Selasa, 10 Mei 2016

.:: KENYANG ::.

Arif Rh
Serakus-rakusnya orang makan, maka, kenyang, akan
menghentikannya ... Sepongah-pongahnya orang dalam
hidup ... Maka, "kejedhot" akan menyadarkannya

.:: KITA SEMUA PENGEMIS ::.

Pernahkah anda, pas barusan keluar dari rumah
ibadah ... Di luar rumah ibadah, anda melihat banyak
pengemis yang meminta-minta? ...
Mungkin ada di antara kita, yang memandang mereka
hina ... Tapi, bukankah kita sama dengan mereka? ...
Mereka mengemis dan minta-minta di luar rumah
ibadah ... Sementara kita "mengemis" dan minta-
minta, di dalam rumah ibadah ...

Senin, 09 Mei 2016

.:: GURU SEJATI (ULASAN SINGKAT)

Abah FK,
Pada dasarnya
ada 2 pengajaran batiniah yang bisa diperoleh dari dalam
diri pribadi kita masing masing....... engkau bisa
mengambil manfaat dari :
1. sukma sejatimu
2. rasa sejatimu
mengambil manfaat dari sukma sejati adalah melakukan
penyerapan keilmuan (belajar) melalui sumber akal
universal yang suci...... dalam hal ini seseorang mesti
memiliki kemampuan untuk mengakses sukma
sejatinya...... diperlukan kejernihan fikir dan kelembutan
Ketuhanan yang merupakan rahasia/sirr didalam diri
pribadi......
mengambil manfaat dari rasa sejati adalah melakukan
penyerapan keilmuan melalui sumber hati nurani universal
yang suci, ini disebut juga ruhul quds..... didalam hal ini
seseorang mesti memiliki kemampuan untuk mengakses
rasa sejatinya...... diperlukan kesucian hati dan rahasia
Ketuhanan yang lembut didalam diri pribadi untuk hal
ini......
Siapa yang mampu mengakses sukma sejatinya, maka
baginya ada bagian khazanah yang luas tentang berbagai
kefahaman akan ilmu...... manfaat yang diserap dari
sukma sejati akan berguna bagi dirinya dan banyak
orang......
Siapa yang mampu mengambil manfaat dari rasa
sejatinya maka itu adalah lebih tinggi dan mulia
dibandingkan belajar/menyerap dari sukma sejatinya......
karena rasa sejati lebih dalam dibandingkan sukma
sejati.....

.:: IKHTIAR DAN KEMELEKATAN ::.

ARIF RH,
"bagaimana kalau uang dipinjem
enggak dibalikin?" ... Bagaimana keterkaitannya dengan
kemelekatan? ... Begini ...
Saat uang kita dipinjem, menagih adalah bagian dari
ikhtiar ... Namun, apakah uangnya dibalikin atau
enggak, itu adalah wilayah Tuhan ... Nah, pada bagian
ini, yang saya maksud, kita akan bisa mengamati,
sejauh mana kemelekatan kita terhadap uang yang
dipinjam itu ... Wilayah kita, hanya di wilayah ikhtiar ...
Namun saya meyakini, uang itu dibalikin atau tidak,
adalah wilayah-NYA ...
Tapi, saya ada beberapa pengalaman menarik ... Dimana,
dalam beberapa kasus, justru saat saya sudah
mengikhlaskan uang yang dipinjam enggak pulang-pulang
itu, saat saya sudah lupa, sudah saya anggap lunas
utangnya ... Eh malah uangnya "pulang", "dibalikin" ...
Sebaliknya, uang yang dipinjam, dimana saya masih
sangat berharap itu dipulangin, malah enggak pulang-
pulang uangnya ...
Terlepas dari apapun itu ... Maksud saya adalah, tidak
melekat, bukan berarti tidak menagih ... Menagih,
adalah wilayah ikhtiar yang perlu digenapkan ... Tapi,
akan lebih mendamaikan jiwa, jika kita tidak melekat
dengan hasil dari menagih itu ... Karena wilayah hasil,
perihal uangnya dibalikin atau enggak ... Itu adalah
wilayah / kuasa-NYA ...
Kalau masih rejeki, pasti pulang, pasti kembali, dengan
cara-NYA sendiri ...
_/|\_

.:: ARIF BILLAH ::.

