BEKERJALAH, BIARKAN SEMESTA YANG AKAN MENUMBUHKAN
Anda hanya bekerja memberi makan bayi Anda, ternyata anatomi tubuh si bayi bertumbuh tanpa Anda upayakan. Anda yang bekerja memberi makan, semestalah yang menggarap ketumbuhan bayi Anda. Tanpa Anda minta, tanpa Anda rekayasa, tanpa Anda target, si bayi bertumbuh. Andai Anda mengusahakan pertumbuhan si bayi, misalkan, "Dalam 3 bulan ke depan bayiku harus bertambah tinggi 6 cm dan tambah bobot 6 Ons," saya yakin Anda tidak akan bisa.
Anda bekerja menanam pohon, semesta menumbuhkannya. Tinggi pohon, besar pohon, usia pohon, kekuatan akarnya, semuanya telah diatur sinergi oleh semesta. Tugas Anda--setelah menanam--hanya merawat pohon tersebut. Tidak usah Anda campur tangan menumbuhkan pohon, semesta bekerja apik menumbuhkannya.
Anda tentu bertanya, "Kenapa dia tersohor, saya tidak? Kenapa dia maju pesat, saya tidak? Kenapa dia berkembang, saya tidak? Kenapa dia ilmuwan, saya tidak. Bahkan, kenapa dia ma'rīfat bi-llāh, saya tidak?" Jawabnya karena semesta membukakan dirinya untuk dia sehingga karirnya bertumbuh, sementara untuk "saya", semesta tidak membukakan diri.
Misal Anda bertetangga dengan Sule, dekat dan biasa ngobrol bareng, kepribadian Anda juga kocak dan lucu, tetapi Sule dikenal seantero Indonesia, sementara Anda tidak. Ini karena mekanisme ketetanggaan bukan mekanisme karir.
Misal juga, Anda sama-sama di gedung Kementerian Kesehatan RI, Anda kenal baik dengan menterinya, tapi Anda hanya pekerja kebun, sehingga walaupun satu atap gedung, si menteri terkenal, sementara Anda tidak. Hal ini karena pertumbuhan karir yang dibukakan untuk si menteri, berbeda dengan pertumbuhannya untuk Anda.
Sebab ini, karir tidak cukup dibangun hanya dengan relasi kenalan, karir terikat dengan berbagai hal, terikat dengan impian, dengan minat, eksekusi kerja, tapi tidak terikat dengan "kesempatan".
Loh kok kesempatan ditiadakan? Iya. Kesempatan itu yang bisa membukakan hanyalah alam semesta. Dan kunci yang bisa membukanya hanya "diri Anda sendiri", kuncinya pada Anda, sehingga terjadi hukum "Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga si kaum merubahnya sendiri". Anda politisi jenius, banyak kenalan dengan politisi pesohor, tetapi diri Anda tidak kesohor, itu karena si politisi menggunakan dirinya untuk membuka kesempatan, sementara Anda tidak.
Karena "pertumbuhan" adalah hak paten semesta, Anda tidak bisa menumbuhkan fisik Anda sendiri, menumbuhkan tanaman Anda sendiri, yang bisa Anda lakukan hanya merawat, mengusahakan memberi makanan bernutrisi agar pertumbuhannya baik. Anak Anda dapat tinggi 125 atau 150 meter dengan bobot 65 atau 60 kg, terserah semesta yang menentukan.
Menerima mekanisme pertumbuhan dari alam semesta, Anda seperti menerima sistem random, sistem acak dan kebetulan. Anda dagang, tiba-tiba digeruduk pelanggan begitu saja, sehingga Anda berkembang. Di orang lain, biasa-biasa saja dagangnya. Anda akan jadi orang populer, kesempatannya terbuka begitu saja, tiba-tiba datang, mirip sistem random dan kebetulan, hingga Anda mencapai titik pertumbuhan yang dijatah oleh semesta. Anda mau kaya raya juga begitu. Semesta terus menumbuhkan sampai Anda mencapai titik jatahnya.
Saya suka berpikir, menyukai pemikiran spiritual, menyukai kajian-kajian ilmiah. Lalu facebook jadi trand, saya ikut facebook-an. Karena kesukaan saya berpikir, isi status saya tentu renungan ilmiah, eeh tanpa saya sangka digeruduk followers. Akhirnya saya memulai kehidupan baru. Penerbitan buku, undangan mengisi workshop, motivasi, dan seminar spiritual dari kampus-kampus, intansi pemerintah, swadaya masyarakat mulai berdatangan. Semesta yang membuka dirinya, semesta yang menumbuhkan saya. Seolah random?
