Sabtu, 25 Juni 2016

.:: ENAKNYA JADI MOTIVATOR ::.

Gobind Vashdev, Jadi Motivator itu enak,apalagi kalau sudah terkenal,kerjanya bentar tapi penghasilannya banyak.jangankan yang terkenal seperti yang sering ada di TV, golongan yang santai seperti saya bisa hidup berbulan-bulan bahkan setahun dari pekerjaan yang dilakukan satu hari.saya menyebut santai karena 80 % kegiatan saya adalah sosial alias NATO ( NO Amplop Thanks Only,)atau (No Amplop Transport Only), selain itu sejak awal menjadi profesional, saya tidak melakukan kegiatan marketing untuk menggaet klien, website dibuatin, buku dipaksa diterbitkan, proposal dibuat kalau di minta, kartu nama tidak punya.sekarang sudah 4 tahun kemana-mana ngga pakai sepatu apalagi jas dan dasi.Memang tidak semua orang punya kemampuan berbagi hal yang dirasa bermanfaat dengan sajian menarik di depan banyak orang, saya menyebut diri saya mendapat karunia untuk itu.memang saya suka belajar dan berbagi, ketika berkenalan dengan para motivator yang terkenal mulai saya tertular ilmu-ilmu yang mereka miliki, bagaimanamengembangkan finansial diri sendiri dengan mengembangkan bisnis orang lain.namun selalu ada yang mengganjal dalam hati , dan beberapa yang di dalam hati ini beberapa kali saya ungkapkan, alhasil saya 'dimarahi' oleh para trainer yang hebat-hebat itu.saya diyakinkan lagi dan lagi untuk mempunyai impian dan diminta untuk percaya bahwa suatu hari sukses akan didapatkan, membuang semua believe-believeyang menghambat terjadinya kesuksesan.Dan kita semua tahu sukses disini tidak lain dan tidakbukan adalah uang.Memang sangat menggiurkan disaat bicara dengan topik motivasi, kalau seminar lain seperti parenting, gaya hidup sehat, self healing menjualnya sudah murah, susah lagi namun seminar bagaimana mendapatkan peluang dan mengeruk pundi walau dijualmahal selalu dibanjiri peserta. Disisi lain perusahaan-perusahaan pun berlomba mengejarnya.Sebagian yang mengganjal dalam diri saya adalah:di dunia ini lebih banyak yang mana terjadi , hal yang kita harapkan atau tidak ?, jawabanya semua orang yang saya tahu adalah "tidak"kalau begitu mengapa kita memfokuskan diri, belajar mati-matian untuk mencapai , menggapai, meraih sesuatu dan bukan belajar menerima dan melepas kalau porsi tidak terjadinya yang kita harapkan lebih besar.kita diminta bersyukur, ikhlas dalam banyak kelas motivasi apalagi setelah film the secret muncul, tapi ujung-ujungnya seringkali kembali,mbahwa syukur dan ikhlas itu digunakan sebagai sarana untuk mendapat uang atau materi lainnya.Hampir semua pembicara yang saya tahu termasuk dirisaya sendiri mempunyai masalah yang sama dengan sebagian besar dari kita, seperti kecemasan, ketakutan, kemarahan, termasuk menunda-nunda, berpikir negatif dan lainnya., alias tidak wall The tak.bahkan kalau kita mau menengok lebih dalam , semua yang dibicarakan adalah untuk menasehati dirinya, mereka yang mengajar stress management biasanya suka stress, yang ngajar self healing biasanya sakit-sakitan atau punya penyakit, yang berbagi motivasi bermasalah dengan rasa aman dan rasa takut.Di panggung memang luar biasa, namun tak bisa dipungkiri bahwa inilah yang mungkin paling disukai peserta, terpanah dengan cerita yang to good to be true.Lalu satu lagi dan mungkin saya salah (dan semoga saya salah disini), yang ikut seminar-semianar kaya begini kan paling banyak kalangan menengah, Mereka ingin mendapatkan lebih dan mereka mencari cara ataupeluang untuk mengupulkan uang lebih banyak.jargonya hampir selalu sama, kalau saya bisa lebih kaya kan saya bisa membantu lebih banyak orang.Pertanyaanya , Dari siapa / tingkat atau kelompok mana kita mendapatkan uang itu? , apakah uang itu berasal dari orang kaya atau sebaliknya orang miskin?.saya tidak perlu menjawab, kita semua pasti sudah tahu, presentase yang di dapatkan petani, penjahit, dibandingkan pedagang dan pengusaha dalam makanan yang kita makan atau baju yang kita pakai.Kalau kita menjadi kaya raya , artinya uang kan ngumpul di kita saja, berapa banyak sih yang kita mausumbangkan?biasanya tidak lebih dari 10% penghasilan , jadi bila kita semakin kaya, maka semakin banyak uang ngumpul di rekening kita, dengan kata lain semakin banyak juga orang miskin yang uangnya berkurang.Di China ada sebuah kalimat ijak yang berbunyi : bila ada 1 kaya raya , maka akan ada 1000 orang miskin di daerah tersebut.Dunia kita belum sampai Pada tataran kesadaran pemerataan, secara sistematis dunia semakin kesini, malah membuat yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.Pendidikan kita masih menyebut 'smart' pada mereka yang bisa memanfaatkan orang atau lingkungan sehingga mereka bisa mendapatkan yang mereka inginkan.padahal pendiri bangsa ini meletakan sila ke 5, gotong royong dan koperasi sebagai fondasi utamanya,Dari sedikit point yang terlintas yang saya tuliskan disini, bertahun-tahun lalu saya mengubah presetasi saya terutama di materi motivasi, dari yang fokus mendapatkan menjadi memberi, dari memanfaatkan menjadi memberdayakan, bukan bersaing namun bekerjasama, berlatih membesarkan hati agar mampu senang melihat orang lain bahkan pesaing mendapat keuntungan besar, serta mendorong orang untuk beraniberdoa pada Pencipta "ya Tuhan, terimakasih, rejekinya sudah cukup. mohon diberikan pada yang lainsaja yang lebih membutuhkan"Memang ini jalan yang jarang dilalui, melakukan semua ini mungkin berimbas pada kehilangan banyak projek dan mungkin berkurangnya saldo di bank namun saya mendapatkan yang lebih dari semua itu, yaitu hati dan pikiran yang damai._/|\_

