Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Jumat, 03 Februari 2017
WALI 9 (RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU-JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA-NEGARA ISLAM DI NUSANTARA)
Banyak sekali fakta sejarah yang menarik untuk diungkit kembali. Sebagai kerajaan tua di tanah Jawa, Majapahit bukan saja menjadi ikon dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, tetapi juga bukti sejarah tentang PERGULATAN POLITIK (Internasional, Nasional dan Regional) yang terjadi di tengah proses Islamisasi pada masa peralihan, menjelang dan sesudah keruntuhannya.
Para sejarawan benar2 menguras energi untuk
mengungkap latar dan motif dibalik kehancuran
Majapahit. Tetapi sungguh amat disayangkan, belum banyak sejarawan yang mencurahkan perhatiannya pada peran orang-orang Cina Mongol (Yuan) dalam Islamisasi yang turut mengantar Majapahit ke ambang berakhir kejayaannya. Arus utama penulisan sejarah
masih dikuasai oleh kecenderungan untuk
menganggap Islam Nusantara sebagai derivat dari
Islam "Arab" -- varian Islam yang dianggap lebih
otentik dan "murni".
Prof. Slamet Muljana adalah salah satu di antara yang sedikit itu. Kegigihannya melacak asal muasal keruntuhan Majapahit, membawanya pada sebuah tesis penting tentang kontribusi muslim Mongol dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam dikawasan ini. Sebuah upaya yang jelas dan tak mudah dan (mungkin) tak populer. Betapapun kita tahu, tesis
yang telah lazim diterima oleh banyak sejarawan
menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah prototipe lain dari Islam yang berkembang di jazirah Arab.
Temuan Muljana membantah sekaligus mengkritik bahwa yang terjadi tidaklah demikian adanya. Berbagai anasir juga terlibat dalam proses tersebut sehingga Islam yang terbentuk di Nusantara, dan di Jawa pada khususnya,, bukanlah Islam yang "murni", melainkan Islam hibrida yang memiliki banyak varian.
Dalam konteks sejarah pasca-Majapahit, tidak mudah menebak alasan di balik dominannya konstruk Islam yang "Arab-sentris" itu. Tapi sedikitnya ada dua hal mendasar yang bisa dijadikan pijakan guna membaca asumsi ini lebih jauh : politik segregasi kolonial dan ideologi otentisisme Islam. Sejak meletus tragedi Chineezenmoord (pembantaian orang-orang Cina) di Batavia pada 1740, yang menyebabkan lebih dari 10.000 jiwa melayang orang-orang Cina disekap dan dikonsentrasikan pada titik-titik ghetto yang belakangan dikenal sebagai dengan "Pecinan".
Pengucilan ini, selain mengakibatkan retaknya
hubungan Jawa-Cina yang sebelumnya begitu
harmonis, juga memunculkan sentimen anti-Cina
dalam banyak hal, termasuk penulisan sejarah.
Puncaknya adalah saat rezim Orde Baru berkuasa,
ketika berbagai hal yang berbau Cina akhirnya
disingkirkan secara sistematis. Faktor kedua, ideologi otentisisme Islam, juga turut menyumbang pada penghilangan jejak sejarah Cina di Nusantara.
Ideologi ini, harus diakui, telah "memiskinkan" pengalaman Islam Nusantara yang sangat majemuk dan kaya nuansa. Pelenyapan ini tentu bukan tak disengaja. Di belakangnya ada sekian motif dan kepentingan politik yang turut bermain.
Dr. Asvi Warman Adam :
Pada tahun 1968, terbit buku Prof. Slamet Muljana, "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara." Buku ini dilarang oleh Kejaksaan Agung karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial pada waktu itu, yakni sebagian walisongo berasal dari Cina.
Tidak ada salahnya bila benar bahwa sembilan penyebar agama Islam itu dari Cina atau dari belahan dunia mana pun.
Yang menjadi persoalan adalah saat itu rezim ORBA telah menetapkan Cina sebagai musuh karena negara itu dituduh membantu G30S. pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Beijing, dan segala yang berbau Cina dilarang.
Pada era reformasi ini, ada baiknya pendapat Prof. Slamet itu dikaji ulang dengan pikiran yang lebih tenang.
Slamet Muljana membandingkan atau--lebih
tepatnya-- melakukan kompilasi terhadap tiga sumber, yaitu : Serat Kanda, Babad Tanah Jawi, dan naskah dari kelenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan dikutip Parlindungan.
Residen Poortman th.1928 ditugasi pemerintah
kolonial untuk menyelidiki apakah Raden Patah itu orang Cina. Raden Patah bergelar Panembahan
Jin Bun dalam serat kanda, dan Senapati Jin Bun dalam Babad Tanah Jawi. Kata jin bun dalam salah satu dialek Cina berarti "orang kuat". Maka, sang Residen itu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan mengangkut naskah berbahasa Tionghua yang ada disana -- sebagian sudah berusia 400 tahun - sebanyak tiga cikar (pedati yang ditarik lembu).
Arsip Poortman ini dikutip Mangaraja Onggang
Parlindungan yang menulis buku yang juga
kontroversial Tuanku Rao. Slamet Muljana banyak
menyitir buku ini.
Slamet menyimpulkan, Bong Swie Hoo -- yang datang di Jawa tahun 1445 -- sama dengan Sunan Ampel.
Bong Swie Hoo ini menikah dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan kapitan Cina di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahir Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang diasuh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.
Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Sie Cang yang menjadi kapitan Cina di Semarang. Tahun 1481, Gan Sie Cang memimpin pembangunan Mesjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga mesjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan2 kayu yang tersusun rapi. Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang
terbuat dari kayu yang utuh.
Akhirnya Slamet menyimpulkan, Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Sie Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Slamet Muljana adalah Toh A Bo, putra Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546).
Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik yang tak lain dari Jay Tik Siu.
-----------------------------
Pada tahun 1350 M, Rajasanagara (Hayam Wuruk)
sedang aktif-aktifnya menyatukan dan mengembangkan wilayah Nusantara. Di sekitar era yang sama pulalah Dinasti Yuan (Mongol) yang menjajah Cina Daratan sedang sibuk-sibuknya menguasai wilayah Nusantara, dan itu benar-benar menguras tenaga dinasti Yuan. Ini
pulalah tercatat dalam sejarah kita ketika pada
jamang Singosari, Kertanegara didatangi oleh utusan dari Cina (Cina-Mongol / Yuan) yang kemudian dipotongnya telinganya )utusan itu.
Th.1352, Zhu Yuanzhang (bangsa Han) mulai
melakukan pemberontakan terhadap bangsa Yuan.
Pada tahun 1356, ia berhasil merebut kota Nanjing
yang dikemudian hari menjadi ibukota kerajaan dinasti Ming.
Th.1357, mengetahui penarikan-penarikan dari tentara Yuan, Pajajaran Nagara (Perserikatan kerajaan2 yang tak pernah bernaung di bawah Majaraja-Majakerta) menyerbu basis militer Yuan yang ada di kota Gajah (pelabuhan militer di tepi sungai Bengawan Solo), dan kota Modo (gerbang militer basis pertahanan administrasi di kota Yungyang). Penyerbuan tertahan di kota Babad (Jatim). Pelemahan kekuasaan Yuan di Nusantara ini berkorelasi langsung dengan kondisi keruntuhan kekuasaannya di China daratan yang
direbut oleh Dinasti Ming.
Kekuasaan Mongol yang di tahun 1294 mencapai
puncaknya yg wilayahnya membentang dari Eropa Timur, bagian selatan Russia, Iran-Irak (wilayah Persia-Sumeria) hingga ke Timur sampai
semenanjung Korea, termasuk berusaha ke selatan menganeksasi India tetapi tidak berhasil, walau cukup berhasil mengubah kultur Hindu-Buddha di wilayah-wilayah barat India (sekarang Afghanistan, Pakistan). India sendiri terancam pembantaian besar-besaran oleh dinasti Moghul (Mughal). Tentu anda pernah mendengar kisah Syah Jehan. Salah satu dari 7 keajaiban dunia Taj Mahal, itulah salah satu buahnya.
Tetapi pergerakan bangsa Han untuk memerdekakan diri di China Daratan yang meruntuhkan hegemoni Yuan selama ratusan menyebabkan pasukan dari Kubilai Khan (turunan dari Jengis Khan) terpukul secara drastis pada pusatnya. Ini pulalah yg menyebabkan wilayah-wilayah vassalnya di berbagai belahan
dunia juga dipukul oleh gerakan2 kemerdekaan dari berbagai negeri tersebut. Sehingga sisa pasukan dan para panglimanya yang tersebar di berbagai wilayah dunia menjadi lontang-lantung kehilangan tanah pijakan. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa orang-orang Yuan itu berusaha menjadikan Nusantara sebagai basis pasukan selatan (Nan Yang) untuk memukul balik China Daratan (Dinasti Ming) dengan cara-cara perkawinan maupun propaganda hasutan2 membenci bangsa2 musuhnya.
Salah satu cara retaliasi mereka adalah dengan
meruntuhkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar China, termasuk meruntuhkan Majapahit dan Pajajaran, untuk kemudian menjadi penguasa-penguasa daerah untuk MEMBLOKADE jalur perdagangan darat "Jalur Sutera" maupun jalur perairan laut. Ini sungguh menghambat perdagangan China, India dsb, sehingga Kaisar Yung Le mengirimkan armada Ming yg dipimpin
oleh Laksmana Ceng Hoo untuk membersihkan rute-rute perdagangan itu dari gangguan keamanan.
Kondisi ketegangan antara Yuan dan Ming inilah yang mengawali upaya penghasutan kepada rakyat Nusantara untuk membenci etnis Cina (Han), India, Champa, Persia, Bule (barat) yang pada jaman sebelum-sebelumnya sangat harmonis dan terjadi akulturasi budaya melalui perdagangan ataupun perkawinan silang secara natural. Konflik internal dikalangan para Sunan sendiri, semisal Islam abangan dipelopori oleh Sunan Ampel dan yang garis keras (kiblat ke Islam Arab) dipromotori oleh Sunan Giri maupun Raden Samudera yang keturunan putri Blambangan dengan syekh Samudera Pasai (adik Syekh Ibrahim) yang dibuang kakeknya karena menolak diislamkan oleh menantunya itu ke seorang janda Islam kaya di Gresik. Hal ini memunculkan konflik internal di kalangan masyarakat Majapahit sendiri sehingga terjadi pengeroposan kohesi masyarakat, yang akhirnya pecah dalam perang besar (Paregreg) akibat serangan Pangeran Blambangan (Bhre Wirabumi) dari Kraton Timur ke Kraton Barat yang sangat melemahkan kekuatan Majapahit pada masa sesudahnya. Jadi keruntuhan Majapahit adalah akibat diadu-domba dikalangan para bangsawannya sendiri dengan iming-iming tahta, kuasa, harta, wanita yang tentu saja memberi angin 'surga' kepada mereka yang berambisi tinggi.
Topik yang relevan MAJAPAHIT, SEJARAH YANG DI SEMBUNYIKAN
Semoga Indonesia modern dimasa kini dapat memetik hikmah dari pelajaran sejarah ini.
Rahayu!
Note : Bila dirasa bermanfaat, mohon bantu share.
Terimakasih.
------------------------------------------
Note : Prof.Dr.Slamet Muljana memperoleh gelar BA
dari Universitas Gajah Mada 1950 dan MA dari
Universitas Indonesia 1952. Doktor Sejarah dan
Filologi dari Universitas Louvain, Belgia, tahun 1954,
serta menjadi profesor pada Universitas Indonesia
sejak tahun 1958. Selain itu ia juga pernah mengajar
di luar negeri, antara lain, Wolfgang Goethe Universitat
(Frankfurt, Jerman), State University of New York
(Albany, Amerika Serikat), dan Nanyang University of
Singapore (Singapura). Ia menyelidiki thesis yg
dituliskan dalam bukunya itu dikarenakan atas
perintah Presiden RI kita yang pertama, Ir.Soekarno,
untuk menyelidiki kenyataan sejarah Nusantara yang
obyektif diluar segala macam simpang siur
pembiasan politisasi yang terjadi sepanjang jaman.
SEJARAH SINGKAT POLITIK DUNIA
Tapi cobalah simak dengan kecerdasan cukup dari
perubahan2 wilayah geopolitk dari bangsa2 yang
saling bersaing ini.
Perhatikan peta kawasan Eropa dan Timur Tengah
pada kisaran permulaan masehi hingga kini.
Akan terlihat pertarungan kekuasaan antara
kekaisaran2 selama 2 millenia ini. Itu pulalah yang
menyebabkan munculnya politik dengan
menggunakan agama-agama.
Kalau anda jeli tentu paham apa yang saya maksud.
Dan tentu imbas pengaruh langsung maupun tidak
langsungnya kepada penduduk negeri nun jauh di
Nusantara ini.
Sehubungan dengan politik agama, maka bisa saya
tuturkan sebagai berikut :
- Masa sebelum masehi, dimana Yunani (jaman
Alexander the Great) menjajah Israel, maka disitu
pulalah ajaran Judaism mulai masuk ke Yunani dan
kitab2 diterjemahkan ke bahasa Yunani, disebut
Hellenistic Judaism.
Alexander the Great pula yang sampai ke India dan
mempengaruhi Buddhism sehingga membuat patung
Buddha dalam style Greeka.
Sebaliknya, pasukan Alexander the Great pula yang
membawa pemahaman Buddhism sampai ke Yunani
dan Alexandria (Mesir).
- Yunani dikalahkan kekaisaran Romawi, dan Israel jadi
provinsi jajahan Romawi dipimpin oleh Raja-vassal.
Agama asli Romawi adalah MIthraism. Timbul
benturan budaya (krn kepercayaan) antara Romawi
dan Yahudi. Orang yahudi mengadakan gerakan
kemerdekaan yg dilandasi semangat kedatangan
Messiah. Romawi kewalahan krn sudah lama sekali
tidak berhasil menundukkan orang Yahudi. Maka atas
taktik Dinasti Flavius yg saat itu berkuasa di Roma,
diciptakanlah kisah kabar angin bahwa Messiah sudah
datang dengan tujuan agar orang yahudi mau nurut.
Tapi apa boleh buat, yahudi tidak mau percaya.
Akibatnya Temple of Jerusalem dihancurkan pada
67CE oleh Kaisar Titus. Orang yahudi mulai diaspora
ke seluruh bagian dunia.
- Tapi pada masa itu, kekaisaran Romawi mulai surut
kekuasaannya. Kabar2 angin tentang datanya
Messiah itu menjadi gerakan semangat baru di areal
tersebut. Muncul banyak aliran kekristenan (Greeka,
Koptik, Orthodox, Roman, dsb). Yg menjadi terbesar
sekitar abad ke-2 adalah Orthodox Christianity yg
berpusat di Konstantinopel. Maka di atas Temple of
Jerusalem itu didirikan Gereja Byzantium.
Dan percaturan politik antar aliran kristiani sangatlah
sengit. Sampai pada puncaknya yaitu 325 Masehi,
yaitu Konsili Nicea dimana doktrin Trinitas menang.
Saat itulah Yesus dituhankan. Timbul konflik keras
antara Romawi dengan Byzantium.
- Tapi Byzantium terlalu kuat, maka dibuatlah pasukan
dari selatan agar bisa menghantam Byzantium dari
selatan. Diprovokasilah bangsa arab oleh Romawi
sehingga muncul kebangkitan nasionalisme arab,
tentu dengan topeng2 religius sama seperti pola yg
digunakannya di Romawi. Muncullah gerakan Islam.
Disitulah ditanamkan doktrin2 kebencian terhadap
yahudi. Agar dikemudian hari bisa mengejar dan
membunuh yahudi yang sudah tersebar ke seluruh
dunia.
Tujuan Romawi adalah menciptakan pasukan bayaran
agar bisa menghantam Byzantium dan merebut
Jerusalem utk diserahkan kepada Roma.
- Pada saat yg sama dinasti Sassanid dari Persia
berhasil menguasai wilayah Byzantium. Itulah yang
disebut Neo-Persian Empire.
- Rencana Romawi semakin bulat untuk menggunakan
tentara bayaran ciptaan mereka menyerang Persia.
Bangsa Persia menganggap remeh, tapi alangkah
diluar dugaan ternyata dengan cepat bangsa Arab
berhasil menaklukan Persia yg beragama
Zoroatrianism. Darimanakah jumlah pasukan Islam yg
besar itu? Tiada lain adalah dari taktik "maju satu
jengkal konversi atau bunuh" sehingga orang-orang
Persia lebih memilih konversi karena pada dasarnya
ajarannya mirip. Hal ini membuat Romawi terkejut.
Alangkah diluar dugaan ternyata kekuatan baru arab
ini sangat cepat menjadi besar dan tidak mau tunduk
pada tuannya. Kekuasaan mereka semakin besar
bahka mengancam hegemoni Romawi yang pernah
menjadi kekuatan Adi Daya di wilayah tersebut.
Bangsa underdog terpencil yg tak diperhitungkan tiba-
tiba bisa menaklukan Persia.
- Wilayah tersebut dikuasai oleh pasukan Islam.
Akibatnya menghambat jalur perdagangan orang-
orang Eropa. Pada khususnya, orang2 kristiani Eropa
yang hendak ziarah ke Jerusalem sering dirampok
oleh orang-orang arab. Oleh karena itu dibentuklah
pasukan dari Ordo Templar. Ini berlanjut hingga
terkenal sebagai perang salib.
- Pada saat itu, Mongol yg sedang jaya2nya hendak
menguasai dunia di bawah Jengis Khan, melihat
bahwa strategi islam ini sangat efektif. Maka jadilah
bangsa Mongol satu2nya bangsa yang secara
SUKARELA masuk islam.
Dengan keperkasaan di pasukan fisik dan strategi
religiusnya yg baru ini, maka Mongol sempat
menguasai daerah dari Asia tengah hingga Eropa
Timur.
- Penguasaan Mongol di perairan asia tenggara
khususnya di Nusantara ini bertujuan memutus jalur
perdagangan antara negeri-negeri timur (China,
Jepang, dsb) dengan daerah asia barat. Oleh karena
itu Kekaisaran China mengirimkan utusan dan
pasukan beberapa kali ke Nusantara seperti tercatat
dalam sejarah Singosari, dan Majapahit.
- Kemunduran kekaisaran Mongol karena berhasil
dikalahkan di pusat kekuasaannya yaitu di daratan
China manakala dinasti Ming berhasil
mengalahkannya dan mengusirnya.
Pasukan Mongol yang berkeliaran ini kehilangan
teritori kekuasaan, sehingga berusaha menyusun
kekuatan kembali untuk menghantam China daratan.
Disinilah ia masuk ke Nusantara utk membangun
pasukan selatan itu. Dihasutlah penduduk Nusantara
utk masuk ke pihaknya serta menanamkan doktrin
kebencian kepada golongan China yg sebetulnya
sudah eksis dari semenjak jaman Sebelum Masehi di
Nusantara.
Baca buku Prof.Dr.Slamet Muljana, seorang guru
besar sejarah UI yg meneliti itu untuk disertasinya.