Jokowi, orang kampung, tukang kayu, jadi presiden. Apa nalar, seumpama ingin jadi presiden karirnya ditempuh dari kampung? Seharusnya niat jadi presiden jalannya ditempuh dengan mendirikan partai politik, pasang iklan di televisi, bangun koneksi dengan para petinggi wakil rakyat. Tapi Jokowi memulai dengan tukang kayu di kampung untuk jadi presiden. Alam semesta yang membuka dirinya untuk Jokowi, semesta yang menumbuhkan. Seolah random?
Random jelas tidak, karena semesta tidak mengenal sistem random, prilaku partikel quantum hingga prilaku besaran galaksi-galaksi semesta semua terhitung memakai rumus pasti (bi husbān). Karena penciptaan semesta dengan bi husbān (hitungan rumus), maka ketika Anda belajar fisika, astronomi, kimia, geologi, dan ilmu-ilmu alam lain, Anda hanya akan menemukan rumus. Rumus salah, matematikanya salah, hasilnya salah semua. Sebab ini tidak ada sistem random di semesta ini. Termasuk pertumbuhan karir Anda.
Bertumbuh hak paten semesta, Anda tidak dapat memilih dan menentukan pertumbuhan Anda, tetapi Anda pemegang kunci pertumbuhan tersebut. Artinya tugas Anda berusaha, baik usaha fisik (ketekunan, kerja keras, manajemen, operasional, dll.) maupun usaha ruhani (impian, minat, cita-cita, ketidakputusaan, keikhlasan, dll.), selanjutnya semesta hitung-hitungan rumus dengan usaha Anda tersebut. Bahkan semesta menghitung pula data DNA Anda, kakek-nenek Anda dalam berupaya, datanya terendap dalam DNA Anda, lalu dijadikan komposisi rumus oleh semesta. Setelah ditemukan jumlahnya, semesta entah secara kontan ataupun kredit, memberikannya kepada Anda. Pemberian semesta itulah pertumbuhan.
Karena semesta yang hitung-hitungan pemberian untuk jatah pertumbuhan Anda, ketika semesta mendatangkannya seolah di luar perhitungan Anda. Anda memperhitungkan pertumbuhan kecil, ternyata yang wujud dalam kenyataan perwujudan besar, Anda seolah memperhiyungkan besar, ternyata yang wujud kecil, hal itu terjadi karena jatah pertumbuhan itu hak paten semesta, semesta yang menghitung, bukan Anda, dan Anda menerimanya seolah random dan kebetulan.
Sahabat saya, dr. Febi Sanda , dia dokter umum biasa, untuk menjadi Kepala Rumah Sakit Umum Daerah seharusnya mengantongi ijazah S2, dokter spisialis, tetapi semesta menghitungnya sebagai kualitas baik, point penjumlahan hitungan rumusnya tinggi, walau hanya dokter umum, semesta menetapkannya menjadi kepala sebuah RSUD. Jadi untuk gemilang tidak perlu ijazah, dukungan ini dan itu. Semesta menghitung berbeda dengan persyaratan formal yang ada. Emha Ainun Najib cuma lulus SMA, secara karir keilmuwan dia tidak memenuhi syarat, Menteri Susi Pujiastuti hanya lulusan SMP, untuk jadi pejabat selevel menteri, dia tidak memenuhi, Ahok kafir China yang secara budaya SARA di Indonesia tidak bisa berkuasa di Jakarta, tapi begitulah, peluang pertumbuhan, semestalah yang mengeksekusi. Kalau semesta telah menetapkan, tidak ada lagi yang mampu membatalkan.
Jadi, sebenarnya di semesta ini tidak perlu ngos-ngosan ingin maju, ambisius, serakah, hanya untuk hasil berlimpah. Bekerja saja yang baik, semesta akan mendatangkannya sendiri. Misal, ingin jadi penulis terkenal, tidak perlu Anda hijrah ke Jakarta yang gudang penerbit, lakukan saja dari kampung, asal kualitas usaha Anda baik, peluang dan kesempatan datang sendiri.
