Senin, 03 Juli 2017

SURO DIRO DJAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Natkala pangarep-arep suwe jroning panganti,
Wus kagarit sahasra sesulih kadhapuk jroning babad,
Sanadyan sewu rupa wus imbal gumanti,
Sanadyan saben kawuryan beda werna,
Malah wujude tansah datan ajeg,
Tanapi ponang wektu tansah miyak sasab pangalinge.
Kalaning dewi candra praba sihe surem kalingan runguting wit-witan,
Sira tansah padha,
Milang tyas kang demeng lan blawu,
Kang ana jroning jaja pirang-pirang keti manusa.
Kala kartikaning adil rarem kalingan jaladara,
Sira tansah padha,
Sumusup jroning sukma kadhapuk dadi nata ingaurip,
Nyongok wateke manusa,
Nyebar bibit kesrakahan,
Jroning buntelan lelamisan,
Jroning gendhaga wicitra.
Nyecongok adnyana manusa,
Nuwuhake keserakahan,
Ing lemah paugeran,
Kang sira rabuk kinarya sesongaran.
Kalaning bagaskara bebener ambles lumebeng walike cakrawala,
Sira tansah padha,
Ndadekake batur manusa jroning angsane,
Njurung harda katumlak sajroning piangkah pribadya,
Saningga lila ndadekake bebanten watak kamanungsane.
Anaging ingsun,
Raden Dharma Yodha, tunas tarunaning bangsa,
Siyaga adilaga lumawan sira,
Wahai ... kadhakahan ...!
Wahai ... Ambek sura...!
Wahai ... kang demen cidra...!
Ponang Angkara Murka malaning ati,
Arep dak tujah sira,
Kinarya sanjata pangandel kang kenceng dak regem,
Amrih Nagringsun ruwat sangka cencangan wibawanira,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

TERJEMAHANNYA :
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Ketika pengharapan lama dalam penantian,
Telah tertoreh seribu pergantian peran dalam sejarah,
Walau seribu rupa telah berganti,
Walau setiap muncul berbeda warna,
Bahkan wujudpun selalu tak sama,
Tetapi sang waktu selalu menyibak tabirnya.
Ketika dewi rembulan sinar kasih sayangnya tampak redup dibalik pepohonan,
Kau selalu sama,
Menghitung hati yang hitam dan kelabu,
Yang ada di dalam dada berjuta-juta manusia.
Ketika bintang keadilan beristirahat dibalik awan,
Kau selalu sama,
Menyusup dalam sukma berperan sebagai raja kehidupan,
Kendalikan watak manusia,
Menebarkan benih ketamakan,
Dalam bungkus kebohongan,
Dalam kemasan pencitraan.
Kendalikan pikiran manusia,
menumbuhkan keserakahan,
Di tanah peraturan,
Yang kau pupuk dengan kepongahan.
Ketika mentari kebenaran tenggelam terbenam dibalik cakrawala,
Kau selalu sama,
Memperbudak manusia dalam ambisinya,
Mendorong keinginan terjerumus ke dalam keegoisannya,
Hingga rela korbankan sifat kemanusiannya.
Tetapi aku,
Raden Dharma Yodha, tunas muda bangsa,
Siap berperang melawanmu,
Wahai ... Ketamakan...!
Wahai ... Kepongahan...!
Wahai Keangkuhan...!
Sang Angkara Murka Penyakit Hati,
Akan kuterjang kau,
Dengan senjata keyakinan yang erat kugenggam,
Agar Negeriku bebas dari belenggu kuasamu,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

Rahayu!

Sabtu, 24 Juni 2017

WAKE ME UP - AVICII

Wake Me Up | Avicii
Feeling my way through the darkness
Rasakan langkahku dalam gelap
Guided by a beating heart
Dituntun oleh hati yang berdegup
I can't tell where the journey will end
Aku tak tahu dimana akhir perjalanan ini
But I know where to start
Tapi kutahu dimana harus mulai
They tell me I'm too young to understand
Mereka bilang aku terlalu muda tuk mengerti
They say I'm caught up in a dream
Mereka bilang aku terperangkap di alam mimpi
Well life will pass me by if I don't open up my eyes
Bahwa hidup akan meninggalkanku jika tak kubuka mata
Well that's fine by me
Tak mengapa bagiku
(2x)
So wake me up when it's all over
Maka bangunkanlah aku saat semua ini tlah usai
When I'm wiser and I'm older
Saat aku tlah lebih bijak dan lebih tua
All this time I was finding myself
Selama ini kucari-cari diriku sendiri
And I didn't know I was lost
Dan aku tak tahu bahwa aku tersesat
I tried carrying the weight of the world
Kucoba memikul beban dunia
But I only have two hands
Tapi hanya dua tangan yang kupunya
I hope I get the chance to travel the world
Berharap kupunya kesempatan tuk jelajahi dunia
And I don't have any plans
Dan aku tak punya rencana
I wish that I could stay forever this young
Andai kubisa terus muda begini
Not afraid to close my eyes
Tak takut pejamkan mataku
Life's a game made for everyone
Hidup ini hanyalah permainan untuk semua orang
And love is a prize
Dan cinta adalah hadiahnya
(2x)
So wake me up when it's all over
Maka bangunkanlah aku saat semua ini tlah usai
When I'm wiser and I'm older
Saat aku tlah lebih bijak dan lebih tua
All this time I was finding myself
Selama ini kucari-cari diriku sendiri
And I didn't know I was lost
Dan aku tak tahu bahwa aku tersesat
I didn't know I was lost
Aku tak tahu bahwa aku tersesat
can't tell where the journey will end
Aku tak tahu dimana akhir perjalanan ini
But I know where to start
Tapi kutahu dimana harus mulai
They tell me I'm too young to understand
Mereka bilang aku terlalu muda tuk mengerti
They say I'm caught up in a dream
Mereka bilang aku terperangkap di alam mimpi
Well life will pass me by if I don't open up my eyes
Bahwa hidup akan meninggalkanku jika tak kubuka mata
Well that's fine by me
Tak mengapa bagiku


Minggu, 11 Juni 2017

THE ALONENES

Kemampuan untuk menyendiri adalah kemampuan untuk mencintai. Ini mungkin terlihat paradoks bagimu, tapi sebenarnya tidak. Ini adalah kebenaran eksistensial:Hanya orang-orang yang mampu sendirian saja yang mampu mencintai, berbagi, masuk ke inti terdalam orang lain - tanpa memiliki yang lain, tanpa menjadi tergantung pada yang lain, tanpa mengurangi yang lain menjadi sesuatu hal, dan tanpa Menjadi kecanduan yang lain. Mereka membiarkan kebebasan mutlak untuk orang lain, karena mereka tahu bahwa jika yang lainnya pergi, mereka akan bahagia seperti diri mereka sendiri sekarang. Kebahagiaan mereka tidak dapat diambil oleh pihak lain, karena tidak diberikan oleh pihak lain.

OSHO-Being in Love: "How to Love with Awareness and Relate Without Fear"

Semua orang berhak hidup sesuai dengan pengalamannya sendiri
Dan menemukan jalannya sendiri.
Tidak ada agama di dunia ini yang mengatakan
Untuk berperilaku dengan penuh kasih,
hormat, terhadap orang lain.
Setiap agama menganggap mereka satu-satunya
orang yang benar;
Mereka memiliki monopoli akan kebenaran
Dan yang lain salah.
Pendekatanku adalah
Bahwa setiap orang berhak untuk menjadi benar atau salah.
Dan jika seseorang memutuskan untuk salah,
Tetap saja dia harus diberi segala hormat dan setiap cinta.
Ini adalah keputusannya, dan jika dia ingin menjalani keputusannya,
Bukan urusan siapa pun untuk ikut campur dalam hidupnya
dan dalam filosofinya.

Rahayu!

Jumat, 09 Juni 2017

GOLDEN MEMORIES


(yang usianya skrg 30an - 50an tahun).

Sekedar anda tahu...

Kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung.

Karena kitalah generasi yang mengalami loncatan teknologi yg begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima.

Sebagian kita pernah menikmati lampu petromax dan lampu minyak, sekaligus menikmati lampu bohlam, TL, hingga LED

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati riuhnya suara mesin ketik.
Sekaligus saat ini jari kita masih lincah menikmati keyboard dari laptop kita.

Kitalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder (kadang pitanya mbundet/kusut) kita.
Sekaligus kita juga menikmati mudahnya menikmati dari keping CD juga men download lagu dari gadget.

Kitalah generasi terakhir yang bisa langsung menikmati dan menyanyikan dengan faseh lagu-lagu di obok obok..., abang tukang bakso..., Broerry, Koesplus, Mercys, Arrafiq dll....
tapi kita pun sangat menikmati "hapuslah ingatanku..., ketiban gajah..., butiran debu..., aku yg dulu..., kesempurnaan cinta..., dll..

Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan, sumpit2an, galasin adalah permainan yg tiap hari akrab dg kita.
Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget .
Masa remaja.

Kitalah generasi terakhir yang pernah mempunyai kelompok/geng yang tanpa janji, tanpa telpon/sms tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam minggu sampai pagi.
Karena kita adalah generasi yang berjanji cukup dengan hati.

Kalau dulu kita harus bertemu untuk tertawa terbahak-bahak bersama.
Kini kitapun tetap bisa ber "'wkwkwkwk"
''
Di grup Facebook/whatsApp .

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana.
Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala.

Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yang membayangi kita.

Kitalah generasi terakhir yg pernah merasakan nikmatnya nonton tv (ada yg cuman hitam putih layarnya) dengan senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah chanel sana sini rame rame satu kampung dengan powersuply aki yang jika strumnya akan habis layarnya tv ciut tinggal separo.

Kita adalah Generasi yang selalu berdebar debar menunggu hasil cuci cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita.

Selalu menghargai dan berhati-hati dalam mengambil foto dan tidak menghambur hamburkan jepretan dan mendelete-nya jika ada hasil muka yang jelek.
Saat itu hasil dengan muka jelek kita menerimanya dengan rasa ihklas.
Ihklas dan tetap ihklas apapun tampang kita di dalam foto.
Tanpa ada editan Camera 360 photoshop atau Beauty face.

