi orang lain, ia juga menyembuhkan diri ini. _/|\_

Sabtu, 02 Juli 2016

.:: "KALIMAT-KALIMAT TAUHID DALAM AL-QUR’AN, SEBUAH UPAYA PENEMUAN JATI DIRI"::.

Muniri Chodri, Dalam suatu kesempatan, saya terlibat diskusi tentang pertentangan Ahli fiqh dan kaum Sufi. Ahli fiqh menyangsikan amaliah yang dilakukan oleh kaum Sufi yang konon katanya banyak menyimpang dari ketentuan al-Qur’an dan Hadits. Dalam diskusi tersebut, ada satu teman yang rupanya menyangsikan amaliah kaum Sufi, pertanyaan mendasarnya berkaitan dengan “siapa yang seharusnya diikuti, Nabi Muhammad atau kaum Sufi? padahal sudah jelas kaum Sufi, semua pengikut Nabi Muhammad, sedangkan Nabi Muhammad sendiri menganjurkan bahwa al-Qur’an dan Hadits sebagai petunjuk amaliah ta’abbudiyyah”. Salah satu teman menanggapi, bahwa sebenarnya pertanyaan tersebut, telah menjadi debat panjang antara Ibnu Athaillah Assakandary dengan Ibnu Taimiyah, keduanya sama-sama kuat dalil aqli maupun naqlinya, sampai akhirnya Ibnu Taimiyah mengaku kalah ketika Ibnu Athaillah Assakandary bisa menebak apa yang akan dilakukan Ibnu Taimiyah, padahal belum dilakukan, masih hanya sebatas rencana yang tinggal dilaksanakan. Namun, bukan berarti pengakuan kalah Ibnu Taimiyah lantas otomatis argumentasinya dalam debat “salah”. Justru, mereka berdua menemukan kata sepakat, bahwa berbicara amaliyah ta’abbudiyah kembali kepada individu masing-masing, yang yakin dengan jalan fiqh silahkan, demikian yang yakin dengan jalan Sufi juga silahkan. Salah satu teman memperkuat argumentasi kaum Sufi, dengan menyampaikan bahwa dalam al-Qur’an ada empat kalimat tauhid, antara lain; Laa ilaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah), Laa ilaha Illa Huwa (Tiada Tuhan selain Dia), Laa ilaha Illa Anta (Tiada Tuhan selain Engkau), dan yang terakhir Laa ilaha Illa Ana (Tiada Tuhan selain AKU). Menurutnya, kalau kalimat-kalimat ini dikaji secara bahasa, tentu sebagaimana arti yang sudah dituliskan di atas. Namun, bagi kaum Sufi, kalimat-kalimat di atas, menjadi sesuatu yang bermakna luar biasa, yang berkenaan dengan kondisi ruhiah seseorang yang mengalami ektase ilahi. Karena sudah waktunya bubar, teman saya hanya berhenti disitu penjelasannya. Kurang lebih satu bulan lebih, saya coba mengkaji sendiri kalimat-kalimat tauhid di atas, dan sambil mengumpulkan referensi dari teman-teman saya yang sudah menjalani kehidupan Sufi. Sebenarnya, saya sendiri belum tahu pasti mana urutan pertama yang muncul dalam al-Qur’an dari sekian kalimat-kalimat Tauhid di atas. Tapi, sepertinya saya lebih suka jika susunannya seperti yang saya tulis di atas. Pertama, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Allah”, bagi pejalan Sufi yang menghayati kalimat tersebut, beranggapan bahwa meng-Esakan Allah adalah hal pertama yang perlu dilakukan, penisbian atas selain Allah sehingga diri benar-benar haqqul yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah. Hingga seseorang berkeyakinan, hanya Allahlah Sang Pencipta, Pemberi, dan Pengatur segala yang ada di alam semesta. Tentulah, bagi orang yang berkeyakinan seperti ini, ia hanya takut dan berharap kepada Allah. Bagi orang ini, sangat tegas batas antara Pencipta dan yang diciptakan, Allah bisa sebagai dzat yang Maha Menghukum bagi pelaku kejahatan, dan disisi yang lain sebagai dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi pelaku kebaikan. Sangat jelas pula, mana baik menurut Allah, dan mana yang buruk menurut Allah, dan semua manusia harus mengikuti ketentuan tersebut. Selanjutnya, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Huwa”, orang yang sudah sampai pada penghayatan kalimat ini, penggambaran tentang Allah berbeda dengan yang sebelumnya, proyeksi tentang Allah menjadi kabur, tetapi Allah sesuatu dzat yang pasti “ada’, seperti apa wujudnya, hanya Allah yang tau. Allah suci dari proyeksi pikiran manusia. Dalam hal ini, Ibnu Araby menjelaskan sucinya Allah adalah kondisi dimana Allah hanya dapat ditunjuk dengan kata “Dia” (Huwa) yang sendiri, “Dia” yang keberadaan dan kesendiriannya tidak dapat dilukiskan karena kemenyendirian-Nya, sehingga “Dia”, satu-satunya, yang berhak memiliki wujud dan disebut sebagai wujud. Tingkat penghayatan kalimat tauhid selanjutnya adalah ”Laa ilaha Illa Anta”. Orang yang sampai pada penghayatan ini, ia sudah memandang semua yang ada