Sabtu, 02 Juli 2016

.:: "KALIMAT-KALIMAT TAUHID DALAM AL-QUR’AN, SEBUAH UPAYA PENEMUAN JATI DIRI"::.

Muniri Chodri, Dalam suatu kesempatan, saya terlibat diskusi tentang pertentangan Ahli fiqh dan kaum Sufi. Ahli fiqh menyangsikan amaliah yang dilakukan oleh kaum Sufi yang konon katanya banyak menyimpang dari ketentuan al-Qur’an dan Hadits. Dalam diskusi tersebut, ada satu teman yang rupanya menyangsikan amaliah kaum Sufi, pertanyaan mendasarnya berkaitan dengan “siapa yang seharusnya diikuti, Nabi Muhammad atau kaum Sufi? padahal sudah jelas kaum Sufi, semua pengikut Nabi Muhammad, sedangkan Nabi Muhammad sendiri menganjurkan bahwa al-Qur’an dan Hadits sebagai petunjuk amaliah ta’abbudiyyah”. Salah satu teman menanggapi, bahwa sebenarnya pertanyaan tersebut, telah menjadi debat panjang antara Ibnu Athaillah Assakandary dengan Ibnu Taimiyah, keduanya sama-sama kuat dalil aqli maupun naqlinya, sampai akhirnya Ibnu Taimiyah mengaku kalah ketika Ibnu Athaillah Assakandary bisa menebak apa yang akan dilakukan Ibnu Taimiyah, padahal belum dilakukan, masih hanya sebatas rencana yang tinggal dilaksanakan. Namun, bukan berarti pengakuan kalah Ibnu Taimiyah lantas otomatis argumentasinya dalam debat “salah”. Justru, mereka berdua menemukan kata sepakat, bahwa berbicara amaliyah ta’abbudiyah kembali kepada individu masing-masing, yang yakin dengan jalan fiqh silahkan, demikian yang yakin dengan jalan Sufi juga silahkan. Salah satu teman memperkuat argumentasi kaum Sufi, dengan menyampaikan bahwa dalam al-Qur’an ada empat kalimat tauhid, antara lain; Laa ilaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah), Laa ilaha Illa Huwa (Tiada Tuhan selain Dia), Laa ilaha Illa Anta (Tiada Tuhan selain Engkau), dan yang terakhir Laa ilaha Illa Ana (Tiada Tuhan selain AKU). Menurutnya, kalau kalimat-kalimat ini dikaji secara bahasa, tentu sebagaimana arti yang sudah dituliskan di atas. Namun, bagi kaum Sufi, kalimat-kalimat di atas, menjadi sesuatu yang bermakna luar biasa, yang berkenaan dengan kondisi ruhiah seseorang yang mengalami ektase ilahi. Karena sudah waktunya bubar, teman saya hanya berhenti disitu penjelasannya. Kurang lebih satu bulan lebih, saya coba mengkaji sendiri kalimat-kalimat tauhid di atas, dan sambil mengumpulkan referensi dari teman-teman saya yang sudah menjalani kehidupan Sufi. Sebenarnya, saya sendiri belum tahu pasti mana urutan pertama yang muncul dalam al-Qur’an dari sekian kalimat-kalimat Tauhid di atas. Tapi, sepertinya saya lebih suka jika susunannya seperti yang saya tulis di atas. Pertama, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Allah”, bagi pejalan Sufi yang menghayati kalimat tersebut, beranggapan bahwa meng-Esakan Allah adalah hal pertama yang perlu dilakukan, penisbian atas selain Allah sehingga diri benar-benar haqqul yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah. Hingga seseorang berkeyakinan, hanya Allahlah Sang Pencipta, Pemberi, dan Pengatur segala yang ada di alam semesta. Tentulah, bagi orang yang berkeyakinan seperti ini, ia hanya takut dan berharap kepada Allah. Bagi orang ini, sangat tegas batas antara Pencipta dan yang diciptakan, Allah bisa sebagai dzat yang Maha Menghukum bagi pelaku kejahatan, dan disisi yang lain sebagai dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi pelaku kebaikan. Sangat jelas pula, mana baik menurut Allah, dan mana yang buruk menurut Allah, dan semua manusia harus mengikuti ketentuan tersebut. Selanjutnya, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Huwa”, orang yang sudah sampai pada penghayatan kalimat ini, penggambaran tentang Allah berbeda dengan yang sebelumnya, proyeksi tentang Allah menjadi kabur, tetapi Allah sesuatu dzat yang pasti “ada’, seperti apa wujudnya, hanya Allah yang tau. Allah suci dari proyeksi pikiran manusia. Dalam hal ini, Ibnu Araby menjelaskan sucinya Allah adalah kondisi dimana Allah hanya dapat ditunjuk dengan kata “Dia” (Huwa) yang sendiri, “Dia” yang keberadaan dan kesendiriannya tidak dapat dilukiskan karena kemenyendirian-Nya, sehingga “Dia”, satu-satunya, yang berhak memiliki wujud dan disebut sebagai wujud. Tingkat penghayatan kalimat tauhid selanjutnya adalah ”Laa ilaha Illa Anta”. Orang yang sampai pada penghayatan ini, ia sudah memandang semua yang ada di alam semesta