Arif RH,
Sepanjang hidup, setiap dari kita, pasti pernah menerima
nasehat ... Entah itu nasehat dari orang tua ...
Nasehat dari teman ... Nasehat dari tetangga ...
Nasehat dari guru ... Nasehat dari sahabat ... Dan
sebagainya ... Nasehat adalah sebuah untaian kata,
yang ditujukan agar sesuatu menjadi lebih baik ...
Misalnya, saya sering dinasehati teman, agar
membiasakan berolahgara ... Supaya body saya lebih fit
... Ini nasehat yang benar adanya bagi saya ...
Namun ternyata saya amati, tidak semua nasehat itu
baik ... Tidak semua nasehat itu berguna ... Bahkan,
beberapa nasehat bisa menghancurkan kehidupan kita ...
Lho? ... Kok bisa? ... Iya, bisa menghancurkan,
meskipun tidak diniatkan menghancurkan ... Bisa
menghancurkan? ... Serius? ... Iya serius ...
Mengapa? ... Kok bisa terjadi demikian? ...
Begini ...
Nasehat, ternyata juga dilatari oleh riwayat hidup dan
keadaan yang memberikan nasehat ... Ada unsur
keyakinan pribadi, di dalam sebuah nasehat ... Nah,
yang perlu kita perhatikan adalah, latar di balik nasehat
ini ... Iya ... Karena tanpa memahami latar di balik
nasehat ... Sebuah nasehat bisa menjerumuskan ... Atau
lebih tepatnya, kita terjerumus ...
Sebagai contoh begini ... Saya sering banget ketemu
orang, yang memberikan nasehat begini ... "Uang itu
bukan segalanya ... Sukses itu tidak selalu uangnya
banyak" ... Nasehat itu tidak saya katakan salah lho ya
... Tapi yang menarik ... Saat nasehat itu diselami, latar
filosofinya beda ...
Ada orang yang memberikan nasehat yang di atas itu ...
Dia sangat kaya raya ... Finansialnya berlebih ... Dan
dia menjelaskan, kenapa nasehat itu keluar dari
mulutnya ... Ohhh begini begini begini ... Dan beberapa
orang lainnya, dan ini sangat banyak, orang yang
memberikan nasehat, "uang itu bukan segalanya",
ternyata finansialnya dia error ... Dia ternyata sangat
bermasalah dengan keuangan ... Di balik nasehat, "uang
itu bukan segalanya", ternyata dia lagi curhat bahwa
dia gak punya duit ...
Ada orang yang memberikan nasehat, "hidup itu jangan
terlalu ngoyooo" ... Nah, nasehat itu bener gak? ...
Lihat dulu bagaimana yang bicara ... Bagaimana
kehidupannya ... Kalau yang bicara ternyata pemalas,
maka kalimat itu hanya pembenaran atas kelakuannya ...
Kalau yang bicara adalah seorang yang sangat berhasil
... Bisa jadi, latar filosofi di balik nasehat itu adalah,
anjuran agar kita berserah, tawakkal, ikhlas dan tidak
terjebak getaran napsu ...
Nah ... Dengan memahami latar di balik nasehat ... Kita
bisa melihat, apakah sebuah nasehat adalah benar-benar
nasehat ... Atau nasehat itu, hanyalah sebuah curhat
terselubung, dari yang memberikan nasehat? ...
Logikanya sama dengan contoh begini ... Menjawab
pertanyaan itu baik ... Tapi, saat kita mengerti,
"mengapa sih orang ini menanyakan hal ini?" ...
Pengertian ini akan membuat jawaban kita atas
pertanyaannya, jauh lebih dalam ...
Tidak semua NA-SEHAT benar-benar SEHAT ...
Beberapa NA-SEHAT, justru NDAK-SEHAT ... Itulah
sebabnya, kita perlu mengenali latar, di balik munculnya
sebuah nasehat ... Agar kita tidak salah dalam
mengaplikasikannya, karena filosofi di balik nasehat itu
belum tentu matching ... Kata orang jawa, "BENER,
belum tentu PENER" ...
Dan yang mau memberikan nasehat (termasuk saya) ...
Sebaiknya ngaca dulu ... Iya, ngaca dulu ... Dan
bertanya ke diri sendiri, "saya ini sebenarnya mau ngasih
nasehat, atau mau curhat tapi dikemas agar tak
terlihat?" ... Wakakakkakkk ...
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Selasa, 01 Maret 2016
Minggu, 28 Februari 2016
.::TIDAK ADA BAKTERI YANG JAHAT::.
Gobind Vashdev,
Mendengar kata "Bakteri" konotasi yang muncul
biasanya negatif, apalagi "kuman" lebih negatif lagi ,
padahal kedua nama itu adalah alias
Di sekolah kita diajarkan bahwa ada bakteri jahat dan
baik, namun yang jahat jauh lebih ngetop dari yang
baik, padahal kalau mau di hitung jumlah yang baik jauh
lebih banyak.
Ini wajar sekali, mirip seperti kehidupan kita dimana
kejahatan lebih sering diberitakan, padahal kebaikan
lebih banyak terjadi dalam keseharian ini.
Mari kita melihat lebih dalam.
Sebenarnya tidak ada yang namanya bakteri jahat atau
baik, mereka hanya melaksanakan perannya, ketika itu
menguntungkan, kita menyebutnya baik dan sebaliknya
kita menyebut jahat disaat merugikan kepentingan kita.
Bakteri ada dimana-mana, diluar dan di dalam tubuh ini,
ia berkembang dan mati sesuai kemampuanya beradaptasi
dengan lingkungan, di tempat panas yang cocok dengan
kapasitasnya bertahan dan yang lain mati juga
sebaliknya.