di alam semesta ini adalah Allah, baginya Allah benar- benar hadir, dan kehadiran Allah benar-benar nyata dirasakan oleh kesejatian ruhnya. Dalam setiap entitas ada Allah, tidak pandang apa wujudnya, benda yang kelihatan hidup, maupun yang kelihatan mati, yang kelihatan indah maupun yang kelihatan sebaliknya. Orang yang sudah sampai pada penghayatan ini, meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta semuanya dalam “kesatuan”, dan meyakini pula bahwa satuan wujud ternampak yakni, benda, tersusun dari satuan terkecil yang bernama molekul, satuan terkecil dari molekul adalah atom, kemudian partikel merupakan satuan terkecil dari atom, dan satuan terkecil dari partikel adalah realitas quanta, dan yang paling halus yakni quark, semakin kecil susunannya, getarannya justru lebih konsisten dan cepat. Orang ahli fisika mengatakan bahwa alam semesta adalah realitas energi yang menyatu dan sama-sama mempunyai getaran energi magnetik, fakta getaran energi ini dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa di langit dan di Bumi semuanya bertasbih menyebut nama Allah. Dan yang terakhir, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Ana”, sebuah titik penghayatan yang paling dalam tentang Allah. Konon Al-Hallaj mengatakan “Ana al- Haq” dan Syek Siti Jenar mengatakan “Manunggaling Kaulo Gusti”, yang ia katakan ketika mengalami puncak ektase kesatuan dengan Allah. Sebuah perkataan yang paradok pada zamannya, hanya untuk menjelaskan “aku dalam Allah, dan Allah dalam aku”. Dalam hadits Qudsy dikatakan, “ana inda dzonni ‘abdy” (Saya menurut apa yang hambaku sangkakan), dengan demikian jika “sangkaan” manusia yang menjadi barometer proyeksi tentang Allah, secara otomatis manusia sudah menarik konsep Allah pada level “Ana” (Saya). Maka, sebagaimana hadits Qudsy tersebut, sebenarnya manusia sendirilah yang mendisien mau seperti apa Allahnya dalam pikiran dan rasanya, dari disien pribadi tentang Allah inilah yang menentukan cara berpikirnya, disadari atau tidak cara berpikirnya menjadi penentu cara pandang, dan dari cara pandang perjalanan hidupnya ditentukan. Laa ilaha Illa Ana, bisa jadi kalimat tauhid ini, menjelaskan bahwa “Ana” (saya) inilah yang menjadi lokus kesadaran, dengan kesadaran yang bermuara pada “diri”, akhirnya manusia tidak lagi menyalahkan Allah dan juga manusia lain, jika mengalami sebuah kejadian yang tidak menguntungkan dirinya, karena semua kejadian yang terjadi berasal dari vibrasi energi pikiran dan perasaannya. Inilah, kemudian kita menamakan “kesadaran diri’, sebuah kesadaran yang berada di kedalaman diri masing-masing individu, yakni “jati diri”. Orang yang menemukan dan mengetahui jati dirinya, maka ia akan menemukan dan mengetahui Allah, sebagaimana ungkapan “man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengetahui jati dirinya, maka ia telah mengetahui Rabb-nya). Setelah individu mengetahui jati dirinya (Laa Ilaha Illa Ana), titik baliknya akan lebih selaras dengan “Anta” (Laa Ilaha Illa Anta), sebagaimana Anta kata ganti dari entitas yang berada di depan kita, yang dekat dan terlibat langsung, nyata sifatnya secara fisik, Anta ini berkaitan dengan entitas tanpak yang ada di alam semesta. Dilanjutkan pada kata “Huwa” (Laa Ilaha Illa Huwa), sebuah kata ganti ketiga tunggal, kata Huwa adalah analog dari penjelasan tentang keberadaan entitas yang tidak tanpak secara fisik. Dengan demikian, orang yang mengetahui ke-saya-annya cendrung selaras dengan yang tampak maupun yang tidak tampak, jika sudah selaras sedemikian rupa, maka orang tersebut dapat ditegaskan selaras dengan kesadaran ilahi, diri yang utuh secara universal, keterhubungan, meliputi dan menyeluruh, semua dalam Allah dan Allah dalam semua, Laa Ilaha Illa Allah. Inilah menurut saya, makna dari Man ‘arafa nafsahu, faqot ‘arafa rabbahu. Dari hasil kajian ini, saya beranggapan kenapa Ulama terdahulu mengedepankan ajaran “Tauhid” sebagai pengetahuan pertama yang harus dipelajari, karena dari ajaran tauhid sebagaimana penjelasan dari kalimat- kalimat tauhid versi saya di atas, mungkin saja dengan menarik Allah pada level “Ana” (saya), akan berakibat positif pada kepribadian semua manusia sebagai khalifah di Bumi, yang akan memberikan kedamaian di Bumi, serta berakibat pula pada terwujudnya keseimbangan alam semesta. Allahu a’lam bi al-shawaab.

