Rabu, 20 September 2017

MAJAPAHIT, SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN



Majapahit adalah sebuah Kerajaan besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit. Majapahit berdiri pada tahun 1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.

Lambang Negara Majapahit adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa Timur. Pelabuhan iInternasional-nya waktu itu adalah Gresik.
Agama resmi Negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait ) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta (Wilwotikto).

Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara. Benar-benar jaman yang gilang gemilang!

Stabilitas Majapahit sempat koyak akibat perang saudara selama lima tahun yang terkenal dengan nama Perang Pare-greg (1401-1406 M). Peperangan ini terjadi karena Kadipaten Blambangan hendak melepaskan diri dari pusat Pemerintahan. Blambangan yang diperintah oleh Bhre Wirabhumi berhasil ditaklukkan oleh seorang ksatria berdarah Blambangan sendiri yang membelot ke Majapahit, yaitu Raden Gajah. ( Kisah ini terkenal didalam masyarakat Jawa dalam cerita rakyat pemberontakan Adipati Blambangan Kebo Marcuet. Kebo = Bangsawan, Marcuet = Kecewa. Kebo Marcuet berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran. Jaka = Perjaka, Umbaran = Pengembara. Dan Jaka Umbaran setelah berhasil menaklukkan Adipati Kebo Marcuet, dikukuhkan sebagai Adipati Blambangan dengan nama Minak Jingga. Minak = Bangsawan, Jingga = Penuh Keinginan. Adipati Kebo Marcuet inilah Bhre Wirabhumi, dan Minak Jingga tak lain adalah Raden Gajah, keponakan Bhre Wirabhumi sendiri. )

Namun, sepeninggal Prabhu Wikramawardhana, ketika tahta Majapahit dilimpahkan kepada Ratu Suhita, Malahan Raden Gajah yang kini hendak melepaskan diri dari pusat pemerintahan karena merasa diingkari janjinya. Dan tampillah Raden Paramesywara, yang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Gajah. Pada akhirnya, Raden Paramesywara diangkat sebagai suami oleh Ratu Suhita. (Dalam cerita rakyat, inilah kisah Damar Wulan. Ratu Suhita tak lain adalah Kencana Wungu. Kencana = Mutiara, Wungu = Pucat pasi, ketakutan. Dan Raden Paramesywara adalah Damar Wulan. Damar = Pelita, Wulan = Sang Rembulan).

Kondisi Majapahit stabil lagi. Hingga pada tahun 1453 Masehi, tahta Majapahit dipegang oleh Raden Kertabhumi yang lantas terkenal dengan gelar Prabhu Brawijaya ( Bhre Wijaya ). Pada jaman pemerintahan beliau inilah, Islamisasi mulai merambah wilayah kekuasaan Majapahit, dimulai dari Malaka. Dan kemudian, mulai masuk menuju ke pusat kerajaan, ke pulau Jawa.
Dan kisahnya adalah sebagai berikut :
Diwilayah Kamboja selatan, dulu terdapat Kerajaan kecil yang masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Kerajaan Champa namanya. ( Sekarang hanya menjadi perkampungan Champa ). Kerajaan ini berubah menjadi Kerajaan Islam semenjak Raja Champa memeluk agama baru itu. Keputusan ini diambil setelah seorang ulama Islam datang dari Samarqand, Bukhara. ( Sekarang didaerah Rusia Selatan). Ulama ini bernama Syeh Ibrahim As-Samarqand. Selain berpindah agama, Raja Champa bahkan mengambil Syeh Ibrahim As-Samarqand sebagai menantu.

Raja Champa memiliki dua orang putri. Yang sulung bernama Dewi Candrawulan dan yang bungsu bernama Dewi Anarawati. Syeh Ibrahim As-Samarqand dinikahkan dengan Dewi Candrawati. Dari hasil pernikahan ini, lahirlah dua orang putra, yang sulung bernama Sayyid ‘Ali Murtadlo, dan yang bungsu bernama Sayyid ‘Ali Rahmad. Karena berkebangsaan Champa ( Indo-china ), Sayyid ‘Ali Rahmad juga dikenal dengan nama Bong Swie Hoo. (Nama Champa dari Sayyid ‘Ali Murtadlo, Raja Champa, Dewi Candrawulan dan Dewi Anarawati, saya belum mengetahuinya : Damar Shashangka).

Kerajaan Champa dibawah kekuasaan Kerajaan Besar Majapahit yang berpusat di Jawa. Pada waktu itu Majapahit diperintah oleh Raden Kertabhumi atau Prabhu Brawijaya semenjak tahun 1453 Masehi. Beliau didampingi oleh adiknya Raden Purwawisesha sebagai Mahapatih. Pada tahun 1466, Raden Purwawisesha mengundurkan diri dari jabatannya, dan sebagai penggantinya diangkatlah Bhre Pandhansalas. Namun dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1468 Masehi, Bhre Pandhansalas juga mengundurkan diri.

Praktis semenjak tahun 1468 Masehi, Prabhu Brawijaya memerintah Majapahit tanpa didampingi oleh seorang Mahapatih. Apakah gerangan dalam masa pemerintahan Prabhu Brawijaya terjadi dua kali pengunduran diri dari seorang Mahapatih? Sebabnya tak lain dan tak bukan karena Prabhu Brawijaya terlalu lunak dengan etnis China dan orang-orang muslim.
Diceritakan, begitu Prabhu Brawijaya naik tahta, Kekaisaran Tiongkok mengirimkan seorang putri China yang sangat cantik sebagai persembahan kepada Prabhu Brawijaya untuk dinikahi. Ini dimaksudkan sebagai tali penyambung kekerabatan dengan Kekaisaran Tiongkok. Putri ini bernama Tan Eng Kian. Sangat cantik. Tiada bercacat. Karena kecantikannya, setelah Prabhu Brawijaya menikahi putri ini, praktis beliau hampi-hampir melupakan istri-istrinya yang lain. (Prabhu Brawijaya banyak memiliki istri, dari berbagai istri beliau, lahirlah tokoh-tokoh besar. Pada kesempatan lain, saya akan menceritakannya : Damar Shashangka).

Ketika putri Tan Eng Kian tengah hamil tua, rombongan dari Kerajaan Champa datang menghadap. Raja Champa sendiri yang datang. Diiringi oleh para pembesar Kerajaan dan ikut juga dalam rombongan, Dewi Anarawati. Raja Champa banyak membawa upeti sebagai tanda takluk. Dan salah satu upeti yang sangat berharga adalah, Dewi Anarawati sendiri.

Melihat kecantikan putri berdarah indo-china ini, Prabhu Brawijaya terpikat. Dan begitu Dewi Anarawati telah beliau peristri, Tan Eng Kian, putri China yang tengah hamil tua itu, seakan-akan sudah tidak ada lagi di istana. Perhatian Prabhu Brawijaya kini beralih kepada Dewi Anarawati.

Saking tergila-gilanya, manakala Dewi Anarawati meminta agar Tan Eng Kian disingkirkan dari istana, Prabhu Brawijaya menurutinya. Tan Eng Kian diceraikan. Lantas putri China yang malang ini diserahkan kepada Adipati Palembang Arya Damar untuk diperistri. Adipati Arya Damar sesungguhnya juga peranakan China. Dia adalah putra selir Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang sudah wafat yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi, dengan seorang putri China pula.

Nama China Adipati Arya Damar adalah Swan Liong. Menerima pemberian seorang janda dari Raja adalah suatu kehormatan besar. Perlu dicatat, Swan Liong adalah China muslim. Dia masuk Islam setelah berinteraksi dengan etnis China di Palembang, keturunan pengikut Laksamana Cheng Ho yang sudah tinggal lebih dahulu di Palembang. Oleh karena itulah, Palembang waktu itu adalah sebuah Kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit yang bercorak Islam.

Arya Damar menunggu kelahiran putra yang dikandung Tan Eng Kian sebelum ia menikahinya. Begitu putri China ini selesai melahirkan, dinikahilah dia oleh Arya Damar.
Anak yang lahir dari rahim Tan Eng Kian, hasil dari pernikahannya dengan Prabhu Brawijaya, adalah seorang anak lelaki. Diberi nama Tan Eng Hwat. Karena ayah tirinya muslim, dia juga diberi nama Hassan. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Raden Patah!

Dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Tan Eng Kian, lahirlah juga seorang putra. Diberinama Kin Shan. Nama muslimnya adalah Hussein. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Adipati Pecattandha, atau Adipati Terung yang terkenal itu!

Kembali ke Jawa.

Dewi Anarawati yang muslim itu telah berhasil merebut hati Prabhu Brawijaya. Dia lantas menggulirkan rencana selanjutnya setelah berhasil menyingkirkan pesaingnya, Tan Eng Kian. Dewi Anarawati meminta kepada Prabhu Brawijaya agar saudara-saudaranya yang muslim, yang banyak tinggal dipesisir utara Jawa, dibangunkan sebuah Ashrama, sebuah Peshantian, sebuah Padepokan, seperti halnya Padepokan para Pandhita Shiva dan para Wiku Buddha.

Mendengar permintaan istri tercintanya ini, Prabhu Brawijaya tak bisa menolak. Namun yang menjadi masalah, siapakah yang akan mengisi jabatan sebagai seorang Guru layaknya padepokan Shiva atau Mahawiku layaknya padepokan Buddha? Pucuk dicinta ulam tiba, Dewi Anarawati segera mengusulkan, agar diperkenankan memanggil kakak iparnya, Syeh Ibrahim As-Samarqand yang kini ada di Champa untuk tinggal sebagai Guru di Ashrama Islam yang hendak dibangun. Dan lagi-lagi, Prabhu Brawijaya menyetujuinya.

Para Pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah melihat gelagat yang tidak baik. Mereka dengan halus memperingatkan Prabhu Brawijaya, agar selalu berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan penting.

Tak kurang-kurang, Sabdo Palon dan Nayagenggong, punakawan terdekat Prabhu Brawijaya juga sudah memperingatkan agar momongan mereka ini berhati-hati, tidak gegabah. Namun, Prabhu Brawijaya, bagaikan orang mabuk, tak satupun nasehat orang-orang terdekatnya beliau dengarkan.

Perekonomian Majapahit sudah hamper didominasi oleh etnis China semenjak putri Tan Eng Kian di peristri oleh Prabhu Brawijaya, dan memang itulah misi dari Kekaisaran Tiongkok. Kini, dengan masuknya Dewi Anarawati, orang-orang muslim-pun mendepat kesempatan besar. Apalagi, pada waktu itu, banyak juga orang China yang muslim. Semua masukan bagi Prabhu Brawijaya tersebut, tidak satupun yang diperhatikan secara sungguh-sungguh. Para Pejabat daerah mengirimkan surat khusus kepada Sang Prabhu yang isinya mengeluhkan tingkah laku para pendatang baru ini. Namun, tetap saja, ditanggapi acuh tak acuh.

Hingga pada suatu ketika, manakala ada acara rutin tahunan dimana para pejabat daerah harus menghadap ke ibukota Majapahit sebagai tanda kesetiaan, Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker ( Ponorogo sekarang ), mempersembahkan tarian khusus buat Sang Prabhu. Tarian ini masih baru. Belum pernah ditampilkan dimanapun. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piranti tari bernama Dhadhak Merak. Yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak diatasnya. Dhadhak Merak ini dimainkan oleh satu orang pemain, dengan diiringi oleh para prajurid yang bertingkah polah seperti banci. ( Sekarang dimainkan oleh wanita tulen ). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujangganom dan satu orang Jathilan. Sang Pujangganom tampak menari-nari acuh tak acuh, sedangkan Jathilan, melompat-lompat seperti orang gila.

Sang Prabhu takjub melihat tarian baru ini. Manakala beliau menanyakan makna dari suguhan tarian tersebut, Ki Ageng Kutu, Adipati dari Wengker yang terkenal berani itu, tanpa sungkan-sungkan lagi menjelaskan, bahwa Dhadhak Merak adalah symbol dari Kerajaan Majapahit sendiri.
 adalah symbol dari Sang Prabhu. Bulu-bulu merak yang indah adalah symbol permaisuri sang Prabhu yang terkenal sangat cantik, yaitu Dewi Anarawati. Pasukan banci adalah pasukan Majapahit. Pujangganom adalah symbol dari Pejabat teras, dan Jathilan adalah symbol dari Pejabat daerah.

Arti sesungguhnya adalah, Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung Merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya dibawah selangkangan sang burung Merak. Para Prajurid Majapahit sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, sangat memalukan! Para pejabat teras acuh tak acuh dan pejabat daerah dibuat kebingungan menghadapi invasi halus, imperialisasi halus yang kini tengah terjadi. Dan terang-terangan Ki Ageng Kutu memperingatkan agar Prabhu Brawijaya berhati-hati dengan orang-orang Islam!
Kesenian sindiran ini kemudian hari dikenal dengan nama REOG PONOROGO !

Mendengar kelancangan Ki Ageng Kutu, Prabhu Brawijaya murka! Dan Ki Ageng Kutu, bersama para pengikutnya segera meninggalkan Majapahit. Sesampainya di Wengker, beliau mamaklumatkan perang dengan Majapahit!
Prabhu Brawijaya mengutus putra selirnya, Raden Bathara Katong untuk memimpin pasukan Majapahit, menggempur Kadipaten Wengker! (Akan saya ceritakan pada bagian kedua : Damar Shashangka ).

Prabhu Brawijaya, menjanjikan daerah ‘perdikan’. Daerah perdikan adalah daerah otonom. Beliau menjanjikannya kepada Dewi Anarawati. Dan Dewi Anarawati meminta daerah Ampeldhenta ( didaerah Surabaya sekarang ) agar dijadikan daerah otonom bagi orang-orang Islam. Dan disana, rencananya akan dibangun sebuah Ashrama besar, pusat pendidikan bagi kaum muslim.

Begitu Prabhu Brawijaya menyetujui hal ini, maka Dewi Anarawati, atas nama Negara, mengirim utusan ke Champa. Meminta kesediaan Syeh Ibrahim As-Samarqand untuk tinggal di Majapahit dan menjadi Guru dari Padepokan yang hendak dibangun.

Dan permintaan ini adalah sebuah kabar keberhasilan luar biasa bagi Raja Champa. Misi peng-Islam-an Majapahit sudah diambang mata. Maka berangkatlah Syeh Ibrahim As-Samarqand ke Jawa. Diiringi oleh kedua putranya, Sayyid ‘Ali Murtadlo dan Sayyid ‘Ali Rahmad.

Sesampainya di Gresik, pelabuhan Internasional pada waktu itu, mereka disambut oleh masyarakat muslim pesisir yang sudah ada disana sejak jaman Prabhu Hayam Wuruk berkuasa. Masyarakat muslim ini mulai mendiami pesisir utara Jawa semenjak kedatangan Syeh Maulana Malik Ibrahim, yang pada waktu itu memohon menghadap kehadapan Prabhu Hayam Wuruk hanya untuk sekedar meminta beliau agar ‘pasrah’ memeluk Islam. Tentu saja, permintaan ini ditolak oleh Sang Prabhu Hayam Wuruk pada waktu itu karena dianggap lancang. Namun, beliau sama sekali tidak menjatuhkan hukuman. Beliau dengan hormat mempersilakan rombongan Syeh Maulana Malik Ibrahim agar kembali pulang. Namun sayang, di Gresik, banyak para pengikut Syeh Maulana Malik Ibrahim terkena wabah penyakit yang datang tiba-tiba. Banyak yang meninggal. Dan Syeh Maulana Malik Ibrahim akhirnya wafat juga di Gresik, dan lantas dikenal oleh orang-orang Jawa muslim dengan nama Sunan Gresik.

Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik telah datang jauh-jauh hari sebelum ada yang dinamakan Dewan Wali Sangha (Sangha = Perkumpulan orang-orang suci. Sangha diambil dari bahasa Sansekerta. Bandingkan dengan doktrin Buddhis mengenai Buddha, Dharma dan Sangha. Kata-kata Wali Sangha lama-lama berubah menjadi Wali Songo yang artinya Wali Sembilan.: Damar Shashangka ).

Tentang Dewan Wali Sangha bisa dibaca di artikel WALI 9

Rombongan dari Champa ini sementara waktu beristirahat di Gresik sebelum meneruskan perjalanan menuju ibukota Negara Majapahit. Sayang, setibanya di Gresik, Syeh Ibrahim As-Samarqand jatuh sakit dan meninggal dunia. Orang Jawa muslim mengenalnya dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Makamnya masih ada di Gresik sekarang.

Kabar meninggalnya Syeh Ibrahim As-Samarqand sampai juga di istana. Dewi Anarawati bersedih. Lantas, kedua putra Syeh Ibrahim As-Samarqand dipanggil menghadap. Atas usul Dewi Anarawati, Sayyid ‘Ali Rahmad diangkat sebagai pengganti ayahnya sebagai Guru dari sebuah Padepokan Islam yang hendak didirikan.

Bahkan, Sayyid ‘Ali Rahmad dan Sayyid ‘Ali Murtadlo mendapat gelar kebangsawanan Majapahit, yaitu Rahadyan atau Raden. Jadilah mereka dikenal dengan nama Raden Rahmad dan Raden Murtolo ( Orang Jawa tidak bisa mengucapkan huruf ‘dlo’. Huruf ‘dlo’ berubah menjadi ‘lo’. Seperti Ridlo, jadi Rilo, Ramadlan jadi Ramelan, Riyadloh jadi Riyalat, dll ). Namun lama kelamaan, Raden Murtolo dikenal dengan nama Raden Santri, makamnya juga ada di Gresik sekarang.

Raden Rahmad, disokong pendanaan dari Majapahit, membangun pusat pendidikan Islam pertama di Jawa. Para muslim pesisir datang membantu. Tak berapa lama, berdirilah Padepokan Ampeldhenta. Istilah Padepokan lama-lama berubah menjadi Pesantren untuk membedakannya dengan Ashrama pendidikan Agama Shiva dan Agama Buddha. Lantas dikemudian hari, Raden Rahmad dikenal dengan nama Sunan Ampel.

Raden Santri, mengembara ke Bima, menyebarkan Islam disana, hingga ketika sudah tua, ia kembali ke Jawa dan meniggal di Gresik.
Para pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah memperingatkan Prabhu Brawijaya. Sebab sudah terdengar kabar dimana-mana, kaum baru ini adalah kaum missioner. Kaum yang punya misi tertentu.

Malaka sudah berubah menjadi Kadipaten Islam, Pasai juga, Palembang juga, dan kini gerakan itu sudah semakin dekat dengan pusat kerajaan.
Semua telah memperingatkan Sang Prabhu. Tak ketinggalan pula Sabdo Palon dan Naya Genggong. Namun, bagaikan berlalunya angin, Prabhu Brawijaya tetap tidakmendengarkannya.Raja Majapahit yang ditakuti ini, kini bagaikan harimau yang takluk dibawah kangkangan burung Merak, Dewi Anarawati.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Kutu dari Wengker dulu.


RUNTUHNYA MAJAPAHIT

Berdirinya Giri Kedhaton Blambangan ( Banyuwangi sekarang ), sekitar tahun 1450 Masehi terkena wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran masyarakatnya yang kurang mampu menjaga kebersihan lingkungan. Blambangan diperintah oleh Adipati Menak Sembuyu, didampingi Patih Bajul Sengara.
Wabah penyakit itu masuk juga ke istana Kadipaten. Putri Sang Adipati, Dewi Sekardhadhu, jatuh sakit. Ditengah wabah yang melanda, datanglah seorang ulama dari Samudera Pasai ( Aceh sekarang ), yang masih berkerabat dekat dengan Syeh Ibrahim As-Samarqand, bernama Syeh Maulana Ishaq. Dia ahli pengobatan. Mendengar Sang Adipati mengadakan sayembara, dia serta merta mengikutinya. Dan berkat keahlian pengobatan yang dia dapat dari Champa, sang putri berangsur-angsur sembuh.

Adipati Menak Sembuyu menepati janji. Sesuai isi sayembara, barangsiapa yang mampu menyembuhkan sang putri, jika lelaki akan dinikahkan jika perempuan akan diangkat sebagai saudara, maka, Syeh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardhadhu.
Namun pada perjalanan waktu selanjutnya, ketegangan mulai timbul. Ini disebabkan, Syeh Maulana Ishaq, mengajak Adipati beserta seluruh keluarga untuk memeluk agama Islam.

Ketegangan ini lama-lama berbuntut pengusiran Syeh Maulana Ishaq dari Blambangan. Perceraian terjadi. Dan waktu itu, Dewi Sekardhadhu tengah hamil tua. Keputusan untuk menceraikan Dewi Sekardhadhu dengan Syeh Maulana Ishaq ini diambil oleh Sang Adipati karena melihat stabilitas Kadipaten Blambangan yang semula tenang, lama-lama terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang mengidolakan Syeh Maulana Ishaq dan kubu yang tetap menolak infiltrasi asing ke wilayah mereka. Kubu pertama tertarik pada ajaran Islam, sedangkan kubu kedua tetap tidak menyetujui masuknya Islam karena terlalu diskriminatif menurut mereka. Antar kerabat jadi terpecah belah, saling curiga dan tegang. Ini yang tidak mereka sukai.

Sepeninggal Syeh Maulana Ishaq, ternyata masalah belum usai. Kubu yang pro ulama Pasai ini, kini menantikan kelahiran putra sang Syeh yang tengah dikandung Dewi Sekardhadhu. Sosok Syeh Maulana Ishaq, kini menjadi laten bagi stabilitas Blambangan. Mendapati situasi ketegangan belum juga bisa diredakan, maka mau tak mau, Adipati Blambangan, dengan sangat terpaksa, memberikan anak Syeh Maulana Ishaq, cucunya sendiri kepada saudagar muslim dari Gresik. Anak itu terlahir laki-laki.