Dan untuk wujud pertumbuhan keduniawiaan, Anda jangan tertipu. Semesta tidak menghitung kebaikan Anda untuk mendapat jatah wah-wahan dengan duniawi. Tapi Anda bisa mengusahakannya dengan maksiat. Fir'aun kebaikannya sedikit, tapi kekuasaannya kokoh dan luas. Maria Ozawa, Sora Aoi, para artis yang jualan kemaluan secara on line, mereka semua mendapat jatah duniawi yang banyak dengan usaha maksiat. Jadi banyak kedurhakaan juga menjadi komposisi merumuskan pertumbuhan untuk Anda. Nah yang harus diusahakan dengan kebaikan adalah pertumbuhan pada derajat kemuliaan, derajat ahsani taqwīm, derajat karakter, derajat akhlak, derajat spiritual, termasuk di dalamnya mencapai ma'rīfat bi-llāh.
Sehingga untuk bertumbuh, promosi dan iklan tidak begitu pengaruh, tetapi kualitas usaha diri itulah yang menentukan hitungan semesta untuk memberikannya kepada Anda. Berusaha saja, lalu berserahlah, semesta yang mengeksekusi pertumbuhan Anda dari jalan yang tidak disangka.[]
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Tampilkan postingan dengan label Quantum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quantum. Tampilkan semua postingan
Minggu, 20 November 2016
ZIKIR REPTIL
Muhammad Nurul Banan,
ZIKIR REPTIL
Setiap kali saya zikir, saya menganfirmasikan ke alam semesta, "Yā Allāh, ij'alnā min makārimil akhlāq (Ya Allah, jadikan kami bagian dari akhlak mulia)".
Suatu hari saya sedang enek dengan mertua, lalu saya zikir dengan affirmasi "akhlak mulia sebagaimana harmoninya sistem alam semesta", esoknya tanpa sengaja saya duduk satu meja dengan mertua, dan--yang semalam hati kami masih ruwet--tiba-tiba mencair hanya lantaran ngobrol sesaat. Semesta membukakan jalan harmoninya.
Istri saya pernah terkena Kelenjar Getah Bening, stadiumnya kankernya belum tinggi, saya zikir tidak minta kesembuhan tidak apa, hanya mengafirmasi keharmonisan sistem akhlak semesta, dan semesta berkenan membukakan keharmonisannya. Cuma terapi pijat di desa tetangga, sekitar 5 km dari rumah saya, alhamdu li-llāh sembuh, tanpa kemoterapi ataupun mengikuti terapi medis modern.
Ketika saya punya masalah, dan ternyata sumbernya adalah kesalahan saya, semesta berkenan memberikan koreksinya kepada saya. Saya ubah sikap, lalu banyak keharmonisan yang saya temukan.
Yang saya lakukan, ketika zikir, pikiran saya fokuskan untuk menyaksikan keharmonisan semesta, biasanya membayangkan gambar Almagest Claudius Ptolemaeus, dimana seluruh planet-planet bergerak harmoni mengelilingi Bumi. Planet Venus, planet Bulan, planet Markurius, planet Matahari, dll., bergerak random namun sinergi di mustaqar (orbit)-nya masing-masing untuk mencapai ajalin musammā (periode orbital planet atas Bumi). Bumi sendiri diam tidak melakukan revolusi juga tidak berotasi, planet-planet lain lah yang bergerak mengelilingi Bumi untuk melayani Anda pemilik kesadaran hati nurani. Planet-planet sujud bergerak tunduk melayani pusat alam semesta yakni Bumi. Planet Bulan, planet Matahari dengan bergerak pada mustaqar dan manāzil-nya masing-masing berbagi cahaya sebagaimana kodrat Yin dan Yang, mereka semua sujud pada pusat akhlāqul karīmah yakni diri Anda yang berada di Bumi. Semua ditundukkan dan disujudkan untuk melayani akhlāqul karīmah. Dan hanya Anda lah pemilik kesadaran akhlāqul karīmah, berarti pusat alam semesta adalah diri Anda. Anda tinggal di Bumi, maka sesuai tujuan penciptaan, semua orbit planet-planet mengelilingi Bumi, planet-planet sujud melayani Anda.
Jadi alam semesta tunduk pada akhlak, mereka berkenan melayani Anda karena Anda satu-satunya makhluk yang punya potensi akhlak.