Jumat, 01 Juli 2016

.:: BERHENTILAH BELAJAR ::.

Arif RH, Saya sejak dulu, belajar ke banyak sekali sahabat, belajar ke banyak guru ... Baik secara live maupun secara jarak jauh ... Secara formal, maupun informal... Saya juga membaca banyak sekali buku ... Semakin banyak ikut pelatihan, kok yang saya rasakan, saya semakin bingung ... Semakin banyak baca buku, tambah confuse ... Karena konsep antar buku dan antar guru, kadang tidak sama, bahkan saling bertentangan ... Pertanyaan di kepala saya adalah, mana cara yang benar dari semuanya itu? ...Kata guru anu, caranya begini ... Kata guru itu, cara anu salah, yang bener begini ... Pusing abisss saya ... Akhirnya, saya berfocus mengamati diri saya sendiri, mengamati pola-pola kehidupan saya sendiri ... Lalu saya simpulkan ... Saya buat "manual book", tentang diri saya sendiri ... Dan hasilnya jauh lebih baik ... Lebih pas dan lebih aplikatif ... Tidak puyeng lagi ... Prakteknya lebih enak ...Lalu kekeliruannya dimana? ... Kekeliruannya adalah, kadang, semakin banyak belajar ke orang lain, membuat kita tidak belajar "ke dalam" ... Kita malah semakin ingin menjadi orang lain, pakai konsep-konsep orang lain ... Akhirnya, kita terasing dari rahasia diri kita sendiri ... Kita tercampakkan menjauh, dari guru sejati kita sendiri ... Kita tidak jeli, mengamati pola-pola yang kita alami dalam hidup...Itulah sebabnya, sekarang saya lebih berkiblat bahwa, tidak ada cara yang salah ... Tapi cara yang efektif menurut guru anda, belom tentu efektif buat anda ... So, ambil yang pas-pas saja dengan diri anda... Jangan dicampur aduk, karena belom tentu pas ... Belajarlah ke sebanyak mungkin orang, tapi dalam rangka untuk melihat ke dalam ... Berpetualanglahsejauh mungkin ke luar, untuk menemukan jalan menujuke dalam ...Beberapa tahun lalu, salah seorang sahabat saya berkata, "berhentilah belajar" ... Itu lama saya paham kalimat itu ... Akhirnya saya baru mengerti, ohhh maksudnya itu, jangan sampai terus belajar ke luar diri, tapi semakin tidak mengenali diri sendiri ... Setiap manusia itu unik dan otentik ... Tidak semua nasehat, pas buat anda ... Tidak semua postingan di fb, cocok buat anda ... Tapi apa yang tidak cocok buatanda, bukan berarti salah ... Benar, tapi tidak compatible dengan diri anda ...Anda boleh tidak percaya, dengan tulisan saya ini ... So, buktikan sendiri ... Selama anda tidak aware dan tidak mengamati diri anda sendiri ... Selama anda tidak menyadari, bahwa guru sebenarnya adalah ada dalam pola pengalaman anda sendiri ... Selama anda memaksakan menggunakan cara-cara orang lain ... Maka, semakin banyak anda belajar ke orang lain, semakin pusing anda dalam hidup ...Cailah guru, yang mengajak anda untuk mengamati diridan kehidupan anda sendiri ... Carilah guru, yang berani meletakkan ego merasa dia paling benar, dan dia rela berperan hanya sebatas sebagai cermin, agar anda melihat ke dalam diri anda sendiri ...Kitab rahasia tertua yang dituliskan Tuhan, bahkan sebelum anda bisa membaca ... Adalah kitab bernama,AL SELF, alias, DIRI ANDA SENDIRI ... BACALAH !! ..._/|\_

Rabu, 29 Juni 2016

.:: PANTASKAH KITA MASUK SURGA ::.

Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Nikola Tesla, Wright bersaudara dan sebagainya, adalah sebagian kecil dari orang-orang yang sangat berjasa besar bagi kemanusiaan...

Penemu handphone... Penemu obat-obatan... Penemu telephone... Masih banyak lagi... Sungguh-sungguh besar kontribusi mereka... Penemuan mereka di bidang ilmu pengetahuan, memberikan manfaat besar bagi umat manusia... Orang bisa beribadah ke luar negeri naik pesawat... Bisa mengumandangkan suara pangilan dari rumah ibadah, karena ada listrik, dan sebagainya... Apa itu adalah sesuatu yang tidak ada harganya sama sekali bagi umat manusia dan di hadapan-NYA...? Sehingga saya saat merenung, dalam keheningan... Terbersit sebuah kalimat spontan dalam hati, "mereka semua itu tadi, yang jasanya tiada terkira ... kalau mereka semuanya masuk neraka ... saya maluuu banget kalo misal saya masuk sorga ... karena saya ini jauh lebih tidak pantas masuk sorga ... apalah saya ini, kalau dibandingkan mereka, dalam memberikan manfaat bagi umat manusia" ...Bukankah disebutkan bahwa, "sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang memberikan manfaat bagi orang lain..?" _/|\_

.:: NIAT DAN KEBERHASILAN ::.