Dituliskan dalam format buku umum berjudul :
"RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU-JAWA DAN
TIMBULNYA NEGARA-NEGARA ISLAM DI
NUSANTARA"
- Sampai akhirnya kekaisaran Ottoman Turki yang
wilayahnya dari Eropa timur hingga afrika utara. Pada
perang dunia I, Turki kalah perang dengan tentara
sekutu. Wilayah kekuasaan jajahannya diambil oleh
sekutu dan kemudian dibagi-bagi. Inilah yg terkenal
dengan Perjanjian Balfour 1917, dimana wilayah tak
bertuan Palestina dibagi menjadi 2 areal : sebelah
timur utk orang yahudi, sebelah barat utk orang arab
(yg sekarang bernama Jordan).
perubahan2 wilayah geopolitk dari bangsa2 yang
saling bersaing ini.
Perhatikan peta kawasan Eropa dan Timur Tengah
pada kisaran permulaan masehi hingga kini.
Akan terlihat pertarungan kekuasaan antara
kekaisaran2 selama 2 millenia ini. Itu pulalah yang
menyebabkan munculnya politik dengan
menggunakan agama-agama.
Kalau anda jeli tentu paham apa yang saya maksud.
Dan tentu imbas pengaruh langsung maupun tidak
langsungnya kepada penduduk negeri nun jauh di
Nusantara ini.
Sehubungan dengan politik agama, maka bisa saya
tuturkan sebagai berikut :
- Masa sebelum masehi, dimana Yunani (jaman
Alexander the Great) menjajah Israel, maka disitu
pulalah ajaran Judaism mulai masuk ke Yunani dan
kitab2 diterjemahkan ke bahasa Yunani, disebut
Hellenistic Judaism.
Alexander the Great pula yang sampai ke India dan
mempengaruhi Buddhism sehingga membuat patung
Buddha dalam style Greeka.
Sebaliknya, pasukan Alexander the Great pula yang
membawa pemahaman Buddhism sampai ke Yunani
dan Alexandria (Mesir).
- Yunani dikalahkan kekaisaran Romawi, dan Israel jadi
provinsi jajahan Romawi dipimpin oleh Raja-vassal.
Agama asli Romawi adalah MIthraism. Timbul
benturan budaya (krn kepercayaan) antara Romawi
dan Yahudi. Orang yahudi mengadakan gerakan
kemerdekaan yg dilandasi semangat kedatangan
Messiah. Romawi kewalahan krn sudah lama sekali
tidak berhasil menundukkan orang Yahudi. Maka atas
taktik Dinasti Flavius yg saat itu berkuasa di Roma,
diciptakanlah kisah kabar angin bahwa Messiah sudah
datang dengan tujuan agar orang yahudi mau nurut.
Tapi apa boleh buat, yahudi tidak mau percaya.
Akibatnya Temple of Jerusalem dihancurkan pada
67CE oleh Kaisar Titus. Orang yahudi mulai diaspora
ke seluruh bagian dunia.
- Tapi pada masa itu, kekaisaran Romawi mulai surut
kekuasaannya. Kabar2 angin tentang datanya
Messiah itu menjadi gerakan semangat baru di areal
tersebut. Muncul banyak aliran kekristenan (Greeka,
Koptik, Orthodox, Roman, dsb). Yg menjadi terbesar
sekitar abad ke-2 adalah Orthodox Christianity yg
berpusat di Konstantinopel. Maka di atas Temple of
Jerusalem itu didirikan Gereja Byzantium.
Dan percaturan politik antar aliran kristiani sangatlah
sengit. Sampai pada puncaknya yaitu 325 Masehi,
yaitu Konsili Nicea dimana doktrin Trinitas menang.
Saat itulah Yesus dituhankan. Timbul konflik keras
antara Romawi dengan Byzantium.
- Tapi Byzantium terlalu kuat, maka dibuatlah pasukan
dari selatan agar bisa menghantam Byzantium dari
selatan. Diprovokasilah bangsa arab oleh Romawi
sehingga muncul kebangkitan nasionalisme arab,
tentu dengan topeng2 religius sama seperti pola yg
digunakannya di Romawi. Muncullah gerakan Islam.
Disitulah ditanamkan doktrin2 kebencian terhadap
yahudi. Agar dikemudian hari bisa mengejar dan
membunuh yahudi yang sudah tersebar ke seluruh
dunia.
Tujuan Romawi adalah menciptakan pasukan bayaran
agar bisa menghantam Byzantium dan merebut
Jerusalem utk diserahkan kepada Roma.
- Pada saat yg sama dinasti Sassanid dari Persia
berhasil menguasai wilayah Byzantium. Itulah yang
disebut Neo-Persian Empire.
- Rencana Romawi semakin bulat untuk menggunakan
tentara bayaran ciptaan mereka menyerang Persia.
Bangsa Persia menganggap remeh, tapi alangkah
diluar dugaan ternyata dengan cepat bangsa Arab
berhasil menaklukan Persia yg beragama
Zoroatrianism. Darimanakah jumlah pasukan Islam yg
besar itu? Tiada lain adalah dari taktik "maju satu
jengkal konversi atau bunuh" sehingga orang-orang
Persia lebih memilih konversi karena pada dasarnya
ajarannya mirip. Hal ini membuat Romawi terkejut.
Alangkah diluar dugaan ternyata kekuatan baru arab
ini sangat cepat menjadi besar dan tidak mau tunduk
pada tuannya. Kekuasaan mereka semakin besar
bahka mengancam hegemoni Romawi yang pernah
menjadi kekuatan Adi Daya di wilayah tersebut.
Bangsa underdog terpencil yg tak diperhitungkan tiba-
tiba bisa menaklukan Persia.
- Wilayah tersebut dikuasai oleh pasukan Islam.
Akibatnya menghambat jalur perdagangan orang-
orang Eropa. Pada khususnya, orang2 kristiani Eropa
yang hendak ziarah ke Jerusalem sering dirampok
oleh orang-orang arab. Oleh karena itu dibentuklah
pasukan dari Ordo Templar. Ini berlanjut hingga
terkenal sebagai perang salib.
- Pada saat itu, Mongol yg sedang jaya2nya hendak
menguasai dunia di bawah Jengis Khan, melihat
bahwa strategi islam ini sangat efektif. Maka jadilah
bangsa Mongol satu2nya bangsa yang secara
SUKARELA masuk islam.
Dengan keperkasaan di pasukan fisik dan strategi
religiusnya yg baru ini, maka Mongol sempat
menguasai daerah dari Asia tengah hingga Eropa
Timur.
- Penguasaan Mongol di perairan asia tenggara
khususnya di Nusantara ini bertujuan memutus jalur
perdagangan antara negeri-negeri timur (China,
Jepang, dsb) dengan daerah asia barat. Oleh karena
itu Kekaisaran China mengirimkan utusan dan
pasukan beberapa kali ke Nusantara seperti tercatat
dalam sejarah Singosari, dan Majapahit.
- Kemunduran kekaisaran Mongol karena berhasil
dikalahkan di pusat kekuasaannya yaitu di daratan
China manakala dinasti Ming berhasil
mengalahkannya dan mengusirnya.
Pasukan Mongol yang berkeliaran ini kehilangan
teritori kekuasaan, sehingga berusaha menyusun
kekuatan kembali untuk menghantam China daratan.
Disinilah ia masuk ke Nusantara utk membangun
pasukan selatan itu. Dihasutlah penduduk Nusantara
utk masuk ke pihaknya serta menanamkan doktrin
kebencian kepada golongan China yg sebetulnya
sudah eksis dari semenjak jaman Sebelum Masehi di
Nusantara.
Baca buku Prof.Dr.Slamet Muljana, seorang guru
besar sejarah UI yg meneliti itu untuk disertasinya.
Dituliskan dalam format buku umum berjudul :
"RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU-JAWA DAN
TIMBULNYA NEGARA-NEGARA ISLAM DI
NUSANTARA"
- Sampai akhirnya kekaisaran Ottoman Turki yang
wilayahnya dari Eropa timur hingga afrika utara. Pada
perang dunia I, Turki kalah perang dengan tentara
sekutu. Wilayah kekuasaan jajahannya diambil oleh
sekutu dan kemudian dibagi-bagi. Inilah yg terkenal
dengan Perjanjian Balfour 1917, dimana wilayah tak
bertuan Palestina dibagi menjadi 2 areal : sebelah
timur utk orang yahudi, sebelah barat utk orang arab
(yg sekarang bernama Jordan).
Kamis, 02 Februari 2017
BE YOUR OWN LIGHT ( JADILAH CAHAYA BAGI DIRIMU SENDIRI )
Danz Suchamda
BE YOUR OWN LIGHT
(JADILAH CAHAYA BAGI DIRIMU SENDIRI)
Sebetulnya, bila ingin menuliskan lengkapnya adalah
begini "Be your own light to yourself to find
humbleness". "Jadilah cahaya bagi dirimu sendiri
untuk menemukan kerendahan hati".
Saya rasa, semua agama / ajaran spiritual pada
umumnya akan setuju bahwa kerendahan-hati
(bedakan dengan rendah-diri yg artinya minder),
adalah suatu jalan untuk mencapai keberhasilan
spiritualitas. Tapi sayangnya yang terjadi justru
sebaliknya. Nah, tulisan saya kali ini hendak
membedah persoalan ini.
Seperti kita ketahui bahwa pada umumnya ajaran2
rohani selalu menekankan pentingnya kerendah-hatian
. Karena kerendah-hatian adalah suatu sikap
mengalahkan ego. Dimana ego selalu adalah sentral /
sumber-permasalahan dari segala macam problema
yg dibicarakan dalam spiritualitas. Dan ego itu
mendapat nama / istilah khusus dalam alkitab yaitu
Setan (HaSatan). Akan tetapi sayangnya yang banyak
terjadi adalah suatu peniruan mekanis atau upaya diri
untuk menjadi rendah hati. Dengan kata lain ,
mengeraskan ego untuk mengalahkan ego. Tentu saja
ini adalah hal yang musykil, bagaikan anjing yang lari
berputar-putar untuk menggigit ekornya sendiri. Suatu
hal yang tidak mungkin akan berhasil. Oleh karena itu,
kepada para pemula digunakan 'jembatan keledai'
berupa obyek (sosok) diluar dirinya yang disebut
"Tuhan" ataupun "Dewa" dsb. Dengan cara itu, maka
ego si praktisi diarahkan untuk diletakkan dibawah
suatu stratum yg ditinggikan di atas dirinya.
Sayangnya, banyak yang melakukan itu dengan buta.
Artinya, tidak memahami bagaimana gerak-gerik /
lipatan batin yg sesungguhnya terjadi di dalam proses
penundukan ego tersebut. Walhasil, seseorang
mengandalkan cahaya dari orang lain untuk
menunjukkan kepadanya dimana tempat yg rendah
itu. Karena kebutaannya maka ia tidak tahu bahwa
tempat yg "rendah" itu adalah tinggi (maklum buta).
Dan orang yg anda andalkan untuk memberitahu anda
itu PUN melakukan hal yg sama melalui pengandalan
pada generasi2 yg sebelumnya....yg bila ditarik
alurnya akan bersumber dari si tokoh pertama sentral
dari agama / ajaran spiritualitas itu.
Andaikata, proses pencelikan mata itu terjadi secara
generasi ke generasi tanpa terputuskan maka tidak
akan terjadi kebutaan itu. Karena setiap generasi pasti
ada yang menjadi "mata" bagi angkatannya. Akan
tetapi proses sejarah yg kompleks, seringkali
menjadikan estafet tersebut terputus. Walhasil, yg
terjadi adalah fenomena orang buta menuntun orang
buta, walaupun semuanya selalu berteriak
"Cahaya...cahaya...."
Semua berteriak jargon "merendahkan diri", "berserah",
"tawakal", "ikhlas", dsb tapi pada dasarnya hanyalah
slogan kosong. Ketika ditegur kawannya bahwa kursi
yang didudukinya itu terlalu tinggi maka ia segera
marah dan mengatakan bahwa tempatnya adalah
paling rendah. Jadi sebuah ironi "kerendahan yang
tinggi-hati". Itulah yg terjadi!
Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah yang
rendah dan apakah yang tinggi, seseorang harus
melihatnya langsung melalui mata batinnya yang
sudah dicelikkan (disembuhkan dari kebutaannya).
Dengan melihat, ia tidak perlu berteori. Ia dapat
menilai sendiri secara otomatis tanpa perlu petunjuk
dari orang lain / buku. Seperti anda melihat buah jeruk
sekejap saja, tentu jauh lebih paham daripada
bervolume2 buku penjelasan tentang jeruk tanpa
pernah melihatnya. Itulah yang saya maksudkan
sebagai "Jadilah cahaya bagi dirimu sendiri". Yang
mana artinya adalah direct understanding
(pemahaman langsung) tentang segala fenomena
(Note : fenomena = dharma (sanskrit); non-
phenomena = adharma).
Tetapi saya tahu, beberapa di antara saudara pasti
protes dengan menuduh saya bahwa statement itu
berarti menuhankan diri atau bahkan
"atheis" (pandangan tiadanya Tuhan). Tunggu dulu!
Bagi seorang buta, maka apa yg disebut sebagai
"Tuhan" itu tiada lain hanyalah bayangan mental
intelektualnya sendiri. Tapi bukan Tuhan pada dirnya
sendiri (God as it is). Kebutaannya menghalanginya
untuk mendapatkan pemahaman langsung (jnana). Di
Islam kebutaan ini disebut 'hijab' atau tirai. Di sufism
disebut sebagai 'dinding jalal'. Tentu adalah absurd
untuk memerintahkan orang buta dapat melihat.
Sementara perintah itu tertulis turun temurun dalam
kitab sucinya. Sehingga pada akibatnya, yang terjadi
adalah seseorang hanya mendengar dari apa yg
dikatakan oleh pihak lain tentang melihat. Dan
kebutaannya menyebabkan dia beranggapan telah
melihat (padahal cuman mendengar dari pihak lain).
Oleh karena itu, sistem keorganisasian yg bersifat
hirarki. Menempatkan satu orang diatas orang lain
DALAM URUSANNYA DENGAN TUHAN (ini banyak yg
kepleset juga, lalu menuntut sama rasa sama rata.
Komunis donk?). Dimana pihak Ulama dianggap lebih
berhak mendikte apa yg dilakukan oleh orang di
bawahnya. Ini sendiri adalah hal yang dikritik oleh
semangat Alkitab (Bible) maupun ajaran2 yg bersifat
Dharmic (jangan bandingkan dengan kenyataannya di
lapangan yg tentu sudah mengalami dekadensi).
Tuhan hanya satu bagi seluruh bangsa. Dan tiap-tiap
insan manusia harus memiliki hubungan pribadinya
masing2 dengan Tuhannya langsung. Tanpa
perantara. Tidak melalui imam ataupun ulama. Imam
atau ulama hanyalah perangkat keorganisasian
duniawi, tapi tidak berhak mendikte kata hati orang.
Jadi dengan kata lain,....ideal ketauhidan (Echad /
ESA) barulah bisa tercapai apabila MASING-MASING
ORANG MAU MENJADI CAHAYA BAGI DIRINYA
SENDIRI. Yaitu manakala tiap hati mau mendengar /
melihat / membaca (Iqra) realitas yang digelar Tuhan
dihadapannya langsung. Kitab hanya sebagai alat
pandu, tapi GURUNYA adalah TUHAN LANGSUNG ke
HATI dan PIKIRANMU. Hubungan langung bahasa
Ibraninya adalah "Yashar". Dan Tuhan dalam bahasa
Ibraninya adalah "El". Maka setiap insan yang memiliki
hubungan langsung dengan Tuhannya dapat disebut
YasharEl atau lebih umum disebut YishraEl atau
Israel. Jadi, Israel bukanlah sekedar nama suku yg
tinggal di suatu wilayah Mediteran sana, melainkan
sebutan bagi kaum (dari bangsa-bangsa apa pun) yg
memiliki hubungan langsung dengan Tuhan!
Disinilah suatu kelucuan terjadi...banyak yg
menanyakan persoalan ini di inbox yg mengeherankan
mengapa banyak kemiripan atau minimal kesearahan
antara Kawruh Jawa dan ajaran Israel? Ada yg
menanyakan apakah zaman dulu terjadi migrasi dari
sana ke sini (atau sini ke sana)? Saya belum
menyelidiki karena pemuasan intelekutal semata
semacam itu sangat kecil manfaatnya. Tetapi melalui
penjelasan di atas tentu anda sudah bisa
menyimpulkan jawabannya : kesamaan / kemiripannya
jelas terjadi karena SAMA-SAMA MENEMPUH
HUBUNGAN LANGSUNG KE TUHAN! Yang kalau di
Nusantara ini rumusannya terungkap dalam istilah
BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA
MANGRWA , yang kemudian di masa pasca
kemerdekaan NKRI dirumuskan dalam semangat
PANTJA SILA !
Demikian juga anda akan menemukan kesamaan
kemiripan pada tradisi2 di berbagai belahan bumi yg
lainnya! Fenomena (Dharma) itu dimana-mana sama.
Dari beberapa ratus ribu tahun yang lama, manusia
Homo Sapiens ini masih tetap menempati bumi yg
sama....live in one reality called EARTH ! (Entah kalau
ada dharma dari planet Klingon dimana kuda
makannya besi...haha)
Akan tetapi, bagi yang masih setengah matang atau
buram-buram belum mendapat keahlian langsung
untuk merealisasi hal ini secara langsung, maka
pengaruh akal pikiran (konsep) akan selalu menjadi
pengotor (pollutant) / pengganggu (distractor)
sehingga disini diperlukanlah suatu peran senioritas.
Disinilah sebenarnya letak dan peran mengapa para
Imam dan Ulama itu ada : kematangan hasi
realisasinya yg dibutuhkan. Dimana juga berfungsi
sebagai buffer, stabilisator dan pemersatu para
praktisi lain yg lebih yunior sekaligus intermediator
kepada kelompok diluarnya.
Meskipun demikian, melalui hubungan langsung
dengan Tuhan, maka sikap reflektif dan introspektif ini
akan memampukannya untuk --setidaknya secara
konseptual-- meraba-raba apa yang sejati dan apa
yang palsu. Termasuk apa 'kerendahan' maupun
'ketinggian' yang nyata. Dengan bekal sikap
introspektif dan kerendahan hati ini maka otomatis
akan tercipta suatu kemenyatuan (cohesiveness) yang
mengarah pada Unity. Jadi tanpa peran Imam secara
formal pun dalam setiap situasi sosial yang terdiri dari
beberapa orang yg berbeda-beda pun otomatis akan
bisa membentuk suatu kemenyatuannya
(cohesiveness) nya sendiri. Dan ini adalah dinamika
pengajaran Tuhan secara langsung dari DiaNya
sendiri.
Ini adalah posisi TENGAH antara ekstrim
individualisme dan ekstrim komunalisme.
Posisi TENGAH antara ekstrim kebebasan dan ekstrim
kekakuan hukum.
Posisi TENGAH antara ekstrim eternalisme dan
ekstrim nihilisme.
Oleh karena itu, kita bisa melihat mengapa bangsa
Israel sangat menghargai kebebasan individu tetapi
tetap kohesif sebagai sebuah kelompok yang sukses
melestarikan jatidiri leluhurnya dengan tetap mampu
mengadaptasikannya dengan kekinian modernitas.
Tetap cerah ceria tetapi tidak kebablasan. Tetap
penuh kasih dan nurture tetapi tidak menjadi lemah.