Didalam tubuh kita juga hal yang sama terjadi, ketika
seseorang mengkonsumsi makanan yang PH nya asam
dan hobby nya stress maka tubuhnya pun asam, lalu
berkembanglah bakteri yang cocok dengan suasana asam
tersebut.
Tatkala orang tersebut sakit memang paling enak bin
gampang menyalahkan atau mengkambinghitamkan
bakteri jahat daripada bertanggungjawab terhadap
pilihan makan dan pilihan pikir nya.
Luka menganga di tubuh adalah bagaikan undangan bagi
bakteri untuk berkumpul, ini adalah tempat yang tepat
untuk berkembang biak, tujuan bakteri bukan untuk
membuat empunya luka menjadi sakit atau infeksi, kuman
tersebut hanya melakukan kebutuhan insting dasarnya
yaitu mempertahankan diri dan meneruskan keturunan,
seperti yang juga dimiliki semua makhluk hidup.
Begitu di tubuh begitu pula di bathin, luka di hati
seseorang akan mengundang orang-orang lain untuk
berkumpul disekitar orang yang merasa memiliki luka
tersebut.
Jika selama ini kita memandang bakteri yang
menyebabkan infeksi atau orang lain atau lingkungan
adalah penyebab sakit hati Anda, saatnya untuk melihat
dari cara yang berbeda.
Perhatikan , ketika bakteri hadir dalam jumlah yang
banyak tubuh mengeluarkan berbagai jurus perlindungan,
tubuh membentuk antibody tujuan utamanya bukanlah
pada mengalakan bakteri yang bekembang, namun untuk
melindungi diri.
Akhirnya tubuh mengenal bakteri tersebut dan bila suatu
hari datang kembali tubuh sudah bersahabat dengannya.
Dari sisi bathin, orang yang membuat diri kita kecewa
atau marah tidak serta merta datang menjenguk kita, ia
merapat karena undangan dari luka hati ini, bila kita
melawannya dan ingin mengenyahkannya tentu akan ada
banyak energi terbuang dan tidak tertutup kemungkinan
terjadi luka baru.
Sebaliknya, bila kita hanya fokus pada diri sendiri tanpa
menyalahkan apapun dan siapapun maka hati akan
memiliki kemampuan menampung masalah yang lebih besar
dan kuat.
Sekali lagi tidak ada bakteri yang jahat juga yang baik,
begitu juga tidak ada orang yang baik juga jahat, semua
hanya melaksanakan peran berdasarkan kesadaran yang
dimilikinya.
Mendengar kata "Bakteri" konotasi yang muncul
biasanya negatif, apalagi "kuman" lebih negatif lagi ,
padahal kedua nama itu adalah alias
Di sekolah kita diajarkan bahwa ada bakteri jahat dan
baik, namun yang jahat jauh lebih ngetop dari yang
baik, padahal kalau mau di hitung jumlah yang baik jauh
lebih banyak.
Ini wajar sekali, mirip seperti kehidupan kita dimana
kejahatan lebih sering diberitakan, padahal kebaikan
lebih banyak terjadi dalam keseharian ini.
Mari kita melihat lebih dalam.
Sebenarnya tidak ada yang namanya bakteri jahat atau
baik, mereka hanya melaksanakan perannya, ketika itu
menguntungkan, kita menyebutnya baik dan sebaliknya
kita menyebut jahat disaat merugikan kepentingan kita.
Bakteri ada dimana-mana, diluar dan di dalam tubuh ini,
ia berkembang dan mati sesuai kemampuanya beradaptasi
dengan lingkungan, di tempat panas yang cocok dengan
kapasitasnya bertahan dan yang lain mati juga
sebaliknya.
Didalam tubuh kita juga hal yang sama terjadi, ketika
seseorang mengkonsumsi makanan yang PH nya asam
dan hobby nya stress maka tubuhnya pun asam, lalu
berkembanglah bakteri yang cocok dengan suasana asam
tersebut.
Tatkala orang tersebut sakit memang paling enak bin
gampang menyalahkan atau mengkambinghitamkan
bakteri jahat daripada bertanggungjawab terhadap
pilihan makan dan pilihan pikir nya.
Luka menganga di tubuh adalah bagaikan undangan bagi
bakteri untuk berkumpul, ini adalah tempat yang tepat
untuk berkembang biak, tujuan bakteri bukan untuk
membuat empunya luka menjadi sakit atau infeksi, kuman
tersebut hanya melakukan kebutuhan insting dasarnya
yaitu mempertahankan diri dan meneruskan keturunan,
seperti yang juga dimiliki semua makhluk hidup.
Begitu di tubuh begitu pula di bathin, luka di hati
seseorang akan mengundang orang-orang lain untuk
berkumpul disekitar orang yang merasa memiliki luka
tersebut.
Jika selama ini kita memandang bakteri yang
menyebabkan infeksi atau orang lain atau lingkungan
adalah penyebab sakit hati Anda, saatnya untuk melihat
dari cara yang berbeda.
Perhatikan , ketika bakteri hadir dalam jumlah yang
banyak tubuh mengeluarkan berbagai jurus perlindungan,
tubuh membentuk antibody tujuan utamanya bukanlah
pada mengalakan bakteri yang bekembang, namun untuk
melindungi diri.
Akhirnya tubuh mengenal bakteri tersebut dan bila suatu
hari datang kembali tubuh sudah bersahabat dengannya.
Dari sisi bathin, orang yang membuat diri kita kecewa
atau marah tidak serta merta datang menjenguk kita, ia
merapat karena undangan dari luka hati ini, bila kita
melawannya dan ingin mengenyahkannya tentu akan ada
banyak energi terbuang dan tidak tertutup kemungkinan
terjadi luka baru.