Arif Rh, Alkisah ... Suatu hari, ada seseorang yang melihat banyak orang kehausan di sebuah bus ... Dan tidak ada air minum ... Seseorang ini, tersentuh hatinya, dan terbersit dalam benak, "kalau aku bisa menyediakan air minum yang bisa dibawa kemana-mana, mereka tidak akan susah cari air minum seperti ini" ... Lalu singkat cerita, seseorang ini, punya ide untuk menjual air minum botolan ...Maka, kemungkinan orang itu punya bisnis air minum yang berkembang pesat, kemungkinannya sangat besar... Why? ... Karena ia focus kepada pelayanan untuk orang lain ... Ia fokus pada memberikan solusi ... Ada sebuah niatan yang bermuatan spiritual ... Bukan kepentingan material semata ...Orang sering mengatakan, ide itu akan menghasilkan uang ... Sebenarnya, hubungan antara ide dengan uang, adalah hubungan yang tidak langsung ... Berapabanyak punya ide bagus, ide briliant, tapi ya bisnisnya gak besar? ... Karena jembatan penghubung antara idedan uang, adalah niat ...IDE ---> NIAT ---> UANG Jadi, bila sebuah ide, kok tidak menghasilkan uang ...Sementara eksekusi di level tindakan dan cara-cara sudah oke, sudah bener, sudah optimal ... Yang perlu ditinjau adalah, niat ... Semakin bermuatan spiritual sebuah niat, semakin kuat kemungkinan terjadinya manifestasi di level fisik ... Karena semakin spiritual sebuah niat ... Semakin besar kemungkinan adanya"campur tangan" yang akan dilakukan kesadaran yang Maha Tinggi ...Saya banyak teman, mereka para ibu rumah tangga, yang sukses dalam bisnis ... Rata-rata yang sukses, adalah karena NIAT yang bermuatan SPIRITUAL ... Misalnya, si ibu ini melihat suaminya kerja keras banting tulang ... Terketuklah hatinya untuk membantu suami yang dicintainya ... Kita bisa lihat, ini bukan soal UANG ... Tapi NIAT terdalamnya adalah MEMBANTU SUAMI ...Niatan yang bermuatan spiritual, selalu "tidak egois"... Muatannya adalah "pelayanan" untuk area yang lebih luas ... Bukan hanya sekedar area dirinya ..."Saya jualan nasi uduk di area olah raga ini, supaya punya duit banyak", ini niatan yang areanya sempit ...Yaitu diri sendiri, saya dapet duit ... "Saya jualan nasi uduk supaya orang-orang di sekitar sini tidak kesusahan nyari makan, kalo habis olah raga mereka kelaparan" ... Sudah terlihat bedanya? ... Yang pertama, "mendapatkan", yang kedua, "pelayanan"...Semakin kita tidak egois, semakin kita melayani area yang luas, semakin luas kesadaran kita ... Dampaknya, semakin sinkron kita, dengan kesadaran semesta yang melayani semua ... Kalau dalam shalat berjamaah, secara fisik, kita dianjurkan perlu MELURUSKAN BARISAN ... Namun secara bathin, bersamaan dengan meluruskan barisan ... Kita perlu MELURUSKAN NIAT ..._/|\_

Selasa, 28 Juni 2016

.::TRUE N TRUTH ::.

20160628020840.jpg

Arif Rh INI TENTANG ... TRUTH (KEBENARAN SEJATI) DAN TRUE (KEBENARAN) ...

Pernah gak, anda merasa gak cocok dengan postingan orang lain di facebook ini? ... Atau, pas anda bikin postingan, ada yang komentar, apalagi komentarnya panjang lebar melampaui statusnya, dan anda tidak cocok dengan komentar orang lain itu? ...Reaksi alamiah setiap orang, apalagi sedang "mode kadal", adalah begini, apapun yang berbeda dengan kita, itu adalah salah ... Pendapat orang lain, adalah"ancaman" bagi eksistensi kebenaran pendapat kita ...Mode fight or flight, lawan atau lari ...Oke, kita kaitkan uraian di atas, dengan gambar ... Gambar ini bagi saya, berbicara lantang tentang apa itu KEBENARAN HAKIKI (TRUTH) ... Dan juga apaitu TRUE (KEBENARAN) ... Serta, bagaimana hubungan antara keduanya ...Yang mampu menjangkau TRUTH atau KEBENARAN SEJATI, hanya Tuhan, hanya DIA ... Itulah sebabnya disebutkan, "Allah Maha Benar" ... Sementara manusia, hanya mampu menjangkau TRUE... Bukan TRUTH ... Lalu gimana kalau begitu? ...Anda perhatikan gambar ini lagi ... Sebenarnya, KEBENARAN HAKIKI-nya, cuman SATU ... Tapi setiap orang, punya cara masing-masing dalam melihatnya, yang menghasilkan TRUE ... Setiap orang, melihat TRUTH yang sama, menghasilkan TRUE-nya masing-masing ... Singkatnya, kalau kita berbeda pendapat, tidak selalu artinya "saya benar dan anda salah", atau sebaliknya ...Yang lebih tepat adalah, "saya benar dan mungkin juga, anda benar ... tapi meskipun kita sama-sama benar ... kita tidak menjangkau kebenaran sejatinya"... Kebenaran sejati itu, sudah merupakan wilayah Tuhan ... Jadi, kenapa kita harus ribut? ... Kenapa harus eyel-eyelan? ... Kenapa harus ngotot-ngototan? ...Persoalannya, kadang entah mengapa, manusia ini suka "kesurupan napsu" ingin jadi yang paling benar ...Apalagi kalau sudah pakai dalil buku suci ... Padahal, apa yang kita pahami atas buku suci, itu adalah TRUE... Bukan TRUTH ... Yang tahu sejatinya maksud sebuah ayat, hanyalah Tuhan ... Hanya DIA yang memahami TRUTH ...Niels Bohr, salah seorang sesepuh dalam ilmu fisika modern mengatakan, "lawan dari kebenaran, adalah kebenaran yang lainnya" ... Sehingga, saya kira, apabila kita tidak bisa setuju dalam satu pendapat yang sama ... KITA PERLU MENYETUJUI, UNTUK SALING TIDAK SETUJU ... Kita bersepakat, untuk tidak sepakat ... Clear?