Tulus tapi tidak dungu (cerdik)......Walau tentu Sang
Penghasut (Setan) selalu berupaya untuk
menjatuhkan manusia sehingga menjadi batu
sandungan bagi yang lainnya. Maka jangan heran bila
pernyataan-pernyataan indah diatas selalu tidak
pernah ideal. Cacat-cela itu selalu akan ada selama
manusia belum menjadi utuh (integritas). Dan PUN
harus diingat bahwa bukan kecacatan yg harus
dihindari (secara paksaan / artifisial), melainkan suatu
keniscayaan sebuah proses pembentukan dari Sang
Illahi sendiri....untuk ku dan untuk mu belajar.
Semua yang saya jelaskan disini , sebetulnya
terangkum dalam syahadat ini :
SHEMA ISRAEL, ADONAI ELOHEINU, ADONAI ECHAD.
Terjemahan bebasnya gini :
SHEMA ISRAEL
Simak (Iqro) hai engkau yang memiliki hubungan
langsung dengan Tuhan
ADONAI ELOHEINU
Kata 'Adonai' digunakan untuk melisankan kata
'YHVH' yg tidak boleh disebut (maka ada perintah
"Jangan sebut nama Tuhanmu dengan sembarangan).
Kadang tidak digunakan kata 'Adonai', melainkan
'Hashem' (The Name) khususnya dari para yahudi yg
berasal dari negara2 tetangga timur tengah. 'Elohim"
juga nama Tuhan.
Jadi apa bedanya?
YHVH adalah transenden. Elohim adalah HaOlam ,
yang imanen.
Jadi ADONAI ELOHEINU artinya 'Yang Transende dan
Yang Imanen"...."Yang melampaui segala sesuatu
tetapi juga sekaligus hadir disini kini".
ADONAI ECHAD
'Adonai' spt penjelasan di atas
ECHAD itu artinya Maha Esa.
Dan manakala SETIAP orang dapat melihat secara
langsung, tahu tanpa berteori, menilai tanpa perlu
petunjuk orang lain / buku; maka itu adalah kondisi
yang ada pada Yerusalem Baru (New Jerusalem).
Yerusalem berasal dari bahasa Ugaritic : Ursalimmu
kemudian secara Greeka disebut Hiero Soluma. Hiero
artinya sacred dan Soluma (Shalom) artinya utuh /
whole / tamim. (Wahyu 21:1-7)
21 :11 Jerusalem turun dari langit // Apakah yang
dimaksud turun dari langit? Itulah yang kukatakan
padamu.
21:15 Tongkat pengukur. // Apakah tongkat pengukur
itu? Itulah yang kukatakan padamu.
21: 24 Dan tiap bangsa akan berjalan dalam
cahanaya // Apa maksudnya cahanya? Setiap bangsa?
21: 25 Dan pintu2 gerbangnya tidak akan ditutup.
Tidak ada lagi malam. // Semua bisa mengakses
kapan saja. Tidak ada lagi kegelapan batin.
22:5 Dan malam tidak ada lagi disana, dan mereka
tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya
matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi
mereka // Itulah yang kukatakan bahwa setiap orang
akan diterangi oleh cahaya Intelligence (Budhi) yang
telah menjadi terang dalam dirinya masing-masing
menjadi penuntun hidup masing2. Tidak perlu lagi
bantuan orang lain dan kitab (lampu dan matahari).
Persoalan memahami Revelasi ini adalah manakala
"ITU" dimatikan dalam sebuah sosok individu. Yang
akhirnya selalu menjadikan mencari diluaran. Menatap
langit dengan mata daging untuk menanti-nanti. Gagal
paham untuk mencari dengan mata batin menghadap
ke langit dalam. Gagal paham karena
"YHSh" (HaMoshiach) dalam PL dikooptasi secara
maknawiahnya. Jadi disini saya bicara Original
Messiach, bukan the simulacra ataupun the
simulation of Messiah.
Bagaiman caranya merealisasikan semua itu?
Self Inquiry. Mengenal diri. Mengenal diri bukan
berarti diri ini sebagai batu penjurunya, tapi mengenali
diri untuk mengenali yang palsu. Dengan demikian
melampaui. Saya maklum kalau dari kamus ego, kata
mengenali ini berhubungan dengan kata menguasai /
mendapat keuntungan. Seperti mengenali seorang
perempuan yg ditaksir artinya si ego ingin
memilikinya. Tetapi KASIH tidaklah seperti itu, karena
Kasih yg sejati mengenali untuk melampaui yg palsu
menggapai yg sejati 'dibelakang'nya (kualitas yg tak
terlihat). Maka dikatakan tidak ada pernah ada Kasih
yang terpisah (dipisahkan) dengan WISDOM (hikmat).
Dan bagaimana mencapai WISDOM? Tiada lain adalah
melalui mengenali sifat / nature dari batin itu sendiri
(khususnya pikiran), yg tiada lain hanya bisa diakses
langsung melalui : MEDITASI !
Melalui meditasi engkau akan mengenali siapa yang
selalu mengetuk-ketuk pintu hatimu melalui
kegalauan, kecemasan, kebimbangan, dsb. Siapa
yang terkadang memenuhi hati dan pikiranmu dengan
kepenuhan air kehidupan yang terang dan sejuk?
Carilah maka kau akan menemukan. Ketuklah maka
pintu akan dibukakan. Itulah artinya menjadi cahaya
bagi dirimu sendiri. Cahaya itu bukan kamu, tetapi
yang menyinari kamu. Menjadikan kamu hidup,
mampu mengenali rasa, pikir dan segala sesuatunya.
Kalau kalian tidak memiliki pengertian iman yang
paling mendasar ini...entahlah saya tidak tahu harus
berkata apa lagi.
Begitulah cukup yg perlu saya sampaikan dalam tema ini.
"Caesar Ibe : Tanpa agama pun, seseorang bisa yg
mengengenal TUHAN !!!
"Danz Suchamda : Inilah yg sesungguhnya. Tapi
manusia memang bebal, selalu mengulangi kesalahan
yg sama berkali-kali sepanjang zaman.
Mungkin akan ada yg membantah, "Ohh tidak betul
itu, zaman waktu itu juga ada Sanhedrin...dst dst".
Benar.
Tapi kita manusia selalu hanya mampu meniru
cangkang luarnya saja. Tidak memahami esensi
makna hakikatnya.
Institusi memang diperlukan.
Diperlukan untuk apa?
- untuk mengorganisir agar orang bisa belajar /
melatih diri secara optimal.
- mewadahi agar orang bisa saling asih-asah-asuh.
Tahu kepada siapa kalau hendak menimbah
pengetahuan / tauladan.
- mempreservasi (melestarikan) aset2 yg dalam bentu
material maupun non-material (budaya, oral teaching,
dsb).
Tetapi, semua itu hanyalah PRASARANA.
Seringkali manusia terjatuh menjadikan institusi itu
TUJUAN. Itu artinya pemberhalaan. Penyekutuan sang
Khalik dengan yg bukan, karena sudah memutakkan
yang tidak mutlak.
Kedua,
Apakah struktur penempatan personel2nya sudah
memenuhi persyaratan : bahwa yang diatas adalah
yang lebih bijak dan tercerahkan batinnya? Tanpa itu
hanya akan terjadi fenomena si buta menuntun oang
buta.
Ketiga,
Apakah institusi itu menjadi penghalang , atau
mewakili, atau mengkooptasi bahkan memanipulasi
hati nurani masing-masing insan yang mendapat
pengajaran langsung dari Tuhannya?
Ilustrasi visualisasi dengan simbolisme
"PENGGEMBALAAN" itu sudah tepat. Karena
menggembalakan artinya berbeda dengan
mengandangi atau merantai atau membelenggu!
Dalam penggembalaan tidak ada pemaksaan,
ancaman, penakut2an apalagi kekerasan (fisik,
verbal, maupun psikologis/sosiologis).
Penggembalaan artinya hanya memantau dan
memperhatikan dari kejauhan dengan sikap sigap
untuk segera MENOLONG jika diperlukan oleh domba-
domba yang dibiarkan bebas di ladang kehidupan
untuk mencari / memilih makanannya sendiri. Domba-
domba itu akan belajar dari pengalamannya sendiri
melalui cahaya Hidup yang ada di dalamnya.
Keempat,
Seorang penggembala yang baik tentu akan bertemu
dengan penggembala2 lainnya di padang yg luas.
Manakala ia melihat seekor domba gembala lain yang
terjatuh ke dalam juram sempit diluar sepengetahuan
penggembalanya, maka ia tak segan menolongnya
keluar dari jepitan batu. Tetapi ia akan
membiarkannya kembali ke kawanannya, bukan
membawanya pulang ke kandang menjadi miliknya
sendiri. Itu namanya mencuri!
Rahayu!
BE YOUR OWN LIGHT
(JADILAH CAHAYA BAGI DIRIMU SENDIRI)
Sebetulnya, bila ingin menuliskan lengkapnya adalah
begini "Be your own light to yourself to find
humbleness". "Jadilah cahaya bagi dirimu sendiri
untuk menemukan kerendahan hati".
Saya rasa, semua agama / ajaran spiritual pada
umumnya akan setuju bahwa kerendahan-hati
(bedakan dengan rendah-diri yg artinya minder),
adalah suatu jalan untuk mencapai keberhasilan
spiritualitas. Tapi sayangnya yang terjadi justru
sebaliknya. Nah, tulisan saya kali ini hendak
membedah persoalan ini.
Seperti kita ketahui bahwa pada umumnya ajaran2
rohani selalu menekankan pentingnya kerendah-hatian
. Karena kerendah-hatian adalah suatu sikap
mengalahkan ego. Dimana ego selalu adalah sentral /
sumber-permasalahan dari segala macam problema
yg dibicarakan dalam spiritualitas. Dan ego itu
mendapat nama / istilah khusus dalam alkitab yaitu
Setan (HaSatan). Akan tetapi sayangnya yang banyak
terjadi adalah suatu peniruan mekanis atau upaya diri
untuk menjadi rendah hati. Dengan kata lain ,
mengeraskan ego untuk mengalahkan ego. Tentu saja
ini adalah hal yang musykil, bagaikan anjing yang lari
berputar-putar untuk menggigit ekornya sendiri. Suatu
hal yang tidak mungkin akan berhasil. Oleh karena itu,
kepada para pemula digunakan 'jembatan keledai'
berupa obyek (sosok) diluar dirinya yang disebut
"Tuhan" ataupun "Dewa" dsb. Dengan cara itu, maka
ego si praktisi diarahkan untuk diletakkan dibawah
suatu stratum yg ditinggikan di atas dirinya.
Sayangnya, banyak yang melakukan itu dengan buta.
Artinya, tidak memahami bagaimana gerak-gerik /
lipatan batin yg sesungguhnya terjadi di dalam proses
penundukan ego tersebut. Walhasil, seseorang
mengandalkan cahaya dari orang lain untuk
menunjukkan kepadanya dimana tempat yg rendah
itu. Karena kebutaannya maka ia tidak tahu bahwa
tempat yg "rendah" itu adalah tinggi (maklum buta).
Dan orang yg anda andalkan untuk memberitahu anda
itu PUN melakukan hal yg sama melalui pengandalan
pada generasi2 yg sebelumnya....yg bila ditarik
alurnya akan bersumber dari si tokoh pertama sentral
dari agama / ajaran spiritualitas itu.
Andaikata, proses pencelikan mata itu terjadi secara
generasi ke generasi tanpa terputuskan maka tidak
akan terjadi kebutaan itu. Karena setiap generasi pasti
ada yang menjadi "mata" bagi angkatannya. Akan
tetapi proses sejarah yg kompleks, seringkali
menjadikan estafet tersebut terputus. Walhasil, yg
terjadi adalah fenomena orang buta menuntun orang
buta, walaupun semuanya selalu berteriak
"Cahaya...cahaya...."
Semua berteriak jargon "merendahkan diri", "berserah",
"tawakal", "ikhlas", dsb tapi pada dasarnya hanyalah
slogan kosong. Ketika ditegur kawannya bahwa kursi
yang didudukinya itu terlalu tinggi maka ia segera
marah dan mengatakan bahwa tempatnya adalah
paling rendah. Jadi sebuah ironi "kerendahan yang
tinggi-hati". Itulah yg terjadi!
Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah yang
rendah dan apakah yang tinggi, seseorang harus
melihatnya langsung melalui mata batinnya yang
sudah dicelikkan (disembuhkan dari kebutaannya).
Dengan melihat, ia tidak perlu berteori. Ia dapat
menilai sendiri secara otomatis tanpa perlu petunjuk
dari orang lain / buku. Seperti anda melihat buah jeruk
sekejap saja, tentu jauh lebih paham daripada
bervolume2 buku penjelasan tentang jeruk tanpa
pernah melihatnya. Itulah yang saya maksudkan
sebagai "Jadilah cahaya bagi dirimu sendiri". Yang
mana artinya adalah direct understanding
(pemahaman langsung) tentang segala fenomena
(Note : fenomena = dharma (sanskrit); non-
phenomena = adharma).
Tetapi saya tahu, beberapa di antara saudara pasti
protes dengan menuduh saya bahwa statement itu
berarti menuhankan diri atau bahkan
"atheis" (pandangan tiadanya Tuhan). Tunggu dulu!
Bagi seorang buta, maka apa yg disebut sebagai
"Tuhan" itu tiada lain hanyalah bayangan mental
intelektualnya sendiri. Tapi bukan Tuhan pada dirnya
sendiri (God as it is). Kebutaannya menghalanginya
untuk mendapatkan pemahaman langsung (jnana). Di
Islam kebutaan ini disebut 'hijab' atau tirai. Di sufism
disebut sebagai 'dinding jalal'. Tentu adalah absurd
untuk memerintahkan orang buta dapat melihat.
Sementara perintah itu tertulis turun temurun dalam
kitab sucinya. Sehingga pada akibatnya, yang terjadi
adalah seseorang hanya mendengar dari apa yg
dikatakan oleh pihak lain tentang melihat. Dan
kebutaannya menyebabkan dia beranggapan telah
melihat (padahal cuman mendengar dari pihak lain).
Oleh karena itu, sistem keorganisasian yg bersifat
hirarki. Menempatkan satu orang diatas orang lain
DALAM URUSANNYA DENGAN TUHAN (ini banyak yg
kepleset juga, lalu menuntut sama rasa sama rata.
Komunis donk?). Dimana pihak Ulama dianggap lebih
berhak mendikte apa yg dilakukan oleh orang di
bawahnya. Ini sendiri adalah hal yang dikritik oleh
semangat Alkitab (Bible) maupun ajaran2 yg bersifat
Dharmic (jangan bandingkan dengan kenyataannya di
lapangan yg tentu sudah mengalami dekadensi).
Tuhan hanya satu bagi seluruh bangsa. Dan tiap-tiap
insan manusia harus memiliki hubungan pribadinya
masing2 dengan Tuhannya langsung. Tanpa
perantara. Tidak melalui imam ataupun ulama. Imam
atau ulama hanyalah perangkat keorganisasian
duniawi, tapi tidak berhak mendikte kata hati orang.
Jadi dengan kata lain,....ideal ketauhidan (Echad /
ESA) barulah bisa tercapai apabila MASING-MASING
ORANG MAU MENJADI CAHAYA BAGI DIRINYA
SENDIRI. Yaitu manakala tiap hati mau mendengar /
melihat / membaca (Iqra) realitas yang digelar Tuhan
dihadapannya langsung. Kitab hanya sebagai alat
pandu, tapi GURUNYA adalah TUHAN LANGSUNG ke
HATI dan PIKIRANMU. Hubungan langung bahasa
Ibraninya adalah "Yashar". Dan Tuhan dalam bahasa
Ibraninya adalah "El". Maka setiap insan yang memiliki
hubungan langsung dengan Tuhannya dapat disebut
YasharEl atau lebih umum disebut YishraEl atau
Israel. Jadi, Israel bukanlah sekedar nama suku yg
tinggal di suatu wilayah Mediteran sana, melainkan
sebutan bagi kaum (dari bangsa-bangsa apa pun) yg
memiliki hubungan langsung dengan Tuhan!
Disinilah suatu kelucuan terjadi...banyak yg
menanyakan persoalan ini di inbox yg mengeherankan
mengapa banyak kemiripan atau minimal kesearahan
antara Kawruh Jawa dan ajaran Israel? Ada yg
menanyakan apakah zaman dulu terjadi migrasi dari
sana ke sini (atau sini ke sana)? Saya belum
menyelidiki karena pemuasan intelekutal semata
semacam itu sangat kecil manfaatnya. Tetapi melalui
penjelasan di atas tentu anda sudah bisa
menyimpulkan jawabannya : kesamaan / kemiripannya
jelas terjadi karena SAMA-SAMA MENEMPUH
HUBUNGAN LANGSUNG KE TUHAN! Yang kalau di
Nusantara ini rumusannya terungkap dalam istilah
BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA
MANGRWA , yang kemudian di masa pasca
kemerdekaan NKRI dirumuskan dalam semangat
PANTJA SILA !
Demikian juga anda akan menemukan kesamaan
kemiripan pada tradisi2 di berbagai belahan bumi yg
lainnya! Fenomena (Dharma) itu dimana-mana sama.
Dari beberapa ratus ribu tahun yang lama, manusia
Homo Sapiens ini masih tetap menempati bumi yg
sama....live in one reality called EARTH ! (Entah kalau
ada dharma dari planet Klingon dimana kuda
makannya besi...haha)
Akan tetapi, bagi yang masih setengah matang atau
buram-buram belum mendapat keahlian langsung
untuk merealisasi hal ini secara langsung, maka
pengaruh akal pikiran (konsep) akan selalu menjadi
pengotor (pollutant) / pengganggu (distractor)
sehingga disini diperlukanlah suatu peran senioritas.
Disinilah sebenarnya letak dan peran mengapa para
Imam dan Ulama itu ada : kematangan hasi
realisasinya yg dibutuhkan. Dimana juga berfungsi
sebagai buffer, stabilisator dan pemersatu para
praktisi lain yg lebih yunior sekaligus intermediator
kepada kelompok diluarnya.
Meskipun demikian, melalui hubungan langsung
dengan Tuhan, maka sikap reflektif dan introspektif ini
akan memampukannya untuk --setidaknya secara
konseptual-- meraba-raba apa yang sejati dan apa
yang palsu. Termasuk apa 'kerendahan' maupun
'ketinggian' yang nyata. Dengan bekal sikap
introspektif dan kerendahan hati ini maka otomatis
akan tercipta suatu kemenyatuan (cohesiveness) yang
mengarah pada Unity. Jadi tanpa peran Imam secara
formal pun dalam setiap situasi sosial yang terdiri dari
beberapa orang yg berbeda-beda pun otomatis akan
bisa membentuk suatu kemenyatuannya
(cohesiveness) nya sendiri. Dan ini adalah dinamika
pengajaran Tuhan secara langsung dari DiaNya
sendiri.
Ini adalah posisi TENGAH antara ekstrim
individualisme dan ekstrim komunalisme.
Posisi TENGAH antara ekstrim kebebasan dan ekstrim
kekakuan hukum.
Posisi TENGAH antara ekstrim eternalisme dan
ekstrim nihilisme.
Oleh karena itu, kita bisa melihat mengapa bangsa
Israel sangat menghargai kebebasan individu tetapi
tetap kohesif sebagai sebuah kelompok yang sukses
melestarikan jatidiri leluhurnya dengan tetap mampu
mengadaptasikannya dengan kekinian modernitas.