Dalam cerita rakyat dari sumber Islam, konon dikisahkan anak itu dilarung ketengah laut (meniru cerita Nabi Musa ) dengan menggunakan peti. Konon ada saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar. Kapal dagangnya tiba-tiba tidak bisa bergerak karena menabrak peti itu. Dan peti itu akhirnya dibawa naik ke geladak oleh anak buah sang saudagar. Isinya ternyata seorang bayi.
Sesungguhnya itu hanya cerita kiasan. Yang terjadi, saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar di Blambangan diperintahkan untuk menghadap ke Kadipaten menjelang mereka hendak balik ke Gresik. Inilah maksudnya kapal tidak bisa bergerak. Para saudagar bertanya-tanya, ada kesalahan apa yang mereka buat sehingga mereka disuruh menghadap ke Kadipaten? Ternyata, di Kadipaten, Adipati Menak Sembuyu, dengan diam-diam telah mengatur pertemuan itu. Sang Adipati memberikan seorang anak bayi, cucunya sendiri, yang lahir dari ayah seorang muslim. Anak itu dititipkan kepada para saudagar anak buah saudagar kaya di Gresik yang bernama Nyi Ageng Pinatih, yang seorang muslim. Adipati Menak Sembuyu tahu telah menitipkan cucunya kepada siapa. Beliau yakin, cucunya akan aman bersama Nyi Ageng Pinatih. Hanya dengan jalan inilah, Blambangan dapat kembali tenang.
Putra Syeh Maulana Ishaq ini, lahir pada tahun 1452 Masehi.

Sekembalinya dari Blambangan, para saudagar ini menghadap kepada majikan mereka, Nyi Ageng Pinatih sembari memberikan oleh-oleh yang sangat berharga. Seorang anak bayi keturunan bangsawan Blambangan. Bahkan dia adalah putra Syeh Maulana Ishaq, sosok yang disegani oleh orang-orang muslim. Nyi Ageng Pinatih tidak berani menolak sebuah anugerah itu. Diambillah bayi itu, dianggap anak sendiri. Karena bayi itu hadir seiring kapal selesai berlayar dari samudera, maka bayi itu dinamakan Jaka Samudera oleh Nyi Ageng Pinatih.

Jaka Samudera dibawa menghadap ke Ampeldhenta menjelang usia tujuh tahun. Dia tinggal disana. Belajar agama dari Sunan Ampel.
Sunan Ampel yang tahu siapa Jaka Samudera yang sebenarnya dari Nyi Ageng Pinatih, maka sosok anak ini sangat dia perhatikan dan diistimewakan. Sunan Ampel menganggapnya anak sendiri.

Sunan Ampel, dari hasil perkawinannya dengan kakak kandung Adipati Tuban Arya Teja, memiliki delapan putra dan putri. Yang penting untuk diketahui adalah Makdum Ibrahim ( Nama Champa-nya : Bong- Ang : kelak terkenal dengan sebutan Sunan Benang. Lama-lama pengucapannya berubah menjadi Sunan Bonang ). Yang kedua Abdul Qasim, terkenal kemudian dengan nama Sunan Derajat. Yang ketiga Maulana Ahmad, yang terkenal dengan nama Sunan Lamongan, yang keempat bernama Siti Murtasi’ah, kelak dijodohkan dengan Jaka Samudera, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton (Sunan Giri), yang kelima putri bernama Siti Asyiqah, kelak dijodohkan dengan Raden Patah ( Tan Eng Hwat ), putra Tan Eng Kian, janda Prabhu Brawijaya yang ada di Palembang itu.

Kekuatan Islam dibangun melalui tali pernikahan. Jaka Samudera, diberi nama lain oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Paku. Kelak dia dikenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton. Dia adalah santri senior. Sunan Ampel bahkan telah mencalonkan, mengkaderkan dia sebagai penggantinya kelak bila sudah meninggal.
Sunan Giri sangat radikal dalam pemahaman keagamannya. Setamat berguru dari Ampeldhenta, dia pulang ke Gresik. Di Gresik, dia menyatukan komunitas muslim disana. Dia mendirikan Pesantren. Terkenal dengan nama Pesantren Giri.

Namun dalam perkembangannya, Pesantren Giri memaklumatkan lepas dari kekuasaan Majapahit yang dia pandang Negara kafir. Pesantren Giri berubah menjadi pusat pemerintahan. Maka dikenal dengan nama Giri Kedhaton ( Kerajaan Giri ). Sunan Giri, mengangkat dirinya sebagi khalifah Islam dengan gelar Prabhu Satmata ( Penguasa Bermata Enam. Gelar sindiran kepada Deva Shiva yang cuma bermata tiga ).

Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan tempur untuk menjebol Giri Kedhaton. Darah tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri Kedhaton bisa ditaklukkan. Kekhalifahan Islam bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak, setelah Majapahit hancur oleh serangan Demak Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487 Masehi. (Sembilan tahun setelah Majapahit hancur pada tahun 1478 Masehi).

Dari sumber Islam, banyak cerita yang memojokkan pasukan Majapahit. Konon Sunan Giri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurid Majapahit. Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama ‘Kalamunyeng’. Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat ‘memusingkan’ Majapahit.

Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit. Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.

Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja. Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu ANGKASHA (Ruang ), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya, VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin, AGNI (Api ), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar, TIRTA (Air ), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian, PRTIVI (Tanah ), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia, SURYA (Matahari ), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada, CHANDRA (Bulan ), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah KARTIKA (Bintang ), Raja harus mampu memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam menjalang. Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebut
ASTHAVRATA (Astobroto ; Jawa ). Dan menurut Sabdo Palon dan Naya Genggong, Prabhu Brawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai AGNI.

Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi. Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.

Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu. Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.

Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Adipati Tuban Arya Teja, keponakan Sunan Ampel. Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, maka pantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih ). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin Sunan Kalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah ).

Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup. Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah ( Yang paling parah dan memakan banyak korban, sampai-sampai para investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka dan menceritakan di Jawa tengah terjadi situasi chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu Putihan dengan Jaka Tingkir atau Mas Karebet, santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar Shashangka ).


Berdirinya PONOROGO

Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, sebenarnya masih keturunan bangsawan Majapahit. Beliau masih keturunan Raden Kudha Merta, ksatria dari Pajajaran yang melarikan diri bersama Raden Cakradhara. Raden Kudha Merta berhasil menikah dengan Shri Gitarja, putri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit. Sedangkan Raden Cakradhara berhasil menikahi Tribhuwanatunggadewi, kakak kandung Shri Gitarja.

Dari perkawinan antara Raden Cakradhara dengan Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Prabhu Hayam Wuruk yang terkenal itu. Sedangkan Raden Kudha Merta, menjadi penguasa daerah Wengker, yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo.

Ki Ageng Kutu adalah keturunan dari Raden Kudha Merta dan Shri Gitarja.
Melihat Majapahit, dibawah pemerintahan Prabhu Brawijaya bagaikan harimau yang kehilangan taringnya, Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang dengan Majapahit.
Prabhu Brawijaya atau Prabhu Kertabhumi menjawab tantangan Ki Ageng Kutu dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Raden Bathara Katong, putra selir beliau.

Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurid Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker. Pasukan yang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir.
Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas Negara, konon tidak mau pulang ke Majapahit. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan. Inilah sikap seorang Ksatria sejati.

Ada seorang ulama Islam yang tinggal di Wengker yang mengamati gejolak politik itu. Dia bernama Ki Ageng Mirah. Situasi yang tak menentu seperti itu, dimanfaatkan olehnya. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencari kebenaran berita itu. Dan usahanya menuai hasil. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.
Dia menawarkan diri bisa memberikan solusi untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Raden Bathara Katong tertarik. Namun diam-diam, Ki Ageng Mirah, menanamkan doktrin ke-Islam-an dibenak Raden Bathara Katong. Jika ini berhasil, setidaknya peng-Islam-an Wengker akan semakin mudah, karena Raden Bathara Katong mempunyai akses langsung dengan militer Majapahit. Jika-pun tidak berhasil membuat Raden Bathara Katong memeluk Islam, setidaknya, kelak dia tidak akan melupakan jasanya telah membantu memberitahukan titik kelemahan Wengker. Dan bila itu terjadi, Ki Ageng Mirah pasti akan menduduki kedudukan yang mempunyai akses luas menyebarkan Islam di Wengker.

Dan ternyata, Raden Bathara Katong tertarik dengan agama baru itu.
Selanjutnya, Ki Ageng Mirah mengatur rencana. Raden Bathara Katong harus pura-pura meminta suaka politik di Wengker. Raden Bathara Katong harus mengatakan untuk memohon perlindungan kepada Ki Ageng Kutu. Dia harus pura-pura membelot dari pihak Majapahit.

Ki Ageng Kutu pasti akan menerima pengabdian Raden Bathara Katong. Ki Ageng Kutu pasti akan senang melihat Raden Bathara Katong telah membelot dan kini berada di fihaknya. Manakala rencana itu sudah berhasil, Raden Bathara Katong harus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri. Mengingat status Raden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu pasti akan disambut gembira oleh Ki Ageng Kutu.

Dan bila semua rencana berjalan mulus, Raden Bathara Katong harus mampu menebarkan pengaruhnya kepada kerabat Wengker. Dia harus jeli dan teliti mengamati titik kelemahan Wengker. Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.

Bila semua sudah mulus berjalan, dan bila waktunya sudah tepat, maka Raden Bathara Katong harus sesegera mungkin mengirimkan utusan ke Majapahit untuk meminta pasukan tempur tambahan.

Bila semua berjalan lancar, Wengker pasti jatuh!
Raden Bathara Katong melaksanakan semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah. Dan atas kelihaian Raden Bathara Katong, semua berjalan lancar.

Ki Ageng Kutu, yang merasa masih mempunyai hubungan kekerabatan jauh dengan Raden Bathara Katong, dengan suka rela berkenan memberikan suaka politik kepadanya. Ditambah, ketika Raden Bathara Katong mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, Ki Ageng Kutu serta merta menyetujuinya.
Rencana bergulir. Umpan sudah dimakan. Tinggal menunggu waktu.

Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan Sura Handaka. (Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).

Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong, sedangkan Sura Handaka tidak.
Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.

Condhong Rawe hanya metafora. Condhong berarti Melintang (Vertikal ) dan Rawe berarti Tegak (Horisontal ). Arti sesungguhnya adalah, kekuatan yang tegak dan melintang dari seluruh pasukan Wengker, telah berhasil diketahui secara cermat oleh Raden Bathara Katong atas bantuan Ni Ken Gendhini. Struktur kekuatan militer ini sudah bisa dibaca dan diketahui semuanya.
Dan manakala waktu sudah dirasa tepat, dengan diam-diam, dikirimkannya utusan kepada Ki Ageng Mirah. Utusan ini menyuruh Ki Ageng Mirah, atas nama Raden Bathara Katong, memohon tambahan pasukan tempur ke Majapahit.

Mendapati kabar Raden Bathara Katong masih hidup, Prabhu Brawijaya segera memenuhi permintaan pengiriman pasukan baru.
Majapahit dan Wengker diadu! Majapahit dan Wengker tidak menyadari, ada pihak ketiga bermain disana! Ironis sekali.

Peperangan kembali pecah. Ki Ageng Kutu yang benar-benar merasa kecolongan, dengan marah mengamuk dimedan laga bagai bantheng ketaton, bagai banteng yang terluka. Demi Dharma, dia rela menumpahkan darahnya diatas bumi pertiwi. Walau harus lebur menjadi abu, Ki Ageng Kutu, beserta segenap pasukan Wengker, maju terus pantang mundur!

Namun bagaimanapun, seluruh struktur kekuatan Wengker telah diketahui oleh Raden Bathara Katong. Pasukan Wengker, yang terkenal dengan nama Pasukan Warok itu terdesak hebat! Namun, Ki Ageng Kutu beserta seluruh pasukannya telah siap untuk mati. Siap mati habis-habisan! Siap menumpahkan darahnya diatas hamparan pangkuan ibu pertiwi! Dengan gagh berani, pasukan ksatria ini terus merangsak maju, melawan pasukan Majapahit.

Banyak kepala pasukan Majapahit yang menangis melihat mereka harus bertempur dengan saudara sendiri. Banyak yang meneteskan air mata, melihat mayat-mayat prajurid Wengker bergelimpangan bermandikan darah. Dan pada akhirnya, Wengker berhasil dijebol. Wengker berhasil dihancurkan!

Darah menetes! Darah membasahi ibu pertiwi. Darah harum para ksatria sejati yang benar-benar tulus menegakkan Dharma! Alam telah mencatatnya! Alam telah merekamnya!
Kabar kemenangan itu sampai di Majapahit. Namun, Prabhu Brawijaya berkabung mendengar kegagahan pasukan Wengker. Mendengar kegagahan Ki Ageng Kutu. Seluruh Pejabat Majapahit berkabung. Sabdo Palon dan Naya Genggong berkabung. Kabar kemenangan itu membuat Majapahit bersedih, bukannya bersuka cita.

Para pejabat Majapahit menagis sedih melihat sesama saudara harus saling menumpahkan darah karena campur tangan pihak ketiga, karena disebabkan adanya pihak ketiga. Ki Ageng Kutu adalah seorang Ksatria yang gagah berani. Ki Ageng Kutu adalah salah satu sendi kekuatan militer Majapahit. Kini, Ki Ageng Kutu harus gugur ditangan pasukan Majapahit sendiri. Betapa tidak memilukan!

Kadipaten Wengker kini dikuasai oleh Raden Bathara Katong. Surat pengukuhan telah diterima dari pusat. Dan Wengker lantas dirubah namanya menjadi Kadipaten Ponorogo. Wengker yang Shiva Buddha, kini telah berhasil menjadi Kadipaten Islam.


RUNTUHNYA MAJAPAHIT

Kubu Abangan
Seorang ulama berdarah Majapahit, yang lahir di Kadipaten Tuban, yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa yaitu Sunan Kalijaga, mati-matian membendung gerakan militansi Islam. Beliau seringkali mengingatkan, bahwasanya membangun akhlaq lebih penting daripada mendirikan sebuah Negara Islam.

Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban, Arya Teja. Adipati Arya Teja adalah keturunan Senopati Agung Majapahit masa lampau, Adipati Arya Ranggalawe yang berhasil memimpin pasukan Majapahit mengalahkan pasukan Tiongkok Mongolia yang hendak menguasai Jawa ( Adipati Arya Ranggalawe adalah salah satu tangan kanan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. )
Adipati Arya Teja berhasil di Islamkan oleh Sunan Ampel. Bahkan kakak kandung beliau dinikahi Sunan Ampel. Dari pernikahan Sunan Ampel dengan kakak kandung Adipati Arya Teja, lahirlah Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Lamongan, dan lima putri yang lain (seperti yang telah saya tulis pada bagian pertama : Damar Shashangka).

Para pengikut Sunan Giri yang tidak sepaham dengan para pengikut Sunan Kalijaga, sering terlibat konflik-konflik terselubung. Di pihak Sunan Giri, banyak ulama yang bergabung, seperti Sunan Derajat, Sunan Lamongan, Sunan Majagung ( sekarang dikenal dengan Sunan Bejagung), Sunan Ngundung dan putranya Sunan Kudus, dll.

Dipihak Sunan Kalijaga, ada Sunan Murya (sekarang dikenal dengan nama Sunan Muria ), Syeh Jangkung, Syeh Siti Jenar, dll.

Khusus mengenai Syeh Siti Jenar atau juga disebut Sunan Kajenar, beliau adalah ulama murni yang menekuni spiritualitas. Beliau sangat-sangat tidak menyetujui gerakan kaum Putih yang merencanakan berdirinya Negara Islam Jawa.
Pertikaian ini mencapai puncaknya ketika Syeh Siti Jenar, menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Syeh Siti Jenar menyatakan terpisah dari Majelis Ulama Jawa itu. Beliau tidak mengakui lagi Sunan Ampel sebagai seorang Mufti.
Didaerah Cirebon, Syeh Siti Jenar banyak memiliki pengikut.

Manakala menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat dan kedudukan Mufti digantikan oleh Sunan Giri, keberadaan Syeh Siti Jenar dianggap sangat membahayakan Islam.

Semua dinamika ini, terus diamati oleh intelejen Majapahit. Gerakan-gerakan militansi Islam mulai merebak dipesisir utara Jawa. Mulai Gresik, Tuban, Demak, Cirebon dan Banten. Para pejabat daerah telah mengirimkan laporan kepada Prabhu Brawijaya. Tapi Prabhu Brawijaya tetap yakin, semua masih dibawah kontrol beliau.


Keturunan di Pengging

Pernikahan Dewi Anarawati dengan Prabhu Brawijaya semakin dikukuhkan dengan diangkatnya putri Champa ini sebagai permaisuri. Keputusan yang sangat luar biasa ini menuai protes. Kesuksesan besar bagi Dewi Anarawati membuat para pejabat Majapahit resah. Bisa dilihat jelas disini, bila kelak Prabhu Brawijaya wafat, maka yang akan menggantikannya sudah pasti putra dari seorang permaisuri. Dan sang permaisuri beragama Islam. Dapat dipastikan, Majapahit akan berubah menjadi Negara Islam.
Dari luar Istana, Sunan Giri menyusun strategi memperkuat barisan militansi Islam. Dari dalam Istana, Dewi Anarawati mempersiapkan rencana yang brilian. Jika Sunan Giri gagal merebut Majapahit dengan cara pemberontakan, dari dalam istana, Majapahit sudah pasti bisa dikuasai oleh Dewi Anarawati. Bila rencana pertama gagal, rencana kedua masih bisa berjalan.

Tapi ternyata, apa yang diharapkan Dewi Anarawati menuai hambatan. Dari hasil perkawinannya dengan Prabhu Brawijaya, lahirlah tiga orang anak. Yang sulung seorang putri, dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa Kadipaten Pengging ( sekitar daerah Solo, Jawa Tengah sekarang ), putra kedua bernama Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura, dan yang ketiga Raden Gugur, masih kecil dan tinggal di Istana. (Kelak, Raden Gugur inilah yang terkenal dengan julukan Sunan Lawu, dipercaya sebagai penguasa mistik Gunung Lawu, yang terletak didaerah Magetan, hingga sekarang : Damar Shashangka).

Hambatan yang dituai Dewi Anarawati adalah, putri sulungnya tidak tertarik memeluk Islam, begitu juga dengan Raden Gugur. Hanya Raden Lembu Peteng yang mau memeluk Islam.
Dari pernikahan putri sulung Dewi Anarawati dengan Adipati Handayaningrat IV, lahirlah dua orang putra, Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Keduanya juga tidak tertarik memeluk Islam. Si sulung bahkan pergi meninggalkan kemewahan Kadipaten dan menjadi seorang pertapa di Gunung Merapi ( didaerah Jogjakarta sekarang ). Sampai sekarang, petilasan bekas pertapaan beliau masih ada dan berubah menjadi sebuah makam yang seringkali diziarahi.

Otomatis, yang kelak menggantikan Adipati Handayaningrat IV sebagai Adipati Pengging, bahkan juga jika Prabhu Brawijaya mangkat, tak lain adalah adik Kebo Kanigara, yaitu Kebo Kenanga. Kelak, dia akan mendapat limpahan tahta Pengging maupun Majapahit! Inilah pewaris sah tahta Majapahit.
Kebo Kenanga lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging sangat akrab dengan Syeh Siti Jenar. Keduanya, yang satu beragama Shiva Buddha dan yang satu beragama Islam, sama-sama tertarik mendalami spiritual murni. Mereka berdua seringkali berdiskusi tentang ‘Kebenaran Sejati’. Dan hasilnya, tidak ada perbedaan diantara Shiva Buddha dan Islam.

Namun kedekatan mereka ini disalah artikan oleh ulama-ulama radikal yang masih melihat kulit, masih melihat perbedaan. Syeh Siti Jenar dituduh mendekati Ki Ageng Pengging untuk mencari dukungan kekuatan. Dan konyolnya, Ki Ageng Pengging dikatakan sebagai murid Syeh Siti Jenar yang hendak melakukan pemberontakan ke Demak Bintara. Padahal Ki Ageng Pengging tidak tertarik dengan tahta. Walaupun sesungguhnya, memang benar bahwa beliau lah yang lebih berhak menjadi Raja Majapahit kelak ketika Majapahit berhasil dihancurkan oleh Raden Patah Dan juga, Ki Ageng Pengging bukanlah seorang muslim. Beliau dengan Syeh Siti Jenar hanyalah seorang ‘sahabat spiritual’. Hubungan seperti ini, tidak akan bisa dimengerti oleh mereka yang berpandangan dangkal. Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar adalah seorang spiritualis sejati. Kelak, setalah Majapahit berhasil dihancurkan para militant Islam, dua orang sahabat ini menjadi target utama untuk dimusnahkan. Baik Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging gugur karena korban kepicikan.

Dan, nama Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar dibuat hitam. Sampai sekarang, nama keduanya masih terus dihakimi sebagai dua orang yang sesat dikalangan Islam. Namun bagaimanapun juga, keharuman nama keduanya tetap terjaga dikisi-kisi hati tersembunyi masyarakat Jawa, walaupun tidak ada yang berani menyatakan kekagumannya secara terang-terangan. Ironis.
Dari Ki Ageng Pengging inilah, lahir seorang tokoh terkenal di Jawa. Yaitu Mas Karebat atau Jaka Tngkir. Dan kelak menjadi Sultan Pajang setelah Demak hancur dengan gelar Sultan Adiwijaya.


Keturunan di Tarub

Dikisahkan secara vulgar, suatu ketika Prabhu Brawijaya terserang penyakit Rajasinga atau syphilis. Para Tabib Istana sudah bekerja keras berusaha menyembuhkan beliau, tapi penyakit beliau tetap membandel.

Atas inisiatif beliau sendiri, setiap malam beliau tidur diarel Pura Keraton. Memohon kepada Mahadewa agar diberi kesembuhan. Dan konon, setelah beberapa malam beliau memohon, suatu malam, beliau mendapat petunjuk sangat jelas.
Dalam keheningan meditasinya, lamat-lamat beliau ‘mendengar’ suara.
“Jika engkau ingin sembuh, nikahilah seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Dan, inilah kali terakhir engkau boleh menikah lagi.”
Mendapat ‘wisik’ yang sangat jelas seperti itu, Prabhu Brawijaya termangu-mangu. Dan beliau teringat, di Istana ada beberapa pelayan Istana yang berasal dari daerah Wandhan (Bandha Niera, didaerah Sulawesi ).

Keesokan harinya, beliau memanggil para pelayan istana dari daerah Wandhan. Beliau memilih yang paling cantik. Ada seorang pelayan dari Wandhan, bernama Dewi Bondrit Cemara, sangat cantik. Diambillah dia sebagai istri selir. Dikemudian hari, Dewi Bondrit Cemara dikenal dengan nama Dewi Wandhan Kuning.

Begitu menikahi Dewi Wandhan Kuning, dan setelah melakukan senggama beberapa kali, penyakit Sang Prabhu berangsur-angsur sembuh.
Namun Sang Prabhu merasa perkawinannya dengan Dewi Wandhan Kuning harus dirahasiakan. Karena apabila kabar ini terdengar sampai ke daerah Wandhan, pasti para bangsawan Sulawesi merasa terhina oleh sebab Sang Prabhu bukannya mengambil salah seorang putri bangsawan Wandhan, tapi malah mengambil seorang pelayan.