ini adalah Allah, baginya Allah benar- benar hadir, dan kehadiran Allah benar-benar nyata dirasakan oleh kesejatian ruhnya. Dalam setiap entitas ada Allah, tidak pandang apa wujudnya, benda yang kelihatan hidup, maupun yang kelihatan mati, yang kelihatan indah maupun yang kelihatan sebaliknya. Orang yang sudah sampai pada penghayatan ini, meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta semuanya dalam “kesatuan”, dan meyakini pula bahwa satuan wujud ternampak yakni, benda, tersusun dari satuan terkecil yang bernama molekul, satuan terkecil dari molekul adalah atom, kemudian partikel merupakan satuan terkecil dari atom, dan satuan terkecil dari partikel adalah realitas quanta, dan yang paling halus yakni quark, semakin kecil susunannya, getarannya justru lebih konsisten dan cepat. Orang ahli fisika mengatakan bahwa alam semesta adalah realitas energi yang menyatu dan sama-sama mempunyai getaran energi magnetik, fakta getaran energi ini dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa di langit dan di Bumi semuanya bertasbih menyebut nama Allah. Dan yang terakhir, kalimat tauhid “Laa ilaha Illa Ana”, sebuah titik penghayatan yang paling dalam tentang Allah. Konon Al-Hallaj mengatakan “Ana al- Haq” dan Syek Siti Jenar mengatakan “Manunggaling Kaulo Gusti”, yang ia katakan ketika mengalami puncak ektase kesatuan dengan Allah. Sebuah perkataan yang paradok pada zamannya, hanya untuk menjelaskan “aku dalam Allah, dan Allah dalam aku”. Dalam hadits Qudsy dikatakan, “ana inda dzonni ‘abdy” (Saya menurut apa yang hambaku sangkakan), dengan demikian jika “sangkaan” manusia yang menjadi barometer proyeksi tentang Allah, secara otomatis manusia sudah menarik konsep Allah pada level “Ana” (Saya). Maka, sebagaimana hadits Qudsy tersebut, sebenarnya manusia sendirilah yang mendisien mau seperti apa Allahnya dalam pikiran dan rasanya, dari disien pribadi tentang Allah inilah yang menentukan cara berpikirnya, disadari atau tidak cara berpikirnya menjadi penentu cara pandang, dan dari cara pandang perjalanan hidupnya ditentukan. Laa ilaha Illa Ana, bisa jadi kalimat tauhid ini, menjelaskan bahwa “Ana” (saya) inilah yang menjadi lokus kesadaran, dengan kesadaran yang bermuara pada “diri”, akhirnya manusia tidak lagi menyalahkan Allah dan juga manusia lain, jika mengalami sebuah kejadian yang tidak menguntungkan dirinya, karena semua kejadian yang terjadi berasal dari vibrasi energi pikiran dan perasaannya. Inilah, kemudian kita menamakan “kesadaran diri’, sebuah kesadaran yang berada di kedalaman diri masing-masing individu, yakni “jati diri”. Orang yang menemukan dan mengetahui jati dirinya, maka ia akan menemukan dan mengetahui Allah, sebagaimana ungkapan “man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengetahui jati dirinya, maka ia telah mengetahui Rabb-nya). Setelah individu mengetahui jati dirinya (Laa Ilaha Illa Ana), titik baliknya akan lebih selaras dengan “Anta” (Laa Ilaha Illa Anta), sebagaimana Anta kata ganti dari entitas yang berada di depan kita, yang dekat dan terlibat langsung, nyata sifatnya secara fisik, Anta ini berkaitan dengan entitas tanpak yang ada di alam semesta. Dilanjutkan pada kata “Huwa” (Laa Ilaha Illa Huwa), sebuah kata ganti ketiga tunggal, kata Huwa adalah analog dari penjelasan tentang keberadaan entitas yang tidak tanpak secara fisik. Dengan demikian, orang yang mengetahui ke-saya-annya cendrung selaras dengan yang tampak maupun yang tidak tampak, jika sudah selaras sedemikian rupa, maka orang tersebut dapat ditegaskan selaras dengan kesadaran ilahi, diri yang utuh secara universal, keterhubungan, meliputi dan menyeluruh, semua dalam Allah dan Allah dalam semua, Laa Ilaha Illa Allah. Inilah menurut saya, makna dari Man ‘arafa nafsahu, faqot ‘arafa rabbahu. Dari hasil kajian ini, saya beranggapan kenapa Ulama terdahulu mengedepankan ajaran “Tauhid” sebagai pengetahuan pertama yang harus dipelajari, karena dari ajaran tauhid sebagaimana penjelasan dari kalimat- kalimat tauhid versi saya di atas, mungkin saja dengan menarik Allah pada level “Ana” (saya), akan berakibat positif pada kepribadian semua manusia sebagai khalifah di Bumi, yang akan memberikan kedamaian di Bumi, serta berakibat pula pada terwujudnya keseimbangan alam semesta. Allahu a’lam bi al-shawaab.