Tetap cerah ceria tetapi tidak kebablasan. Tetap
penuh kasih dan nurture tetapi tidak menjadi lemah.
Tulus tapi tidak dungu (cerdik)......Walau tentu Sang
Penghasut (Setan) selalu berupaya untuk
menjatuhkan manusia sehingga menjadi batu
sandungan bagi yang lainnya. Maka jangan heran bila
pernyataan-pernyataan indah diatas selalu tidak
pernah ideal. Cacat-cela itu selalu akan ada selama
manusia belum menjadi utuh (integritas). Dan PUN
harus diingat bahwa bukan kecacatan yg harus
dihindari (secara paksaan / artifisial), melainkan suatu
keniscayaan sebuah proses pembentukan dari Sang
Illahi sendiri....untuk ku dan untuk mu belajar.
Semua yang saya jelaskan disini , sebetulnya
terangkum dalam syahadat ini :
SHEMA ISRAEL, ADONAI ELOHEINU, ADONAI ECHAD.
Terjemahan bebasnya gini :
SHEMA ISRAEL
Simak (Iqro) hai engkau yang memiliki hubungan
langsung dengan Tuhan
ADONAI ELOHEINU
Kata 'Adonai' digunakan untuk melisankan kata
'YHVH' yg tidak boleh disebut (maka ada perintah
"Jangan sebut nama Tuhanmu dengan sembarangan).
Kadang tidak digunakan kata 'Adonai', melainkan
'Hashem' (The Name) khususnya dari para yahudi yg
berasal dari negara2 tetangga timur tengah. 'Elohim"
juga nama Tuhan.
Jadi apa bedanya?
YHVH adalah transenden. Elohim adalah HaOlam ,
yang imanen.
Jadi ADONAI ELOHEINU artinya 'Yang Transende dan
Yang Imanen"...."Yang melampaui segala sesuatu
tetapi juga sekaligus hadir disini kini".
ADONAI ECHAD
'Adonai' spt penjelasan di atas
ECHAD itu artinya Maha Esa.
Dan manakala SETIAP orang dapat melihat secara
langsung, tahu tanpa berteori, menilai tanpa perlu
petunjuk orang lain / buku; maka itu adalah kondisi
yang ada pada Yerusalem Baru (New Jerusalem).
Yerusalem berasal dari bahasa Ugaritic : Ursalimmu
kemudian secara Greeka disebut Hiero Soluma. Hiero
artinya sacred dan Soluma (Shalom) artinya utuh /
whole / tamim. (Wahyu 21:1-7)
21 :11 Jerusalem turun dari langit // Apakah yang
dimaksud turun dari langit? Itulah yang kukatakan
padamu.
21:15 Tongkat pengukur. // Apakah tongkat pengukur
itu? Itulah yang kukatakan padamu.
21: 24 Dan tiap bangsa akan berjalan dalam
cahanaya // Apa maksudnya cahanya? Setiap bangsa?
21: 25 Dan pintu2 gerbangnya tidak akan ditutup.
Tidak ada lagi malam. // Semua bisa mengakses
kapan saja. Tidak ada lagi kegelapan batin.
22:5 Dan malam tidak ada lagi disana, dan mereka
tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya
matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi
mereka // Itulah yang kukatakan bahwa setiap orang
akan diterangi oleh cahaya Intelligence (Budhi) yang
telah menjadi terang dalam dirinya masing-masing
menjadi penuntun hidup masing2. Tidak perlu lagi
bantuan orang lain dan kitab (lampu dan matahari).
Persoalan memahami Revelasi ini adalah manakala
"ITU" dimatikan dalam sebuah sosok individu. Yang
akhirnya selalu menjadikan mencari diluaran. Menatap
langit dengan mata daging untuk menanti-nanti. Gagal
paham untuk mencari dengan mata batin menghadap
ke langit dalam. Gagal paham karena
"YHSh" (HaMoshiach) dalam PL dikooptasi secara
maknawiahnya. Jadi disini saya bicara Original
Messiach, bukan the simulacra ataupun the
simulation of Messiah.
Bagaiman caranya merealisasikan semua itu?
Self Inquiry. Mengenal diri. Mengenal diri bukan
berarti diri ini sebagai batu penjurunya, tapi mengenali
diri untuk mengenali yang palsu. Dengan demikian
melampaui. Saya maklum kalau dari kamus ego, kata
mengenali ini berhubungan dengan kata menguasai /
mendapat keuntungan. Seperti mengenali seorang
perempuan yg ditaksir artinya si ego ingin
memilikinya. Tetapi KASIH tidaklah seperti itu, karena
Kasih yg sejati mengenali untuk melampaui yg palsu
menggapai yg sejati 'dibelakang'nya (kualitas yg tak
terlihat). Maka dikatakan tidak ada pernah ada Kasih
yang terpisah (dipisahkan) dengan WISDOM (hikmat).
Dan bagaimana mencapai WISDOM? Tiada lain adalah
melalui mengenali sifat / nature dari batin itu sendiri
(khususnya pikiran), yg tiada lain hanya bisa diakses
langsung melalui : MEDITASI !
Melalui meditasi engkau akan mengenali siapa yang
selalu mengetuk-ketuk pintu hatimu melalui
kegalauan, kecemasan, kebimbangan, dsb. Siapa
yang terkadang memenuhi hati dan pikiranmu dengan
kepenuhan air kehidupan yang terang dan sejuk?
Carilah maka kau akan menemukan. Ketuklah maka
pintu akan dibukakan. Itulah artinya menjadi cahaya
bagi dirimu sendiri. Cahaya itu bukan kamu, tetapi
yang menyinari kamu. Menjadikan kamu hidup,
mampu mengenali rasa, pikir dan segala sesuatunya.
Kalau kalian tidak memiliki pengertian iman yang
paling mendasar ini...entahlah saya tidak tahu harus
berkata apa lagi.
Begitulah cukup yg perlu saya sampaikan dalam tema ini.
"Caesar Ibe : Tanpa agama pun, seseorang bisa yg
mengengenal TUHAN !!!
"Danz Suchamda : Inilah yg sesungguhnya. Tapi
manusia memang bebal, selalu mengulangi kesalahan
yg sama berkali-kali sepanjang zaman.
Mungkin akan ada yg membantah, "Ohh tidak betul
itu, zaman waktu itu juga ada Sanhedrin...dst dst".
Benar.
Tapi kita manusia selalu hanya mampu meniru
cangkang luarnya saja. Tidak memahami esensi
makna hakikatnya.
Institusi memang diperlukan.
Diperlukan untuk apa?
- untuk mengorganisir agar orang bisa belajar /
melatih diri secara optimal.
- mewadahi agar orang bisa saling asih-asah-asuh.
Tahu kepada siapa kalau hendak menimbah
pengetahuan / tauladan.
- mempreservasi (melestarikan) aset2 yg dalam bentu
material maupun non-material (budaya, oral teaching,
dsb).
Tetapi, semua itu hanyalah PRASARANA.
Seringkali manusia terjatuh menjadikan institusi itu
TUJUAN. Itu artinya pemberhalaan. Penyekutuan sang
Khalik dengan yg bukan, karena sudah memutakkan
yang tidak mutlak.
Kedua,
Apakah struktur penempatan personel2nya sudah
memenuhi persyaratan : bahwa yang diatas adalah
yang lebih bijak dan tercerahkan batinnya? Tanpa itu
hanya akan terjadi fenomena si buta menuntun oang
buta.
Ketiga,
Apakah institusi itu menjadi penghalang , atau
mewakili, atau mengkooptasi bahkan memanipulasi
hati nurani masing-masing insan yang mendapat
pengajaran langsung dari Tuhannya?
Ilustrasi visualisasi dengan simbolisme
"PENGGEMBALAAN" itu sudah tepat. Karena
menggembalakan artinya berbeda dengan
mengandangi atau merantai atau membelenggu!
Dalam penggembalaan tidak ada pemaksaan,
ancaman, penakut2an apalagi kekerasan (fisik,
verbal, maupun psikologis/sosiologis).
Penggembalaan artinya hanya memantau dan
memperhatikan dari kejauhan dengan sikap sigap
untuk segera MENOLONG jika diperlukan oleh domba-
domba yang dibiarkan bebas di ladang kehidupan
untuk mencari / memilih makanannya sendiri. Domba-
domba itu akan belajar dari pengalamannya sendiri
melalui cahaya Hidup yang ada di dalamnya.
Keempat,
Seorang penggembala yang baik tentu akan bertemu
dengan penggembala2 lainnya di padang yg luas.
Manakala ia melihat seekor domba gembala lain yang
terjatuh ke dalam juram sempit diluar sepengetahuan
penggembalanya, maka ia tak segan menolongnya
keluar dari jepitan batu. Tetapi ia akan
membiarkannya kembali ke kawanannya, bukan
membawanya pulang ke kandang menjadi miliknya
sendiri. Itu namanya mencuri!
Rahayu!
MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan
hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-
ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar
penyebab munculnya segala macam permasalahan
cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian
kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu
kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa
sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang
mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-
righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari
kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang
telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban
yang tumpah membasahi lembaran sejarah
kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan
BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan
mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana
adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan,
kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala
macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita
sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan
manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala
sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin
mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda
temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-de
lusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa
yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah
sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak
sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper
World). Maka manakala kita sebagai darah dan
daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah
yang material ini memaksakan diri untuk mencapai
kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana.
Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di
dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING
terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi
ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam
Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar
kesempurnaan, melainkan pahamilah
ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai
sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila
anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda
mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya
sebutkan di atas bukan mendunia dengan
kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka
menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya.
Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas
dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan
demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara
bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya
masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi.
Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan
yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pend
ekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon
dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan
pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari
rombongan masyarakatnya untuk memahami dan
menerapkan...secara tidak sempurna....sebagai batu
pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi
setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa
mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak
pun (step by step toward Higher Order without
abandoning someone left behind). Dengan kata lain,
selama jiwamu bertumbuh untuk memahami
kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi
hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk
mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam
setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam
ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan
dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya
dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan /
kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di
tempat yang goyah... lapang di tempat yang
sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa
mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam
kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....ke
sederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju
kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila
batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah
pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal
ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Dan resepnya
sudah pernah saya tuliskan : skeptisisme sehat = tidak
100% percaya dan tidak 100% tidak percaya. Terus
menyelidik. Secara lieteratur, lapangan dan laku
praktek. Pisahkan fact dan opinion. Pisahkan
fraudulent opinion dan posiible opinion. Always keep
open mind.
Itulah maka target akhir saya bukankah nyembah A
atau nyembah B. Bukan pula kasih, keadilan atau pun
bahkan "pencerahan" (personal emancipation).
Melainkan INTEGRITAS, TAMIM. Apa bahasa arabnya
kalau bukan TAUHID?
Nur Jagad
Hanya butuh 1 langkah lagi saja manusia dpt melihat
realitas permukaan.
Krana pada dasarnya manusia pandai utk menilai org
lain atau ajaran agama lain ... sangat pandai malah.
Contoh org yg beragama islam sangat pandai melihat/
menilai ajaran kristen ... bgt juga org yg beragama
kristen sangat pandai melihat/menilai ajaran islam.
Semua celah kekurangan/penyimpangan mereka
sangat ahli mengkritiki.
Nah cobalah melangkah 1 langkah lagi utk melihat/
menilai ajaran agama sendiri dan menilai diri.
Disini akan keliatan mana yg bisa belajar dan
menggarap utk melihat realitas.
Sulit? Tidak juga ... hanya butuh mencari kedalam dan
di renungkan saja.
Rahayu !
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan
hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-
ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar
penyebab munculnya segala macam permasalahan
cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian
kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu
kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa
sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang
mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-
righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari
kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang
telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban
yang tumpah membasahi lembaran sejarah
kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan
BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan
mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana
adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan,
kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala
macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita
sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan
manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala
sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin
mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda
temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-de
lusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa
yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah
sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak
sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper
World). Maka manakala kita sebagai darah dan
daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah
yang material ini memaksakan diri untuk mencapai
kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana.
Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di
dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING
terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi
ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam
Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar
kesempurnaan, melainkan pahamilah
ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai
sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila
anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda
mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya
sebutkan di atas bukan mendunia dengan
kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka
menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya.
Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas
dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan
demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara
bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya
masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi.
Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan
yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pend
ekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon
dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan
pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari
rombongan masyarakatnya untuk memahami dan
menerapkan...secara tidak sempurna....sebagai batu
pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi
setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa
mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak
pun (step by step toward Higher Order without
abandoning someone left behind). Dengan kata lain,
selama jiwamu bertumbuh untuk memahami
kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi
hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk
mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam
setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam
ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan
dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya
dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan /
kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di
tempat yang goyah... lapang di tempat yang
sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa
mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam
kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....ke
sederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju
kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila
batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah
pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal
ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Dan resepnya
sudah pernah saya tuliskan : skeptisisme sehat = tidak
100% percaya dan tidak 100% tidak percaya. Terus
menyelidik. Secara lieteratur, lapangan dan laku
praktek. Pisahkan fact dan opinion. Pisahkan
fraudulent opinion dan posiible opinion. Always keep
open mind.
Itulah maka target akhir saya bukankah nyembah A
atau nyembah B. Bukan pula kasih, keadilan atau pun
bahkan "pencerahan" (personal emancipation).
Melainkan INTEGRITAS, TAMIM. Apa bahasa arabnya
kalau bukan TAUHID?
Nur Jagad
Hanya butuh 1 langkah lagi saja manusia dpt melihat
realitas permukaan.
Krana pada dasarnya manusia pandai utk menilai org
lain atau ajaran agama lain ... sangat pandai malah.
Contoh org yg beragama islam sangat pandai melihat/
menilai ajaran kristen ... bgt juga org yg beragama
kristen sangat pandai melihat/menilai ajaran islam.
Semua celah kekurangan/penyimpangan mereka
sangat ahli mengkritiki.
Nah cobalah melangkah 1 langkah lagi utk melihat/
menilai ajaran agama sendiri dan menilai diri.
Disini akan keliatan mana yg bisa belajar dan
menggarap utk melihat realitas.
Sulit? Tidak juga ... hanya butuh mencari kedalam dan
di renungkan saja.
Rahayu !
MANUSIA INDONESIA
SARLITO W SARWONO
Salah satu tulisan yang cukup menohok mengenai
manusia Indonesia ini adalah tulisan Prof. Sarlito
Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas
Indonesia. Begini tulisan dan penelaahannya:
Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan
Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi,
saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat
berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea),
karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah
produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang
elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny
dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat
berat. Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea
ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner
(Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-
pop, Gangnam style, Boys band, Sinetron Korea dll),
dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda)
. Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945)
dan orang Korea punya dendam kesumat kepada
orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan
dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan
dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di
bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu
70 tahun kita sama-sama melihat hasilnya.
Indonesia juga pernah dijajah Jepang, tidak lama,
hanya 3,5 tahun, tetapi rakyat sangat menderita
selama masa penjajahan yang singkat itu. Anehnya,
walaupun akhirnya Jepang kalah Perang Dunia II dan
Jepang diwajibkan membayar pampasan perang
kepada Indonesia, setelah 70 tahun Indonesia tidak
berhasil mengimbangi Jepang hampir di segala
bidang. Malah di tahun 1974 terjadi peristiwa Malari
(15 Januari), saat mahasiswa dan massa membakari
mobil-mobil bermerk Jepang. Orang Indonesia
bukannya bekerja lebih giat untuk menyaingi Jepang,
tetapi menyalahkan dan menyerang si pesaing. Dalam
psikologi mentalitas seperti ini disebut “ekstra-punitif
” (menghakimi pihak lain) yang bersumber pada
“pusat kendali eksternal” (external locus of control).
Menurut teori Pusat Kendali (locus of control: J.B.
Rotter, 1954), ada dua macam tipe manusia, yaitu
yang Pusat Kendalinya Internal dan Eksternal. Orang
dengan Pusat Kendali Internal (PKI) percaya bahwa
dirinya sendirilah yang menentukan apa yang akan
terjadi dengan dirinya, bahkan lingkungan di sekitarnya
pun bisa dia kendalikan sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan orang dengan Pusat Kendali Eksternal
(PKE) jika terjadi sesuatu, cenderung menyalahkan
pihak lain, bukannya mengoreksi diri sendiri.
Sebagian besar orang Indonesia, menurut hemat saya,
tergolong PKE. Bukan hanya dalam kasus Malari,
tetapi hampir pada setiap peristiwa sehari-hari. Kalau
dalam Pilkada ada calon Bupati/Walikota yang
dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan
maka kantor KPU-nya dibakar. Kalau kebanjiran
menyalahkan pemerintah, kalau kekeringan minta
bantuan pemerintah. Si pemerintah juga lebih senang
menyalahkan alam yang tidak bersahabat. Bahkan
ketika perekonomian nasional mengalami
perlambatan seperti sekarang ini, para menteri di
pemerintah pusat lebih senang menyalahkan faktor-
faktor luar negeri (menggiatnya perekonomian dan
kenaikan suku bunga di AS dll), ketimbang
merekayasa perekonomian dalam negeri untuk
mendongkrak laju perekonomian nasional.
Pengendara motor yang melawan arus, ketika
ditangkap polisi, akan membantah, “Loh, tiap hari
saya liwat sini. Ada polisi, tetapi tidak pernah diapa-
apakan. Kok sekarang saya mau ditilang?”
Salah satu dampak dari sifat bangsa Indonesia yang
KPE ini adalah mencari jalan pintas. Tidak punya
ijasah, ya beli ijasah Aspal saja. Mau menang Pilkada,
beli suara. Mau main di pengadilan beli hakimnya.
Kalau tidak bisa dibeli, liwat kekerasan. Termasuk
Tuhan pun dijadikan faktor yang dijadikan sarana
untuk mencapai sesuatu. Ingin lulus Ujian Nasional,
sholat Istigozah rame-rame. Demo anti kenaikan
harga BBM, teriak “Allahu Akbar”. Tetapi karena
Tuhan tidak bisa dibeli, maka yang menikmati (yang
terima duit) adalah para pemain di balik agama,
termasuk para da’i komersial (yang sering masuk TV
dan honor tausyiahnya 10 kali lipat dari ceramah
profesor), Biro perjalanan haji dan Umroh, dan para
pemain politik yang menggunakan agama sebagai
kendaraannya.
Akhir-akhir ini bahkan makin kuat kecenderungan
untuk lebih menuhankan agama ketimbang
menuhankan Tuhan (Allah) itu sendiri. Agama sudah
dianggap jauh lebih penting dari pada negara,
pemerintah, bendera dan lagu kebangsaan,
kewarganegaraan, dsb. Kalau Kartosuwiryo yang
memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) di
tahun 1949 (isterinya tidak berjilbab), masih mencita-
citakan sebuah negara yang bernama Indonesia, JI
(Jamaah Islamiah) dan ISIS (Islamic State of Iraq and
Syria) tidak lagi mempersoalkan wilayah, dia maunya
seluruh dunia adalah daulah Islamiah, yang dipimpin
oleh seorang Amir atau Khalifah saja. Berita mutakhir,
ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak
bersetubuh dengan para pejuangnya, atas nama
agama, atas nama daullah Islamiah. Padahal Allah
sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Bukankah ini
menuhankan agama lebih dari pada menuhankan
Allah itu sendiri? Apa namanya kalau bukan musyrik?
