Kamis, 02 Februari 2017

MENCAPAI KESEMPURNAAN ?

MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan
hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-
ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar
penyebab munculnya segala macam permasalahan
cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian
kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu
kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa
sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang
mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-
righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari
kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang
telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban
yang tumpah membasahi lembaran sejarah
kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan
BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan
mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana
adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan,
kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala
macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita
sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan
manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala
sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin
mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda
temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-de
lusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa
yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah
sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak
sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper
World). Maka manakala kita sebagai darah dan
daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah
yang material ini memaksakan diri untuk mencapai
kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana.
Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di
dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING
terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi
ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam
Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar
kesempurnaan, melainkan pahamilah
ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai
sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila
anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda
mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya
sebutkan di atas bukan mendunia dengan
kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka
menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya.
Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas
dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan
demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara
bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya
masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi.
Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan
yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pend
ekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon
dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan
pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari
rombongan masyarakatnya untuk memahami dan
menerapkan...secara tidak sempurna....sebagai batu
pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi
setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa
mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak
pun (step by step toward Higher Order without
abandoning someone left behind). Dengan kata lain,
selama jiwamu bertumbuh untuk memahami
kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi
hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk
mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam
setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam
ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan
dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya
dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan /
kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di
tempat yang goyah... lapang di tempat yang
sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa
mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam
kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....ke
sederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju
kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila
batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah
pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal
ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Dan resepnya
sudah pernah saya tuliskan : skeptisisme sehat = tidak
100% percaya dan tidak 100% tidak percaya. Terus
menyelidik. Secara lieteratur, lapangan dan laku
praktek. Pisahkan fact dan opinion. Pisahkan
fraudulent opinion dan posiible opinion. Always keep
open mind.
Itulah maka target akhir saya bukankah nyembah A
atau nyembah B. Bukan pula kasih, keadilan atau pun
bahkan "pencerahan" (personal emancipation).
Melainkan INTEGRITAS, TAMIM. Apa bahasa arabnya
kalau bukan TAUHID?
Nur Jagad
Hanya butuh 1 langkah lagi saja manusia dpt melihat
realitas permukaan.
Krana pada dasarnya manusia pandai utk menilai org
lain atau ajaran agama lain ... sangat pandai malah.
Contoh org yg beragama islam sangat pandai melihat/
menilai ajaran kristen ... bgt juga org yg beragama
kristen sangat pandai melihat/menilai ajaran islam.
Semua celah kekurangan/penyimpangan mereka
sangat ahli mengkritiki.
Nah cobalah melangkah 1 langkah lagi utk melihat/
menilai ajaran agama sendiri dan menilai diri.
Disini akan keliatan mana yg bisa belajar dan
menggarap utk melihat realitas.
Sulit? Tidak juga ... hanya butuh mencari kedalam dan
di renungkan saja.
Rahayu !

