Tampilkan postingan dengan label Wisdom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisdom. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Januari 2018

MEMAHAMI POHON KEHIDUPAN DAN POHON KEMATIAN

Kalau konflik itu bukan diakari oleh sentimen dan kepercayaan agama, maka tidak mungkin menjadi begitu kompleks dan berlarut-larut seperti ini.
Karena alasan bahwa itu sengketa tanah / wilayah , adalah sebuah kedustaan atau penutupan belaka dari hal yang sebenarnya, yaitu : memusnahkan yahudi seperti diperintahkan dalam al quran. Dan utk itu maka segala macam penghalalan cara digunakan, gali dusta tutup dusta tak berkesudahan.
Seandainya pihak-pihak adalah berpijak pada kejujuran dan fakta, maka rekonsiliasi sebetulnya bukan hal yg sulit. Tapi justru tepat pada faktor inilah sebagai sebuah hal yg tidak pernah terjadi. Dusta demi dusta diluncurkan untuk menghasut dan merekrut lebih banyak orang dari daerah lain, sehingga akhirnya konflik meluas menjadi issue dunia.
Bisa menyanggah pernyataan ini dengan argumen dan bukan dengan hasutan / tuduhan / caci maki?
Wong Pethok : Sebenarnya setiap manusia itu bisa menilai mana yg baik dan mana yg buruk, asalkan mau mengosongkan diri/ netral/ tdk berpihak barulah bisa menilai dg benar, tdk mendahulukan ego.
Yohanes Johan Cahyadi : *tetap sadar diri untuk tetap menjadi penonton, dan bukan bidak catur....
Kristian Hartino : persoalan beragama di bumi ini bukan siapa yg mulai duluan bikin keonaran/chaos di bumi. Chaos (Iblis dan pekerjaannya) sudah ada sejak manusia belum berdosa.
Jadi persoalannya mengapa manusia mau diajak chaos oleh Sang Chaos (Iblis). Hingga kini, ya persoalannya itu2 aja. Semakin kita berbuat mencari manusia/bangsa/agama penyebab chaos lalu membela agama sendiri (bukan Tuhan).. maka diri kita semakin masuk ke dalam pusaran chaos yg dikerjakan Sang Penuduh.

Danz Suchamda : 
Bisakah anda melihat pola iblis ini (ingatlah lagi kisah tentang bagaimana kejatuhan malaikat yg kemudian disebut iblis itu) :

SEMAKIN INGIN MENJADI BENAR, AKAN SEMAKIN JAUH DARI KEBENARAN TUHAN.
Karena malaikat itu jatuh karena ingin dibenarkan.
Maka jangan pikir asal modal INGIN benar atau MERASA benar lalu serta merta sudah benar di hadapan Tuhan.
Jadi jelas bahwa langkah menuju Tuhan adalah dengan memakan buah Pohon Kehidupan....alias memahami realitas/ kasunyatan.....ngerti sangkan paraning dumadi. Dan itu artinya adalah gemblengan melalui proses matangnya buah Pohon Kehidupan itu sendiri. Yang mana artinya adalah melalui proses naik dan turun, salah dan benar, jatuh dan bangun, keliru dan mengoreksi diri.
Oleh karena itu, langkah menuju Tuhan melalui koreksi diri sudah jelas ada di semua agama-agama , yaitu :
1. Menyelidiki segala hal ihwalnya dengan seksama dan jujur. Dengan cara komunikasi, menyimak dan understanding (pengertian).
Anda boleh mendebat, tidak setuju, dan mempertanyakan segala sesuatunya........tapi itu berbeda dengan menghasut, mengingkari, memutar-balik, berdusta atau caci maki mengancam-ancam.
2. Mengakui kesalahan
3. Melihat dan memahami kesalahannya dimana yang dipandu oleh pengertian benar.
4. Menyesal
5. Mengubah sikap

Apakah anda punya konsep pertobatan versi lain yang berseberangan dengan 5 point di atas wahai saudaraku umat agama-agama, khususnya muslim?
Kalau iya, katakanlah.

Inilah kasunyatan yang saya ajak saudara2 semua untuk menyelami lebih mendalam, karena sifatnya yang sangat halus dan elusive (apa bhs indonya?).....'tidak dapat digenggam"?
Hidup itu mengalir, sedangkan mati itu diam kaku.
Maka kalau saudara menggenggam 'kebenaran' sebetulnya sudah menuju kematian. Karena hanya sesuatu yang mati yg dapat anda genggam semaunya. Karena barangsiapa ingin menuju Hidup, ia harus menemukan Pohon Kehidupan, yang artinya adalah segala fenomena perubahan, pertumbuhan, percabangan, mekar dan berbuahnya realitas ini. Itulah yg disebut DHARMA. Sedangkan bila mengingkari realitas, menggenggam yang mati / beku karena ego ingin demikian, maka disebut Adharma.

Wong Pethok : //Jgan menjudge org lain kafir, syirik dan masuk neraka krn tdk seagama. Dg begitu yg menghukumi tdk sadar klo dirinya sudah mendua, syirik, krn itu sebenarnya adalah hak Allah.//
Danz Suchamda : 
Betul !
Manakala berpikir bahwa ada pihak lain selain dari Tuhan yang menciptakan fenomena kafir, syirik dsb...senyatanya dia TELAH MENDUAKAN TUHAN. Berpikir bahwa ada pihak lain sebagai sumber hal-hal itu. Padahal, hanya Tuhanlah sumber dari segala sesuatu fenomena yang ada , pernah ada dan akan ada di semesta ini.

Jadi.......kalau tidak terima 'tanah' itu saat ini dihuni oleh orang Yahudi. .......silakan lawanlah Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi.
Kalau anda hendak memusnahkan suatu kaum atau bangsa di dunia ini yang mengada atas ciptaan Tuhan.......silakan lawanlah Tuhan yang menciptakan mereka.
Kalian mampu melawan dengan apa?......... tidak lain tidak bukan hanya dengan dusta demi dusta untuk menciptakan "realitas yang lain".
Selamat! Anda sudah berdiri di seberang realitas.
Tahu kan istilah khusus yg digunakan untuk merujuk pada "Pihak di Seberang Realitas" (The Other Side / Sitra Achra)?
Baca saja tulisan2 saya sebelum ini, maka anda akan jelas.

Tolong diperhatikan....saya bukan mau mengubah agama anda. Tapi saya hanya hendak menyadarkan mereka yang mampu sadar. Dan saya tahu , jumlahnya tidak banyak.
Karena sudah pasti tetap harus digenapi apa yang sudah dinubuatkan dalam Kitab-kitab para Nabi.....bahwa harus ada pasukan dajjal yang akan berusaha melawan Tuhan. Yang menimbulkan peperangan, dan kekacauan di atas muka bumi ini pada akhir jaman.
Oleh karena itu, ini hanyalah sekedar wacana pertimbangan belaka bagi anda untuk membuat pilihan. Ingat, sekedar wacana membuka wawasan. Tapi untuk selanjutnya terserah anda.
Saya tidak peduli apa pun pilihan anda. Karena itu bukan urusanku, manusia, tapi urusanmu sendiri dengan Tuhan Sang Pemilik Realitas.

Maaf, mohon jangan keliru mengartikan ini secara negatif. Bukankah sebagai saudara sebangsa yang memiliki itikad baik kepada saudaranya harus saling ingat mengingatkan supaya saudaranya tidak terjatuh dalam kesengsaraan?
Semoga anda tidak membuat pilihan yang keliru.

Rahayu! 