.:: I'M EVERYWHERE ::.

Arif RhSiapa di antara anda, yang pernah nonton film sains fiksi berjudul, "LUCY"? ... Itu lho yang aktris utamanya adalah Scarlet Johansson, pemeran Black Widow dalam film The Avengers ... Sosok wanita bernama Lucy, dalam film itu diceritakan, karena terpicu serbuk biru bernama CPH4, terjadi perubahan dalam tubuh dia ... Sehingga otaknya berkembang, dan secara perlahan berfungsi 100 persen ...Skip skip skip ... Kita melompat ke bagian akhir ... Kita ingat baik-baik, dan amati adegan saat dia berada di laboratorium, bersama beberapa professor yang membantu Lucy ... Saat adegan ini terjadi, Lucy mengalami flashback, mundur ke masa lalu ... Mengakses memory tentang asal usul, atau sejarah tentang dirinya sendiri ... Dan kemudian, ia bertemu dirinya sendiri, dengan wujud bukan manusia di masa lalunya ... Dan setelah dia "mengenali siapa dirinya"... Apa yang selanjutnya terjadi? ...Setelah Lucy mengenali siapa dirinya ... Lucy bukan hanya mampu mengakses data memory dirinya saja, bukan hanya data tentang bumi saja ... Ia juga mengalami flashback, tentang asal usul alam semesta raya ini ... Sehingga ia bisa memahami, sejak kapan alam semesta ini ada, ada apa sebelum ini semua ada, dan sebagainya dan sebagainya ... Lalu, apa akibat dari teraksesnya hal ini? ...Akibatnya ... Kesadaran Lucy meluas, melampaui dimensi 1-2-3-4 ruang waktu ... Sehingga tubuh Lucy lenyap, tidak lagi mampu mewadahi kesadarannya yang meluas ... Tubuhnya berganti, tubuhnya adalah segala sesuatu ... Kesadarannya ada dimana-mana ...I AM EVERYWHERE ... AKU ADA DIMANA MANA... Tubuhnya moksa, lenyap menghilang ... Tapi kesadarannya, ada pada segala sesuatu ...Kalau kita kaitkan dengan kajian spiritualitas, sangatmirip prosesnya ... Amati saja ... Mayoritas isi semua buku suci, adalah tentang masa lalu ... Untuk apa kitabelajar masa lalu? ... Sekarang sudah modern, kok baca tentang masa lalu? ... Itu dia ... Mirip kayak Lucy tadi ... Jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran, adalah belajar sejarah ... Buku suci itu isinya adalah "kisah-kisah kaum terdahulu" ... Ya itu sejarah khan? ...Dengan kita diajak menyimak masa lalu, belajar dari masa lalu ... Kita akan mengerti, asal usul kita sendiri... Dan saat kita sudah mengerti asal usul kita, kita akan bertemu diri kita sendiri ... Komplitlah sudah, perjalanan kita mengenali diri ... Nah, ada lanjutannya di sini, "barangsiapa mengenal dirinya, dia akan mengenal siapa Tuhan-NYA" ...Maka, tirai rahasia semesta pun akan tersibak ... Rahasia masa lalu, dimana kebenaran tersimpan, gilirannya akan terungkap ... Kita akan diajak flashback, diperjalankan mengarungi semesta nan megah seolah tak berbatas ini, asalnya darimana, sejak kapan ia ada dan sebagainya ...."Yang tahu jalan pulang ... Adalah mereka yang tahu darimana mereka datang" ... "Sangkan paraning dumadi" ...Hingga pada suatu titik, kita akan melebur dengan kesadaran semesta itu sendiri ... Pada level ini, kita baru menyadari, bahwa ada suatu kesadaran, yang maha luas, yang maha besar, yang ada pada segala sesuatu, ada dimana-mana, meliputi segala sesuatu, yang menggerakkan segala sesuatu ... Dan kesadaran itu seolah berkata ...I AM EVERYWHERE ... _/|\_

Kamis, 23 Juni 2016

.:: JEBAKAN AHLI MAKSIAT DAN ORANG SOLEH ::.

Arif Rh Yang rusak akhlaknya, ahli maksiat, jebakannya adalah mengolok-olok yang sholeh dengan label, "sok sholeh luuu !!" ... Juga kejebak pada kebanggaan memamerkan kelakuan error dan dosa-dosa mereka ... Sebaliknya ... Yang akhlaknya sudah sholeh, kadang kejebak mengomentari dan menggunjingkan mereka yang akhlaknya rusak, dan mengolok-olok mereka ... Juga kejebak pada sikap, "merasa sayalah yang paling sholeh" ... Jadi ... Ya sami mawon asline ... Sama-sama melakukan dosa, hanya saja dosanya berbeda ... Lha yang lebih parah ... Sholeh enggak ... Tapi akhlak rusak banget kayaknya enggak ... Alias enggak jelas ... Masuk neraka, nanggung ... Masuk sorga belom cukup timbangannya ...

.:: PUASA SUNAH DAN BUDAYA JAWA ::.