Betul2 generasi yang menerima apa adanya.

Kitalah generasi terakhir yangg pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.

Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tapi kita adalah generasi yg LIMITED EDITION.

Kita adalah generasi yg patuh & takut kepada OrTu (meskipun sembunyi2 nakal & melawan) tapi kita generasi yang mau mendengar & komunikatif terhadap anak cucu.

Itulah kita.... selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima.

Anda di generasi itu?

Bagikan ini sebagai pengingat masa dahulu dan menjalani masa sekarang........

Indahnya waktu itu...

Minggu, 04 Juni 2017

AGAMA WARISAN APAKAH ITU ADA?

Assalamu 'alaiukum wr. wb.

"Agama Warisan" yang menjadi viral membuat admin tergerak ikut membedahnya, baik dari sudut pandang yang pro ataupun kontra.
Untuk itu, dibawah ini akan admin sajikan tulisan yang merujuk tentang Agama Warisan tersebut dari beberapa sumber.
Berikut tulisan yang membahasnya :

Tuisan ke 1
MELALUI KEMATIAN YANA ZEIN, ALLAH BUKTIKAN "AGAMA WARISAN" AFI TIDAK BENAR
~ By Erwyn Kurniawan ~

Begitu cepat Allah swt memberikan bantahan terhadap tulisan Asa Firda Inayah alias Afi ttg "Agama Warisan". Melalui kisah tragis kematian artis Yana Zein, artikel tsb menjadi kehilangan makna & hanya pepesan kosong.

Afi menulis begini:
“Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."
Tulisan ini menjadi viral atau sengaja diviralkan. Afi sontak menjadi terkenal, diundang media arus utama yg selama ini menjadi pendukung Ahok. Presiden Jokowi segera mengundangnya ke Istana Negara tepat di Hari Kelahiran Pancasila. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin pun rela berfoto bersama Afi sambil tersenyum untuk memberikan dukungan terhadap tulisan tersebut.

Artikel yg kemudian diketahui PLAGIAT itu dikampanyekan sebagai buah pikir yang tepat utk mendukung kebhinekaan & NKRI. Dua tema yg mendadak ramai sejak Ahok menista agama & kemudian dipenjara. Tujuannya jelas: menohok umat Islam dan para ulama yg selama ini terus berjuang menuntut keadilan terhadap Ahok.

Di saat bersamaan seorang artis senior wafat. Namanya Yana Zein. Bukan kematian biasa karena saat akan dimakamkan, terjadi peristiwa menyedihkan karena antara ayah & ibu almarhum bersitegang soal agama anaknya.
Swetlana, ibu Yana Zein, mengaku memiliki bukti bahwa putri tersayangnya tersebut telah menganut agama Kristen.

"Saya ibunya, saya punya bukti kalau KTP dia Kristen. Waktu sakit keras, Yana bilang 'tolong kalau ada apa", saya mau dikuburkan secara Kristen'. Agama semua sama, saya kira Yana berhak memilih. Yana juga ada tanda tangan sendiri kalau dia jadi Kristen," ujarnya.
Sang ayah, Nurzaman Zein, tak kalah argumen.

Dia meminta Yana harus dikuburkan secara Islam.
"Namanya Suryana Nurzaman Zein. Dia meninggal di bulan Ramadhan. Dia meninggal dengan khusnul khotimah," kata Nurzaman.
Rumah duka akhirnya gaduh. Sang ibu menjerit histeris saat ayah Yana melantunkan ayat suci Al-Quran di sebelah peti jenazah.

Kisah pilu ini membuktikan bahwa agama bukanlah warisan. Keimanan seorang manusia tidak diturunkan otomatis dari ayah dan ibunya. Jika memang warisan, Yana Zein pasti beragama Islam dan tak perlu ada kericuhan saat akan dimakamkan.

Bagi orang beriman, tulisan Afi & kematian Yana Zein yg terjadi saat bersamaan harus dilihat dalam kacamata keimanan. Bahwa inilah campur tangan Allah swt untuk memberi bukti tidak ada "agama warisan". Dan jika masih ada di antara kita yg membenarkan tulisan Afi meski Allah swt sudah "membantahnya" melalui kematian Yana Zein, saya tak tahu dgn cara apalagi Dia harus memberi petunjukNya.
Wallahua'lam bishshowab
Tamat...
-------------

Tulisan ke 2
AGAMA WARISAN
Oleh: Muhammad Zazuli

Nebeng ikut bicara soal “agama warisan” yang sempat viral dan heboh beberapa waktu lalu.

Tidak hanya agama, sesungguhnya semua yang ada pada diri kita ini adalah warisan. Tubuh fisik kita ini juga adalah warisan dari DNA dan genetika yang diturunkan secara biologis dari bapak-ibu bahkan nenek moyang kita sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Pemikiran dan identitas kita juga adalah warisan dari dogma dan ajaran yang diberikan oleh orangtua, guru agama, guru sekolah, teman, lingkungan, pengalaman dan semua yang ada di sekitar kita termasuk buku-buku yang kita baca, ceramah yang kita dengarkan dan tontonan yang kita lihat.

Bumi kita inipun juga adalah warisan dari debu-debu supernova dan bintang-bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu. Matahari kita juga adalah warisan dari reaksi nuklir paduan dari hidrogen dan helium yang ada di galaksi. Bahkan galaksi kitapun adalah warisan dari pemuaian alam semesta yang kemudian mendingin, mengerut dan berputar di sebagian kawasan di jagad raya ini.

Intinya adalah segala sesuatu terjadi dan berjalan karena Hukum Alam dan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada akibat yang terjadi tanpa sebab tertentu dan tak ada sebab yang tak mengakibatkan terjadinya akibat tertentu. Jadi jika dulu saya terlahir di Rusia tentu nama saya bukanlah Zazuli tapi bisa saja menjadi Zazulov dan saya menjadi orang yang atheis atau komunis. Jika saya terlahir di kerajaan Romawi masa lampau mungkin nama saya akan menjadi Zazulius dan menyembah dewa-dewi pagan. Jika saya terlahir di China maka bisa saja nama saya menjadi Zhang Zhu Ling dan saya menyembah Dewa Langit (Thian) atau bahkan dewa dapur. Jika saya terlahir di kawasan bawah laut Bikini Bottom (tempat tinggal Spongebob) maka bisa saja nama saya menjadi Zazuklu dan saya menyembah kerang ajaib uluk-uluk-uluuuk......

Jadi bukan hal yang aneh dan istimewa jika ada yang mengatakan bahwa agama Anda adalah agama warisan dari orang tua, keluarga, leluhur dan lingkungan masyarakat yang ada di sekeliling Anda. Memang faktanya seperti itu. Yang aneh justru adalah orang yang marah, kejang-kejang, ngamuk, protes bahkan mengancam membunuh gadis remaja yang menuliskan soal hal itu. Orang bodoh tapi arogan dan keras kepala memang cuma bisa bikin onar dan bikin masalah saja, tidak bisa diajak berpikir dan berdiskusi secara jernih dan sehat. Yang dikecam dan diancam bunuh bukannya makin surut namun makin jadi tenar dan bersinar. Bagaimanapun suara kebenaran tidak akan bisa dibungkam oleh suara kedzaliman.

Tapi saya juga bisa memahami amarah mereka. Sewaktu masih SMA sebenarnya saya termasuk cukup fanatik dalam beragama. Saya bahkan membaca buku-buku karya Abdullah Azzam yang adalah gurunya Usamah bin Laden (pemimpin jaringan teroris global Al Qaedah) dan bertekad untuk menjadi seorang jihadis. Soal dalil-dalil jihad dan perang saya sudah hapal di luar kepala, jadi jangan ajarin lagi saya soal itu. Saya bahkan pernah membenci semua orang, semua golongan, semua negara, semua agama, semua simbol dan semua hal yang saya anggap sebagai “musuh Tuhan” (betapa gobloknya dulu saya karena mengira bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa masih bisa punya musuh).

Namun puji Tuhan alhamdulillah saya akhirnya bahagia karena kemudian saya “tersesat di jalan yang benar”. Belasan tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang sufi pengembara yang beraliran tasawuf Syekh Siti Jenar. Beliau berkata : “Dulu Rasulullah SAW datang untuk menghapus ajaran nenek moyang. Lah kamu ini sekarang malah juga beragama dengan agama nenek moyang. Kamu pikir agama kamu itu juga bukan agama nenek moyang ya?” Satu ungkapan beliau lagi yang dulu membuat saya bingung adalah : “Jika kamu ingin belajar tasawuf / ilmu hakikat maka penggal dulu kepalamu.”

Tidak hanya bertemu dengan sufi pengembara, saya juga pernah bertemu dengan seorang Sekjen dari sebuah “Secret Society” yang ada di Indonesia. Beliau mengundang saya untuk menjadi anggotanya bahkan menawari saya beasiswa untuk belajar mengenai aliran tersebut langsung dari markas mereka di luar negeri meskipun kemudian saya tolak dengan halus karena saya tidak mau terikat dengan organisasi. Mungkin inilah makna dari pepatah dalam dunia spiritual “Saat murid siap, maka Guru akan datang sendiri.”

Dan kini saya baru paham apa makna dari ungkapan guru tasawuf yang membingungkan tadi. Sepanjang hidupnya manusia itu terlahir sebanyak dua kali.

Kelahiran pertama adalah kelahiran alami yang sebagian besar perannya dilakukan oleh kodrat alam di luar kekuatan dan kehendak sadar kita yang mewariskan kepada kita segala identitas kita secara “an sich” dan tinggal terima saja termasuk bagaimana fisik kita, dimana dan kapan kita lahir dan di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita tidak bisa memilih di bangsa mana atau di keluarga seperti apa kita lahir. Kita juga tidak bisa memilih dalam keluarga yang beragama apa kita lahir karena agama keluargalah yang akhirnya akan lebih dominan dalam menentukan agama yang kita anut sepanjang hidup kita. Hanya sedikit saja orang yang kemudian memutuskan untuk menganut agama yang berbeda dengan agama warisan keluarganya, itupun biasanya karena faktor duniawi saja seperti pernikahan.