Dewi Wandhan Kuning mengandung, hingga akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki, putra ini lantas dititipkan kepada Kepala Urusan Sawah Istana, Ki Juru Tani. ( Waktu itu, Istana memiliki areal pesawahan khusus yang hasilnya untuk dikonsumsi oleh seluruh kerabat Istana. )
Anak ini diberi nama Raden Bondhan Kejawen (Bondhan perubahan dari kata Wandhan. Kejawen berarti yang telah berdarah Jawa).
Raden Bondhan Kejawen dibesarkan oleh Ki Juru Tani. Dan manakala sudah berangsur dewasa, atas perintah Sang Prabhu, Raden Bondhan Kejawen dikirimkan kepada Ki Ageng Tarub, seorang Pandhita Shiva yang memiliki Ashrama di daerah Tarub ( sekitar Purwodadi, Jawa Tengah sekarang. )

Jika anda pernah mendengar legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan, maka inilah dia. Jaka Tarub yang konon mencuri selendang bidadari Dewi Nawangwulan dan lantas ditinggal oleh sang bidadari setelah sekian lama menjadi istri beliau karena ketahuan bahwa yang menyembunyikan selendang itu adalah Jaka Tarub sendiri. ( Saya tidak akan membedah simbolisasi legenda ini disini, karena tidak sesuai dengan topic yang saya bahas : Damar Shashangka ).

Jaka Tarub inilah yang lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Tarub. Menginjak dewasa, Raden Bondhan Kejawen dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, putri tunggal Ki Ageng Tarub. Dan kelak Raden Bondhan Kejawen bergelar Ki Ageng Tarub II.

Dari hasil perkawinan Raden Bondhan Kejawen dengan Dewi Nawangsih, lahirlah Raden Getas Pandhawa. Dari Raden Getas Pandhawa, lahirlah Ki Ageng Sela yang hidup sejaman dengan Sultan Trenggana, Sultan Demak ketiga. Ki Ageng Sela inilah tokoh yang konon bisa memegang petir sehingga menggegerkan seluruh Kesultanan Demak (simbolisasi lagi, kapan-kapan saya ulas : Damar Shashangka ).

Sampai sekarang nama Ki Ageng Sela terkenal di tengah masyarakat Jawa. Ki Ageng Sela inilah keturunan Tarub yang mulai beralih memeluk Islam. Beliau berguru kepada Sunan Kalijaga. Perpindahan agama ini berjalan dengan damai. Nama Islam beliau adalah Ki Ageng Abdul Rahman.

Dari Ki Ageng Sela, lahirlah Ki Ageng Mangenis Sela. Dari Ki Ageng Mangenis Sela, lahirlah Ki Ageng Pamanahan. Dan dari Ki Ageng Pamanahan lahirlah Panembahan Senopati Ing Ngalaga, tokoh terkenal pendiri dinasti Mataram Islam dikemudian hari. [ Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mataram inilah leluhur Para Sultan Kasultanan Jogjakarta, Para Sunan Kasunanan Surakarta (Solo), Pakualaman dan Mangkunegaran sekarang].

Peng-Islam-an keturunan Raden Bondhan Kejawen, berlangsung dengan damai.

Raden Patah.

Ingat putri China Tan Eng Kian yang dinikahi Adipati Arya Damar di Palembang?
Dari hasil pernikahan dengan Prabhu Brawijaya, Tan Eng Kian memiliki seorang putra bernama Tan Eng Hwat. Dikenal juga dengan nama muslim Raden Hassan. Dari perkawinan Tan Eng Kian dengan Arya Damar sendiri, lahirlah seorang putra bernama Kin Shan, dikenal dengan nama muslim Raden Hussein.

Sejak kecil, Raden Hassan dan Raden Hussein dididik secara Islam oleh ayahnya Arya Damar. Menjelang dewasa, Raden Hassan memohon ijin kepada ibunya untuk pergi ke Jawa. Dia berkeinginan untuk bertemu dengan ayah kandungnya, Prabhu Brawijaya.

Tan Eng Kian tidak bisa menghalangi keinginan putranya. Dari Palembang, Raden Hassan bertolak ke Jawa. Sampailah ia di pelabuhan Gresik yang ramai. Melihat keadaan Gresik yang hiruk-pikuk, Raden Hassan kagum. Dia bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuasaan Majapahit. Menilik di Gresik banyak orang muslim, Raden Hassan tertarik.

Dan dengar-dengar, ada Pesantren besar disana. Pesantren Giri. Raden Hassan memutuskan untuk bertandang ke Giri. Bertemulah dia dengan Sunan Giri. Sunan Giri senang melihat kedatangan Raden Hassan setelah mengetahui dia adalah putra Prabhu Brawijaya yang lahir di Palembang. Sunan Giri seketika melihat sebuah peluang besar.
Di Giri, Raden Hassan memperdalam ke-Islaman-nya. Disana, Raden Hassan mulai tertarik dengan ide-ide ke-Khalifah-an Islam. Dan militansi Raden Hassan mulaiterbentuk.Ada kesepakatan pemahaman antara Raden Hassan dengan Sunan Giri.

Dari Sunan Giri, Raden Hassan memperoleh ide untuk meminta daerah otonomi khusus kepada ayahnya, Prabhu Brawijaya. Bila disetujui, hendaknya Raden Patah memilih daerah di pesisir Jawa bagian tengah. Jika itu terwujud, keberadaan daerah otonomi didaerah pesisir utara Jawa bagian tengah, akan menjadi penghubung pergerakan militant Islam dari Jawa Timur dan Jawa Barat di Cirebon.

Cirebon, kini tumbuh pesat sebagai pusat kegiatan Islam dibawah pimpinan Pangeran Cakrabhuwana, putra kandung Prabhu Siliwangi, Raja Pajajaran. (Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah belum datang dari Mesir ke Cirebon. Dia datang pada tahun 1475 Masehi. Pada bagian selanjutnya akan saya ceritakan : Damar Shashangka).

Setelah dirasa cukup, Raden Hassan melanjutkan perjalanan ke Pesantren Ampel dengan diiringi beberapa santri Sunan Giri. Disana dia disambut suka cita oleh Sunan Ampel. Disana, dia diberi nama baru oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Abdul Fattah yang lantas dikenal masyarakat Jawa dengan nama Raden Patah.

Selesai bertandang di Ampel, Raden Hassan yang kini dikenal dengan nama Raden Patah melanjutkan perjalanan ke ibu kota Negara Majapahit. Dia yang semula hanya berniat untuk bertemu dengan ayahnya, sekarang dia telah membawa misi tertentu.

Betapa suka cita Prabhu Brawijaya mendapati putra kandungnya telah tumbuh dewasa. Dan manakala, Raden Patah memohon anugerah untuk diberikan daerah otonom, Prabhu Brawijaya mengabulkannya. Raden Patah meminta daerah pesisir utara Jawa bagian tengah. Dia memilih daerah yang dikenal dengan nama Glagah Wangi.

Prabhu Brawijaya menyetujui permintaan Raden Patah. Dia mendanai segala keperluan untuk membangun daerah baru. Raden Patah, dengan disokong tenaga dan dana dari Majapahit, berangkat ke Jawa Tengah. Di daerah pesisir utara, didaerah yang dipenuhi tumbuhan pohon Glagah, dia membentuk pusat pemerintahan Kadipaten baru. Begitu pusat Kadipaten dibentuk, dinamailah tempat itu Demak Bintara. Dan Raden Patah, dikukuhkan oleh Sang Prabhu Brawijaya sebagai penguasa wilayah otonom Islam baru disana.

Demak Bintara berkembang pesat. Selain menjadi pusat kegiatan politik, Demak Bintara juga menjadi pusat kegiatan keagamaan. Demak Bintara menjadi jembatan penghubung antara barat dan timur pesisir utara Jawa.

Dipesisir utara Jawa, gerakan-gerakan militant Islam mulai menguat. Sayang, fenomena itu tetap dipandang sepele oleh Prabhu Brawijaya. Beliau tetap yakin, dominasi Majapahit masih mampu mengontrol semuanya. Padahal para pejabat daerah yang dekat dengan pesisir utara sudah melaporkan adanya kegiatan-kegiatan yang mencurigakan. Pasukan Telik Sandhibaya telah memberikan laporan serius tentang adanya kegiatan yang patut dicurigai akan mengancam kedaulatan Majapahit.

Tak lama berselang, Raden Hussein, putra Tan Eng Kian dengan Arya Damar, menyusul ke Majapahit. Dia mengabdikan diri sebagai tentara di Majapahit. Raden Hussein tidak terpengaruh ide-ide pendirian ke-Khalifah-an Islam. Dia diangkat sebagai Adipati didaerah Terung ( Sidoarjo, sekarang ) dengan gelar, Adipati Pecattandha.
Kebaikan Prabhu Brawijaya sangat besar sebenarnya. Tapi kebaikan yang tidak disertai kebijaksanaan bukanlah kebaikan. Dan hal ini pasti akan menuai masalah dikemudian hari. Bibit-bibit itu mulai muncul, tinggal menunggu waktu untuk pecah kepermukaan.
Dan Prabhu Brawijaya tidak akan pernah menyangkanya.

RUNTUHNYA MAJAPAHIT

Mendekati detik-detik pemberontakan
Demak Bintara berkembang pesat. Tempat ini dirasa strategis untuk pengembangan militansi Islam karena letaknya agak jauh dari pusat kekuasaan. Di Demak Bintara, para ulama-ulama Putihan sering mengadakan pertemuan. Jadilah Demak Bintara dikenal sebagai Kota Seribu Wali.
Ditambah pada tahun 1475 Masehi, seorang ulama berdarah Mesir-Sunda datang dari Mesir. Dia adalah Syarif Hidayatullah. Dia datang bersama ibunya Syarifah Muda’im. Syarifah Muda’im adalah putri Pajajaran. Putri dari Prabhu Silihwangi penguasa Kerajaan Pejajaran. (Hanya Kerajaan ini yang tidak masuk wilayah Majapahit. Walau kecil, Pajajaran terkenal kuat. Anda bisa membayangkan adanya Timor Leste sekarang. Seperti itulah keadaan Majapahit dan Pajajaran. : Damar Shashangka ).

Nama asli Syarifah Muda’im adalah Dewi Rara Santang. Dia bersama kakaknya Pangeran Walangsungsang, tertarik mempelajari Islam. Ketika berada di Makkah, Dewi Rara Santang dipinang oleh bangsawan Mesir, Syarif Abdullah. Menikahlah Dewi Rara Santang dengan bangsawan ini. Dan namanya berganti Syarifah Muda’im. Dari pernikahan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah.

Pangeran Walang Sungsang, mendirikan daerah hunian baru di pesisir utara Jawa barat. Dikenal kemudian dengan nama Tegal Alang-Alang. Lantas berubah menjadi Caruban. Berubah lagi menjadi Caruban Larang. Pada akhirnya, dikenal dengan nama Cirebon sampai sekarang.

Pangeran Walang Sungsang, dikenal kemudian dengan nama Pangeran Cakrabhuwana. Oleh ayahandanya, Prabhu Silihwangi diberikan gelar kehormatan Shri Manggana.
Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana lantas dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Sunan Giri terpilih sebagai penggantinya. Pusat Majelis Ulama Jawa kini berpindah ke Giri Kedhaton. Dan, pada waktu inilah tragedi Syeh Siti Jenar terjadi. Syeh Siti Jenar dipanggil ke Giri Kedhaton dan disidang oleh Dewan Wali Sangha dibawah pimpinan Sunan Giri. Walau tidak mengakui keberadaan Majelis Ulama Jawa, beliau tetap hadir. Beliau dituduh telah menyebarkan aliran sesat. Adapula yang menuduh sebagai antek-antek Syi’ah. Ada juga yang mengatakan beliau ahli sihir, dan lain sebagainya. (Akan saya buat catatan tersendiri tentang beliau : Damar Shashangka).
Pada sidang pertama para ulama yang tergabung dalam Dewan Wali Sangha tidak bisa menemukan kesalahan Syeh Siti Jenar. Sehingga, beliau lantas dibebaskan dari segala tuduhan. Namun bagaimanapun juga, Syeh Siti Jenar adalah duri didalam daging bagi mereka. Maka sejak saat itu, kesalahan-kesalahan beliau senantiasa dicari-cari.
Konsentrasi Dewan Wali Sangha terpecah pada rencana perebutan kekuasaan. Melalui serangkaian musyawarah yang pelik, maka disimpulkan, kekuatan militansi Islam sudah cukup siap untuk mengadakan perebutan kekuasaan. Raden Patah, Adipati Demak Bintara, terpilih secara mutlak sebagai pemimpin gerakan.
Kubu Abangan, tidak menghadiri musyawarah ini. Apalagi semenjak Dewan Wali Sangha atau Majelis Ulama Jawa dipegang Sunan Giri, hubungan kubu Putihan dan kubu Abangan kian meruncing.

Sunan Kalijaga dan para pengikutnya hanya mau membantu Dewan Wali Sangha merampungkan pembangunan Masjid Demak. Selebihnya, mereka tidak ikut campur.

Persiapan sudah matang. Tinggal memilih hari yang ditentukan. Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit mengendus rencana ini. Prabhu Brawijaya mendapat laporan para pasukan Intelejen yang ada disekitar Demak Bintara. Sayangnya, beliau tidak begitu mempercayainya. Beliau berkeyakinan, tidak mungkin Raden Patah, putra kandungnya sendiri akan nekad berbuat seperti itu. Prabhu Brawijaya tidak memahami betapa militant-nya orang yang sudah terdoktrin!

Dan manakala pergerakan pasukan besar-besaran terdengar, yaitu pasukan orang-orang Islam Putihan, gabungan dari seluruh lasykar yang ada di wilayah pesisir utara Jawa timur sampai Jawa barat mulai bergerak. Keadaan menjadi gempar! Para Pejabat daerah kalang kabut. Mereka tidak menyangka orang-orang Islam sedemikian banyaknya.

Setiap daerah yang dilalui pasukan ini, tidak ada yang bisa membendung. Kekuatan mereka cukup besar. Persiapan mereka cukup tertata. Sedangkan daerah-daerah yang dilalui, tidak mempunyai persiapan sama sekali. Daerah perdaerah yang dilewati, harus melawan sendiri-sendiri. Tidak ada penyatuan pasukan dari daerah satu dengan daerah lain. Semua serba mendadak. Dan tak ada pilihan lain kecuali melawan atau mundur teratur.

Gerakan pasukan ini cukup kuat. Para Adipati yang berhasil mundur segera melarikan diri ke ibu kota Negara. Mereka melaporkan agresi mendadak pasukan pesisir yang terdiri dari orang-orang Islam itu.

Dan dari mereka, Prabhu Brawijaya mendapat laporan yang mencengangkan, yaitu telah terjadi pergerakan pasukan dari Demak Bintara. Pasukan berpakaian putih-putih. Berbendera tulisan asing! Berteriak-teriak dengan bahasa yang tidak dimengerti! Pasukan ini dapat dipastikan adalah pasukan orang-orang Islam. Dan kini, tengah bergerak menuju ibu kota Negara Majapahit.
Percaya tidak percaya Prabhu Brawijaya mendengarnya. Laporan pasukan Telik Sandhibaya selama ini telah menjadi kenyataan.. Namun, Prabhu Brawijaya tetap tidak bisa mengerti, mana mungkin Raden Patah berbuat seperti itu. Mana mungkin orang-orang Islam berani dan tega mengadalan pemberontakan. Selama ini, Majapahit telah memberikan bantuan material yang tidak sedikit bagi mereka. Sesak! Dada Prabhu Brawijaya seketika serasa sesak bagai dihantam palu! Bergemuruh mendidih! Beliau menyebut Nama Mahadeva berkali-kali.
Seluruh pembesar Majapahit tegang. Mereka menantikan komando Sang Prabhu. Waktu berjalan cepat. Sang Prabhu masih belum mengeluarkan titah apapun. Pergerakan pasukan sudah memasuki Madiun, sebentar lagi mencapai wilayah Kadhiri, sudah teramat dekat dengan ibu kota Negara. Pertempuran-pertempuran penghadangan telah terjadi secara otomatis. Dan semua telah masuk menjadi laporan bagi Sang Prabhu.

Bahkan ada laporan yang menyatakan, beberapa daerah yang terpengaruh Islam, malah ikut bergabung dengan pasukan ini.

Adipati Kertosono ( wilayah Kediri sekarang ) mengirinkan utusan khusus kepada Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah perang!
Sang Prabhu masih termangu-mangu. Dan manakala terdengar Adipati Kertosono melakukan perlawanan mati-matian tanpa menunggu komando beliau, barulah Sang Prabhu tersadar! Segera beliau memerintahkan seluruh pasukan Majapahit untuk mempersiapkan sebuah perang besar!

Para Panglima yang telah menanti-nantikan perintah ini menyambut dengan suka cita! Inilah yang mereka nanti-nantikan! Tanpa menunggu waktu lama, seluruh kekuatan Majapahit segera dipersiapkan.

Pasukan Majapahit telah siap sedia menyambut kedatangan pasukan Demak Bintara. Dan sekali lagi, mereka tinggal menunggu perintah untuk MENYERANG!

Dan komando terakhir inipun tidak segera keluar. Pasukan Majapahit resah. Para Panglima cemas. Para kepala pasukan tempur digaris depan terus mendesak kepada Para Panglima masing-masing agar segera mengeluarkan perintah penyerangan!
Para Panglima juga mendesak Sang Senopati Agung, meminta kepada Prabhu Brawijaya untuk segera memberikan komando terakhir. Perlu dicatat, salah satu panglima yang memperkuat barisan Majapahit adalah Adipati Terung, adik tiri Raden Patah.

Dalam hatinya bertanya-tanya, ada apakah dengan kakak tirinya sehingga mengadakan gerakan makar sedemikian rupa? Selama ini, dia tidak melihat ada yang salah dengan pemerintahan Prabhu Brawijaya. Tidak ada diskriminasi dalam hal keagamaan. Dirinya yang muslim-pun, bisa bebas menjalankan ibadah agamanya. Bahkan, bisa dipercaya menjabat sebagai seorang Adipati, yang notabene bukan jabatan main-main.
Adipati Terung tidak bisa memahami pola pikir kakak tirinya.

Dan perintah penyerangan tidak juga segera turun. Seluruh pasukan yang sudah bersiap sedia dibarak masing-masing, dilanda ketegangan yang luar biasa!

Di Istana, Para Mantri resah. Melihat situasi ini, Sabdo Palon dan Naya Genggong meminta Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah. Namun apa jawaban Sang Prabhu? Beliau masih tidak yakin pasukan Demak akan tega menyerang ibu kota Negara Majapahit. Sabdo Palon dan Naga Genggong menandaskan, cara berfikir Raden Patah dan para pasukan ini sudah lain. Sang Prabhu tidak akan bisa memahaminya. Jalan satu-satunya sekarang adalah, menghadapi mereka secara frontal. Pada saat ini, tidak ada cara lain.
Dan manakala kabar terdengar pasukan Demak telah merangsak maju dan memasuki pinggiran ibu kota Majapahit, dan disana mereka mengadakan perusakan hebat. Dengan sangat terpaksa, Sang Prabhu mengeluarkan perintah penyerangan! Tapi, perintah itu sebenarnya telah terlambat!

Begitu keluar perintah penyerangan, ada hal yang tidak terduga, pasukan Ponorogo dan beberapa daerah yang lain membelot! Diketahui kemudian ternyata mereka adalah pasukan dari daerah-daerah yang sudah muslim.

Dan, peperangan pecah sudah!
Peperangan yang besar. Darah tertumpah lagi! Senopati Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung. Dan dipihak Majapahit, Senopati dipegang oleh Arya Lembu Pangarsa. Prajurid Majapahit mengamuk dimedan laga. Para prajurid yang sudah berpengalaman tempur ini dan disegani diseluruh Nusantara, sekarang tidak main-main lagi! Adipati Sengguruh, Raden Bondhan Kejawen yang masih belia, Adipati Terung, Adipati Singosari dan yang lain ikut mengamuk dimedan laga!

Sayang, banyak kesatuan-kesatuan Majapahit yang berasal dari daerah muslim, membelot. Namun, pada hari pertama, pasukan Demak Bintara terpukul mundur!

Pada hari kedua, pasukan Demak terpukul lebih telak. Senopati Demak, Sunan Ngundung tewas! (Makamnya masih ada di Trowulan, Mojokerto sampai sekarang.) Pasukan Demak mengundurkan diri. Pasukan cadangan masuk dipimpin oleh putra Sunan Ngundung, Sunan Kudus. Pertempuran kembali pecah!
Namun bagaimanapun juga, pasukan Demak harus mengakui kekuatan pasukan Majapahit. Mereka terpukul mundur keluar dari ibu kota Negara. Kehebatan pasukan Majapahit yang terkenal itu, ternyata terbukti!

Pasukan Demak bertahan. Beberapa minggu kemudian, datang pasukan dari Palembang bergabung dengan pasukan Majapahit. Pasukan Majapahit seolah mendapat suntikan darah segar. Namun ternyata, bergabungnya pasukan Palembang ini hanyalah bagian dari siasat dari orang-orang Demak.

Pasukan Palembang, diam-diam memusnahkan seluruh persediaan bahan makanan tentara Majapahit. Lumbung-lumbung besar dibakar! Semua persediaan bahan pangan ludes! ( Inilah simbolisasi dari didatangkannya peti ajaib milik Adipati Arya Damar dari Palembang yang apabila dibuka, mampu mengeluarkan beribu-ribu tikus dan memakan seluruh beras dan bahan pangan tentara Majapahit. : Damar Shashangka).
Majapahit kebobolan luar dalam. Majapahit benar-benar tidak pernah menyangka akan hal itu. Begitu persediaan bahan pangan menipis, dari hari kehari, pelan namun pasti, pasukan Majapahit terpukul mundur!

Mendengar pasukan Majapahit terdesak, Kepala Pasukan Bhayangkara, yaitu Pasukan Khusus Pengawal Raja, segera mengamankan Prabhu Brawijaya. Keadaan sudah sedemikian genting dan Sang Prabhu, mau tidak mau, harus segera meloloskan diri. Ini harus dilakukan secepatnya, karena untuk menyatukan kembali kekuatan tentara Majapahit kelak, sosok Prabhu Brawijaya, masih dibutuhkan!