Sebaliknya, bila kita hanya fokus pada diri sendiri tanpa
menyalahkan apapun dan siapapun maka hati akan
memiliki kemampuan menampung masalah yang lebih besar
dan kuat.
Sekali lagi tidak ada bakteri yang jahat juga yang baik,
begitu juga tidak ada orang yang baik juga jahat, semua
hanya melaksanakan peran berdasarkan kesadaran yang
dimilikinya.
Jumat, 26 Februari 2016
.::PERLUKAH MEMBALAS KEBAIKAN::.
Gobind Vashdev,
"Kita harus beli makanan atau apa yang lain untuk
dibawa besok malam ke rumahnya"
"Kenapa harus?" Tanya saya
"Ya ngga enak lah, kita baru kenal terus masa diundang
makan malam dan tidak bawa apa-apa"
Itulah perbincangan saya dan kakak ipar sesaat setelah
kami menerima undangan makan malam dari Siva Raja
pemilik Amstridam Coffee di Batu Malang.
Diskusi selanjutnya menjadi sangat panjang, untuk
mempersingkat, kurang lebih begini intinya menurut
pandangan saya.
Bila kita ingin memberi atau menerima itu selayaknya
muncul karena kita memang ingin memberi, bukan
berdasar dari rasa tidak enak atau program-Program
lain yang tertanam sebelumnya.
Sedari kecil hampir dari kita semua terbentuk oleh
lingkungan, kita melihat perilaku ortu dan orang lain,
kita menyadap prinsip-prinsip yang dimiliki dan tak sadar
menirunya.
Kita menggenggam nilai-nilai ortu dan keluarga menjadi
kewajiban yang harus dijalani.
"Malu kalau tangan dibawah, tanganmu harus diatas
Nak"
"Kalau dikasih orang, kita harus membalasnya"
"Kita harus bantu orang , nanti kalau kita kesusahan
pasti akan ada yang bantu"
Adalah tiga dari ribuan program yang tertanam yang
seringkali tanpa sadar berjalan dalam diri banyak orang.
Karena kita meyakininya dan melihat semua orang
melakukannya, kita menganggapnya itu adalah hal yang
memang seharusnya dan begitulah dunia ini.
Berpuluh tahun saya menjalani hidup dan meyakini hal
tersebut, sampai suatu saat menyadari bahwa saya
bukanlah program, saya bukanlah robot, saya memiliki
kesadaran dalam memilih dan memutuskan sesuatu tanpa
dorongan rasa enak dan tidak enak.
Walau masih sering tersangkut dan dihempaskan rasa
nyaman dan tidak nyaman, saya terus mengingatkan diri
untuk berlatih hidup sadar.
Tatkala ingin memberi atau membalas, itu karena saya
ingin memberi bukan ingin mendapat balasan, atau
seperti dahulu dimana saya meminjamkan uang pada
sahabat yang datang dengan menangis karena saya
menghindari rasa bersalah dan ketakutan di cap pelit/
jahat.
Mereka yang disebut bebas adalah mereka yang berjalan
dengan kesadarannya dan tak meributkan apa yang
dipikir orang, hari ini kita sering bertindak seperti dewa
atau dewi yang mampu membaca pikiran orang lain.
Selalu ingat bahwa hidup akan terisi penderitaan bila
selalu dibanjiri dengan asumsi.
Melatih kesadaran adalah mengenali diri sendiri,
mengenali program yang ada, berusaha menambahkan
aksi serta mengurangi re-aksi.
Dikala kita mampu memberi karena ingin memberi, kita
terlepas dari kekecewaan, karena kita tidak ada
harapan untuk mendapat balasan, begitu pula sewaktu
menerima kita juga tidak terbebani karena tak ada
kewajiban untuk membalas.
"Kita harus beli makanan atau apa yang lain untuk
dibawa besok malam ke rumahnya"
"Kenapa harus?" Tanya saya
"Ya ngga enak lah, kita baru kenal terus masa diundang
makan malam dan tidak bawa apa-apa"
Itulah perbincangan saya dan kakak ipar sesaat setelah
kami menerima undangan makan malam dari Siva Raja
pemilik Amstridam Coffee di Batu Malang.
Diskusi selanjutnya menjadi sangat panjang, untuk
mempersingkat, kurang lebih begini intinya menurut
pandangan saya.
Bila kita ingin memberi atau menerima itu selayaknya
muncul karena kita memang ingin memberi, bukan
berdasar dari rasa tidak enak atau program-Program
lain yang tertanam sebelumnya.
Sedari kecil hampir dari kita semua terbentuk oleh
lingkungan, kita melihat perilaku ortu dan orang lain,
kita menyadap prinsip-prinsip yang dimiliki dan tak sadar
menirunya.
Kita menggenggam nilai-nilai ortu dan keluarga menjadi
kewajiban yang harus dijalani.
"Malu kalau tangan dibawah, tanganmu harus diatas
Nak"
"Kalau dikasih orang, kita harus membalasnya"
"Kita harus bantu orang , nanti kalau kita kesusahan
pasti akan ada yang bantu"
Adalah tiga dari ribuan program yang tertanam yang
seringkali tanpa sadar berjalan dalam diri banyak orang.
Karena kita meyakininya dan melihat semua orang
melakukannya, kita menganggapnya itu adalah hal yang
memang seharusnya dan begitulah dunia ini.