Kelahiran kedua adalah kelahiran jiwa atau spiritualitas kita yang kita pilih berdasarkan kehendak bebas dan kesadaran kita. Ada orang yang terlahir dalam keluarga miskin tapi dengan kemauan, kehendak dan usahanya dia bisa menjadi orang yang sukses. Inilah yang saya maksud dengan “kelahiran kedua” yaitu kelahiran mental dan jiwa seseorang yang baru. Inilah yang dimaksud dengan evolusi kesadaran meskipun mungkin masih hanya sebatas kesadaran fisik atau kesadaran materi saja, tapi itupun adalah sebuah prestasi dan kelahiran baru bagi sang jiwa yang ternyata akhirnya mampu menunjukkan kemandiriannya dan mengalahkan batasan dan kondisi dunia yang ada di luarnya.

Begitu juga dengan agama. Agama warisan adalah agama yang Anda ikuti berdasarkan “kehendak alam semesta” dimana Anda dilahirkan, bukan berdasarkan kesadaran pribadi, pilihan sadar dan kehendak bebas Anda. Jadi jika dulu guru tasawuf saya mengatakan “penggal dulu kepalamu” itu berarti bahwa saya harus mengosongkan gelas pikiran saya yang sudah penuh dengan dogma dan ajaran yang saya terima dan dipaksakan masuk ke dalam kesadaran saya sejak kecil (termasuk pikiran sadar dan bawah sadar saya) karena hanya gelas kosong saja yang bisa diisi dan dipenuhi dengan “air segar yang baru”.

Semua agama adalah baik, benar dan sempurna dalam pandangan penganutnya. Dan Anda tidak bisa memaksakan bahwa hanya agama Andalah yang paling baik, paling benar dan paling sempurna kepada orang lain yang tak seagama dengan Anda. Itu adalah tindakan yang paling bodoh, paling egois dan paling kontra produktif. Semua penganut agama selalu berpikir dan percaya bahwa hanya agamanyalah yang paling baik dan paling benar. Tidak peduli apapun agamanya, sesungguhnya agama yang terbaik bagi seseorang adalah agama yang bisa mengubah jiwanya dan membawanya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih damai, lebih bijak, lebih sabar, lebih berwelas asih dan semua sifat baik lainnya. Untuk tujuan kebaikan inilah maka agama-agama yang berbeda itu mengajarkan doktrin yang berbeda yang dapat membantu manusia mengubah dirinya menjadi lebih baik, lebih sadar dan lebih bijak.

Secara eksoterik (bentuk luar) semua agama pastilah berbeda baik dalam hal dogma, ritual, konsep, simbol, metode, aturan maupun berbagai hal lainnya (sebagaimana manusia yang berbeda-beda dalam hal ras, suku, bangsa dan warna kulit). Tapi secara esoterik (hakikat dalam) pastilah semua agama memiliki prinsip yang sama mengenai cinta kasih, kebaikan, kejujuran dan semua sifat dan karakter baik lainnya (sebagaimana semua manusia apapun warna kulitnya selalu mendambakan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan). Persamaannya inilah yang terpenting dan harus kita tekankan dan justru bukannya menekankan pada perbedaan yang justru akan memancing konflik dan permusuhan yang justru bertolak belakang dengan hakikat, makna, maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.

Pada tahun 1666, ilmuwan terkemuka Sir Isaac Newton berhasil memecahkan misteri warna pelangi melalui sebuah percobaan di kantornya di Lincolnshire, Inggris. Melalui sebuah prisma kaca dia menemukan bahwa tujuh spektrum warna pelangi (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu) sebenarnya hanyalah merupakan hasil pembiasan dari cahaya putih matahari. Di alam maka titik-titik air hujanlah yang berfungsi sebagai prisma kaca yang membentuk 7 spektrum warna pelangi. Dengan demikian maka sesungguhnya cahaya putih matahari adalah kumpulan dari semua warna dan ketujuh warna pelangi itu sebenarnya sudah ada secara potensial di dalam cahaya putih matahari yang kemudian bisa diuraikan melalui prisma kaca ataupun titik air hujan menjadi tujuh warna pelangi.

Begitu juga halnya dengan ilmu Hakikat atau ilmu Kesejatian (The Truth) bisa diibaratkan sebagai cahaya putih matahari yang Tunggal di alam Absolut. Sedang agama / religi hanyalah turunan, tafsir, deviasi, diferensiasi atau hasil pembiasan dari Cahaya Putih tersebut yang menjelma dan termanifestasi menjadi 7 spektrum warna pelangi di alam dunia ini. Jadi meskipun berbeda namun sesungguhnya ketujuh spektrum warna pelangi itu hakikatnya adalah Tunggal dan eksis secara potensial di dalam cahaya putih matahari (cahaya Illahi). Sesungguhnya Hidup itu adalah Tunggal. Seluruh makhluk sejatinya sekedar berbagi Hidup yang sama yang berasal dari Sang Tunggal tersebut. Oleh karena itu hormatilah agama orang lain sebagaimana engkau menghormati agamamu sendiri. Menghina dan memaki agama orang lain sebenarnya hanyalah menunjukkan kebodohan, kekerdilan dan kesombongannya sendiri.

Masalah timbul setelah terjadinya pembiasan. Antara warna merah, kuning, hijau merasa saling terpisah, saling berbeda dan saling berdiri sendiri. Mereka lupa dengan asal usulnya yang berasal dari cahaya putih matahari. Akhirnya mereka saling berdebat dan bertarung sendiri. Memang setelah melewati prisma kaca (atau prisma manifestasi / alam ilusi) yang merah akan tetap tampak sebagai merah, yang kuning akan tetap tampak sebagai kuning dan yang hijau akan tetap tampak sebagai hijau. Mereka saling berbeda dan tidak bisa disatukan.

Tapi di balik prisma sebelum terjadinya pembiasan (manifestasi) maka sesungguhnya merah, kuning, hijau tadi tidak ada namun eksis secara bersamaan dan potensial di dalam cahaya putih (kemurnian asal, Wu Chi). Warna sesungguhnya juga tidak ada, yang ada hanyalah panjang gelombang cahaya. Jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 5.500 Angstrom dan diterima oleh sensor visual / syaraf mata kita maka otak kita akan mempersepsinyanya sebagai benda berwarna kuning, jika suatu benda memancarkan gelombang cahaya sebesar 4.500 Angstrom kita menyebutnya sebagai merah begitu seterusnya.
Hanya mereka yang berwawasan dan berkesadaran tinggi saja yang bisa memahami bahwa cahaya putih adalah satu-satunya hakikat sejati atau satu-satunya realitas akhir sedangkan merah, kuning, hijau dan lain-lain hanyalah sekedar ilusi yang bersifat maya, fana dan sementara dan akan segera hilang musnah saat prisma kaca tersebut diangkat dan diambil. Secara hakikat maka warna-warni pelangi tadi tidak ada karena yang ada hanyalah cahaya putih matahari saja. Adanya tujuh warna pelangi hanya karena ditopang keberadaannya oleh cahaya putih matahari. Tanpa cahaya putih matahari maka ketujuh warna pelangi niscaya tidak ada sama sekali.

Itulah sebabnya sehingga Syaikh Maulana Jalaluddin Rumi, ulama sufi dan mistikus Islam yang paling terkemuka, paling dikagumi dan paling dihormati oleh dunia Barat pernah berkata : “Aku bukanlah orang Nasrani, aku bukanlah orang Yahudi, aku bukanlah orang Majusi, dan aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampauilah gagasan sempitmu tentang benar dan salah sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” (yaitu Cahaya Putih Illahi, sumber dari 7 pelangi agama) tanpa dibatasi oleh berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.“

Dan hal inipun juga tidak bertentangan dengan ayat Al Quran yang menyatakan : ”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin (penyembah matahari), barang siapa yang beriman diantara mereka itu kepada Tuhan dan hari akhir (kematian, kefanaan) serta berbuat kebajikan maka untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tak ada ketakutan atas mereka dan tiada mereka berduka cita”. (Al-Baqarah : 62). Inilah bukti bahwa Islam sebenarnya mendukung dan mengajarkan toleransi serta pluralisme.

Tidak semua orang bisa memahami makna dan hakikat sejati dari agama. Hanya mereka yang sudah mulai berkembang kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya saja yang bisa memahami esensi spiritual dari semua ajaran agama.

Mereka yang masih bergelung, bergelut dan terbelenggu di dalam kepompong jiwa yang berupa ego kelompok, teologi konflik, berhala mental, ideologi tertutup / anti kritik, dogma sempit, kaku & parsial, ilusi & delusi spiritual, pola pikir linear, pikiran dualistis, mindset keterpisahan, violence mentality dan jiwa yang terbelah pastilah tidak akan sanggup memahami makna dan tujuan sejati dari semua agama dan akan terus terjebak pada ego dan kesombongan untuk selalu merasa benar sendiri, sulit mengasihi, tidak bisa menghargai hak orang lain, gemar menghakimi, sikap suka memaksakan kehendak dan hanya mau menang sendiri saja.

Ada tujuh dimensi / lapisan alam yang terdiri dari : alam Illahiah, alam Monadiah, alam Rohaniah, alam Intuisional, alam Mental, alam Astral dan alam Fisik (beserta kembaran eteriknya). Di alam astral dan seterusnya maka agama yang diyakini seseoranglah yang akan menjadi penyelamat setelah jasmani fisiknya terurai / meninggal asalkan orang itu murni, tulus dan lurus dalam hati, jiwa, pikiran, perkataan dan perbuatan. Tanpa agama orang tidak akan mengenal jalan pulang karena hanya agamalah yang mengajarkan tentang keabadian jiwa serta hubungannya dengan Sang Pencipta / Sang Sumber, bukan ilmu seni, filsafat, politik, bisnis ataupun sains. Agama juga adalah alat, sarana, tali sambung dan jembatan rohani menuju Tuhan. Tapi yang menjadi tujuan sebenarnya adalah Tuhan itu sendiri.