Fatwa Kehidupan
Abu Faris
pernah dengar suatu petunjuk yang diberi oleh seorang
pelaku thariqat bahwa seumpama beliau membagi
kehidupan ini menjadi 3 gelombang, maka mendalami
syariat itu bisa memunculkan sbuah cahaya yang sangat
berguna untuk menepaki gelombang kedua, yaitu
gelombang dimana dengan batin itu kita bisa melihat
sesungguhnya Allah tidak terhijab kecuali oleh mata itu
sendiri terhadap dzat yang ada di dunia. dan dalam
gelombang kedua itu setiap yang kita lakukan akan
menhgasilkan cahaya yang menjadi jalan kita menuju
gelombang ke tiga (ma'rifatullah) saya saya bingung,
untuk membedakan gelombang pertama dan kedua saja
sudah susah, maka bagaimana rasanya gelombang ketiga
seperti yang sedang orang itu cari ya bah? Semoga
Allah mengijinkan abah membaca sedikit kebingunan saya
ini amiin smile emoticon
Arif
Assalamu alaikom abah... mau bertanya.. kata nabi
assolatu mikrojul mukminin... sholat itu mikroj nya orang
mukmin... bagaimana abah kita tahu bahwa kita sudah
mikrroj dihadapan Allah dan bukan hanya merasa mikroj
atau memaksa untuk mrasa mikroj...apa disebut mikraj
klw sudah memandang alam2 yang ghoib atau bagaimana
abah .. dan korelasinya dg zikir khofi abah... salam
takdim dan hormat dari arif sidoarjo..
===========================
1. abu faris.........
sebenarnya saudara tidak perlu sibuk memikirkan hal ini
itu yang kurang penting, dalam perjalanan bilamana
saudara dibimbing seorang guru/mursyid maka tinggal
ikuti dan jalankan saja dengan sungguh sungguh semua
bimbingannya dengan penuh khusyuk dan keyakinan.......
Maka penyingkapan demi penyingkapan makna itu akan
terbuka sendiri seiring waktu nanti...........
2. arif.......
Assholatu mi'rojul mukminin mengandung 2 pengertian:
1. pengertian luar, yaitu sholat itu adalah sarana dalam
meningkatkan kesadaran ruhani yang tinggi, kesadaran
ilahiyah/berketuhanan yang tinggi.......... menuju Arif
billah, seperti namamu....heuheu
2. pengertian dalam, yaitu suatu bentuk tersambungnya
batin kepada Allah, dan terputusnya segala hal selain
Allah dari dalam diri pribadi...... sehingga batin tiada
menyaksikan apapun lagi selain Allah...... Karam dan
tenggelam, lenyap segala sesuatu selain Allah....
memandang goib itu beda perkara, itu disebut
mukasyafah atau penyingkapan penyingkapan makna
kegaiban dibalik kehidupan ini...... mukasyafah itu berada
dibawah mi'roj atau belum sampai kepada mi'roj......
dzikir khofi adalah latihan dasar saja, salah satu bentuk
metode untuk menuju pembersihan batin......
Jika masih belum faham yang saya katakan, berarti
masih perlu 20tahun lagi, untukmu tekun melakukan
pendekatan kepada Allah agar faham.....

.:: MELEKAT PADA ILMU JAUH LEBIH SUSAH ::.