Berpuluh tahun saya menjalani hidup dan meyakini hal
tersebut, sampai suatu saat menyadari bahwa saya
bukanlah program, saya bukanlah robot, saya memiliki
kesadaran dalam memilih dan memutuskan sesuatu tanpa
dorongan rasa enak dan tidak enak.
Walau masih sering tersangkut dan dihempaskan rasa
nyaman dan tidak nyaman, saya terus mengingatkan diri
untuk berlatih hidup sadar.
Tatkala ingin memberi atau membalas, itu karena saya
ingin memberi bukan ingin mendapat balasan, atau
seperti dahulu dimana saya meminjamkan uang pada
sahabat yang datang dengan menangis karena saya
menghindari rasa bersalah dan ketakutan di cap pelit/
jahat.
Mereka yang disebut bebas adalah mereka yang berjalan
dengan kesadarannya dan tak meributkan apa yang
dipikir orang, hari ini kita sering bertindak seperti dewa
atau dewi yang mampu membaca pikiran orang lain.
Selalu ingat bahwa hidup akan terisi penderitaan bila
selalu dibanjiri dengan asumsi.
Melatih kesadaran adalah mengenali diri sendiri,
mengenali program yang ada, berusaha menambahkan
aksi serta mengurangi re-aksi.
Dikala kita mampu memberi karena ingin memberi, kita
terlepas dari kekecewaan, karena kita tidak ada
harapan untuk mendapat balasan, begitu pula sewaktu
menerima kita juga tidak terbebani karena tak ada
kewajiban untuk membalas.
Kamis, 25 Februari 2016
.::MANUSIA ADALAH HUKUM::.
" manusia adalah PENGACARA HANDAL untuk
kesalahannya sendiri, dan HAKIM YANG TEGAS
untuk kesalahan orang lain .."
kesalahannya sendiri, dan HAKIM YANG TEGAS
untuk kesalahan orang lain .."
.:: MAKNA HURUF HIJAIYAH::.
Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah seraya bertanya,
“Apa makna huruf hijaiyah?”.
Rasulullah berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Jawablah
pertanyaannya, wahai Ali!”. Kemudian Rasulullah saw
berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia berhasil dan bantulah
dia.”
Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama
Allah.” Ia melanjutkan:
Alif ( ﺍ ) : Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan
selain-Nya. Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan
Mahakuasa .
’Ba ( ﺏ ) : al Baqi’ (Mahakekal), setelah musnahnya
makhluk .
Ta ( ﺕ ) : al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari
hamba-hamba-Nya .
’Tsa ( ﺙ ) : al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan
hamba-hamba-Nya .
Jim ( ﺝ ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-
Nya), kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada
berbatas .
’Ha ( ﺡ ) : al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang
Mahabenar, Mahahidup, dan Mahabijak ) .
Kha ( ﺥ ) : al Khabir (Yang Mahatahu) dan
Mahalihat. Sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang
kalian kerjakan .
Dal ( ﺩ ) : Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di
Hari Pembalasan ) .
Dzal ( ﺫ ) : Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik
Keagungan dan Kemuliaan ) .
Ra ( ﺭ ) : al Rauf (Mahasayang ) .
Zay ( ﺯ ) : Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para
Hamba ) .
Sin ( ﺱ ) : al Sami al Bashir (Mahadengar dan
Mahalihat ) .
Syin ( ﺵ ) : Syakur (Maha Penerima ungkapan terima
kasih dari hamba-hamba-Nya ) .
Shad ( ﺹ ) : al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati
janji. Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya .
Dhad ( ﺽ ) : al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal
Bahaya dan Mendatangkan Manfaat ) .
Tha ( ﻁ ) : al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci
dan Menyucikan ) .
Zha ( ﻅ ) : Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan
Kebesaran-Nya ) .
Ain‘ ( ﻉ ) : al ’Alim (Yang Mahatahu) atas segala
sesuatu .
Ghain ( ﻍ ) : Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi
yang memohon pertolongan) dan Pemberi .Perlindungan
Fa ( ﻑ ) : Yang Menumbuhkan biji-bijian dan
.tumbuhan
Qaf ( ﻕ ) : Yang Mahakuasa atas makhluk-.Nya
Kaf ( ﻙ ) : al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi
semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding
dengan-Nya .
Lam ( ﻝ ) : Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-
hamba-Nya dengan kelembutan khusus dan tersembunyi .
Mim ( ﻡ ) : Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia
dan akhirat ) .
Nun ( ﻥ ) : Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan
cahaya hati orang-orang beriman .
Waw ( ﻭ ) : al Wahid (Yang Mahaesa) dan tempat
bergantung segala sesuatu .
Haa ( ﻩ ) : al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi
makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu
dan memberikan petunjuk .
Lam alif ( ﻵ ) : lam tasydid dalam lafadz Allah untuk
menekankan keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya
.
Ya ( ﻱ ) : Yadullahbasithun lil khalqi (Tangan Allah
terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya
meliputi semua tempat dan semua keberadaan .
Rasulullah saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah
perkataan yang Alflah rela terhadapnya.” Dalam riwayat
dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah
mendengar penjelasan Sayyidina Ali.
“Apa makna huruf hijaiyah?”.
Rasulullah berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Jawablah
pertanyaannya, wahai Ali!”. Kemudian Rasulullah saw
berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia berhasil dan bantulah
dia.”
Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama
Allah.” Ia melanjutkan:
Alif ( ﺍ ) : Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan
selain-Nya. Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan
Mahakuasa .
’Ba ( ﺏ ) : al Baqi’ (Mahakekal), setelah musnahnya
makhluk .
Ta ( ﺕ ) : al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari
hamba-hamba-Nya .