Akhlāqul karīmah lah yang bisa menundukkan, menyinergikan, dan mengharmoniskan alam semesta. Sebab ini, ketika saya zikir, affirmasi zikir saya untuk mencapai ketinggian akhlāqul karīmah. Dan benar, apapun masalah yang saya hadapi, dengki, sumpek, susahnya kerezekian, kebencian, lemah, hingga penyakit, dan semua problem-problem keseharian lantas alam semesta membukakan jalan harmoninya sendiri untuk saya, asalkan kesadaran zikir saya memohon akhlak mulia.
Suatu waktu saya merasa direndahkan sekelompok orang. Saya mantap mengalihkan affirmasi zikir saya untuk membesarkan diri saya, tujuannya biar mereka terbungkam. Ibaratnya kalau mereka dalam kerezekian dapat 1000 saya harus mencapai 2000, kalau mereka dalam pangkat jadi camat, saya harus mencapai bupati, kalau mereka cuma naik motor, saya harus naik mobil. Affirmasi zikir tersebut terus saya lakukan.
Tiga hari kemudian, efeknya sudah saya rasakan. Tanpa saya sengaja nimbrung bergaul dengan teman-teman, saya merasa direndahkan, ada rasa tersinggung. Saya bermaksud agar dihormati, malah jadi orang tersisih. Punya problem keuangan, tidak menemukan jalan keluar selain hutang. Banyak sekali kejadian-kejadian keseharian yang membuat muka saya ciut, hati gelisah, dan saya menjadi sensitif.
Lantas saya jadi mengangguk dengan "Map of Consciousness" dari David R. Hawkins tentang Force vs Power, level kesadaran tertinggi ternyata Pencerahan Diri. Hal-hal seperti ketidakmelekatan, melihat dunia apa adanya, netralitas, kepasrahan, cinta kasih, sabar, nrimo, syukur, ketenangan dan keseimbangan batin, serta masih banyak hal positif lainnya adalah hal-hal yang selalu diajarkan pada agama atau tradisi spiritual apapun. Level kesadaran Enlightenment atau pencerahan adalah level energi yang tertinggi.
Menyadari sepenuhnya akhlāqul karīmah sebagai wujud inti kesemestaan adalah level tertinggi sistem alam karena diri manusia adalah pusat alam semesta. Semesta terbentuk dalam sinergi harmoni sebagai wujud sistem akhlāqul karīmah, sehingga kemudian ketika saya zikir dengan affirmasi mencapai akhlāqul karīmah, efeknya saya banyak menemukan kejutan-kejutan kebahagiaan.
Saya juga jadi ingat dengan Otak Reptil, konsep Triune Brain dari Paul D. Maclean. Otak Reptil ini tugasnya mengatur gerak refleks dan keseimbangan koordinasi pada tubuh manusia. Otak Reptil inilah yang memberi perintah tubuh kita bergerak jika terjadi bahaya atau melindungi diri kita dari bahaya fisik dengan pendekatan "lari" atau "lawan”. Ketika Otak Reptil ini aktif, orang tidak dapat berpikir, yang berperan adalah insting dan langsung bereaksi. Ia aktif apabila seseorang merasa takut, stres, terancam, marah, kurang tidur, atau kondisi tubuh lelah.
Kita adalah bagian dari mamalia, tentu Otak Reptil tersebut ada dalam mentalitas kita. Ketika kita merasa tersinggung, refleks kita ingin melawan untuk menang, ketika kita merasa rezeki seret, kita akan bangkit mendirikan shalat Dhuha, ketika kita merasa dibenci orang, kita akan mengamalkan wirid atau mantera pengasihan, ketika kita merasa ditolak cinta, kita lari ke dukun minta pelet, ketika kita terhubung dengan semangat nasionalisme kita akan teriak "merdeka", ketika kita terhubung dengan patrotisme religius kita akan teriak "Allāhu Akbar", dan banyak lagi kerja Otak Reptil pada diri kita.
Menggunakan Otak Reptil atau Neokortek sebenarnya penurunan kesadaran, karena manusia telah diprogram akhlāqul karīmah, di dalam diri manusia ada kesadaran tertinggi di alam semesta. Lalu ketika si manusia berbuat sesuatu karena insting reptilnya, seperti saya yang zikir dengan kesadaran ingin mencapai kebesaran diri, atau seperti seseorang yang mengamalkan wirid dengan tujuan mencapai faidah tertentu, sebenarnya zikir seperti itu adalah "zikir reptil", pengamalnya turun level dari derajat akhlāqul karīmah menjadi derajat hewan mamalia.
