Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Minggu, 20 November 2016
ZIKIR REPTIL
Muhammad Nurul Banan,
ZIKIR REPTIL
Setiap kali saya zikir, saya menganfirmasikan ke alam semesta, "Yā Allāh, ij'alnā min makārimil akhlāq (Ya Allah, jadikan kami bagian dari akhlak mulia)".
Suatu hari saya sedang enek dengan mertua, lalu saya zikir dengan affirmasi "akhlak mulia sebagaimana harmoninya sistem alam semesta", esoknya tanpa sengaja saya duduk satu meja dengan mertua, dan--yang semalam hati kami masih ruwet--tiba-tiba mencair hanya lantaran ngobrol sesaat. Semesta membukakan jalan harmoninya.
Istri saya pernah terkena Kelenjar Getah Bening, stadiumnya kankernya belum tinggi, saya zikir tidak minta kesembuhan tidak apa, hanya mengafirmasi keharmonisan sistem akhlak semesta, dan semesta berkenan membukakan keharmonisannya. Cuma terapi pijat di desa tetangga, sekitar 5 km dari rumah saya, alhamdu li-llāh sembuh, tanpa kemoterapi ataupun mengikuti terapi medis modern.
Ketika saya punya masalah, dan ternyata sumbernya adalah kesalahan saya, semesta berkenan memberikan koreksinya kepada saya. Saya ubah sikap, lalu banyak keharmonisan yang saya temukan.
Yang saya lakukan, ketika zikir, pikiran saya fokuskan untuk menyaksikan keharmonisan semesta, biasanya membayangkan gambar Almagest Claudius Ptolemaeus, dimana seluruh planet-planet bergerak harmoni mengelilingi Bumi. Planet Venus, planet Bulan, planet Markurius, planet Matahari, dll., bergerak random namun sinergi di mustaqar (orbit)-nya masing-masing untuk mencapai ajalin musammā (periode orbital planet atas Bumi). Bumi sendiri diam tidak melakukan revolusi juga tidak berotasi, planet-planet lain lah yang bergerak mengelilingi Bumi untuk melayani Anda pemilik kesadaran hati nurani. Planet-planet sujud bergerak tunduk melayani pusat alam semesta yakni Bumi. Planet Bulan, planet Matahari dengan bergerak pada mustaqar dan manāzil-nya masing-masing berbagi cahaya sebagaimana kodrat Yin dan Yang, mereka semua sujud pada pusat akhlāqul karīmah yakni diri Anda yang berada di Bumi. Semua ditundukkan dan disujudkan untuk melayani akhlāqul karīmah. Dan hanya Anda lah pemilik kesadaran akhlāqul karīmah, berarti pusat alam semesta adalah diri Anda. Anda tinggal di Bumi, maka sesuai tujuan penciptaan, semua orbit planet-planet mengelilingi Bumi, planet-planet sujud melayani Anda.
Jadi alam semesta tunduk pada akhlak, mereka berkenan melayani Anda karena Anda satu-satunya makhluk yang punya potensi akhlak.
Akhlāqul karīmah lah yang bisa menundukkan, menyinergikan, dan mengharmoniskan alam semesta. Sebab ini, ketika saya zikir, affirmasi zikir saya untuk mencapai ketinggian akhlāqul karīmah. Dan benar, apapun masalah yang saya hadapi, dengki, sumpek, susahnya kerezekian, kebencian, lemah, hingga penyakit, dan semua problem-problem keseharian lantas alam semesta membukakan jalan harmoninya sendiri untuk saya, asalkan kesadaran zikir saya memohon akhlak mulia.
Suatu waktu saya merasa direndahkan sekelompok orang. Saya mantap mengalihkan affirmasi zikir saya untuk membesarkan diri saya, tujuannya biar mereka terbungkam. Ibaratnya kalau mereka dalam kerezekian dapat 1000 saya harus mencapai 2000, kalau mereka dalam pangkat jadi camat, saya harus mencapai bupati, kalau mereka cuma naik motor, saya harus naik mobil. Affirmasi zikir tersebut terus saya lakukan.
Tiga hari kemudian, efeknya sudah saya rasakan. Tanpa saya sengaja nimbrung bergaul dengan teman-teman, saya merasa direndahkan, ada rasa tersinggung. Saya bermaksud agar dihormati, malah jadi orang tersisih. Punya problem keuangan, tidak menemukan jalan keluar selain hutang. Banyak sekali kejadian-kejadian keseharian yang membuat muka saya ciut, hati gelisah, dan saya menjadi sensitif.
Lantas saya jadi mengangguk dengan "Map of Consciousness" dari David R. Hawkins tentang Force vs Power, level kesadaran tertinggi ternyata Pencerahan Diri. Hal-hal seperti ketidakmelekatan, melihat dunia apa adanya, netralitas, kepasrahan, cinta kasih, sabar, nrimo, syukur, ketenangan dan keseimbangan batin, serta masih banyak hal positif lainnya adalah hal-hal yang selalu diajarkan pada agama atau tradisi spiritual apapun. Level kesadaran Enlightenment atau pencerahan adalah level energi yang tertinggi.
Menyadari sepenuhnya akhlāqul karīmah sebagai wujud inti kesemestaan adalah level tertinggi sistem alam karena diri manusia adalah pusat alam semesta. Semesta terbentuk dalam sinergi harmoni sebagai wujud sistem akhlāqul karīmah, sehingga kemudian ketika saya zikir dengan affirmasi mencapai akhlāqul karīmah, efeknya saya banyak menemukan kejutan-kejutan kebahagiaan.
Saya juga jadi ingat dengan Otak Reptil, konsep Triune Brain dari Paul D. Maclean. Otak Reptil ini tugasnya mengatur gerak refleks dan keseimbangan koordinasi pada tubuh manusia. Otak Reptil inilah yang memberi perintah tubuh kita bergerak jika terjadi bahaya atau melindungi diri kita dari bahaya fisik dengan pendekatan "lari" atau "lawan”. Ketika Otak Reptil ini aktif, orang tidak dapat berpikir, yang berperan adalah insting dan langsung bereaksi. Ia aktif apabila seseorang merasa takut, stres, terancam, marah, kurang tidur, atau kondisi tubuh lelah.