Arif Rh
Pernah ngalamin dipinjemin duit enggak balik? ... Dalam
kejadian itu, akan nampak, sejauh mana kita melekat
dengan harta ... Tapi percayalah ... Melekat kepada
ilmu, jauh lebih sulit disembuhkan, daripada melekat
kepada harta ...
Awal-awal, bertahun-tahun lalu, ketika tulisan-tulisan
saya dicopas orang lain, dan diaku sebagai tulisan
mereka sendiri, itu sangat menjengkelkan ... Di facebook
ini, di dunia maya ini, waah banyak banget kejadian
begitu ... Sampai akhirnya saya menyadari satu hal,
saya baru sadar, bahwa saya telah melekat dengan ilmu
saya sendiri ...
Lalu, bagaimana saya menyembuhkan diri saya
sendiri? ... Saya malah "hajar sekalian" diri saya,
dengan cara apa? ... Dengan cara, rajin membuat
rekaman suara, rajin membuat rekaman video dan
sebagainya ... Dan semuanya, saya bagikan secara gratis
... Sejak saya sering melakukan itu, rasa jengkel itu,
lenyap entah kemana ...
Ternyata, semakin sering ilmu dibagikan, justru ilmu-ilmu
baru, pemahaman-pemahaman baru, hadir ... So,
mentoknya ide, adalah salah satu tanda, bahwa kita
kurang berbagi ilmu ... Orang yang "mengambil" karya
kita, ibarat "utusan Tuhan", yang "meminta kita, untuk
menyembelih "Ismail-nya" kita ...
Ingin tahu sejauh mana, kita melekat dengan ilmu? ...
Amati reaksi di dalam diri kita, saat karya kita, dicopas
oleh orang lain, tanpa menyebutkan sumber aslinya ...

.:: UNTUK YANG MERASA BERAT HADAPI HIDUP ::.

Gobind Vashdev
UNTUK YANG MERASA HIDUP INI BERAT
"Bapak gobind , bagaimana mengatasi hidup yang terasa
berat , segala sesuatu mau dilakukan susah sekali..apa
yang bisa mulai saya lakukan ya?"
Seperti dalam kehidupan fisik ini, bila kita susah
berjalan atau melangkah, kita memerlukan bantuan, bisa
merupakan tongkat atau papahan orang lain.
namun yang penting diingat adalah bahwa tongkat dan
papahan adalah bantuan untuk sementara dimana kita
selayaknya tidak tergantung olehnya.
Seperti anak kecil yang ingin berjalan, orangtuanya
membelikan Baby Walker, alat ini tentu tidak boleh
digunakan selamanya bukan?
Kehidupan ini terasa berat bukan karena kehidupan ini
yang berat namun kemampuan kitalah yang terbatas.
Setiap hari saya melakukan olaraga dan seminggu sekali
saya menganggat barbel sebesar 7,5 kg, beban ini
adalah capaian maksimum saya saat ini.
Beban ini sangat berat saat ini, tapi kalau mau saya
bandingkan dengan belasan tahun lalu, pada saat itu
saya mampu mengangkat belasan kilo, mengapa?
karena pada saat itu saya lebih sering melatihnya.
Demikian pula kehidupan ini, tidak ada cara lain, bila
kita ingin membuatnya ringan maka latihan dengan
disiplin tinggi adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.
Memang tidak gampang selalu disiplin berada di rel
kehidupan ideal yang kita inginkan apalagi ketika
tawaran belok kanan dan kiri sangat menggiurkan.
Dahulu saya meyakini pribahasa "berakit-rakit ke hulu,
berenang-renang ketepian"
namun sekarang saya menemukan kalimat yang lebih
cocok untuk memompa semangat saya.
“There are two types of pain you will go through in life,
the pain of discipline and the pain of regret. Discipline
weighs ounces while regret weighs tonnes.” - Jim rohn
"Ada dua kepedihan/kesakitan yang harus kita jalani
sepanjang kehidupan ini, sakit karena disiplin dan sakit
karena penyesalan. Disiplin beratnya beberapa ons dan
penyesalan beratnya berton-ton."
Dalam bahasa lebih sederhana -" Harga disiplin selalu
lebih rendah daripada harga penyesalan"
Thomas Henry Huxley dengan sangat baik mengatakan
"Mungkin hasil paling berharga dari semua pendidikan
adalah kemampuan untuk memaksa dirimu melakukan hal
yang harus kamu lakukan,saat hal itu harus dilakukan,
baik kamu menyukainya ataupun tidak"
Tetap disiplin adalah sesuatu yang harus kita usahakan
tanpa henti seperti apa yang di ucapkan Konfusius yang
Agung : "Orang yang baik memperkuat diri mereka
sendiri tanpa henti"
Buku bagaikan tongkat, teman yang baik atau
perkumpulan yang positif seperti papahan, semua ini
adalah cara bagaimana kita terus tetap termotivasi dan
bersemangat, namun apakah kita MAU melakukan
latihan atau tidak sepenuhnya adalah tergantung dari
diri sendiri tepatnya kesadaran diri ini.
ABC (Awareness Before Change) Kesadaran adalah
pembuka pintu untuk perubahan.
ketika saya sadar bahwa hidup ini sangat berarti maka
disaat keluhan mampir pada perjalanan hidup, ia tidak
punya ruang untuk duduk apalagi menginap.
Ketika seseorang sadar bahwa tubuh manusia adalah
karunia yang tak terhingga (bayangkan bila saat ini
Anda tidak mendapat karunia tubuh manusia) maka ia
tidak akan mensia-siakan setiap detik yang berlalu,
sebaliknya ia akan merawatnya dengan makanan dan
aktivitas terbaik.
"Dan apakah Sadar itu pak?"
Teringat di India, beberapa tahun yang lalu sewaktu
saya dan Istri bertemu Yongey Mingyur Rimpoche
"Kesadaran bagaikan lampu"
Mirip seperti masuk ke sebuah rumah mewah dengan
perabotan lengkap namun tidak ada sedikitpun cahaya,
kesadaran adalah lampu/lilin yang membuat kita melihat
bahwa apa saja yang kita perlukan untuk hidup
bermakna dan berbahagia semuanya tersedia didalam.
_/|\_