Kamis, 23 Juni 2016

.:: JEBAKAN AHLI MAKSIAT DAN ORANG SOLEH ::.

Arif Rh Yang rusak akhlaknya, ahli maksiat, jebakannya adalah mengolok-olok yang sholeh dengan label, "sok sholeh luuu !!" ... Juga kejebak pada kebanggaan memamerkan kelakuan error dan dosa-dosa mereka ... Sebaliknya ... Yang akhlaknya sudah sholeh, kadang kejebak mengomentari dan menggunjingkan mereka yang akhlaknya rusak, dan mengolok-olok mereka ... Juga kejebak pada sikap, "merasa sayalah yang paling sholeh" ... Jadi ... Ya sami mawon asline ... Sama-sama melakukan dosa, hanya saja dosanya berbeda ... Lha yang lebih parah ... Sholeh enggak ... Tapi akhlak rusak banget kayaknya enggak ... Alias enggak jelas ... Masuk neraka, nanggung ... Masuk sorga belom cukup timbangannya ...

.:: WASPADAKAH ? PENYAKIT BATIN MEDSOS ::.

Arif Rh Di semua media sosial sebagai contoh di facebook, salah satu "penyakit bathin" yang bisa merasuk, adalah mabuk pujian dan kecanduan persetujuan ... Dan tanpa disadari, menjadi melekat dengan jumlah like, melekat dengan jumlah followers, bangga dengan jumlah share dan sebagainya ... Mereka yang terkena "penyakit bathin" ini biasanya menjadi takut tidak disukai orang ... Menjadi takut tidak disetujui orang ... Sehingga selalu berupaya menghindari membuat postingan yang beresiko tidak disukai dan tidak disetujui orang ... Obatnya biar sembuh? ... Beranilah sedikit, nakallah sedikit, dalam membuat postingan ... Niscaya engkau akan sembuh ... Atau setidaknya, saat dihujat, diserang, dikomentari kasar, akan terdeteksi, apakah seseorang mengalami "penyakit bathin" yang diuraikan di atas atau tidak ... Di facebook ini, apakah ada ketakutan tidak disukai orang? ... Ketakutan ditinggalkan followers ... Ada kekuatiran jumlah like menurun? ... Waspadai ... Barangkali itu adalah tanda-tanda ada yang salah di dalam dirimu ... Itu tadi obatnya ... Nakallah sedikit, beranilah sedikit, liarlah sedikit dalam membuat postingan ...