Dampak yang serius dari mentalitas PKE adalah orang
jadi malas kerja. Orang PKE yang tidak berorientasi
agama memilih hidup hedonis, mumpung muda hura-
hura, tua foya-foya, mati masuk alam baka (surga
atau neraka? Emang gue pikirin?). Mereka terlibat
Narkoba, seks berisiko, kenakalan dan kriminal untuk
memenuhi kebutuhuan hedonisnya. Sementara PKE
yang orientasinya agama lebih rajin berdoa (rukun
Islam tidak pernah terlambat, termasauk berumuroh
berkali-kali), tetapi tetap enggan bekerja serius.
Bahkan mereka pikir tidak apa-apa sedikit bermaksiat
juga, karena mereka pasti sudah diberi pahala dan
ampun oleh Allah yang Maha Pengampun, karena
ibadah mereka sudah berpuasa yang pahalanya lebih
dari seribu bulan dan sudah sholat Arbain di Medinah,
yang pahalanya entah berapa juta kali lipat
dibandingkan shalat di masjid lain. Itulah sebabnya
Indonesia tidak pernah lepas dari korupsi dan maksiat,
walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim
terbanyak di dunia. Itulah sebabnya Indonesia tidak
pernah lepas dari STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan).
Padahal Indonesia sedang dalam era Bonus
Demografi (2010-2045), yaitu saat penduduk usia
produktif (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dari
penduduk non-produktif. Para pakar menamakannya
peluang emas untuk menggenjot kemajuan di segala
bidang, guna menyejahterakan dan memakmurkan
bangsa, khususnya karena negara-negara lain sudah
meliwati masa ini bertahun-tahun yang lalu (negara-
negara maju seperti Kanada dan AS sudah
mengimport imigran untuk mengisi kekurangan tenaga
kerja mereka) dan Indonesia sendiri akan kehilangan
peluang itu juga pasca 2045. Peluang emas inilah
yang ingin direbut oleh Presiden Jokowi dengan
seruannya “Kerja, kerja, kerja!!!”. Maka kabinetnya pun
dinamakan Kabinet Kerja. Tetapi kalau bangsa
Indonesia lebih suka berhura-hura atau hanya berdoa
saja, jangan-jangan setelah tahun 2045 terlewati (100
tahun setelah kemerdekaan), Indonesia bukannya
menandingi Korea atau Tiongkok (Cina) melainkan
makin terpuruk. Naudhubillah min dzalik.
Sudah sepatutnya kita bercermin diri dan sadar, agar
kita bisa bangkit dan tidak lagi bermental inferior.
(Manusia Indonesia, 15 Agustus 2015 oleh Sarlito W.
Sarwono
Salah satu tulisan yang cukup menohok mengenai
manusia Indonesia ini adalah tulisan Prof. Sarlito
Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas
Indonesia. Begini tulisan dan penelaahannya:
Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan
Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi,
saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat
berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea),
karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah
produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang
elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny
dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat
berat. Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea
ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner
(Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-
pop, Gangnam style, Boys band, Sinetron Korea dll),
dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda)
. Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945)
dan orang Korea punya dendam kesumat kepada
orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan
dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan
dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di
bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu
70 tahun kita sama-sama melihat hasilnya.
Indonesia juga pernah dijajah Jepang, tidak lama,
hanya 3,5 tahun, tetapi rakyat sangat menderita
selama masa penjajahan yang singkat itu. Anehnya,
walaupun akhirnya Jepang kalah Perang Dunia II dan
Jepang diwajibkan membayar pampasan perang
kepada Indonesia, setelah 70 tahun Indonesia tidak
berhasil mengimbangi Jepang hampir di segala
bidang. Malah di tahun 1974 terjadi peristiwa Malari
(15 Januari), saat mahasiswa dan massa membakari
mobil-mobil bermerk Jepang. Orang Indonesia
bukannya bekerja lebih giat untuk menyaingi Jepang,
tetapi menyalahkan dan menyerang si pesaing. Dalam
psikologi mentalitas seperti ini disebut “ekstra-punitif
” (menghakimi pihak lain) yang bersumber pada
“pusat kendali eksternal” (external locus of control).
Menurut teori Pusat Kendali (locus of control: J.B.
Rotter, 1954), ada dua macam tipe manusia, yaitu
yang Pusat Kendalinya Internal dan Eksternal. Orang
dengan Pusat Kendali Internal (PKI) percaya bahwa
dirinya sendirilah yang menentukan apa yang akan
terjadi dengan dirinya, bahkan lingkungan di sekitarnya
pun bisa dia kendalikan sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan orang dengan Pusat Kendali Eksternal
(PKE) jika terjadi sesuatu, cenderung menyalahkan
pihak lain, bukannya mengoreksi diri sendiri.
Sebagian besar orang Indonesia, menurut hemat saya,
tergolong PKE. Bukan hanya dalam kasus Malari,
tetapi hampir pada setiap peristiwa sehari-hari. Kalau
dalam Pilkada ada calon Bupati/Walikota yang
dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan
maka kantor KPU-nya dibakar. Kalau kebanjiran
menyalahkan pemerintah, kalau kekeringan minta
bantuan pemerintah. Si pemerintah juga lebih senang
menyalahkan alam yang tidak bersahabat. Bahkan
ketika perekonomian nasional mengalami
perlambatan seperti sekarang ini, para menteri di
pemerintah pusat lebih senang menyalahkan faktor-
faktor luar negeri (menggiatnya perekonomian dan
kenaikan suku bunga di AS dll), ketimbang
merekayasa perekonomian dalam negeri untuk
mendongkrak laju perekonomian nasional.
Pengendara motor yang melawan arus, ketika
ditangkap polisi, akan membantah, “Loh, tiap hari
saya liwat sini. Ada polisi, tetapi tidak pernah diapa-
apakan. Kok sekarang saya mau ditilang?”
Salah satu dampak dari sifat bangsa Indonesia yang
KPE ini adalah mencari jalan pintas. Tidak punya
ijasah, ya beli ijasah Aspal saja. Mau menang Pilkada,
beli suara. Mau main di pengadilan beli hakimnya.
Kalau tidak bisa dibeli, liwat kekerasan. Termasuk
Tuhan pun dijadikan faktor yang dijadikan sarana
untuk mencapai sesuatu. Ingin lulus Ujian Nasional,
sholat Istigozah rame-rame. Demo anti kenaikan
harga BBM, teriak “Allahu Akbar”. Tetapi karena
Tuhan tidak bisa dibeli, maka yang menikmati (yang
terima duit) adalah para pemain di balik agama,
termasuk para da’i komersial (yang sering masuk TV
dan honor tausyiahnya 10 kali lipat dari ceramah
profesor), Biro perjalanan haji dan Umroh, dan para
pemain politik yang menggunakan agama sebagai
kendaraannya.
Akhir-akhir ini bahkan makin kuat kecenderungan
untuk lebih menuhankan agama ketimbang
menuhankan Tuhan (Allah) itu sendiri. Agama sudah
dianggap jauh lebih penting dari pada negara,
pemerintah, bendera dan lagu kebangsaan,
kewarganegaraan, dsb. Kalau Kartosuwiryo yang
memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) di
tahun 1949 (isterinya tidak berjilbab), masih mencita-
citakan sebuah negara yang bernama Indonesia, JI
(Jamaah Islamiah) dan ISIS (Islamic State of Iraq and
Syria) tidak lagi mempersoalkan wilayah, dia maunya
seluruh dunia adalah daulah Islamiah, yang dipimpin
oleh seorang Amir atau Khalifah saja. Berita mutakhir,
ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak
bersetubuh dengan para pejuangnya, atas nama
agama, atas nama daullah Islamiah. Padahal Allah
sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Bukankah ini
menuhankan agama lebih dari pada menuhankan
Allah itu sendiri? Apa namanya kalau bukan musyrik?
Dampak yang serius dari mentalitas PKE adalah orang
jadi malas kerja. Orang PKE yang tidak berorientasi
agama memilih hidup hedonis, mumpung muda hura-
hura, tua foya-foya, mati masuk alam baka (surga
atau neraka? Emang gue pikirin?). Mereka terlibat
Narkoba, seks berisiko, kenakalan dan kriminal untuk
memenuhi kebutuhuan hedonisnya. Sementara PKE
yang orientasinya agama lebih rajin berdoa (rukun
Islam tidak pernah terlambat, termasauk berumuroh
berkali-kali), tetapi tetap enggan bekerja serius.
Bahkan mereka pikir tidak apa-apa sedikit bermaksiat
juga, karena mereka pasti sudah diberi pahala dan
ampun oleh Allah yang Maha Pengampun, karena
ibadah mereka sudah berpuasa yang pahalanya lebih
dari seribu bulan dan sudah sholat Arbain di Medinah,
yang pahalanya entah berapa juta kali lipat
dibandingkan shalat di masjid lain. Itulah sebabnya
Indonesia tidak pernah lepas dari korupsi dan maksiat,
walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim
terbanyak di dunia. Itulah sebabnya Indonesia tidak
pernah lepas dari STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan).
Padahal Indonesia sedang dalam era Bonus
Demografi (2010-2045), yaitu saat penduduk usia
produktif (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dari
penduduk non-produktif. Para pakar menamakannya
peluang emas untuk menggenjot kemajuan di segala
bidang, guna menyejahterakan dan memakmurkan
bangsa, khususnya karena negara-negara lain sudah
meliwati masa ini bertahun-tahun yang lalu (negara-
negara maju seperti Kanada dan AS sudah
mengimport imigran untuk mengisi kekurangan tenaga
kerja mereka) dan Indonesia sendiri akan kehilangan
peluang itu juga pasca 2045. Peluang emas inilah
yang ingin direbut oleh Presiden Jokowi dengan
seruannya “Kerja, kerja, kerja!!!”. Maka kabinetnya pun
dinamakan Kabinet Kerja. Tetapi kalau bangsa
Indonesia lebih suka berhura-hura atau hanya berdoa
saja, jangan-jangan setelah tahun 2045 terlewati (100
tahun setelah kemerdekaan), Indonesia bukannya
menandingi Korea atau Tiongkok (Cina) melainkan
makin terpuruk. Naudhubillah min dzalik.
Sudah sepatutnya kita bercermin diri dan sadar, agar
kita bisa bangkit dan tidak lagi bermental inferior.
(Manusia Indonesia, 15 Agustus 2015 oleh Sarlito W.
Sarwono
Senin, 02 Januari 2017
SATU PENGERTIAN
"Lebih baik satu pengertian yang menembus daripada hafal ribuan kalimat" DANZ SUCHAMDA
MENCAPAI KESEMPURNAAN
Danz Suchamda
MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar penyebab munculnya segala macam permasalahan cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban yang tumpah membasahi lembaran sejarah kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan, kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-delusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper World). Maka manakala kita sebagai darah dan daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah yang material ini memaksakan diri untuk mencapai kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana. Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar kesempurnaan, melainkan pahamilah ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas bukan mendunia dengan kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya. Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi. Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pendekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari rombongan masyarakatnya untuk memahami dan menerapkan...se
cara tidak sempurna....sebagai batu pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak pun (step by step toward Higher Order without abandoning someone left behind). Dengan kata lain, selama jiwamu bertumbuh untuk memahami kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan / kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di tempat yang goyah... lapang di tempat yang sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....kesederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Ecc.2: 26 : "God gives wisdom, knowledge and happiness"
Rahayu!
http://primordialnature.blogspot.co.id/2016/08/
ringkasan-pesan.html
MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar penyebab munculnya segala macam permasalahan cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban yang tumpah membasahi lembaran sejarah kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan, kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-delusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper World). Maka manakala kita sebagai darah dan daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah yang material ini memaksakan diri untuk mencapai kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana. Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar kesempurnaan, melainkan pahamilah ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas bukan mendunia dengan kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya. Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi. Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pendekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari rombongan masyarakatnya untuk memahami dan menerapkan...se
cara tidak sempurna....sebagai batu pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak pun (step by step toward Higher Order without abandoning someone left behind). Dengan kata lain, selama jiwamu bertumbuh untuk memahami kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan / kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di tempat yang goyah... lapang di tempat yang sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....kesederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Ecc.2: 26 : "God gives wisdom, knowledge and happiness"
Rahayu!
http://primordialnature.blogspot.co.id/2016/08/
ringkasan-pesan.html
Minggu, 01 Januari 2017
MASALAH TIDAK MASALAH
Amung Kurnia E,
Bersahabat dengan Masalah.....
Berterimakasihlah pada masalah
Apalagi jika masalah itu datangnya bertubi-tubi
Pertanda bahwa Tuhan menjatuhkan pilihannya
Pada diri kita sebagai orang pilihan, pribadi terpilih
Di mata-Nya
Kita dianggap Tuhan bukan orang sembarangan
Hadirnya masalah itu....
Pertanda Tuhan sedang memberikan kertas ujian
Dan kita yang harus menggarapnya tuntas
Diuji kecerdasan akalnya, diuji kematangan emosinya
Diuji kekuatan mentalnya, diuji ketegaran spiritualnya
Diuji segalanya, jiwa raga, fisik mentalnya, dan akal budinya
Diberi masalah berarti kita sedang disayang Tuhan
Diberi masalah berarti kapasitas kita akan dinaikkan
Semakin berat masalahnya berarti semakin tinggi Tuhan menempatkan nilai dan posisi diri kita
Maka jangan pernah merasa masalah kita itu paling berat dibandingkan orang lainnya
Apalagi protes kenapa Tuhan tidak adil memberi masalah yang begitu berat pada kita
Orang orang hebat di sepanjang sejarah selalu diuji dengan ujian yang tak mudah
Nabi Ayub diuji dengan penyakit yang menahun
Nabi Yunus diuji dengan dibuang ke tengah laut dan termakan ikan hiu berbulan-bulan
Nabi Nuh diuji dengan kedurhakaan anak isterinya
Nabi Musa diuji dengan kekuasaan yang lalim
Nabi Ibrahim diuji dengan lamanya punya keturunan
Nabi Yusuf diuji dengan perempuan, hidup bertahun-tahun dipenjara, dan dibuang saudara-saudaranya
Nabi Isa diuji dengan fitnah dan pembunuhan
Nabi Muhamad diuji dengan keyatiman, hinaan, pengungsian, peperangan, dan serangan santet, komplit dan bertubi-tubi.
Bahkan Nabi Adam pun diuji dengan buah apel
Mengapa?
Karena mereka disayang Tuhan
Mereka orang pilihan
Mereka dianggap punya kemampuan
Mereka akan dimatangkan
Mereka akan diberi rahasia ilmu tertentu
Dan mereka akan diangkat derajatnya
Dan dimuliakan hidupnya
Sepanjang masa
Maka berterimakasihlah jika kita punya masalah
Bersyukurlah kalau masalah itu bertubi-tubi datangnya
Asal kita tak pernah menyerah
Asal kita percaya ke-Mahaan-Nya
Semua akan indah pada waktunya
Semua akan baik-baik saja nantinya
Asal kita tidak cengeng dengan masalah
Asal kita tak pernah menghindari masalah
Asal kita tetap tenang berhadapan dengan apapun masalah, seberat apapun masalah
Hidup itu ya berpindah dari satu masalah ke masalah
Di situlah ada cara dan rahasia Tuhan memandu hamba-Nya
Dengan tools tools canggih yang tak pernah kita duga dan tak pernah ada contekannya.
Hanya Dia yang punya dan menjadi rahasia-Nya
Itu sebabnya, Dia dua kali berkata
Untuk meyakinkan kita hamba-Nya
Sesudah kesulitan akan datang kemudahan
Sesudah kesukaran akan ada kemuliaan
Itu tegas, itu jelas, tanpa koma, tanpa syarat...
Kalau dengan perkataan Tuhan saja kita tidak percaya
Kepada siapa lagi kita akan percaya?
Sementara fakta selalu membuktikan
yang selalu tidak bisa dipercaya itu justru manusia
Bahkan manusia yang paling kita percaya seringkali tak bisa dipercaya
Itu sudah tertoreh sepanjang sejarah...
.
Nah....
Kalau nggak ingin ujian
Kalau nggak ingin naik level
Kalau nggak ingin jadi hebat
Kalau nggak ingin jadi mulia
Nggak usah ketemu dan bersahabat dengan masalah
Mati saja
Selesai!
Sudah!
Itttuuuuhhhhh!!!!
Dan Anda tak harus setuju!!!!
Bersahabat dengan Masalah.....
Berterimakasihlah pada masalah
Apalagi jika masalah itu datangnya bertubi-tubi
Pertanda bahwa Tuhan menjatuhkan pilihannya
Pada diri kita sebagai orang pilihan, pribadi terpilih
Di mata-Nya
Kita dianggap Tuhan bukan orang sembarangan
Hadirnya masalah itu....
Pertanda Tuhan sedang memberikan kertas ujian
Dan kita yang harus menggarapnya tuntas
Diuji kecerdasan akalnya, diuji kematangan emosinya
Diuji kekuatan mentalnya, diuji ketegaran spiritualnya
Diuji segalanya, jiwa raga, fisik mentalnya, dan akal budinya
Diberi masalah berarti kita sedang disayang Tuhan
Diberi masalah berarti kapasitas kita akan dinaikkan
Semakin berat masalahnya berarti semakin tinggi Tuhan menempatkan nilai dan posisi diri kita
Maka jangan pernah merasa masalah kita itu paling berat dibandingkan orang lainnya
Apalagi protes kenapa Tuhan tidak adil memberi masalah yang begitu berat pada kita
Orang orang hebat di sepanjang sejarah selalu diuji dengan ujian yang tak mudah
Nabi Ayub diuji dengan penyakit yang menahun
Nabi Yunus diuji dengan dibuang ke tengah laut dan termakan ikan hiu berbulan-bulan
Nabi Nuh diuji dengan kedurhakaan anak isterinya
Nabi Musa diuji dengan kekuasaan yang lalim
Nabi Ibrahim diuji dengan lamanya punya keturunan
Nabi Yusuf diuji dengan perempuan, hidup bertahun-tahun dipenjara, dan dibuang saudara-saudaranya
Nabi Isa diuji dengan fitnah dan pembunuhan
Nabi Muhamad diuji dengan keyatiman, hinaan, pengungsian, peperangan, dan serangan santet, komplit dan bertubi-tubi.
Bahkan Nabi Adam pun diuji dengan buah apel
Mengapa?
Karena mereka disayang Tuhan
Mereka orang pilihan
Mereka dianggap punya kemampuan
Mereka akan dimatangkan
Mereka akan diberi rahasia ilmu tertentu
Dan mereka akan diangkat derajatnya
Dan dimuliakan hidupnya
Sepanjang masa
Maka berterimakasihlah jika kita punya masalah
Bersyukurlah kalau masalah itu bertubi-tubi datangnya
Asal kita tak pernah menyerah
Asal kita percaya ke-Mahaan-Nya
Semua akan indah pada waktunya
Semua akan baik-baik saja nantinya
Asal kita tidak cengeng dengan masalah
Asal kita tak pernah menghindari masalah
Asal kita tetap tenang berhadapan dengan apapun masalah, seberat apapun masalah
Hidup itu ya berpindah dari satu masalah ke masalah
Di situlah ada cara dan rahasia Tuhan memandu hamba-Nya
Dengan tools tools canggih yang tak pernah kita duga dan tak pernah ada contekannya.