Arif Rh Dalam khasanah kebijaksanaan jawa, dianjurkan berpuasa pada hari kelahiran kita dan juga pada hari lahir + 3 hari ... Misalnya anda lahir hari rabu, maka anda dianjurkan puasa pada hari rabu dan sabtu ... Itu menurut keilmuan budaya jawa ... Aku barusan tanya istriku, nabi Muhammad lahirnya hari apa? ... Kata istriku, nabi Muhammad lahir pada hari senin ... Loh ... Aku kaget ... Karena nabi Muhammad mencontohkan puasa sunnah senin kamis, yang sekarang diikuti umatnya ... Cocok donk dengan keilmuan jawa? ... Kan kalau lahir hari senin, puasanya yaa hari senin dan kamis? ... Yang jadi penasaran dalam pikiran saya ... Apakah nabi Muhammad sebenarnya mencontohkan puasa senin kamis? ... Ataukah beliau mempraktekkan puasa di hari lahir dan hari lahir + 3 hari, sama seperti keilmuan jawa? ... Tidak ada yang tahu ... Karena orang lebih mengikuti apa yang dilakukan nabi ... Dan bukan mengeksplorasi, apa keilmuan di balik yang dilakukan nabi ...

Rabu, 22 Juni 2016

.:: KALAU PUNYA MASALAH, BANTULAH ORANG LAIN ::.

Gobind Vashdev KALAU PUNYA MASALAH, BANTULAH ORANG LAIN Entah mengapa sebuah kalimat yang saya dengar di radio sewaktu saya masih di SD atau SMP masih menggumpal dikepala ini, kurang labih begini "menurut seorang psikolog, jika kita punya masalah, cobalah membantu sahabat atau orang lain yang sedarng dirunding masalah", kemudian lanjut penyiar itu "Bila kita mau menyempatkan menolong orang lain maka biasanya kita akan menemukan jalan keluar dari masalah diri ini" Sejak saat itu, diri yang merasa penuh dengan masalah ini, 'mencari' orang yang bermasalah dan mencoba untuk melakukan sesuatu, dan memang berkali-kali saya menemukan solusi atau paling tidak sebuah kelegaan. Ini memang terlihat paradoks, dulu saya berpikirnya keluar, yang kurang lebih seperti ini, "masa ketika kepala sakit-sakitnya malah mijitin orang lain",atau "masa kantong lagi kering-keringnya malah minjemin uang" namun semakin kita masuk lebih dalam menjelajah bathin, kita akan melihat fenomena keterbalikan ini. Pada etos Ramayana, inilah yang dilakukan Rama dalam perjalanannya ke Alengka mencari Shinta, belahan jiwanya yang diculik Rahwana. Rama membantu Sugriwa untuk mendapatkan istrinya yang diambil paksa oleh kakak kembarnya Subali. Prinsip paradoks inilah yang membawa saya melakukan olahraga/ yoga selagi perut di puncak keroncongan menjelang maghrib selama bulan Ramadhan ini. perlu diingat, olaraga atau Yoga di sini bukan dimaksudkan untuk mengalihkan rasa lapar, sebaliknya saya merasakan dan mendengarkan lambung yang berteriak minta makan serta tenggorokan yang minta air. inilah rahasianya, kita perlu mendekap sampai rasa yang sebelumnya tidak nyaman, yang hadir karena penolakan kita, menjadi teman yang tidak menggangu. Kita masih tetap merasakan lapar dan haus namun semuanya itu tidak membuat kita menderita. sama halnya dengan semua kekacauan pikiran atau bathin kita, duduklah dengan kekacauan itu, duduk dan selami dan dengan sabar sadari semuanya itu, bahkan kita tidak perlu memikirkan solusi, beri kepercayaan pada kesadaran bukan logika untuk memimpin dirimu. Kalimat Khalil Gibran "Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan"perlu ditambahkan sebuah syarat, syarat itu adalah kita perlu merawat goresan yang ada, bukan membiarkan, mengalihkan atau tidak dirasakan, sebaliknya kita perlu merasakan bahkan merayakan kehancuran hati seperti yang ditulis oleh Chin Ning Chu di bawah ini. Berbahagialah dan rayakan setiap kali hati anda hancur. Hanya saat hati anda hancur, cahaya depat masuk. Baru setelah anda merasakan dukanya penderitaan anda dapat tahu bagaimana orang lain menderita. Inilah tempat anda memahami empati. Inilah saatnya orang lain dapat melihat ke dalam mata anda, jendela jiwa dan melihat bentuk, kearifan, rasa kasih dan pemurnian kembali. Setelah merasakan kehancuran hati, anda akan menjadi lebih cantik dan menarik bagi dunia. _/|\_

Minggu, 19 Juni 2016

.:: HAL KECIL ADALAH HAL BESAR ::.