Source : Danz Suchamda

Rabu, 20 Desember 2017

MASUKNYA ISLAM DI NUSANTARA

Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan adat dan kebudayaan yang bernilai tinggi. Di jaman Mataram Kuno, sekitar tahun 750M bangsa kita telah mampu membuat maha karya dunia semacam Candi Borobudur, dimana dimasa-masa ini pasukan Islam sedang berusaha menjajah Bizantium. Bahkan di jaman Majapahit, wilayah Nusantara meluas hingga mencakup sebagian selat Malaka. Namun kebesaran Nusantara perlahan terkikis dengan hancurnya kerajaan Hindu Budha ini.
Sejarah mencatat bahwa hancurnya Majapahit adalah akibat pengaruh agresi kerajaan Islam Demak. Tak banyak jejak untuk melacak bagaimana sejarah penghancuran Budha Nusantara oleh Islam. Tak banyak pula informasi sejarah mengenai kapan dan bagaimana masuknya Islam ke bumi Nusantara ini. Kehancuran Majapahit, serta perebutan kekuasaan antar para wali setelah runtuhnya Majapahit, menyebabkan penjelajah Eropa dengan mudah memonopoli pasar rempah di Indonesia.
Menurut para intelektual Islam, terdapat 3 teori mengenai asal muasal datangnya Islam ke Indonesia. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Teori ketiga, adalah Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah pada abad ke-12 atau 13.
Menurut para pakar, Islam masuk Indonesia secara DAMAI, bukan dengan peperangan. Islam masuk melalui para pedagang dan pendakwah Arab yang bermigrasi ke bumi Indonesia. Benarkah demikian?
Saat ini team kami sedang melakukan riset untuk menggali sejarah penyebaran Islam, dan kemunduran Budhisme di Indonesia. Namun sebelum itu marilah kita melihat beberapa tulisan kuno yang mungkin bisa sedikit membuka mata kita mengenai penyebab kemunduran agama Budha, dan upaya2 para wali untuk menyebarkan Islam di Indonesia.
Terdapat tulisan sejarah yang sedikit membuka mata kita mengenai seperti apa sesungguhnya cara Islam masuk ke Indonesia. Teks sejarah ini bernama DARMOGANDHUL. Tulisan ini adalah karya sastra Jawa klasik, berbahasa jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Suluk ini ditulis oleh Ki Kalamwadi (nama samaran, kemungkinan besar adalah Ronggo Warsito), waktu penulisan hari sabtu legi, 23 ruwah 1830 Jawa. Isi teks menceritakan jatuhnya kerajaan Majapahit karena serbuan tentara Demak Bintara yang dibantu para wali.
Kita tentu saja tidak dapat mempercayai keakuratan sejarah DARMAGANDHUL 100%, tapi bagaimanapun juga isi suluk ini mengagetkan kita yang selama ini mengira bahwa masuknya agama Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai tanpa muncratan darah, terpenggalnya kepala dan tetesan air mata. Namun kaburnya para pemeluk Hindu dan Budha ke berbagai wilayah, misalnya ke Pulau Bali, ke kawasan pegunungan dan hutan rimba, adalah salah satu pertanda bahwa mereka menghindari tindakan pembantaian massal oleh sekelompok orang yang ingin menggulingkan kekuasaan berkedokkan agama.
Berikut ringkasan dari Darmo Gandul
Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti agama Islam. Lantas, Ki Kalamwadi pun menjawab:
"Aku tidak mengerti. Tetapi guru yang dapat dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti memeluk agama Islam. Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum tahu menjadi tahu."
Pada zaman dulu Majapahit (1292-1478) bernama Majalengka. Majapahit hanyalah kiasan. Bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit dianggap sebagai nama kerajaan. Prabu Brawijaya V adalah raja terakhir yang berkuasa. Ia menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam. Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam. Ketika sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama itu.
Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa kecuali kemuliaan agama Islam. Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad ( Sunan Ampel ). Ia mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka. Sang Prabu mengabulkan. Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento-Surabaya. Banyak ulama Arab kemudian datang ke Majalengka. Menghadap sang prabu mohon izin tinggal di wilayah pesisir. Permohonan itu dikabulkan. Akhirnya berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.
Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam tinggal di daerah Bonang, termasuk wilayah Tuban. Sayid Kramat ( Sunan Bonang ) namanya. Ia maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah.
Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya. Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama Budha dan memeluk agama Islam. Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang mengikuti ajaran Islam. Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun. Menyembah kepada Budi Hawa. Budi adalah Dzat Tuhan. Sedangkan Hawa adalah minat hati.
Sang Prabu mempunyai seorang putra bernama Raden Patah. Ia lahir di Palembang dari rahim Putri Campa. Sejak kecil Raden Patah telah dididik secara Islam. Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen (Husein / Raden Arya Pecattanda ).
Sang Prabu bingung memberi nama putranya. Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di pegunungan. Dari jalur ibu disebut Kaotiang. Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib. Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan. Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu itu dinamakan Bambang. Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya lahir di tempat lain. Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain. Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama Babah Patah.
Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cina dan Jawa disebut Babah. Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk menentangnya. Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak. Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat. Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel. Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak. Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang. Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam. Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya Pecattanda.
Ajaran Islam makin berkembang. Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan. Sunan artinya budi. Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk. Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin. Pada waktu itu para ulama baik budinya. Belum memiliki kehendak yang jelek. Banyak yang mengurangi makan dan tidur. Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut Sunan. Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.
Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya. Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai Brantas yang meluap. Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang. Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat. Sudah Islam atau masih beragama Budha . Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan Bandung Bondowoso. Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka. Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka. Setiap hari itu, mereka bersama-sama makan enak dan bergembira ria.
Kata Sunan Bonang, " Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah. Artinya, tidak hitam, putih pun tidak. Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah." Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.
Kutukan Sunan Bonang terhadap Seorang Wanita
Hari terik. Waktu sholat dhuhur tiba. Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu. Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk. Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud. Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah. Tak terlihat laki-laki di sini. Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun. " Hai Gadis, aku minta air simpanan yang jernih dan bersih," kata sahabat itu. Perawan itu terkejut. Ia menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki. Ia salah paham. Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya. Ia menjawab kasar :
"Kamu baru saja lewat sungai. Mengapa minta air simpanan. Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya."
Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit. Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan. Tiba di hadapan Sunan Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan. Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam. Keluarlah kata-kata keras. Sunan menyabda tempat itu akan sulit air. Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua. Begitu juga dengan kaum jejakanya. Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua.
Terkena ucapan Sunan Bonang, aliran sungai Brantas menyusut. Aliran sungai berbelok arah. Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun. Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang. Dan setelah itu kering seketika. Sampai kini daerah Gedhah sulit air. Perempuan-perempuannya menjadi perawan tua. Begitu juga kaum laki-lakinya. Mereka terlambat berumah tangga.
Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri. Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing. Menempati sumur Tanjungtani yang sedang dikerumuni anak cucunya. Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum mahluk halus dan menonjolkan kesaktian. Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang. Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka mengganggu lagi.
Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat menemui Sunan Bonang. Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan Bonang. Badannya terasa panas seperti dibakar. Setan-setan itu berhamburan. Lari tunggang langgang. Mereka lapor ke Kediri menemui rajanya.
Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis. Buta Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha. Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri. Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama negara.
Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya. Buta sendiri artinya bodoh. Lo bermakna kamu. Dan Caya dapat dipercaya. Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat dipercaya.
Ketika Prabu Jayabaya muksa ( mati bersama raganya hilang ) bersama Ni Mas Ratu Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga ikut muksa. Ni Mas kemudian menjadi ratu setan di Jawa. Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Angin-Angin. Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti kepada Ni Mas Ratu Angin-Angin ( Nyi Loro Kidul ). Buta Locaya menempati Selabale. Sedangkan Kyai Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar agar tidak merusak desa sekitar.
Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas kasur babut dihias bulu merak. Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Paji Sektidiguna dan Panji Sarilaut. Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis.
Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang. Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para setan dan penduduk daerah itu. Mendengar laporan Nyai Plencing, Buta Locaya murka.
Tubuhnya bagaikan api Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang. Para setan dan jin itu bersiap berangkat. Lengkap dengan peralatan perang. Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum. Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai Sumbre. Sementara setan dan jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.
Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara. Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan jin sedang menghadang perjalanannya. Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api. Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh. Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang. Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan hawa panas. Dua sahabatnya pingsan dan demam.
Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru. Sunan Bonang dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedah karena tidak jelas agamanya. Sunan Bonang berkata;
"Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak diberi. Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air. Sedangkan jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang kuminai air itu perawan desa."
Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang.
“Salah yang tak seberapa, apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi penderitaannya dirasakan oleh banyak orang. Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman berat karena merusak daerah.”
(Lihat peristiwa Muhammad menyuruh pengikutnya menyerang suku Yahudi di Medinah, Bani Qaynuqa, gara2 seorang wanita Muslim diganggu oleh seseorang anggota Bani Qaynuqa. Ini dipakai Muhammad sebagai alasan untuk menyerang dan mengusir Bani Qaynuqa dari tanah nenek moyang mereka itu. Sifat Muhammad ini dicontoh Sunan Bonang : cepat naik darah, tidak seimbang, tidak memiliki maaf, sombong, selain licik dan haus kekuasaan.)
Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka. Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah. Buta Locaya berkata masygul :
" Ucapan tuan bukan ucapan yang paham aturan negara. Itu pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, mengandalkan kesaktian. Janganlah sombong. Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu berbuat sekehendak hati. Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa sebab.”
Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan, tapi mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa. Tuan akan dijauhi orang2 baik budi bila tetap berbuat demikian. Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil ? Aji Saka menjadi raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa seluruh sumber air di Medang. Ia Hindu. Suka membuat sulit air.
Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak, tetapi ternyata tidak demikian. Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak tahan digoda anak kecil. Lekas naik darah. Sunan apakah itu ?
Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat kebajikan. Tuan menyiksa orang tanpa dosa. Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah menciptakan neraka jahanam. Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di dalam air mendidih."
Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selam dengan manusia, tetapi hamba masih memperhatikan nasib manusia. Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan kepada keadaan semula. Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba mohon agar dikembalikan. Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba teluh supaya mati. Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut Selatan."
Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya. Ia berkata,
" Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku. Aku hanya bisa membatasi saja. Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti semula."
Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya.
" Kembalikan sekarang juga. Bila tidak, tuan akan hamba ikat."
Sunan Bonang menjawab:
" Sudah, jangan berbantah lagi. Aku mohon diri akan berjalan ke timur. Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di daerah dan kesedihan manusia dengan setan. Kumohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya menjadi asam. Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam. Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini bernama Desa Sumbre. Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran."
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai. Terkenal sampai kini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan Kawanguran. Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan akal. Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang berkepala dua di bawah pohon Trenggulun. Banyak buah trenggulun yang berserakan. Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya.
Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin bertambahlah kemarahannya.
" Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita. Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan mengetahui tekat para wanita Jawa.”
Sunan Bonang pun berkata,
" Kau ini bangsa jin. Jadi kalau berani berdebat dengan manusia, namanya jin yang sombong.”
Kata Buta Locaya,
" Apa bedanya. Tuan Sunan, saya ratu Jin,"
Sunan Bonang berkata,
“Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan kelak, bahwa aku berdua debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.”
Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara. Ketika menjelang salat asar, beliau akan bersiap salat. Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba. Sumur itu kemudian digulingkan. Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk bersalat. Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling." Setelah salat, Sunan melanjutkan perjalanan. Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon dadap yang berbunga. Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya. Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang berjatuhan.
Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan. Patung itu berukuran sangat besar. Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki. Lingkar pinggulnya 10 kaki. Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat. Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya diludahi.
Buta Locaya marah lagi.
"Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan. Kini menjadi jelek. Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya. Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?"
Sunan Bonang :
"Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi sesaji dan diberi kemenyan. Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin."
Kata Buta Locaya,
"Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya dan berkuasa. Bukan Tuhan, maka mereka layani. Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia. Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ? Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum. Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman. Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh. Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar.Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia."
Sunan Bonang Khilaf. Buta Locaya berkata,
" Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ? Mendapat wahyu agar pandai dan cermat penglihatannya. Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula, mendapatkan wahyu mulia. Dia pun pandai dan kaya ilmu. Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi. TUAN BERPEDOMAN KITAB, ORANG JAWA PUN BERBEDOMAN PETUAH DARI PARA LELUHURNYA. SAMA2 MENGHARGAI KABAR, LEBIH BAIK MENGHARGAI KABAR DARI LELUHUR SENDIRI DENGAN PENINGGALAN YANG MASIH BISA DISAKSIKAN.
Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup. Tanah berpasir murah air. Apa saja ditanam dapat tumbuh. Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya. Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya. Silakan tuan ukur. Seandainya tidak benar, pukullah.
Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya. Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi ? Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini. Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud. Tuan akan kami keroyok. Dapatkah tuan menang ? Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ? Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba ? Mari ke Selabale menjadi murid hamba."
Sunan Bonang :
" Tak sudi mengikuti kata-katamu. Kau hantu brekasaan."
Buta Locaya berkata,
" Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja. Abadi selamanya. Tuan belum tentu seperti hamba. Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya. Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan, MENENTANG ADAT, MENENTANG AGAMA, MERUSAK KEBAIKAN, MENGGANGGU AGAMA LELUHUR. Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado."
Sunan Bonang tak menggubris. Ia berkata :
" Dadap ini bunganya kunamai celung, buahnya bernama kledung, karena aku kecelung ( sesat ) pemikiran dan salah bicara. Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan pemikiran. Sudah, aku akan pulang ke Bonang."
Buta Locaya berkata,
" Ya sudah, silakan tuan pergi. Di sini tak ayal akan membikin panas. Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan, menyebabkan mahal air, dan mengurangi air."
PEMBUNUHAN SYECH SITI JENAR
Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang patih tentang adanya surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi kerusakan di wilayah itu akibat ulah Sunan Bonang. Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya. Setelah tiba, sang patih melaporkan semua yang telah terjadi. Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu kemana.
Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di Pulau Jawa pergi. Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan menyebarkan agama Islam. Apabila menolak akan dibunuh.
Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh patihnya, karena ulama Giripura telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan kerajaan sendiri. Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu. Maka, diseranglah Giri hingga kocar-kacir.
Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Prabu Brawijaya di Majalengka, Sunan Bonang mengajak Sunan Giri ke Demak. Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati Demak (putera PB alias Raden Patah) dan mengajak menyerbu ke Majalengka.
Kata Sunan Bonang (Muslim tulen yg penuh akal bulus itu),
"Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka yang telah berumur 103 tahun. Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak menjadi Raja. Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus. Jangan sampai ketahuan. Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud dengan senjata perang. Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala tentaranya."
(Baca cerita2 Modus Operandi Jihad Islam diseluruh dunia Inilah cara Muslim mengakali musuh mereka : dengan cara tipu daya.)
Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula tidak mau mengikuti saran Sunan Bonang.
" Saya takut merusak negeri Majalengka. Melawan ayah, apalagi melawan seorang raja yang telah memberikan kebahagian dan kebaikan di dunia. Kata kakek saya di Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski beragama Budha atau pun kafir."
Mendengar jawaban demikian, Sunan Bonang berkata,
" Meskipun melawan ayah dan raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir. Merusak kafir tua kamu akan masuk surga. Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar. Seberapakah pengetahuan santri Ngampelgading. Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku, Sayid Kramat, Sunan Bonang yang dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul anutan semua umat Islam. Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang. Tetapi, semua manusia se Jawa masuk Islam. Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.
Tuhan masih cinta kepadamu. Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan dirimu. Buktinya, kamu diberi nama Babah. Babah itu artinya tidak baik. Hidup hanya untuk mati. Benih Jawa yang dibawa Putri Cina. Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan raksasa. Itu memutus cinta namanya. Ayahmu tetap berhati tidak baik. Karena itu, balaslah dengan halus. Pokoknya jangan kelihatan. Dalam hati, isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya."
Kemudian, Sunan Giri (juga seorang Muslim tulen yang penuh dengan akal bulus) menyambung,
" Aku tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku tidak menghadap ke Majalengka. Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan disuruh memandikan anjing. Banyak orang Cina yang datang ke Jawa. Di Giri banyak yang ku-Islamkan. Sebab, menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan surga. Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu. Aku takut kepada patih dan ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka berzikir. Katanya, sakit ayan pagi dan sore. Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini."
Jawab sang Adipati Demak,
" Ayahanda memburu tuan itu betul. Karena tuan Sunan mendirikan kraton. Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja yang lebih berkuasa. Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena Sunan tidak menyadari makan minum di Pulau Jawa."
Namun, Sunan Bonang berkata lagi,
"Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan rugi. Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua. Atau kepada menantunya, Ki Andayanigrat di Pengging. Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja. Mati melawan kafir mati sabilillah, mati menerima surga. Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir. Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan menghilangkan agama Budha."
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pelindung-pelindungmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung-pelindungmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS 9:24)
Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan mau merusak Majalengka. Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan orang tuanya karena kafir.
Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara datang semua ke Demak. Berkumpul untuk mendirikan masjid. Kemudian sembahyang bersama di masjid yang beru didirikan. Usai sembahyang pintu masjid ditutup. Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit. Bila semua setuju akan segera dimulai. Semua setuju dan para bupati pun setuju.
Hanya Syech Siti Jenar yang tidak setuju. Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar. Yang disuruh membunuh adalah Sunan Giri.
(Satu lagi tindakan Islami para Sunan yang mencontoh kelakuan nabi! Bunuh mereka yg tidak sepaham denganmu, karena itu dianggap melawan nabi dan melawan Islam)
Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat menjadi raja menguasai tanah Jawa bergelar Senopati Jimbuningrat dengan patih dari atas angin bernama Patih Mangkurat. Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati. Berjalan berarakan seprti Grebeg Maulud. Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung, para sunan dan para ulama.
Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia. Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan. Bagaimana cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.
PERANG BUDHA MAJAPAHIT VS ISLAM DEMAK
Alkisah, sepulang dari Giri, sang patih melaporkan hasil penaklukan terhadap Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena. Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang. Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.
Dalam berperang mereka lincah seperti belalang. Sementara pasukan Majapahit menembaki. Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima peluru. Senapati Setyasena menemui ajal.
Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung. Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.
Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah Kertosono. Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat melawan dengan perang.
Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan dikirim ke Demak. Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat terkenal (Menak Tanjangpura), mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.
Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Para Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam mendukung. Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi Surya Alam di Bintoro.
Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah kepada Patih cara menghadap kepada raja. Surat dari Pati itu bertanggal 3 Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan wuku Prabangkat. Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.
Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja. Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat itu.
Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut. Diam membisu, lama tak berkata. Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang memiliki kemauan seperti itu. Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak dan merusak Majapahit.
Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka. Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin. Tidak masuk akal akan perbuatan jelek mereka itu.
Pikiran sang raja sangat gelap. Kesedihan itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi hutan. Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan para ulama serta bupati tega melawan Majapahit. Patih pun menjawab tak mengerti. Ki Patih juga heran, pemikiran orang Islam ternyata tidak baik, diberi kebaikan membalas dengan kejahatan.
Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya sendiri. Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyebarkan agama Islam.
Dari kebingungan hatinya, ia menyumpahi orang-orang Islam.
" Kumohonkan kepada Dewa yang Agung, balaslah kesedihan hamba. Orang-orang Islam kelak terbaliklah agamanya, menjelma menjadi orang-orang kucir, karena tak tahu kebaikan. Kuberi kebaikan membalas dengan kejahatan."
Sabda sang raja yang berada dalam kesedihan itu disaksikan oleh jagad. Terbukti dengan adanya suara menggeletar membelah bumi. Terkenal sampai sekarang, ulama terbaik namanya, tengkuknya dikucir putih.
Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang Prabu meminta pertimbangan dari Patih. Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk menguasai Majapahit harus dengan cara peperangan. Seumpama diminta dengan cara baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja telah lanjut usia.
Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja. Jangan sampai merusak bala pasukan. Patih diminta memanggil Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga karena putra yang ada di Majapahit belum saatnya maju berperang.
Setelah memerintahkan demikian, sang Prabu meloloskan diri pergi ke Bali diikuti Sabdopalon dan Nayagenggong. Ketika memberi perintah itu, Pasukan Demak telah mengepung istana. Maka Sang Raja segera pergi dengan terburu-buru.
Wadya Demak kemudian perang dengan pasukan Majapahit. Patih Majapahit mengamuk di tengah peperangan. Para Bupati Nayaka Majapahit delapan orang juga ikut mengamuk. Perang itu sangat ramai. Pasukan Demak tiga puluh ribu, pasukan Majapahit hanya tiga ribu. Karena Majapahit digulung musuh yang jumlahnya sekian banyak itu, prajuritnya banyak yang tewas berguguran. Hanya Patih dan Bupati Nayaka yang mengamuk semakin maju. Setiap prajurit Demak yang diterjang pasti mati tegelempang. Putra Sang Prabu bernama Raden Lembu Pangarsa mengamuk di tengah peperangan, bertanding dengan Sunan Kudus. Ketika sedang ramai-ramainya perang tanding itu, Patih Mangkurat dari Demak meluncurkan tombaknya. Putra raja terluka dan semakin hebat mengamuk. Ia menerjang bagaikan banteng terluka, tidak ada yang ditakuti.
Patih Majapahit tidak mempan senjata apapun, seperti tugu baja, tidak ada senjata yang bisa menggores tubuhnya, siapa pun yang diterjang bubar berlarian, yang menghadang terjungkal mampus. Bangkai manusia tumpang tindih. Patih diberondong (peluru) dari kejauhan. Jatuhnya peluru seperti hujan jatuh di batu watu. Sunan Ngundung menghadang kemudian memedangnya tetapi tidak mempan. Sunan Ngundung balas ditombak, tewas. Patih lalu dikerubuti prajurit Demak. Pasukan Majapahit lama-lama habis. Seberapa kuat satu orang sendirian, akhirnya Patih Majapahit gugur. Tetapi raganya musnah dan meninggalkan suara, “Ingat-ingat orang Islam, kalian diberi kebaikan oleh rajaku tetapi membalas kejahatan, tega merusak negara Majapahit, merebut negara melakukan pembunuhan. Kelak kubalas, kuajari kalian benar salah, kutiup kepala kalian, kucukur rambut kalian bersih-bersih.”
Setewasnya Patih Majapahit, para Sunan kemudian masuk ke istana. Tetapi Sang Prabu sudah tidak ada, yang ada hanya Ratu Mas, yaitu putri Campa, Sang Putri diajak menyingkir ke Bonang. Para prajurit Demak kemudian masuk ke istana. Mereka merampok sampai bersih. Orang kampung tidak ada yang berani melawan. Raden Gugur yang masih kecil melarikan diri. Adipati Terung kemudian masuk ke dalam istana, membakari semua buku-buku ajaran Buddha. Orang-orang di sekeliling istana bubar, beteng dan bangsal dijaga anak buah Adipati Terung. Orang Majapahit yang tidak mau takhluk kemudian mengungsi ke gunung dan hutan-hutan. Adapun yang mau takhluk, kemudian dikumpulkan dengan orang Islam, disuruh bersyahadat. Mayat para keluarga istana dan pamong praja dikumpulkan, dikubur di sebelah tenggara istana. Kuburan tadi dinamakan Bratalaya. Menurut suatu riwayat disitu juga kuburan Raden Lembu Pangrasa.
NASEHAT NYAI AGENG KEPADA RADEN PATAH
Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati Terung. Mereka diperintahkan menjaga keamanan keadaan dan segala kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur’an. Sebagian pasukan dan para Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah wafat, hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh orang Ampel. Sang Prabu Jambuningrat (Raden Patah) sesampainya di Ampel, kemudian menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Para Sunan dan para Bupati berganti-ganti menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu majapahit, dan melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu, agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang memotong.
Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ageng tersayat-sayat perih. Demikian ia berkata “Cucuku, kamu dosa tiga hal. Melawan raja dan orang tuamu, serta yang memberi kedudukan sebagai bupati. Mengapa kamu tega merusak tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama? Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas kejahatan, kini mati hidupnya beliau pun tidak ada yang tahu.”
Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, “Angger ! Aku akan bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa dan siapa yang mengizinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?”
Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah benar-benar ayahandanya yang mengangkat dirinya menjadi raja memangku tanah Jawa dan semua bupati pesisir, dan yang mengizinkan para Sunan. Mengapa negara majapahit dirusak, karena Sang Prabu Brawijaya tidak berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak dawuk seperti kuwuk.
Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya merangkul Sang Prabu, dengan berkata, “Angger! Ketahuilah, kamu itu dosa tiga hal mestinya kamu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi anugrah kepada kamu. Kamu beran-beraninya mengganggu orang tanpa dosa. Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari keinginan diri sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati itu utama. Apabila Gusti Allah sudah mengizinkan, tidak usah disuruh, sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah bersifat rahman, tidak memerintahkan dan tidak menghalangi kepada orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.
Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar, hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah asal-asalmu, ibu-mu Putri Cempa menyembah Pikkong, berwujud kertas atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama Buddha. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega menelan kepada ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tata krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib dijunjung tinggi.
Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir, karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir, mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan sangat menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang tua dari segi kekafirannya, tetapi posisinya sebagai orangtuanya. Maka Wong Agung selalu menjunjung hormat kepaa mertuanya itu. Itulah angger yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda disia-siakan, mentang-mentang kafir Buddha tidak mau berganti agama. Itu bukan patokanmu. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?
Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis dan berkata, “Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi di jaman kuno, ia berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mukjizat kepadanya, tetapi tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama Islam, tetapi ajakan tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan orang tua, lahir batin tidak salah. Tapi orang seperti kamu? Mukjizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama, coba keluarkan apa mukjizatmu, aku lihat?”
Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mukjizat apa-apa, hanya menurut perkataan buku, katanya apabila mengislamkan orang kafir besok akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah amarahnya. Kata-kata saja kok dipercayai, pun bukan buku dari leluhur. Orang mengembara kok dituruti perkataanya, yang mendapat celaka ya kamu sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di luar, di dalam merah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya? Kini kamu minta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti buwana balik namanya. Karena kamu yang semestinya memberi izin kepadaku, karena kamu Khalifutullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas, sedangkan jika kamu nanti tia, akan tetap menjadi tuanya seorang raja.”
Nyai Ageng Ampel berkata lagi, “Cucu! Kamu aku ceritakan sebuah kisah, dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud, putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak lama kemudian Nabi Dawud bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik kuda melarikan diri kehutan, kudanya lepas tersangkut-sangkut pepohonnan, sampai ia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang dinamakan hukum Allah.
Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu-buru tahta ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmara dari tanah seberang datang ke Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang jawa banyak yang cinta kepada aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Ajisaka diangkat menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur ke laut, dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemuian mati. Ada lagi cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang kuceritakan tadi, semua menemui sengsara. Apa lagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang tanpa tata susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang demikian itu hukum Allah”. Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.
Nyai Ageng Ampel masih meneruskan, “Kamu itu dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu koq mau menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi musuh orang tua raja. Karena itu bertobatlah kepada Yang Maha Kuasa, kiraku tidak bakal memperoleh pengampunan. Pertama memusuhi ayah sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Penging pasti tidak akan menerima rusaknya Majapahit, pasti ia akan membela kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu.”
Nyai Ageng tumpah-ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun. Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah bertemu dimohon pulang kembali ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke Ampelgading. Akan tetapi apabila tidak berkenan, jangan dipaksa, karena jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.
PRABU JIMBUN (RADEN PATAH) KEMBALI KE DEMAK
Setelah Prabu Jimbun tiba di Demak, para pengikutnya menyambutnya dengan gembira dan berpesta ria. Para santri bermain rebana dan berdzikir, mengucap syukur dan sangat gembira atas kemenangan mereka dan kepulangan Sang Prabu Jimbun atau Raden Patah.
Sunan Bonang menyambut kepulangan Sang Prabu Jimbun. Sang Raja kemudian melaporkan kepada Sunan Bonang bahwa Majapahit telah jatuh, buku-buku agama Buddha sudah dibakari semua, serta melaporkan kalau ayahandanya dan Raden Gugur lolos. Patih Majapahit tewas di tengah peperangan, Putri Cempa sudah diajak menugungsi ke Bonang.
Pasukan Majapahit yang sudah takhluk kemudian disuruh masuk Islam. Sunan Bonang mendengar laporan Sang Prabu Jimbun, tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia mengatakan peristiwa itu cocok dengan perkiraan batinnya. Sang Prabu melaporkan bahwa ia telah mampir ke Ampeldenta (pesantren Ampel Gading) untuk menghadap Eyang Nyai Ageng Ampel. Kepada Eyang Nyai Ageng Ampel ia mengatakan kalau baru saja dari Majapahit, serta memohon izin bertahta menjadi raja tanah Jawa. Akan tetapi di Ampel ia malah dimarahi dan diumpat-umpat. Ia dikatakan tidak tahu membalas kebaikan Sang Prabu Brawijaya. Akhirnya ia diperintahkan supaya mencari dan mohon ampun kepada ayahandanya. Semua kemarahan Nyai Ageng Ampel dilaporkan kepada Sunan Bonang.
Mendengar hal itu Sunan Bonang, dalam batin merasa menyesal dan bersalah karena khilaf akan kebaikan Prabu Brawijaya. (masak sih??) Tetapi (karena gengsi dan sudah kepalang tanggung) rasa yang demikian tadi ditutupi dengan pura-pura menyalahkan Prabu Brawijaya dan Patihnya, karena tidak mau pindah agama Islam.
Sunan Bonang mengatakan agar perintah Nyai Ageng Ampel tidak perlu dipikirkan benar, karena pertimbangan wanita pasti kurang sempurna, lebih baik penghancuran Majapahit dilanjutkan. Jika Prabu Jimbun menuruti perintah Nyai Ampeldanta, Sunan Bonang lebih baik akan pulang ke Arab. Akhirnya Prabu Jimbun berjanji kepada Sunan Bonang untuk tidak menjalani perintah Nyai Ampel.
Sunan Bonang memerintahkan kepada Sang Prabu, jika ayahandanya memaksa pulang ke Majapahit, Sang Prabu Brawijaya diperintahkan menghadap dan meminta ampun akan semua kesalahannya. Akan tetapi bila beliau ingin bertahta lagi, jangan di tanah Jawa, karena pasti akan mengganggu orang yang pindah ke agama Islam. Ia disuruh bertahta di negara lain di luar Jawa. (Benar2 Sunan yang tau berbalas budi, persis seperti nabinya)
Sunan Giri kemudian menyambung, agar tidak menganggu pengislaman Jawa, Prabu Brawijaya dan putranya lebih baik di tenung saja. Karena membunuh orang kafir itu tidak ada dosanya. Sunan Bonang serta Prabu Jimbun sudah mengamini pendapat Sunan Giri yang demikian tadi. (Masak Islam mau tenung Budha, ga mampu lah)
Referensi Selanjutnya klik Disini