’Tsa ( ﺙ ) : al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan
hamba-hamba-Nya .
Jim ( ﺝ ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-
Nya), kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada
berbatas .
’Ha ( ﺡ ) : al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang
Mahabenar, Mahahidup, dan Mahabijak ) .
Kha ( ﺥ ) : al Khabir (Yang Mahatahu) dan
Mahalihat. Sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang
kalian kerjakan .
Dal ( ﺩ ) : Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di
Hari Pembalasan ) .
Dzal ( ﺫ ) : Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik
Keagungan dan Kemuliaan ) .
Ra ( ﺭ ) : al Rauf (Mahasayang ) .
Zay ( ﺯ ) : Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para
Hamba ) .
Sin ( ﺱ ) : al Sami al Bashir (Mahadengar dan
Mahalihat ) .
Syin ( ﺵ ) : Syakur (Maha Penerima ungkapan terima
kasih dari hamba-hamba-Nya ) .
Shad ( ﺹ ) : al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati
janji. Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya .
Dhad ( ﺽ ) : al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal
Bahaya dan Mendatangkan Manfaat ) .
Tha ( ﻁ ) : al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci
dan Menyucikan ) .
Zha ( ﻅ ) : Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan
Kebesaran-Nya ) .
Ain‘ ( ﻉ ) : al ’Alim (Yang Mahatahu) atas segala
sesuatu .
Ghain ( ﻍ ) : Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi
yang memohon pertolongan) dan Pemberi .Perlindungan
Fa ( ﻑ ) : Yang Menumbuhkan biji-bijian dan
.tumbuhan
Qaf ( ﻕ ) : Yang Mahakuasa atas makhluk-.Nya
Kaf ( ﻙ ) : al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi
semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding
dengan-Nya .
Lam ( ﻝ ) : Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-
hamba-Nya dengan kelembutan khusus dan tersembunyi .
Mim ( ﻡ ) : Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia
dan akhirat ) .
Nun ( ﻥ ) : Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan
cahaya hati orang-orang beriman .
Waw ( ﻭ ) : al Wahid (Yang Mahaesa) dan tempat
bergantung segala sesuatu .
Haa ( ﻩ ) : al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi
makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu
dan memberikan petunjuk .
Lam alif ( ﻵ ) : lam tasydid dalam lafadz Allah untuk
menekankan keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya
.
Ya ( ﻱ ) : Yadullahbasithun lil khalqi (Tangan Allah
terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya
meliputi semua tempat dan semua keberadaan .
Rasulullah saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah
perkataan yang Alflah rela terhadapnya.” Dalam riwayat
dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah
mendengar penjelasan Sayyidina Ali.
Rabu, 24 Februari 2016
.::BERTEMU LIVE GURU & TRANSFER LEVEL DNA::.
By : Arif RH
Saya pernah sangat heran, beberapa orang yang
melayani kyai, hidupnya berhasil dan bahagia ...
Padahal, boleh dibilang, ia hanya seorang pembantu
kyai, bukan pelajar atau santri... Mbantuin masak air ...
Mijitin kaki kyai ... Menyiapkan makanan ... Dan
semacam itu ... Kok bisa, setelah ia meniti karir,
hidupnya mengalami kemajuan luar biasa, tidak kalah
dengan mereka yang memang sengaja nyantri / belajar
keilmuan kepada sang kyai? ...
Beberapa tahun kemudian, terjawab sudah ... Ada
seorang sahabat cerita ... Bahwa transfer ilmu terjadi
saat bertemu, apalagi jika intensitas ketemunya sering
... Kata sahabat saya, "kalau mau belajar sepenuhnya
dari si X ... bertemulah dengan si X" ... Emang ada apa
dengan bertemu? ... Jawaban utuhnya baru saya
pahami, pas baca buku perihal rahasia DNA, yang
ditulis oleh penulis asal Jerman ... Disebutkan dalam
buku itu bahwa, saat seseorang bertemu, apalagi
bersentuhan secara fisik ... Terjadi transfer informasi di
tingkatan DNA ... Woooh ini !!! ...
Sejak itu, boleh dibilang ... Soal ilmu yang dikuasai oleh
seseorang bagaimana, itu menjadi gak begitu penting
bagi saya ... Kalau anda ikut pelatihan pemberdayaan
diri misalnya ... Ikut pelatihan apapun, judulnya beda-
beda ... Pasti intinya ya itu-itu saja kok ... Hanya
berbeda pendekatan kajiannya ... Beda, tapi "benang
merahnya" selalu ke perihal yang sama ... Saya lebih
menekankan perihal, bagaimana ATTITUDE seseorang
itu, sebelum memutuskan belajar kepadanya ...
Lalu, apa donk motivasi saya, misalnya saya ingin
belajar kepada seseorang? ... Saya hanya INGIN
BERJUMPA SECARA LIVE DENGAN DIA, DALAM
WAKTU TERTENTU ... Karena, saat saya bertemu
dengan dia, ada transfer data di level DNA ... Saat
kita berjumpa, saya mengubah anda ... Di saat yang
sama, anda mengubah saya ... Puzzle yang belom
lengkap di dalam diri, akan saling terlengkapi ... Di
situlah "lompatan quantum" mungkin bisa terjadi ...
Saya akan ulangi, kata-kata kunci dalam status ini ...
"Saat kita berjumpa dengan seseorang ... Kita mengubah
dia ... Dan di saat yang sama, dia juga mengubah
kita" ... Transfer informasi antar DNA inilah, yang jauh
lebih penting dan luar biasa dampaknya ... Daripada
sekedar transfer informasi dari mulut, ke telinga, lalu
disimpan ke otak ...