MANUSIA INDONESIA

SARLITO W SARWONO
Salah satu tulisan yang cukup menohok mengenai
manusia Indonesia ini adalah tulisan Prof. Sarlito
Wirawan Sarwono, Guru Besar Psikologi Universitas
Indonesia. Begini tulisan dan penelaahannya:
Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan
Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi,
saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat
berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea),
karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah
produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang
elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny
dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat
berat. Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea
ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner
(Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-
pop, Gangnam style, Boys band, Sinetron Korea dll),
dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda)
. Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945)
dan orang Korea punya dendam kesumat kepada
orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan
dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan
dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di
bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu
70 tahun kita sama-sama melihat hasilnya.
Indonesia juga pernah dijajah Jepang, tidak lama,
hanya 3,5 tahun, tetapi rakyat sangat menderita
selama masa penjajahan yang singkat itu. Anehnya,
walaupun akhirnya Jepang kalah Perang Dunia II dan
Jepang diwajibkan membayar pampasan perang
kepada Indonesia, setelah 70 tahun Indonesia tidak
berhasil mengimbangi Jepang hampir di segala
bidang. Malah di tahun 1974 terjadi peristiwa Malari
(15 Januari), saat mahasiswa dan massa membakari
mobil-mobil bermerk Jepang. Orang Indonesia
bukannya bekerja lebih giat untuk menyaingi Jepang,
tetapi menyalahkan dan menyerang si pesaing. Dalam
psikologi mentalitas seperti ini disebut “ekstra-punitif
” (menghakimi pihak lain) yang bersumber pada
“pusat kendali eksternal” (external locus of control).
Menurut teori Pusat Kendali (locus of control: J.B.
Rotter, 1954), ada dua macam tipe manusia, yaitu
yang Pusat Kendalinya Internal dan Eksternal. Orang
dengan Pusat Kendali Internal (PKI) percaya bahwa
dirinya sendirilah yang menentukan apa yang akan
terjadi dengan dirinya, bahkan lingkungan di sekitarnya
pun bisa dia kendalikan sesuai dengan kebutuhannya.
Sedangkan orang dengan Pusat Kendali Eksternal
(PKE) jika terjadi sesuatu, cenderung menyalahkan
pihak lain, bukannya mengoreksi diri sendiri.
Sebagian besar orang Indonesia, menurut hemat saya,
tergolong PKE. Bukan hanya dalam kasus Malari,
tetapi hampir pada setiap peristiwa sehari-hari. Kalau
dalam Pilkada ada calon Bupati/Walikota yang
dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan
maka kantor KPU-nya dibakar. Kalau kebanjiran
menyalahkan pemerintah, kalau kekeringan minta
bantuan pemerintah. Si pemerintah juga lebih senang
menyalahkan alam yang tidak bersahabat. Bahkan
ketika perekonomian nasional mengalami
perlambatan seperti sekarang ini, para menteri di
pemerintah pusat lebih senang menyalahkan faktor-
faktor luar negeri (menggiatnya perekonomian dan
kenaikan suku bunga di AS dll), ketimbang
merekayasa perekonomian dalam negeri untuk
mendongkrak laju perekonomian nasional.
Pengendara motor yang melawan arus, ketika
ditangkap polisi, akan membantah, “Loh, tiap hari
saya liwat sini. Ada polisi, tetapi tidak pernah diapa-
apakan. Kok sekarang saya mau ditilang?”
Salah satu dampak dari sifat bangsa Indonesia yang
KPE ini adalah mencari jalan pintas. Tidak punya
ijasah, ya beli ijasah Aspal saja. Mau menang Pilkada,
beli suara. Mau main di pengadilan beli hakimnya.
Kalau tidak bisa dibeli, liwat kekerasan. Termasuk
Tuhan pun dijadikan faktor yang dijadikan sarana
untuk mencapai sesuatu. Ingin lulus Ujian Nasional,
sholat Istigozah rame-rame. Demo anti kenaikan
harga BBM, teriak “Allahu Akbar”. Tetapi karena
Tuhan tidak bisa dibeli, maka yang menikmati (yang
terima duit) adalah para pemain di balik agama,
termasuk para da’i komersial (yang sering masuk TV
dan honor tausyiahnya 10 kali lipat dari ceramah
profesor), Biro perjalanan haji dan Umroh, dan para
pemain politik yang menggunakan agama sebagai
kendaraannya.
Akhir-akhir ini bahkan makin kuat kecenderungan
untuk lebih menuhankan agama ketimbang
menuhankan Tuhan (Allah) itu sendiri. Agama sudah
dianggap jauh lebih penting dari pada negara,
pemerintah, bendera dan lagu kebangsaan,
kewarganegaraan, dsb. Kalau Kartosuwiryo yang
memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) di
tahun 1949 (isterinya tidak berjilbab), masih mencita-
citakan sebuah negara yang bernama Indonesia, JI
(Jamaah Islamiah) dan ISIS (Islamic State of Iraq and
Syria) tidak lagi mempersoalkan wilayah, dia maunya
seluruh dunia adalah daulah Islamiah, yang dipimpin
oleh seorang Amir atau Khalifah saja. Berita mutakhir,
ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak
bersetubuh dengan para pejuangnya, atas nama
agama, atas nama daullah Islamiah. Padahal Allah
sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Bukankah ini
menuhankan agama lebih dari pada menuhankan
Allah itu sendiri? Apa namanya kalau bukan musyrik?
Dampak yang serius dari mentalitas PKE adalah orang
jadi malas kerja. Orang PKE yang tidak berorientasi
agama memilih hidup hedonis, mumpung muda hura-
hura, tua foya-foya, mati masuk alam baka (surga
atau neraka? Emang gue pikirin?). Mereka terlibat
Narkoba, seks berisiko, kenakalan dan kriminal untuk
memenuhi kebutuhuan hedonisnya. Sementara PKE
yang orientasinya agama lebih rajin berdoa (rukun
Islam tidak pernah terlambat, termasauk berumuroh
berkali-kali), tetapi tetap enggan bekerja serius.
Bahkan mereka pikir tidak apa-apa sedikit bermaksiat
juga, karena mereka pasti sudah diberi pahala dan
ampun oleh Allah yang Maha Pengampun, karena
ibadah mereka sudah berpuasa yang pahalanya lebih
dari seribu bulan dan sudah sholat Arbain di Medinah,
yang pahalanya entah berapa juta kali lipat
dibandingkan shalat di masjid lain. Itulah sebabnya
Indonesia tidak pernah lepas dari korupsi dan maksiat,
walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim
terbanyak di dunia. Itulah sebabnya Indonesia tidak
pernah lepas dari STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan).
Padahal Indonesia sedang dalam era Bonus
Demografi (2010-2045), yaitu saat penduduk usia
produktif (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dari
penduduk non-produktif. Para pakar menamakannya
peluang emas untuk menggenjot kemajuan di segala
bidang, guna menyejahterakan dan memakmurkan
bangsa, khususnya karena negara-negara lain sudah
meliwati masa ini bertahun-tahun yang lalu (negara-
negara maju seperti Kanada dan AS sudah
mengimport imigran untuk mengisi kekurangan tenaga
kerja mereka) dan Indonesia sendiri akan kehilangan
peluang itu juga pasca 2045. Peluang emas inilah
yang ingin direbut oleh Presiden Jokowi dengan
seruannya “Kerja, kerja, kerja!!!”. Maka kabinetnya pun
dinamakan Kabinet Kerja. Tetapi kalau bangsa
Indonesia lebih suka berhura-hura atau hanya berdoa
saja, jangan-jangan setelah tahun 2045 terlewati (100
tahun setelah kemerdekaan), Indonesia bukannya
menandingi Korea atau Tiongkok (Cina) melainkan
makin terpuruk. Naudhubillah min dzalik.
Sudah sepatutnya kita bercermin diri dan sadar, agar
kita bisa bangkit dan tidak lagi bermental inferior.
(Manusia Indonesia, 15 Agustus 2015 oleh Sarlito W.
Sarwono