Minggu, 08 Mei 2016

.:: KITA DAN DENDAM ::.

Arif Rh
Apa yang ada di benak anda ... Kalau anda, berpapasan
dengan serombongan anak-anak sekolah, yang pawai di
jalan raya, merayakan kelulusannya, pakaiannya penuh
corat coret pilox? ... Belom lagi suara knalpot motor
bising, gak karu-karuan digas keras-keras ... Kayak
orang lagi kampanye partai ...
Mungkin dalam benak anda begini ... "Dasar anak
bengal ... Enggak bakalan sukses gedenya nanti" ... "Ini
kumpulan orang bego ... Karena yang nilai ujiannya tinggi
mah, kagak bakalan heboh gini merayakan
kelulusannya" ... Dan segala macam komentar yang
senada itu ...
Dari pengamatan saya, apa yang terjadi? ... Ternyata,
memang sih ada, yang dewasanya, lontang lantung gak
jelas ... Sampai usia 35 tahun ke atas, masih aja belom
mapan, masih saja merepotkan orang tua ... Kalau lihat
beberapa fakta ini, kita semakin kuat memberikan label,
"nohh khaaan ... bener khaaan apa kata guaa?" ...
Tapi tunggu dulu ... Beberapa orang hebat yang saya
kenal ... Beberapa pebisnis hebat yang menjadi sahabat
saya ... Beberapa teman, yang bahkan penghasilannya di
atas 50 juta sebulan ... Dulunya adalah anak-anak,
yang ikut pawai corat coret pilox itu ... Dan sekarang,
mereka menjadi sosok yang berkebalikan dengan yang
dulu ... Baik, santun, disiplin, dermawan dan sebagainya
...
So? ... Salah satu kesadaran, yang sangat penting
dalam hidup adalah, "menyadari bahwa manusia bisa
berubah" ... Yang repot itu, kadang "pelabelan",
"penilaian" kita terhadap seseorang, tidak berubah ...
Orangnya sudah berubah, penilaian kita tidak berubah,
masih berdasarkan data 20 tahun lalu ... Enggak update
khan? ...
Itulah sebabnya, saya sering bahas ... Bahwa
sebenarnya, apapun bentuk kebencian, dendam,
kekesalan, kemarahan terhadap seseorang, yang ada
dalam diri kita, bukan masalah sosok orang asli di dunia
nyata ... Itu sebenarnya, urusan antara kita dengan
"bayangan tentang orang tersebut" yang ada di dalam
diri kita sendiri ... Lebih tepatnya, bayangan orang itu,
20 tahun lalu (misalnya) ...
Orang di dunia nyatanya, bisa berubah kok ... Pe er-nya
adalah, apakah "bayangan dalam memory kita" juga
berubah? ... Ini semua adalah tentang diri kita, dengan
"bagian-bagian" di dalam diri kita sendiri ...
Ngomongnya sih gampang, tapi mempraktekkannya,
sekolahnya, belajarnya, adalah sepanjang hidup ...
_/|\_

.:: MENGHARAP PEMBELI ::.