Karena ini, bagi saya, affirmasi zikir, affirmasi meditasi, affirmasi kerja, affirmasi ibadah terbaik adalah "ij'alnā min makārimil akhlāq", syukur hingga mencapai ikhlas, yang saya sendiri tidak tahu ikhlas itu apa.
FENOMENA ALAM DONALD TRUMP
Muhammad Nurul Banan,
Ketika pusat Bumi, Kutub Utara, menarik kuat jarum kompas, secara berimbang, Kutub Selatan menyeimbangkannya. Ketika Anda memasukan benda ke dalam air, secara berimbang air bereaksi menyeimbangkan dirinya, air tumpah dengan volume sama dengan berat jenis benda yang dimasukkan ke dalam air. Dan seterusnya, semesta selalu berpola seimbang.
Karena ini ketika banjir bandang Nabi Nuh A.S. meluluhlantakkan kaum penentang Tuhan, semesta lantas menumbuhkan dan membesarkan Kaisar Nimrod (Namrūdz) yang punya misi "menantang Tuhannya Nuh" yang telah memusnahkan nenek moyangnya. Dibangunlah menara Babel yang mencakar langit sebagai bentuk tantangan Nimrod pada Tuhan. Tidak tanggung-tanggung, keangkaramurkaan Nimrod lakukan untuk menentang Tuhannya Nuh, hidup tanpa etika dan aturan moral menjadi acuannya, dia ngamuk kepada Tuhan.
Nimrod makin menjadi, semesta lantas menumbuhbesarkan Ibrahim A.S. sebagai versus Nimrod dan penerus kerisalahan spiritual Nuh A.S. Ibrahim bukan tokoh politik, bukan tokoh militer, bukan penguasa, bukan pula orang kaya raya. Apa kekuatannya untuk menentang Nimrod? Bagi Nimrod, melenyapkan Ibrahim semudah membunuh nyamuk. Tinggal tangkap, jerat tali, lempar ke alun-alun api, selesai. Namun semesta yang sedang menyadari dirinya perlu penyeimbang, dia tidak berkenan runtuh begitu saja. Segera alun-alun api untuk membantai Ibrahim dijadikan bardan wa salāman (dingin dan menyelamatkan). Tanpa kekuatan politik, kekuatan militer, kekuatan kekuasaan, kekuatan harta benda, enteng-enteng saja bagi semesta mencipta fenomena alam di luar kekuatan manusia, demi keseimbangan dirinya.
Ketika negara-negara dunia terjebak dalam Perang Dunia II, dengan kesederhanaan riset ilmiah, semesta mengajarkan rumus E=MC². Si penemu rumus, Albert Einstein, sesudah Jerman mengalami kekalahan pada Perang Dunia I, Einstein makin getol mendesak presiden Roosevelt untuk menghentikan ‘The Manhattan Project’, yakni proyek pengembangan nuklir, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan, pemerintah Amerika mulai menciptakan bom atom. Harry Truman diangkat menjadi Presiden setelah Roosevelt wafat. Waktu itu Perang Dunia ke-2 sedang berkecamuk. Serangan Jepang di Pearl Harbour sepertinya membuat emosi presiden Truman makin memuncak, dia pun memutuskan untuk melemahkan kekuatan Jepang dengan menggunakan bom atom. Keputusan presiden Truman ini cukup mengejutkan dunia.
Bayangkan, Albert Einsten tidak pernah menginginkan rumus E=MC² dikembangkan sebagai alat membunuh, usai Perang Dunia I dia berupaya keras mencegah pengembangan nuklir A.S., bahkan seusai Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan bom atom A.S., Einstein lah orang yang paling menyesali temuannya sendiri. Tetapi semesta berkehendak lain, kehendak semesta bukan kehendak Einstein. Semesta harus menyeimbangkan dirinya, dan meledaklah bom atom di Hiroshima dan Nagasakti. Hanya dengan rumus E=MC² semesta menyeimbangkan dirinya dari huru-hara Perang Dunia II. Termasuk NKRI merdeka dari jajahan Jepang lantaran rumus E=MC² ini.