Jumat, 01 Juli 2016

.:: BERHENTILAH BELAJAR ::.

Arif RH, Saya sejak dulu, belajar ke banyak sekali sahabat, belajar ke banyak guru ... Baik secara live maupun secara jarak jauh ... Secara formal, maupun informal... Saya juga membaca banyak sekali buku ... Semakin banyak ikut pelatihan, kok yang saya rasakan, saya semakin bingung ... Semakin banyak baca buku, tambah confuse ... Karena konsep antar buku dan antar guru, kadang tidak sama, bahkan saling bertentangan ... Pertanyaan di kepala saya adalah, mana cara yang benar dari semuanya itu? ...Kata guru anu, caranya begini ... Kata guru itu, cara anu salah, yang bener begini ... Pusing abisss saya ... Akhirnya, saya berfocus mengamati diri saya sendiri, mengamati pola-pola kehidupan saya sendiri ... Lalu saya simpulkan ... Saya buat "manual book", tentang diri saya sendiri ... Dan hasilnya jauh lebih baik ... Lebih pas dan lebih aplikatif ... Tidak puyeng lagi ... Prakteknya lebih enak ...Lalu kekeliruannya dimana? ... Kekeliruannya adalah, kadang, semakin banyak belajar ke orang lain, membuat kita tidak belajar "ke dalam" ... Kita malah semakin ingin menjadi orang lain, pakai konsep-konsep orang lain ... Akhirnya, kita terasing dari rahasia diri kita sendiri ... Kita tercampakkan menjauh, dari guru sejati kita sendiri ... Kita tidak jeli, mengamati pola-pola yang kita alami dalam hidup...Itulah sebabnya, sekarang saya lebih berkiblat bahwa, tidak ada cara yang salah ... Tapi cara yang efektif menurut guru anda, belom tentu efektif buat anda ... So, ambil yang pas-pas saja dengan diri anda... Jangan dicampur aduk, karena belom tentu pas ... Belajarlah ke sebanyak mungkin orang, tapi dalam rangka untuk melihat ke dalam ... Berpetualanglahsejauh mungkin ke luar, untuk menemukan jalan menujuke dalam ...Beberapa tahun lalu, salah seorang sahabat saya berkata, "berhentilah belajar" ... Itu lama saya paham kalimat itu ... Akhirnya saya baru mengerti, ohhh maksudnya itu, jangan sampai terus belajar ke luar diri, tapi semakin tidak mengenali diri sendiri ... Setiap manusia itu unik dan otentik ... Tidak semua nasehat, pas buat anda ... Tidak semua postingan di fb, cocok buat anda ... Tapi apa yang tidak cocok buatanda, bukan berarti salah ... Benar, tapi tidak compatible dengan diri anda ...Anda boleh tidak percaya, dengan tulisan saya ini ... So, buktikan sendiri ... Selama anda tidak aware dan tidak mengamati diri anda sendiri ... Selama anda tidak menyadari, bahwa guru sebenarnya adalah ada dalam pola pengalaman anda sendiri ... Selama anda memaksakan menggunakan cara-cara orang lain ... Maka, semakin banyak anda belajar ke orang lain, semakin pusing anda dalam hidup ...Cailah guru, yang mengajak anda untuk mengamati diridan kehidupan anda sendiri ... Carilah guru, yang berani meletakkan ego merasa dia paling benar, dan dia rela berperan hanya sebatas sebagai cermin, agar anda melihat ke dalam diri anda sendiri ...Kitab rahasia tertua yang dituliskan Tuhan, bahkan sebelum anda bisa membaca ... Adalah kitab bernama,AL SELF, alias, DIRI ANDA SENDIRI ... BACALAH !! ..._/|\_