Gobind Vashdev HAL KECIL ADALAH HAL BESAR Dijajaran teman atau sahabat bahkan keluarga saya menilai diri saya hidup dengan santai. Malah mungkin ada yang memberi saya label malas, saya tidak keberatan dengan cap tersebut bahkan terkadang bangga. Memang tidak umum di tengah gencar-gencarnya pembangunan fisik,pertumbuhan ekonomi seperti saat ini,dimana produktif adalah berarti memproduksi sebanyak-banyaknya, saya lebih sering "tidak melakukan apa-apa". ada yang datang dan berkata, "gobind kalau kamu mau mengurangi waktu santaimu mungkin akan ada lebih banyak tulisan yg tercipta, materi yang dibagi atau uang yang kamu peroleh" saya menjawab, "kalau saya tidak punya waktu santai pasti saya juga tidak punya bahan untuk ditulis dan dibagi " "waktu adalah uang" adalah kalimat yang telah memporakporandakan keselarasan kita dengan hidup. walaupun jumlah alfabet lebih banyak daripada jumlah angka, namun rasanya angka-angka lebih banyak terabur dan terhambur di otak kita semua. walau kita tidak langsung memikirkan uang, namun sebagian kegiatan kita di drive oleh angka yang tercetak pada lembaran-lembaran itu. "uang bukan segalanya namun segalanya perlu uang" saya ingin menambahkan kata "keinginan" diantara kalimat diatas menjadi "Uang bukan segalanya, namun segala keinginan kita perlu uang" Kebutuhan hidup yang memerlukan uang tentulah tidak banyak, namun keinginan untuk mendapat kembali penerimaan, pujian, pengakuan dan penghormatan yang dulunya banjir diberikan sewaktu kita kecil susah kita taklukkan. Tentu tidak ada yang salah, bagi siapapun yang mengejar pundi harta atau status, setiap orang bertumbuh sesuai dengan kesadarannya, kita pun selayaknya tidak menghakimi siapapun, setiap orang mempunyai masa lalu dan pengalaman fisik dan pikiran yang berbeda satu dengan lainnya. Kita semua ingin bahagia, kita mencari kebahagiaan sesuai dengan tingkat kesadaran kita masing-masing, mereka yang mencari diluar biarkan bermain diluar, akan tiba waktunya bel kesadaran memanggil masuk kedalam. Seperti kesepian tidak mungkin disembuhkan dengan berhubungan dengan orang diluar, begitupula penerimaan, penghargaan, penghormatan, dan pengakuan, semuanya hanya didapat dengan cara menerima dan menghormati sepenuhnya diri yang didalam. Kebahagiaan adalah hal yang sederhana, bahkan hal yang paling sederhana di alam ini, semua yang diperlukan untuk berbahagia ada didalam diri setiap makhluk. Mulailah bersyukur dari hal-hal kecil, lihatlah kilau pernak pernik indah yang bergelimpangan sepanjang jalan hidup ini, seperti kata orang bijak dibawah ini "Banyak orang gagal menerima nobel, oscar, Pulitzer, tetapi kita semua dapat memperoleh kesenangan-kese nangan kecil. usapan punggung, ciuman di belakang telinga, suara keras bas, bulan purnama, tempat parkir kosong, makanan enak, matahari tenggelam yang agung, sup panas. jangan resah karena ingin memperoleh penghargaan hidup yang hebat. Nikmati kesenangan kecil yang tersedia banyak untuk kita." begitu sering dan begitu banyak yang terlewat, dan mungkin kita baru akan menyadari ketika waktu tinggal sedikit lagi. disaat saya membaca kalimat manusia bijak dibawah ini, tidak terasa airmata mengalir dan menyadari kebenarannya walau belum mengalaminya "Di akhir hidupmu, engkau akan menemukan bahwa hal- hal dulu yg engkau pikir adalah hal-hal besar sebenarnya adalah hal-hal kecil, dan semua hal yg engkau pikir hanyalah hal-hal kecil yg tidak penting adalah hal-hal yg penting dan besar" Dan Saya juga ingin mengingatkan diri sendiri kembali dua kalimat yang dikatakan Prof. Morrie Schwartz dalam bukunya yg melegenda Tuesdays with Morrie "When you realize you are going to die, you see everything much differently" "If you accept that you can die at any time - then you might not be as ambitious as you are." Kematian adalah salah satu guru terbaik yang mengajarkan makna kehidupan lebih baik daripada siapapun, hanya dengan menyadari kematian secara penuh barulah apa yang kita jalani sekarang ini boleh disebut Hidup. _/|\_

Kamis, 16 Juni 2016

.:: KENAPA MASIH SAJA GUNDAH ? ::.

Arif Rh Uang udah banyaaak banget, kok masih hidup gelisah / gak tenang ... Udah menikah, istri cantik / suami ganteng, kok masih terasa hampa ... Udah sukses, kok merasa gundah gulana ... Udah punya anak lucu-lucu, eh kok masih menderita .. Udah punya kerjaan mapan bergengsi, kok masih susah bahagia ... Mengapa bisa begitu? ... Apa sebabnya? ... Kalau kita ibaratkan roda kehidupan, kayak ban sepeda motor, maka segenap aspek kehidupan kita, adalah jerujinya ... Roda, baru enak bergulirnya, kalau jerujinya sama panjang ... Kalau jerujinya gak sama panjang, meskipun rodanya bulat, tetep aja jadi terguncang-gunc ang ... Karena posisi poros roda, tidak sama terhadap velg-nya ... Kadang, orang tidak imbang, dalam membangun jeruji kehidupannya ... Kalau anda sibuuk banget meditasi / wirid, kok tetep gelisah? ... Ya iya lah, lha wong anda enggak kerja, gak punya duit buat hidup ... Jeruji aspek spiritual anda panjang, tapi jeruji aspek keuangan anda sangat pendek ... Kalau anda, sibuuk banget nyari duit, kerja melulu, kok tetap menderita? ... Ya iyalah, karena jeruji aspek keluarga anda (anak istri / suami / ortu), gak anda berikan perhatian yang cukup, sehingga sering terjadi pertengkaran ... Uang gak banyak-banyak amat, tapi kalau aspek kehidupan lainnya seimbang panjang jerujinya, hidup anda akan enak, ayem ... Uang melimpah ruah, dimana- mana, tapi kalau panjang jeruji aspek lainnya timpang, anda hidup dalam ketidaktenangan ... Ini adalah rumus sederhana yang perlu kita perhatikan ... Keseimbangan jeruji aspek roda kehidupan ... Hidup kita gak nyaman? ... Terguncang-guncang? ... Tidak tenang? ... Serasa ada yang kurang, dan di batin jadi ngawang-awang? ... Itu tanda, aspek kehidupan kita ada yang tidak seimbang ... Cari dan kenali, mana jeruji yang terlalu pendek ... Cari dan kenali, mana jeruji yang terlalu panjang ...