Mengenal Tuhan adalah tujuan sejati kehidupan (Sangkan Paraning Urip). Menjadikan agama sebagai tujuan adalah salah karena itu berarti musyrik dan mempersekutukan Tuhan. Orang yang telah mengenal Tuhan tidak mungkin akan menebar kebencian, permusuhan dan kekerasan melainkan hanya akan menebar kedamaian, kebajikan dan welas asih. Sedang orang yang memuja agama tapi belum mengenal Tuhan masih berpeluang besar menebar kebencian, permusuhan, kekerasan dan kekacauan karena seringkali dia tidak bisa membedakan antara ego, ambisi, nafsu dan prasangkanya sendiri dengan hidayah / cahaya petunjuk Illahi.

Dengan demikian sifat Kasih Sayang (Rahman Rahim) adalah satu-satunya tolok ukur untuk melihat apakah seseorang sudah mengenal Tuhan ataukah belum. Orang yang suka menebar kebencian dan permusuhan antar sesama manusia jelas bukanlah orang yang sudah mengenal Tuhan meskipun mungkin dia hapal sejuta dalil agama. Religiousity and Spirituality are really different things.....

Dan kebetulan semboyan dasar negara kita adalah “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda namun satu. Aslinya semboyan ini diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular di abad 14 yang kutipan lengkapnya berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya “Meski berbeda-beda namun hakikatnya adalah Satu, tak ada dharma / ajaran kebenaran yang mendua” untuk menunjukkan kesatuan antara ajaran Hindu Ciwa dengan ajaran Buddha yang berkembang di Majapahit kala itu. Kebetulan juga semboyan ini mirip dengan slogan pada Great Seal of United States (Segel Agung Amerika Serikat) yang diciptakan oleh kaum Mason para Bapak Bangsa Amerika yaitu “E Pluribus Unum” yang artinya "Banyak Yang Adalah Satu". Dalam Al Quran sendiri juga dituliskan : “ Maka kemanapun engkau hadapkan wajahmu di situ akan kamu lihat wajah Allah.” (QS Al Baqarah : 115)
Saya tidak tahu apakah setelah saya menulis ini akan ada yang memaki saya kafir, sesat, bangsat, liberal, sekuler, PKI, anjing, babi, iblis dll (memaki, mengancam, mengintimidasi, menyerang dan melakukan kekerasan adalah reaksi khas mereka jika kalah dalam berlogika dan berdiskusi) atau bahkan mungkin akan ada yang mengancam membunuh saya. Atau bisa jadi setelah diancam bunuh, saya malah bisa seperti dek Afi yang jadi terkenal n bisa masuk tivi bersama Najwa dan Rossi serta ketemu pakdhe Jokowi hihi... Kan malah lumayan meskipun lu manyun hehe.... Tapi jika dibully saya akan tetap mengikuti teladan mbah wali Gus Dur dan ulama-ulama khos dan kyai sakti NU lainnya yang paling cuma akan ngomong “Halah, gitu aja kok repot...” (Terima kasih kepada NU yang selalu konsisten menebarkan dakwah bil hikmah, akhlakul karimah dan menjaga citra Islam sejati yang rahmatan lil alamin).

Sebagai penutup saya akan kutipkan nasehat dari Bhagwan Shree Rajnesh dan Pierce Teilhard de Chardin :
“Sejauh menyangkut agama, maka setiap orang mustilah dilahirkan sebanyak dua kali. Kelahiran pertama adalah karena kehendak alam sedang kelahiran kedua adalah karena bangkitnya kesadaran pribadi.”
“Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Tapi kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia.”

Sudah paham kan sayangku? Sudah ya, jangan mudah marah, baper dan ngamuk-ngamuk lagi yaah... Sekali-kali cobalah beragama dengan akal sehat dan hati nurani agar engkau menjadi lebih bijak dan mengerti, jangan cuma pake ego, ambisi dan emosi yang akhirnya cuma bikin gigit jari, sakit hati dan nurani jadi mati....
Saya Indonesia. Saya Pancasila. Saya Waras.
Salam Waras bin Cerdas wal Sadar
# Kami bersama TNI, Polri, Banser & Anshor NU tolak radikalisme demi keutuhan NKRI

---------------------

Itulah diatas beberapa argumen tentang Agama Warisan dari kedua belah pihak. Semoga bisa menjadikan admin khususnya dan pembaca menjadi bijaksini dan bijaksana, menjadi lebih menyelami makna dan tujuannya bukan untuk menjadikan pembenaran diri (egoistik) untuk menyerang pihak lain, menjadikan kesadaran dalam berspiritual bahwa Tuhan tidak menciptakan satu kaum saja.
Terimakasih.
Walaikumsalam wr. wb.
Semoga semua mahluk bahagia.
Rahayu!

Minggu, 28 Mei 2017

AGAMA BERMAKNA TIDAK KACAU

Makna Agama Itu Tidak Kacau, Jadi Kalau Menjadikan Kacau...???

Dulu agama menghancurkan berhala...
Kini agama jadi berhala...
Tak kenal Tuhannya...
Yang penting agamanya...
Dulu orang berhenti membunuh karena agama...
Sekarang orang saling membunuh karena agama...
Dulu orang saling mengasihi karena beragama...
Kini orang saling membenci karena beragama....
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu...
Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu...
Lalu yg berubah apanya?
Manusia nya?
Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya...
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja...
Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kebijakannya, yg paling cerdas di antara orang2 lainnya ....
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama...
Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian...
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus...
Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan...
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama...
Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan...
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan, tak kan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.
Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tau lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diperTuhankan , sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan...
Agama kini menghujat Tuhan...
Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan...
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.
Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan aturan agama...

Sabtu, 27 Mei 2017

KONSEP AGAMA BARU MUNCUL DI ABAD KE - 4

Intuisi saya mengatakan Agama adalah fenomena yg muncul pada abad2 pertama Masehi. Ternyata perkiraan saya meleset. Munculnya Agama baru pada era yg lebih muda lagi :abad ke-4 !

Dari awal Masehi hingga 300 tahun kemudian tidak terjadi sesuatu berarti kecuali gosip2 yang sporadis dari berbagai macam spekulasi para 'theologian' di berbagai penjuru wilayah jajahan Romawi. Tapi segala sesuatunya berubah.

Tepatnya 28 Oktober 312 M Kaisar Constantine mendapat mimpi penampakan salib di langit yang dia maknai sebagai perintah untuk berperang demi Romawi. Dalam kisah legenda didongengkan bahwa Yesus menampakan diri kepadanya dan Dia berkata "Taklukkan!". Keesokan harinya ia bertempur dan berhasil mengalahkan musuh bebuyutannya Maxentius, sehingga dirinya berkuasa di atas seluruh Imperium Romana. Saat itulah dia berpikir membutuhkan suatu institusi dan segala kelengkapannya (kitab, ritual, apology sejarah, dsb) yang disebut agama , untuk menyatukan kekuasaan politiknya diseluruh wilayah jajahan.

Selanjutnya tonton sendiri....
https://www.youtube.com/watch?v=J3kJ9iV925g

Dan satu hal lagi intuisi saya benar : situasi pada saat itu terdiri dari begitu banyak aliran , pandangan dan pengaruh2 dari 'agama' lama. Jadi terbentuknya memang memang dari hasil sintesa penyampuran / mixed atau gado-gado. Tidak mengherankan bila pola yang sama diulang pada 3 abad berikutnya untuk ekspansi politik Imperialisme yang lebih luas :

https://www.facebook.com/suchamda/photos/
a.379551695549166.1073741826.379551665549169/
749117178592614/?type=3

http://www.reformation.org/vatican-and-islam.html

Jadi adalah salah untuk mengatakan bahwa Agama sudah ada semenjak dari zaman para nabi Israel. Seperti sudah saya katakan dan jelaskan sebelum2nya , bahwa sebelum itu semua fenomena rohani adalah dalam bentuk SPIRITUALITAS.

Sesuatu yang sangat berbeda bagai perbandingan antara sumber mata air murni yang bebas untuk siapa saja yang hendak meminumnya, dengan --ibarat-- air kemasan botolan yang dijual dengan merek tertentu (walau diklaim berasal dari sumber mata air murni).

X : Tiap orang punya ageman sendiri yang tidak sama dan tiap orang bebas mengagemnya.

Jawab :
Dalam bahasa Inggris maka definisi dari kata "religion" adalah suatu belief system.
Tapi dalam bahasa Indonesia kata "religion" itu menjadi "agama" dengan definisi : "suatu sistem kepercayaan yang memiliki NABI, KITAB, INSTITUSI, SET LITURGI/RITUAL /TATACARA dan UMAT.

Definisi "Agama" (versi Indonesia) itulah yang saya kritik !

Jelas beda bila sampeyan merujuk pada 'ageman' yg tiada lain berarti TRADISI SPIRITUAL NUSANTARA juga LAYAK untuk disebut AGEMAN atau RELIGION (per definisi Internasional).

Kebusukan politik lewat definisi BAHASA inilah yg hendak saya ungkap !
Mengapa disini sistem kepercayaan lokal itu dikotakkan tersendiri TIDAK DIAKUI SEBAGAI AGAMA agar bisa DI ANAK TIRIKAN??? WHOIIYY !!

Kenapa semenjak kudeta 1965 via rezim ORBA pengertian Pantja Sila sila-1 "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang original per definisi yang dipidatokan pada Hari Kelahiran Pantja SIla digeser JUSTRU MENGIKUTI definisi IMPERIALIS !!??? (Jadi kewajiban beragama, itupun harus dibatasi 5 yang diakui rezim).
Seluruh rakyat harus tanya kenapa !!!

Rahayu!