Kita adalah bagian dari mamalia, tentu Otak Reptil tersebut ada dalam mentalitas kita. Ketika kita merasa tersinggung, refleks kita ingin melawan untuk menang, ketika kita merasa rezeki seret, kita akan bangkit mendirikan shalat Dhuha, ketika kita merasa dibenci orang, kita akan mengamalkan wirid atau mantera pengasihan, ketika kita merasa ditolak cinta, kita lari ke dukun minta pelet, ketika kita terhubung dengan semangat nasionalisme kita akan teriak "merdeka", ketika kita terhubung dengan patrotisme religius kita akan teriak "Allāhu Akbar", dan banyak lagi kerja Otak Reptil pada diri kita.
Menggunakan Otak Reptil atau Neokortek sebenarnya penurunan kesadaran, karena manusia telah diprogram akhlāqul karīmah, di dalam diri manusia ada kesadaran tertinggi di alam semesta. Lalu ketika si manusia berbuat sesuatu karena insting reptilnya, seperti saya yang zikir dengan kesadaran ingin mencapai kebesaran diri, atau seperti seseorang yang mengamalkan wirid dengan tujuan mencapai faidah tertentu, sebenarnya zikir seperti itu adalah "zikir reptil", pengamalnya turun level dari derajat akhlāqul karīmah menjadi derajat hewan mamalia.
Karena ini, bagi saya, affirmasi zikir, affirmasi meditasi, affirmasi kerja, affirmasi ibadah terbaik adalah "ij'alnā min makārimil akhlāq", syukur hingga mencapai ikhlas, yang saya sendiri tidak tahu ikhlas itu apa.
KARAKTER ORANG LAIN SEBAGAI SUMBER KEREZEKIAN
Muhammad Nurul Banan,
KARAKTER ORANG LAIN SEBAGAI SUMBER KEREZEKIAN
Beberapa bulan lalu saya menaikan daya listrik rumah saya, menjadi 3800 watt. Petugas PLN yang mengerjakan proyek terlihat sangat terobsesi duit. Saya sebagai konsumen merasakan getaran obsesi itu, karena semua sisi proyek meraka cari-cari peluang duitnya, seolah prinsip mereka, "Bagaimana mengambil uang sebanyak-banyaknya dari saya." Saya tahu mereka demikian, tetapi karena saya kebutuhan tambah daya sudah mendesak, dan tidak ada lagi orang yang bisa saya mintai bantuan selain petugas PLN area daerah saya tersebut, mau tidak mau saya harus meminta bantuannya, tidak ada pilihan lain. Dari model pungli, modusnya ada, model menumpang harga dari penjualan kabel, modusnya ada, model mengakal-akal agar yang tidak perlu harus dibeli, modusnya juga ada. Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu, di sisi mana saya kena, tapi pasti kena proyek modus, karena tidak begitu saya pedulikan. Tahu gelagat mereka yang "rai duit", saya siapkan diri melepas uang, daripada urusan listrik rumah saya jadi mudarat di kemudian hari.
Bersama itu si petugas PLN tersebut juga melirik bangunan di seberang rumah saya, mereka tahu bangunan itu terkait dengan proyek Yayasan Pondok Pesantren Darul Abror untuk mendirikan Rumah Al-Qur'an Darul Abror yang dikelola istri saya. Tahu proyek terkait dengan saya, mereka merayu-rayu agar proyek pemasangan listriknya diserahkan pada mereka. Tapi karena proyek bangunannya saja baru terpasang bata, artinya belum begitu mendesak kebutuhan listriknya, saya tolak tegas. Sampai akhirnya mereka merayu-rayu di SMS dan WA, tapi akhirnya malah saya menyueki mereka, masa bodoh, sama sekali tidak saya gubris.
Saya jadinya menolak keras berbagi rezeki dengan mereka, ini disebabkan hati mereka menginformasikan kepada saya, "Banan, kamu akan saya ambil uangnya, saya akan memungut keuntungan sebesar-besarnya dari kamu."
Karakter manusia sangat mulia, ahsani taqwīm, tidak bisa direndahkan dengan cara apapun dan dengan perangkat apapun yang ada di alam semesta ini. Matahari yang penuh dengan energi nuklir mematikan saja tunduk kepada manusia, ia dengan sopan melayani seisi Bumi, saat fajar ia terbit, saat Maghrib ia tenggelam, ia aktif dan koperatif melayani manusia. Matahari berkenan demikian bukan karena apa-apa, itu disebabkan Matahari hormat dan tunduk kepada karakter mulia manusia, karakter ahsani taqwīm.
Yang dilakukan petugas PLN area saya dalam mengais rejeki adalah mereka "ingin mengambil keuntungan besar dari para konsumen PLN". Ketika Anda punya uang didompet, lalu uang didompet Anda akan saya ambil untuk kepentingan saya, apa Anda rela? Anda pasti geram terhadap saya. Atensi "mengambil keuntungan dari orang lain" itu atensi menistakan karakter orang lain. Seolah, hidupnya dia sendiri, orang lain yang harus sempoyongan menguntungkannya.
Si petugas PLN kehilangan peluang rezekinya yakni menggarap proyek instalasi Rumah Al-Qur'an Darul Abror. Karena belum begitu terdesak waktunya, saya mencari alternatif orang lain untuk menggarapnya, dan nemu. Saya merasa sangat malas berbagi rezeki lagi dengan mereka, sebab apa? Karena saya punya kehormatan karakter, kalau saya harus
Dan begitulah, jika Anda menistakan karakter manusia, rezeki Anda yang terpampat, karena karakter manusia adalah sumber rezeki Anda.