Dengan dikawal Pasukan Bhayangkara, Prabhu Brawijaya segera keluar dari Istana. Pasukan Bhayangkara memutuskan agar Sang Prabhu menyelamatkan diri ke Pulau Bali. Pulau yang kondusif untuk saat ini.

Ditengah kekacauan itu, Dewi Anarawati, diam-diam dibawa oleh pasukan Islam ke Gresik. Putra bungsu Dewi Anarawati, Raden Gugur yang masih kecil, diselamatkan oleh pasukan Ponorogo dan dibawa ke Kadipaten Ponorogo.

Dan pada akhirnya, Majapahit bisa dijebol. Seluruh Istana dirusak dan dibakar!. Perusakan terjadi dimana-mana. (Maka jangan heran, sampai sekarang bekas Istana Majapahit yang terkenal di Nusantara itu, musnah tak berbekas. : Damar Shashangka).

Dan pada akhirnya, terjadilah tragedi kemanusiaan yang sampai sekarang ‘ditutupi’. Perang yang semula melibatkan dua kekuatan militer Majapahit dan Demak, kini merembet menjadi perang sipil. Mereka yang merasa diatas angin, kini menjadi sosok malaikat maut. Pertumpahan darah terjadi. Masyarakat Majapahit yang masih memegang keyakinan lama, berhadapan secara frontal dengan mereka yang telah berpindah keyakinan.

Dimana-mana, situasi anarkhis terjadi. Dimana-mana dua kubu ini bentrok. Dimana-mana kekacauan merajalela. Jawa dalam situasi chaos! Ibu pertiwi menangis. Ibu pertiwi terluka. Putra-putranya kini tengah saling menumpahkan darah hanya karena disalah satu pihak tengah dilanda ‘ketidak sadaran’.

Akibat tragedi yang mencerabut segala sendi-sendi masyarakat Majapahit ini, bangunan-bangunan indah dari Kerajaan Agung Majapahit, musnah tak berbekas! Majapahit yang terkenal sebagai Macan Asia, ludes dibabat habis. Di Jawa Timur, Majapahit seolah-olah hanya sebuah mitos belaka, karena banyak peninggalan dari jaman keemasan Nusantara ini, hancur karena kepicikan.

Hanya sedikit yang tersisa. Dan yang sedikit itulah yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang.
Eksodus besar-besaran terjadi. Para Agamawan, Para Bangsawan dan rakyat yang tetap memegang teguh keyakinannya, menyingkir ketempat-tempat yang dirasa aman. Kebanyakan menyeberang ke Bali, Kalimantan dan Lombok.

Ada seorang putri selir Prabhu Brawijaya yang melarikan diri bersama sisa-sisa prajurid Majapahit dan beberapa penduduk. Dia bernama Dewi Rara Anteng. Bersama suaminya Raden Jaka Seger, dia menyingkir ke pegunungan Bromo. Sampai sekarang keturunan mereka masih ada disana, dikenal dengan nama suku Tengger. Diambil dari nama Dewi Rara An-TENG dan Raden Jaka Se-GER. Diwilayah pegunungan Bromo, pasukan Demak memang tidak bisa menjangkau. Medannya cukup sulit dan terisolir. (Suku Tengger baru membuka diri pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno. Ketika disensus dan ditanyakan apa agama mereka, mereka menyatakan beragama Budo. Padahal ritual yang mereka jalankan lebih dekat ke agama Hindhu dari pada agama Buddha. Para petugas sensus tidak tahu, istilah Hindhu memang tidak dikenal pada jaman Majapahit. Yang terkenal adalah agomo Siwo Budo atau hanya disebut wong Budo saja. : Damar Shashangka).

Dengan dikawal oleh Pasukan Bhayangkara dan beberapa kesatuan pasukan yang tersisa, Prabhu Brawijaya menyingkir ke arah timur. Dan untuk sementara, beliau tinggal di Blambangan. Adipati Blambangan, memperkuat barisan pasukan ini. Dan tak hanya itu, para penduduk Blambangan-pun dengan suka rela ikut menggabungkan diri. Mereka benar-benar melindungi Prabhu Brawijaya ekstra ketat. Mereka siap tempur di Blambangan. Keadaan darurat diberlakukan.
Selama ada di Blambangan, Prabhu Brawijaya terus terusik batinnya. Raden Patah, yang biasa beliau banggil dengan nama Patah itu, ternyata telah tega melakukan ini semua. Kebaikan beliau selama ini dibalas dengan racun. Sabdo Palon dan Naya Genggong menabahkan hati Sang Prabhu. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak patut disesali lagi.

Kini, saatnya untuk menata kembali yang tersisa. Dan untuk tujuan itu, Prabhu Brawijaya harus menyeberang ke Pulau Bali.

RUNTUHNYA MAJAPAHIT

Sirna Ilang Kerthaning Bhumi

Atas perintah Raden Patah, Senopati Demak Bintara Sunan Kudus menemui Adipati Terung, adik kandung Raden Patah dengan membawa pasukan Demak Bintara. Adipati Terung di ultimatum agar menyerah, atau dihancurkan. Adipati Terung dalam dilema. Pada akhirnya, dia menyatakan ‘menyerah’ kepada Demak Bintara.

Beberapa minggu kemudian, Raden Patah datang dari Demak untuk melihat langsung kemenangan pasukannya. Raden Patah meminta semua laporan dari kepala pasukan Demak. Diketahui kemudian, Prabhu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Pasukan Bhayangkara Majapahit atau Pasukan Khusus Pengawal Raja, memang terkenal lihai melindungi junjungan mereka. Tak ada satupun kepala pasukan Demak yang mengetahui bagaimana Pasukan Bhayangkara bisa menerobos kepungan rapat Pasukan Islam dan kearah mana mereka membawa Sang Prabhu pergi.

Raden Patah segera menyebar pasukan mata-mata untuk melacak keberadaan Sang Prabhu. Dan Raden Patah sendiri segera melanjutkan perjalanan untuk bertandang ke Pesantren Ampel di Surabaya. Dia hendak mengabarkan kemenangan besar ini kepada janda Sunan Ampel.

Di Surabaya situasi anarkhis-pun merajalela. Nyi Ageng Ampel, begitu mendengar laporan Raden Patah, marah! Dengan tegas beliau menyatakan, apa yang dilakukan Raden Patah adalah sebuah kesalahan besar. Dia telah berani melanggar wasiat gurunya sendiri, Sunan Ampel, yang mewasiatkan sebelum beliau wafat, melarang orang-orang Islam merebut tahta Majapahit. Dan juga, Raden Patah telah berani melawan seorang Imam yang sah, seorang Umaro’ tidak seharusnya dilawan tanpa ada alasan yang jelas. Dan yang ketiga, Raden Patah telah berani durhaka kepada ayah kandungnya sendiri yang telah melimpahkan segala kebaikan bagi dirinya serta orang-orang Islam.

Nyi Ageng Ampel menangis. Raden Patah terketuk hati nuraninya, dia ikut mencucurkan air mata. Didepan Nyi Ageng Ampel, Raden Patah mencium kaki beliau, menangis, menyesali perbuatannya.
Dengan berurai air mata, Raden Patah meminta solusi kepada Nyi Ageng Ampel. Dan Nyi Ageng Ampel memerintahkan kepadanya untuk segera mencari keberadaan Prabhu Brawijaya. Dan apabila sudah diketemukan, seyogyanya, Prabhu Brawijaya dikukuhkan kembali sebagai seorang Raja.

Mendengar perintah itu, secara emosional Raden Patah berniat mencari ayahandanya sendiri bersama beberapa orang prajurid Demak. Tapi Nyi Ageng Ampel mencegahnya. Dalam situasi anarkhis seperti ini, tidak memungkinkan bagi dia untuk mencari beliau sendiri. Dikhawatirkan, akan terjadi kesalah pahaman. Dan sekarang, dimata Prabhu Brawijaya, dirinya dan seluruh umat Islam yang menyokong pergerakan pasukan Demak, tidak mungkin dipercaya lagi.

Jalan keluar yang terbaik adalah, meminta bantuan Sunan Kalijaga atau Syeh Siti Jenar untuk mewakili dirinya, mencari Prabhu Brawijaya dan apabila sudah bisa ditemukan, memohon kepada Prabhu Brawijaya agar kembali ke Majapahit. Sudah bukan rahasia lagi dikalangan Istana, dua ulama besar ini tidak terlibat dalam penyerangan Majapahit.

Karena Syeh Siti Jenar, baru saja disidang oleh Dewan Wali Sangha yang mengakibatkan hubungan beliau dengan Para Wali sekaligus dengan Raden Patah dalam situasi yang tidak mengenakkan, maka Raden Patah memutuskan untuk mengirim pasukan khusus menemui Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga, dimohon menghadap ke Pesantren Ampel atas permintaan Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah.

Beberapa hari kemudian, Sunan Kalijaga datang ke Surabaya. Beliau waktu itu berada di Demak Bintara, memfokuskan diri memimpin pembangunan Masjid Demak.

Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah, terlibat perundingan yang serius. Dan pada akhirnya, Sunan Kalijaga menyetujui untuk mengemban tugas mulia itu.

Beberapa hari kemudian, laporan dari pasukan mata-mata Demak Bintara diterima Raden Patah. Diketahui, ada konsentrasi besar pasukan Majapahit diwilayah Blambangan. Diketahui pula, Prabhu Brawijaya ada disana. Ada kabar terpetik, Prabhu Brawijaya hendak menyeberang ke pulau Bali.

Mendapati informasi yang dapat dipercaya seperti itu, Sunan Kalijaga, diiringi beberapa santrinya, segera berangkat ke Blambangan. Dia siap mengambil segala resiko yang bakal terjadi. Dengan memakai pakaian rakyat sipil yang tidak mencolok mata, demi untuk menghindari kesalah pahaman, dia berangkat. Disetiap daerah yang dilalui, Sunan Kalijaga beserta rombongan melihat pemandangan yang memilukan. Kekacauaan ada dimana-mana. Penduduk yang masih memegang keyakinan lama, bentrok dengan penduduk yang sudah mengganti keyakinannya.Korban berjatuhan. Nyawa melayang karena kepicikan.

Rombongan ini harus pandai-pandai memilih jalan. Kadangkala memutar kalau dirasa perlu. Mereka sengaja menghindari tempat keramaian. Mereka lebih memilih menerobos hutan belantara demi menjaga keamanan.

Dan, manakala mereka sudah tiba di Blambangan, Sunan Kalijaga, menunjukkan statusnya. Dengan mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata, dia memasuki kota Blambangan yang mencekam.

Para prajurid Majapahit terkejut melihat ada serombongan kecil orang-orang muslim memasuki kota Blambangan. Mereka mengibarkan bendera putih. Mereka bukan tentara. Mereka tidak bersenjata. Serta merta, kedatangan mereka dihadang oleh pasukan Majapahit. Dan mereka tidak diperkenankan memasuki kota. Prajurid Majapahit, siap tempur.
Namun, Sunan Kalijaga menunjukkan siapa dirinya. Dia meminta kepada kepala prajurid agar menyampaikan pesan kepada Prabhu Brawijaya, bahwasanya dia, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, datang sebagai duta dan memohon menghadap.

Ketegangan terjadi. Rombongan kecil ini diujung tanduk. Nyawa mereka terancam. Namun mereka yakin, prajurid Majapahit bisa membedakan, mana musuh dalam medan laga dan mana musuh dalam status duta. Mereka tidak akan berani mencelakai seorang duta.

Ketegangan sedikit mencair manakala ada pesan dari Sang Prabhu yang mengabulkan permohonan Sunan Kalijaga untuk menghadap kepada beliau. Prabhu Brawijaya tahu bagaimana menghormati seorang duta. Prabhu Brawijaya-pun tahu dari laporan para pasukan Sandhi (Intelejen) bahwa Sunan Kalijaga bersama para pengikutnya, tidak ikut melakukan penyerangan ke Majapahit.
Sunan Kalijaga beserta rombongan bisa bernafas lega. Mereka segera menghadap Prabhu Brawijaya dengan pengawalan yang sangat ketat sekali. Sembari memegang persenjataan lengkap dan siap digunakan, para prajurid Bhayangkara menyambut kedatangan Sunan Kalijaga. Mereka mengapitnya. Sunan Kalijaga diperkenankan masuk. Beberapa santrinya disuruh menunggu diluar.

Prabhu Brawijaya, didampingi para penasehat beliau yang terdiri dari para Pandhita Shiva dan Wiku Buddha, juga Sabdo Palon dan Naya Genggong, nampak telah menunggu kedatangan Sunan Kalijaga. Begitu ada dihadapan Sang Prabhu, Sunan Kalijaga menghaturkan hormat.
Prabhu Brawijaya menanyakan maksud kedatangan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa dia adalah duta Raden Patah sekaligus Nyi Ageng Ampel. Sunan Kalijaga menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. Bahkan dia menceritakan pula kondisi Majapahit. Prabhu Brawijaya meneteskan air mata mendengar banyak penduduk yang harus meregang nyawa karena kepicikan, mendengar Keraton megah kebanggaan Nusantara dibumi hanguskan, mendengar tempat-tempat suci hancur rata dengan tanah.

Seluruh yang hadir merasa sedih, marah, geram, semua bercampur aduk menjadi satu.

Dan manakala Sunan Kalijaga mengahturkan tujuan sebenarnya dia menjadi duta, yaitu agar Prabhu Brawijaya berkenan kembali memegang tampuk pemerintahan di Majapahit, seketika ssemua yang hadir memincingkan mata.Seolah mendengarkan kalimat yang tidak bisa dicerna.

Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau meminta nasehat. Beberapa penasehat mengusulkan agar hal itu tidak dilakukan, karena sama saja menerima suatu penghinaan. Dinasti Majapahit, bisa kembali berkuasa hanya karena kebaikan hati orang-orang Islam. Tidak hanya itu saja, wibawa Sang Prabhu akan jatuh dimata para pendukungnya. Tidak ada artinya tahta yang diperoleh dari belas kasihan musuh. Masyarakat Majapahit akan memandang rendah pemimpin mereka yang mau menerima tahta seperti itu. Selama ini, Raja-Raja Majapahit, tidak pernah melakukan itu. Bila wibawa Sang Prabhu telah jatuh, dengan sendirinya, para pengikut Sang Prabhu akan berani juga bermain-main dengan Sang Prabhu kelak. Hukum tidak akan dipatuhi. Para pembangkang akan muncul dimana-mana bak jamur tumbuh dimusim penghujan. Dan lagi, apakah Sang Prabhu tidak malu menerima tahta dari anaknya sendiri?
Sebaiknya Sang Prabhu tidak menerima tawaran itu.

Sang Prabhu menghela nafas.
Sunan Kalijaga mohon bicara. Apabila memang Sang Prabhu tidak mau menerima tahta Majapahit dari tangan Raden Patah, maka seyogyanya Sang Prabhu mempertimbangkan kembali jika hendak mendapatkannya dengan jalan merebut. Sebab, bila hal itu sampai terjadi, tidak bisa dibayangkan, tanah Jawa akan banjir darah. Dukungan kekuatan militer bagi Sang Prabhu akan datang dari segenap pelosok Nusantara, tidak bakalan tanggung-tanggung lagi. Jawa akan semakin membara bila seluruh Nusantara akan bangkit. Pembunuhan yang lebih besar dan mengerikan akan terjadi.

Sang Prabhu Brawijaya bagaikan disodori buah simalakama, dimakan mati tidak dimakan pun mati.

Sejenak, Sang Prabhu berunding dengan para penasehat beliau yang terdiri dari para ahli hukum dan agamawan. Sejurus kemudian, beliau menyatakan kepada Sunan Kalijaga hendak merundingkan hal ini dengan para penasehat lebih dalam lagi. Dan Sunan Kalijaga diperbolehkan menghadap esok hari lagi. Sunan Kalijaga dan seluruh rombongannya diberikan tempat bermalam, dengan pengawalan ketat.
Keesokan harinya, Sunan Kalijaga dipanggil menghadap. Prabhu Brawijaya memutuskan, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi, beliau tidak akan mengadakan gerakan perebutan tahta kembali. Lega Sunan Kalijaga mendengarnya.

Namun apa yang akan dilakukan Sang Prabhu agar seluruh putra-putra beliau mau merelakan tahta diduduki Raden Patah? Begitu Sunan Kalijaga meminta kejelasan langkah selanjutnya. Sang Prabhu mengatakan, beliau akan mengeluarkan maklumat kepada seluruh putra-putra beliau untuk bersikap sama seperti dirinya. Untuk berjiwa besar memberikan kesempatan bagi Raden Patah memegang tampuk kekuasaan. Terutama kepada keturunan beliau di Pengging, maklumat ini benar-benar harus dipatuhi. Semua sudah paham, yang berhak mewarisi tahta Majapahit sebenarnya adalah keturunan di Pengging.

Kini, Sang Prabhu yang mempertanyakan jaminan kebebasan beragama kepada Sunan Kalijaga, apakah Demak Bintara bisa memberikan wilayah-wilayah otonomi khusus bagi para penguasa daerah yang mayoritas masyarakatnya tidak beragama Islam? Bisakah Demak Bintara sebijak Majapahit dulu? Bukankah keyakinan yang dianut Raden Patah menganggap semua yang diluar keyakinan mereka adalah musuh?

Sunan Kalijaga terdiam. Dan setelah berfikir barang sejenak, Sunan Kalijaga betjanji akan ikut andil menentukan arah kebijakan pemerintahan Demak Bintara. Dan itu berarti, mulai saat ini, dia harus ikut terjun kedunia politik. Dunia yang dihindarinya selama ini ( Tahta Kadipaten Tuban yang diserahkan kepadanya, dia berikan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasa Wulan : Damar Shashangka).

Prabhu Brawijaya bernafas lega. Dia percaya pada sosok Raden Sahid atau Sunan Kalijaga ini.
Sunan Kalijaga menambahkan, Sang Prabhu seyogyanya kembali ke Trowulan. Tidak usah meneruskan menyeberang ke pulau Bali. Sebab dengan adanya Sang Prabhu di Trowulan, para putra dan masyarakat tahu kondisi beliau. Tahu bahwasanya beliau baik-baik saja. Sehingga seluruh pendukung beliau akan merasa tenang.
Kembali Sang Prabhu berunding dengan para penasehat sejenak Kemudian beliau memeberikan jawaban.

Ada beliau di Trowulan ataupun tidak, stabilitas negara sepeninggal beliau tergulingkan dari tahta, mau tidak mau, tetap akan terganggu. Karena para pendukung beliau pasti juga banyak yang belum bisa menerima pemberontakan Raden Patah ini. Namun, jika tidak ada komando khusus dari beliau, hal itu tidak akan menjadi sebuah kekacauan yang besar. Pembangkangan daerah per daerah pasti terjadi. Tapi, Sang Prabhu menjamin, tanpa komando beliau, penyatuan kekuatan Majapahit dari daerah per daerah tidak bakalan terjadi. Dan, beliau tidak perlu pulang ke Trowulan.

Sunan Kalijaga resah. Bila Sang Prabhu ke Bali, Sunan Kalijaga takut beliau akan berubah pikiran begitu melihat betapa militan-nya para pendukung beliau disana. Mau tidak mau, Prabhu Brawijaya harus bisa diusahakan pulang ke Trowulan. Sunan Kalijaga memutar otak.
Sunan Kalijaga tahu, hati Prabhu Brawijaya sangat lembut. Dan kini, Sunan Kalijaga akan berusaha mengetuk kelembutan hati beliau. Sunan Kalijaga memberikan gambaran betapa mengerikannya jika para pendukung beliau benar-benar siap melakukan gerakan besar. Tidak ada jaminan bagi Sang Prabhu sendiri bahwa beliau tidak akan berubah pikiran bila tetap meneruskan perjalanan ke Bali. Sunan Kalijaga memohon, Prabhu Brawijaya harus mengambil jarak dengan para pendukung beliau. Nasib rakyat kecil dalam hal ini dipertaruhkan. Mereka harus lebih diutamakan.

Sunan Kalijaga memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika Sang Prabhu tetap hendak ke Bali
Diam-diam, Prabhu Brawijaya berfikir. Diam-diam hati beliau terketuk. Kata-kata Sunan Kalijaga memang ada benarnya. Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau memutuskan pertemuan untuk sementara disudahi. Sunan Kalijaga diminta kembali ketempatnya untuk sementara waktu.
Dan, Prabhu Brawijaya ingin menyendiri. Ingin merenung tanpa mau diganggu oleh siapapun. Ketika malam menjelang, Sang Prabhu memanggil Sabdo Palon dan Naya Genggong. Bertiga bersama-sama membahas langkah selanjutnya.
Dan, ketika malam menjelang puncak, Sabdo Palon dan Naya Genggong berterus terang, Mereka berdua menunjukkan siapa sebenarnya jati dirinya. Diiringi semburat cahaya lembut, Sabdo Palon dan Naya Genggong ‘menampakkan wujudnya yang asli’ kepada Prabhu Brawijaya.
Prabhu Brawijaya terperanjat. Serta merta beliau menghaturkan hormat, bersembah. Kini, malam ini, untuk pertama kalinya, Sang Prabhu Brawijaya bersimpuh. ( Siapa mereka? Masih rahasia : Damar Shashangka).

Sabdo Palon dan Naya Genggong memberikan gambaran apa yang bakal terjadi kelak di Nusantara. Semenjak hari kehancuran Majapahit, ‘kesadaran’ masyarakat Nusantara akan jatuh ketitik yang paling rendah. ‘Kulit’ lebih diagung-agungkan dari pada ‘Isi’. ‘Kebenaran Yang Mutlak’ dianggap sebagai milik golongan tertentu. Dharma diputar balikkan. Sampah-sampah seperti ini akan terus tertumpuk sampai lima ratus tahun kedepan. Dan bila sudah saatnya, Alam akan memuntahkannya. Alam akan membersihkannya.
Nusantara akan terguncang. Gempa Bumi, banjir bandang, angin puting beliung, ombak samudera naik ke daratan, gunung berapi memuntahkan laharnya berganti-gantian, musibah silih berganti, datang dan pergi. Bila waktu itu tiba, Alam telah melakukan penyeleksian. Alam akan memilih mereka-mereka yang ‘berkesadaran tinggi’. Yang ‘kesadarannya masih rendah’, untuk sementara waktu disisihkan dahulu atau akan dilahirkan ditempat lain diluar Nusantara. Bila saat itu sudah terjadi, Sabdo Palon dan Naya Genggong akan muncul lagi, kembali ke Nusantara. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan ‘merawat tumbuhan kesadaran’ dari mereka-mereka yang terpilih. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan menjaga ‘tumbuhan Buddhi’ yang mulai bersemi itu. Itulah saatnya, agama Buddhi, agama Kesadaran akan berkembang biak di Nusantara. Dan Nusantara, pelan tapi pasti, akan dapat meraih kejayaannya kembali.