Jumat, 26 Mei 2017

MENGAPA NEGARA-NEGARA ISLAM MASIH DI KOYAK PERANG ?

Oleh : Scott Gilmore, October 20, 2016
Diterjemahkan oleh : Danz Suchamda

Saya terjemahkan dari Boston Globe :

Untuk pertama kali dalam sejarah, Belahan Dunia Barat dalam keadaan damai, suatu tonggak sejarah yang tidak banyak menarik perhatian publik. Konflik terakhir yg berkelanjutan di Amerika adalah Colombia. Tetapi, setelah 4 tahun negosiasi antara pemerintah dan gerakan gerilya FARC, perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada bulan Agustus. Dan meskipun perjanjian perdamaian diingkari secara tak terduga pada referendum bulan ini, gencatan senajat tetap, dan kedua belah pihak tetap mau duduk pada meja perundingan.

Akhir perang di Amerika adalah bagian dari trend global yang lebih besar. Menurut data yang dikumpulkan oleh Proyek Keamanan Manusia, sejak berakhirnya Perang Dingin, jumlah konflik bersenjatan telah turun hampir separuh. Perdamaian muncul bak jamur di berbagai tempat.

Dimana saja, kecuali, pada dunia Islam. Menurut Lembaga Hubungan Internasional Penjejak Konflik Global, setelah terjadinya perdamaian di Colombia, maka di dunia hanya ada 6 perang sipil di dunia ini. Lima darinya berada di negara-negara Islam. Hal yang sama, empat dari perang sektarian melibatkan grup-grup Islamist, dan semua dari lima terorisme internasional yang berlangsung melibatkan kelompok Islamist Militan. Bila semua dihitung, maka dari sisa 28 konflik global yang terjadi dari berbagai macam jenis yang terlacak oleh lembaga, 22 darinya melibatkan negara Islam atau faksi Islam.

Ini memunculkan pertanyaan, apabila dunia memasuki era baru perdamaian, mengapa di negara-negara Islam masih dikoyak oleh perang? Terdapat beberapa jawaban.

Pertama, marilah kita buang idea bahwa Islam itu sendiri secara inherent adalah lebih mengandung kekerasan. Mayoritas besar dari perang-perang pada abad terakhir ini adalah perang-perang dari negeri-negeri Kristen. Dan, seperti yang ditunjukkan oleh seorang penulis bernama Steven Pinker, dari seluruh dunia, mayoritas besar dari pembunuhan berencana adalah dari level perorangan, dan tingkat pembunuhan pada negara-negara Islam hanyalah secara tipikal sepertiga dari dunia non-Muslim. Sebagai perbandingan, Louisiana, salah satu negara bagian Amerika yang paling religius dengan 90% populasinya mengindentifikasikan dirinya sebagai Kristen, memiliki angka pembunuhan 50% lebih tinggi daripada Afghanistan.

Terdapat beberapa kemungkinan penjelasan, sumber daya alam adalah salah satunya. Banyak dari konflik Islami saat ini melibatkan negara-negara penghasil minyak, yang mana mengalami apa yang disebut “kutukan sumber daya alam”. Para Ekonom mencatat bahwa negeri-negeri dengan sumber daya alam yang berlimpah dapat secara paradox mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, institusi yang lebih lemah, dan kesenjangan sosial yang lebih besar ketimbang negeri-negeri dengan sumber daya yang lebih minim. Ini adalah karena “uang cepat” yang datang dari minyak adalah sulit untuk dimanajemeni dan dengan mudah dapat mendistorsikan ekonomi maupun mentidakstabilkan sosial.

Petunjuk lain dapat ditemukan pada mengapa negeri-negeri lain berada dalam keadaan damai. Pertimbangkan pertumbuhan demokrasi, sebagai contoh. Telah diakui secara luas bahwa negara-negara demokratis lebih jarang berangkat pergi berperang satu sama lainnya. Bukan merupakan kebetulan, jija jumlah konflik internasional drop setelah 1989, manakala jumlah negara demokratis meningkat dobel. Dan bagaimana dengan dunia Islam? Negeri yang demokrasinya sehat hanyalah Bangladesh dan Indonesia, dan ...kedua negeri itu berada dalam keadaan damai.

Juga terdapat lonjakan tajam dalam bidang komunikasi – adalah lebih sulit untuk menghasut negara tetangga apabila anda membaca bukunya, sharing ide-ide, atau sesederhana berlibur kesana. Disini pun, negara2 Islam jauh tertinggal dibanding negeri-negeri lain. Sebagai contoh, Timur Tengah tertinggal dalam setiap bagian di dunia kecuali Afrika ketika itu berhubungan dengan akses Internet dan kecepatan koneksi. Negara-negara Islam jauh lebih sedikit menerbitkan karya tulis ilmiah per kapita ketimbang bagian-bagian lainnya di dunia. Dan penduduk dari negara-negara Islamist (sebagai mana didefinisikan oleh Organisasi Kerjasama Islam) mengizinkan lebih sedikit perjalanan bebas-visa, ketimbang negeri2 lainnya termasuk Africa. Kesimpulan kumulatif adalah bahwa negeri2 Islam lebih terisolasi dan diskonek terhadap bagian dunia lainnya.

Trend global lainnya yang terjadi pada negeri2 Islam adalah perkembangan ekonomi dan sosialnya. Dalam 50 tahun terakhir telah terjadi pengurangan besar dalam tingkat kemiskinan dunia sepanjang sejarah bumi. Terjadi peningkatan tingkat pendidikan, kesehatan yang lebih baik dan kohesi masyarakat sipil yang lebih kuat. Tetapi, pada dunia Islam pertumbuhan ini jauh lebih lambat. Index Pertumbuhan Social telah merekam jejak dari belasan indikator seperti tingkat kematian bayi, tingkat akses ke pendidikan, dan kesetaraan gender. Bila anda mengelompokan negeri-negeri Islam, maka mereka berada di rangking-rangking bawah bahkan bila dibanding dengan Africa. Tanpa perkembangan, ketidakstabilan, dan perang adalah penyebab yang paling memungkinkan.
Meskipun demikian, terdapat harapan. Trend global terhadap interkoneksi, pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan kohesi masyarakat sipil yang lebih erat tidak dilewati samasekali oleh dunia Islam. Hanya saja bertumbuh jauh lebih lambat. Beberapa penelitik akademis memprediksikan bahwa kita akan melihat akhir dari kemiskinan ekstrim pada 20 tahun ke depan. Mungkin harapan yang terlalu muluk untuk melihat akhir dari perang-perang pada masa itu, tetapi dapat dipahami bahwa kita sebagai manusia pada akhirnya akan sampai pada era perdamaian sejati.

*Scott Gilmore adalah anggota senior dari Munk School of Global Affairs, pendiri dari lembaga non-profit Building Market, dan ex diplomat Kanada.
Original Source : http://www.bostonglobe.com/ideas/2016/10/19/why-islamic-world-still-torn-war/2ZeWixhA50AnDt4SnemjpM/story.html
------------------------------------
Danz Suchamda :
Marilah kita sorot hal-hal apa yang dilakukan oleh menteri-menteri dari kader partai PKS di era rezim SBY :
1. Menteri Pendidikan menghapus bahasa Inggris (upaya membatasi asupan informasi pencelik mata). Menetapkan tujuan pendidikan untuk bidang2 pelajaran termasuk Fisika, Kimia dsb yg bersifat sains dalam koridor agama (upaya pengaburan tujuan bidang sains). Penghapusan bahasa daerah dari mata pelajaran (upaya penghapusan identitas).

2. Dalam dunia Informatika (Menteri Informasi Tifatul Sembiring) : Tidak peduli terhadap kualitas internet Indonesia yang buruk , bandwith sempit dan lelet. "Buat apa internet cepat-cepat?" itu seloroh ybs yg tercatat dalam ingatan saya.

3. Kita lihat upaya penanaman kultur timur tengah yang masif melalui acara-acara TV, iklan komersial, dsb.

4. Terekam para wartawan bahwa calo-calo politik asing mondar-mandir di lingkungan Gedung DPR/MPR.

5. Upaya segregasi dan diferensiasi gender yang masif dari kampanye-kampanye secara tidak langsung melalui selubung dunia entertainment, pendidikan,dsb.

6. Penyusupan kader2 islamis ke jajaran pemerintahan dan institusi2 non-governmental.

7. Merebaknya kasus-kasus kekerasan atas nama agama, pemaksaan-pemaksaan ke sekolah-sekolah non-islam, merebaknya aturan-aturan (UU s/d Perda) yang didasari logika syariah (bukan hukum nasional).


*Sharing knowledge dari Pak Ginanjar*, it's nice to know :

Maaf saya sedang di Boston, sejenak kembali ke Harvard. Saya membaca diskusi di WAG tentang HTI. Saya ingin berbagi pandangan mengenai HTI dan konsep khilafah yang mendasarinya, mungkin bermanfaat. Saya peroleh bahannya dari seorang aktivis dan intelektual muda Islam, yang tidak pernah sekolah di luar negeri, S1 di UIN, S2 di UI dan S3 di Unpad, jadi tidak bisa dituduh sebagai agen dan pembawa ajaran asing.
Khilafah singkatnya adalah konsep kepemimpinan tunggal dimana seluruh umat Islam di dunia ada dibawah satu Pemimpin yang dinamakan Khalifah sebagaimana yang ditunjukkan di zaman Khulafaurasyidi
n (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Bin Abi Thalib).

Dalam konsep itu, tidak ada batas-batas negara bangsa (nation state) dan tidak diakui kepemimpinan berdasarkan kebangsaan karena menurut mereka, itu berasal dari Barat. Mereka tidak mengakui adanya konsep nasionalisme karena nasionalisme itu merupakan produk dari barat.

Mereka menolak demokrasi karena lagi-lagi demokrasi itu tidak ada dalam Islam dan merupakan produk dari Barat
Hizbut Tahrir lahir di Yordania (dimana HT dilarang) berawal dari sempalan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tokoh utamanya Taqiyudin An Nabhani memandang bahwa Ikhwanul Muslimin masih mengakui adanya nation-state dalam politik Arab.