Menistakan karakter orang lain yang paling ekstrem adalah merampas rezeki dari orang lain dengan cara kriminal, sehingga para pelaku kriminalitas tidak lebih dari orang yang sedang memusnahkan sumber rezekinya sendiri. Di bawah level kriminalitas ialah mencari keuntungan dari orang lain. Anda dagang, melayani para pembeli, atensinya untuk mengambil keuntungan dari mereka. Anda sebagai pejabat politik, atensinya memuaskan kepentingan politik pribadinya. Anda menjadi pejabat pemerintah, atensinya meraup keuntungan dari rakyat, dan seterusnya. Katakter manusia itu mulia, sehingga kehormatan karakter orang lain menjadi sumber rezeki Anda, bila Anda berani menistakannya, itu sama saja Anda mematikan sumber rezeki Anda.
Karena ini, mengais rezeki dengan profesi Anda masing-masing atensinya harus "membahagiakan orang lain", bukan bagaimana Anda untung dari orang lain. Dengan atensi membahagiakan, itu artinya Anda memuliakan karakter orang lain. Dan kehormatan karakter orang lain itulah sumber rezeki Anda.
Cukup dengan membahagiakan orang lain dalam menjalankan profesi Anda, rezeki semesta akan mengalir. Perusahaan Facebook membahagiakan Anda semua, pemilik perusahaannya menjadi kaya raya. Tukul Arwana hanya membahagiakan pemirsa televisi lewat acara Bukan Empat Mata, dia langsung menjadi selebriti kaya raya. Dan Anda amati semua pelaku usaha, mereka yang berkemajuan adalah mereka yang bisa membahagiakan para konsumen dan pelanggannya. Mereka berkreativitas untuk membahagiakan orang lain.
Anda pedagang, melayani pembeli, itu membahagiakan mereka. Anda pejabat pemerintah melayani rakyat itu membahagiakan mereka. Anda pemuka agama melayani umat itu membahagiakan mereka. Anda pekerja buruh, melayani bos itu membahagiakan mereka. Anda guru melayani siswa itu membahagiakan mereka.
Membahagiakan itu hakikatnya memuliakan karakter orang lain. Manusia adalah ahsani taqwīm, karakter termulia, Matahari saja yang merupakan nuklir paling mematikan sujud untuk berbagi rezekinya kepada Anda, maka jika sampai Anda menistakan karakter orang, itulah jalan semua kematian.[]
FENOMENA ALAM DONALD TRUMP
Muhammad Nurul Banan,
Ketika pusat Bumi, Kutub Utara, menarik kuat jarum kompas, secara berimbang, Kutub Selatan menyeimbangkannya. Ketika Anda memasukan benda ke dalam air, secara berimbang air bereaksi menyeimbangkan dirinya, air tumpah dengan volume sama dengan berat jenis benda yang dimasukkan ke dalam air. Dan seterusnya, semesta selalu berpola seimbang.
Karena ini ketika banjir bandang Nabi Nuh A.S. meluluhlantakkan kaum penentang Tuhan, semesta lantas menumbuhkan dan membesarkan Kaisar Nimrod (Namrūdz) yang punya misi "menantang Tuhannya Nuh" yang telah memusnahkan nenek moyangnya. Dibangunlah menara Babel yang mencakar langit sebagai bentuk tantangan Nimrod pada Tuhan. Tidak tanggung-tanggung, keangkaramurkaan Nimrod lakukan untuk menentang Tuhannya Nuh, hidup tanpa etika dan aturan moral menjadi acuannya, dia ngamuk kepada Tuhan.
Nimrod makin menjadi, semesta lantas menumbuhbesarkan Ibrahim A.S. sebagai versus Nimrod dan penerus kerisalahan spiritual Nuh A.S. Ibrahim bukan tokoh politik, bukan tokoh militer, bukan penguasa, bukan pula orang kaya raya. Apa kekuatannya untuk menentang Nimrod? Bagi Nimrod, melenyapkan Ibrahim semudah membunuh nyamuk. Tinggal tangkap, jerat tali, lempar ke alun-alun api, selesai. Namun semesta yang sedang menyadari dirinya perlu penyeimbang, dia tidak berkenan runtuh begitu saja. Segera alun-alun api untuk membantai Ibrahim dijadikan bardan wa salāman (dingin dan menyelamatkan). Tanpa kekuatan politik, kekuatan militer, kekuatan kekuasaan, kekuatan harta benda, enteng-enteng saja bagi semesta mencipta fenomena alam di luar kekuatan manusia, demi keseimbangan dirinya.
Ketika negara-negara dunia terjebak dalam Perang Dunia II, dengan kesederhanaan riset ilmiah, semesta mengajarkan rumus E=MC². Si penemu rumus, Albert Einstein, sesudah Jerman mengalami kekalahan pada Perang Dunia I, Einstein makin getol mendesak presiden Roosevelt untuk menghentikan ‘The Manhattan Project’, yakni proyek pengembangan nuklir, tetapi usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan, pemerintah Amerika mulai menciptakan bom atom. Harry Truman diangkat menjadi Presiden setelah Roosevelt wafat. Waktu itu Perang Dunia ke-2 sedang berkecamuk. Serangan Jepang di Pearl Harbour sepertinya membuat emosi presiden Truman makin memuncak, dia pun memutuskan untuk melemahkan kekuatan Jepang dengan menggunakan bom atom. Keputusan presiden Truman ini cukup mengejutkan dunia.
Bayangkan, Albert Einsten tidak pernah menginginkan rumus E=MC² dikembangkan sebagai alat membunuh, usai Perang Dunia I dia berupaya keras mencegah pengembangan nuklir A.S., bahkan seusai Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan bom atom A.S., Einstein lah orang yang paling menyesali temuannya sendiri. Tetapi semesta berkehendak lain, kehendak semesta bukan kehendak Einstein. Semesta harus menyeimbangkan dirinya, dan meledaklah bom atom di Hiroshima dan Nagasakti. Hanya dengan rumus E=MC² semesta menyeimbangkan dirinya dari huru-hara Perang Dunia II. Termasuk NKRI merdeka dari jajahan Jepang lantaran rumus E=MC² ini.