Sumber : http://primordialnature.blogspot.co.id/2017/12/masuknya-islam-ke-indonesia.html?m=1

Senin, 16 Oktober 2017

MENTALITAS MENJADI KORBAN

Danz Suchamda,
Seperti kita ketahui bahwa sikap rendah-hati itu adalah sikap yang terpuji. Tapi manakala keliru menjadi rendah-diri maka itu menjadi sesuatu yang buruk. Bedakan antara rendah-hati (tidak sombong) dan rendah-diri (minder).
Perasaan rendah-diri ini tidak baik karena berasal dari batin yang berpusat pada ego. Ego yang selalu membanding2kan mengukur2 dirinya dengan orang / pihak lain. Dasarnya adalah rasa iri yang tersembunyi dan ter-represi. Apalagi apabila punya sikap mental "merasa selalu menjadi korban". Maka itu adalah egoisme yang sangat tinggi. Kegagalan menerima keadaan seperti apa adanya. Ia hanya mau mengasihani dirinya sendiri tanpa melihat adanya kepentingan orang-orang lain di sekitarnya.
Apalagi bila sikap "merasa jadi korban" ini lalu dibuat pembenaran-pembenarannya. Maka akibatnya adalah delusi. Dari delusi itu muncul kebencian kepada pihak lain yang dianggap menyebabkannya menderita. Maka alih-alih introspeksi diri untuk memperbaiki keadaan justru bisanya hanya menyalahkan pihak lain.
Karena dimatanya pihak lainlah yang selalu salah menjadikan dirinya 'korban', maka akibatnya muncullah kemarahan dan niat balas dendam.
Dengan kata lain, marah karena percaya kebohongannya sendiri. Lalu mengganggu orang lain. Akhirnya orang lain membalas. Lalu dia membenarkan kecurigaan bahwa orang lain itu membencinya. Lalu akhirnya berpusar-pusar saja pada niat2, pemikiran, sikap atau perbuatan yang negatif. Suatu lingkaran setan yang berpusar merosot ke jurang tanpa batas. Ini yang menyebabkan batinnya penuh kegelapan dan semakin merasa kekurangan. Ini yg disebut jurang tanpa dasar atau abyss atau Abaddon.
Sayangnya, sikap batin "merasa jadi korban" ini selalu dikembang-suburkan di lingkungan strata sosial tertentu yang memang terpuruk. Sadarlah, bahwa dengan sikap mental demikian anda tidak akan menjadi lebih baik tapi malah justru semakin terpuruk. Cobalah keluar dari lingkungan sosial yang beracun itu dan mencari lingkungan sosial yang membawa aura positif dan konstruktif. Jangan takut menerima kritik, karena hanya dengan mengoreksi dirilah kita bisa keluar dari pusaran jurang tanpa dasar tersebut. Anda tidak sendiri di dunia ini. Ribuan bahkan jutaan orang lain dengan problem yg sama bahkan lebih berat, tapi mereka menanggapi kehidupan ini dengan ceria dan penuh harapan, berjuang-keras tapi tetap rendah-hati karena bisa menerima apa adanya.

Bagaimana dengan rendah-hati?
Jawab :
Justru sebaliknya. Rendah hati muncul dari KEPENUHAN atau keberlebihan yang meluber. Karena bisa mengecilkan ego dengan meninggikan prestasi, maka apa pun yang diterima merasa memenuhi lalu meluber keluar. Pada waktu dikecilkan oleh pihak lain , ia tidak lagi merasa kecil karena memang sudah kecil, dan tidak ada masalah untuk menempatkan diri sebagai kecil karena memang sudah terpenuhi. Jadi, dasar dari perasaan rendah-hati ini justru berasal dari perasaan kaya (abundance mentality). Tidak mungkin seorang yg mempunyai mental kekurangan (poor-mentality) bersuka cita dalam memberi tempat pada orang lain. Justru sebaliknya ia akan terus berusaha meminta dan meminta atau setidaknya minta imbal-balik (transaksional). Termasuk meminta respek dan penghargaan terhadap harga dirinya, statusnya atau identitasnya.
Tapi karena pengaruh budaya mental yang buruk (yg saya sebut diatas sebagai lingkungan kejiwaan yang beracun - poisonous psychological environment) maka sering terjadi dalam masyarakat kita yaitu penilaian terhadap orang yang merasa berlebih terutama BILA berlainan pihak (bukan satu kelompok) maka dipersepsikan sebagai kesombongan! Karena memang kesannya "Besar" sedang yang menerima merasa "dikecilkan" karena memang egonya dalam kondisi selalu menjadi victim. Pada akibatnya malah mencurigai macam-macam bukannya bersyukur berterimakasih. Nah terbalik kan???
Tapi sewaktu ditegur atas sikapnya yang tidak berterimakasih atau mensyukuri ybs malah kemudian merendahkan diri untuk minta dikasihani (misal : 'kami hanya orang kecil', 'kami orang2 tertindas', dst). Victimized complex! Ini namanya rendah-diri bukan rendah-hati. Akibatnya menggulung seperti saya jelaskan dalam status diatas tadi.
Maka dari keterbolak-balikan ini penanggapan secara negatif bisa menulari pihak yang tadinya positif itu turut menjadi negatif (misal : yg surplus berhenti memberi kepada yang minus). Bila ini terjadi maka bisa menjadi siklus yang akibatnya berpusar menggulung masyarakatnya itu menuju Anomie, yaitu masyarakat gagal! masyarakat yang miskin kebajikan spontanitas yang segar!