.:: PUASA SUNAH DAN BUDAYA JAWA ::.

Arif Rh Dalam khasanah kebijaksanaan jawa, dianjurkan berpuasa pada hari kelahiran kita dan juga pada hari lahir + 3 hari ... Misalnya anda lahir hari rabu, maka anda dianjurkan puasa pada hari rabu dan sabtu ... Itu menurut keilmuan budaya jawa ... Aku barusan tanya istriku, nabi Muhammad lahirnya hari apa? ... Kata istriku, nabi Muhammad lahir pada hari senin ... Loh ... Aku kaget ... Karena nabi Muhammad mencontohkan puasa sunnah senin kamis, yang sekarang diikuti umatnya ... Cocok donk dengan keilmuan jawa? ... Kan kalau lahir hari senin, puasanya yaa hari senin dan kamis? ... Yang jadi penasaran dalam pikiran saya ... Apakah nabi Muhammad sebenarnya mencontohkan puasa senin kamis? ... Ataukah beliau mempraktekkan puasa di hari lahir dan hari lahir + 3 hari, sama seperti keilmuan jawa? ... Tidak ada yang tahu ... Karena orang lebih mengikuti apa yang dilakukan nabi ... Dan bukan mengeksplorasi, apa keilmuan di balik yang dilakukan nabi ...

.:: YANG RUWET ITU PIKIRANMU ::.

ARIF RH

Kenyataan itu apa adanya, penilaian kita yang meruwetkannya ... Penilaian, adalah penyebab seseorang lari dari kenyataan, dan mengalami penderitaan ...

Rabu, 22 Juni 2016

.:: KUNCI SUKSES ::.

Ifan Winarno

kunci sukses itu gak ada.. karena sukses tidak mengunci maupun menutup.. sukses justru membebaskan..

.:: KALAU PUNYA MASALAH, BANTULAH ORANG LAIN ::.

Gobind Vashdev KALAU PUNYA MASALAH, BANTULAH ORANG LAIN Entah mengapa sebuah kalimat yang saya dengar di radio sewaktu saya masih di SD atau SMP masih menggumpal dikepala ini, kurang labih begini "menurut seorang psikolog, jika kita punya masalah, cobalah membantu sahabat atau orang lain yang sedarng dirunding masalah", kemudian lanjut penyiar itu "Bila kita mau menyempatkan menolong orang lain maka biasanya kita akan menemukan jalan keluar dari masalah diri ini" Sejak saat itu, diri yang merasa penuh dengan masalah ini, 'mencari' orang yang bermasalah dan mencoba untuk melakukan sesuatu, dan memang berkali-kali saya menemukan solusi atau paling tidak sebuah kelegaan. Ini memang terlihat paradoks, dulu saya berpikirnya keluar, yang kurang lebih seperti ini, "masa ketika kepala sakit-sakitnya malah mijitin orang lain",atau "masa kantong lagi kering-keringnya malah minjemin uang" namun semakin kita masuk lebih dalam menjelajah bathin, kita akan melihat fenomena keterbalikan ini. Pada etos Ramayana, inilah yang dilakukan Rama dalam perjalanannya ke Alengka mencari Shinta, belahan jiwanya yang diculik Rahwana. Rama membantu Sugriwa untuk mendapatkan istrinya yang diambil paksa oleh kakak kembarnya Subali. Prinsip paradoks inilah yang membawa saya melakukan olahraga/ yoga selagi perut di puncak keroncongan menjelang maghrib selama bulan Ramadhan ini. perlu diingat, olaraga atau Yoga di sini bukan dimaksudkan untuk mengalihkan rasa lapar, sebaliknya saya merasakan dan mendengarkan lambung yang berteriak minta makan serta tenggorokan yang minta air. inilah rahasianya, kita perlu mendekap sampai rasa yang sebelumnya tidak nyaman, yang hadir karena penolakan kita, menjadi teman yang tidak menggangu. Kita masih tetap merasakan lapar dan haus namun semuanya itu tidak membuat kita menderita. sama halnya dengan semua kekacauan pikiran atau bathin kita, duduklah dengan kekacauan itu, duduk dan selami dan dengan sabar sadari semuanya itu, bahkan kita tidak perlu memikirkan solusi, beri kepercayaan pada kesadaran bukan logika untuk memimpin dirimu. Kalimat Khalil Gibran "Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan"perlu ditambahkan sebuah syarat, syarat itu adalah kita perlu merawat goresan yang ada, bukan membiarkan, mengalihkan atau tidak dirasakan, sebaliknya kita perlu merasakan bahkan merayakan kehancuran hati seperti yang ditulis oleh Chin Ning Chu di bawah ini. Berbahagialah dan rayakan setiap kali hati anda hancur. Hanya saat hati anda hancur, cahaya depat masuk. Baru setelah anda merasakan dukanya penderitaan anda dapat tahu bagaimana orang lain menderita. Inilah tempat anda memahami empati. Inilah saatnya orang lain dapat melihat ke dalam mata anda, jendela jiwa dan melihat bentuk, kearifan, rasa kasih dan pemurnian kembali. Setelah merasakan kehancuran hati, anda akan menjadi lebih cantik dan menarik bagi dunia. _/|\_