.:: OJO DUMEH ::.

Arif Rh

Setiap kali kau mulai sombong dengan ilmumu ... Ingatlah, bahwa di luar sana, buanyak sekali orang, yang babar blass, gak ngerti, gak belajar ilmu yang kau miliki ...Dan nyatanya, mereka jauh lebih sehat, lebih kayaraya, lebih sukses, lebih spiritual dan lebih bahagia daripada dirimu ..._/|\_

Rabu, 29 Juni 2016

.:: PANTASKAH KITA MASUK SURGA ::.

Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, Nikola Tesla, Wright bersaudara dan sebagainya, adalah sebagian kecil dari orang-orang yang sangat berjasa besar bagi kemanusiaan...

Penemu handphone... Penemu obat-obatan... Penemu telephone... Masih banyak lagi... Sungguh-sungguh besar kontribusi mereka... Penemuan mereka di bidang ilmu pengetahuan, memberikan manfaat besar bagi umat manusia... Orang bisa beribadah ke luar negeri naik pesawat... Bisa mengumandangkan suara pangilan dari rumah ibadah, karena ada listrik, dan sebagainya... Apa itu adalah sesuatu yang tidak ada harganya sama sekali bagi umat manusia dan di hadapan-NYA...? Sehingga saya saat merenung, dalam keheningan... Terbersit sebuah kalimat spontan dalam hati, "mereka semua itu tadi, yang jasanya tiada terkira ... kalau mereka semuanya masuk neraka ... saya maluuu banget kalo misal saya masuk sorga ... karena saya ini jauh lebih tidak pantas masuk sorga ... apalah saya ini, kalau dibandingkan mereka, dalam memberikan manfaat bagi umat manusia" ...Bukankah disebutkan bahwa, "sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang memberikan manfaat bagi orang lain..?" _/|\_

.:: NIAT DAN KEBERHASILAN ::.