Memang sudah menjadi garis karma, kehendak Hyang Widdhi Wasa, mereka-mereka saat ini berkuasa di Nusantara. Prabhu Brawijaya tidak ada gunanya mempertahankan Shiva Buddha. Prabhu Brawijaya lebih baik menuruti kehendak mereka-mereka yang tengah berkuasa. Kelak, Prabhu Brawijaya juga akan lahir lagi, lima ratus tahun kemudian, untuk ikut menyaksikan berseminya agama Buddhi.
Menangislah Prabhu Brawijaya. Semalaman beliau menangis. Semua rahasia masa depan Nusantara, dijabarkan oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Keesokan harinya, beliau memanggil Sunan Kalijaga. Dihadapan seluruh yang hadir, beliau menyatakan hendak kembali ke Trowulan. Dan yang lebih mengagetkan, beliau menyatakan masuk Islam demi menjaga stabilitas negara.
Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir terperangah mendengar keputusan Sang Prabhu. Beberapa penasehat, pejabat dan kepala pasukan Bhayangkara, bersujud sambil menangis haru. Mereka memohon agar Sang Prabhu mencabut kembali sabda yang telah beliau keluarkan. Situasi tegang, sedih, bingung…

Sabdo Palon dan Naya Genggong angkat bicara. Dihadapan Prabhu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir, mereka mengucapkan sebuah sumpah, bahwasanya lima ratus tahun kemudian, mereka berdua akan kembali. ( Inilah yang lantas dikenal dengan JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG oleh masyarakat Jawa sampai sekarang. Baca catatan saya tentang SERAT SABDO PALON. : Damar Shashangka).

Selesai mengucapkan sumpah mereka, Sabdo Palon dan Naya Genggong mencium tangan Sang Prabhu Brawijaya. Sabdo Palon berbisik :
“Lima ratus tahun lagi, ananda akan bertemu dengan kami kembali. Sekarang sudah saatnya kita berpisah. Selamat tinggal ananda.”
Sabdo Palon dan Naya Genggong menyembah hormat, lalu bergegas keluar dari ruang pertemuan. Semua yang hadir masih bingung melihat peristiwa ini. Diantara mereka, ada beberapa yang ikut menyembah, melepas lencana mereka dan memohon maaf kepada Sang Prabhu untuk undur diri.

Bagaikan tugu dari batu, Sang Prabhu Brawijaya diam tak bergerak. Tinggal beberapa orang yang ada didepan beliau. Beberapa pasukan Bhayangkara yang memutuskan untuk setia mengiringi Sang Prabhu. Juga ada Sunan Kalijaga, yang masih pula ada di sana.

Setelah kediaman beliau yang lama, Sunan Kalijaga memberanikan diri menanyakan keputusan Sang Prabhu tersebut. Sang Prabhu menjawab, semua memang harus terjadi. Mendengar sabda Sang Prabhu, Sunan Kalijaga segera mendekat kepada beliau.

Sunan Kalijaga memohon dengan segala hormat, apabila Sang Prabhu benar-benar ikhlas menyerahkan tahta kepada Raden Patah, maka beliau harus rela melepaskan mahkota beserta pakaian kebesaran beliau sebagai Raja Diraja. Sejenak Sang Prabhu masih ragu, namun ketika sekali lagi Sunan Kalijaga memohon keikhlasan beliau, maka Sang Prabhu menyetujuinya. ( Inilah simbolisasi rambut beliau dipotong oleh Sunan Kalijaga. Pada kali pertama, rambut beliau tidak bisa putus. Dan pada kali kedua, barulah bisa putus : Damar Shashangka.)

Tidak menunggu waktu lama, berangkatlah rombongan Prabhu Brawijaya yang terdiri dari sedikit pasukan Bhayangkara dan Sunan Kalijaga beserta para santri menuju Trowulan. Sesampainya di Trowulan, masyarakat Majapahit menyambut dengan penuh suka cita. Keadaan mulai berangsur membaik ketika Sang Prabhu Brawijaya mengeluarkan maklumat agar semua pertikaian dihentikan. Disusul kemudian, keluar maklumat serupa dari Demak Bintara yang memfatwakan, peperangan sudah berhenti, diharamkan membunuh mereka yang telah kalah perang. Kondisi anarkhisme, berangsur-angsur menjadi kondusif. Stabilitas untuk sementara waktu kembali normal. Stabilitas yang dibawa dari Blambangan ini, membuat Sunan Kalijaga, sebagai suatu kenangan keberhasilan mendamaikan kedua belah pihak, memberikan nama baru kepada Blambangan, yaitu Banyuwangi. ( Disimbolkan, Sunan Kalijaga membawa sepotong bambu kemudian dia mengisinya dengan air kotor waktu masih di Blambangan. Begitu sesampainya di Trowulan, air dalam bambu itu berubah menjadi jernih dan wangi. Bambu adalah lambang dari sebuah negara, air kotor yang diambil Sunan Kalijaga adalah masalah yang dibuat oleh orang-orang yang sekeyakinan dengan Sunan Kalijaga sendiri. Air yang berubah jernih setibanya di Trowulan melambangkan kembalinya stabilitas negara.: Damar Shashangka).

Bergiliran, para putra Prabhu Brawijaya datang ke Trowulan. Adipati Handayaningrat dari Pengging beserta Ki Ageng Pengging putranya. Raden Bondhan Kejawen dari Tarub. Raden Bathara Katong dari Ponorogo. Raden Lembu Peteng dari Madura, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan Raden Patah sendiri.

Dihadapan seluruh putra-putra beliau, Sunan Kalijaga menyampaikan amanat Sang Prabhu agar pertikaian dihentikan. Dan agar Raden Patah, diikhlaskan menduduki tahta Demak Bintara. Seluruh putra-putra beliau, wajib menerima dan mentaati keputusan ini.

Kepada Sunan Kalijaga, Sang Prabhu Brawijaya memberikan amanat untuk mendampingi keturunan beliau yang ada di Tarub yaitu Raden Bondhan Kejawen dan keturunan beliau yang ada di Pengging. Terutama kepada Raden Bondhan Kejawen, Prabhu Brawijaya telah mengetahuinya dari Sabdo Palon dan Naya Genggong, bahwa kelak, dari keturunannya, akan lahir Raja-Raja besar di Jawa. Dinasti Raden Patah dan dinasti dari Pengging, tidak akan bertahan lama.
Prabhu Brawijaya bahkan membisikkan kepada Sunan Kalijaga, bahwa Demak hanya akan dipimpin oleh tiga orang Raja. Setelah itu akan digantikan oleh keturunan dari Pengging, cuma satu orang Raja. Lantas digantikan oleh keturunan dari Tarub. Banyak Raja akan terlahir dari keturunan dari Tarub.

(Ramalan ini terbukti, Demak hanya diperintah oleh tiga orang Sultan. Yaitu Raden Patah, Sultan Yunus lalu Sultan Trenggana. Setelah itu terjadi pertumpahan darah antara Kubu Abangan dengan Kubu Putihan. Dan Jaka Tingkir tampil kemuka. Jaka Tingkir adalah keturunan dari Pengging. Tapi tidak lama, keturunan dari Tarub, yaitu Danang Sutawijaya, yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mentaram, akan tampil kemuka menggantikan keturunan Pengging. Panembahan Senopati inilah pendiri Kesultanan Mataram Islam, yang sekarang terpecah menjadi Jogjakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman :Damar Shashangka).

Tidak berapa lama kemudian, Prabhu Brawijaya jatuh sakit. Dalam kondisi akhir hidupnya, Sunan Kalijaga dengan setia mendampingi beliau. Kepada Sunan Kalijaga, Prabhu Brawijaya berwasiat agar dipusara makam beliau kelak apabila beliau wafat, jangan dituliskan nama beliau atau gelar beliau sebagai Raja terakhir Majapahit. Melainkan beliau meminta agar dituliskan nama Putri Champa saja. Ini sebagai penanda kisah akhir hidup beliau, juga kisah akhir Kerajaan Majapahit yang terkenal dipelosok Nusantara. Bahwasanya, beliau telah ditikam dari belakang oleh permaisurinya sendiri Dewi Anarawati atau Putri Champa dan beliau diperlakukan dan tidak dihargai lagi sebagai seorang laki-laki oleh Raden Patah, putranya sendiri.

Sunan Kalijaga sedih mendapat wasiat seperti itu. Namun begitu beliau wafat, wasiat itu-pun dijalankan.

Seluruh masyarakat berkabung. Seluruh putra dan putri beliau berkabung.

Dan kehancuran Majapahit. Kehancuran Kerajaan Besar ini dikenang oleh masyarakat Jawa dengan kalimat sandhi yang menyiratkan angka-angka tahun sebuah kejadian (Surya Sengkala), yaitu SIRNA ILANG KERTANING BHUMI. SIRNA berarti angka ‘0’. ILANG berarti angka ‘0’. KERTA berarti angka ‘4’ dan BHUMI berarti angka ‘1’. Dan apabila dibalik, akan terbaca 1400 Saka atau 1478 Masehi. Kalimat KERTAning BHUMI diambil dari nama asli Prabhu Brawijaya, yaitu Raden Kertabhumi. Inilah kebiasaan masyarakat Jawa yang sangat indah dalam mengenang sebuah kejadian penting.

Dan Raden Patah, memindahkan pusat pemerintahan ke Demak Bintara. Dia dikukuhkan oleh Dewan Wali Sangha sebagai Sultan dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jim-Bun-ningrat.
Keinginan orang-orang Islam terwujud. Demak Bintara menjadi ke-Khalifah-an Islam pertama di Jawa. Tapi, pemberontakan dari berbagai daerah, tidak bisa diatasi oleh Pemerintahan Demak. Wilayah Majapahit yang dulu luas, kini terkikis habis. Praktis, wilayah Demak Bintara hanya sebatas Jawa Tengah saja. Kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian seolah menjauh dari Demak Bintara. Darah terus tertumpah tiada habisnya. Perebutan kekuasaan silih berganti. Nusantara semakin terpuruk. Semakin tenggelam dipeta perpolitikan dunia.

Disusul kemudian, pada tahun 1596 Masehi, Belanda datang ke Jawa. Nusantara semakin menjadi bangsa tempe! Semenjak Majapahit hancur, hingga sekarang, kemakmuran hanya menjadi mimpi belaka.

Kapan Majapahit bangkit lagi?
Kapan Nusantara akan disegani sebagai Macan lagi?

Menangislah membaca sejarah bangsa kita. Menangislah kalian karena kalian sendiri yang telah lalai terlalu bangga membawa masuk ideologi bangsa lain yang tidak sesuai dengan tanah Nusantara.

Rahayu!!

Jumat, 01 September 2017

APAKAH KITA LEBIH MULIA DARI SAPI?

(Sebuah Renungan di Hari Qurban: Hari Raya Idul Adha, Djumat Wage, 1 Sept 2017 (1438 H)

"Manusia harus membuang sifat-sifat hewan di dalam dirinya...."
BENARKAH DEMIKIAN ? APAKAH SAPI/DOMBA LEBIH BURUK DARI KITA?
Tolong sebutkan sifat hewan mana yang harus dibuang/
dikorbankan:
1. Hewan tidak memiliki EGO
2. Hewan hidup selalu sesuai FITRAHnya
3. Hewan tidak pernah korupsi
4. Hewan tidak pernah KESETANAN
5. Hewan hanya mengambil sesuatu kebutuhan, tidak penah menimbun harta!
6. Hewan tidak pernah MERUSAK ALAM.

SAPI/DOMBA ADALAH MESIN PRODUKSI PALING SEMPURNA YANG TIADA BANDINGANNYA.
BERI DIA SEONGGOK RUMPUT, MAKA DIA AKAN MEMBERIMU:
- TENAGA UNTUK MEMBAJAK SAWAH
- DAGING
- SUSU
- KULIT;
- TULANG/TANDUK
- PUPUK KANDANG

SANGGUPKAH ANDA ?

Masihkah Anda merasa lebih hebat dan mulia dibanding SAPI/DOMBA?
Dia sanggup mengorbankan nyawanya untuk membahagiakan orang lain dan menjadikan dagingnya sebagai santapan bergizi.....
SANGGUHKAH KITA SEDIKIT SAJA BERKORBAN (Waktu, Tenaga, Pikiran, Perbuatan, Perkataan, seulas senyum) UNTUK MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN? TAK USAH NYAWA.......
Sanggupkah ???!!!

APA YANG TELAH KITA LAKUKAN SELAMA INI? MEMBAHAGIAKAN ORANG ATAU MENCELAKAKAN ORANG LAIN?
MASIHKAN ANDA MERASA LEBIH MULIA DARI SEEKOR SAPI ATAU DOMBA?

Selamat Hari Qurban
Lamb of God
Rahayu!

BELAJAR KAWRUH JAWA (bag. 1)

Sadarilah emosi (rasa) itu menyesatkan.
Tapi digadang-gadang pelaku Kejawen bahwa batu-uji segala sesuatunya itu ROSO. Maka pantes jadi Galauman, mahluk superhero tersinggungan yang lucu.
Keblinger karena menganggap emosi (rasa) itu barometer hidupnya , lalu menepis penggunaan akal-pikiran / kecerdasan (intelek). Padahal, aslinya Kawruh Jawa tidak mengajarkan demikian!

Perhatikan :
Kawruh Jawa yang otentik mengatakan bahwa yang dimaksud ROSO itu adalah ROSO SEJATI.
Lha kalau ada yang "sejati" itu tentu ada yang "tidak sejati", tow? Yang tidak sejati itu juga rasa/roso...tapi istilahnya Roso Sari. Jadi kalau nggugu roso sari ya jelas kejlungup!!

Roso SEJATI itu juga disebut Rosoingsun (Roso Ingsun). Ingsun itulah tataran batin dimana melampaui "aku kecil" alias ego yg biasa kita bahas-kritik setiap saat disini.

Jadi Galauman itu tidak enak. Bagai coklat rasa taik kucing. Tapi itu memang sebuah proses natural pengangkatan. Kalau istilahnya di Taoism disebut "melewati gerbang setan" (gak satu aja).
Jadi, kalau orang awam biasanya merasakan taik kucing rasa coklat. Maka dalam proses penggemblengan jiwa itu bagaikan sudah dapat coklatnya tapi rasa taik kucing.
Barulah kalau sudah tembus merasakan coklat dengan rasa coklat asli... "nyam..nyammmm....huahahahaha...

Yang jelas tahap Galauman dengan gelora arus rasa yang begitu tebal menggulung mobat-mabit gak keruan tak dapat dijelaskan tapi bikin bingung ga ngerti...(ini yg bikin frustasi) itu --kalau ga salah-- yg dalam tassawuf disebut Dzauq.
Masa-masa Majnun.


Alangkah baiknya dan amannya.....kalau kalian start awal bukan dari perasaan tetapi dari pikiran. Raihlah dulu pikiran benar melalui pembelajaran teori Dharma (termasuk asah logic). Lalu setelah itu mengembangkan faktor batin yg disebut Mindfulness (sati) melalui vipassana mengamati badan (kayasati, a.l melalui puasa, tirakat, mutih, dsb intinya BELAJAR* mengendalikan badan eg.rasa lapar, ngantuk, dsb), lalu kemudian pikiran (cittasati). Karena badan dan pikiran itu adalah lapisan2 "self-delusion" yang paling luar, sehingga paling mudah dikupas. Setelah itu bener dan pener, baru tahap berikutnya masuk ke mengamati fenomena perasaan, baru terakhir mengamati fenomena Consciousnes yg tak lepas dari pengamatan fenomena luar (benernya inilah yg banyak saya bahas di page ini hasil dari observasi Dharma / Fenomena inner-outer and in between).

* = jadi, tirakat, puasa, mutih itu hanyalah MEANS tapi bukan ENDS (sekedar CARA / ALAT tapi bukan TUJUAN). Jadi kalau mikir bahwa asal sudah tirakat-puasa-mutih bisa serta merta suci, itu KOPLAK. Karena yang menggunakan Gergaji bukan untuk motong kayu balok tapi buat motong kursi nemu, ya hasilnya bukan furniture tapi menghancurkan furniture tetangga! Sebutannya bukan lagi tukang kayu tapi preman somplak.

T : Meditasi vipassana lebih terasa efeknya dripada dzikir 1001x..

J : Dzikir itu hakikatnya adalah placement-meditation. Fungsinya beda.


Dari Panca-kandha : Persepsi (sanna), Perasaan (vedana) , Formasi Pikiran (sankhara), Consciousness (vijnana) .... itulah Sedulur Papat versi lain.

Tengah palsunya ya Body (yang bagi orang awam sering diidentikkan dengan 'aku'. "Aku iki yo awakku iki".
Maka harus leap-over (tembus lipatan) sehingga menemukan Pancer.

Pengangkatan itu sendiri artinya adalah mengubah 4 setan atau 4 binatang, menjadi 4 malaikat. Suatu ekstensi dari 'Aku' (huruf besar alias Ingsun which is Empti-NESS ) dalam cara mendunia yang baru (tidak berakar pada 3 racun : lobha-dosa-moha ; tapi pada beautiful-mind-roots : alobha-adosa-amoha atau bahasa inggris/indo-nya : kindness / altruism/ dermawan - compassion / welas asih - wisdom / hikmat).

Anda akan sedikit mulai paham tentang pengelihatan Ezekiel of God dari bagian apa yang disebut Four Living Creatures (Cheruvim).


Tidak hanya mengenali nafsu, tapi MENTRANSFORMASI nafsu.
Selagi masih manusia, tidak bisa hidup tanpa nafsu (bagaimana mau merawat tubuh kalau tidak punya nafsu makan, nafsu ngantuk, meneruskan species, dsb)? Tapi bila nafsu2 itu sudah ditransformasi, maka LAIN. Gitu aja singkatnya.

"Sastra Jendra Pangruwating Diyu"

S45P itu ajaran mendalam dan harus praktek baru tembus pengertiannya. Dan sayangnya wacana Kawruh Jawa dalam hal ini sudah banyak bolong2 (hilang filosofi penghubungnya) sehingga tampaknya hanya sbg suatu ketahayulan. Namun ilmunya masih efektif asal nemu guru pembuka yg tepat.

Wejangan Sastra Jendra
https://youtu.be/xpISuCd05ao

Emosi/rasa Semua itu sebaiknya terjadi dengan natural. Semua perasaan yang hadir cukup disadari saja, tidak perlu ingin begini begitu, itu adalah pikiran. Suatu pengingkaran hanyalah memperkuat emosi tersebut. pikiran ini yang malah akan membentuk roso sari, bukan roso sejati.. kalo begitu bisa mengarah pada sikap galauman yang super sensitif...

Oleh : Danz Suchamda

Rahayu!


Kamis, 03 Agustus 2017

GENERASI PENGHAYAL

Dan ketahuilah....salah satu ciri kekacauan (chaos) pada masa kita sekarang ini adalah : BIAS, DISTORSI dan DELUSION.

Tiada lain karena manusia sudah terlalu lama hidup dalam Hyperreality (agama2 politik). Perkembangan teknologi yg sedemikian cepat tidak diimbangi dengan kesiapan psikologis utk tetap berpijak pada realitas. Korbannya terutama anak-anak muda pengkhayal yang 10-20 tahun lagi akan jadi beban berat bangsa/ dunia.

Generasi muda diprogram untuk jadi penghayal?
Sudah merupakan konsekwensi dari kemajuan teknologi yang tidak seimbang dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi secara psikologis.

Contoh :
Jaman dahulu remaja ingin mendengarkan musik Top Hits terkini, mendengarkan radio yg suaranya kresek-kresek. Tidak puas. Untuk puas dia harus beli casette. Menabung dulu seminggu baru beli. Itu pun diputarnya berulang-ulang sampai pita kasetnya molor.

Tapi karena proses itu, kita merasakan kenikmatan.

Jaman sekarang?

Asal punya android dan "minta papa pulsa", mau dengar lagu apa saja bisa tinggal sejauh click. Sehari bisa dengarkan puluhan lagu. Mendengarkan musik seharian.
Puas??
Sebaliknya!!!

Semakin mudah kesenangan terpenuhi, apalagi sampai bertubi-tubi...hasilnya justru stress...

Akibatnya apa kalau stress?

Menuntut kesenangan yang lebih "tinggi" lagi (semacam dosis kecanduan morfin). Kalau dipenuhi terus akan semakin gila. Lalu timbul tindakan ngawur / nekat.
Hidup terasa hampa.
Apa yang natural dirasa kurang sip, lalu dengan akal pikirannya mencoba mereka-reka "yang lebih baik", "lebih efisien", "lebih benar", akibatnya hidup rumit sekali dan satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat yg lain mengejar "cita-cita ideal"nya masing-masing...
bukan semakin baik tapi semakin absurd... Tetapi "kegatalan" tidak enak kalau tidak digaruk....maka semakin bingung semakin ngoyo memutar pikiran.... akhirnya yg terjadi hanyalah BIAS, DISTORSI dan DELUSI... menjadi manusia super bawel seperti nenek-nenek yang mengkhayal sedang hidup di jalan PALING benar. Tiap-tiap orang dalam gelembung khayalnya masing-masing.
Mesti satu keluarga duduk bersama makan malam tubuhnya hadir semua, tapi nyawanya masing-masing entah terbang kemana.

Bukankah itu gejala penyakit modern ini?

Inilah salah satu contoh KETIDAKSIAPAN psikologis manusia atas lompatan teknologi yg super cepat. (Ingat, pesawat terbang saja baru ditemukan 100 tahun yg lalu. Jaman sekarang --saya dengar-- sudah ada yg menemukan teknologi atau minimal secara konsep teori untuk terbang / melayang dengan menggunakan vortex energy pada suatu wahana yg dirancang dari bahan dengan struktur crystalline).

Akibatnya, hampa....tapi mencari pemenuhan sementara melalui puja-puji hebrink dengan teknik NLP (Neuro Linguistik Program = motivasi) maupun katarsis musikal.