Hanya Dia yang punya dan menjadi rahasia-Nya
Itu sebabnya, Dia dua kali berkata
Untuk meyakinkan kita hamba-Nya
Sesudah kesulitan akan datang kemudahan
Sesudah kesukaran akan ada kemuliaan
Itu tegas, itu jelas, tanpa koma, tanpa syarat...
Kalau dengan perkataan Tuhan saja kita tidak percaya
Kepada siapa lagi kita akan percaya?
Sementara fakta selalu membuktikan
yang selalu tidak bisa dipercaya itu justru manusia
Bahkan manusia yang paling kita percaya seringkali tak bisa dipercaya
Itu sudah tertoreh sepanjang sejarah...
.
Nah....
Kalau nggak ingin ujian
Kalau nggak ingin naik level
Kalau nggak ingin jadi hebat
Kalau nggak ingin jadi mulia
Nggak usah ketemu dan bersahabat dengan masalah
Mati saja
Selesai!
Sudah!
Itttuuuuhhhhh!!!!
Dan Anda tak harus setuju!!!!
Minggu, 11 Desember 2016
KNOWLEDGE - UNDERSTANDING - WISDOM
Danz Suchamda,
KNOWLEDGE - UNDERSTANDING - WISDOM
Tujuan hidup sebagai manusia adalah untuk mengenali Realitas. Itulah yang akan membawa anda ke Surga atau pada akhirnya ke Realitas Tertinggi (Ultimate Reality) yaitu Nirwana.
Neraka adalah tempat untuk orang-orang yang tersesat dari realitas.
Bagaimanakah mengenali Realitas?
Tuhan memberikan kepada kita 2 alat , yaitu : Otak dan Hati......Mind and Heart.
Secara modern kita menyebutnya Intelek dan Emosi.
Intelek dan Emosi haruslah bekerja secara sinergis dan imbal-balik untuk menilai kesahihan suatu fenomena sehingga bisa disimpulkan sebagai sebuah realitas.
Intelek adalah suatu fungsi pikiran yang digunakan untuk memproses input-input yang masuk dari alat-alat inderawi kita : mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Dari 5 indera fisik itu jiwa kita berhubungan dengan dunia luar. Tapi disamping 5 indera fisik itu, pikiran dapat juga disebut sebagai sebuah alat pengindera, karena fungsinya adalah mengindera realitas yang dalam fungsi itu disebut sebagai 'persepsi'.
Input-input yang masuk dari alat-alat indera itu berupa DATA mentah. Data-data mentah ini kemudian disusun oleh pikiran, melalui bekal apa yang ada dalam ingatannya, agar menjadi sebuah informasi. Inilah yang disebut persepsi.
Oleh karena itu, maka jangan heran apabila ada 2 orang yang mendapat input data-data inderawi yang sama tetapi menimbulkan persepsi yang berbeda. Inlah awal dari sebuah salah paham atau pertengkaran.
Jadi, yang menjadi persoalan adalah apa yang telah disusupkan dan ditimbun dalam ingatannya. Apabila yang ditimbun dalam ingatannya adalah informasi-infor
masi yang salah, sudah bisa dipastikan bahwa selanjutnya maka ia akan menilai data-data lain yang masuk ke dalam otaknya dengan sebuah persepsi yang salah. Ini yang dinamakan tersesat.
Melalui informasi-informasi yang dikumpulkan dan dijalin dalam sebuah pemahaman yang saling berkaitan, ini disebut sebagai PENGETAHUAN (knowledge). Jadi bisa dilihat bagaimana bila orang mendapat input informasi-informasi yang salah kemudian memiliki versi realitas (pengetahuan) yang salah pula. Inilah yang dimanfaatkan oleh para teroris untuk menghasut dalam propagandanya. Mereka menolak dan sengaja menutupi informasi benar, alih-alih mendoktrinkan informasi-infor
masi karangannya sendiri kepada para umatnya sehingga bertindak sesuai dengan keinginannya.
Itulah kaitan antara PIKIRAN dan EMOSI. Pikiran yang salah memunculkan reaksi emosi yang tidak tepat pula. Seharusnya senang, malah marah; seharusnya jijik malah bangga.
Itulah mengapa disebut sebagai "The Other Side" atau "Sitra Achra" ...istilah yang digunakan dalam Bible untuk merujuk pada Iblis. (Note : Lucifer bukanlah nama aslinya. Pengistilahan "Lucifer" (Bintang Fajar) adalah suatu kesalah-kaprahan pada saat penerjemahan naskah Ibrani menuju Latin pada versi Septuginta).
Bagi kaum yang tersesat, maka informasi akan berhenti sebagai sebuah penjahanaman diri sendiri. Tidak akan berkembang lebih lanjut menjadi UNDERSTANDING (pengertian). Padahal dasar dari KASIH dan pengenalan akan Tuhan adalah UNDERSTANDING ini. Dimana saat mengenali Tuhan dari realitas yang mengada ini (kasunyatan, kesenyataan) maka dapat disebut WISDOM (Hikmah, hikmat, kebijaksanaan).
Proverb 2 : 5-7
5Then you will discern the fear of the Lord and discover the KNOWLEDGE OF GOD (Da'ath / Jnana). 6For the Lord gives WISDOM (Chokmah / Prajna); From His mouth come KNOWLEDGE (da'ath / Vid [:Veda]) and UNDERSTANDING (Binah / Vidya). 7He stores up sound wisdom for the upright; He is a shield to those who walk in integrity,...
( Amsal 2:5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. b 2:6 Karena Tuhanlah yang memberikan HIKMAT, dari mulut-Nya datang PENGETAHUAN dan KEPANDAIAN. 2:7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, 2:8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. 2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.)
Inilah TRISULA VEDA, senjata sang Putra Batara Indra!
Rahayu!
KNOWLEDGE - UNDERSTANDING - WISDOM
Tujuan hidup sebagai manusia adalah untuk mengenali Realitas. Itulah yang akan membawa anda ke Surga atau pada akhirnya ke Realitas Tertinggi (Ultimate Reality) yaitu Nirwana.
Neraka adalah tempat untuk orang-orang yang tersesat dari realitas.
Bagaimanakah mengenali Realitas?
Tuhan memberikan kepada kita 2 alat , yaitu : Otak dan Hati......Mind and Heart.
Secara modern kita menyebutnya Intelek dan Emosi.
Intelek dan Emosi haruslah bekerja secara sinergis dan imbal-balik untuk menilai kesahihan suatu fenomena sehingga bisa disimpulkan sebagai sebuah realitas.
Intelek adalah suatu fungsi pikiran yang digunakan untuk memproses input-input yang masuk dari alat-alat inderawi kita : mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Dari 5 indera fisik itu jiwa kita berhubungan dengan dunia luar. Tapi disamping 5 indera fisik itu, pikiran dapat juga disebut sebagai sebuah alat pengindera, karena fungsinya adalah mengindera realitas yang dalam fungsi itu disebut sebagai 'persepsi'.
Input-input yang masuk dari alat-alat indera itu berupa DATA mentah. Data-data mentah ini kemudian disusun oleh pikiran, melalui bekal apa yang ada dalam ingatannya, agar menjadi sebuah informasi. Inilah yang disebut persepsi.
Oleh karena itu, maka jangan heran apabila ada 2 orang yang mendapat input data-data inderawi yang sama tetapi menimbulkan persepsi yang berbeda. Inlah awal dari sebuah salah paham atau pertengkaran.
Jadi, yang menjadi persoalan adalah apa yang telah disusupkan dan ditimbun dalam ingatannya. Apabila yang ditimbun dalam ingatannya adalah informasi-infor
masi yang salah, sudah bisa dipastikan bahwa selanjutnya maka ia akan menilai data-data lain yang masuk ke dalam otaknya dengan sebuah persepsi yang salah. Ini yang dinamakan tersesat.
Melalui informasi-informasi yang dikumpulkan dan dijalin dalam sebuah pemahaman yang saling berkaitan, ini disebut sebagai PENGETAHUAN (knowledge). Jadi bisa dilihat bagaimana bila orang mendapat input informasi-informasi yang salah kemudian memiliki versi realitas (pengetahuan) yang salah pula. Inilah yang dimanfaatkan oleh para teroris untuk menghasut dalam propagandanya. Mereka menolak dan sengaja menutupi informasi benar, alih-alih mendoktrinkan informasi-infor
masi karangannya sendiri kepada para umatnya sehingga bertindak sesuai dengan keinginannya.
Itulah kaitan antara PIKIRAN dan EMOSI. Pikiran yang salah memunculkan reaksi emosi yang tidak tepat pula. Seharusnya senang, malah marah; seharusnya jijik malah bangga.
Itulah mengapa disebut sebagai "The Other Side" atau "Sitra Achra" ...istilah yang digunakan dalam Bible untuk merujuk pada Iblis. (Note : Lucifer bukanlah nama aslinya. Pengistilahan "Lucifer" (Bintang Fajar) adalah suatu kesalah-kaprahan pada saat penerjemahan naskah Ibrani menuju Latin pada versi Septuginta).
Bagi kaum yang tersesat, maka informasi akan berhenti sebagai sebuah penjahanaman diri sendiri. Tidak akan berkembang lebih lanjut menjadi UNDERSTANDING (pengertian). Padahal dasar dari KASIH dan pengenalan akan Tuhan adalah UNDERSTANDING ini. Dimana saat mengenali Tuhan dari realitas yang mengada ini (kasunyatan, kesenyataan) maka dapat disebut WISDOM (Hikmah, hikmat, kebijaksanaan).
Proverb 2 : 5-7
5Then you will discern the fear of the Lord and discover the KNOWLEDGE OF GOD (Da'ath / Jnana). 6For the Lord gives WISDOM (Chokmah / Prajna); From His mouth come KNOWLEDGE (da'ath / Vid [:Veda]) and UNDERSTANDING (Binah / Vidya). 7He stores up sound wisdom for the upright; He is a shield to those who walk in integrity,...
( Amsal 2:5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. b 2:6 Karena Tuhanlah yang memberikan HIKMAT, dari mulut-Nya datang PENGETAHUAN dan KEPANDAIAN. 2:7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, 2:8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. 2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.)
Inilah TRISULA VEDA, senjata sang Putra Batara Indra!
Rahayu!
Jumat, 09 Desember 2016
TUHAN MANA LAGI YANG MAU DICATUT?
Muhammad Nurul Banan
TUHAN MANA LAGI YANG MAU DICATUT?
Secara kauniyah tubuh Anda tidak bisa utuh sebagai waujud biologis bila tubuh Anda hanya terdiri dari satu unsur. Apa yang terjadi kalau tubuh Anda hanya tulang saja tidak ada unsur lainnya, bisakah wujud biologis Anda ada? Anda terwujud dari ke-bhinneka-an unsur-unsur biologis yang berbeda-beda, ada unsur air, unsur tulang, unsur daging, hingga unsur-unsur najis turut serta mewujudkan bentuk biologis Anda.
Bumi bila hanya terdiri dari unsur batu, bisakah Anda hidup di Bumi ini? Batu, air, udara, tanah, mineral, oksigen, karbohidrat, semuanya unsur yang berbeda-beda. Dari ke-bhinneka-an, Allah meng-fayakun-kan alam semesta, dari ke-bhinneka-an, Allah mencipta. Tanpa ke-bhinneka-an, alam semesta ini gagal tercipta. Dari ke-bhinneka-an alam semesta ini terwujud, alam ini di bawah rahmat Ke-Bhinneka-an Allah.
Karena ini Allah bergelar Ar-Rahmān, di mana di titik Ar-Rahmān kesadaran Allah adalah kesadaraan ke-bhinneka-an total, Allah sangat plural tiada batas. Semua diperlakukan dan diberi hak yang sama di bawah kesadaran Ar-Rahmān-Nya. Tidak ada bedanya antara yang hitam dan putih, antara Fremashon dan ISIS, antara Donald Trump dan King Abdul Aziz, antara atas dan bawah. Semua direngkuh oleh-Nya sebagai satu kesatuan tak berbeda.
Karena ini Anda jangan heran, K.H. Abdurrahman Wahid, K.H. Ahmad Musthofa Bisri, Buya Syafii Maarif, Dr. Nur Cholis Madjid, Jalaluddin Rumi, Ibn 'Arabi, Manshur Al-Hallaj, Siti Jenar, dll., terlihat begitu plural, mereka tidak hanya mengasihi yang seagama, tetapi yang berbeda agama mereka tidak hanya mengasihi tetapi melindungi. Bukan mereka liberal, tetapi mereka para penzikir yang mencapai kekekalan, mereka mengenali Allah seutuhnya dengan mata hati mereka, mereka tahu "Allah Maha Bhinneka" di dalam Ke-Ahad-an-Nya. Merekalah para pencapai iman.
Bahkan semua spiritualis dari agama apapun sama-sama mengenali-Nya sebagai Zat Yang Bhinneka. Bunda Teresha, Dai Lama, Paus Fransiskus, Sir Thomas Aquinas, Mahatma Gandhi, Gede Prama, dll., contohnya. Mereka tidak mempermasalahkan sekat agama, karena mereka semua tahu Ke-Mahabhinnekaan-Nya.
Tidak bisa di kehidupan ini hanya Islam saja, hanya Kristen saja, hanya Budha saja, dan seterusnya. Alam semesta runtuh kalau di Bumi ini hanya ada satu agama saja, seperti runtuhnya tubuh Anda ketika hanya tersusun dari unsur tulang.
Mereka paham benar dengan Allah karena itu mereka sedikitpun tidak mau mengingkari kebijaksanaan Allah. Alam semesta telah digarisbawahi dengan sunnatu-llāh, maka mereka menerima keanekaragaman setulus hati tanpa punya kepentingan SARA.
Sebab ini, komunisme sebagai aliran filsafat anti Tuhan, justru menemukan kalau hidup ini anti perbedaan. Catatlah Korea Utara, stasiun televisi dan radio hanya satu, mereka takut dengan perbedaan informasi, kebijaksanaan pemerintahan hanya boleh satu komando Kim Jong Un, partai politik hanya ada satu, bahkan saya mendengar cukuran pria hanya boleh satu model yakni model rambut Kim Jong Un. Berani berbeda di Korea Utara langsung bunuh.
Dan semua negara-negara komunis di dunia melakukam revolusi dengan pembunuhan massal, memaksa orang untuk satu pendapat, satu kemauan, berani beda diteror dan dibunuh. Karenanya sistem sosial komunisme adalah "sosialisme" di mana semua kebijaksanaan untuk rakyat dikendalikan oleh pemerintah. Mereka anti perbedaan, anti kritik, sangat tertutup dan otoriter sebab keantian mereka terhadap Tuhan. Mereka mengingkari sunnatu-llāh tercipta dari perbedaan.
Di dalam beragama, banyak kelompok dengan "mengatasnakan Tuhan" dengan semangat sekali mengkotak-kotak k*f*r, dicolok-colokkan semangat peng-k*f*r-an, bunuh, bunuh, bunuh. ISIS begitu semangat membunuh atas nama Tuhan, tidak seide dengan ideologi ISIS halal dibunuh. Semua harus berbaju sama, semua harus ISIS, beda dengan ISIS harus musnah. Dikira mewujudkan tubuh biologis cukup dengan unsur tulang, mewujudkan agama haq harus membunuh aliran yang berbeda. Ini ingkar sunnatu-llāh, artinya ingkar Tuhan.
Lalu model mengenali Tuhan dengan semangat seperti ini apa bedanya dengan semangat sosialis-komunis? Bedanya komunis di bawah formalitas ateis, ISIS di bawah formalitas teis. Itu semua terjadi karena Tuhan dipahami sebagai formalitas dalil, tidak sebagai rasa hati nurani. Ujar-ujar mengatasnamakan Tuhan eeh realitasnya anti Tuhan.
Tidak hanya dalam Islam, kasus anti beda juga sedang marak di Myanmar, Budhis Myanmar begitu semangat membunuh atas nama Tuhan, Yahudi Israel begitu semangat membantai muslim dan Arab atas nama Tuhan, Donald Trump begitu semangat mendiskriminasi
kan muslim, Arab Saudi begitu semangat memboikot haji muslim Iran.
Di negeri kita semangat anti Tuhan dengan mengatasnamakan Tuhan mulai marak, ada issu roti kafir, dan kemarin di Bandung KKR di jalan dilarang, padahal di Monas juga ada shalat Jumat di jalan.
Semangat meng-k*f*r-kan tidak ada beda dengan semangat anti Tuhan, lalu Tuhan yang mana yang sedang diatasnamakan? Tuhan Yang Maha Esa bersifat plural, segala keragaman Dia akui, segala ke-bhinneka-an diikat, lalu Tuhan mana lagi yang mau dicatut?
Mau jubahan, mau pakai kalung Salib besar, mau kepala plontos dengan jubah orange, mau jenggotan dengan surban dan jidat hitam, kalau ide peng-k*f*r-annya masih kuat, aah itu karakter Kim Jong Un yang anti Tuhan.
Kecuali dalam keadaan tertentu, seperti Shalahuddin Al-Ayyubi menghadapi pasukan Salib Eropa, Nelson Mandela menghadapi rasisme warna kulit, Bung Karno dan Mahatma Gandhi menghadapi penjajahan, demi membela hak, mereka berani duel dalam perbedaan. Bukan 1 nyamuk dilawan oleh 7 ribu obat anti nyamuk.
Senin, 28 November 2016
MEDITASI
Danz Suchamda,
MEDITASI BUKAN BERARTI SEKEDAR TEKNIK
Meditasi adalah suatu keadaan menjaga kesadaran dan perhatian secara terus menerus dalam setiap aktivitas kehidupan. Jadi, yang disebut meditasi bukan sekedar persoalan teknik, entah itu teknik meditasi duduk ataupun berjalan. Kita sebut meditasi dalam pengertian sebuah teknik ini sebagai "Sitting Session" (Sesi Duduk). Dan meditasi di dalam kehidupan sehari-hari ini kita istilahkan sebagai "Post-Meditation" (Setelah-meditasi). Sementara itu, untuk mengembangkan sikap dan gaya hidup yang kondusif dengan kesadaran, maka kita perlu memahami beberapa pengertian Dharma. Caranya antara lain dengan mengembangkan pengertian, aspirasi dan juga motivasi. Hal-hal ini kita sebut dengan "Preliminary Training" (Pelatihan Awal).
SITTING SESSION
Teknik meditasi secara khusus pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam :
1. Meditasi Samatha (Placement Meditation / Single-pointed Meditation)
2. Meditasi Pandangan Terang (Meditasi Pengenalan Diri / Insight Meditation / Clear Seeing Meditation / Vipassana. Istilah dari Ki Ageng Suryomentaram : Nyawang Karep. Kejawen : Sholat Do'im).
Inti dari teknik pengembangan Kesadaran itu terdapat pada Meditasi Pandangan Terang (Insight Meditation). Tetapi karena batin sifatnya juga seperti otot, yaitu kekuatan otot kita dapat ditingkatkan melalui penggemblengan / training latihan otot, maka untuk menguatkan aspek-aspek batin seseorang biasanya mendahuluinya dengan melatih Meditasi Samatha.