Saat gerakan Islam intoleran muncul, segera semesta memunculkan Islam liberal. Saat di Eropa, agama dengan misi Tuhan berkuasa dan mengendalikan semua sistem kehidupan, dari urusan WC sampai urusan kenegaraan, segera semesta memunculkan gerakan anti Tuhan (ateis). Dan terus seperti itu.
Dan Anda tercengang-cengang, bagaimana bisa Donald Trump, tokoh yang kabarnya rasis, hedonis, fulgar dan antagonis, bisa diangkat oleh semesta sebagai Presiden A.S. yang artinya sosok Trump akan memimpin kebijaksanaan dunia? Bayangan dalam benak saya sendiri menjadi kacau dan tertawa sendiri ketika membayangkan istri Trump, "Kok bisa ya karakter Maria Ozawa jadi ibu negara?"
Semesta mengangkat Trump sebenarnya cara semesta mengambil keseimbangan dirinya. Di dunia belahan Timur, khususnya Timur Tengah, rasa anti non muslim sedang begitu kuat, rasa intoleran sedang sangat kencang, muncul para penyembelih leher manusia dengan mengambil tema "jihad". Banyak asumsi berkomentar konflik SARA yang berkecemuk di Timur Tengah didalangi A.S. sendiri, dan mungkin ada benarnya, tetapi yang dicatat semesta adalah rasa hati manusianya. Karena konflik-konflik SARA tersebut, rasa hati manusia di sana selalu mengunggah rasa rasis, termasuk rasa anti terhadap non muslim. Belum lagi konflik bangsa Arab dengan Israel, konflik kedua suku keturunan Ibrahim A.S. juga sangat kuat menyokong rasa anti muslim dan anti non muslim.
Makin hari rasa rasis itu makin mengoyak-oyak keseimbangan semesta. Dan akhirnya semesta bertindak menyeimbangkan dirinya, Donald Trump yang terkenal tokoh "anti Islam" dengan sangat mengejutkan menjadi Presiden A.S. Hal yang oleh warga A.S. sendiri sukar dipercaya, karena ini demonstrasi menolak hasil pemilu A.S. terjadi di berbagai wilayah A.S.
Tidak nalar dan tidak terduga, Trump menang, persis seperti Nimrod yang menyangka kalau alun-alun api yang dia sediakan untuk Ibrahim akan mampu menghancurkan tubuh Ibrahim hingga ke sel terkecilnya, tetapi ternyata apinya dingin. Persis seperti rumus E=MC² yang ternyata bisa menghentikan kisruh Perang Dunia II, walaupun disangka oleh penemu rumusnya sebagai tehnologi pembunuh manusia paling mengerikan, tetapi ternyata dari rumus E=MC² itu semesta mengharmonikam dirinya. Perang berakhir.
Kemenangan Donald Trump bukan sekedar ancaman bagi muslim, tetapi ancaman bagi dunia, tapi semesta bertindak memenangkan Trump karena semesta harus menetralisir dirinya dari getaran "anti non muslim" dengan memasang "anti muslim". Imbang.
Tinggal kita di NKRI seperti dalam kasus Ahok sekarang ini. Ketika demontrasi pertama, saya masih sangat mendukung, karena biar si pelaku tahu kalau Islam itu berwibawa, tidak bisa disembrononi. Hasilnya si pelaku meminta maaf dan polisi siap memroses. Belum lagi ada efek hasil, eeh muncul demonstrasi kedua, eeh kabarnya akan muncul lagi demontrasi ketiga, 25 November. Ini sudah bukan bela Islam, tapi sebaliknya, merendahkan martabat muslim.
Si pelaku penistaan ayat jelas orang goblok tidak ketolong (jahlul murakkab) jika dia yang sedang mencalonkan diri jadi pemimpin di tengah mayoritas muslim sengaja-sengaja melecehkan ayat agung kehormatan muslim, kalau ini disengaja jelas hanya orang goblok yang melakukan. Ditambah si pelaku sudah meminta maaf berkali-kali dan polisi sudah memroses hukum. Jadi alasan apalagi?
Mau diterus-teruskan diskriminatif dengan alasan # bela ini dan itu, atau mau menahan diri, itu terserah Anda. Tetapi Donald Trump sudah dimunculkan oleh semesta, makin kuat rasa diskriminatif Anda terhadap SARA, maka Anda makin mengokohkam Trump sebagai pemimpin dunia.Yang padahal semesta ini bekerjanya ditentukan oleh rasa hati Anda.[]
SADAR SATU
Muhammad Nurul Banan,
SADAR SATU
Di level material, mata Anda jelas merasakan alam semesta ini merupakan bentuk keanekaragaman, bentuk pluralitas. Jangankan planet-planet yang terpisah-pisah hingga jarak ribuan kilometer, yang tipe rotasi perederan planetnya dan tipe materialnya berbeda-beda, tubuh Anda saja dilihat dari kesadaran materi sudah berbeda-beda, tangan beda dengan kaki, mata beda dengan hidung, dan seterusnya. Di level kesadaraan kebendaan, semua partikel alam berbeda-beda.
Namun setiap keterpisahan selalu ada "satu" yang mengikat. Planet-planet beserta isinya itu beda-beda, tetapi ada "satu" yang mengikat, itu hanya satu tema "alam semesta". Tangan, kaki, mata, otak, hidung, itu berbeda-beda tetapi ada "satu" yang mengikat, itu "satu" tubuh. Ada papan tombol, ada layar, ada ram, ada charger, ada cassing, tetapi ada satu yang mengikat, itu "satu" Android.
Semua realitas terikat pada "satu", tanpa terkecuali. Karena ini Tuhan menyatakan "qul huwa-llāhu ahad"; satu, hanya satu, lā syarīka lahu; tidak ada yang mendua. Dan ini ayat kauniyah, kesemestaan ini adalah kemahabijaksanaan wujud Tuhan.