Arif Rh, Alkisah ... Suatu hari, ada seseorang yang melihat banyak orang kehausan di sebuah bus ... Dan tidak ada air minum ... Seseorang ini, tersentuh hatinya, dan terbersit dalam benak, "kalau aku bisa menyediakan air minum yang bisa dibawa kemana-mana, mereka tidak akan susah cari air minum seperti ini" ... Lalu singkat cerita, seseorang ini, punya ide untuk menjual air minum botolan ...Maka, kemungkinan orang itu punya bisnis air minum yang berkembang pesat, kemungkinannya sangat besar... Why? ... Karena ia focus kepada pelayanan untuk orang lain ... Ia fokus pada memberikan solusi ... Ada sebuah niatan yang bermuatan spiritual ... Bukan kepentingan material semata ...Orang sering mengatakan, ide itu akan menghasilkan uang ... Sebenarnya, hubungan antara ide dengan uang, adalah hubungan yang tidak langsung ... Berapabanyak punya ide bagus, ide briliant, tapi ya bisnisnya gak besar? ... Karena jembatan penghubung antara idedan uang, adalah niat ...IDE ---> NIAT ---> UANG Jadi, bila sebuah ide, kok tidak menghasilkan uang ...Sementara eksekusi di level tindakan dan cara-cara sudah oke, sudah bener, sudah optimal ... Yang perlu ditinjau adalah, niat ... Semakin bermuatan spiritual sebuah niat, semakin kuat kemungkinan terjadinya manifestasi di level fisik ... Karena semakin spiritual sebuah niat ... Semakin besar kemungkinan adanya"campur tangan" yang akan dilakukan kesadaran yang Maha Tinggi ...Saya banyak teman, mereka para ibu rumah tangga, yang sukses dalam bisnis ... Rata-rata yang sukses, adalah karena NIAT yang bermuatan SPIRITUAL ... Misalnya, si ibu ini melihat suaminya kerja keras banting tulang ... Terketuklah hatinya untuk membantu suami yang dicintainya ... Kita bisa lihat, ini bukan soal UANG ... Tapi NIAT terdalamnya adalah MEMBANTU SUAMI ...Niatan yang bermuatan spiritual, selalu "tidak egois"... Muatannya adalah "pelayanan" untuk area yang lebih luas ... Bukan hanya sekedar area dirinya ..."Saya jualan nasi uduk di area olah raga ini, supaya punya duit banyak", ini niatan yang areanya sempit ...Yaitu diri sendiri, saya dapet duit ... "Saya jualan nasi uduk supaya orang-orang di sekitar sini tidak kesusahan nyari makan, kalo habis olah raga mereka kelaparan" ... Sudah terlihat bedanya? ... Yang pertama, "mendapatkan", yang kedua, "pelayanan"...Semakin kita tidak egois, semakin kita melayani area yang luas, semakin luas kesadaran kita ... Dampaknya, semakin sinkron kita, dengan kesadaran semesta yang melayani semua ... Kalau dalam shalat berjamaah, secara fisik, kita dianjurkan perlu MELURUSKAN BARISAN ... Namun secara bathin, bersamaan dengan meluruskan barisan ... Kita perlu MELURUSKAN NIAT ..._/|\_

Selasa, 28 Juni 2016

.:: PUASA ::.

Gobind Vashdev

Menahan untuk tidak memasukkan makanan dan minuman ke dalam tubuh sewaktu puasa adalah sebuah tantangan kecil dibanding menahan untuk tidak mengeluarkan ego diri.

.:: SIAPA MASALAH SIAPA? ::.

Ifan Winarno

lepas dari benar salah.. orang hanya bisa iri pada orang yang memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya.. lha, jelas khan siapa yang punya masalah.. makanya merekalah yang berkoar

..:: MEMIKIRKAN MASALAH ::.

Ifan Winarno

Makin lama sebuah masalah dipikirkan.. Makin sedikit sisa waktu untuk menyelesaikannya..

.:: KENAPA MARAH-MARAH ? ::.