MEDITASI SAMATHA
Pada intinya disini adalah untuk mengembangkan relaksasi dan fokus perhatian / kemampuan berkonsentrasi / fokus pada satu hal dalam suatu saat. Obyek meditasinya hanya satu dan bersifat tetap (terus menerus sampai akhir sitting session). Ada berbagai macam teknik Meditasi Samatha.
Dalam tradisi Shravakayana dapat dikenal 40 macam Meditasi Samatha. Belum lagi teknik2 dalam Mahayana dan Vajrayana, plus variasi dalam tiap2 sektenya. Plus bila anda ingin meninjau teknik2 meditasi Hindu berdasar Veda, Advaita Vedanta, Yoga dan Tantra, apalagi bila kita menggali dari metode2 tradisional yang ada pada Nusantara / jawa, maka akan jadi bervolume-volume buku. Terlalu njelimet kalau diterangkan semuanya disini, karena tujuan tulisan ini bukan untuk membedah secara detail, tapi untuk memberikan kata pengantar saja. Cukup basic2nya dulu saja, sementara bila sudah mahir, maka jenis2 meditasi yg lain dapat dicoba dan akan dengan cepat membuahkan experience (pengalaman) karena batin sudah lebih tergembleng (dasarnya sudah terbentuk).
Di antara sekian banyak teknik meditasi yang berbasiskan Samatha maka saya referensikan satu teknik saja yang paling umum dan paling aman untuk dapat dilatih sendiri di rumah masing-masing, yaitu :
- Meditasi Perhatian pada Nafas (Anapanasati).
Caranya mudah :
Duduk bersila (bebas). Yang penting punggung tegak dan rileks tidak bergerak. Pejamkan mata. Arahkan perhatian pada bagian antara bibir atas dan lubang hidung. Disitu perhatikan aliran keluar masuknya nafas. Sadari sensasi setiap nafas yang keluar dan masuk. Fokus perhatian disitu selama mungkin, sesuai kemampuan. Tetapi standar pelatihan Meditasi Samatha adalah 2 jam per sitting session.
MEDITASI PANDANGAN TERANG (Insight Meditation / SHALAT DO'IM / Nyawang Karep )
Intinya adalah untuk mengembangkan perhatian (mindfulness; sati). Perhatian yang penuh dan intens akan mengembangkan Kesadaran (Awareness). Tahap pelatihan pengembangan kesadaran ini secara tradisional meliputi 5 aspek konstruk diri :
- Badan/ fisik (rupa),
- Pikiran (manas),
- Perasaan (vedana),
- Persepsi (sanna) dan,
- Matan-Kesadaran (consciousness; chitta).
Meditasi Pandangan Terang ini adalah mengamati-menyadari secara pasif obyek kesadaran yang muncul. Disini obyek meditasinya tidak tentu tetapi berubah-ubah mengikuti apa yang muncul dalam ruang kesadaran kita, disebut Momentary-concentration (khanika samadhi). Dan disitulah kita secara perhatian penuh menyadari / mencatatnya di dalam batin. Hal ini dilakukan secara bertahap pada fisik, pikiran, perasaan, persepsi, dan pada akhirnya pada fenomena dharma. Satu persatu pada aspek diri tersebut sampai mencapai suatu titik kemampanan / penguasaan keahlian yang tertentu, yaitu sampai anda mengenali sifat-sifat dari batin itu sendiri.
Inti dari teknik meditasi ini adalah : mengamati / menyadari secara PASIF tanpa berusaha mengubah, mengikuti, memikirkan, menerima, atau menolak apa yang muncul di dalam ruang batin. Cukup catat di dalam batin.
Misalkan mendengar suara, catat dalam batin "mendengar...mendengar....mendengar..."; apabila muncul suatu gerak keinginan di dalam batin , catat "ingin..ingin..ingin.."; walau bila kemudian hilang rasa keinginan itu dan tidak ada apa-apa...maka alihkan perhatikan ke naik-turunnya perut mengikuti nafas; itu pun biasanya tidak lama (kecuali anda tersedot ke meditasi Samatha), ...sejenak kemudian kalau muncul emosi apa pun (misal : marah) catat "perasaan...per asaan...perasaan...", demikian juga pada waktu merasa takut, catat secara sama karena kategorinya sama "perasaan...perasaan..perasaan.." dst. Jadi, yang dicatat adalah bukan nama partikular fenomenanya, tetapi KATEGORI fenomenanya. Seringkali bagi pemula sering terhanyut dengan obyek yang muncul dalam ruang kesadarannya. Alih-alih menyadarinya secara pasif jadi turut mengikuti atau menganalisanya, ini namanya melamun. Pada saat melamun tidak sadar melamun, tetapi bila muncul detik2 kesadaran, maka segera tarik kembali perhatian ke posisi semula TANPA menghakimi, merasa kesal atau merasa "kok saya gagal terus". Semua itu adalah pikiran-pikiran yang cukup dicatat saja, "mikir...mikir...mikir..", dst dst.
Demikian pula, semakin intens berlatih dan batin anda menjadi peka, maka kadang-kadang muncul berbagai macam variasi fenomena diluar kebiasaan. Tidak usah takut. Tidak ada apa-apa, semua hanya proyeksi pikiran sendiri. Semisal muncul suatu "kehadiran" di samping anda yg membuat anda takut, cukup catat "merasa...merasa...merasa...." Disini diuji kemampuan anda untuk gentur dalam konsentrasi-bergerak (momentary concentration / khanika samadhi). Tapi bila anda tidak kuat, ya buka mata saja... biasanya tidak ada apa-apa. Biasanya... hehe
Latihan MPT ini dapat dilakukan pada sesi duduk, sembari berjalan atau kalau sudah mahir dalam aktivitas sehari-hari. Tapi untuk pemula, saya sarankan tidak dilakukan sembari melakukan kegiatan lain terutama yang membahayakan (misal : menyetir, mengoperasikan mesin, dsb). Karena batin pemula seringkali terjatuh dalam lamunan walau mengira dirinya sedang sadar. Sementara kalau secara praktis dalam kegiatan2 ringan yg tidak membahayakan seperti misalnya : menyapu, mencuci-piring atau dalam mengerjakan suatu pekerjaan tangan, anda dapat melakukannya dengan lambat-lambat dan penuh perhatian kepada apa yang sedang dikerjakannya. Rasakan secara penuh sensasi-sensainya, sentuhan dengan tekstur yang sedang dikerjakan, perhatikan detail dari bentuk2 dan warnanya, perhatikan perubahan2nya, dsb. Itulah yang disebut PERHATIAN (mindfullness / sati / eling). Lawan kata dari perhatian adalah LALAI atau kondisi LUPA (alpa, ora eling, meleng, mlinger).
Saya rasa sebegitu saja dulu penjelasannya, agar tidak menjadi terbeban terlalu banyak teori. Dan saya tidak perlu memberi anda anda iming-iming apa pun atas buah2 dari latihan meditasi ini... bermanfaat untuk ini untuk itu,... nanti bisa begini bisa begitu. Tidak! Kalau memang mau ya lakukan, kalau tidak ya tidak usah. Soal apa hasilnya, nanti rasakan sendiri aja. Karena ini adalah pelatihan kesadaran, maka pemberian iming-iming justru akan menghalangi proses kesadaran. Masing-masing insan sudah memiliki panggilan jiwanya masing-masing sesuai dengan kematangan buah karma baiknya masing-masing. Kalau memang bukan panggilan jiwanya, dikasih iming-iming, ya bisa praktek sementara waktu, tapi ujung2nya malah tersesat (oleh fantasi dan keinginannya sendiri yg belum murni). Disitulah letak perlunya Preliminary Training yang akan kita bahas lain waktu.
Rahayu!
Yang benar itu BUKAN mengatur egonya,tetapi MENYADARI egonya. Cukup sadar dan mengetahui, laksanakan meditasi pengenalan batin sendiri untuk Eling terus menerus.....silakan dilihat sendiri...dan baru nanti kemukakan pendapatmu sendiri...
Saya yakin anda pasti tidak mampu menjelaskan kenapa hanya dengan menyadari maka ego teratur sendiri tanpa diatur.
Tapi ini bukan sulap bukan trik, tapi kenyataan. Buktikanlah sendiri dan kurangi berargumen utk hal ini. Kalau menggunakan terminolog 'nafsu', maka bila perhatian yang terus menerus secara pasif (tanpa menanggapI) ke dalam batin itu cukup kuat dan kontinyu, maka 'nafsu' itu lenyap dengan sendirinya, tanpa usaha. Nah, dari situ anda akan bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Antara gerak pribadi, dan gerak yang digerakkan oleh YME.
Ingat, manusia itu mahluk biologis. Anda masih hidup di dunia dengan tugas merawat tubuh biologis anda supaya tidak hanya sehat lahiriah tetapi juga sehat jiwa. Karena fisik berhubungan erat dengan jiwa. Jika anda mendera fisik anda kelewat batas, maka jiwa anda pun lama2 jadi sakit / berubah.
Oleh karena itu, kebutuhan2 biologis manusia : makan-minum, sandang, papan, hiburan dan olahraga, prokreasi (sex), kebutuhan2 sosial dan psikologisnya....semua harus dipenuhi secara BERIMBANG.
Kesalahan orang Indonesia pada umumnya hanya mengartikan kata 'nafsu' itu sebagai seks. Ini double error (kesalahan dobel).
Pertama, sex sebagai kebutuhan (tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis) tetap harus dipenuhi dalam jalur2 kewajaran /kenormalan.
Kedua, nafsu itu bukan semata-mata urusan sex. Masi banyak nafsu2 negatif lain yg harus lebih diprioritaskan untuk diatasi, antara lain : nafsu kemalasan, nafsu ingin disebut suci, nafsu untuk merasa menang-menangan sendiri dan nafsu kebencian.
Tidak mungkin Tuhan itu menciptakan mahluknya dengan sexualitas tapi melarang-larang sex ketika hidup dilahirkan dengan kodrat itu, sementara malah mengiming-iming dengan surga sex ketika sudah lepas dari kodrat ketubuhannya. Kalau anda paham akan prinsip spiritual, maka tidak pernah ada assymetry verticalseperti itu diatas. Karena fractal what is above selalu symettry dengan fractal what is below.
Bahaya dari usaha ego mengatasi ego. Atau nafsu suci mengatasi nafsu2 yang lain , adalah : Memang pada awalnya NAMPAKNYA seolah-olah ego yg mengeraskan diri itu tampak berhasil mengatasi nafsu.. Itu hanyalah trik ego.
Dalam kenyataannya makin lama ego itu menjadi "besar kepala" mampu mengatasi nafsu. Padahal nafsu itu sendiri MASIH TETAP UTUH ada di dalam batin anda. Hanya saja beralih wujud....istilah psikologisnya : kompensasi, substitusi, proyeksi, dsb.Dari situlah akar muasal semua keruwetan batin (manifesjadi keruwetan aturan2/ hukum2) dan segala kemunafikan terjadi!
Karena si ego tetap intact tak berkurang sedikitpun di dalam batin, melainkan hanya berputar-putar di dalam diri beralih wujud satu menjadi yang lain untuk mencari celah-celah jalan keluar melalui hal-hal yang bisa jadi pembenarannya!
Franky Liang, "Manusia adalah makhluk kesadaran yang berlapis-lapis kesadarannya."
1. Kesadaran pertama adalah kesadaran fisik. Kesadarannya baru sampai pada bahwa tubuhnya adalah dirinya. Maka hidupnya habis hanya untuk mengejar kesenangan indriawi. Yaitu sebagai berikut : Yang enak didengar telinga Yang enak dilihat mata Yang enak dirasakan lidah Yang enak dicium hidung Yang enak dirasakan kulit Untuk lepas dari kesadaran fisik ini harus belajar hidup prihatin, puasa, mengurangi kenikmatan fisik.
2. Kesadaran Rasa.
Rasa adalah dirinya. Maka hidupnya mengejar pemenuhan akan kenikmatan rasa. Pada dasarnya adalah egoisme.
Yang terbagi atas :
Rasa tamak
Rasa iri
Rasa marah Dan akumulasinya adalah kebebalan rasa.
Untuk lepas dari jerat rasa, seorang harus belajar : merasa senang melihat orang lain senang.
Hal ini akan menguatkan dirinya hingga lalu aktif menyenangkan orang lain, akhirnya ia bisa mengikhlaskan rasa egoisnya dan berhenti mengharapkan kebaikan sebagai imbalan perbuatan baiknya. Inilah hampanya rasa.
3. Kesadaran Pikir.
Pikiran adalah dirinya. Maka dirinya adalah segala konsep yang dipercayanya dan dibelanya mati-matian. Termasuk konsep Tuhan. Ia menggambarkan Tuhan sesuai akal pikirnya sendiri, sesuai kehendaknya sendiri, jadilah ia menemukan berhala, bukan Tuhan, bila beribadah maka ia menyembah Tuhan sesuai gambaran pikirannya, aneh bukan bila sosok Yang Maha Segalanya, Tak Tergambarkan, Tak Terdefinisikan, Tak Menyerupai CiptaanNya dapat digambarkan dan dibentuk oleh pikiran CiptaanNya? Dibuat dan dibentuk sesuai imajinasi CiptaanNya. Itulah Penyembahan Berhala. Untuk menembus kesadaran pikir yang selalu membela diri sendiri ini, maka seorang harus belajar berendah hati. Sampai tahap tidak ada yang bisa menyakiti dirinya lagi, yaitu ia tidak bisa merasa tersinggung lagi. Akhirnya ia mengikhlaskan pula pikirannya yang sebenarnya hanya terdiri dari benar dan salah versi pribadinya.
4. Tiada.
Sudah tiada lagi bentuk - bentuk konsep disini, seorang sudah sadar bahwa dirinya bukanlah fisiknya, bukanlah rasanya, bukanlah pikirannya yang berisi dualitas. Di tahap inilah seorang akan paham apa itu Yang Tak Terdefinisikan, Tak Tergambarkan, Tak menyerupai apapun. Dalam Islam disebut :
"Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, waman arofa Robbahu faqod jahillah nafsahu".
Siapa yang mengenali dirinya (nafsunya), maka Ia mengenal Tuhannya, dan barang siapa mengenal Tuhannya, Ia merasa bodoh (kosong).
Penjelasannya :
- Nafsu atau egoisme itu terdiri dari egoisme fisik, egoisme rasa, egoisme pikir. Saat ia menemukan bahwa semua itu adalah kosong, Ia menemukan hakekat Tuhan yang sejati dalam kekosongan itu.
- Marifat.
Dalam ajaran Syeh Siti Jenar disebut Jumbuh (bersatu). Atau Manunggaling Kawula Gusti (menyatunya manusia dan Tuhan).
Tentunya bukan secara fisik tapi dalam pemahaman yang sejati akan fananya segala sesuatu ini. Tuhan itu lebih dekat dari urat di leher, hanyalah kita yang tidak pernah sadar karena tertutup oleh egoisme fisik, rasa, dan pikir kita.
Dalam Buddha disebut Anutarra Samyak Samboddhi, mencapai Kebuddhaan, menemukan hakekatnya kosong. Inilah pemahaman yang sudah ditemukan oleh para suci jaman dahulu kala.
Tahap terakhir bagi seorang insan kamil, manusia paripurna, Buddha, tentunya adalah berkarya, menyebarkan pengetahuan akan jati diri manusia ini.
Rahmatan lil alamin. (Berkah bagi alam).
Hamemayu Hayuning Bhawana. (Menambah indah dan kebaikan di dunia ini).
Sabhe satta bhavantu sukhitatta. (Semoga semua makhluk berbahagia).
Lakukan meditasi dgn sadar dan hening ... pada saat "sadar" itu secara otomatis kesadaran naik/bertumbuh (tercipta tangga2) ... tapi begitu ada "keinginan" yang muncul dengan otomatis juga tangga2 kesadaran akan stop naik/bertumbuh ... malah bisa mengurangi pertumbuhannya.
Maka jangan memasukan sesuatu niat atau keinginan dalam meditasi.
Selayaknya kesadaran bertumbuh/meningkat akan menghasilkan pikiran yang jernih (hati yg murni) dan dapat kita gunakan dalam tingkah laku kita sehari2 (mengamalkan).
Lalu apakah yang disebut dengan Post Meditation atau Latihan Setelah Meditasi atau disebut Meditasi / Eling Dalam Kehidupan Sehari-hari?
Inilah contohnya.
Segala sesuatu dilakukan dengan prinsip "Semoga semua mahluk berbahagia". Melakukan segala sesuatu BUKAN untuk diri tetapi untuk mahluk lain. Ini hanya mungkin dilaksanakan bila anda AWARE kepada sekeliling anda adalah hidup dan kehidupan dalam setiap saatnya. Pada akhirnya anda akan mampu menjadi saksi bahwa Sang Hidup hadir dimana-mana.
Cobalah rilex dan berserah penuh sampai pikiran-pikiran menjadi tenang dan lihatlah ke dalam ruangan batin. Di tengah masalah, kegaduhan, tekanan, kegelapan, disitu selalu terdapat secercah sinar Illahi. Ketahuilah bahwa sepercik kejernihan yang gemilang itu adalah jiwa murnimu. Your pure-soul.
Meditasikanlah :
- Pejamkan mata dan sadari seluruh tubuh anda. Lalu perhatian diletakkan pada perut / dada yang naik dan turun pada saat bernafas dengan alami.
- Setelah beberapa saat, tengoklah jiwamu. Dan sadarilah bahwa apa pun diluar, jiwa anda tetaplah murni. Segelap apa pun diluaran, tidaklah akan mampu memadamkan cahaya jiwa-murnimu. Ucapkan dengan penyadaran berkali-kali "My soul is pure....my soul is pure......my soul is pure.."dst.
- Setelah merasakan keteduhan. Visualisasikanlah orang-orang yang mengganggu batinmu, yg menyebabkan munculnya amarah dan benci. Tataplah wajahnya dan matanya, dan ketahuilah bahwa dalam jiwanya pun terdapat
pure-soul itu. Ucapkan dengan penyadaran dalam hati, "Your soul is pure....your soul is pure....your soul is pure..." dst.
- Rasakan dan sadarilah bahwa antara kamu dan dia adalah bersumber dari akar pure-soul yang sama. Seluruh mahluk hidup di dunia ini berakar dari akar yang sama.
"Be still!! --and know-- I AM -- God". Ehyeh Asher Ehyeh.
Salam mangan Beling ! Bendinane eling hehe.
Rahayu !
MEDITASI BUKAN BERARTI SEKEDAR TEKNIK
Meditasi adalah suatu keadaan menjaga kesadaran dan perhatian secara terus menerus dalam setiap aktivitas kehidupan. Jadi, yang disebut meditasi bukan sekedar persoalan teknik, entah itu teknik meditasi duduk ataupun berjalan. Kita sebut meditasi dalam pengertian sebuah teknik ini sebagai "Sitting Session" (Sesi Duduk). Dan meditasi di dalam kehidupan sehari-hari ini kita istilahkan sebagai "Post-Meditation" (Setelah-meditasi). Sementara itu, untuk mengembangkan sikap dan gaya hidup yang kondusif dengan kesadaran, maka kita perlu memahami beberapa pengertian Dharma. Caranya antara lain dengan mengembangkan pengertian, aspirasi dan juga motivasi. Hal-hal ini kita sebut dengan "Preliminary Training" (Pelatihan Awal).