Pluralitas merupakan wujud nyata "satu", karena ini ketika Nabi S.A.W berdoa agar Islam menjadi "satu" sehingga tidak terpecah-belah seperti umat-umat terdahulu, doa Nabi S.A.W tersebut ditolak Allah. Allah tidak berkenan mengijabahi. Sebab dengan menghapus pluralitas itu sama artinya menghapus realitas "satu". Dan Anda tahu jika Yang Satu itu terhapus?
Oke, Anda bilang Buya Syafi'i Maarif sesat, lantaran beliau memuliakan Ahok, Gus Dur sesat, lantaran beliau bergerak plural lintas agama dan lintas suku, tapi itulah kenyataannya, yang plural itu wujud satu, sehingga Buya Syafi'i Maarif dan Gus Dur yang merupakan pencapai spiritual tinggi merasa kaum di luar agamanya, kaum di luar sukunya, kaum di luar bangsanya bukan sebagai sesuatu yang beda, Buya Syafii dan Gus Dur merasa semua adalah "satu", itulah iman, itulah tauhid, itulah qul huwa-llāhu ahad. Mereka bukan tokoh-tokoh liberal seperti Anda tuduhkan, justru merekalah pencapai zikir tertinggi.
Para pencapai spiritual selalu berorientasi plural, seperti Mahatma Gandhi berkata, “Jika kita percaya Tuhan, tidak hanya dengan kepandaian kita, tetapi dengan seluruh diri kita maka kita akan mencintai seluruh umat manusia tanpa membedakan ras atau kelas, bangsa atau pun agama, kita akan bekerja untuk kesatuan umat manusia. Semua kegiatan saya bersumber pada cinta kasih saya yang kekal kepada umat manusia. Saya tidak mengenal perbedaan antara kaum keluarga dan orang luar, orang sebangsa dengan orang asing, berkulit putih atau berwarna, orang hindu atau orang india beragama lain, orang Muslim, Parsi, Kristen, atau Yahudi. Saya dapat mengatakan bahwa jiwa saja tidak mampu membuat perbedaan-perbedaan semacam itu. Melalui suatu proses panjang melakukan disiplin keagamaan, saya telah berhenti membenci siapapun juga selama lebih dari empat puluh tahun ini”.
Kesadaran kebendaan selalu menyaksikan hal yang berbeda dan terpisah-pisah, maka ini jika kesadaran kebendaan seseorang sangat kuat, dia akan merasakan miskin dan kaya sebagai perbedaan menyolok, dan ini disebut sikap materialisme.
"Agamamu dan agamaku berbeda, karena ini kamu kafir, dan aku ahli surga. Kamu halal aku bunuh, halal aku bom, halal aku maki-maki, halal aku diskriminasikan, dll.," sikap begini sebenarnya kesadaran level kebendaan, kesadaran miskin dan kaya itu beda, perlakuannya pun beda.
Bom Samarinda, aksi 4 November silam, adalah contoh kecil menyeruaknya materialisme dalam kesadaran manusia, kesadaran benda-benda materi di alam semesta berbeda-beda, karena merasa beda dengan dirinya, maka tidak ada lagi kompromi. Aksi-aksi ini, walaupun dibungkus dalil-dalil agama adalah karakter yang sama dengan karakter Israel yang dengan membabi-buta merampas hak hidup muslim Palestina. Israel merasa, "Yahudi dan muslim Palestina beda suku, beda agama, karena ini bangsa Palestina layak dimusnahkan". Atau seperti kesadaran Donald Trump yang rasis dan fasis, muslim di AS hendak dia perlakukan berbeda. Atau seperti kesadaran para Budhis di Mynmar, muslim Rohingnya dirasakan sebagai hal berbeda, sehingga didiskriminasikan. Inilah wujud nyata kesadaran materialisme.
Kesadaran ini, di dalam diri Anda, muncul bersamaan dengan kelahiran Anda di Bumi, artinya itu kesadaran bawaan bayi. Saya muslim, saya akan masuk surga, dan yang tidak menjadi muslim dan sampai mati tidak menjadi muslim, maka dia masuk neraka, tanpa kompromi. Bukankah begitu yang ada di kesadaran Anda? Dan Anda yang non muslim juga demikian, menganggap muslim sebagai ahli neraka. Padahal tahukah Anda? Anda beragama ini dan itu semata-mata ikut orang tua. Kalau Anda anak Ratu Elizabeth Anda jadi Katolik, Anda anak Raja Bumibol Adulyajed Anda menjadi Budha, Anda anak dari Raja Abdul Aziz Anda menjadi muslim. Itu kesadaran bawaan bayi Anda. Sudahkah Anda dewasa?
Dari bayi Anda punya bawaan sadar demikian, sekarang Anda amati antar golongan agama di sekitar Anda. Yang muslim sedekah, yang non muslim juga sedekah. Yang Kristen maksiat, yang muslim juga maksiat. Maria Ozawa--yang saya tidak tahu dia beragama apa--menjadi artis porno, juga banyak artis-artis porno dari kalangan muslimah, kalangan kristiani, kalangan budha, dan sebagainya. Dari karakter diri, semua menjadi "satu".
Yang muslim punya rasa sedih, yang non muslim juga sedih, yang non muslim punya rasa bahagia, yang muslim juga punya rasa bahagia. Dari rasa, semua menjadi "satu".
Hanya kesadaran materiallah yang menyadari ada kotak pemisah antara "dia dan aku", antara "kafir dan mukmin", antara "hitam dan putih", antara "miskin dan kaya". Sekalipun dia berjubah ulama, selaksa dalil yang dia kuasai, sekalipun dia berjubah pendeta dengan kalung salib besar dengan Injil sebagai hujah, sekalipun dia berujubah Budha berkepala pelontos dengan kalung Jenitri besar, sekalipun dia berjubah Brahma Hindu dengan simbol Shiwa besar, tetapi jika masih sadar "elu sesat aku paling surga" itu kesadaran masih materialistik, ujung-ujungnya orang masih doyan duit.
Yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah akhlak memberantas pungli, memberantas korupsi, memberantas banjir, bukan akhlak sekedar pandai senyam-senyum santun. Bukan lagi waktunya menyudutkan salah satu putra bangsa dengan issu-issu "kafr", karena bukan seperti itu ajaran agama. Apalagi sampai bakar masjid atau bom gereja. Sudah saatnya kita jalankan agama kita dengan kasih, jalankan agama dengan tertib, jalankan agama sebagai "satu", bukan agama yang memisah-misahkan karakter dan rasa kita sebagai "satu" umat manusia, "satu" Indonesia.
Anda biasanya tanya, mana dalilnya? Saya jawab, "Anda tidak butuh dalil, Anda hanya butuh sadar satu. Anda butuh sadar, sadar, sadar."
"Katakanlah, Dia Allah Yang Maha Esa (Q.S. Al-Ikhlāsh : 1).
PENGHENTIAN PEMBERIAN KADANG ITU WUJUD PEMBERIAN, DAN SEBALIKNYA
Muhammad Nurul Banan,
PENGHENTIAN PEMBERIAN KADANG ITU WUJUD PEMBERIAN, DAN SEBALIKNYA
Apa sih yang menjadikan issu Q.S. Al-Māidah : 51 menjadi tranding berita, menjadi issu sensitif yang berhasil mengubah berbagai realitas, ada yang tadinya akur jadi bertengkar, ada yang tadinya adu pantat jadi berangkulan, ada yang tadinya tidak berduit jadi berduit karena bisa mengambil keuntungan dari issu ini, ada yang untung dari dagang, dari demonstrasi, dari media, dll., tetapi ada yang sebaliknya, ada yang tadinya berlimpah jadi bangkrut. Dan mungkin ada yang tadinya dijatah surga oleh Tuhan jadi dapatkan jatah neraka, dan ada pula yang tadinya dapat jatah neraka jadi dapat jatah surga. Suhu politik nasional memanas, sistem ekonomi ketar-ketir apalagi setelah dibumbui issu rush money 2511, sistem pertahanan keamanan juga ikut babak-belur. Sedemikian senternya issu ini, banyak realitas yang berubah drastis.
Apa sih yang memicu itu semua terjadi? Yang memicu adalah "rasa" Anda. Ketika video tersebut diunggah oleh Buni Yani dan seketika menjadi viral, jutaan perasaan teraduk-aduk. Ada yang marah, ada yang tersinggung, ada biasa-biasa saja, ada yang menyalahkan Ahok, ada yanv membela, ada yang makin suka, ada yang makin muak. Semua rasa-rasa Anda itu terkirim ke jaringan alam semesta, lalu dari rasa Anda tersebut alam semesta bekerja mewujudkan realita. Terjadilah konflik politik, konflik SARA, ketidakstabilan sosial dan ekonomi, dan lain-lain, bahkan kerusuhan juga terjadi.
Alam semesta bekerja mengikuti perasaan Anda. Jika rasa Anda damai, realita yang terwujud damai, jika rasa Anda rusuh, realita yang terwujud rusuh. Di dunia binatang tidak ada kisruh apa-apa, tenang seperti biasa, karena rasa hati binatang-binatang tidak mengakses apa yang diakses oleh rasa Anda. Sehingga rasa Anda lah pengeksekusi alam semesta.
Karena rasa hati Anda pengeksekusi alam semesta, Tuhan banyak menjanjikan wujud realita hanya dengan bermain hati. Misal rasa syukur jadikan berlimpah rezeki, rasa kufur nikmat jadikan azab, rasa tawakal jadikan rezeki min haitsu lā yahtasib, rasa takwa jadikan semua problem menemukan jalan keluar, rasa dengki jadikan fakir, rasa pelit jadikan miskin, dan sebagainya. Tuhan menjanjikan itu karena memang rasa Anda pemegang reaksi alam semesta.
Dua tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman yang punya masalah dibuang oleh mertua. Dia menantu miskin, si mertua merasa tidak selevel kerezekiannya dengan si menantu. Dia diusir, untung si istri memilih mengikutinya. Dalam keadaan ngap-ngapan, si menantu membawa istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Rumah orang tuanya tentu seperti kandang bebek. Dua bulan kemudian dia pilih mengontrak satu kamar kecil setelah dia diterima menjadi guru honorer sebuah MA.
Yang menarik darinya, dia tidak pernah merasa perlakuan mertuanya sebagai suatu penistaan. Dia berpikir terbalik, dia merasa itu jalan kekayaan. Waktu itu saya terus menelusuri jalan pikirannya, ternyata dia memang bermental kaya. Dia berperasaan, "Ketika semua pemberian dihentikan, itu artinya jalan pemberian".
Dia mengambil hikmah dari kitab Al-Hikām karya Ibn 'Athāi-llāh,
ﺭُﺑَّﻤﺎَ ﺍَﻋْﻄﺎﻙَ ﻓﻤَﻨَﻌﻚَ ﻭَﺭُﺑَّﻤﺎَ ﻣﻨَﻌَﻚَ ﻓﺄَﻋْﻄﺎﻙَ
Artinya; "Terkadang Dia memberi kepadamu, (dengan cara) Dia meghentikannya untukmu. Dan terkadang Dia menghentikan untukmu, (dengan cara) Dia memberinya kepadamu."
Maksudnya, Tuhan seringkali mewujudkan pemberian dalam bentuk penolakan, dan sebaliknya seringkali Tuhan mewujudkan penolakan dalam bentuk pemberian.
Teman saya mengunggah rasa kepada alam semesta, kalau penghentian pemberian simpati dan jalan rezeki dari mertuanya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya. Ini mental kaya, di mana seorang yang bermental kaya tidak berpikir bagaimana dia diberi, sebab rasa ingin diberi itu merupakan rasa tidak berpunya. Dia memahami maksud Tuhan, bahwa dengan terhentinya pemberian dari mertua, sementara orang tua kandungnya sendiri cukup sangat kekurangan, dia tidak bisa mengharapkan sesuatu dari siapa-siapa lagi selain kepada dirinya sendiri. Harus sukses, harus sukses, harus sukses, dia didesak motivasi seperti itu.