Ini jelas bukan merupakan solusi dari kehausan eksistensial tersebut. Bukti kegagalan itu adalah munculnya bigotry tersebut sebagai diagnosisnya. Tapi orang awam pada umumnya tidak mengerti hal ini. Karena ini kasunyatan, sementara mereka hidup dalam hyperreality mereka sendiri (dan bersikeras). Tentu gagal melihat.

Rahayu!
Danz Suchamda


SPIRITUAL : BERKETUHANAN TIDAK HARUS BERAGAMA

Danz Suchamda

Penelitian ~ Agama membuat anak-anak tidak bermurah hati. Keyakinan agama memiliki pengaruh negatif pada altruisme dan kepekaan sosial atau daya empati.

Meskipun penelitian ilmiah yang pernah dilakukan selalu dituduh bermuatan sentimen, temuan selalu konsisten bahwa orang-orang religius cenderung berbohong dan membesar-besarkan kegiatan amal.

Jangan khawatir karena ini bukan lelucon, tapi premis dimana agama membuat anak-anak yang polos menjadi serakah. Anak-anak ateis lebih murah hati dan kurang menghakimi dibanding anak beragama.

Anak-anak yang dibesarkan dari rumah tangga religius menghasilkan moral paling buruk dan suka menghakimi dibanding anak-anak yang dibesarkan dari keluarga non-religius.
Para ilmuwan dari 7 universitas mempelajari perkembangan moral 1.200 anak Islam, Kristen dan non-agama berumur 5 hingga 12 tahun di AS, Kanada, China, Yordania, Turki dan Afrika Selatan.

Komposisi anak adalah 24% Kristen, 43% Islam dan 27,6% non-agama. Jumlah Yahudi, Buddha, Hindu, agnostik dan lainnya terlalu kecil untuk uji statistik secara valid.

Anak-anak yang dibesarkan dari keluarga ateis memiliki empati lebih tinggi dibanding anak-anak Islam dan Kristen, sedangkan anak-anak Islam sendiri paling tinggi keinginan menghukum orang lain.

Anak-anak Muslim paling membahayakan dalam hubungan interpersonal dengan sikap dominan dan kegemaran menghakimi dibanding anak-anak dari keluarga agama lain dan ateis.

"Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang-orang religius tidak lebih baik daripada rekan-rekan non-religius," kata Jean Decety, neurosaintis University of Chicago.

"Studi kami melampauinya dengan menunjukkan bahwa orang-orang religius kurang murah hati dan tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak juga," kata Decety.

Hari ini 5,8 miliar manusia mewakili 84% populasi dunia mengidentifikasi iman kepada akherat dan pada saat yang sama orang tua berasumsi bahwa agama adalah standar moral menjadi manusia yang baik.

Satu teori bahwa orang tua beragama mengajarkan anak-anak menjadi baik dengan cara takut kepada tuhan, sedangkan orang tua ateis mengajar anak-anak untuk menjadi baik dengan hal-hal yang memang patut dilakukan.
Anak-anak beragama hanya merasa terdorong untuk bersikap baik atau bermurah hati jika mereka berpikir ada seseorang yang menonton, bukan karena perbuatan baik memang baik dilakukan.

Pola perilaku anak agama cenderung dikaitkan dengan lisensi moral wahyu langit, roh ilahi dan sebagainya. Sedangkan anak-anak ateis cenderung bertindak atas dasar orang lain, aturan-aturan moral sosial dan lain-lain.

The Negative Association between Religiousness and Children’s Altruism across the World
Jean Decety et al.
Current Biology, November 05, 2015, DOI:10.1016/
j.cub.2015.09.056

http://www.laporanpenelitian.com/2015/11/29.html?m=1

Rahayu!

Rabu, 26 Juli 2017

KEBENARAN YANG HIDUP

Copas artikel dari master mbah Danz Suchamda

INIQUITY

Kemaren saya buka pintu untuk komen2 nyinyir, sentimentil emosional yang tujuannya hanya penyerangan pribadi atau disinformasi, pemfitnahan, blackpainting, dsb.... Agar publik luas dapat melihat sendiri kenyataannya. Bahkan ada akun2 bernama arab/islam pun ternyata isinya adalah domba2 bertaring.

Hari ini mulai saya bersihkan. Beberapa yang memang murni hatred langsung saya banned. Yang masih mengandung reason saya biarkan secara terbatas.

Tujuan saya adalah agar pesan2 saya dalam komentar dapat terbaca dengan jelas , alih-alih ditenggelamkan dengan komentar2 yg tidak perlu, unrelevan, iniquity dan OOT.
Sami mawon.

Kalau yang satu mengkafir-kafirkan orang. Menuduh mamarika, rheumason, preman sorry.
Yang ni nuduh sesat, murtad, iblis, tukang sihir, kuasa gelap.

Suka bikin perang tapi bilang pembawa DAMAI.
Suk menghasut orang untuk menjauhi pihak lain, pemecah belah keluarga dan persatuan umat manusia, tapi bilang agen tunggal KASIH.
PODO WAE.

Ketahuilah! bahwa Mesiah yang sejati itu akan datang untuk mempersatukan umat manusia dan bangsa-bangsa memasuki masa milenium damai yang diistilahkan New Jerusalem. "Shalem" sendiri artinya adalah KEUTUHAN.

Jadi bukan suatu IDOL yang mengajarkan NEUROTICISM (kecemasan dan ketakutan) agar manusia terpecah-pecah menjadi golongan-golongan saling curiga. Sadarlah!

Kalau pun dia dikatakan sebagai menjadi pemimpin pasukan surgawi menaiki kuda putih, maka itu artinya adalah simbolisme memerangi pihak-pihak yang memecah belah, melawan ajaran2 yang fragmentasi (tidak tamim) dan menanamkan ketakutan itu!

Mengacalah diri!

Tidak sadar kah kalian bahwa perang itu akarnya adalah RASA TAKUT. Justru bukan keberanian.

Takut hidup. Takut hidup berdampingan dengan orang lain yang dipersepsikan membahayakan atau mengancam hidup anda. Entah karena dia bawa-bawa golok atau karena "pelihara setan".
Berpikir, "Lebih baik mati, daripada hidup ketakutan"...."

Mari kita mati membela X melawan 'setan' yg membawa kematian kekal". Lihat!....pada dasarnya adalah ego yang krisis karena terancam! Ego yang ingin exist!

Pertanyakanlah : siapa yang menanamkan 'pengetahuan' (info-info) yang membuatmu merasa terancam dan ketakutan itu kalau bukan PEMIMPIN AGAMAMU SENDIRI!!!??? Merekalah yang menanamkan "grain of sand" di dalam hati dan pikiranmu, sehingga selalu iritasi di bawah sadar sehingga setiap saat dapat diledakkan jadi api yang berkobar!

Karena merasa terancam oleh pihak lain, maka pikiran manusia berdelusi berproliferasi dalam angan-angannya menimbulkan sikap antipati terhadap pihak yang lain. HAMPIR 90% TIDAK DIDASARKAN OLEH ALASAN-ALASAN REAL!
Ini adalah lawan kata dari TRUST atau saling percaya satu sama lain antar bagian sosialita masyarakat yang majemuk berbeda-beda dan unik tapi saling melengkapi.

So, be REAL !

Belajarlah menelisik ke dalam hati dan pikiranmu sendiri dulu.

Inilah tujuan penyibakan-penyibakan ini walau rasanya pahit dan menyakitkan pada awalnya.
Mungkin saudara menuduh bahwa saya pun menuduh. Marilah kita selidiki apa-apa saja yang kita perkatakan dan arahnya kemana.

Hai saudara.....apakah anda takut, curiga dan menjauhi saudara (setanah air maupun keluarga) anda sendiri?
Sementara mempercayai OMONGAN orang asing yang alamatnya pun anda tidak ketahui? Mempercayai orang asing untuk menjauhi dan curiga kepada saudara anda sendiri???

Anda mendengar OMONGAN ORANG tentang Tuhan, lalu anda menganggap bahwa itu adalah omongan Tuhan???

Dewasakanlah dan matangkanlah caramu berpikir!

Renungkanlah dengan jernih!!!

Rahayu!

Kamis, 20 Juli 2017

KAMU KAUM AMALEK?

Sebagai bentuk pelestarian knowledge sekaligus menjadi penyambung lidah dari fans page fb

Danz Suchamda

AMALEK dan SOAL 666

Sebenarnya sejak kemaren saya hendak menjelaskan soal Amalek. Siapakah dan bagaimanakah cirinya. Tapi belum kesampaian menulis secara exhaustive sudah muncul case-nya. Jadi kali ini saya sampaikan terlebih dulu satu aspeknya dari apa yang disebut Amalek itu.
Amalek itu adalah bangsa tapi bukan bangsa. Mengapa Alkitab menggunakan idiom 'bangsa' (nation)?

Tiada lain adalah untuk sekedar memudahkan penyampaian komunikasi di masa itu tentang suatu fenomena umum non-fisik yang tentu tidak akan dipahami sebelum ilmu2 sosial dan psikologi modern ini muncul. Oleh karena itu dipakailah kata "bangsa". Tetapi artinya lebih menuju pengertian seperti dalam kalimat ini :

- Ayam, bebek, itik, kalkun adalah BANGSA unggas-unggasan.
- Ular, kodok, kadal adalah BANGSA hewan melata (reptil).

Demikian pula apa yang disebut "Amalek" adalah suatu bangsa atau jenis traits (sifat/karakter) kejiwaan manusia. Oleh karena itu supaya tidak menimbulkan efek-samping, saya selanjutnya akan menyebutnya sebagai TYPE, eg. : type amalek. Type Amalek ini sudah tersurat sebagai musuh abadi dari Type Israel (direct connection to God / Absolute Reality). Salah satu manifestasinya adalah muncul sebagai Firaun (roh yg sama pada Cain, people of Babel, land of Lot, dan nanti Esau (ini pun adalah suatu arketype yg disebut: 'Edom'), Nebuchadnezar (Babylon), Haman (Persia), Herodes (Roman client king of Judea) , Titus (Roman), Hitler (Germamia), dst saya tidak bisa menyebutkan secara exhaustive tanpa menyinggung pihak2). Hati-hati, roh amalek ini bisa muncul dalam segala wujud, kelompok, golongan. Jadi saya tidak menuding ke suatu nama kelompok, melainkan BAGIAN dari itu. (Lihat posting saya berjudul "The Agent"). Jadi, setelah kalian MENGENALI PRINSIPNYA maka hendaklah JELI menilai sendiri (ssst!) mana yang mana.

"Matrix Revolution" : https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.37
https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.37 9551665549169/808049686032696/?type=3&theater

"Ilusi Permanensi Diri" :
https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.37 9551665549169/747436775427321/?type=3

By my definition (and observation) ciri utamanya adalah selalu ingin menciptakan SIMULACRA. Dan itu berkaitan erat dengan si Mara (Setan) yang dikenal sebagai Bapa dari semua para pendusta. Ciri yang sudah pernah dibahas sebelumnya adalah : Soft Mouth.

Ciri-ciri lainnya adalah :
1. keji (tega),
2. licik (lain dalam lain luar) ,
3. emulasi (imitasi, menyaru)...termasuk kata-katanya sopan santun, indah merdu didengar nyaman di telinga, penampilan2 yg bersih, perlente necis indah bahkan sebagai tokoh agama (tapi busuk di dalam),
4. menyerang / menghambat tidak secara langsung (ular berbisa. Misal : merusak bahasa, menggeser pengertian moral, mbujukin untuk damai semu, dsb),
5. meninggikan ekor (cut the snake tail and throw it high atau arketipe kalajengking, misal : mengangkat / meninggikan orang rendahan sebagai pemimpin palsu sehingga merusak seluruh kawanan),
6. menyebar menyusup tidak pada satu kelompok, beranak pinak banyak utk menghabiskan ladang (belalang),
7. pembodohan dan suka lendir (katak; veda : tamasic),
8. prinsip hidupnya mendahulukan kepentingan / kesenangan di atas kebenaran,
9. memanipulasi sejarah dan dokumen2 (anti-verbatim),
10. sepanjang zaman selalu berusaha memusnahkan mereka yang berhubungan langsung dengan Realita (direct connection to God; type Israel ; Veda : sattvic), dsb.
Kita bahas satu persatu nanti saja kalau ada krentheg.

Perhatikan dulu dialog ini :

>Arifin Bahar : Saudara2 sy itu orang pintar juga guru, namun jika sudah bicara pandangan tentang agama yang diyakininya maka akalnya mendadak lumpuh...
Sy melihat mereka ketakutan... penuh harap...
Secara phisikologis wajar jika diiming imingi mereka tertarik...
Kasihan...

>Danz Suchamda : Mereka secara intelektual pasti paham dan setuju dengan anda (asal anda logis). Tetapi rasa takut mereka terhadap angan2 mereka sendiri --yg ditanamkan oleh para penjahat rohani / the amalek -- yg menghalangi. Biarkan saja.
Sudah berulang-kali saya katakan : bahwa mereka yang berhati batu (Lev HaEven) nantilah Tuhan yang akan turun tangan sendiri menghancurkan mereka. Kalau anda mau belajar dari sejarah, itu sudah terbukti pasti 100%. (Contoh : Mesir kuno, Babylon, Persia (sekarang Iran), Assyria (sekarang Suriah), Philistine, Moab, Kedar, Dedan, , dsb yg pernah sesumbar hendak menghancurkan Israel...mana? Punah duluan, kan?)
Jangankan anda ditolak keluarga / handai tolan anda. Firaun sendiri di masa lalu malah dengan pongahnya menuliskan pada prasasti Merneptah ini (ilustrasi gambar)

Ingat ya!...Ishmael itu adalah keturunan dari Ibrahim (bangsa Semit) dari ibu gundik Hagar (bangsa Mesir). Jadi jangan heran jangan kaget fenomena ini semua. Sudah saya bahas pada topik Mixed Multitude (Erev Rav).
Jadi kalau sifat gen-nya muncul kembali menguat pada zaman ini, bukanlah suatu hal yang mengejutkan.

> Arifin Bahar : Ya guru... Terkadang sy terbawa sedih sendiri melihat kesalehannya yang didasari oleh pandangan salah itu guru..

> DS : Usahakan mereka mampu melihat. Itu saja.
Melihat bagaimana tidak mungkinnya ajaran Tuhan justru menjadi problem bagi dunia. Bagaimana tidak mungkinnya ajaran Tuhan justru memunculkan sikap perilaku rendahan (memalukan, menista-diri-dan-Tuhan otomatis). Atau bagaimana tidak mungkinnya ajaran Tuhan justru memecah belah umat manusia. Kalau mereka mengatakan 'mungkin'...coba dengarkan / simak bagaimana neurosis egonya berceloteh.
Kalau mereka mengatakan bahwa anda cuman pakai akal pikir manusia sementara mereka pake titah Tuhan.

Tanyalah apakah mereka bukan manusia lagi???
Masih-masih sama-sama makan nasi dan kalau pagi nongkrong di WC kok merasa punya hak status diatas manusia yang lain?
Tanya aja, masih sering ngising atau tidak??
Makanya, sebagai manusia ya bicarakah / berkomunikasilah dengan cara manusia. Bukan asal 'pokoknya pokoknya' ...pokoknya gak boleh gunakan akal pikiran. Ingatkan, di alam daging ini yang hidup gerak2 gak pakai akal pikiran itu namanya BINATANG. Binatang buas yang pakai bilangan (dibilang) manusia. Itulah yg secara keliru (plintirisasi simulacra) disebut The 666. Intinya mengingatkan tentang : penyaruan (imitasi, emulasi).

Jangan pernah lupa kata kuncinya : HUBUNGAN LANGSUNG dengan REALITAS vs Imitasi (emulator, penyaru).
Peperangan abadi BUKANlah antara baik dan buruk, tetapi antara yang SEJATI dan PALSU !!! Ingat itu!

> Maria Emaculata : Mencerahkan
Yg sejati dan palsu tidak akan pernah berdamai
Itu juga yg ada dibenak saya tadi malam

> Danz Suchamda : Hati-hati! Sikap pandangmu itu sendiri bisa jadi bermasalah. Ingat.... -1 adalah lawan dari +1. Tapi 0 (emptiness) tidak memiliki lawan. +1 dan -1 itu PUN adalah atas rencana TUHAN. Konsekwensi atas terjabarnya yang Dimensionless ke dalam Dimensionality.

So, untuk kembali pada Unity of dimensionless, maka harus naik ke Higher Order (keteraturan on Higher Dinensionality). Jadi,....katamu itu "tidak pernah berdamai"...itu sendiri adalah part of the
Maka disitulah arti dari "PENGANGKATAN" yg kalian salah tafsiri sebagai rapture seolah terbang mumbul disedot ke atas.

Sudah kubilang dari dulu : belajar agama dari nonton film fiksi ya tetottt.

Sekarang saya tanya anda : Bagaimana mungkin mengenal yang sejati kalau anda pun tidak mampu mengenali diri anda sendiri (mengenali secara apa-adanya yang ada di dalam batin sendiri)???

Rahayu!

Tambahan untuk orang baru :

>Agil Kucluq : Amalek kenapa yg dituju adalah yg nantinya musuh abadi dari tipe Israel....
Saya yg belum paham kenapa kembali lagi ke Israel....
Israel disini yg dimaksud bangsa/negara/tipe Israel itu om...

>Danz Suchamda : Makanya baca page dari awal.
Israel itu awalnya bukan suatu bangsa homogen. Tetapi merupakan percampuran para korban perbudakan di era dunia lama, yg kemudian kabur memerdekakan diri membentuk identitas diri sendiri. Ide utamanya adalah KEMERDEKAAN.

Dan kemerdekaan itu --secara genius-- dipahami sebagai kemerdekaan jiwa (bukan semata fisik).
Kemerdekaan jiwa itu hanya bisa dicapai bila memiliki hubungan langsung ke Realitas (tanpa perantara para tuan/ elit penguasa).

Maka, kata "Yashar" = hubungan langsung.
"El" = Tuhan, God, El-ochim , The Reality (ini perlu penjelasan tambahan why so). Yashar+El = YasharEl = Yisrael.
Orang-orang dari segala bangsa boleh kok disebut "Israel" kalau memiliki direct connection to Reality. Itu yg disini disebut "Israel Rohani" secara salah kaprah (krn masih bersifatkan ethnocentric) !

Tentu kalian sekarang mempersepsikannya (bias) seolah Monolithic race. Ya karena itu sudah melalui beratus-ratus (ribu?) generasi kawin campur. Maka seolah jadi ras sendiri (Semit). Arab juga termasuk bangsa Semit.

Maka untuk mengetahui hal yang sebagaimana-apa-adanya, haruslah paham proses sejarah dunia-lama (Old World migration and cultural spreads). Saya pernah membahas sekilas ini dan memberikan linknya. Carilah!

>Anthony En : sini teringat dengan omongan atau bacaan. mungkin dari romo Danz ya? yang mengatakan bahwa nasrani itu mewakili unsur negatif, sedangkan muslim mewakili unsur positif. sedangkan israel sebagai penyeimbang/wadahnya agar cahaya itu menyala. analoginya seperti lampu.

>Danz Suchamda : Baca Yesaya 61:4
"Then they will REBUILD THE ANCIENT RUINS, They will raise up the former devastations; And they will repair the ruined cities, The desolations of many generations."

Ya, kalau ditemukan ya konslet. Dunia bisa padam (kiamat). Maka perlu resistor (tahanan/ buffer) agar arus yg mengalir tidak terlalu besar...walau terjadi perubahan energi menjadi "panas" atau "cahaya". Disitulah peran ISRAEL (Israel Souls, bukan ethnic...walau tentu saja included terutama dalam fungsi kesulungannya ==> as God's pilot project to be a blueprint for the rest).

Ingat! disini kita membicarakan spiritual symbology, bukan politik!

Walau tentu dampaknya tidak bisa dipisahkan dengan carut-marut situasi politik dunia saat ini!
Sekarang tanyakan : Siapa yang menghalang2i penduduk Indonesia ini untuk kawin campur sehingga menciptakan suatu Identitas NASIONAL tersendiri??
Siapa???
Ya, para Amalekis Soul tersebut!
Mereka berkepentingan memecah-belah!

>Bob Winter : itulah mbah... maksain... playin victim...full strategy... ini mindset war..
klo semalem nonton tvone ILC... jelas banget bisa di liat... simulacra... softmouth.. the beast dll ada semua

>Danz Suchamda : Dikerjain dengan prinsip balon tapi gak nyadar :
Ditiup (blow up) menjadi semakin besar...dan besar....biar meledak sendiri...."Dorrr".....selese.
...tinggal mungutin isinya sekaligus,..... hehehehe
Itulah akibat korban taktik "melempar ekor tinggi2".

Alias orang rendahan ditinggikan diubyung2 sebagai "tokoh agama" yg harus dipercayai mutlak. Jangan heran banyak muncul kasus kriminal.

> Saut Napitupulu Amalek' manusia berkamuflase angka 666

> Danz Suchamda :
666 itu setahu saya dari simbolisme ini
- penciptaan manusia (Adam) pada hari ke-6
- Huruf Vav , angka ke-6 atau gematria 6 yang juga unsur penyusun frase YHVH (salah satu nama Tuhan yg disebut Adonai / HaShem). Yang secara simbolis perannya menghubungkan Gate of Above dan Gate of Below (dua huruf Hey). Lihat TS saya yg hari ini juga berjudul "Law and Order".

- Dengan 6 anggota tubuhnya (sepasang tangan, sepasang kaki, badan dan kepala). Vav atau penghubungnya yaitu leher. Artinya bila Otak dan Hati bisa terhubung, maka jadi Manusia.
Jadi, 666 itu angka baik yang didemonizingkan for political purpose. Antara lain untuk menghambat internet (vav vav vav atau www).

Tanpa prasarana www ini mana mungkin kalian rakyat di bawah tahu semua hal ini? Di era yang lalu semua informasi cuman Top-Bottom yg artinya disaring dan dicekoki oleh gurita Elit Penguasa. Hanya melalui internet antar penduduk bisa berkomunikasi secara meluas (dan aman alias leher tetap gak putus).

> Agil Kucluq : Oh njih om.....
Jd Israel yg d maksud d awal adalah sebuah pengharapan kebebasan yg tak terikat oleh atasan yg mengekang jiwa manusia itu sendiri....
Bukan (negara) Israel yg sekarang...
Karena saya juga berfikir kenapa yg sekarang hanya ditujukan ke personal nya sehingga memicu sebuah perbedaan, permusuhan dan perpecahan demi kepentingan masing2 golongan
Semakin orang berfikir bebas untuk mencari tuhan nya maka semakin gencar sekelompok yg merasa tidak sependapat mengatakan salah, sesat dan perlu untuk di bedakan dan dijauhi bahkan bila perlu dimusnahkan.