Minggu, 19 Juni 2016

.:: TAK ADA YANG KEBETULAN ::.

"Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Maka, tidak ada gunanya mengeluh jika takdir sudah datang mengetuk pintu."

Ifan Winarno

.:: NEGATIF DAN POSITIF THINKING ::.

Batas maksimal dari negative thinking yang berlebihan adalah "penghakiman" ... Batas maksimal dari positive thinking yang berlebihan adalah "hilangnya kewaspadaan" ... Negative thinking dan positive thinking, keduanya memiliki manfaatnya masing-masing, kecuali ia telah melampaui kadarnya, alias mencapai batas maksimalnya ...

Arif RH

.:: HAL KECIL ADALAH HAL BESAR ::.

Gobind Vashdev HAL KECIL ADALAH HAL BESAR Dijajaran teman atau sahabat bahkan keluarga saya menilai diri saya hidup dengan santai. Malah mungkin ada yang memberi saya label malas, saya tidak keberatan dengan cap tersebut bahkan terkadang bangga. Memang tidak umum di tengah gencar-gencarnya pembangunan fisik,pertumbuhan ekonomi seperti saat ini,dimana produktif adalah berarti memproduksi sebanyak-banyaknya, saya lebih sering "tidak melakukan apa-apa". ada yang datang dan berkata, "gobind kalau kamu mau mengurangi waktu santaimu mungkin akan ada lebih banyak tulisan yg tercipta, materi yang dibagi atau uang yang kamu peroleh" saya menjawab, "kalau saya tidak punya waktu santai pasti saya juga tidak punya bahan untuk ditulis dan dibagi " "waktu adalah uang" adalah kalimat yang telah memporakporandakan keselarasan kita dengan hidup. walaupun jumlah alfabet lebih banyak daripada jumlah angka, namun rasanya angka-angka lebih banyak terabur dan terhambur di otak kita semua. walau kita tidak langsung memikirkan uang, namun sebagian kegiatan kita di drive oleh angka yang tercetak pada lembaran-lembaran itu. "uang bukan segalanya namun segalanya perlu uang" saya ingin menambahkan kata "keinginan" diantara kalimat diatas menjadi "Uang bukan segalanya, namun segala keinginan kita perlu uang" Kebutuhan hidup yang memerlukan uang tentulah tidak banyak, namun keinginan untuk mendapat kembali penerimaan, pujian, pengakuan dan penghormatan yang dulunya banjir diberikan sewaktu kita kecil susah kita taklukkan. Tentu tidak ada yang salah, bagi siapapun yang mengejar pundi harta atau status, setiap orang bertumbuh sesuai dengan kesadarannya, kita pun selayaknya tidak menghakimi siapapun, setiap orang mempunyai masa lalu dan pengalaman fisik dan pikiran yang berbeda satu dengan lainnya. Kita semua ingin bahagia, kita mencari kebahagiaan sesuai dengan tingkat kesadaran kita masing-masing, mereka yang mencari diluar biarkan bermain diluar, akan tiba waktunya bel kesadaran memanggil masuk kedalam. Seperti kesepian tidak mungkin disembuhkan dengan berhubungan dengan orang diluar, begitupula penerimaan, penghargaan, penghormatan, dan pengakuan, semuanya hanya didapat dengan cara menerima dan menghormati sepenuhnya diri yang didalam. Kebahagiaan adalah hal yang sederhana, bahkan hal yang paling sederhana di alam ini, semua yang diperlukan untuk berbahagia ada didalam diri setiap makhluk. Mulailah bersyukur dari hal-hal kecil, lihatlah kilau pernak pernik indah yang bergelimpangan sepanjang jalan hidup ini, seperti kata orang bijak dibawah ini "Banyak orang gagal menerima nobel, oscar, Pulitzer, tetapi kita semua dapat memperoleh kesenangan-kese nangan kecil. usapan punggung, ciuman di belakang telinga, suara keras bas, bulan purnama, tempat parkir kosong, makanan enak, matahari tenggelam yang agung, sup panas. jangan resah karena ingin memperoleh penghargaan hidup yang hebat. Nikmati kesenangan kecil yang tersedia banyak untuk kita." begitu sering dan begitu banyak yang terlewat, dan mungkin kita baru akan menyadari ketika waktu tinggal sedikit lagi. disaat saya membaca kalimat manusia bijak dibawah ini, tidak terasa airmata mengalir dan menyadari kebenarannya walau belum mengalaminya "Di akhir hidupmu, engkau akan menemukan bahwa hal- hal dulu yg engkau pikir adalah hal-hal besar sebenarnya adalah hal-hal kecil, dan semua hal yg engkau pikir hanyalah hal-hal kecil yg tidak penting adalah hal-hal yg penting dan besar" Dan Saya juga ingin mengingatkan diri sendiri kembali dua kalimat yang dikatakan Prof. Morrie Schwartz dalam bukunya yg melegenda Tuesdays with Morrie "When you realize you are going to die, you see everything much differently" "If you accept that you can die at any time - then you might not be as ambitious as you are." Kematian adalah salah satu guru terbaik yang mengajarkan makna kehidupan lebih baik daripada siapapun, hanya dengan menyadari kematian secara penuh barulah apa yang kita jalani sekarang ini boleh disebut Hidup. _/|\_