Dalam pandangan pendukung Hizbut Tahrir di seluruh dunia, khilafah adalah satu-satunya institusi atau entitas politik yang bisa mempersatukan umat Islam seluruh dunia. Menurut mereka, hanya dengan khilafah, umat Islam sedunia dapat mengatasi berbagai masalah, semacam keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan berbagai bentuk kenestapaan lain. Karena itulah, dari waktu ke waktu selalu ada kelompok di kalangan umat Islam yang mengorientasikan cita gerakan mereka untuk pembentukan khilafah. Di antara mereka ada yang bergerak secara damai atau kekerasan seperti ISIS.

Padahal, konsep khilafah itu sendiri problematis dan utopian. Terdapat banyak perbedaan konsep dan praksis khilafah di antara para pemikir Muslim penggagasnya sejak dari Jamaluddin al-Afghani, ’Abdul Rahman al-Kawakibi, Abu al-A’la al-Mawdudi, sampai Taqiuddin al-Nabhani.
Utopianisme khilafah juga terletak pada kenyataan bahwa kaum Muslim di sejumlah kawasan dunia telah mengadopsi konsep negara-bangsa berdasarkan realitas bangsa dengan tradisi sosial, budaya, kondisi geografis; dan pengalaman historis masing2. Karena itu, ”unifikasi” seluruh wilayah dunia Muslim di bawah kekuasaan politik tunggal merupakan angan-angan belaka.

Ormas-ormas Islam Indonesia pernah membentuk Califat Comite seiring dengan penghapusan "khilafah" di Turki pada 1924 oleh kaum Turki Muda. Mereka bermaksud membela dan menuntut agar "khilafah" di Turki dihidupkan kembali. Merespons gejala ini, "the grand old man" Haji Agus Salim menyatakan, komite itu beserta khilafah tak relevan dengan Indonesia. Menurut beliau apa yang disebut "khilafah" di Turki adalah kerajaan despotik dan korup yang tak perlu dibela, apalagi diikuti umat Islam Indonesia. Pasca Califat Comite, khilafah hampir sepenuhnya absen dalam wacana pemikiran Islam di Indonesia. Ormas-ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, tak pernah bicara tentang khilafah, sebaliknya menerima dan mengembangkan konsep dan praksis negara-bangsa Indonesia.

Bagi Hizbut Tahrir, khilafah akan dicapai melalui tiga tahap: kultural, interaksi, dan revolusi. Pada tahap kultural, mereka akan menyebarluaskan gagasan khilafah kepada seluruh lapisan masyarakat, kaum Muslim khususnya, dengan beragam cara; diskusi, ceramah, penerbitan, dan cara persuasi lainnya. Tahap itu yang sekarang sedang mereka lalui di Indonesia.

Setelah itu, tahap kedua, interaksi, infiltrasi, dan advokasi ke lembaga militer, keamanan, dan institusi2 kunci. Setelah semua terpengaruhi, dan jika momennya sudah tepat, mereka akan menegakkan hukum Islam. Dan, pada tahap inilah rezim khilafah dinyatakan berdiri.

Gagasan mengenai khilafah sebetulnya tidak hanya diusung oleh HT, termasuk HT di Indonesia. Pada tingkat tertentu gerakan tarbiyyah yang condong ke Ikhwanul Muslimun, juga mencita-citakan negara Islam, meski namanya bukan khilafah. Mereka sama-sama mendambakan pemerintahan yang merujuk Al-Quran dan Sunnah.

Selain kedua gerakan tersebut, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) malah sudah mendeklarasikan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah. Mereka mengklaim negara khilafah telah ditegakkan di wilayah yang mereka kuasai. Sejumlah hukum Islam telah mereka terapkan. Perempuan yang keluar rumah dengan pakaian selain warna hitam dihukum mati. Tentara musuh dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.

Terlepas dari debat sesama pengusungnya, khilafah tidak mengenal demokrasi. Dalam khilafah tidak ada penyusunan hukum oleh representasi warga, apa pun latar belakangnya.

Khilafah hanya mengakui hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Tidak mungkin bagi penganut khilafah mengakui dasar negara lain, misalnya Pancasila. Meskipun sifatnya diametral namun khilafah sebetulnya serupa dengan komunisme, dengan diktator (proletariatnya), internasionalisme nya, dogmatismenya, militansinys, kebrutalan nya, brainwashing-nya, dan intoleransi nya terhadap perbedaan.

(Ginanjar Kartasasmita )

GERAK IKHWANUL MUSLIMIN DI INDONESIA..

Bagaimana pemerintahan kita nanti jika Jokowi kalah pilpres 2019 ?

Untuk melihat itu kita harus melihat dulu krisis di Mesir sesudah Ikhwanul Muslimin disana diberantas habis oleh Jenderal Al Sissy.
Mesir yang merupakan induk dari keberadaan IM sekarang menjadi neraka buat mereka.

Pimpinan mereka dihukum mati dan organisasinya diberi label terlarang. Al Sissy tahu betul betapa bahayanya IM yang gerakan mereka halus sekali dengan militansi dan penguasaan masjid, majelis taklim, pengajian dan lain-lain.
Hebatnya IM ini, mereka tidak bergerak sendiri. Mereka menggunakan "tangan orang lain" untuk mewujudkan hasrat mereka, menguasai kepemimpinan di suatu negara.

Mereka memainkan "bisikan halus" kepada para politikus yang haus kekuasaan dan harta, kepada para gerakan radikal yang mudah diperdaya dan kepada mafia ekonomi yang nantinya bersedia dijadikan sapi perah mereka.

Karena sudah mengakarnya IM di Mesir dan penguasaan tempat ibadah disana yang juga menjadi basis kekuatan mereka, maka Al Sissy tidak mempunyai cara lain selain "membunuh" mereka dengan segala resiko yang ada.

Dan kita lihat, membunuh IM di Mesir tidak mudah. Mesir chaos berbulan-bulan sebelum akhirnya kembali tenang.

Ketika Ikhwanul Muslimin diperangi habis di Mesir, saya pada waktu itu memperkirakan, IM akan memindahkan basisnya di kedua negara dengan penduduk muslim terbesar, yaitu Turki dan Indonesia.

Coba perhatikan situasi waktu "kudeta" di Turki.
Tiba-tiba saja Erdogan mengumumkan bahwa terjadi kudeta di negerinya. Dan dengan alasan itu, Erdogan membersihkan jajarannya dari jaringan "Fethullah Gulen" seorang ulama besar di Turki.

Jaringan Gullen termasuk jaringan terkuat di Turki. Mereka menguasai perpustakaan, acara televisi, pendanaan yang kuat. Bahkan gerakan Gullen yang mengenalkan Islam yang damai, agamis, berwawasan menjadi gerakan baru di sana yang sudah muak dengan konsep sekuler.

Pemikiran Gullen yang demokratis ini juga banyak di adopsi oleh para hakim, tentara dan aparat sipil negara. Gerakan Gullen inilah yang mencemaskan Erdogan yang "ingin berkuasa selamanya"

Maka masuklah Ikhwanul Muslimin dan membisikkan bagaimana cara Erdogan mewujudkan mimpinya. Keinginan Erdogan dan IM bertemu dan dibuatlah cara yang halus dengan main kudeta2an. Ribuan orang yang dituding pengikut Gullen ditangkap dan dipenjarakan.
Ikhwanul Muslimin yang kemudian menguasai pemerintahan dengan Erdogan sebagai boneka hidupnya.

Dengan model referendum yang dimenangkan oleh Erdogan, IM memantapkan kekuasaannya dengan memberikan pengaruh yg lebih kuat di Turki.

Erdogan itu hanya boneka sementara dengan janji manis terhadap kekuasaan. IM menunggu sampai Erdogan wafat untuk kemudian menggantinya nanti dengan orang mereka sendiri dan penguasaan Turki akan menjadi sempurna.
Coba perhatikan...

Mesir mengusir IM tahun 2013 dan IM menguasai Turki dengan kudeta halus tahun 2016. IM hanya butuh 3 tahun saja untuk bisa berpindah dari satu inang ke inang lainnya. Cepat sekali...
Dan sesuai prediksi, sasaran berikutnya adalah Indonesia.

IM - dengan nama lain PKS - sudah menancapkan pengaruhnya di Indonesia melalui pemerintahan SBY. Dan bertahun-tahun di pemerintahan, mereka sudah ada dimana-mana di lembaga pemerintahan, menyebarkan benih mereka.
Ketika Pemilu 2014, PKS tersingkir. Jokowi yang memerintah.

Maka kita lihat bahwa PKS selalu ada di tempat yang berseberangan dengan koalisi Jokowi. Mereka harus merebut kembali kekuasaan atas wilayah.

Ciri IM dalam memilih pemimpin sementara punya pola yang sama. Orangnya suka retorika, haus kekuasaan dan tidak sungkan menghalalkan segala cara. IM memainkan politikus, pengusaha dan kelompok radikal dalam satu gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Dan jangan salah, selama 10 tahun berada di lembaga pemerintahan pada waktu SBY berkuasa, IM sudah menguasai posisi-posisi penting disana.
Menteri boleh ganti, tapi jajaran bawah yang menguasai teknis tetap orang mereka. Itulah kenapa saya tidak berharap banyak ketika Menkominfo mengatakan akan memblokir situs radikal. Tidak akan ampuh, karena sebelum diblokir sudah ada peringatakan duluan supaya situs radikal itu membuat alamat2, baru.

Lah, mereka sudah menguasai Kominfo sejak lama. Orang2nya sudah pada mapan disana.
Itulah kenapa situasi Jokowi sangat lemah. Banyak perintahnya yang tidak berjalan dan efektif. Departemen agama, pendidikan sampai kominfo sudah dikuasai. Dan sangat mungkin aparat militer juga ada yang di pihak mereka.

Gerak mereka sekarang melemahkan kredibilitas Jokowi supaya tidak terpilih lagi di 2019 dan akan memilih lawannya yang sudah disiapkan. Anda pasti tahu siapa..