Senin, 02 Januari 2017

SATU PENGERTIAN

"Lebih baik satu pengertian yang menembus daripada hafal ribuan kalimat" DANZ SUCHAMDA

MENCAPAI KESEMPURNAAN

Danz Suchamda
MENCAPAI KESEMPURNAAN ?
Manusia dari berbagai macam komunitas merayakan hari besar tokoh kesempurnaannya.
Buddha mencapai kesempurnaan.
Kwan Im mencapai kesempurnaan.
Arjuna mencapai kesempurnaan.
Muhammad manusia sempurna.
Yesus, kesempurnaan yang menjadi manusia
Rama Krishna, Radoswami, ...dst.
Masalahnya, apakah kita sekarang sadar bahwa ideal-ideal kesempurnaan itu justru yang menjadi akar penyebab munculnya segala macam permasalahan cacat-cela di dunia kita saat ini???
Ketahuilah,...bahwa sebuah peniruan pencapaian kesempurnaan akan selalu berakhir menjadi suatu kejahatan, kekejian, cacat cela yang luar biasa sempurna tersembunyi tertutupi. Pure Evil. Dosa yang mencapai kesempurnaaannya! Perfectionism, Self-righteousness, Truism, Justice, dsb adalah akar dari kekerasan, kekejaman-kekejaman para tiran yang telah menghiasi dunia dengan cucuran darah korban yang tumpah membasahi lembaran sejarah kemanusiaan.
Kesempurnaan bukanlah dicapai dengan jalan BERUSAHA menjadi sempurna, melainkan dengan mampu menerima segala sesuatu sebagai-mana adanya : kecacat-celaan kita, kelemahan, kegagalan, kemarahan, kecemburuan, sakit hati dsb segala macam seluk-beluk derita dan keluh kesah diri kita sebagai individu manusia dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain.
Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Segala sesuatunya adalah ilusi. Bagaimana mungkin mencapai kesempurnaan dari ilusi? Yang anda temukan pada akhirnya hanyalah kesempurnaan-delusional. Karena sudah menjadi kodrat bahwa apa yang ada di alam bawah (Under World) ini hanyalah sebuah bayangan atau ilusi yang pecah, yang tidak sempurna dari pola-pola yang ada di alam atas (Upper World). Maka manakala kita sebagai darah dan daging atau sebagai mahluk di dunia alam bawah yang material ini memaksakan diri untuk mencapai kesempurnaan, maka hasilnya adalah bencana. Karena kesempurnaan bukanlah suatu yang material di dunia bawah ini, melainkan UNDERSTANDING terhadap apa yang terjadi sebagai manifestasi ketidaksempurnaan dari apa yang sempurna di Alam Atas. Jadi dengan kata lain, janganlah mengejar kesempurnaan, melainkan pahamilah ketidaksempurnaan di dunia bawah ini sebagai sebuah kesempurnaan sistem yang lebih tinggi. Bila anda bisa menembusi itu, maka dikatakan anda mencapai "kesempurnaan". Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas bukan mendunia dengan kesempurnaan dalam anggapan kalian, mereka menjadi sempurna karena penembusan BATIN-nya. Karena dengan penembusan itu, anda akan terbebas dari dera ketidakpuasan di alam bawah ini. Dengan demikian, manusia dapat belajar untuk hidup secara bersama harmonis dalam ketidak-sempurnaannya masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi. Mulai mampu untuk menata ketidak-sempurnaan yang ada di alam bawah ini dengan pendekatan-pendekatan yang bijak dan welas asih sesuai dengan sikon dan tuntutan zamannya. Mampu untuk memberikan pengarahan dan pemahaman sesuai kemampuan dari rombongan masyarakatnya untuk memahami dan menerapkan...se
cara tidak sempurna....sebagai batu pijakan ke tahapan yang berikutnya. Setahap demi setahap menuju tatanan yang lebih mulia tanpa mengorbankan / meninggalkan seorang/sebuah pihak pun (step by step toward Higher Order without abandoning someone left behind). Dengan kata lain, selama jiwamu bertumbuh untuk memahami kehidupan
...selama jiwamu tidak menyerah menghadapi hidup....
...selama jiwamu senantiasa belajar untuk mengasihi...
...selama jiwamu mampu bangun lagi setelah jatuh...
...selama jiwamu bisa menemukan hikmah di dalam setiap kemelut...
...selama jiwamu tetap tenang berimbang dalam ombang-ambing gelombang samudera kehidupan...
... selama jiwamu mampu menemukan kejernihan dalam tiap kekeruhan...
... selama jiwamu mampu melihat pengajaran-Nya dalam setiap musibah...
... selama jiwamu mampu mengalahkan keinginan / kepentingan dirimu sendiri,
... selama dirimu mampu merasa berimbang di tempat yang goyah... lapang di tempat yang sempit....ringan di tempat yang berat.... merasa mantab di tempat yang rendah....kemuliaan dalam kegagalan....tetap dihormati dalam kekalahan....kesederhanaan dalam kerumitan,
...artinya anda sudah satu langkah berjalan menuju kesempurnaan itu.
Karena realisasi hal-hal di atas baru akan terjadi bila batin telah menembus. Maka dikatakan sebuah pengertian yang menembus lebih berharga dari hapal ribuan kalimat.
Just be (Its fruit is wisdom)
Aware (Its fruit is knowledge)
...and feel BLISS anytime anywhere.
=Sat-Chit-Ananda=
and KNOW....
I AM THAT ! (Tat Twam Asi)
I AM WHO I AM ! ( YHVH ; Ehyeh asher ehyeh)
Ingsun iku urip sejati, sejatining urip ya iku Ingsun.
Ecc.2: 26 : "God gives wisdom, knowledge and happiness"
Rahayu!
http://primordialnature.blogspot.co.id/2016/08/
ringkasan-pesan.html