MENUJU SURGA ITU SEDERHANA

Dari keseluruhan ajaran agama dan berbagai macam tradisi dan aliran spiritual yang kemudian melalui laku praktek mendapatkan kekayaan insight, maka saya ingin menyederhanakan hal-hal yang tertimbun (bahkan kadang tersembunyi) di balik kerumitan ajaran falsafah / theologisnya. Satu hal untuk kali ini : mencapai surga itu sederhana.
Sederhana itu artinya tidak rumit, tidak berbelit-belit, tidak perlu teknik atau ritual ibadah aneh-aneh. Tapi sederhana juga bukan berarti mudah. Mudah ya mudah tapi sulit ya sulit. Mudah buat manusia, sulit buat yang belum jadi sepenuhnya manusia.
Bagi manusia, maka melakukan kebajikan kepada pihak lain, ..... tidak harus sesama manusia tetapi juga bisa hewan, tanaman atau alam lingkungan hidup (benda-benda mati) ..... adalah pasti menjadi hitungan untuk menghantar ke surga. Mengapa saya katakan demikan?
Karena sudah jelas dan nyata, bahwa setiap melakukan pengorbanan diri baik secara material maupun non-material kepada liyan, selalu menghasilkan perasaan kebahagiaan yang damai dan sukacita yg sangat2 halus, bersih, jernih dan indah. (Mohon bedakan antara : sukacita / bliss dan kesenangan / carnal desire. Sukacita ini bersifat batiniah, dimana justru tercapai bila diri berkorban untuk kesejahteraan liyan).
Tinggal seberapa banyaklah hal itu kita lakukan sehingga menjadi kebiasaan batin (mind habit) atau menjadi sifat karakter alami kita (becoming our spontaneous nature).
Sebaliknya, bila kita belum sepenuhnya menjadi manusia, maka sungguh sulit untuk melakukan kebajikan non-ego. Sekalipun disuruh-suruh atau diancam pun enggan. Kepada mereka yg ditaraf ini maka hanya bisa dilakukan pembinaan melalui cambuk dan hadiah, ancaman dan iming-iming. Kesadaran manusiawinya belum bersemi. Inilah akar alasan yg menyebabkan segala macam variasi dan kerumitan ajaran agama yg pada dasarnya adalah bagaimana 'memotivasi' atau kasarnya 'membujuk' para 'binatang' itu agar terangkat statusnya menjadi sepenuhnya manusia. Kerumitannya tergantung dari seberapa rumit batin 'binatang' yg hendak dikelola itu.
Semakin rendah maka aturannya semakin pada hal-hal yang kasar (carnal) dan sangat spesifik sehingga perlu mengatur dengan penuh lika-liku belat-belit seiring dengan kelicinan akal muslihatnya. Sebaliknya, makin tinggi tahap realisasi seseorang maka batinnya menjadi semakin luas, mendalam dan halus. Dirumuskan dalam kalimat-kalimat justru tampak seperti biasa-biasa saja tidak ada apa-apanya. Cukup prinsip dasar, yg walau tampak sederhana tapi bisa digali dengan sangat mendalam. Mendalam tapi sangat expansive selaras dengan pencapaian keluasan kesadaran (expansive awareness / sadar jagad-raya/ cosmic consciousness) yang berhasil dicapainya. Jadi pada dasarnya, taraf tertinggi batin mahluk yang telah menjadi sepenuhnya manusia adalah : nothing to do. Tidak ada satu hal pun yang harus / perlu diperbuat. Berbuat tanpa berbuat. Just Be.
Hidup di bumi ini adalah bagai membuat sebuah citra (image) yang cetakannya adalah kehidupan ini. Semasa hidup ini bila kita mengukir cetakannya bagus, maka ketika badannya mati dan cetakan itu dilepas, maka yg tertinggal adalah produk jiwa yang indah. Apa yang tercetak secara batiniah adalah tergantung mal-cetakan (molding) nya selama kita menggarapnya semasa berbadan kasar.
Bila cetakannya kasar, penuh keserakahan dan ratapan, maka sudah pasti alam berikutnya yg menanti adalah alam kasar, penuh keserakahan dan ratapan yang beribu kali lipat. Bila cetakannya halus, penuh keindahan dan kesukacitaan, maka kehidupan setelah kematiannya juga akan halus, penuh keindahan dan kesukacitaan yang beribu kali lipat. Inilah yang disebut Surga.
Maka apa yang engkau tanam dan pupuk dalam kehidupan di dunia ini sungguh sangat menentukan hasil akhirnya nanti.
Demikianlah sekilas. Mudah-mudahan bermanfaat.

Rahayu.
DS

Minggu, 15 Oktober 2017

PASOPATI SENJATA ARJUNA

Kita di Nusantara ini mengenal dari kisah perwayangan bahwa Pasopati adalah senjata pamungkasnya Arjuna untuk mengalahkan bala Kurawa (golongan Raksasa Brekasakan). Apakah sebetulnya makna rahasia dari senjata yg dinamakan Pasopati itu? Marilah kita simak.
Paso dari kata Pashu (sanskrit) yang artinya adalah ternak atau secara simbolik merujuk pada Ātman (soul, self, breath --> ingat Nefesh!). Pati adalah artinya gembala ternak atau dengan kata lain Tuhan (Brahman). Dengan kata lain Pasopati artinya adalah "Tuhan langsung menggembalakan umat manusia". Hubungan langsung antara manusia dan Tuhan inilah yang disebut juga dengan Yashar (hubungan langsung) dengan Tuhan (El) yang kita kenal dengan nama "Israel". Nah!
Dalam pengertian Shivaisme, maka ada 3 hal yang menggambarkan Realitas / Kasunyatan itu : Pashu, Pati dan Pasam. Pasam ini artinya adalah kuk (tali pengikat) ternak. Jadi, sang gembala menempatkan kuk pada kawanan ternaknya. Triangularitas antara ketiga crux itu membentuk Realitas kita saat ini dimanapun kapanpun. Suatu penggembalaan jiwa.
Mengapa digunakan metafori ternak dan gembalanya?
Ingat, manusia zaman 3000 tahun sebelum Masehi itu cara penghidupannya bagaimana? Tiada lain tiada bukan, hal-hal yang paling dapat dimengerti dan relevan dengan sikon nya adalah hal-hal yang berhubungan dengan ternak. Nah oleh karena itu digunakanlah metafora2 yg berasal dari alam penggembalaan, pertanian dan hubungan kekerabatan. Tapi zaman selalu mengalami perubahan. Dan setelah 6000 tahun kemajuan, maka manusia modern sudah seharusnyalah mengambil esensi (hakikat) maknanya dari segala cara tutur kuno itu. Tapi bagaimana caranya? Tiada jalan lain, haruslah kita gali sejarah dan meneliti secara anthropological cara manusia mengada dan bersosial pada masanya.
Anda perhatikan, bahwa cult sapi ini sudah ada semenjak zaman purba. Sementara dalam tradisi tertulis (literate culture), maka dikisahkan bahwa asal muasal peradaban dan penyebaran manusia di dunia adalah berasal dari daerah lembah subur Mesopotamia antara sungai Tigris dan Effrat, yg kala itu dikenal dengan Peradaban Sumeria. Disitulah pertama kali dikenal mitologis tentang cult terhadap Banteng (entah disebut kerbau atau sapi, yg jelas jenis sebenarnya adalah Auroch -- yg sudah punah). Dalam epic Gilgamesh maka dapat kita baca peperangan antara Gilgamesh dan Enkidu (Kerbau Langit). Itulah mengapa di tradisi Semit (yahudi) yg juga secara genetik berasal dari gen Sumer, mengenal kisah penyembahan Sapi Emas (Golden Calf). Di India Nandi (Lembu putih tunggangan Shiva), dan di budaya Mesir kuno disebut Apis yg merupakan manifestasi dari Ptah dan kemudian Osiris. Cult sapi yang disebut Taur itu dikenal di seluruh bagian muka bumi ini. Maka jangan heran bila anda kenal minuman "Krating Daeng" (atau Red Bull) yang berlambangkan banteng itu saya duga berasal karena mengandung zat aktif yg disebut Taurine. Maka jangan heran bila di Nusantara juga dikenal tradisi Suronan dengan mengarak kebo-bule (kerbau putih).
Yang jelas, semua kisah itu bertujuan menyampaikan bahwa realitas manusia ini adalah analogic dengan ladang penggembalaan. Antara Tuhan (Sang Penggembala) dan manusia (ternaknya). Akan tetapi, bila hubungan langsung itu dibajak (di-intermediasi) kan oleh simbolismenya yang diangkat melebihi dari maknanya, maka itulah jatuh pada pemberhalaan. Maka jangan heran, kisah Musa murka akibat bani Israel memuja Sapi Emas (Golden Calf) atau di Quran ada surah al'Baqarah (Sapi Betina) sebetulnya adalah --tidak dapat dipungkiri lagi-- mengkritik fenomena yang saya jelaskan di atas.
Oke, kita kembali lagi ke soal Pasopati.
Dalam mitologi Tantra pra-Veda (sebelum Veda), maka Pasopati adalah penjelmaan Shiva yang awal pertama, sebelum perubahan pada era selanjutnya dimana dikatakan Nandi (lembu putih) adalah kendaraan tunggangan Shiva. Ini mengingatkan kita pada kisah Lao Zi yang mana menunggang kerbau sembari duduk menghadap ke belakang , pergi menuju Gerbang Barat. Mereka yang di Barat mencari ke Timur, yang di Timur berjalan ke Barat. Luar biasa kan sinkronisitas dari seluruh kisah-kisah ini menganyam suatu makna keutuhan dari seluruh bagian dunia?
Perhatikanlah....jangan menganggap diri kita sekarang ini SUDAH modern apalagi sempurna. Kenyataannya...
dalam ladang penggembalaan jiwa ini...ternyata masih mengulang-ulang kembali pola-pola lama terjatuh dalam idolatry (pemberhalaan) itu.
Dan bila kita menyimak dari apa yg dikatakan dalam Upanishad ini :
"Atman (self, soul, jiwa) adalah tentu saja Brahman. Ātman juga berarti intelek, Manas (batin), dan nafas-vital (nefesh), dengan mata dan telinga, dengan bumi, air, angin dan ākāśa (sky, space, ruang), denan api dan yanb bukan-api, dengan desire (motivasi) dan tanpa desire, denan kemarahan dan tanpa kemarahan, dengan kebenaran dan dengan ketidakbenaran, dengan segala sesuatunya -- itu dikenali , atau terkenal sebagai, dengan ini (yang dipersepsikan) dan dengan itu (yang dipersangkakan). Karena ini [Ātman, self, soul] mengada dan bertindak, maka ia menjadi (dumadi) : dengan melakukan baik jadi baik, dengan jahat jadi jahat.
Ia menjadi baik melalui perbuatan yang baik, dan menjadi keji melalui perbuatan yang jahat. Lainnya, maka dikatakan, "Self (diri) dikenlai dari keinginan / motif semata. Apa yang menjadi motif nya itu yang didapat, maka ia menyelesaikan itu; apa yang ia selesaikan, maka itulah aksi (karma) nya; dan apa yang menjadi aksinya ia menuai reaksi".
— Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5, 9th century BCE[28]
....maka jelaslah bahwa apa yang didefinisikan sebagai penyembahan berhala / musryik atau menduakan Tuhan...bukanlah sekedar urusan patung-patung atau citra saja,....tetapi lebih fundamental daripada itu...persis selaras dan relevant dengan apa yang dikatakan oleh Rabbi Dov Ber Pinson di TS ini :
Penyembahan berhala bukan sekedar berarti menyembah sesuatu, melainkan menyembah satu hal diatas yang lainnya--
(Not as worshiping something but one thing OVER the everything). Karena sesungguhnya, segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan. Tapi manakala anda mulai mengatakan berhubungan hanya dengan satu hal, itulah dimulainya apa yg disebut PENYEMBAHAN BERHALA (IDOL WORSHIP).
~ Rav.DovBer Pinson
http://primordialnature.blogspot.co.id/2015/09/definisi-idolatry-penyembahan-berhala.html

Yang mana saya ulang katakan agar lebih sederhana dan mudah dimengerti :
Penyembahan berhala adalah manakala anda terjatuh pada simbol-simbol dianggap sebagai tujuan, ketimbang menyelami untuk memahami makna hakiki-nya.
Btw, sekedar info : Keris yang diagem pak Jokowi adalah berdapur Pasopati.
Rahayu!
Danz Suchamda
------------------------------