Jika lawannya berkuasa, maka akan ada satu waktu dimana sinetron kudeta Turki dimainkan untuk memperkuat posisi mereka disana.
Akan ada Gullen baru yang mereka singkirkan nantinya. Kira-kira siapa model Gullen yang ada di Indonesia yang tidak akan sepemikiran dengan mereka ?

Tentu saja, Nahdlatul Ulama...
Pahit kopinya ? Ayo seruput dulu biar bisa membayangkan gambar besarnya..
www.dennysiregar.com

Next to come akan jauh lebih mengerikan! Kalau kalian tidak mau sadar sekarang. Bangun, bangkit dan berjuang bersama sebagai saudara sebangsa dalam Persatuan Nasional berdasar Pantja Sila !

Ingat! Pantja Sila itu bukan buatan 01 Djoeni 1945. Tapi merupakan perumusan ulang / pemadatan esensi Jati Diri bangsa Nusantara pada masa era keemasannya! (sebelum korup dan akhirnya dijajah bangsa-bangsa -- karena korupnya itu).

BUDI PEKERTI NUSANTARA, berguru pada alam

Ki Buyut Dalu,

Spirit hidup manusia nusantara sejak jaman dahulu adalah keluhuran Budi Pekerti.
Karena lebih menekankan pada Budi Pekerti Luhur, maka keyakinan ini sering disebut dengan "Agama Budi".

Namun teman-teman tetangga sering menyebutnya “Agama Bhumi”. Karena dianggapnya keyakinan leluhur nusantara datangnya dari tradisi turun temurun para leluhur, bukan merupakan wahyu Tuhan.

Keyakinan yang kebenarannya relatif dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Keyakinan yang lebih pada hal kebendaan dan kemanusiaan serta keduniawian daripada sorga. Demikian tetangga menyebut.

Tapi apapun sebutannya, agama budi dalam sejarahnya telah menuntun manusia nusantara menuju kemuliaan, kebersamaan, beradaban, gotong-royong, tenggang rasa, kehalusan budi, dan kecerdasan pikiran. Agama budi -yang dijuluki agama bumi- memuliakan alam, memuliakan manusia, Leluhur, Batara, Dewa, dan Sang Hyang Embang.

Agama Budi yang menjadi anutan para leluhur nusantara sejak jaman dahulu telah membentuk manusia berbudi, berbakti, berperikemanusiaan, bermusyawarah, berkeadilan, berbudaya, berbhineka, dan kreatif. Agama Budi membentuk manusia nusantara “seutuhnya” yakni manusia nusantara yang hak-hak hidupnya terpenuhi baik secara duniawi maupun akhirat, manusia berbudi, berkepribadian dan memiliki jati diri.

Agama Budi lahir dari pemurnian spiritual manusia di dunia fana. Terbentuk melalui proses spiritual dari manusia – manusia nusantara yang tulus dan “putus” (lepas dari ikatan duniawi), yang mampu menyerap kemuliaan “wahyu alam” sebagai perpanjangan tangan Hyang Tunggal.

Kebajikan yang diajarkan oleh “manusia - manusia paripurna” yang telah dapat menyatukan kekuatan Ibu Pertiwi dan Bapa Akasa. Menyatukan kekuatan Purusa Pradana, menyatukan kekuatan “Dunia” dan “Sunia” (akhirat), menyatukan kekuatan “Sekala Niskala” (nyata dan tak nyata). Menyatukan kekuatan “bhukti” (kebendaan) dan “mukti” (keimanan).

Kekuatan Purusa Pradana menjadi Ardhanareswari sebagai kekuatan Sanghyang Tunggal. Darinya menjadi kekuatan Sanghyang Maha Wisesa yang memancarkan energi kosmis, menebar vibrasi kesucian, membangkitkan kecerdasan budi, yang pada akhirnya melahirkan “sujana” (kebijaksanaan).

Agama Budi tak berharap - harap sorga atau mengelak - elak neraka. Ia mengalir terus mengikuti irama “karma” dan “samsara” (reinkarnasi). Berjalan tulus di jalur budi perkertinya yang damai di dunia, damai di hati dan damai di alam sunia untuk mencapai kemurnian Sang Atma dalam penyatuannya kepada Sang Hyang Jagatnata.

Agama Budi bisa hidup dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Sehingga ia diberi julukan oleh Sang Waktu sebagai Sanatana Dharma, kebenaran abadi. Kearifannya telah melahirkan “Sarjana Sujana” tanpa universitas, yakni insan - insan yang cerdik pandai penuh kebijaksanaan. Terbentuk oleh kemuliaan alam, serta kehalusan budi yang diajarkan oleh Ibu Pertiwi dan kekukuhan hati yang digembleng oleh Bapa Akasa.

Itulah Agama Budi Nusantara, berpijak pada Budi Pekerti Leluhur Nusantara.

Semoga semua mahluk hidup berbahagia.
Semoga leluhur nusantara memberi tuntunan.

#AgamaBudiNusantara #NusantaraJaya #

Rahayu!

Sumber : kanduksupatra.blogspot.com

Selasa, 23 Mei 2017

TOMAT KEBIJAKSINIAN

Budidaya, tersebutlah sebuah sekolah kehidupan dengan rutinitas pembelajarannya setiap hari. Pak Budi salah satu staff guru bersahaja yang rendah hati di hormati semua murid-muridnya...
Suatu hari, berdirilah pak Budi di depan kelas, lalu berkata, "Selamat berjumpa lagi anak-anak kehidupan...
Anak-anak bapak akan memberikan tugas sederhana pada kalian dan sebelum selesai tugas itu, janganlah menanyakan kenapa ?
"baik pak guru.." jawab anak-anak serentak..
"Baiklah.. Namanya tugasnya bapak namakan "Tomat Budi..."
"hahaha...!!" riuhlah seketika ruangan kelas itu oleh tertawa wajah-wajah lugu anak-anak.
"Sssst....! Sudah... Sudah..." kata pak guru dengan isyaratnya agar semua kembali diam. Lalu berkata, "baiklah laksanakan mulai besok, bawa tomat masukan dalam kantong kresek jumlah untuk berapa jumlahnya sesuai berapa orang yang di benci dan tulislah namanya. Catat sebagai pengingat kalian :

= Jumlah tomat yangg dibawa harus sebanyak nama orang yangg dibenci/tidak disukai.
= Ada yang membawa 2, ada membawa 3, ada 4 bahkan ada yg mbawa 20 biji sesuai dgn jumlah orang yg sangat dibenci di dlm hidupnya._
= bawa tomat tersebut kemanapun kalian pergi selama seminggu.

Dan, singkat cerita...
Setelah 3 hari tomat itu mulai membusuk , per-lahan2 menimbul kan bau yg tdk sedap.
Murid2 yg membawa tomat dgn jumlah yg lebih banyak mulai mengeluh, karna merasa berat dan bau busuknya mulai menyengat.

*Setelah seminggu gurunya menanyakan kepd murid2nya "apakah yg kamu rasakan dlm seminggu ini?"
Hampir semua murid mengeluh karna bau busuk dari tomat yang sudah rusak, terutama yang membawa lebih banyak tomat.

pak Guru Budi tersenyum kemudian berkata: "Ini mirip degan apa yang kamu bawa di dlm hatimu , ketika kamu membenci beberapa orang.

Membenci/rasa iri , membuat hati dan pikiran kita tdk sehat dan kalian membawa kebencian itu ke-mana2.
Jika kita tidak tahan degan bau busuk dr tomat selama seminggu, bayangkan apa yg terjadi di dlm hati akibat kebencian yangg kita bawa setiap hari selama ber-tahun2.
Hati ini bagaikan taman indah yang penuh bunga yg setiap saat harus dirawat, dibersihkan dari kotoran2 yangg tidak diinginkan._
jadi.. Maafkanlah orang yg kita benci...
Buatlah hati ini ruang an tmpt menyimpan sesuatu yangg baik2 saja, inilah indahnya Persaudaraan dan Persahabatan.
Hidup dengan kasih sayang NYA.

Semoga semua mahluk hidup bahagi...

Rahayu!

Rabu, 03 Mei 2017

CULT

Mind-Manipulating Groups:
Fenomena “Cult”
“Orang-orang yang mengikuti cult adalah orang
normal. Mereka pada umumnya cerdas, berpikiran terbuka dan jujur. Mereka
bersedia untuk berkorban untuk manfaat yang lebih besar dari suatu grup. Mereka
tertarik pada pengembangan diri dan perbaikan dunia. Orang-orang terbaik,
biasanya, menjadi target dari cult ini. Kekurangan mereka menyebabkan mereka
sangat dibutuhkan sebagai anggota cult.

Dr J W West, Professor of Psychiatry,
University of California
Definisi “Cult”
The Concise Oxford Dictionary mendefinisikan
cult sebagai : “suatu system pemujaan religius; devosi /penyembahan,
penghormatan kepada seseorang atau sesuatu”. Menurut C.T Russel : A
religion or religious sect generally considered to be extremist or false, with
its followers often living in an unconventional manner under the guidance of an
authoritarian, charismatic leader.

Sekarang, didalam benak masyarakat,
kata-kata “cult” adalah cenderung lebih diasosiasikan sebagai kegiatan
cuci-otak (brain-washing), manipulasi kepada para pengikutnya, skandal public
dari para pemimpin cult, pemerasan dan pembunuhan masal; daripada sebuah
kegiatan penyembahan religius.

Salah satu kesulitan
mendefiniskan sebuah ajaran sebagai cult, karena organisasi mereka berada pada
kondisi yang mengalami tahapan perkembangan. Sebuah cult religius biasanya pada tahap awal, pertengahan
dan akhir dari sebuah evolusi perkembangan organisasinya.