Sangat betul pesan dalam lagu "Tombo Ati" ... Salah
satu kalimat dalam syair lagunya begini ... "Wong kang
sholeh kumpulonooooo" ...
Selasa, 23 Februari 2016
.::NIKMATI KEHIDUPANMU::.
"kebanyakan mikir membuatmu lupa merasakan kehidupan
.. tariklah nafas panjang .. dan biarkan semua pergi
bersama hembusannya.."
.. tariklah nafas panjang .. dan biarkan semua pergi
bersama hembusannya.."
.::METODE YANG SAMA BELUM TENTU MENGHASILKAN HASIL YANG SAMA::.
By : Arif RH
Beli buku itu akan mendapatkan bonus CD audio,
untuk mengantarkan diri mereka ke keadaan ikhlas ...
Saya pun memiliki buku itu ... Dan itu adalah salah satu
buku terbaik, yang pernah saya miliki ... CD audionya
pun sangat oke ... Sangat membantu saya untuk masuk
ke keadaan rileks, melepaskan dan ikhlas ...
Beberapa orang yang share pengalaman menggunakan CD
audio itu, ternyata beda-beda ... Ada yang merasa itu
efektif ... Ada yang tidak ... Namun yang menarik
perhatian saya, ada yang justru ketakutan ketika
menggunakan CD audio tersebut ... Lho, kok bisa? ...
Suara di CD audio itu isinya suara alam ... Suara air
mengalir ... Suara gemericik air di sungai ... Suara
burung ... Dan sebagainya ... Yang menurut saya asik
buat relaksasi ... Kok bisa ada yang ketakutan? ... Tapi
setelah saya telusuri, terjawab sudah ...
Ternyata, orang yang ketakutan itu, pernah tenggelam di
sungai ... Dan itu menimbulkan trauma mendalam ...
Sehingga suara air sungai mengalir, bukannya bikin
rileks, bukannya bikin ikhlas, tapi malah menjadi
"anchor", atau tombol pemicu emosi, dimana peristiwa
tenggelam itu terjadi ...
Di sini saya semakin meyakini, tidak semua metode /
teknik cocok untuk semua orang ... Karena setiap orang
itu unik ... Latar pengalaman hidupnya tidak sama ...
Didikan masa kecil tidak sama ... Sehingga response
atas stimulus yang sama, belom tentu sama ...
Jadi, cara atau metode apapun menjadi tidak penting ...
Yang penting adalah, "apakah seseorang itu bisa
mengakses sebuah keadaan batin yang seharusnya di
akses atau tidak?" ... Selama sebuah metode, bisa
menjembatani peserta mengakses keadaan yang
dibutuhkan ... Itulah metode yang sangat efektif ...
Dan ini kejadian nyata ... Apakah membaca kitab suci
membantu seseorang menjadi tenang? ... Apakah
lantunan bacaan ayat kita suci, selalu bisa merasuk ke
relung hati? ... Maaf, saya ada kasus riil, belom tentu
begitu ... Justru bisa ketakutan yang muncul ... Karena
ada trauma masa lalu ...
Misal, dulu orang itu masih remaja, waktu masih
sekolah, dia pernah dimarahi guru, dibuat malu, karena
pas membaca kitab suci di depan kelas gak bagus ... Itu
peristiwa itu masuk, terekam ke bawah sadar ...
Sehingga pas denger lantunan kitab suci, sama sekali
tidak tersentuh ...
Boro-boro hatinya tenang ... Malah ketakutan ... Ini
fakta riil ... Tapi kalau orang pikirannya cetek, kurang
ilmu, mungkin ada yang langsung bilang gini ... "Hati
orang itu tertutup iblis, sehingga tidak tersentuh oleh
bacaan kitab suci" ... Hahahahahaha ... Orang yang
mengalami begitu, gak tepat dikasih saran begini ...
"Banyak baca kitab suci sodara-sodara ... Supaya
hatimu tenang" ... Eits ... Kasusnya berbeda masbro
mbaksis ...
Sekali lagi ... APA YANG DIRASAKAN SESEORANG,
JAUH LEBIH PENTING ... DARIPADA STIMULUS
APAPUN DARI LUAR DIRINYA ... YANG KITA
ANGGAP, STIMULUS ITU MENGHASILKAN
KEADAAN HATI BEGINI BEGITU ... Setiap orang itu
unique !!!
Senin, 22 Februari 2016
.::MARI JADIKAN ANAK KITA MENJADI GENERASI YANG KUAT DAN BERKARAKTER::.
Bangsa kita sangat rentan terhadap perpecahan. Ini
adalah akibat dari kerentanan raga dan keringkihan jiwa
yang sudah ditanam, ditumbuhkan dan dibangun dari
sejak kecil.
KERENTANAN RAGA
Ketika kecilnya, pemuda yang mudah sakit ini,
mendapatkan "over-protection" dari orangtuanya. Bisa
dimengerti, mungkin karena terlalu sayang. Gerah sedikit
AC dibuka, dingin sedikit dikasih jaket. Kena keringat
sedikit langsung di lap. Kena debu dikit langsung dicuci.
Sakit sedikit langsung dikasih obat. Sakit lebih banyak
langsung dibawa ke Dokter. Sulit sedikit langsung
ditolong tanpa dibiarkan berusaha terlebih dahulu. Ia
dijaga dari semuanya.
Ia difilter dari banyak realita yang sebenarnya bisa
berfungsi sebagai bahan pembelajaran
Ia dijaga dari dari segala 'physical challenge; yang
sebenarnya dapat membangun ketahanan dan kekuatan
fisik.