DIALOG PENTING
> Danardono Wisnu Prabu : tali kekang itu apakah bisa di ibaratkan iman atau agama?
> Danz Suchamda : BUKAN.
Tali kekang = kuk = yuj...yg jadi asal kata yoga. Bahasa Jawanya "LAKU"...(lakuning urip)...eg: Ilmu tinemune kanthi laku. Alias PRAKTEK.
BUKAN teori agama.
Pelihara kerbau untuk bajak sawah apa untuk disekolahin kerbaunya jadi pendeta tapi gak pernah dibawa turun ke sawah? hahahaha
Ini lagi-lagi plokotho bahasa :
Yoga.....orang diplokotho bahasanya sehingga memahami yoga itu sekedar urusan senam stretching. Itu adalah super-super dangkal.
Yoga itu adalah PRAKTEK LAKU.
Kalau di tradisi Hindu pada umumnya dikenal 4 jalur praktek laku mencapai pencerahan :
1. Bhakti Yoga (laku dengan bakti / devosi)
2. Karma Yoga (laku dengan praktek amal, berbuat kebajikan, dll)
3. Jnana Yoga (laku dengan penyelidikan analitis)
4. Raja Yoga (laku dengan bhavana , mis : meditasi, tapa, puasa, dsb dsb) . Memang hal yg terakhir inilah yg kebanyakan orang mengira adalah "yoga", padahal itu hanya satu sub bagian.
> Danardono Wisnu Prabu : katanya lho ini kalau romo atau pendeta itu kepanjangan dari Tuhan.
Tuhan kan butuh Kuk untuk mengarahkan jemaatnya. kalau gak ada kuk gimana mengarahkan sapinya?
> Danz Suchamda : Kan katanya si tukang klaim? Betul? hehe
Yang ngarahin sapinya??
Walah walah NGELUNJAK!
Gembalanya itu ya TUHAN LANGSUNG !
Gini....
Antara pendeta / ulama dsb dengan umat biasa terendah sekalipu.... itu SAMA DERAJATNYA di mata Tuhan.
Bedanya adalah : mereka yang menempatkan diri berdiri di barisan paling depan gol.manusia sesamanya itu dianggap bertekad melaksanakan LEBIH.
Jadi...motivasi LEBIH besar.
Upaya LEBIH besar.
Pengorbanan LEBIH besar.
Ujian LEBIH besar.
Beban LEBIH besar.
Tapi semua itu dalam rangka menggembleng jiwanya sendiri!
Ingat rumus yg pernah saya jelaskan di TS dulu :
The greater the desire, the greater the light will be absorbed.
Jadi, artinya...the greater the desire maka the greater pula the YOKE (beban) !...
Bukan untuk menempatkan diri LEBIH dari sesamanya! Tettottt BESAR !
Karena seharusnya dia mampu menempatkan dirinya justru lebih rendah daripada sesamanya manusia! Itulah pengertian MELAYANI (service to God)!
------------------------------

Pranala luar untuk mengkaji :
https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati#Pashup ati_seal
-https://en.wikipedia.org/wiki/Pashupati_seal
https://en.wikipedia.org/wiki/Sacred_bull#Mesopotamia
https://en.wikipedia.org/wiki/Nandi_(bull)
https://en.wikipedia.org/wiki/%C4%80tman_(Hind uism)
https://en.wikipedia.org/wiki/Pasam_(Saivism)
https://en.wikipedia.org/wiki/Shiva

Rabu, 26 Juli 2017

KEBENARAN YANG HIDUP

Copas artikel dari master mbah Danz Suchamda

INIQUITY

Kemaren saya buka pintu untuk komen2 nyinyir, sentimentil emosional yang tujuannya hanya penyerangan pribadi atau disinformasi, pemfitnahan, blackpainting, dsb.... Agar publik luas dapat melihat sendiri kenyataannya. Bahkan ada akun2 bernama arab/islam pun ternyata isinya adalah domba2 bertaring.

Hari ini mulai saya bersihkan. Beberapa yang memang murni hatred langsung saya banned. Yang masih mengandung reason saya biarkan secara terbatas.

Tujuan saya adalah agar pesan2 saya dalam komentar dapat terbaca dengan jelas , alih-alih ditenggelamkan dengan komentar2 yg tidak perlu, unrelevan, iniquity dan OOT.
Sami mawon.

Kalau yang satu mengkafir-kafirkan orang. Menuduh mamarika, rheumason, preman sorry.
Yang ni nuduh sesat, murtad, iblis, tukang sihir, kuasa gelap.

Suka bikin perang tapi bilang pembawa DAMAI.
Suk menghasut orang untuk menjauhi pihak lain, pemecah belah keluarga dan persatuan umat manusia, tapi bilang agen tunggal KASIH.
PODO WAE.

Ketahuilah! bahwa Mesiah yang sejati itu akan datang untuk mempersatukan umat manusia dan bangsa-bangsa memasuki masa milenium damai yang diistilahkan New Jerusalem. "Shalem" sendiri artinya adalah KEUTUHAN.

Jadi bukan suatu IDOL yang mengajarkan NEUROTICISM (kecemasan dan ketakutan) agar manusia terpecah-pecah menjadi golongan-golongan saling curiga. Sadarlah!

Kalau pun dia dikatakan sebagai menjadi pemimpin pasukan surgawi menaiki kuda putih, maka itu artinya adalah simbolisme memerangi pihak-pihak yang memecah belah, melawan ajaran2 yang fragmentasi (tidak tamim) dan menanamkan ketakutan itu!

Mengacalah diri!

Tidak sadar kah kalian bahwa perang itu akarnya adalah RASA TAKUT. Justru bukan keberanian.

Takut hidup. Takut hidup berdampingan dengan orang lain yang dipersepsikan membahayakan atau mengancam hidup anda. Entah karena dia bawa-bawa golok atau karena "pelihara setan".
Berpikir, "Lebih baik mati, daripada hidup ketakutan"...."

Mari kita mati membela X melawan 'setan' yg membawa kematian kekal". Lihat!....pada dasarnya adalah ego yang krisis karena terancam! Ego yang ingin exist!

Pertanyakanlah : siapa yang menanamkan 'pengetahuan' (info-info) yang membuatmu merasa terancam dan ketakutan itu kalau bukan PEMIMPIN AGAMAMU SENDIRI!!!??? Merekalah yang menanamkan "grain of sand" di dalam hati dan pikiranmu, sehingga selalu iritasi di bawah sadar sehingga setiap saat dapat diledakkan jadi api yang berkobar!

Karena merasa terancam oleh pihak lain, maka pikiran manusia berdelusi berproliferasi dalam angan-angannya menimbulkan sikap antipati terhadap pihak yang lain. HAMPIR 90% TIDAK DIDASARKAN OLEH ALASAN-ALASAN REAL!
Ini adalah lawan kata dari TRUST atau saling percaya satu sama lain antar bagian sosialita masyarakat yang majemuk berbeda-beda dan unik tapi saling melengkapi.

So, be REAL !

Belajarlah menelisik ke dalam hati dan pikiranmu sendiri dulu.

Inilah tujuan penyibakan-penyibakan ini walau rasanya pahit dan menyakitkan pada awalnya.
Mungkin saudara menuduh bahwa saya pun menuduh. Marilah kita selidiki apa-apa saja yang kita perkatakan dan arahnya kemana.

Hai saudara.....apakah anda takut, curiga dan menjauhi saudara (setanah air maupun keluarga) anda sendiri?
Sementara mempercayai OMONGAN orang asing yang alamatnya pun anda tidak ketahui? Mempercayai orang asing untuk menjauhi dan curiga kepada saudara anda sendiri???

Anda mendengar OMONGAN ORANG tentang Tuhan, lalu anda menganggap bahwa itu adalah omongan Tuhan???

Dewasakanlah dan matangkanlah caramu berpikir!

Renungkanlah dengan jernih!!!

Rahayu!

Senin, 03 Juli 2017

SURO DIRO DJAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Natkala pangarep-arep suwe jroning panganti,
Wus kagarit sahasra sesulih kadhapuk jroning babad,
Sanadyan sewu rupa wus imbal gumanti,
Sanadyan saben kawuryan beda werna,
Malah wujude tansah datan ajeg,
Tanapi ponang wektu tansah miyak sasab pangalinge.
Kalaning dewi candra praba sihe surem kalingan runguting wit-witan,
Sira tansah padha,
Milang tyas kang demeng lan blawu,
Kang ana jroning jaja pirang-pirang keti manusa.
Kala kartikaning adil rarem kalingan jaladara,
Sira tansah padha,
Sumusup jroning sukma kadhapuk dadi nata ingaurip,
Nyongok wateke manusa,
Nyebar bibit kesrakahan,
Jroning buntelan lelamisan,
Jroning gendhaga wicitra.
Nyecongok adnyana manusa,
Nuwuhake keserakahan,
Ing lemah paugeran,
Kang sira rabuk kinarya sesongaran.
Kalaning bagaskara bebener ambles lumebeng walike cakrawala,
Sira tansah padha,
Ndadekake batur manusa jroning angsane,
Njurung harda katumlak sajroning piangkah pribadya,
Saningga lila ndadekake bebanten watak kamanungsane.
Anaging ingsun,
Raden Dharma Yodha, tunas tarunaning bangsa,
Siyaga adilaga lumawan sira,
Wahai ... kadhakahan ...!
Wahai ... Ambek sura...!
Wahai ... kang demen cidra...!
Ponang Angkara Murka malaning ati,
Arep dak tujah sira,
Kinarya sanjata pangandel kang kenceng dak regem,
Amrih Nagringsun ruwat sangka cencangan wibawanira,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

TERJEMAHANNYA :
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Ketika pengharapan lama dalam penantian,
Telah tertoreh seribu pergantian peran dalam sejarah,
Walau seribu rupa telah berganti,
Walau setiap muncul berbeda warna,
Bahkan wujudpun selalu tak sama,
Tetapi sang waktu selalu menyibak tabirnya.
Ketika dewi rembulan sinar kasih sayangnya tampak redup dibalik pepohonan,
Kau selalu sama,
Menghitung hati yang hitam dan kelabu,
Yang ada di dalam dada berjuta-juta manusia.
Ketika bintang keadilan beristirahat dibalik awan,
Kau selalu sama,
Menyusup dalam sukma berperan sebagai raja kehidupan,
Kendalikan watak manusia,
Menebarkan benih ketamakan,
Dalam bungkus kebohongan,
Dalam kemasan pencitraan.
Kendalikan pikiran manusia,
menumbuhkan keserakahan,
Di tanah peraturan,
Yang kau pupuk dengan kepongahan.
Ketika mentari kebenaran tenggelam terbenam dibalik cakrawala,
Kau selalu sama,
Memperbudak manusia dalam ambisinya,
Mendorong keinginan terjerumus ke dalam keegoisannya,
Hingga rela korbankan sifat kemanusiannya.
Tetapi aku,
Raden Dharma Yodha, tunas muda bangsa,
Siap berperang melawanmu,
Wahai ... Ketamakan...!
Wahai ... Kepongahan...!
Wahai Keangkuhan...!
Sang Angkara Murka Penyakit Hati,
Akan kuterjang kau,
Dengan senjata keyakinan yang erat kugenggam,
Agar Negeriku bebas dari belenggu kuasamu,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

Rahayu!

Minggu, 04 Juni 2017

AGAMA WARISAN APAKAH ITU ADA?

Assalamu 'alaiukum wr. wb.

"Agama Warisan" yang menjadi viral membuat admin tergerak ikut membedahnya, baik dari sudut pandang yang pro ataupun kontra.
Untuk itu, dibawah ini akan admin sajikan tulisan yang merujuk tentang Agama Warisan tersebut dari beberapa sumber.
Berikut tulisan yang membahasnya :

Tuisan ke 1
MELALUI KEMATIAN YANA ZEIN, ALLAH BUKTIKAN "AGAMA WARISAN" AFI TIDAK BENAR
~ By Erwyn Kurniawan ~

Begitu cepat Allah swt memberikan bantahan terhadap tulisan Asa Firda Inayah alias Afi ttg "Agama Warisan". Melalui kisah tragis kematian artis Yana Zein, artikel tsb menjadi kehilangan makna & hanya pepesan kosong.