> Danz Suchamda : Itulah mengapa PENYEMBAHAN BERHALA sangat ditentang. Zaman dulu para bangsawan kerajaan memanipulasi rakyat, para imam memeras rakyat, menggerakkan penduduknya untuk bersemangat pergi berperang menyerang negara tetangga pakai apa caranya (belum ada TOA, belum ada TV, telpon, telegram, internet, dsb)?? Pakai apa??
Tahu apa maksudnya penyembahan berhala? Atau cuman urusan patung-patung???
Paham??

Lagi-lagi SOFT MOUTH dilancarkan
"Hancurkan patung-patung", tapi berhala yang tak tampak mata disembah2 tanpa sadar sama sekali (yg tak berwujud tak dapat dihancurkan tow?)....hasilnya semakin parah!

Rahayu!

Kamis, 06 Juli 2017

AGAMA ADALAH BAHASA

AGAMA ADALAH BAHASA
Post ini adalah sebagai penyambung dan sebagai bentuk pelestari wawasan kesadaran spiritual bagi soul - soul yang mencari pelita.
Rahayu!

Copyleft from :
http://primordialnature.blogspot.co.id/2016/08/ringkasan-pesan.html

Note : Mengingat besarnya animo untuk membungkam topik ini, maka justru menjadi SANGAT JELAS bahwa Elite Imperialisme selama ini telah menjajah, memanipulasi, mengeksploitasi kita melalui BAHASA !


AGAMA ADALAH BAHASA

Realitas itu berlapis-lapis (layered) dan memiliki tatanan (order) nya masing-masing untuk tiap layer. Seperti misalnya order pada layer sosial akan berbeda dengan order pada tataran individu, beda pula dengan order pada tataran sel...dst hingga atom dan pertikel sub-atomik. Itu baru dimensi fisik (materi).

Yang ada di dimensi Baqa (supra-mundane, adi-duniawi, alam Ketuhanan) bukanlah seperti yang kita kenali dalam fenomena dan benda-benda yang ada di alam Fana (mundane, duniawi) ini.

Maka untuk mengkomunikasikan pengertian tentang hal-hal yang Baqa memerlukan pointers dengan apa yang telah kita kenali dari apa yang berasal dari dunia ini. Tetapi anda harus memegang Hikmat bahwa pointers (alat penunjuk) itu hanyalah --secara kasar-- mewakili pengertian yang hendak disampaikan. Oleh karena itu jangan terjebak dengan kata-kata bahasa yang dari dunia bawah ini.

Mereka yang tidak pernah nglakoni praktek spiritual tidak akan pernah melampaui bahasa. Mereka akan disesatkan oleh bahasa. Sayangnya, tiap-tiap agama memiliki set istilah dan caranya masing-masing untuk membahasakan apa yang ada di realm Ketuhanan. Karena pada masa itu penduduk bumi belum global seperti sekarang yang bisa memahami simbol, gesture, tata-cara, budaya dari penduduk yang berada di daerah lain. Pada saat itu, ilmu pengetahuan pun masih belum berkembang. Maka daya-daya abstrak pada semesta ini mau tidak mau harus dibahasakan dengan sesuatu yang mungkin dapat dimengerti oleh penduduk masa itu.

Saya ambil contoh istilah "Malaikat" (Malach).
Dalam Torah diajarkan bahwa malaikat itu adalah asisten Tuhan, dan ia tidak memiliki kehendak sendiri melainkan 100% patuh pada Tuhan. Ia memiliki tugas mengeksekusi keputusan2 Tuhan.

Nah, dari cara-pengungkapan kuno yang anthropomorphis ini artinya apa?

Tidak mungkin orang pada masa itu akan mengerti konsep Force, Daya atau Gaya, atau Energi. Saat itu iptek baru sampai cara bercocok tanam dan beternak atau teknik2 pertukangan yang sifatnya benda mati. Bagaiman penduduk masa itu mungkin memahami bahwa suatu Force itu memiliki dinamika interaktif? Mereka cuman kenal benda-benda mati yang statis dan tidak interaktif. Oleh karena itu, untuk menyampaikan ide digunakan metafor berupa sosok yang hidup seolah seperti manusia, bersayap, bagai cahaya, dsb. Kenapa seperti manusia? Lhaya kalau digambarkan seperti kambing apa nenek-moyang kalian akan muncul respek dan awe (takjub)?

Nah, kalau era sekarang mestinya kalian tahu bahwa yg disebut Malaikat itu adalah Natural-Force atau Daya-daya Alam yang bekerja mengikuti hukum alam (maka itu dikatakan patuh 100% tidak punya kehendak sendiri) melainkan mengikuti Law-of-Nature (Sunnatulloh). Gak ada tow gaya gravitasi pilih-pilih kasih bekerja di negeri tertentu atau pada umat agama tertentu saja? Meskipun dijelaskan dengan nalar seperti ini, tentu saja anda juga jangan sebaliknya jadi meremehkan, merasa tahu. Karena masih banyak daya-daya yg bekerja di alam ini yg belum kita ketahui. Terlebih lagi daya-daya abstrak yang non-fisis (diluar fenomena materi). Itulah mengapa bila seseorang melalui laku praktek bersentuhan, berhubungan dan berinteraksi langsung dengan Force itu maka akan segera memahami dengan melampaui bahasa!

Contoh lain,..singkatnya saja...misalnya kitab suci menggunakan istilah 'wajah Tuhan', 'tangan Tuhan', 'tahta', 'bintang', 'Tuhan menangis', 'Bapa', dsb termasuk penuturan-penuturan dengan menggunakan kisah-cerita yang panjang2. Tentu semua itu jangan dibayangkan seperti yang kita kenali dari-dunia ini, melainkan carilah MAKNA DI BALIK istilah/kisah itu! Istilah-istilah yang berasal dari dunia-bawah-ini digunakan semata karena kita tahunya cuman hal-hal / benda-benda / fenomena dari yang kasat mata-daging kita.

Misalnya mengapa Tuhan disebut 'Bapa' karena bagai hubungan emosional yang sangat erat antara bapak dan anaknya, dimana sang anak patuh karena percaya bapaknya itu dapat diandalkan, mendidik walau seringkali keras (sifat laki2). Sementara dalam kesempatan lain hubungan itu digambarkan bagai dengan 'Raja' atau antara 'Tuan dan hambanya', antara 'Ibu dan anaknya' bila ingin mengkomunikasikan aspek kelembutanNya, antara 'Penggembala dengan hewan gembalaannya' bila ingin mengemukakan aspek kawanan (flock order), 'calon pengantin' bila ingin menyampaikan aspek persiapan dan kesetiaan cinta, dst dst. Itulah maka --seperti dalam TS yang lalu-- dikatakan bahwa untuk pengenalan terhadap Tuhan maka kita harus BEBAS dari yang-diketahui (Freedom from the known).

Nah, jadi jelas bahwa hanya melalui laku praktek spiritual yang nyata maka barulah kita dapat mengenali / memahami apa yang sebenar-benarnya dimaksudkan oleh para tokoh spiritual pendahulu (misal : nabi, avatar, mahasiddha, buddha, dsb).

Perbedaan antara orang yang paham dan yang tidak-paham akan jelas sekali disini. Mengapa? Karena pengalaman adalah suatu pengetahuan (knowledge and understanding) pada level Soul (Roh). Dan Soul itu berada pada order sebelum Pikiran (otak materi).

JADI KALAU SOUL ANDA MENGERTI, MAKA TIDAK AKAN LAGI TERBELENGGU OLEH ISTILAH-ISTILAH BAHASA YANG MERUPAKAN ALAT UNTUK PIKIRAN BEKERJA.

Itulah maka dikatakan memiliki Hikmat. Dalam Hikmat itu ada fleksibilitas, kreatifitas, relevansi dengan kekinian, kejutan2 jawaban dan mampu menjawab berbagai problema / issue yang tidak/ belum pernah terjabarkan / tertulis. Penjelasan anda tidak akan terbatasi oleh bahasa / term / istilah / dogma / theologi / ilmu kalam. Semua ini tak mungkin dapat diraih bila seseorang hanya 'mengerti' dalam tataran pikiran (cognitive). Yang mana akan cenderung kaku dan mengandalkan analisa (tafsir, hermeneutika,dsb) yg pada dasarnya adalah pekerjaan-pekerjaan di level analisa bahasa. Maka jangan heran bila bahasanya berbeda (baca : agamanya berbeda) lalu bertengkar. Seperti yg saya jelaskan dulu-dulu bahwa apa yang berasal dari pikiran (eg.: analisis) akan selalu menimbulkan fragmentasi (keterpecahan).

Semoga sekarang semua penyimak setia page ini menjadi terbuka matanya dan mulai menetapkan komitmen untuk praktek spiritual guna meningkatkan pengenalan pribadi akan Tuhan. Itulah yang disebut sebagai Berketuhanan Yang Maha Esa.
Rahayu!
=================
DISKUSI

DISKUSI 1
Danz Suchamda : Lagi lagi dan lagi ...just now. Masih anget.
(Capture hilang)
444 = the key, the lock, code of God, mesiah, omega, occult, gospel, preacher, parable, jewish, redeemer, ruler, the king, yeshua, kingdom, branch, damaskus : "a city so fruitful and fair as to be often called Paradise"
65 = supreme Lord; The Lord (divinity). (G D 6+5=11: the formula of completion of the Great Work); mezusah, Adonai.
Terserah mau dipercaya atau tidak. Sekedar referensi daripada saya tahu tapi disimpen sendiri. Lha wong saya juga tidak tahu dan baru tahu.
Ada yang mau bersaksi bahwa angkanya tidak saya buat2 dan baru saja terjadi belum 1 menit yg lalu?

Joko Ngulandara : Wah aku nggak nyampe Pak De 🙏

Danz Suchamda : Kok gak nyampe? Coba lihat di TS ini saat sekarang ada berapa like dan berapa share?

Joko Ngulandara : Pak Danz Suchamda ; iya, maksudnya sampai sedalam itu Pak Danz menyibak dengan kode kunci 444 🙏

Danz Suchamda : Ahhh....saya tinggal buka internet cari di google kok, apa susahnya? :D
Joko Ngulandara : Saya jadi ingat TS Pak De tentang code Phi yg full numbers dan alhasil blank gak nyambung blas Pak De. Ora tekan!!!
Danz Suchamda : "The formula of completion" gimana ngerasa relevan gak pak dengan TS ini? Bukan kebetulan toh angka itu muncul sebagai sign dariNya? :D

Joko Ngulandara : Lah, saya itu meyakini bahwa di kehidupan dunia ini TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Sedangkan revealasi itu pun ibarat kata hanya sekian mikron dari air di samodra. Justru dibalik revealasi itu sebenarnya yg mesti ditembus "pengajarannya" dan saya nggak bisa atau blm diijinkan 🙏

Danz Suchamda : Tapi jangan besar kepala dulu.....
Seperti saya copy paste dari web gematria mengatakan "the FORMULA of completion". Seperti misalnya anda bersekolah dan dapat PR matematika lalu diberi formula oleh guru anda di kelas. Apakah berarti anda sudah selesai??
YA BELUM !!! anda baru dapat formulanya tapi sama sekali belum mengerjakan PR nya....hahaha :D
Lebih parah lagi, ini baru diberi formula...anda belum ngeh (tembus) secara realisasi langsung. Saat realisasi langsung itu barulah disebut BARU MULAI masuk PATH. Jadi baru AWAL mulai berjalan. Sementara sebelum2nya (teori2, dogma2, ritual2 dan segala macam remeh temeh itu) sama sekali BELUM berada di Jalan ! nothing more just a business of thoughts dan religious-pride! :v

Danz Suchamda : So kalau kalian berdoa Al Fatehah atau HaPatchah..."tunjukkanlah kami Jalan yang Lurus"...itu baru sampai ditunjukin ke Path-nya. Anda belum berjalan di Path. :v
Parah kan?? :v

The real "chemistry" baru mulai bekerja pada SOUL anda ketika sudah mengijak Path. :)
Baru nanti terakhir FRUITION (buahnya) bila sudah tercerahkan. Tentu stage by stage.
Itulah yang disebut PENGANGKATAN. :)
Joko Ngulandara : Ya... ya...ya... betul. Itu pun baru minta ditunjukkan jalan yg lurus. Lihat jalan yang lurus pun belum, apalagi jalan di jalan yg lurus. 🙏

Danz Suchamda : Sebenarnya simpel ya?...lhawong hidup kelak-kelok ala orang mabok ndangdut , ngomong muter2, tipu sana tipu sini, janji sering ingkar, omongan gak bisa dipegang, lain luar lain dalam, dalam berpolitik licinnya ngelebih-lebihin belut, dsb .... mana ada belut jalannya lurus?? hahaha
gitu kok ya yakin kalau dirinya sudah lurus? hehehe :)

Joko Ngulandara : He..he..he... dereng saget lan dereng wantun matur Pak De, karena saya ada di ROMBONGAN itu 🙏

Danz Suchamda : Memang idiom ULAR jadi tepat sekali. Saya rasa memang karena semua ini maka pengarang Alkitab menggunakan idiom ular :
- berjalan melata di tempat rendah dengan perutnya (perut = makan = nafkah yg jadi alat geraknya bukan kaki yg bebas)
- gigitannya berbisa mematikan
- lidahnya bercabang dua (standar ganda, dusta)
- berada di tempat rendah
- mengendap2 bersembunyi dalam semak2 siap menggigit kalau terinjak atau terganggu.
- bisa ganti kulit
- jalannya berkelak-kelok
- cara hidupnya di pohon dengan cara melilit bergantung (dependent on others : morotin, hidup dari pemberian, memeras, dsb)
- sanggup memangsa yang jauh lebih besar dari mulutnya.
- anak2nya begitu menetas dari telur sudah berbisa
- menjijikkan dan membuat takut (orang geli / takut)
- tinggalnya di lobang (terobsesi lobang)...huahahaha

Joko Ngulandara : Dan diperlengkapi dengan senjata FAKE MIRROR

Danz Suchamda : Fake Mirror, Painted Mirror ,Crazy Mirror dan Spion Mundur :v
Giggs Lee : Dalam 2 bulan ini sudah 4 kali 444 muncul pas lihat hp. Menunjuj waktu... 2 kali pagi, 2 kali sore... sesuatu...
Danz Suchamda : Wah...malah saya gak memperhatikan. Terimakasih bro. :)
Guntur Saketi : Nderek nyimak...

DISKUSI 2

Joko Ngulandara : /JADI KALAU SOUL ANDA MENGERTI, MAKA TIDAK AKAN TERBELENGGU OLEH ISTILAH-ISTILAH BAHASA (agama) YANG MERUPAKAN ALAT UNTUK PIKIRAN BEKERJA/ matur nuwun Pak De atas babaran "kaweruh" nya yg super sekali.
Dalam pandangan saya ada "BAHASA" lain yg berfungsi pada suatu KEPUTUSAN atas dualisme. Ambil contoh begini ; bahwa ketika seseorang dalam KEGELAPAN (kesesatan,kejahatatan, dosa dsb) naturenya itu ada SIGNAL yg membahasakan ke hidup jiwanya. Disatu sisi bahasa itu berbunyi STOP dan di sisi lain bunyi UDAH LANJUT AJA. Bukankah itu sebenarnya juga signal bekerjanya SOUL?

Danz Suchamda : Tahukah anda raw experience itu apa?
Saat sendirian malam hari di tempat sepi tiba2 pundak anda ditepuk, apakah anda berpikir "ini tangan cewe atau tangan cowo"?

Joko Ngulandara : Blm tau Pak De

Joko Ngulandara : Mohon penjelasannya 🙏

Danz Suchamda : Kalau terjadi demikian pasti anda njudhil (kaget), kan?
Waktu kaget apa berpikir itu tangan laki atau perempuan?
Tentu TIDAK.
Setelah sepersekian detik kemudian anda tengok kiri kanan belakang ternyata tidak orang, barulah tiba2 anda merasa TAKUT karena PIKIRAN anda menyimpulkan itu HANTU..
Setelah lari terbirit-birit terkencing-kencing ditolong oleh seorang penduduk situ, barulah anda tahu cerita konon nya.
- kalau diceritain disitu dulu ada perempuan hamil bunuh diri, maka lalu PIKIRAN anda menyimpulkan bahwa itu tangan hantu-cewe.orang
- kalau diceritakan disitu dulu bekas tempat perang kemerdekaan, maka lalu PIKIRAN anda menyimpulkan bahwa itu tangan hantu-cowo.
PERHATIKAN bagaimana PIKIRAN membuat penilaian SETELAH proses refleksi dan penilaian-terhadap-hal-hal-lain atas pengalaman-mentah yang terjadi.

TAPI, mau bagaimana kesimpulan-pikiran anda...apakah itu tangan hantu cowo atau cewe atau tangan malaikat bahkan tangan tuhan, atau itu mimpi atau ada yg ngerjain, dsb terkandung bagaimana pikiran anda dikondisikan lingkungan setempat (contemporary conditioning).
Nah, spiritual itu adalah bagaikan pengalaman-langsung terhadap Raw-Experience itu.

Setelah proses refleksi dan konseptualisasi sesuai kultur dan keterkondisian setempat (dan database / memory yang tersimpan di otak anda) barulah itu jadi sebuah teori. Bila teori itu disambung2kan antara satu dengan yg lain jadi sebuah sistem-kepercayaan yang diorganisasikan dan di-enforcement dengan kekuatan politik, maka itulah disebut AGAMA.

Jadi tidak betul pernyataan anda itu bahwa SOUL akan menilai berdasar ukuran2 konseptual hasil dari proses refleksi sekunder dan reflektif tersier (yang terjadi jauh hari dari detik pengalaman langsung itu).

Yang sekunder dan tersier itu anda sudah menilainya dari PERSEPSI, INGATAN dan BERPIKIR. Jadi adalah output hasil keterkondisian OTAK FISIK, bukan lagi pengalaman numinous dari SOUL (Moment of Truth of touching with Reality).

Di saat itulah ada celah untuk menjadi 'tuhan' bagi orang lain , alias playing God. Oleh karena itu dikatakan KEJI karena berasal dari 3 akar racun (termasuk kegelapan batin) yang manipulatif, exploitatif (memperalat orang2 awam yg lugu).
Joko Ngulandara : Kalau begitu apakah nilai baik atau buruk, kebajikan atau kefasikan itu juga buah dari konseptualisasi atas persepsi peresepsi, atau olah pikiran dan ingatan? 🙏

Danz Suchamda : Joko Ngulandara Lha dari dulu saya jelasin apa???
Ngapain saya cape2 ngejelasin soal Buah Pohon Pengetahuan Baik dan Buruk. Ada kali kalau 10x lebih...

Joko Ngulandara : iya ya 🙏

Danz Suchamda Apa baru ngeh??
Weleh...

Joko Ngulandara : Nggih Pak De, lagi connected. suwun pencerahannya 🙏

Danz Suchamda : Tuh kan. Dari dulu saya menilai pak Joko Ngulandara itu temasuk salah satu peserta dialog yang sangat cerdas intelektualitas dan luas wawasannya.
Terbukti kan hanya IQ dan wawasan tidak mencukup untuk tembus (walau tembus intelektualitas doank masih! belum tembus realisasi).

Joko Ngulandara : Matur nuwun Pak De. Ya karena "kegelisahan" atas realisasi itulah yg sebenarnya tak kunjung bisa aku tembus.
Semoga keberkahan dan kesehatan selalu bersama Pak De agar menjadi penyalur berkat dan pemcerahan bagi kami 🙏

Joko Ngulandara : Dari situlah saya baru paham kenapa Pak De "murtad" dari agama agama. Suatu proses pergulatan "pertobatan" yang super luar biasa karena Pak De telah berproses dan nembus, BEYOND RELIGION. But Not everyone can do. Rahayu 🙏

Danz Suchamda : Cobalah sekarang PRAKTEK meditasi mengobservasi ke dalam. Lihat ke dalam batin anda sendiri pak, 'lihat' bagaimana pikiran anda sendiri berceloteh...menanggapi ini itu...ke masa lalu...ke masa depan....sadari saja secara pasif tanpa menolak tanpa menerima...cuman sadar mengamati.

Tidak menganalisa, tidak berusaha menghentikan, tidak juga terhanyut... lihat...lihat....
Setiap pikiran muncul catat dalam batin "pikiran muncul....pikiran muncul..."
Pada saat berpikir catat, "berpikir...berpikir..."
Pada saat ingat sesuatu catat dalam batin , "mengingat...mengingat...mengingat".. dst dst.

Setiap fenomena dicatat dalam batin (ini tahap awal utk melatih agar anda sadar / mindful terhadap apa yg terjadi dalam batin anda).
Perhatikan bagaimana celoteh pikiran itu memberi konsep ini itu , ingat dogma ini itu, ingat pengalaman ini itu, muncul penilaian ini itu....dst dst dsb.... itulah akar masalahnya!

Itulah celoteh konsep2 yg diketahui / dihapal / diingat selalu berceloteh terus menerus (inner chatter) tanpa henti...bikin marah, bikin gelisah, bikin sedih..dst. Itulah yang kalau di Buddhism disebut sebagai CONCEPTUAL-OBSCURATION (pengotoran konseptual; Skt. jñeyavaraṇa; Tib. ཤེས་བྱའི་སྒྲིབ་པ་, ཤེས་སྒྲིབ་, shé drip; Wyl. shes sgrib ).

Teruskanlah latihan itu sesering mungkin (kalau bisa intens di retret lebih baik)...sampai tembus dari awan-awan konseptual itu!
Sampai melihat "matahari di tengah langit biru yang maha luas" (ini idiom ya) !

Joko Ngulandara : Baik Pak De. Trimakasih atas bimbingannya 🙏

Danz Suchamda : Sudah paham sekarang mengapa dikatakan sebagai kaum langit-langit / magog (atap rumah = gog) vs kaum langit (atas awan)? :)

Joko Ngulandara : https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.379551665549169/735603483277317/?type=3


Danz Suchamda : Vicks Formula 444 : "The formula of completion" gimana ngerasa relevan gak pak dengan TS ini? Bukan kebetulan toh angka itu muncul sebagai sign dariNya?
(Itulah kalau di spiritual yg otentik ada sebuah catatan tentang signs / tanda2 , yang kalau di agama2 [tertentu] dihakimi sebagai tahayul. Ya memang mungkin jadi tahayul beneran karena orang2nya gak ngerti dan gak menjalani. So what the use all of those sign-system?? :) ...)