Kamis, 16 Juni 2016

.:: KENAPA MASIH SAJA GUNDAH ? ::.

Arif Rh Uang udah banyaaak banget, kok masih hidup gelisah / gak tenang ... Udah menikah, istri cantik / suami ganteng, kok masih terasa hampa ... Udah sukses, kok merasa gundah gulana ... Udah punya anak lucu-lucu, eh kok masih menderita .. Udah punya kerjaan mapan bergengsi, kok masih susah bahagia ... Mengapa bisa begitu? ... Apa sebabnya? ... Kalau kita ibaratkan roda kehidupan, kayak ban sepeda motor, maka segenap aspek kehidupan kita, adalah jerujinya ... Roda, baru enak bergulirnya, kalau jerujinya sama panjang ... Kalau jerujinya gak sama panjang, meskipun rodanya bulat, tetep aja jadi terguncang-gunc ang ... Karena posisi poros roda, tidak sama terhadap velg-nya ... Kadang, orang tidak imbang, dalam membangun jeruji kehidupannya ... Kalau anda sibuuk banget meditasi / wirid, kok tetep gelisah? ... Ya iya lah, lha wong anda enggak kerja, gak punya duit buat hidup ... Jeruji aspek spiritual anda panjang, tapi jeruji aspek keuangan anda sangat pendek ... Kalau anda, sibuuk banget nyari duit, kerja melulu, kok tetap menderita? ... Ya iyalah, karena jeruji aspek keluarga anda (anak istri / suami / ortu), gak anda berikan perhatian yang cukup, sehingga sering terjadi pertengkaran ... Uang gak banyak-banyak amat, tapi kalau aspek kehidupan lainnya seimbang panjang jerujinya, hidup anda akan enak, ayem ... Uang melimpah ruah, dimana- mana, tapi kalau panjang jeruji aspek lainnya timpang, anda hidup dalam ketidaktenangan ... Ini adalah rumus sederhana yang perlu kita perhatikan ... Keseimbangan jeruji aspek roda kehidupan ... Hidup kita gak nyaman? ... Terguncang-guncang? ... Tidak tenang? ... Serasa ada yang kurang, dan di batin jadi ngawang-awang? ... Itu tanda, aspek kehidupan kita ada yang tidak seimbang ... Cari dan kenali, mana jeruji yang terlalu pendek ... Cari dan kenali, mana jeruji yang terlalu panjang ...

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...