Saat gerakan Islam intoleran muncul, segera semesta memunculkan Islam liberal. Saat di Eropa, agama dengan misi Tuhan berkuasa dan mengendalikan semua sistem kehidupan, dari urusan WC sampai urusan kenegaraan, segera semesta memunculkan gerakan anti Tuhan (ateis). Dan terus seperti itu.
Dan Anda tercengang-cengang, bagaimana bisa Donald Trump, tokoh yang kabarnya rasis, hedonis, fulgar dan antagonis, bisa diangkat oleh semesta sebagai Presiden A.S. yang artinya sosok Trump akan memimpin kebijaksanaan dunia? Bayangan dalam benak saya sendiri menjadi kacau dan tertawa sendiri ketika membayangkan istri Trump, "Kok bisa ya karakter Maria Ozawa jadi ibu negara?"
Semesta mengangkat Trump sebenarnya cara semesta mengambil keseimbangan dirinya. Di dunia belahan Timur, khususnya Timur Tengah, rasa anti non muslim sedang begitu kuat, rasa intoleran sedang sangat kencang, muncul para penyembelih leher manusia dengan mengambil tema "jihad". Banyak asumsi berkomentar konflik SARA yang berkecemuk di Timur Tengah didalangi A.S. sendiri, dan mungkin ada benarnya, tetapi yang dicatat semesta adalah rasa hati manusianya. Karena konflik-konflik SARA tersebut, rasa hati manusia di sana selalu mengunggah rasa rasis, termasuk rasa anti terhadap non muslim. Belum lagi konflik bangsa Arab dengan Israel, konflik kedua suku keturunan Ibrahim A.S. juga sangat kuat menyokong rasa anti muslim dan anti non muslim.
Makin hari rasa rasis itu makin mengoyak-oyak keseimbangan semesta. Dan akhirnya semesta bertindak menyeimbangkan dirinya, Donald Trump yang terkenal tokoh "anti Islam" dengan sangat mengejutkan menjadi Presiden A.S. Hal yang oleh warga A.S. sendiri sukar dipercaya, karena ini demonstrasi menolak hasil pemilu A.S. terjadi di berbagai wilayah A.S.
Tidak nalar dan tidak terduga, Trump menang, persis seperti Nimrod yang menyangka kalau alun-alun api yang dia sediakan untuk Ibrahim akan mampu menghancurkan tubuh Ibrahim hingga ke sel terkecilnya, tetapi ternyata apinya dingin. Persis seperti rumus E=MC² yang ternyata bisa menghentikan kisruh Perang Dunia II, walaupun disangka oleh penemu rumusnya sebagai tehnologi pembunuh manusia paling mengerikan, tetapi ternyata dari rumus E=MC² itu semesta mengharmonikam dirinya. Perang berakhir.
Kemenangan Donald Trump bukan sekedar ancaman bagi muslim, tetapi ancaman bagi dunia, tapi semesta bertindak memenangkan Trump karena semesta harus menetralisir dirinya dari getaran "anti non muslim" dengan memasang "anti muslim". Imbang.
Tinggal kita di NKRI seperti dalam kasus Ahok sekarang ini. Ketika demontrasi pertama, saya masih sangat mendukung, karena biar si pelaku tahu kalau Islam itu berwibawa, tidak bisa disembrononi. Hasilnya si pelaku meminta maaf dan polisi siap memroses. Belum lagi ada efek hasil, eeh muncul demonstrasi kedua, eeh kabarnya akan muncul lagi demontrasi ketiga, 25 November. Ini sudah bukan bela Islam, tapi sebaliknya, merendahkan martabat muslim.
Si pelaku penistaan ayat jelas orang goblok tidak ketolong (jahlul murakkab) jika dia yang sedang mencalonkan diri jadi pemimpin di tengah mayoritas muslim sengaja-sengaja melecehkan ayat agung kehormatan muslim, kalau ini disengaja jelas hanya orang goblok yang melakukan. Ditambah si pelaku sudah meminta maaf berkali-kali dan polisi sudah memroses hukum. Jadi alasan apalagi?
Mau diterus-teruskan diskriminatif dengan alasan # bela ini dan itu, atau mau menahan diri, itu terserah Anda. Tetapi Donald Trump sudah dimunculkan oleh semesta, makin kuat rasa diskriminatif Anda terhadap SARA, maka Anda makin mengokohkam Trump sebagai pemimpin dunia.Yang padahal semesta ini bekerjanya ditentukan oleh rasa hati Anda.[]
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...