Gobind Vashdev, Sungguh tidak banyak orang tahu dengan pasti mengapa ia meluapkan kemarahannya, itu bisa karena sebuah program yang telah tertanam, adanya luka/trauma atau sebab lainnya.Ada begitu banyak kompleksitas di dalamnya, namun selalu ada satu kata yang melekat dalam setiap kemarahan atau kesedihan, kata itu adalah 'kemelekatan'kita melekat pada konsep benar dan salah, kita melekat pada luka yang ada, kita melekat pada masa lalu, kita melekat pada situasi yang kita inginkan. padahal kita mengetahui perubahan selalu dan selalu terjadi.Disisi lain begitu banyak yang mewajarkan 'marah' , 'ya memang seharusnya begitulah kehidupan ini." seperti itulah yang sering saya dengar.Marah seolah-olah menjadi aksi untuk menghalau orang dari perbuatan tidak benar, tidak sepaham, atau tidak menyenangkan.Tapi kita perlu mengerti bahwa marah itu bukan aksi melainkan re-Aksi. (mengulang aksi).aksi adalah sebuah tindakan yang dituntun kesadaran,sementara kalau kita marah, artinya kita terbajak oleh emosi."Apakah salah kalau saya marah kalau ada orang yang jelas-jelas salah?, jadi dibiarin saja begitu?"Biasanya saya mendapat pertanyaan seperti itu, dan tak jarang pertanyaan itu dilakukan secara reaktif.Pertama kita perlu menyadari bahwa yang namanya benar salah, baik buruk adalah sebuah kesepakatan.Kalau Anda tidak sepakat dengan pernyataan diatas ini, saya tidak apa-apa, tidak merasa sedih/marah pada Anda, saya tidak akan memaksa Anda untuk sepakat, saya akan sepakat pada ketidaksepakatan ini.ke2: kita perlu beranjak dari benar dan salah menjadi konsekwensi , tidak ada salah bila Anda marah, namun kita perlu menyadari bahwa setiap kemarahan mempunyai konsekwensi pada diri ini.Manusia itu aneh, bahasa halusnya adalah manusia itu menarik, tidak ingin rugi satu kali, pinginnya berkali-kali.Masa karena seseorang melanggar kesepakatan kita menghukum diri kita sendiri dengan meningkatkan tekanan darah, mendebarkan jantung, mengeluarkan beberapa hormon yang menekan imunitas, mempercepat gelombang otak menjadi stress dan banyak kerugian lagi lainnya."kamu harus nurut pada peraturan, kalau kamu tidak nurut maka saya akan menghukum diri saya" bukankanini adalah sesuatu yang aneh yang dipraktekkan banyak orang, dan orang yang mempraktekan mengatakan ini adalah sesuatu yang wajar.saya tidak mengatakan kita hanya diam saja dan melihat mereka yang melanggar kesepakatan, lakukan sesuatu, bicaralah, atau berikan petunjuk, namun lakukan semua itu dengan pikiran yang terang dan hatiyang tenang.Dan yang ke3: ini penting banget untuk disadari, bahwa tidak ada kemarahan yang disebabkan oleh hal luar, semua berawal dan berasal dari dalam.Carl Jung pernah mengatakan : Your vision will becomeclear only when you can look into your own heart. Who looks outside, dreams; who looks inside, awakes.saya membagi tulisan ini menjadi dua dengan menyisakan pertanyaan pada akhir dari bagian satu.saya berharap para sahabat mempunyai waktu untuk bertanya dan merenung pada diri sendiri.Dengan bertanya pada diri sendirilah kita menggali ke dalam, semakin sering kita menggali semakin teranglah kita melihat ke dalam diri.Bila kita mengerti bahwa semua masalah berasal dari dalam maka kita akan bertanggung jawab pada semuaemosi yang terlontar keluar.Mereka yang sadar akan tanggung jawab ini, tidak mungkin lagi menyalahkan pihak lain atas kemarahan atau kesedihan di dalam. mereka akan terus menerus menyibukan diri dengan memeluk emosi tersebut hinggacair.Ketika lumpur pikiran sudah mengendap dan pandangan kita sudah lebih terang, kita akan menyadari bahwa tidak banyak yang perlu kita lakukan.Terdapat hukum yang berjalan sepanjang waktu di alam semesta ini.Ini mengingatkan saya pada moment mengikuti retreatmeditasi yang dibimbing Guru Gede Prama untuk pertama kalinya.di awal perjumpaan Biksu yang menjaga Vihara membacakan aturan-aturan bermeditasi, antara lain tidak makan setelah lewat siang hari, tidak berbicara,tidak bersadar sewaktu bermeditasi dan lain sebagainya.Pada hari ke 3 atau 4, rupanya Guru mendapat laporan entah dari siapa tentang prilaku para murid yang berbicara, bersandar dan lainnya.Menanggapi hal tersebut Guru Gede Prama hanya menyampaikan hal yang selalu saya ingat yang kurang lebih seperti ini."saya tidak perlu menambahkan hukuman atau apa-apa lagi, hukumNya sudah sempurna, mereka yang rajin akan mendapatkan hasil dari usahanya yang rajin itu, begitu juga sebaliknya,"kalimat ini menampar saya dengan keras, saya menganggap diri saya percaya pada Tuhan yang mengatur alam semesta beserta isinya dengan seadil-adilnya,namun dalam keseharian otak ini terus membandingkan, hati ini sering merasa diperlakukan tidak adil dan banyak emosi lainnya yang menunjukkanbahwa sebenarnya saya ini hanya percaya pada adanya Pencipta tapi tidak percaya pada hukum-hukumNYA.Meditasi yang dibimbing Beliau ini adalah meditasi tergampang sekaligus tersulit. Gampang karena boleh ngapa-ngapain saja tanpa ada yang menegur, namun sebaliknya karena kontrolnya ada di dalam diri, bukandikondisikan, maka kita perlu untuk selalu sadar, elinglan waspodo juga tidak membandingkan diri dengan sahabat lain yang berbicara dan bersandar.Seperti sewaktu kita kecil ada banyak peraturan yang diberikan oleh guru dan orangtua kita, untuk membereskan makanan dan mainan yang tercecer, belajar dan mengerjakan PR, mengucap salam, menggosok gigi, mencuci tangan dan ratusan lainnya, namun semakin bertumbuhnya diri, semakin sedikit aturan secara verbal terucap, kita semakin sadar apapun yang kita lakukan mempunyai konsekwensi pada diri ini.Kita semua adalah anak yang sedang bertumbuh dengan segala pernak pernik masalah yang mengangkat dan menjatuhkan, membekukan serta melarutkan, tapi semuanya itu diperlukan untuk menjadikan kita sebagai manusia dewasa yang selalu sadar akan konsekwensi yang terjadi, bukan hanya yang diluar melainkan yang utama yaitu yang ada di dalam._/|\_