Arif Rh
Umumnya penjual, akan berharap banyak pembeli ... Itu
tidak salah ... Namun tidak jarang, pembeli banyak, dan
yang komplain, pembeli yang rese, banyak juga khan? ...
Akhirnya, duit banyak, tapi pusing wakakakakk ... Duit
melimpah, tapi enggak bahagia ...
Akan lebih baik ... Niatkan bukan soal banyak, bukan
soal kuantitas ... Niatkan "mengundang" yang "se-
fekuensi" ... Sukur-sukur, banyak yang se-frekuensi ...
Kalau istilah lain dari bahasa saya ini, sedikit tapi
berkah, jauh lebih baik, daripada banyak, tapi enggak
berkah ... Alhamdulillah, kalau banyak dan berkah ...
Idealnya begitu ...
Yang jelas ... Yang benar-benar se-frekuensi dengan
anda, akan datang sendiri mencari anda, dimanapun
anda berada, karena itu "gerakan dari dalam" ... Bukan
karena iming-iming dari anda, bukan karena iklan heboh
yang anda buat (gerakan dari luar) ...
Siapapun yang terpanggil, pasti akan datang, tanpa
perlu anda panggil ...
_/|\_

.:: MELIHAT BENAR ATAU SALAH ::.

Arif Rh
Pernah gak, kita disalahkan orang lain, atas apa yang
kita lakukan? ... Tapi, kita ngerasa enggak salah? ...
Reaksi umum setiap orang, saat disalahkan adalah,
menyalahkan balik orang yang menyalahkan ...
Nah, jadi, aslinya kita salah atau enggak sih? ...
Simple kok, kalau kepingin tahu kita salah atau enggak
...
1) Tanyakan ke diri sendiri ; "kalau saya diperlakukan
serupa, oleh orang lain, sebagaimana apa yang saya
lakukan kepada orang lain, mau enggak? ... enak
enggak?" ...
2) Amati diri kita sendiri. Apakah kita menjadi sangat
reaktif? ... Apakah kita sangat emosional? ... Karena
biasanya, kalau betul betul benar, sikap kita tenang.
Tapi, kalau kita jadi tidak tenang, dan meledak-ledak,
bisa jadi kita memang ada kesalahan ...

.:: EMPAT TAHAPAN KESADARAN ::.