Tapi jangan besar kepala dulu.....
Seperti saya copy paste dari web gematria mengatakan "the FORMULA of completion". Seperti misalnya anda bersekolah dan dapat PR matematika lalu diberi formula oleh guru anda di kelas. Apakah berarti anda sudah selesai??
YA BELUM !!! anda baru dapat formulanya tapi sama sekali belum mengerjakan PR nya....hahaha :D

Lebih parah lagi, ini baru diberi formula...anda belum ngeh (tembus) secara realisasi langsung. Saat realisasi langsung itu barulah disebut BARU MULAI masuk PATH. Jadi baru AWAL mulai berjalan. Sementara sebelum2nya (teori2, dogma2, ritual2 dan segala macam remeh temeh itu) sama sekali BELUM berada di Jalan ! nothing more just a business of thoughts dan religious-pride!

Joko Ngulandara : Lah, saya itu meyakini bahwa di kehidupan dunia ini TIDAK ADA YANG KEBETULAN. Sedangkan revealasi itu pun ibarat kata hanya sekian mikron dari air di samodra. Justru dibalik revealasi itu sebenarnya yg mesti ditembus "pengajarannya" dan saya nggak bisa atau blm diijinkan 🙏

Danz Suchamda : So kalau kalian berdoa Al Fatehah atau HaPatchah..."tunjukkanlah kami Jalan yang Lurus"...itu baru sampai ditunjukin ke Path-nya. Anda belum berjalan di Path. :v
Parah kan?? :v
The real "chemistry" baru mulai bekerja pada SOUL anda ketika sudah menginjak Path. :)
Baru nanti terakhir FRUITION (buahnya) bila sudah tercerahkan. Tentu stage by stage.
Itulah yang disebut PENGANGKATAN :)
Guntur Saketi : Super mbah...merinding aku baca coment ini...maturnuwun pencerahanipun...WOW
------- -

DISKUSI 3

Agus Machrul Alam : Laku praktek spiritual pada tiap individu apakah sama ya Mbah?
Karena pemahaman pada tiap individu juga beda...

Danz Suchamda : Tidak.
Sesuai kapasitas kemampuan, bakat , minat, dan pangilan hidupnya masing2.

Danz Suchamda :Itulah mengapa Tuhan memberikan banyak macam agama, aliran dan cara. Termasuk atheism pun adalah cara Tuhan!
Agus Machrul Alam : Baik. Apakah benar pengertian bahwa praktek spiritual tersebut yang saya pahami sampai saat ini adalah berlaku baik secara natural Mbah?
Karena semakin menyimak penuturan sampean, di sisi lain ada pertentangan di lingkungan saya baik secara langsung maupun tidak Mbah.

Danz Suchamda : Konflik itu adalah nature dari dualisme semenjak awal penciptaan semesta (baca : "Jadilah langit dan bumi, memisahkan terang-gelap, dst dst" (Kejadian1).
Hanya saja semakin lama osilasi antara pertentangan itu seharusnya semakin kecil. Itulah dinamakan manusia semakin beradab / berbudaya halus...finesse...
Itu akan terjadi pada sistem yang dampened (teredam, termoderasi). Jadi pertanyaan anda ttg adanya pertentangan itu adalah suatu keniscayaan bagian dari proses. Tinggal bagaimana saja diri kita (sebagai individu maupun komunitas) saling tanggap menanggapi agar tercipta peredaman menuju peningkatan cara berbudaya yang semakin halus / luhur...sampai pada infinity-horizon yaitu UNISON (United).
Dari Unison (Adam = Human) ==> split jadi milyaran individual sense ==> back to Unison. Inilah yang dimaksud REDEMPTION.
Yg di emulasi sebagai "penebusan" (not correct meaning).

Agus Machrul Alam : Matur nuwun Mbah..

Agus Machrul Alam : Btw. Kemarin tiba tiba menerima kiriman dari grup telegram... Beliau mencounter bahwa di Indonesia ini tidak segawat apa yang sampean gambarkan ( kondisi sosial, agama dll ). Kok ya nyambung Mbah...
Inilah salah satu konflik itu, di satu sisi bahwa seakan semua baik baik saja, di sisi lain saya sepakat dengan sampean bahwa kalau mau melihat lebih jauh sebenarnya ada hal yang sangat perlu dirubah..

Danz Suchamda : Kan saya selalu bilang : Bila ada cahaya maka ada bayangan. Bayangan akan selalu menguntit. Dan selalu menciptakan lawannya.
Agus Machrul Alam : Enggih Mbah. Matur nuwun...

Guntur Saketi : Top coment nya...terimakasih ...rahayu

Aan Susanto : mewek mbah semakin jelas semakin mewek huhuhhu

Danz Suchamda : Aku malah bingung , kenapa jadi mewek?

Faqih EL Sentanu : Super duper tanan, sesi pembahasan di ts kali ini...,
------

DISKUSI 4

Cahyanto Candrakusumah : Mencerahkan pakdhe, terima kasih banyak share nya
Saya sempat beranggapan begitu hanya saja sulit mengungkapkannya secara jelas dan sederhana.

Danz Suchamda : Itulah fungsi dari Clarity, atau kejernihan batin.

Ada perkataan dari Laozi :
有清有濁,有動有靜
You qing you zhuo , you dong you jing;
Ada bening ada keruh; ada gerak ada tenang ;

天清地濁,天動地靜
tian qing di zhuo , tian dong di jing
Surga jernih bumi keruh; langit bergerak bumi diam (yg mana adalah ilusi keterbalikan karena keterbumian kita, dan sekaligus suatu cara tersirat untuk ubah perseneleng : langit diam bumi gerak). Maka dikatakan cara untuk berspiritual adalah duduk-diam (meditasi; walau tidak harus berarti literal badan tak bergerak). Tapi lebih berarti pada makna ABIDE (lihat TS saya yg kemaren di bagian komen dgn link video musiknya James Last "Abide With Me".

Jadi, orang berspiritual seharusnya semakin bening, jernih, terang. Bukan menjadi semakin solid, keruh, gelap. Itulah pembedanya sejati dan palsu.

http://www.silkqin.com/02qnpu/27sjts/sj03qjj.htm

Komentari TS kemaren : https://www.facebook.com/suchamda/photos/a.379551695549166.1073741826.379551665549169/829875243850140/?type=3&comment_id=829881997182798&comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22R9%22%7D
---

DISKUSI 5

Mohawk Bronx : Hanya orang cerdas yg bisa memilah dan menterjemahkan ,mengerti yg tertulis dalam kitab2 konteks saat itu , dan menerapkan di jaman modern ini!!

Danz Suchamda : Maka jelaslah sudah ...bahwa pembodohan dan pendangkalan umat adalah cara Setan untuk membajak perahu Tuhan? (Baca TS kemaren).

Mohawk Bronx : Pasti!! PEMBODOHAN adalah kerja nyata Iblis yg cerdas utk membinsa!Kan manusia dengan segala macam tipu daya, dusta, karena IBlis adalah Raja Dusta!!
---

DISKUSI 6

Fery Setyanto : Analisanipun Manteb mbah suwun.....rahayu3.

Danz Suchamda : Bukan analisa!
Tahukan anda apa analisa itu?

Fery Setyanto : mgkn sy slh tulis maksudnya pencerahan jenengan sae dan sy setuju....ngapunten klo sy kliru comentnya....rahayu.

Danz Suchamda : Nah, mau gunakan istilah bahasa sebaiiknya tahu benar apa yang digunakannya. Salah komunikasi itu bisa sangat berbahaya / merusak. Tidak perlu terlihat canggih2an. Saya menggunakan istilah yg sulit karena-- justru sebaliknya--, yaitu karena sulit / belum menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesianya -- termasuk aspek diksi bahasa, nuansa kultur, dsb. Saya ingin ketepatan (akurasi). Maka suatu keterpaksaan, bukan untuk keren-kerenan.

Menulis dalam page itu perlu efisiensi. Di tala utk segmen pembaca tertentu. Implikasinya mengorbankan / meninggalkan segmen tertentu yg tak akan mampu paham. Apa boleh buat? Oleh karena itu saya mengharapkan terjadi inisiatif estafet secara sukarela.

Segitu aja sering dikeluhkan kepanjangan. Bagaimana kalau tidak menggunakan padatan2 istilah? Bisa mbleber jadi panjang sekali.

Fery Setyanto : inggih mbah matur suwun koreksinya....semoga membuat sy lbh hati2 agar tdk menyinggung orang lain....suwun

Harry Yanto : Mohon koreksi mbah maksudnya adlh apa yang bisa digambarkan itu berarti bukan tuhan? Atau emboh mbah klo bingung nulise.....nuwon

Poedji Soesila : Insight atau Hidayah atau Hikmat diterima secepat cahaya, namun saat dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain bisa selambat matahari terbit hingga terbenam.. Memang demikianlah hukum naturenya..

Danz Suchamda@ Harry Yanto : Sudah pasti!
Menganggap apa yang bisa digambarkan sebagai Tuhan adalah IDOLATRY (musryik).

Danz Suchamda @Poedji Soesila : Banyak para spiritualis yang handal, tapi sedikit yg mampu membahasakannya dengan baik. Keterbatasan konsep2 bahasa, yang mana adalah akumulasi dari wawawasan pengetahuan aka. pendidikan akademis dan kecerdasan intelektual semata.

Danz Suchamda : Bila anda sebagai juru bicara sudah tentu perlu kemampuan verbal (mengelola bahasa). Tapi bila anda tipe penggembala, maka kesabaran, kemampuan berkorban, dan keteladanan akan jauh lebih dituntut. Bagi tugas saja. Karena memang Tuhan menghendaki sedemikian agar satu sama lain saling bergandiengan bahu-membahu, bukan dikuasai satu orang. Kehilangan makna nanti proses Penciptaan Manusia itu (bila memuja satu orang).

Poedji Soesila : Leres, Pak Danz.. Karena banyak, mohon maaf, beginner atau pemula yang ingin segera mengerti, memahami, menguasai tanpa laku, alias pragmatis, praktis, necis, klimis..
Selalu pengen tembak langsung:...

Danz Suchamda : Itulah diistilahkan "hijab" atau "tirai pembatas ke ruang Maha Suci (Holiest of the Holy)"

Poedji Soesila : By the way, HIJAB itu yang HARUS ditemukan sendiri oleh sang penciptanya, alias HaShatan (ego yang suka merengek-rengek).. Xixixi..

陈新 : Matursuwun mbah Danz... Sugeng enjang...Rahayu.

Danz Suchamda @Poedji Soesila : I don't think so that ego will ever find it.
---

DISKUSI 7

Urip Danu Wijoyo : ketika agama merupakan tafsir maka tafsir atasnya menjadi point sangat penting. Bagaimana agama/bahasa itu ditafsirkan. Kebenaran yg diajukannyapun tafsiriyah sifatnya, menjadi naif ketika hal tafsiriyah itu disikapi sebagai hal yg mutlak.

Agusadri : Rahayu Pak Danz.
Pencerahan yg cukup jelas menurut penangkapan saya, yg susah mengkomunikasikan kekomunitas saya.
Mungkin karma yg mereka miliki belum cukup untuk mencerna tulisan bapak.
Sejauh ini tulisan bapak saya rangkum lebih pendek untuk saya share kekomunitas.
Semoga suatu saat kesadaran mereka muncul dan bisa memahami.
Rahayu

Sukat Sukat : Tuhan bukan calo surga dan tuhan bukan tukang cuci dosa...
Engkau adalalah pelindung bagi dirimu sendiri dan pewaris dari setiap buah dari perbuatanmu sendiri...
Tajamnya bilah pisau bukan karena doa tp karena diasah..

Irawan Dias : Jleb

Mesih Andana : Nuwun romo Danz, kaberkahan senantiasa dari GUSTI kang murbeing dumadi

Jowo Joko Jowo : JD inget kata eyang siapa menguasai bahasa.. Rahayu romo

Dhani Christian : tentang 'malaikat' sgt mencerahkan.. matur suwun, rahayu!
Teguh Santoso : Rahayu Romo......penjelasan yg gamblang...terimakasih

Aan Susanto : Rahayu mbah Danz Suchamda greget yuk poro sedulur dimulai prakteknya
-------

DISKUSI 8

Wisnu Wardhana : Apakah pengunjung page yg sexy ini sadar bahwa seluruh page adalah juga terali "penjara"???

Mesih Andana : tergantung tamu, bila tamu kemudian terhipnotis oleh isi page ini dan lalu berhenti mengaji ya bisa jadi keterpenjaraan itu serasanya, berapa banyak pun individu tamu yg belajar melalui page inipun tanpa kemudian ada kesadaran kolektif plus untuk mengg...

Danz Suchamda : Jadi praxis boleh tapi jangan jadi theory.

Mesih Andana : jadi ingat...teorypun sejatinya tidak pernah baku...selalu berkembang ( hidup ) progresif tak berujung , semua berkat sang hidup itu sendiri....supaya kita tidak jalan ditempat / merasa sudah sampai...melainkan maju jalan.

Danz Suchamda : Benar. Tuhan itu Hidup, bukan sesuatu yang bisa dimatikan dalam rumusan.
Faqih EL Sentanu : Like this..., sangat mencerahkan.

Rahayu!

Rabu, 05 Juli 2017

Phi (3,14) & LAUHUL MAHFUDZ

Danz Suchamda

X : mas,sebenarnya rahasia apa t yang ada dalam deret fibonaci,angka tuhan,golden number,persegi panjang emas?

DS : Saya tanya dulu, maaf, agama anda apa mas? Saya harus menjelaskan dengan cara apa?

X : ktp islam mas
jelaskan apa adanya saja mas
dengan cara mase
asal tidak pakai bahasa linggis saja mas

DS :
Sederhananya begini : Tuhan menciptakan alam semesta itu dengan keteraturan matematis. Dari memahami pola matematis itu kita dapat melihat bahwa keteraturan alam semesta itu luar biasa dan dapat menguak berbagai pengetahuan yang berguna buat manusia. Banyak rahasia alam bisa tersibak.

Jadi kitab2 Torah/Bible, Veda, Tantra dsb termasuk yg di agama2 kuno itu sudah menyiratkan soal itu. Kalau anda bongkar kode2 di Bible (Bible ditulis dengan bahasa kode) maka akan ditemukan rahasia Pi, fibonacci, dsb itu. Ini jelas bukan buatan rekayasa manusia, karena otak manusia tidak akan mungkin nyampai utk mengatur semuanya itu dengan detil dan saling berkaitan secara sangat kompleks.

Pi itu adalah bilangan irrasional. Disebut irrasional karena angka desimal di belakang komanya terus menerus hingga tak terhingga.

Pi = 3.1415926535897932384626433832
795028841971693993751058209749445923078164062
862089986280348253421170679821480865132823066
470938446095505822317253594081284811174502841
027019385211055596446229489549303819644288109
756659334461284756482337867831652712019091456
485669234603486104543266482133936072602491412
737245870066063155881748815209209628292540917
153643678925903600113305305488204665213841469
519415116094330572703657595919530921861173819
326117931051185480744623799627495673518857527
248912279381830119491298336733624406566430860
213949463952247371907021798609437027705392171
762931767523846748184676694051320005681271452
635608277857713427577896091736371787214684409
012249534301465495853710507922796892589235420
199561121290219608640344181598136297747713099
605187072113499999983729780499510597317328160
963185950244594553469083026425223082533446850
352619311881710100031378387528865875332083814
206171776691473035982534904287554687311595628
638823537875937519577818577805321712268066130
019278766111959092164201989380952572010654858
632788659361533818279682303019520353018529689
957736225994138912497217752834791315155748572
424541506959508295331168617278558890750983817
546374649393192550604009277016711390098488240
128583616035637076601047101819429555961989467
678374494482553797747268471040475346462080466
842590694912933136770289891521047521620569660
240580381501935112533824300355876402474964732
639141992726042699227967823547816360093417216
412199245863150302861829745557067498385054945
885869269956909272107975093029553211653449872
027559602364806654991198818347977535663698074
265425278625518184175746728909777727938000816
470600161452491921732172147723501414419735685
481613611573525521334757418494684385233239073
941433345477624168625189835694855620992192221
842725502542568876717904946016534668049886272
327917860857843838279679766814541009538837863
609506800642251252051173929848960841284886269
456042419652850222106611863067442786220391949
450471237137869609563643719172874677646575739
62413890865832645995813390478027590...dst tak terhingga

Setiap angka itu dapat diubah menjadi sebuah huruf. Dan disitu setiap kombinasi angkanya menyertakan semua nama yang ada di semesta ini. Nama anda pun mungkin ada dalam salah satu potongan (chunks) di Pi tersebut. Itulah yg disebut Kitab Lauh Masfudz atau induk semua kitab dimana semua kata bahasa yang ada di alam semesta ini tertulis di dalamnya. Siapa koruptor dan siapa bukan, siapa yang sejatinya di pihak Tuhan dan siapa yang bukan, sudah tertulis disitu.
Perhitungan itu tidak dapat direkayasa manusia karena eksak. Walau mungkin ada juga nama-nama yg tak tertulis. Itulah yg berasal dari Other Side (sitra achra) atau Setan.

314 yang diambil dari 3 digit pertama Pi itu sendiri merupakan gematria dari Metatron, malaikat (archangel) tertinggi yang merupakan tangan kanan Tuhan berada di singgasanaNya, yang kalau di agama kamu mungkin disebut Hamalat al-'Arsy. Dan perhatikan juga merupakan bilangan dari Shaddai, salah satu nama untuk Tuhan semasa jaman Ibrahim sebelum revelasi nama YHVH.

Ibnu Arabi menghubungkan antara Lauh Mahfuz dan perkawinan mikro dan makrokosmos. Seperti yang sering dikatakannya, semua makhluk (al-khalq) diciptakan Tuhan (al-Haq) idealnya berpasang-pasan
gan (yin-yang), sebagaimana disebutkan, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.

X : kalow flower of life mas?

DS : ya itu pun digambar melalui rumus dari Pi, fibonacci, tsb. Bisa membentuk bidang-bidang geometri maupun bentuk-bentuk geometris yang merupakan bangunan penyusun dasar dari alam semesta. Itulah yg disebut Fractal. Dan kalau anda simak HP (handphone) anda pun sudah menggunakan teknologi fractal tersebut, antara lain di antena yg sangat kecil tapi bisa menerima berbagai macam gelombang frekwensi radio (gsm, sms, usb, wifi secara bersamaan). Demikian juga teknologi ini pada RFD card yg digunakan pada kartu2 debet atau ticketing, pengukuran kadar CO2 di muka bumi, deteksi penyumbatan jantung, hingga nano-teknologi, dsb.

Maka seperti tertulis, bahwa segala sesuatu yang ada di semesta ini adalah untuk memuliakan namaNya, yaitu melalui pengetahuan yang bertambah-tambah dan keindahan keragaman yang berwarna-warni.

Rahayu!

Senin, 03 Juli 2017

SURO DIRO DJAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI

SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Natkala pangarep-arep suwe jroning panganti,
Wus kagarit sahasra sesulih kadhapuk jroning babad,
Sanadyan sewu rupa wus imbal gumanti,
Sanadyan saben kawuryan beda werna,
Malah wujude tansah datan ajeg,
Tanapi ponang wektu tansah miyak sasab pangalinge.
Kalaning dewi candra praba sihe surem kalingan runguting wit-witan,
Sira tansah padha,
Milang tyas kang demeng lan blawu,
Kang ana jroning jaja pirang-pirang keti manusa.
Kala kartikaning adil rarem kalingan jaladara,
Sira tansah padha,
Sumusup jroning sukma kadhapuk dadi nata ingaurip,
Nyongok wateke manusa,
Nyebar bibit kesrakahan,
Jroning buntelan lelamisan,
Jroning gendhaga wicitra.
Nyecongok adnyana manusa,
Nuwuhake keserakahan,
Ing lemah paugeran,
Kang sira rabuk kinarya sesongaran.
Kalaning bagaskara bebener ambles lumebeng walike cakrawala,
Sira tansah padha,
Ndadekake batur manusa jroning angsane,
Njurung harda katumlak sajroning piangkah pribadya,
Saningga lila ndadekake bebanten watak kamanungsane.
Anaging ingsun,
Raden Dharma Yodha, tunas tarunaning bangsa,
Siyaga adilaga lumawan sira,
Wahai ... kadhakahan ...!
Wahai ... Ambek sura...!
Wahai ... kang demen cidra...!
Ponang Angkara Murka malaning ati,
Arep dak tujah sira,
Kinarya sanjata pangandel kang kenceng dak regem,
Amrih Nagringsun ruwat sangka cencangan wibawanira,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

TERJEMAHANNYA :
SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Buah Karya : Ki Dharma Yodha

Ketika pengharapan lama dalam penantian,
Telah tertoreh seribu pergantian peran dalam sejarah,
Walau seribu rupa telah berganti,
Walau setiap muncul berbeda warna,
Bahkan wujudpun selalu tak sama,
Tetapi sang waktu selalu menyibak tabirnya.
Ketika dewi rembulan sinar kasih sayangnya tampak redup dibalik pepohonan,
Kau selalu sama,
Menghitung hati yang hitam dan kelabu,
Yang ada di dalam dada berjuta-juta manusia.
Ketika bintang keadilan beristirahat dibalik awan,
Kau selalu sama,
Menyusup dalam sukma berperan sebagai raja kehidupan,
Kendalikan watak manusia,
Menebarkan benih ketamakan,
Dalam bungkus kebohongan,
Dalam kemasan pencitraan.
Kendalikan pikiran manusia,
menumbuhkan keserakahan,
Di tanah peraturan,
Yang kau pupuk dengan kepongahan.
Ketika mentari kebenaran tenggelam terbenam dibalik cakrawala,
Kau selalu sama,
Memperbudak manusia dalam ambisinya,
Mendorong keinginan terjerumus ke dalam keegoisannya,
Hingga rela korbankan sifat kemanusiannya.
Tetapi aku,
Raden Dharma Yodha, tunas muda bangsa,
Siap berperang melawanmu,
Wahai ... Ketamakan...!
Wahai ... Kepongahan...!
Wahai Keangkuhan...!
Sang Angkara Murka Penyakit Hati,
Akan kuterjang kau,
Dengan senjata keyakinan yang erat kugenggam,
Agar Negeriku bebas dari belenggu kuasamu,
“SORA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI”

Rahayu!

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...