Minggu, 05 Juni 2016

.:: SABAR ITU....::.

Gobind Vashdev
SATU LAGI TENTANG SABAR
Setiap posting atau berbicara kesabaran, selalu ada
yang berkata,
"kita manusia Pak, jadi namanya sabar kan ada
batasannya", "ngga bisa kita terus-terusan sabar
kan?" atau "kalau kita selalu sabar, nanti lama-lama
kita sendiri yang kecapekan."
Bila seseorang mau marah dan kemudian orang tersebut
bisa menahan emosi yang akan meledak tersebut, kita
sering menyebutnya sebagai orang sabar.
kata "sabar" sangat jauh dari arti menahan amarah,
seseorang yang sabar mempunyai mekanisme dalam
dirinya dimana gesekan ego yang menimbulkan api
kemarahan tidak terjadi.
Sebaliknya kata "Sabar" dan "Sadar" sangatlah
berdekatan, hanya manusia sedang sadar yang bisa
bersabar.
mereka-mereka yang menyadari gerak pikiran, mereka
yang menikmati proses dan juga mereka yang hidup di
saat ini (present moment) adalah orang orang yang
sadar, mereka tidak menuntut hidup harus terjadi sesuai
dengan keinginannya, namun ia tunduk dan mengalir
dengan hasrat dari semesta.
orang yang sabar bukan orang yang sekedar menahan
ketika tekanan datang namun memanfaatkan tekanan
untuk meningkatkan kemampuannya.
Mirip seperti pepatah Tiongkok yang berbunyi "ketika
badai datang, sebagian orang membangun tembok,
sebagian lagi mendirikan kincir angin".
mereka yang menahan juga pastinya membenamkan emosi
adalah bagaikan mereka yang menanam ranjau di hatinya
sendiri, yang suatu saat bila tercolek akan meledak.
seseorang yang sabar sangat menyadari bahwa
kemarahan tidak terjadi karena sebab dari luar,
kemarahan timbul 100% karena sebab dari dalam.
dengan kata lain tidak ada seorangpun atau kondisi
apapun yang mampu membuat seseorang marah, semua
kemarahan terjadi karena kita ingin dan bahkan
memaksakan kondisi tertentu, dan kita semua tahu
bahwa keinginan sumbernya dari dalam.
Disini bukan saya mengatakan kita tidak boleh
berkeinginan, kalau saya tidak punya keinginan maka
tidak mungkin tulisan status fb ini ada. Keinginan
adalah hal yang wajar dan alami, namun yang menjadi
tantangan adalah apakah kita mampu untuk tidak
melekat pada keinginan tersebut? Dengan kata lain
mampukah kita ikhlas menerima kejadian yang berbeda
bahkan bertolak belakang dari apa yang kita harapkan?
jika seseorang memahami pikirannya, tidak hanya
sekedar tahu atau mengerti secara intelektual, maka
orang tersebut juga akan mampu mengerti apa yang
terjadi disekitarnya. orang-orang ini tidak memerlukan
usaha mati-matian merubah hal diluar, ia hanya fokus
dan fokus untuk merubah didalam.
Ketika didalam beres maka tidak ada satu halpun diluar
yang bisa membuat kita marah, sebaliknya tatkala di
dalam kacaubalau maka apapaun yang terjadi diluar
akan terlihat amburadul.
Dibandingkan dengan diluar, memahami apa yang didalam
tentu jauh lebih sulit, karena kita tidak terbiasa melihat
kedalam, apalagi memahami tentang kesabaran. untuk
menjadi ahli sabar syarat utamanya adalah kita harus
memahami semua hal lainnya, dengan arti lain kita harus
sabar meniti satu-persatu bagian dalam diri.
kita bisa melihat sebuah simbolik sempurna didalam
Islam dimana Asma-Ul Husna atau 99 Nama Allah
yang dilambangkan dengan 99 butir yang membentuk
tasbih.
Kesabaran (As Shabuur) berada di paling akhir, yang
saya artikan bahwa untuk mencapainya kita perlu
perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran untuk
melewati 98 lainnya.
dan satu lagi bahwa setelah As Shabuur, butir
selanjutnya kembali bertemu dengan yang pertama Ar
Rahman (Maha Pengasih). Sabar dan kasih sangatlah
berdekatan, maka itu tidak salah kalau ada pepatah
yang berbunyi bahwa "orang sabar itu dikasihi Tuhan."
_/|\_

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...