Afi menulis begini:
“Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."
Tulisan ini menjadi viral atau sengaja diviralkan. Afi sontak menjadi terkenal, diundang media arus utama yg selama ini menjadi pendukung Ahok. Presiden Jokowi segera mengundangnya ke Istana Negara tepat di Hari Kelahiran Pancasila. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin pun rela berfoto bersama Afi sambil tersenyum untuk memberikan dukungan terhadap tulisan tersebut.

Artikel yg kemudian diketahui PLAGIAT itu dikampanyekan sebagai buah pikir yang tepat utk mendukung kebhinekaan & NKRI. Dua tema yg mendadak ramai sejak Ahok menista agama & kemudian dipenjara. Tujuannya jelas: menohok umat Islam dan para ulama yg selama ini terus berjuang menuntut keadilan terhadap Ahok.

Di saat bersamaan seorang artis senior wafat. Namanya Yana Zein. Bukan kematian biasa karena saat akan dimakamkan, terjadi peristiwa menyedihkan karena antara ayah & ibu almarhum bersitegang soal agama anaknya.
Swetlana, ibu Yana Zein, mengaku memiliki bukti bahwa putri tersayangnya tersebut telah menganut agama Kristen.

"Saya ibunya, saya punya bukti kalau KTP dia Kristen. Waktu sakit keras, Yana bilang 'tolong kalau ada apa", saya mau dikuburkan secara Kristen'. Agama semua sama, saya kira Yana berhak memilih. Yana juga ada tanda tangan sendiri kalau dia jadi Kristen," ujarnya.
Sang ayah, Nurzaman Zein, tak kalah argumen.

Dia meminta Yana harus dikuburkan secara Islam.
"Namanya Suryana Nurzaman Zein. Dia meninggal di bulan Ramadhan. Dia meninggal dengan khusnul khotimah," kata Nurzaman.
Rumah duka akhirnya gaduh. Sang ibu menjerit histeris saat ayah Yana melantunkan ayat suci Al-Quran di sebelah peti jenazah.

Kisah pilu ini membuktikan bahwa agama bukanlah warisan. Keimanan seorang manusia tidak diturunkan otomatis dari ayah dan ibunya. Jika memang warisan, Yana Zein pasti beragama Islam dan tak perlu ada kericuhan saat akan dimakamkan.

Bagi orang beriman, tulisan Afi & kematian Yana Zein yg terjadi saat bersamaan harus dilihat dalam kacamata keimanan. Bahwa inilah campur tangan Allah swt untuk memberi bukti tidak ada "agama warisan". Dan jika masih ada di antara kita yg membenarkan tulisan Afi meski Allah swt sudah "membantahnya" melalui kematian Yana Zein, saya tak tahu dgn cara apalagi Dia harus memberi petunjukNya.
Wallahua'lam bishshowab
Tamat...
-------------

Tulisan ke 2
AGAMA WARISAN
Oleh: Muhammad Zazuli

Nebeng ikut bicara soal “agama warisan” yang sempat viral dan heboh beberapa waktu lalu.

Tidak hanya agama, sesungguhnya semua yang ada pada diri kita ini adalah warisan. Tubuh fisik kita ini juga adalah warisan dari DNA dan genetika yang diturunkan secara biologis dari bapak-ibu bahkan nenek moyang kita sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Pemikiran dan identitas kita juga adalah warisan dari dogma dan ajaran yang diberikan oleh orangtua, guru agama, guru sekolah, teman, lingkungan, pengalaman dan semua yang ada di sekitar kita termasuk buku-buku yang kita baca, ceramah yang kita dengarkan dan tontonan yang kita lihat.

Bumi kita inipun juga adalah warisan dari debu-debu supernova dan bintang-bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu. Matahari kita juga adalah warisan dari reaksi nuklir paduan dari hidrogen dan helium yang ada di galaksi. Bahkan galaksi kitapun adalah warisan dari pemuaian alam semesta yang kemudian mendingin, mengerut dan berputar di sebagian kawasan di jagad raya ini.

Intinya adalah segala sesuatu terjadi dan berjalan karena Hukum Alam dan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada akibat yang terjadi tanpa sebab tertentu dan tak ada sebab yang tak mengakibatkan terjadinya akibat tertentu. Jadi jika dulu saya terlahir di Rusia tentu nama saya bukanlah Zazuli tapi bisa saja menjadi Zazulov dan saya menjadi orang yang atheis atau komunis. Jika saya terlahir di kerajaan Romawi masa lampau mungkin nama saya akan menjadi Zazulius dan menyembah dewa-dewi pagan. Jika saya terlahir di China maka bisa saja nama saya menjadi Zhang Zhu Ling dan saya menyembah Dewa Langit (Thian) atau bahkan dewa dapur. Jika saya terlahir di kawasan bawah laut Bikini Bottom (tempat tinggal Spongebob) maka bisa saja nama saya menjadi Zazuklu dan saya menyembah kerang ajaib uluk-uluk-uluuuk......

Jadi bukan hal yang aneh dan istimewa jika ada yang mengatakan bahwa agama Anda adalah agama warisan dari orang tua, keluarga, leluhur dan lingkungan masyarakat yang ada di sekeliling Anda. Memang faktanya seperti itu. Yang aneh justru adalah orang yang marah, kejang-kejang, ngamuk, protes bahkan mengancam membunuh gadis remaja yang menuliskan soal hal itu. Orang bodoh tapi arogan dan keras kepala memang cuma bisa bikin onar dan bikin masalah saja, tidak bisa diajak berpikir dan berdiskusi secara jernih dan sehat. Yang dikecam dan diancam bunuh bukannya makin surut namun makin jadi tenar dan bersinar. Bagaimanapun suara kebenaran tidak akan bisa dibungkam oleh suara kedzaliman.

Tapi saya juga bisa memahami amarah mereka. Sewaktu masih SMA sebenarnya saya termasuk cukup fanatik dalam beragama. Saya bahkan membaca buku-buku karya Abdullah Azzam yang adalah gurunya Usamah bin Laden (pemimpin jaringan teroris global Al Qaedah) dan bertekad untuk menjadi seorang jihadis. Soal dalil-dalil jihad dan perang saya sudah hapal di luar kepala, jadi jangan ajarin lagi saya soal itu. Saya bahkan pernah membenci semua orang, semua golongan, semua negara, semua agama, semua simbol dan semua hal yang saya anggap sebagai “musuh Tuhan” (betapa gobloknya dulu saya karena mengira bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa masih bisa punya musuh).

Namun puji Tuhan alhamdulillah saya akhirnya bahagia karena kemudian saya “tersesat di jalan yang benar”. Belasan tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang sufi pengembara yang beraliran tasawuf Syekh Siti Jenar. Beliau berkata : “Dulu Rasulullah SAW datang untuk menghapus ajaran nenek moyang. Lah kamu ini sekarang malah juga beragama dengan agama nenek moyang. Kamu pikir agama kamu itu juga bukan agama nenek moyang ya?” Satu ungkapan beliau lagi yang dulu membuat saya bingung adalah : “Jika kamu ingin belajar tasawuf / ilmu hakikat maka penggal dulu kepalamu.”

Tidak hanya bertemu dengan sufi pengembara, saya juga pernah bertemu dengan seorang Sekjen dari sebuah “Secret Society” yang ada di Indonesia. Beliau mengundang saya untuk menjadi anggotanya bahkan menawari saya beasiswa untuk belajar mengenai aliran tersebut langsung dari markas mereka di luar negeri meskipun kemudian saya tolak dengan halus karena saya tidak mau terikat dengan organisasi. Mungkin inilah makna dari pepatah dalam dunia spiritual “Saat murid siap, maka Guru akan datang sendiri.”

Dan kini saya baru paham apa makna dari ungkapan guru tasawuf yang membingungkan tadi. Sepanjang hidupnya manusia itu terlahir sebanyak dua kali.

Kelahiran pertama adalah kelahiran alami yang sebagian besar perannya dilakukan oleh kodrat alam di luar kekuatan dan kehendak sadar kita yang mewariskan kepada kita segala identitas kita secara “an sich” dan tinggal terima saja termasuk bagaimana fisik kita, dimana dan kapan kita lahir dan di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita tidak bisa memilih di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita juga tidak bisa memilih dalam keluarga yang beragama apa kita lahir karena agama keluargalah yang akhirnya akan lebih dominan dalam menentukan agama yang kita anut sepanjang hidup kita. Hanya sedikit saja orang yang kemudian memutuskan untuk menganut agama yang berbeda dengan agama warisan keluarganya, itupun biasanya karena faktor duniawi saja seperti pernikahan.

Kelahiran kedua adalah kelahiran jiwa atau spiritualitas kita yang kita pilih berdasarkan kehendak bebas dan kesadaran kita. Ada orang yang terlahir dalam keluarga miskin tapi dengan kemauan, kehendak dan usahanya dia bisa menjadi orang yang sukses. Inilah yang saya maksud dengan “kelahiran kedua” yaitu kelahiran mental dan jiwa seseorang yang baru. Inilah yang dimaksud dengan evolusi kesadaran meskipun mungkin masih hanya sebatas kesadaran fisik atau kesadaran materi saja, tapi itupun adalah sebuah prestasi dan kelahiran baru bagi sang jiwa yang ternyata akhirnya mampu menunjukkan kemandiriannya dan mengalahkan batasan dan kondisi dunia yang ada di luarnya.

Begitu juga dengan agama. Agama warisan adalah agama yang Anda ikuti berdasarkan “kehendak alam semesta” dimana Anda dilahirkan, bukan berdasarkan kesadaran pribadi, pilihan sadar dan kehendak bebas Anda. Jadi jika dulu guru tasawuf saya mengatakan “penggal dulu kepalamu” itu berarti bahwa saya harus mengosongkan gelas pikiran saya yang sudah penuh dengan dogma dan ajaran yang saya terima dan dipaksakan masuk ke dalam kesadaran saya sejak kecil (termasuk pikiran sadar dan bawah sadar saya) karena hanya gelas kosong saja yang bisa diisi dan dipenuhi dengan “air segar yang baru”.

Semua agama adalah baik, benar dan sempurna dalam pandangan penganutnya. Dan Anda tidak bisa memaksakan bahwa hanya agama Andalah yang paling baik, paling benar dan paling sempurna kepada orang lain yang tak seagama dengan Anda. Itu adalah tindakan yang paling bodoh, paling egois dan paling kontra produktif. Semua penganut agama selalu berpikir dan percaya bahwa hanya agamanyalah yang paling baik dan paling benar. Tidak peduli apapun agamanya, sesungguhnya agama yang terbaik bagi seseorang adalah agama yang bisa mengubah jiwanya dan membawanya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih damai, lebih bijak, lebih sabar, lebih berwelas asih dan semua sifat baik lainnya. Untuk tujuan kebaikan inilah maka agama-agama yang berbeda itu mengajarkan doktrin yang berbeda yang dapat membantu manusia mengubah dirinya menjadi lebih baik, lebih sadar dan lebih bijak.

Secara eksoterik (bentuk luar) semua agama pastilah berbeda baik dalam hal dogma, ritual, konsep, simbol, metode, aturan maupun berbagai hal lainnya (sebagaimana manusia yang berbeda-beda dalam hal ras, suku, bangsa dan warna kulit). Tapi secara esoterik (hakikat dalam) pastilah semua agama memiliki prinsip yang sama mengenai cinta kasih, kebaikan, kejujuran dan semua sifat dan karakter baik lainnya (sebagaimana semua manusia apapun warna kulitnya selalu mendambakan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan). Persamaannya inilah yang terpenting dan harus kita tekankan dan justru bukannya menekankan pada perbedaan yang justru akan memancing konflik dan permusuhan yang justru bertolak belakang dengan hakikat, makna, maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.