Gobind Vashdev
EMPAT TAHAPAN KESADARAN
Rigpa dan tarian sepertinya tidak bisa dipisahkan, setiap
mendengar musik, terutama bunyi gamelan, walau sangat
samar ia langsung mengenalinya dan memasang postur
tubuh tertentu.
Berbagai reaksi orang melihat gayanya, ada yang cuek
banyak yang menikmatinya sambil tersenyum bahkan
tertawa, dan tak sedikit yang memotivasi, tentu dengan
caranya sendiri-sendiri.
'wah hebat ya, kecil-kecil sudah pintar menari" adalah
motivasi yang menempati ranking paling atas.
'wah enak nih bapak ibunya tidak perlu mencari minat
dan bakat anaknya, dari kecil sudah kelihatan arahnya
mau kemana', kami pun menyambut dengan senyum,
siapa yang tahu hari ini menyukai tari besok ia berubah
ke menggambar.
Sementara sebagian orang lain mengucap "kok gituuuu
menari ya??" kemudian sambil melakukan gerakan
tertentu "begini yang benar".
semuanya kami terima dengan sama, karena pada
dasarnya pujian atau kritikan sekalipun, tidak ada
hubungannya dengan objek yang dipuji atau di kritik,
dalam hal ini tidak ada hubunganya dengan Rigpa.
Rigpa melakukan gerakan tertentu, tidak baik dan tidak
buruk, bila itu sesuai dengan rasa yang di dalam diri,
kita menjadi senang dan melontarkan pujian , namun bila
tidak cocok dengan hati, kita ingin membenarkan, dengan
cara nya masing-masing tentunya.
Kamu bukanlah seperti yang dipuji dan juga kamu
bukanlah seperti yang dikritik, kamu adalah kamu.
Pemuji dan pengkritik hanyalah merefleksikan apa yang
ada didalam dirinya bukan apa yang ada diluar.
Setiap orang bertumbuh, seperti kita semua, paling tidak
ada empat tahapan seperti ini,
Awalnya kita tidak tahu apa-apa, kita cenderung
menikmati segalanya, suasana netral masih terasa kental
di tahapan ini.
Lalu kita belajar sesuatu, kita merasa ada kebenaran
disana. kita lalu memisahkan ini yang benar dan yang
lain salah.
seperti anak SD yang belajar 1+1 = 2 , lalu Guru nya
mengatakan sekaligus menilai jawaban murid yang selain
angka " 2 " adalah salah.
ada orang yang dari kecil mengenggam keyakinan yang
kaku ini cukup lama, bahkan sampai akhir hayat,
" saya yang benar dan yang lain salah " ,
" ini yang baik, selain yang ini semuanya buruk "
begitulah kurang lebihnya
Pada tahapan ini kita cenderung untuk 'membenarkan'
orang lain yang kita anggap salah.
mengajak, mengarahkan, menasehati, atau mengkritik
adalah kemasannya, semangat didalamnyalah yang
terpenting, selama kita masih menganggap orang lain
salah dan harus segera diperbaiki itu artinya kita belum
sampai tahap memahami dan melihat apa adanya.
Kalau kita mau jujur bahwa sebagian besar nasihat yang
kita lontarkan pada orang lain adalah nasihat untuk diri
sendiri.
Sebagian orang yang 'beruntung' masuk ketahapan
selanjutnya, disini kita mendapatkan konflik besar
dimana apa yang sebelumnya kita anggap sebagai
'kebenaran' bertabrakan dengan realitas yang ada saat
ini.
Seolah ada kebenaran lain di luar sana, ada jawaban
lain selain "2"
"yang makan dan tidurnya tidak teratur serta jarang
minum kok tetap sehat sampai setua ini? sementara dia
yang semuanya teratur kok sakit-sakitan?" adalah satu
dari ribuan tabrakan yang terjadi di kepala dan hati
saya.
celakanya, semakin saya meneliti dan menggali ke dalam,
tumbukan semakin sering dan hebat.
Sebagian besar orang kembali pada 'kebenaran' yang ia
pegang dan menutup mata atau menyangkal apa yang
terjadi.
Rasanya tidak rela, apa yang diyakini selama ini
ternyata bukan kebenaran. Ego tidak menyukai hal
seperti ini. disini biasaya kita mencari pembenaran
supaya terlihat dan terasa benar.
Hanya sedikit orang yang mau merelakan cadar ego nya
lepas, ia yang tidak lagi melekat pada 'kebenaran'
versinya kembali melihat dunia apa adanya, seperti awal
kita dilahirkan, seperti apa yang di katakan TS Eliot
“Kita tidak boleh berhenti menjelajah dimana akhir dari
semua penjelajahan tersebut akan tiba di tempat di
mana kita memulai dan baru menyadari tempat tersebut
untuk pertama kalinya.”
Wajar kita berdebat di jalan, mengatakan jalan sayalah
yang benar, mereka yang sudah 'sampai' tidak lagi
berdebat, tidak ada lagi yang perlu di debatkan bagi
mereka yang sudah 'pulang'.
Di kesadaran ini, tarian dilihat sebagai tarian, tidak
baik dan tidak buruk, tidak ada pujian dan makian yang
tebesit, hanya menikmati tarian disini dan saat ini.
He who speaks does not know; he who knows does not
speak
ia yang bicara tidak tahu, ia yang tahu tidak bicara.
Lao Tzu
_/|\_

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...