Dimulai ikut teman jualan sayuran di pasar. Sebelum dia berangkat ke sekolah, dia bangun jam 2 malam, menjadi kuli temannya jualan sayuran di pasar, rezekinya terus mengalir. Lama-lama dia jadi pemborong sayuran pada petani, dan kemarin saya bertemu dengannya, dia sudah bisa beli tanah dan mobil Carry terbuka. Loncatan finansial yang hanya ditempuh dalam 2 tahun. Saya sendiri merasa keok dari dia.
Dan saya rasa itu dimulai dari rasa kayanya kepada alam semesta, bahwa sekalipun itu "penghentian pemberian", dia bisa menilainya sebagai jalan Tuhan memberikan semuanya kepadanya. Rasa yang Anda kirim ke alam semesta adalah yang akan alam semesta realisasikan.
Berbeda dengan kenalan saya yang lain. Suami istri sama-sama guru PNS. Rumah tinggal menempati karena orang tua dari pihak suami maupun dari pihak istri sama-sama mampu. Tetapi karena keduanya mengirim rasa serakah kepada alam semesta, di mana rasa serakah itu adalah rasa "aku kurang, aku kurang, masih banyak yang belum aku miliki," keduanya sekarang terjebak hutang bank sampai milyaran. Keduanya menjadi korban Dimas Kanjeng. Tergiur penggandaan uang, keduanya hutang bank 1 milyar untuk digandakan dengan agunan gaji guru PNS. Pasca tertangkapnya Dimas Kanjeng, keduanya baru kelepek-kelepek. Tuhan memberi jalan pemberian kepada keduanya, ternyata sebagai cara Tuhan menghentikan pemberian-Nya. Dan itu semua dimulai dari rasa hati Anda.
Karena itu pentingnya mengambil hikmah kehidupan. Karena dengan mengambil hikmah, rasa yang kita unggah kepada alam semesta akan menjadi informasi keberlimpahan, bukan informasi kenistaan, sebab alam semesta mewujudkan realita dari rasa hati kita.[]
ZONA NEWTONIAN ... ZONA QUANTUM ... REZEKI ... PRASANGKA ... & MELAMPAUI PRASANGKA ...
Arif Rh,
ZONA NEWTONIAN ... ZONA QUANTUM ... REZEKI ... PRASANGKA ... & MELAMPAUI PRASANGKA ...
Di zona material, banyak hal cenderung bisa diprediksi, diperkirakan, diprasangkakan ... Sementara di zona quantum, prinsipnya ketidakpastian, uncertainity principle, alias lebih susah diprediksi ...
Jadi ... Bagi anda, yang sudah mampu memprediksi jumlah rezeki anda, boleh dikatakan, anda baru mampu bermain di wilayah zona material ... Zona fisika newtonian ...
Dan anda, yang dalam hidupnya, sudah tidak mampu lagi melakukan prediksi, tentang jumlah rezekinya ... Alias, sering mendapat rezeki tak terduga ... Sering mendapat rezeki tak disangka ...
Maka dialah manusia, yang sudah sebenar-benarnya, mampu "bermain di zona fisika quantum" ... "mumpuni berenang di samudera kemungkinan" ... "piawai dalam memainkan vibrasinya" ...
Selamat memasuki dimensi yang tidak terduga ... Selamat berselancar, di wilayah yang melampaui prasangka-prasangka anda ...
REZEKI YANG BATAL
"Rezeki yang datang di luar prasangka, sering luput entah kemana, karena manusia suka membuat-prasang
ka-prasangka ...
Rezeki tak terduga, sering batal dan meniada, karena manusia suka menduga-duga ..." #Arif RH
Sabtu, 19 November 2016
KESEIMBANGAN
Saya sudah jelaskan juga bahwa Islam itu bagai ekstrim sisi kiri dimana mengutamakan Din (Discpline / Judgement), sementara Kristen itu bagai sisi kanan dimana mengutamakan Chesed (Kasih).
Api yg berlebihan membakar. Air yg berlebihan menenggelamkan. #Danz Suchamda
BENAR ITU MUTLAK...???
Setya Dito, "Apapun yg sudah menjelma di dunia (termanifestasi) mutlak terkena hukum alam yg mana tidak ada kebenaran mutlak didalamnya. Siapapun yg menyatakan benar disatu sisi maka sisi yg lain akan menyatakan sebaliknya. Pro dan kontra. Salah satu manifestasinya ya tuduh menuduh.
Fenomena tsb wajar dan memang harus begitu adanya dan harus terjadi krn itulah rule of the game Nya. Harus bagaimana manusia bertindak ???
Jaga keseimbangam yg harus dimulai dari diri sendiri keluarga kemudian yg berdekatan dan seterusnya. Alat utama utk menjaga keseimbangan adalah LISAN. Disusul dengan indera indera lainnya yg ada dlm diri.
Maka memahami JATI DIRI adalah sangat2 penting utk menjaga keseimbangan agar tetap stabil. Menjaga keseimbangan artinya tdk berlebihan dan tidak kekurangan. Maknanya CUKUP.
Dalam memahami Jati Diri yg sesungguhnya jangan terjebak pd pemahaman tafsir apapun itu. Ikutilah Hati Nuranimu yg paling dalam. Hingga menemukan siapa aku siapa engkau siapa Tuhan.
insyaallah bila didapat maka akan dipahami bahwa sesungguhnya manusia dgn manusia serta alam sekitarnya merupakan satu kesatuan yg tdk dpt dipisahkan. Tidak akan ada lagi sisi lain yg memutarbalikkan utk menuduh. Yg ada hanyalah saling memahami satu sama lain. Tdk akan ada perbedaan tpi yg ada hanyalah saling memaklumi satu sama lainnya. DaMAI adanya.
sesungguhnya aku ya engkau, engkau ya aku dan kita adalah dari yg satu tiada beda".
RAHAYU .... salam
Danz Suchamda : JALAN TENGAH.
MIDDLE WAY.