Bandingkan dengan banyak anak-anak dari pedesaan,
pantai, gunung, secara fisik dan mental mereka terbiasa
untuk ditempa, relatif tak mudah sakit oleh infeksi dan
tantangan fisik dari luar; karena fisik mereka terbiasa
oleh berbagai "challenge" dan perlakuan luar.
KERINGKIHAN JIWA
Dari kecil banyak dari kita yang mendapatkan "over-
protection" dari segala keanekaragaman perbedaan;
perbedaan ideologi, sosial, dan teologis. Mereka
diproteksi dari friksi sosial yang sebenarnya dapat
memperkuat mental dan psikologisnya.
Anak-anak kita terbiasa dilindungi dari segala "paham
dan keyakinan eksternal"; dan disuntik dengan doktrin
untuk 'menjauhi, tidak menyukai, memusuhi, bahkan
membenci' terhadap cara hidup lain, terutama dalam
bingkai dan sendi keyakinan.
Mereka diajarkan untuk hanya bermain, berkumpul,
beraktifitas dengan sesama keyakinan saja. Mereka
didoktrin tentang hal-hal yang "buruk"dari cara
pandang keyakinan lain.
Mereka ditakut-takuti, bahwa segala hal yang berkaitan
dengan keyakinan lain akan membahayakan; akan
membuat tersesat.
Mereka tak diberi kesempatan untuk menjadi dewasa
secara mental; untuk memahami bahwa keanekaragaman
adalah bagian dari peraturan dan karakter alam;
ARAHAN BUKAN "PROTEKSI"
Biarkan anak-anak kita menjadi anak yang memiliki
daya tahan terhadap tempaan; baik lingkungan alam
ataupun sosial. Orangtua tentu selayaknya menjaga;
namun menjaga bukan berarti menutup mata, telinga dan
rasa-nya; anak-anak kita harus menjadi anak-anak
yang tajam indera-nya.
Jika anak-anak bangsa kita dewasa secara mental,
maka tak akan menjadi seperti bangsa kita yang
sekarang; yang mudah disekat, dipecah-belah,
dikhawatiri, ditakut-takuti, digiring ke arah mana saja
yang mereka ingini.
Pribadi yang sadar dan paham akan realita keragaman
akan menjadi pribadi yang cerdas, memiliki karakter kuat
dan tak mudah goyah, karena seluruh pilihan melalui
filter pengalaman empiris; bukan berdasarkan "katanya";
menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri yang
berdasarkan kemampuan yang memadai.
Anak anak kita tidak selemah yang mungkin kita duga.
adalah akibat dari kerentanan raga dan keringkihan jiwa
yang sudah ditanam, ditumbuhkan dan dibangun dari
sejak kecil.
KERENTANAN RAGA
Ketika kecilnya, pemuda yang mudah sakit ini,
mendapatkan "over-protection" dari orangtuanya. Bisa
dimengerti, mungkin karena terlalu sayang. Gerah sedikit
AC dibuka, dingin sedikit dikasih jaket. Kena keringat
sedikit langsung di lap. Kena debu dikit langsung dicuci.
Sakit sedikit langsung dikasih obat. Sakit lebih banyak
langsung dibawa ke Dokter. Sulit sedikit langsung
ditolong tanpa dibiarkan berusaha terlebih dahulu. Ia
dijaga dari semuanya.
Ia difilter dari banyak realita yang sebenarnya bisa
berfungsi sebagai bahan pembelajaran
Ia dijaga dari dari segala 'physical challenge; yang
sebenarnya dapat membangun ketahanan dan kekuatan
fisik.
Bandingkan dengan banyak anak-anak dari pedesaan,
pantai, gunung, secara fisik dan mental mereka terbiasa
untuk ditempa, relatif tak mudah sakit oleh infeksi dan
tantangan fisik dari luar; karena fisik mereka terbiasa
oleh berbagai "challenge" dan perlakuan luar.
KERINGKIHAN JIWA
Dari kecil banyak dari kita yang mendapatkan "over-
protection" dari segala keanekaragaman perbedaan;
perbedaan ideologi, sosial, dan teologis. Mereka
diproteksi dari friksi sosial yang sebenarnya dapat
memperkuat mental dan psikologisnya.
Anak-anak kita terbiasa dilindungi dari segala "paham
dan keyakinan eksternal"; dan disuntik dengan doktrin
untuk 'menjauhi, tidak menyukai, memusuhi, bahkan
membenci' terhadap cara hidup lain, terutama dalam
bingkai dan sendi keyakinan.
Mereka diajarkan untuk hanya bermain, berkumpul,
beraktifitas dengan sesama keyakinan saja. Mereka
didoktrin tentang hal-hal yang "buruk"dari cara
pandang keyakinan lain.
Mereka ditakut-takuti, bahwa segala hal yang berkaitan
dengan keyakinan lain akan membahayakan; akan
membuat tersesat.
Mereka tak diberi kesempatan untuk menjadi dewasa
secara mental; untuk memahami bahwa keanekaragaman
adalah bagian dari peraturan dan karakter alam;
ARAHAN BUKAN "PROTEKSI"
Biarkan anak-anak kita menjadi anak yang memiliki
daya tahan terhadap tempaan; baik lingkungan alam
ataupun sosial. Orangtua tentu selayaknya menjaga;
namun menjaga bukan berarti menutup mata, telinga dan
rasa-nya; anak-anak kita harus menjadi anak-anak
yang tajam indera-nya.
Jika anak-anak bangsa kita dewasa secara mental,
maka tak akan menjadi seperti bangsa kita yang
sekarang; yang mudah disekat, dipecah-belah,
dikhawatiri, ditakut-takuti, digiring ke arah mana saja
yang mereka ingini.