.::TRUE N TRUTH ::.

20160628020840.jpg

Arif Rh INI TENTANG ... TRUTH (KEBENARAN SEJATI) DAN TRUE (KEBENARAN) ...

Pernah gak, anda merasa gak cocok dengan postingan orang lain di facebook ini? ... Atau, pas anda bikin postingan, ada yang komentar, apalagi komentarnya panjang lebar melampaui statusnya, dan anda tidak cocok dengan komentar orang lain itu? ...Reaksi alamiah setiap orang, apalagi sedang "mode kadal", adalah begini, apapun yang berbeda dengan kita, itu adalah salah ... Pendapat orang lain, adalah"ancaman" bagi eksistensi kebenaran pendapat kita ...Mode fight or flight, lawan atau lari ...Oke, kita kaitkan uraian di atas, dengan gambar ... Gambar ini bagi saya, berbicara lantang tentang apa itu KEBENARAN HAKIKI (TRUTH) ... Dan juga apaitu TRUE (KEBENARAN) ... Serta, bagaimana hubungan antara keduanya ...Yang mampu menjangkau TRUTH atau KEBENARAN SEJATI, hanya Tuhan, hanya DIA ... Itulah sebabnya disebutkan, "Allah Maha Benar" ... Sementara manusia, hanya mampu menjangkau TRUE... Bukan TRUTH ... Lalu gimana kalau begitu? ...Anda perhatikan gambar ini lagi ... Sebenarnya, KEBENARAN HAKIKI-nya, cuman SATU ... Tapi setiap orang, punya cara masing-masing dalam melihatnya, yang menghasilkan TRUE ... Setiap orang, melihat TRUTH yang sama, menghasilkan TRUE-nya masing-masing ... Singkatnya, kalau kita berbeda pendapat, tidak selalu artinya "saya benar dan anda salah", atau sebaliknya ...Yang lebih tepat adalah, "saya benar dan mungkin juga, anda benar ... tapi meskipun kita sama-sama benar ... kita tidak menjangkau kebenaran sejatinya"... Kebenaran sejati itu, sudah merupakan wilayah Tuhan ... Jadi, kenapa kita harus ribut? ... Kenapa harus eyel-eyelan? ... Kenapa harus ngotot-ngototan? ...Persoalannya, kadang entah mengapa, manusia ini suka "kesurupan napsu" ingin jadi yang paling benar ...Apalagi kalau sudah pakai dalil buku suci ... Padahal, apa yang kita pahami atas buku suci, itu adalah TRUE... Bukan TRUTH ... Yang tahu sejatinya maksud sebuah ayat, hanyalah Tuhan ... Hanya DIA yang memahami TRUTH ...Niels Bohr, salah seorang sesepuh dalam ilmu fisika modern mengatakan, "lawan dari kebenaran, adalah kebenaran yang lainnya" ... Sehingga, saya kira, apabila kita tidak bisa setuju dalam satu pendapat yang sama ... KITA PERLU MENYETUJUI, UNTUK SALING TIDAK SETUJU ... Kita bersepakat, untuk tidak sepakat ... Clear?