Pada awalnya, cult terdiri dari sedikit
kelompok orang yang memfokuskan diri mereka di sekeliling seorang pemimpin
religius dimana memiliki kharisma tertentu yang menyebabkan mereka tertarik.
Pada akhirnya, hal itu dapat menjadi bersifat manipulatif, eksploitatif dan
bahkan menjadi organisasi multi-nasional. Apa yang biasa orang perbincangkan
sebagai sebuah “cult” biasanya adalah NRG (New Religius Group) yang mana biasanya
berawal dalam bentuk perguruan, kelompok doa, atau unit2 kecil lainnya yang memiliki
karakteristik hubungan kekeluargaan. NRG dapat berupa sebuah organisasi yang
memiliki tahap pertengahan-akhir dari evolusinya.

Ada sekitar 40 macam
karakteristik dari sebuah cult. Meskipun demikian, untuk mengidentifikasikan
sebuah cult yang berevolusi menjadi cult yg berbahaya, seseorang cukup menilai
/ mendiagnosisnya dilihat dari lifestyle pemimpinnya dan sikap para member terhadap
pemimpin tersebut.

Biasanya, ketika NRG
telah berevolusi pada tahap pertengahan-akhir, pemimpinnya akan bersikap
otoriter, mengumumkan dirinya sebagai titisan Allah / Buddha /Dewa, mengaku
punya hubungan khusus dengan Allah/Buddha/Dewa dan dipercayai demikian oleh
para pengikutnya.

Mengikuti / mempercayai
pimpinan diyakini sebagai salah satu jalan pencerahan / keselamatan. Para
pemimpin hidup dalam kemewahan dari hasil pembiayaan murid2nya, melepaskan
dirinya dari tubuh organisasi secara eksklusif. Pemimpin adalah tak terjangkau
terkecuali oleh segelintir anggota ‘elite’.

Pemimpin akan membuat
nubuatan tentang kejadian2 dikemudian hari dimana grup tsb bersiap-siap utk
menghadapi. Para pengikut tunduk tak bersyarat kepadanya dan memperlakukannya
sebagai orang suci, titisan Dewa, santo/santa, Buddha Hidup, dll.

Setiap cult memiliki paling tidak 5 karakteristik dibawah ini”

1.
Memiliki penyimpangan /
deviasi dengan doktrin ajaran agama yang ortodoks (host)-nya.

2.
Menggunakan taktik psikologis (iming-iming
kesaktian, bujukan, janji-janji, tekanan, intimidasi, sumpah, ancaman, menakut-nakuti,
emotional abuse, dsb) untuk merekrut anggota, mengindoktrinasi, untuk
mempertahankan kesetiaan dan untuk mengendalikan anggotanya.

3.
Membentuk sebuah
kelompok kemasyarakatan yang elit / eksklusif/ khusus (contoh: kelompoknya adalah orang2 terpilih; sumpah2
tertentu, segregasi kelas keelitan tertentu, gelar2 spiritual, kemampuan
supranatural tertentu; dsb) yang bersifat totaliter (dikontrol oleh otoritas dengan power yg absolute; menolak
system distribusi kekuasaan dan kontrol; tunduk pada semua aspek kehidupan
secara tak bersyarat kepada otoritas pemimpin).

4.
Menunjuk dirinya
sendiri sebagai Pemimpin / pendiri (self-appointed), bersifat dogmatic,
messianic, pernyataan2nya tak dapat dipertanggungja
wabkan secara riil
(unaccountable), dan memiliki kharisma. Kecenderungan narcissistic pada
pemimpin dan kelompok elitenya.

5.
Mempercayai 'the end
justifies the means' (menghalalkan
cara) untuk mendapatkan dana, merekrut orang2, menginfiltrasi dan
merusak nama baik musuh-musuhnya.

6.
Kekayaan dan assetnya
(tangible dan intangible) tidak memberi manfaat kepada masyarakat secara luas
(hanya terbatas pada kelompoknya).

7.
Grup memiliki pandangan
elitist tentang dirinya dan dalam hubungannya dengan pihak lain : merekalah
yang paling benar, setiap orang lainnya adalah salah; hanya merekalah yang
melakukan kehendak Tuhan/Dewa/Nabi secara benar.

8.
Mengekang hak personal
dan kebebasan individu anggotanya. Abuse ini dapat dilakukan secara theologis,
sosiologis, psikologis maupun spiritual.

9. There will be great emphasis on loyalty to
the group and its teachings. The lives of members will be totally absorbed into
the group's activities. They will have little or no time to think for
themselves because of physical and emotional exhaustion. This is also a vital
part of the mind control process.
10.Setiap keraguan atau pertanyaan kritis
tentang ajaran grup akan mendapatkan tentangan, ejekan, atau tidak dilayani.
Kritik dianggap pengkhianatan. Penekanan2 pada otoritas , kepatuhan tak
bersyarat, tunduk.

11.Usaha
untuk meninggalkan atau mengungkapkan fakta memalukan tentang kelompok akan
berhadapan dengan ancaman. Beberapa bahkan mengambil sumpah kesetiaan untuk
menjaminkan hidupnya dan merasa terancam dengan hal itu. Orang yang mengungsi
dari grup biasanya menghadapi konfrontasi, pelecehan, pengucilan ataupun
cara-cara penekanan lainnya.

12."US
VERSUS THEM" MENTALITY - Isolation from
the community in general. Anyone and everything outside the group is seen as
"of the devil" or "unenlightened" etc.
(Source : arsip tulisan lama saya tahun 2000)
Akhir-akhir ini banyak sekali tumbuh cult-cult yang tumbuh berselubung agama inangnya. Dan ignoransi masyarakat tentang hal ini menyebabkan fenomena ini tidak terpantau radar masyarakat. Pada akhirnya banyak kaum muda yang menjadi korban. Sampai pada titik membahayakan sistem hankam negeri. Pemerintah harus mengambil tindakan terhadap cult-cult yang berbahaya. Dan para korban anggota cult harus mendapatkan perawatan dan penanganan post-traumatic syndrome dari para ahli kesehatan jiwa secara memadai. Tanpa itu dapat menimbulkan dampak problem sosial yang lain.

Silakan simak ini agar lebih jelas : https://
www.youtube.com/watch?v=zxJyfqeaKU8


PEDIGREE (SILSILAH)

Bagaimana menilai suatu tradisi spiritual adalah otentik atau palsu (cult)?
Perhatikan.....bagaimana tradisi2 yang otentik selalu memiliki silsilah yang otentik dari generasi tradisi yg sebelumnya, diakui atau setidaknya dimaklumi oleh tradisi yg sebelumnya.

Misal : Buddha, jelas dianggap sebagai salah satu Avatara dari Kalki (Hindu) atau bahkan salah satu penjelmaan dari Vishnu. Dan ajaran Buddha sendiri diterima sebagai salah satu garis otentik dan sah dari tradisi Hindu sekalipun tidak disetujui sepenuhnya.

Perhatikan,...bagaimana nabi-nabi dalam Taurat satu sama lain saling mengesahkan dan mengakui, tersirat maupun secara tidak langsung.

Sekalipun keberadaan eksistensi tokoh2nya bisa berada pada negeri2 lain (Yudea, Israel, Mesir, Babylonia, dst). Cross-reference dari sejarah negeri2 yg berbeda tidak bisa dipermak sesuka hati dengan mudah.

Perhatikan,...bagaimana Shiva dapat ditelusuri eksistensinya sampai masa sebelum pra-sejarah dalam bentuk Tantra. Dimana ...sekalipun tradisi yg lebih baru (Vedic, suku Aryan) tidak setuju dengan Tantra, tetapi tetap mengakui bahwa eksistensinya itu ada sebelumnya (suku Tamil).
Perhatikan,...bagaimana Laozi, walaupun secara sejarah adalah mitos, tetapi catatan2 tertulis dalam bentuk yg belum selengkap sekarang dapat ditemukan pada archive peninggalan sejarahnya. Pun diterima menjadi suatu bagian dari keutuhan tradisi Tiongkok. Chinese folk-belief (sekarang dihimpun dalam organisasi Tridharma) tidak menolak eksistensinya.

Demikian pula pada tradisi Tibetan, dimana eksistensi pertumbuhan Buddhism di Tibet terakomodir dan teradopsi oleh tradisi yg sebelumnya : Bon. Suku-suku di India Utara dan Nepal, mengakui faktualitas eksistensi proses sejarahnya.

Terlebih gila lagi...in a far away of place and time.... secara cross-cultural, ternyata tradisi2 Timur pun mendapat general acknowledgement lineage dari tradisi Abrahamic (Genesis 25 : 1-8).
See.....???

BERBEDA dengan CULT yang biasanya SELF-PROCLAIMED (mengklaim diri sendiri).
Meskipun demikian tetap hati-hati. Karena kepintaran manusia, maka yang self-proclaimed pun sudah sadar akan kemungkinan deteksi ini, oleh karena itu tak jarang sering membawa-bawa otentifikasi dari tradisi yg sebelumnya, tentu dengan cara KOOPTASI (main comot lepas konteks dengan memaksakan fakta / makna).

Cara menilainya gampang : telitilah dengan seksama apakah tradisi sebelumnya atau guru-guru atau generasi tetuanya memberkahi liineage itu. Istilahnya : MEMILIKI PEDEGREE.
Atau : Have the blessing of unbroken enlightened lineage. Monggo diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sendiri2 saja.

Tapi perhatikan arahnya : apakah 'yang lama' memberkahi 'yang baru', ataukah 'yang baru' begging acknowledgement dari 'yang lama'.
Sementara kalau muncul tiba-tiba tanpa pedigree, apalagi hendak memusnahkan tradisi yang ada sebelumnya sampai ke akar-akarnya sehingga tidak lagi bisa meninggalkan jejaknya. Anda perlu curiga besar!!!

Untuk itu, biasanya...dan khususnya tradisi2 Timur, setiap pengalihan estafet selalu mewariskan satu atau beberapa benda pusaka sebagai tanda otentifikasi kebersinambungan silsilah. Dan biasanya itu disimpan secara rahasia (tidak dipertunjukkan umum). Itulah salah satu fungsi kegunaan dari Pusaka.

Rahayu!
DS

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...