Pribadi yang sadar dan paham akan realita keragaman
akan menjadi pribadi yang cerdas, memiliki karakter kuat
dan tak mudah goyah, karena seluruh pilihan melalui
filter pengalaman empiris; bukan berdasarkan "katanya";
menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri yang
berdasarkan kemampuan yang memadai.
Anak anak kita tidak selemah yang mungkin kita duga.
.::SANTAI SAJA::.
"..bila itu memang tercipta untukmu, kau tak perlu
mengemis memintanya khan .. bila itu tidak tercipta
untukmu, untuk apa pula kau mengemis
memintanya? "
mengemis memintanya khan .. bila itu tidak tercipta
untukmu, untuk apa pula kau mengemis
memintanya? "
.::NETRAL TANPA MEMIHAK::.
Oleh : Gobind Vashdev
Banyak yang bertanya pendapat saya baik di Inbox,
Comment atau langsung tentang LGBT,
Jawaban saya seperti biasa selalu 'ngambang' , jika
Anda berharap mendapatkan jawaban setuju atau tidak,
LGBT itu benar atau salah, mungkin Anda akan kecewa.
Sama sekali tidak keberatan bila seseorang mengatakan
saya tidak punya pendirian, plin plan atau tidak berani
bersikap.
100 % saya bisa mengerti label yang diberikan pada
saya, semengerti saya pada sikap kelompok yang
mendukung dan menolak LGBT.
Kita menyetujui sesuatu atau sebaliknya, mengatakan
benar atau salah, semuanya tergantung data dan
program yang tertanam di dalam diri. Lingkungan,
budaya, kepercayaan, nilai di masyarakat dan berbagai
hal lainnya turut membentuk penilaian kita.
Sehingga mengatakan orang yang setuju itu salah atau
yg tidak setuju itu tidak benar adalah sesuatu dilema.
"Tapi Bin ini masalah kodrat, bukanya Tuhan
menciptakan kita berpasangan-pasangan, kalau mereka
melakukannya dengan sejenis maka itu kan sudah pasti
salah" kata seorang sahabat."
Saya juga punya pandangan dan meyakini bahwa
manusia itu kodratnya adalah herbivora, dari bentuk
gigi, enzim yang ada di air liur, gerakan mengunyah,
asam di lambung, panjang usus dan berbagai hal lainnya
cocok dengan makhluk lain yang memakan tetumbuhan.
Saya mempraktekkan untuk diri saya namun saya juga
mengerti sahabat yang lain yang menganut pola hidup
omnivora.
Dari pengertian ini muncul sikap tidak menyalahkan,
memaksa apalagi menakut-nakuti sahabat yang lain
dengan dosa atau hukuman yang datang dari Tuhan.
Saya tidak mau wajah Tuhan yang penyayang dan
pengasih saya ubah menjadi wajah yang seram dan kejam
hanya untuk orang lain menurut pada apa yang saya
ucapkan.
Tujuan menjadi vegetarian sama seperti tujuan seseorang
membaca kitab suci, berhijab atau bermeditasi, yaitu
agar hati ini menjadi lebih Welas asih.
Kalau kita setelah membaca kitab suci, bervegetarian,
memakai busana tertutup atau melakukan duduk hening
merasa lebih suci, lebih bersih lalu menghakimi atau
menakuti orang lain yang tidak melakukan seperti yang
kita lakukan maka kita semakin menjauh dari apa yg
diajarkan para suci.
Kita perlu menengok kebelakang, belajar dari yang sudah
berlalu, juga meluaskan pandangan kita, menyalahkan
seseorang atau menghukumnya bukan serta merta
membuat seseorang berubah, yang ada ia semakin kuat
dan hubungan kita dengan orang yang ingin kita ubah
menjadi jauh.
Kalaupun ia berubah, perubahan itu lebih sering hadir
dari trauma atau rasa bersalah bukan dari kesadaran.
Untuk yang mendukung atau tidak , lakukan sesuatu
pada apa yang Anda yakini, buatlah kampanye,
pelatihan,sosialisasi, konseling, atau apapun namanya,
namun sebelum melakukan alangkah baiknya mengadakan
dialog dengan pihak yang tidak sepaham agar kita
mendapat pengertian lebih dalam.
Lewat pengertian yang dalam akan muncul sikap rendah
hati, terbuka, welas asih dalam tindakan yang akan kita
gelorakan.
Manusia di manapun akan lebih gampang tersentuh
hatinya dengan cara-cara lembut.
Kemarahan dan kekerasan bukan hanya berpotensi
melukai pihak lain, membuat musuh namun juga
merugikan batin ini. Tindakan dan penghakiman yang kita
lontarkan bukan menunjukkan siapa pihak lain itu,
melainkan kita sedang menelanjangi diri kita sendiri.
Saya menghormati makhluk hidup apalagi manusia yang
disebut yang termulia.
Sifat-sifat mulia ini lah yang selayaknya menjadi
pedoman kita dalam berpikir, berucap bersikap, dan
bertingkah laku.
saya menghormati mereka yang memilih beragama juga
menghormati yang memilih tidak percaya Tuhan, karena
manusia lebih penting daripada apa yang dia percayai.
saya menghormati homoseksual juga heteroseksual
,manusia lebih penting daripada orientasi sex nya.
Yang mendukung dan tidak mendukung, keduanya saya
hormati seperti saya menghormati mereka yang setuju
dan tidak setuju dengan status ini, saya tidak akan
membiarkan kebencian merampas kedamaian di dalam,
hanya karena seseorang atau sekelompok orang
mengkritik tulisan ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...