.:: I'M EVERYWHERE ::.

Arif RhSiapa di antara anda, yang pernah nonton film sains fiksi berjudul, "LUCY"? ... Itu lho yang aktris utamanya adalah Scarlet Johansson, pemeran Black Widow dalam film The Avengers ... Sosok wanita bernama Lucy, dalam film itu diceritakan, karena terpicu serbuk biru bernama CPH4, terjadi perubahan dalam tubuh dia ... Sehingga otaknya berkembang, dan secara perlahan berfungsi 100 persen ...Skip skip skip ... Kita melompat ke bagian akhir ... Kita ingat baik-baik, dan amati adegan saat dia berada di laboratorium, bersama beberapa professor yang membantu Lucy ... Saat adegan ini terjadi, Lucy mengalami flashback, mundur ke masa lalu ... Mengakses memory tentang asal usul, atau sejarah tentang dirinya sendiri ... Dan kemudian, ia bertemu dirinya sendiri, dengan wujud bukan manusia di masa lalunya ... Dan setelah dia "mengenali siapa dirinya"... Apa yang selanjutnya terjadi? ...Setelah Lucy mengenali siapa dirinya ... Lucy bukan hanya mampu mengakses data memory dirinya saja, bukan hanya data tentang bumi saja ... Ia juga mengalami flashback, tentang asal usul alam semesta raya ini ... Sehingga ia bisa memahami, sejak kapan alam semesta ini ada, ada apa sebelum ini semua ada, dan sebagainya dan sebagainya ... Lalu, apa akibat dari teraksesnya hal ini? ...Akibatnya ... Kesadaran Lucy meluas, melampaui dimensi 1-2-3-4 ruang waktu ... Sehingga tubuh Lucy lenyap, tidak lagi mampu mewadahi kesadarannya yang meluas ... Tubuhnya berganti, tubuhnya adalah segala sesuatu ... Kesadarannya ada dimana-mana ...I AM EVERYWHERE ... AKU ADA DIMANA MANA... Tubuhnya moksa, lenyap menghilang ... Tapi kesadarannya, ada pada segala sesuatu ...Kalau kita kaitkan dengan kajian spiritualitas, sangatmirip prosesnya ... Amati saja ... Mayoritas isi semua buku suci, adalah tentang masa lalu ... Untuk apa kitabelajar masa lalu? ... Sekarang sudah modern, kok baca tentang masa lalu? ... Itu dia ... Mirip kayak Lucy tadi ... Jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran, adalah belajar sejarah ... Buku suci itu isinya adalah "kisah-kisah kaum terdahulu" ... Ya itu sejarah khan? ...Dengan kita diajak menyimak masa lalu, belajar dari masa lalu ... Kita akan mengerti, asal usul kita sendiri... Dan saat kita sudah mengerti asal usul kita, kita akan bertemu diri kita sendiri ... Komplitlah sudah, perjalanan kita mengenali diri ... Nah, ada lanjutannya di sini, "barangsiapa mengenal dirinya, dia akan mengenal siapa Tuhan-NYA" ...Maka, tirai rahasia semesta pun akan tersibak ... Rahasia masa lalu, dimana kebenaran tersimpan, gilirannya akan terungkap ... Kita akan diajak flashback, diperjalankan mengarungi semesta nan megah seolah tak berbatas ini, asalnya darimana, sejak kapan ia ada dan sebagainya ...."Yang tahu jalan pulang ... Adalah mereka yang tahu darimana mereka datang" ... "Sangkan paraning dumadi" ...Hingga pada suatu titik, kita akan melebur dengan kesadaran semesta itu sendiri ... Pada level ini, kita baru menyadari, bahwa ada suatu kesadaran, yang maha luas, yang maha besar, yang ada pada segala sesuatu, ada dimana-mana, meliputi segala sesuatu, yang menggerakkan segala sesuatu ... Dan kesadaran itu seolah berkata ...I AM EVERYWHERE ... _/|\_

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...