SITTING SESSION
Teknik meditasi secara khusus pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam :
1. Meditasi Samatha (Placement Meditation / Single-pointed Meditation)
2. Meditasi Pandangan Terang (Meditasi Pengenalan Diri / Insight Meditation / Clear Seeing Meditation / Vipassana. Istilah dari Ki Ageng Suryomentaram : Nyawang Karep. Kejawen : Sholat Do'im).
Inti dari teknik pengembangan Kesadaran itu terdapat pada Meditasi Pandangan Terang (Insight Meditation). Tetapi karena batin sifatnya juga seperti otot, yaitu kekuatan otot kita dapat ditingkatkan melalui penggemblengan / training latihan otot, maka untuk menguatkan aspek-aspek batin seseorang biasanya mendahuluinya dengan melatih Meditasi Samatha.
MEDITASI SAMATHA
Pada intinya disini adalah untuk mengembangkan relaksasi dan fokus perhatian / kemampuan berkonsentrasi / fokus pada satu hal dalam suatu saat. Obyek meditasinya hanya satu dan bersifat tetap (terus menerus sampai akhir sitting session). Ada berbagai macam teknik Meditasi Samatha.
Dalam tradisi Shravakayana dapat dikenal 40 macam Meditasi Samatha. Belum lagi teknik2 dalam Mahayana dan Vajrayana, plus variasi dalam tiap2 sektenya. Plus bila anda ingin meninjau teknik2 meditasi Hindu berdasar Veda, Advaita Vedanta, Yoga dan Tantra, apalagi bila kita menggali dari metode2 tradisional yang ada pada Nusantara / jawa, maka akan jadi bervolume-volume buku. Terlalu njelimet kalau diterangkan semuanya disini, karena tujuan tulisan ini bukan untuk membedah secara detail, tapi untuk memberikan kata pengantar saja. Cukup basic2nya dulu saja, sementara bila sudah mahir, maka jenis2 meditasi yg lain dapat dicoba dan akan dengan cepat membuahkan experience (pengalaman) karena batin sudah lebih tergembleng (dasarnya sudah terbentuk).
Di antara sekian banyak teknik meditasi yang berbasiskan Samatha maka saya referensikan satu teknik saja yang paling umum dan paling aman untuk dapat dilatih sendiri di rumah masing-masing, yaitu :
- Meditasi Perhatian pada Nafas (Anapanasati).
Caranya mudah :
Duduk bersila (bebas). Yang penting punggung tegak dan rileks tidak bergerak. Pejamkan mata. Arahkan perhatian pada bagian antara bibir atas dan lubang hidung. Disitu perhatikan aliran keluar masuknya nafas. Sadari sensasi setiap nafas yang keluar dan masuk. Fokus perhatian disitu selama mungkin, sesuai kemampuan. Tetapi standar pelatihan Meditasi Samatha adalah 2 jam per sitting session.
MEDITASI PANDANGAN TERANG (Insight Meditation / SHALAT DO'IM / Nyawang Karep )
Intinya adalah untuk mengembangkan perhatian (mindfulness; sati). Perhatian yang penuh dan intens akan mengembangkan Kesadaran (Awareness). Tahap pelatihan pengembangan kesadaran ini secara tradisional meliputi 5 aspek konstruk diri :
- Badan/ fisik (rupa),
- Pikiran (manas),
- Perasaan (vedana),
- Persepsi (sanna) dan,
- Matan-Kesadaran (consciousness; chitta).
Meditasi Pandangan Terang ini adalah mengamati-menyadari secara pasif obyek kesadaran yang muncul. Disini obyek meditasinya tidak tentu tetapi berubah-ubah mengikuti apa yang muncul dalam ruang kesadaran kita, disebut Momentary-concentration (khanika samadhi). Dan disitulah kita secara perhatian penuh menyadari / mencatatnya di dalam batin. Hal ini dilakukan secara bertahap pada fisik, pikiran, perasaan, persepsi, dan pada akhirnya pada fenomena dharma. Satu persatu pada aspek diri tersebut sampai mencapai suatu titik kemampanan / penguasaan keahlian yang tertentu, yaitu sampai anda mengenali sifat-sifat dari batin itu sendiri.
Inti dari teknik meditasi ini adalah : mengamati / menyadari secara PASIF tanpa berusaha mengubah, mengikuti, memikirkan, menerima, atau menolak apa yang muncul di dalam ruang batin. Cukup catat di dalam batin.
Misalkan mendengar suara, catat dalam batin "mendengar...mendengar....mendengar..."; apabila muncul suatu gerak keinginan di dalam batin , catat "ingin..ingin..ingin.."; walau bila kemudian hilang rasa keinginan itu dan tidak ada apa-apa...maka alihkan perhatikan ke naik-turunnya perut mengikuti nafas; itu pun biasanya tidak lama (kecuali anda tersedot ke meditasi Samatha), ...sejenak kemudian kalau muncul emosi apa pun (misal : marah) catat "perasaan...per asaan...perasaan...", demikian juga pada waktu merasa takut, catat secara sama karena kategorinya sama "perasaan...perasaan..perasaan.." dst. Jadi, yang dicatat adalah bukan nama partikular fenomenanya, tetapi KATEGORI fenomenanya. Seringkali bagi pemula sering terhanyut dengan obyek yang muncul dalam ruang kesadarannya. Alih-alih menyadarinya secara pasif jadi turut mengikuti atau menganalisanya, ini namanya melamun. Pada saat melamun tidak sadar melamun, tetapi bila muncul detik2 kesadaran, maka segera tarik kembali perhatian ke posisi semula TANPA menghakimi, merasa kesal atau merasa "kok saya gagal terus". Semua itu adalah pikiran-pikiran yang cukup dicatat saja, "mikir...mikir...mikir..", dst dst.
Demikian pula, semakin intens berlatih dan batin anda menjadi peka, maka kadang-kadang muncul berbagai macam variasi fenomena diluar kebiasaan. Tidak usah takut. Tidak ada apa-apa, semua hanya proyeksi pikiran sendiri. Semisal muncul suatu "kehadiran" di samping anda yg membuat anda takut, cukup catat "merasa...merasa...merasa...." Disini diuji kemampuan anda untuk gentur dalam konsentrasi-bergerak (momentary concentration / khanika samadhi). Tapi bila anda tidak kuat, ya buka mata saja... biasanya tidak ada apa-apa. Biasanya... hehe
Latihan MPT ini dapat dilakukan pada sesi duduk, sembari berjalan atau kalau sudah mahir dalam aktivitas sehari-hari. Tapi untuk pemula, saya sarankan tidak dilakukan sembari melakukan kegiatan lain terutama yang membahayakan (misal : menyetir, mengoperasikan mesin, dsb). Karena batin pemula seringkali terjatuh dalam lamunan walau mengira dirinya sedang sadar. Sementara kalau secara praktis dalam kegiatan2 ringan yg tidak membahayakan seperti misalnya : menyapu, mencuci-piring atau dalam mengerjakan suatu pekerjaan tangan, anda dapat melakukannya dengan lambat-lambat dan penuh perhatian kepada apa yang sedang dikerjakannya. Rasakan secara penuh sensasi-sensainya, sentuhan dengan tekstur yang sedang dikerjakan, perhatikan detail dari bentuk2 dan warnanya, perhatikan perubahan2nya, dsb. Itulah yang disebut PERHATIAN (mindfullness / sati / eling). Lawan kata dari perhatian adalah LALAI atau kondisi LUPA (alpa, ora eling, meleng, mlinger).
Saya rasa sebegitu saja dulu penjelasannya, agar tidak menjadi terbeban terlalu banyak teori. Dan saya tidak perlu memberi anda anda iming-iming apa pun atas buah2 dari latihan meditasi ini... bermanfaat untuk ini untuk itu,... nanti bisa begini bisa begitu. Tidak! Kalau memang mau ya lakukan, kalau tidak ya tidak usah. Soal apa hasilnya, nanti rasakan sendiri aja. Karena ini adalah pelatihan kesadaran, maka pemberian iming-iming justru akan menghalangi proses kesadaran. Masing-masing insan sudah memiliki panggilan jiwanya masing-masing sesuai dengan kematangan buah karma baiknya masing-masing. Kalau memang bukan panggilan jiwanya, dikasih iming-iming, ya bisa praktek sementara waktu, tapi ujung2nya malah tersesat (oleh fantasi dan keinginannya sendiri yg belum murni). Disitulah letak perlunya Preliminary Training yang akan kita bahas lain waktu.
Rahayu!
Yang benar itu BUKAN mengatur egonya,tetapi MENYADARI egonya. Cukup sadar dan mengetahui, laksanakan meditasi pengenalan batin sendiri untuk Eling terus menerus.....silakan dilihat sendiri...dan baru nanti kemukakan pendapatmu sendiri...
Saya yakin anda pasti tidak mampu menjelaskan kenapa hanya dengan menyadari maka ego teratur sendiri tanpa diatur.
Tapi ini bukan sulap bukan trik, tapi kenyataan. Buktikanlah sendiri dan kurangi berargumen utk hal ini. Kalau menggunakan terminolog 'nafsu', maka bila perhatian yang terus menerus secara pasif (tanpa menanggapI) ke dalam batin itu cukup kuat dan kontinyu, maka 'nafsu' itu lenyap dengan sendirinya, tanpa usaha. Nah, dari situ anda akan bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Antara gerak pribadi, dan gerak yang digerakkan oleh YME.
Ingat, manusia itu mahluk biologis. Anda masih hidup di dunia dengan tugas merawat tubuh biologis anda supaya tidak hanya sehat lahiriah tetapi juga sehat jiwa. Karena fisik berhubungan erat dengan jiwa. Jika anda mendera fisik anda kelewat batas, maka jiwa anda pun lama2 jadi sakit / berubah.
Oleh karena itu, kebutuhan2 biologis manusia : makan-minum, sandang, papan, hiburan dan olahraga, prokreasi (sex), kebutuhan2 sosial dan psikologisnya....semua harus dipenuhi secara BERIMBANG.
Kesalahan orang Indonesia pada umumnya hanya mengartikan kata 'nafsu' itu sebagai seks. Ini double error (kesalahan dobel).
Pertama, sex sebagai kebutuhan (tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis) tetap harus dipenuhi dalam jalur2 kewajaran /kenormalan.
Kedua, nafsu itu bukan semata-mata urusan sex. Masi banyak nafsu2 negatif lain yg harus lebih diprioritaskan untuk diatasi, antara lain : nafsu kemalasan, nafsu ingin disebut suci, nafsu untuk merasa menang-menangan sendiri dan nafsu kebencian.
Tidak mungkin Tuhan itu menciptakan mahluknya dengan sexualitas tapi melarang-larang sex ketika hidup dilahirkan dengan kodrat itu, sementara malah mengiming-iming dengan surga sex ketika sudah lepas dari kodrat ketubuhannya. Kalau anda paham akan prinsip spiritual, maka tidak pernah ada assymetry verticalseperti itu diatas. Karena fractal what is above selalu symettry dengan fractal what is below.
Bahaya dari usaha ego mengatasi ego. Atau nafsu suci mengatasi nafsu2 yang lain , adalah : Memang pada awalnya NAMPAKNYA seolah-olah ego yg mengeraskan diri itu tampak berhasil mengatasi nafsu.. Itu hanyalah trik ego.
Dalam kenyataannya makin lama ego itu menjadi "besar kepala" mampu mengatasi nafsu. Padahal nafsu itu sendiri MASIH TETAP UTUH ada di dalam batin anda. Hanya saja beralih wujud....istilah psikologisnya : kompensasi, substitusi, proyeksi, dsb.Dari situlah akar muasal semua keruwetan batin (manifesjadi keruwetan aturan2/ hukum2) dan segala kemunafikan terjadi!
Karena si ego tetap intact tak berkurang sedikitpun di dalam batin, melainkan hanya berputar-putar di dalam diri beralih wujud satu menjadi yang lain untuk mencari celah-celah jalan keluar melalui hal-hal yang bisa jadi pembenarannya!
Franky Liang, "Manusia adalah makhluk kesadaran yang berlapis-lapis kesadarannya."
1. Kesadaran pertama adalah kesadaran fisik. Kesadarannya baru sampai pada bahwa tubuhnya adalah dirinya. Maka hidupnya habis hanya untuk mengejar kesenangan indriawi. Yaitu sebagai berikut : Yang enak didengar telinga Yang enak dilihat mata Yang enak dirasakan lidah Yang enak dicium hidung Yang enak dirasakan kulit Untuk lepas dari kesadaran fisik ini harus belajar hidup prihatin, puasa, mengurangi kenikmatan fisik.
2. Kesadaran Rasa.
Rasa adalah dirinya. Maka hidupnya mengejar pemenuhan akan kenikmatan rasa. Pada dasarnya adalah egoisme.
Yang terbagi atas :
Rasa tamak
Rasa iri
Rasa marah Dan akumulasinya adalah kebebalan rasa.
Untuk lepas dari jerat rasa, seorang harus belajar : merasa senang melihat orang lain senang.
Hal ini akan menguatkan dirinya hingga lalu aktif menyenangkan orang lain, akhirnya ia bisa mengikhlaskan rasa egoisnya dan berhenti mengharapkan kebaikan sebagai imbalan perbuatan baiknya. Inilah hampanya rasa.
3. Kesadaran Pikir.
Pikiran adalah dirinya. Maka dirinya adalah segala konsep yang dipercayanya dan dibelanya mati-matian. Termasuk konsep Tuhan. Ia menggambarkan Tuhan sesuai akal pikirnya sendiri, sesuai kehendaknya sendiri, jadilah ia menemukan berhala, bukan Tuhan, bila beribadah maka ia menyembah Tuhan sesuai gambaran pikirannya, aneh bukan bila sosok Yang Maha Segalanya, Tak Tergambarkan, Tak Terdefinisikan, Tak Menyerupai CiptaanNya dapat digambarkan dan dibentuk oleh pikiran CiptaanNya? Dibuat dan dibentuk sesuai imajinasi CiptaanNya. Itulah Penyembahan Berhala. Untuk menembus kesadaran pikir yang selalu membela diri sendiri ini, maka seorang harus belajar berendah hati. Sampai tahap tidak ada yang bisa menyakiti dirinya lagi, yaitu ia tidak bisa merasa tersinggung lagi. Akhirnya ia mengikhlaskan pula pikirannya yang sebenarnya hanya terdiri dari benar dan salah versi pribadinya.
4. Tiada.
Sudah tiada lagi bentuk - bentuk konsep disini, seorang sudah sadar bahwa dirinya bukanlah fisiknya, bukanlah rasanya, bukanlah pikirannya yang berisi dualitas. Di tahap inilah seorang akan paham apa itu Yang Tak Terdefinisikan, Tak Tergambarkan, Tak menyerupai apapun. Dalam Islam disebut :
"Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, waman arofa Robbahu faqod jahillah nafsahu".
Siapa yang mengenali dirinya (nafsunya), maka Ia mengenal Tuhannya, dan barang siapa mengenal Tuhannya, Ia merasa bodoh (kosong).
Penjelasannya :
- Nafsu atau egoisme itu terdiri dari egoisme fisik, egoisme rasa, egoisme pikir. Saat ia menemukan bahwa semua itu adalah kosong, Ia menemukan hakekat Tuhan yang sejati dalam kekosongan itu.
- Marifat.
Dalam ajaran Syeh Siti Jenar disebut Jumbuh (bersatu). Atau Manunggaling Kawula Gusti (menyatunya manusia dan Tuhan).
Tentunya bukan secara fisik tapi dalam pemahaman yang sejati akan fananya segala sesuatu ini. Tuhan itu lebih dekat dari urat di leher, hanyalah kita yang tidak pernah sadar karena tertutup oleh egoisme fisik, rasa, dan pikir kita.
Dalam Buddha disebut Anutarra Samyak Samboddhi, mencapai Kebuddhaan, menemukan hakekatnya kosong. Inilah pemahaman yang sudah ditemukan oleh para suci jaman dahulu kala.
Tahap terakhir bagi seorang insan kamil, manusia paripurna, Buddha, tentunya adalah berkarya, menyebarkan pengetahuan akan jati diri manusia ini.
Rahmatan lil alamin. (Berkah bagi alam).
Hamemayu Hayuning Bhawana. (Menambah indah dan kebaikan di dunia ini).
Sabhe satta bhavantu sukhitatta. (Semoga semua makhluk berbahagia).
Lakukan meditasi dgn sadar dan hening ... pada saat "sadar" itu secara otomatis kesadaran naik/bertumbuh (tercipta tangga2) ... tapi begitu ada "keinginan" yang muncul dengan otomatis juga tangga2 kesadaran akan stop naik/bertumbuh ... malah bisa mengurangi pertumbuhannya.
Maka jangan memasukan sesuatu niat atau keinginan dalam meditasi.
Selayaknya kesadaran bertumbuh/meningkat akan menghasilkan pikiran yang jernih (hati yg murni) dan dapat kita gunakan dalam tingkah laku kita sehari2 (mengamalkan).
Lalu apakah yang disebut dengan Post Meditation atau Latihan Setelah Meditasi atau disebut Meditasi / Eling Dalam Kehidupan Sehari-hari?
Inilah contohnya.
Segala sesuatu dilakukan dengan prinsip "Semoga semua mahluk berbahagia". Melakukan segala sesuatu BUKAN untuk diri tetapi untuk mahluk lain. Ini hanya mungkin dilaksanakan bila anda AWARE kepada sekeliling anda adalah hidup dan kehidupan dalam setiap saatnya. Pada akhirnya anda akan mampu menjadi saksi bahwa Sang Hidup hadir dimana-mana.
Cobalah rilex dan berserah penuh sampai pikiran-pikiran menjadi tenang dan lihatlah ke dalam ruangan batin. Di tengah masalah, kegaduhan, tekanan, kegelapan, disitu selalu terdapat secercah sinar Illahi. Ketahuilah bahwa sepercik kejernihan yang gemilang itu adalah jiwa murnimu. Your pure-soul.
Meditasikanlah :
- Pejamkan mata dan sadari seluruh tubuh anda. Lalu perhatian diletakkan pada perut / dada yang naik dan turun pada saat bernafas dengan alami.
- Setelah beberapa saat, tengoklah jiwamu. Dan sadarilah bahwa apa pun diluar, jiwa anda tetaplah murni. Segelap apa pun diluaran, tidaklah akan mampu memadamkan cahaya jiwa-murnimu. Ucapkan dengan penyadaran berkali-kali "My soul is pure....my soul is pure......my soul is pure.."dst.
- Setelah merasakan keteduhan. Visualisasikanlah orang-orang yang mengganggu batinmu, yg menyebabkan munculnya amarah dan benci. Tataplah wajahnya dan matanya, dan ketahuilah bahwa dalam jiwanya pun terdapat
pure-soul itu. Ucapkan dengan penyadaran dalam hati, "Your soul is pure....your soul is pure....your soul is pure..." dst.
- Rasakan dan sadarilah bahwa antara kamu dan dia adalah bersumber dari akar pure-soul yang sama. Seluruh mahluk hidup di dunia ini berakar dari akar yang sama.
"Be still!! --and know-- I AM -- God". Ehyeh Asher Ehyeh.
Salam mangan Beling ! Bendinane eling hehe.
Rahayu !
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...