TIFFERET.
URIP MADYA.
MADHYAMIKA.
UTUH.
Ekstrim kiri...sikat.
Ekstrim kanan...sikat.
Barulah tercipta keseimbangan yang dinamis.
Jumat, 18 November 2016
KAROMAH WALI, ILMU HIKMAH, WASKITO
Tentang Karomah Wali Allah, Ilmu Hikmah dan Waskito
=================================
Saya akan membahas tentang tiga hal diatas sekaligus, karena ketiganya sering membawa kerancuan dalam masyarakat..... dan sekaligus banyak "korban" salah fokus gara gara salah pengertian tentang hal hal diatas....
Karomah wali Allah, sebagaimana yang berkembang di masyarakat sejak berabad abad itu dalam pikiran mereka rata rata beranggapan seperti ini contohnya: "ketika seseorang bisa tiba tiba saja membelah diri jadi 7, berjalan diatas air dan sebagainya keanehan keanehan, maka itu dianggap sebagai karomah wali Allah.... Pikiran seperti itu yang saya terima dari masyarakat sejak dahulukala.....
Lalu bilamana saudara berlandaskan anggapan bahwa seorang wali Allah adalah orang yang mampu membuat keanehan keanehan alias keajaiban yang memukau, kemudian misalnya ada orang yang mampu menggandakan ataupun mengadakan uang dihadapan anda, tiba tiba "cling" ada segepok uang dihadapanmu, maka anda akan cendrung mengganggapnya seorang yang memiliki kelebihan atau sederhananya dia wali Allah yang berkaromah mendatangkan uang secara ajaib..... saudara benar benar tolol, jika berpandangan demikian.....
Mari saya ajak mikir sesaat..... Kalaupun ada orang yang "benar benar" bisa tiba tiba mengadakan atau menggandakan uang dihadapan mata anda, maka satu pertanyaan timbul, darimana uang tersebut berasal?..... jangan jangan itu uang orang yang dipindahkan sesaat, seperti jaman nabi Sulaiman ketika seorang bangsa jin berkata mampu memindahkan singgasana balqis dalam sekejab....nah kalau itu uang orang yang dipindahkan, bukankah itu namanya "maling"?.... Uang syubhat alias uang yang samar tidak jelas asal usulnya, maka tindakan kita adalah "menghindarinya", karena menghindari syubhat adalah perintah Tuhan.....
Nah kembali keperihal karomah wali Allah, maka dalam hal ini jangan salah persepsi, jangan beranggapan karomah wali Allah itu sama dengan kemampuan wali Allah untuk buat hal yang aneh aneh/ajaib, bukan begitu..... karomah itu dari kata karim yang maksudnya "kemuliaan", jadi karomah wali Allah adalah kemuliaan yang diberikan Allah kepada para waliNya.... Karomah bukanlah ilmu gaib.....
"Wujud dari karomah wali Allah adalah ketaqwaannya, kesabarannya, kebaikannya, keikhlasannya, ketawadhu'annya, kesholehannya, kemuliaan akhlaknya dsb dsb", itu loh yang dinamakan "karomahnya wali Allah"..... Jangan keblinger, ingat itu baik baik....
Kalaupun ada seorang katakanlah yang "dianggap wali Allah", sekali lagi dianggap wali oleh orang orang, kemudian ia mampu berjalan diatas air, maka hal itu tidak akan menambah sedikitpun kemuliaannya dihadapan Allah...... Tidak menambah karomahnya sedikitpun..... Jika bertambah ketaqwaannya, maka itulah bertambah "karomahnya".....
Nah sudah mengerti kan masalah karomah wali, itu bukan ilmu gaib, tapi adalah kemuliaan dan kedudukan wali Allah itu dihadapan Tuhan......
Saya prihatin tentang kesalahan pengertian selama berabad abad lamanya dalam menterjemahkan istilah "karomah wali Allah" ini, sehingga sering kali "dukun" dianggap wali....... akhirnya pada kena tipudaya dukun, karena mengira karomah itu yah bikin "cling cling" seperti pesulap saja.....
pesan saya:
"Jangan panjang angan angan, kalau pengin kaya, maka kerja keras dan tekun, jangan mengandakan uang, lama lama bukannya uangmu yang berlipat ganda, malah dosamu yang digandakan".....
========================
Ilmu Hikmah
Nah ini juga pengertiannya bermasalah, saya menangkap dimasyarakat banyak yang beranggapan ilmu hikmah itu sama dengan ilmu gaib lewat amalan amalan yang diambil dari Qur'an dsb.....
Hikmah itu yah asalnya dari Hakim artinya itu bijaksana...... Jadi ilmu hikmat itu bukan ilmu gaib, melainkan ilmu tentang kebijaksanaan hidup, kemampuan mengambil pelajaran dari hidup, dari pengalaman, dari analisa analisa, yang kemudian diramu menjadi nasehat nasehat kebajikan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Lukmanul Hakim, yang mana nama Luqman diabadikan jadi Surat AlQur'an, yang berbagai nasehat, kumpulan wejangan wejangan Luqman itu adalah hasil dari perjalanan hidupnya, itulah namanya ilmu hikmah..... bukan ilmu amalan gaib ini itu.....
=========================
Waskito
Nah ini juga banyak salah anggapan di masyarakat yang mengira orang yang "waskito" itu sama dengan orang yang pinter "ngimpleng", alias penerawangan penerawangan gaib..... Tiba tiba bisa tahu ini itu rahasia yang disembunyikan.....
Bukan seperti itu.....
Saudara, orang yang waskito itu maksudnya adalah orang yang pandai melihat cela kesalahan dirinya pribadi, dengan maksud untuk memperbaikinya...... Karena sehebat apapun "pengimplengan" itu, penerawangan melihat rahasia orang lain, hal itu tidak ada manfaatnya sama sekali bilamana kita tidak bisa melihat cela kesalahan diri kita sendiri, itu tidak pantas disebut waskito.....
"Jangan salah ngimpleng, awas bintitan" #FK_/|\_
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...