Pada tahun 1666, ilmuwan terkemuka Sir Isaac Newton berhasil memecahkan misteri warna pelangi melalui sebuah percobaan di kantornya di Lincolnshire, Inggris. Melalui sebuah prisma kaca dia menemukan bahwa tujuh spektrum warna pelangi (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) sebenarnya hanyalah merupakan hasil pembiasan dari cahaya putih matahari. Di alam maka titik-titik air hujanlah yang berfungsi sebagai prisma kaca yang membentuk 7 spektrum warna pelangi. Dengan demikian maka sesungguhnya cahaya putih matahari adalah kumpulan dari semua warna dan ketujuh warna pelangi itu sebenarnya sudah ada secara potensial di dalam cahaya putih matahari yang kemudian bisa diuraikan melalui prisma kaca ataupun titik air hujan menjadi tujuh warna pelangi.

Begitu juga halnya dengan ilmu Hakikat atau ilmu Kesejatian (The Truth) bisa diibaratkan sebagai cahaya putih matahari yang Tunggal di alam Absolut. Sedang agama / religi hanyalah turunan, tafsir, deviasi, diferensiasi atau hasil pembiasan dari Cahaya Putih tersebut yang menjelma dan termanifestasi menjadi 7 spektrum warna pelangi di alam dunia ini. Jadi meskipun berbeda namun sesungguhnya ketujuh spektrum warna pelangi itu hakikatnya adalah Tunggal dan eksis secara potensial di dalam cahaya putih matahari (cahaya Illahi). Sesungguhnya Hidup itu adalah Tunggal. Seluruh makhluk sejatinya sekedar berbagi Hidup yang sama yang berasal dari Sang Tunggal tersebut. Oleh karena itu hormatilah agama orang lain sebagaimana engkau menghormati agamamu sendiri. Menghina dan memaki agama orang lain sebenarnya hanyalah menunjukkan kebodohan, kekerdilan dan kesombongannya sendiri.

Masalah timbul setelah terjadinya pembiasan. Antara warna merah, kuning, hijau merasa saling terpisah, saling berbeda dan saling berdiri sendiri. Mereka lupa dengan asal usulnya yang berasal dari cahaya putih matahari. Akhirnya mereka saling berdebat dan bertarung sendiri. Memang setelah melewati prisma kaca (atau prisma manifestasi / alam ilusi) yang merah akan tetap tampak sebagai merah, yang kuning akan tetap tampak sebagai kuning dan yang hijau akan tetap tampak sebagai hijau. Mereka saling berbeda dan tidak bisa disatukan.

Tapi di balik prisma sebelum terjadinya pembiasan (manifestasi) maka sesungguhnya merah, kuning, hijau tadi tidak ada namun eksis secara bersamaan dan potensial di dalam cahaya putih (kemurnian asal, Wu Chi). Warna sesungguhnya juga tidak ada, yang ada hanyalah panjang gelombang cahaya. Jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 5.500 Angstrom dan diterima oleh sensor visual / syaraf mata kita maka otak kita akan mempersepsinyanya sebagai benda berwarna kuning, jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 4.500 Angstrom kita menyebutnya sebagai merah begitu seterusnya.
Hanya mereka yang berwawasan dan berkesadaran tinggi saja yang bisa memahami bahwa cahaya putih adalah satu-satunya hakikat sejati atau satu-satunya realitas akhir sedangkan merah, kuning, hijau dan lain-lain hanyalah sekedar ilusi yang bersifat maya, fana dan sementara dan akan segera hilang musnah saat prisma kaca tersebut diangkat dan diambil. Secara hakikat maka warna-warni pelangi tadi tidak ada karena yang ada hanyalah cahaya putih matahari saja. Adanya tujuh warna pelangi hanya karena ditopang keberadaannya oleh cahaya putih matahari. Tanpa cahaya putih matahari maka ketujuh warna pelangi niscaya tidak ada sama sekali.

Itulah sebabnya sehingga Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi, ulama sufi dan mistikus Islam yang paling terkemuka, paling dikagumi dan paling dihormati oleh dunia Barat pernah berkata : “Aku bukanlah orang Nasrani, aku bukanlah orang Yahudi, aku bukanlah orang Majusi, dan aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampauilah gagasan sempitmu tentang benar dan salah sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” (yaitu Cahaya Putih Illahi, sumber dari 7 pelangi agama) tanpa dibatasi oleh berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.“

Dan hal inipun juga tidak bertentangan dengan ayat Al Quran yang menyatakan : ”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin (penyembah matahari), barang siapa yang beriman diantara mereka itu kepada Tuhan dan hari akhir (kematian, kefanaan) serta berbuat kebajikan maka untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tak ada ketakutan atas mereka dan tiada mereka berduka cita”. (Al-Baqarah : 62). Inilah bukti bahwa Islam sebenarnya mendukung dan mengajarkan toleransi serta pluralisme.

Tidak semua orang bisa memahami makna dan hakikat sejati dari agama. Hanya mereka yang sudah mulai berkembang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya saja yang bisa memahami esensi spiritual dari semua ajaran agama.

Mereka yang masih bergelung, bergelut dan terbelenggu di dalam kepompong jiwa yang berupa ego kelompok, teologi konflik, berhala mental, ideologi tertutup / anti kritik, dogma sempit, kaku & parsial, ilusi & delusi spiritual, pola pikir linear, pikiran dualistis, mindset keterpisahan, violence mentality dan jiwa yang terbelah pastilah tidak akan sanggup memahami makna dan tujuan sejati dari semua agama dan akan terus terjebak pada ego dan kesombongan untuk selalu merasa benar sendiri, sulit mengasihi, tidak bisa menghargai hak orang lain, gemar menghakimi, sikap suka memaksakan kehendak dan hanya mau menang sendiri saja.

Ada tujuh dimensi / lapisan alam yang terdiri dari : alam Illahiah, alam Monadiah, alam Rohaniah, alam Intuisional, alam Mental, alam Astral dan alam Fisik (beserta kembaran eteriknya). Di alam astral dan seterusnya maka agama yang diyakini seseoranglah yang akan menjadi penyelamat setelah jasmani fisiknya terurai / meninggal asalkan orang itu murni, tulus dan lurus dalam hati, jiwa, pikiran, perkataan dan perbuatan. Tanpa agama orang tidak akan mengenal jalan pulang karena hanya agamalah yang mengajarkan tentang keabadian jiwa serta hubungannya dengan Sang Pencipta / Sang Sumber, bukan ilmu seni, filsafat, politik, bisnis ataupun sains. Agama juga adalah alat, sarana, tali sambung dan jembatan rohani menuju Tuhan. Tapi yang menjadi tujuan sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri.

Mengenal Tuhan adalah tujuan sejati kehidupan (Sangkan Paraning Urip). Menjadikan agama sebagai tujuan adalah salah karena itu berarti musyrik dan mempersekutukan Tuhan. Orang yang telah mengenal Tuhan tidak mungkin akan menebar kebencian, permusuhan dan kekerasan melainkan hanya akan menebar kedamaian, kebajikan dan welas asih. Sedang orang yang memuja agama tapi belum mengenal Tuhan masih berpeluang besar menebar kebencian, permusuhan, kekerasan dan kekacauan karena seringkali dia tidak bisa membedakan antara ego, ambisi, nafsu dan prasangkanya sendiri dengan hidayah / cahaya petunjuk Illahi.

Dengan demikian sifat Kasih Sayang (Rahman Rahim) adalah satu-satunya tolok ukur untuk melihat apakah seseorang sudah mengenal Tuhan ataukah belum. Orang yang suka menebar kebencian dan permusuhan antar sesama manusia jelas bukanlah orang yang sudah mengenal Tuhan meskipun mungkin dia hapal sejuta dalil agama. Religiousity and Spirituality are really different things.....

Dan kebetulan semboyan dasar negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda namun satu. Aslinya semboyan ini diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular di abad 14 yang kutipan lengkapnya berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya “Meski berbeda-beda namun hakikatnya adalah Satu, tak ada dharma / ajaran kebenaran yang mendua” untuk menunjukkan kesatuan antara ajaran Hindu Ciwa dengan ajaran Buddha yang berkembang di Majapahit kala itu. Kebetulan juga semboyan ini mirip dengan slogan pada Great Seal of United States (Segel Agung Amerika Serikat) yang diciptakan oleh kaum Mason para Bapak Bangsa Amerika yaitu “E Pluribus Unum” yang artinya "Banyak Yang Adalah Satu". Dalam Al Quran sendiri juga dituliskan : “ Maka kemanapun engkau hadapkan wajahmu di situ akan kamu lihat wajah Allah.” (QS Al Baqarah : 115)
Saya tidak tahu apakah setelah saya menulis ini akan ada yang memaki saya kafir, sesat, bangsat, liberal, sekuler, PKI, anjing, babi, iblis dll (memaki, mengancam, mengintimidasi, menyerang dan melakukan kekerasan adalah reaksi khas mereka jika kalah dalam berlogika dan berdiskusi) atau bahkan mungkin akan ada yang mengancam membunuh saya. Atau bisa jadi setelah diancam bunuh, saya malah bisa seperti dek Afi yang jadi terkenal n bisa masuk tivi bersama Najwa dan Rossi serta ketemu pakdhe Jokowi hihi... Kan malah lumayan meskipun lu manyun hehe.... Tapi jika dibully saya akan tetap mengikuti teladan mbah wali Gus Dur dan ulama-ulama khos dan kyai sakti NU lainnya yang paling cuma akan ngomong “Halah, gitu aja kok repot...” (Terima kasih kepada NU yang selalu konsisten menebarkan dakwah bil hikmah, akhlakul karimah dan menjaga citra Islam sejati yang rahmatan lil alamin).

Sebagai penutup saya akan kutipkan nasehat dari Bhagwan Shree Rajnesh dan Pierce Teilhard de Chardin :
“Sejauh menyangkut agama, maka setiap orang mustilah dilahirkan sebanyak dua kali. Kelahiran pertama adalah karena kehendak alam sedang kelahiran kedua adalah karena bangkitnya kesadaran pribadi.”
“Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Tapi kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia.”

Sudah paham kan sayangku? Sudah ya, jangan mudah marah, baper dan ngamuk-ngamuk lagi yaah... Sekali-kali cobalah beragama dengan akal sehat dan hati nurani agar engkau menjadi lebih bijak dan mengerti, jangan cuma pake ego, ambisi dan emosi yang akhirnya cuma bikin gigit jari, sakit hati dan nurani jadi mati....
Saya Indonesia. Saya Pancasila. Saya Waras.
Salam Waras bin Cerdas wal Sadar
# Kami bersama TNI, Polri, Banser & Anshor NU tolak radikalisme demi keutuhan NKRI

---------------------

Itulah diatas beberapa argumen tentang Agama Warisan dari kedua belah pihak. Semoga bisa menjadikan admin khususnya dan pembaca menjadi bijaksini dan bijaksana, menjadi lebih menyelami makna dan tujuannya bukan untuk menjadikan pembenaran diri (egoistik) untuk menyerang pihak lain, menjadikan kesadaran dalam berspiritual bahwa Tuhan tidak menciptakan satu kaum saja.
Terimakasih.
Walaikumsalam wr. wb.
Semoga semua mahluk bahagia.
Rahayu!

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...