Minggu, 01 Januari 2017

MASALAH TIDAK MASALAH

Amung Kurnia E,
Bersahabat dengan Masalah.....
Berterimakasihlah pada masalah
Apalagi jika masalah itu datangnya bertubi-tubi
Pertanda bahwa Tuhan menjatuhkan pilihannya
Pada diri kita sebagai orang pilihan, pribadi terpilih
Di mata-Nya
Kita dianggap Tuhan bukan orang sembarangan
Hadirnya masalah itu....
Pertanda Tuhan sedang memberikan kertas ujian
Dan kita yang harus menggarapnya tuntas
Diuji kecerdasan akalnya, diuji kematangan emosinya
Diuji kekuatan mentalnya, diuji ketegaran spiritualnya
Diuji segalanya, jiwa raga, fisik mentalnya, dan akal budinya
Diberi masalah berarti kita sedang disayang Tuhan
Diberi masalah berarti kapasitas kita akan dinaikkan
Semakin berat masalahnya berarti semakin tinggi Tuhan menempatkan nilai dan posisi diri kita
Maka jangan pernah merasa masalah kita itu paling berat dibandingkan orang lainnya
Apalagi protes kenapa Tuhan tidak adil memberi masalah yang begitu berat pada kita
Orang orang hebat di sepanjang sejarah selalu diuji dengan ujian yang tak mudah
Nabi Ayub diuji dengan penyakit yang menahun
Nabi Yunus diuji dengan dibuang ke tengah laut dan termakan ikan hiu berbulan-bulan
Nabi Nuh diuji dengan kedurhakaan anak isterinya
Nabi Musa diuji dengan kekuasaan yang lalim
Nabi Ibrahim diuji dengan lamanya punya keturunan
Nabi Yusuf diuji dengan perempuan, hidup bertahun-tahun dipenjara, dan dibuang saudara-saudaranya
Nabi Isa diuji dengan fitnah dan pembunuhan
Nabi Muhamad diuji dengan keyatiman, hinaan, pengungsian, peperangan, dan serangan santet, komplit dan bertubi-tubi.
Bahkan Nabi Adam pun diuji dengan buah apel
Mengapa?
Karena mereka disayang Tuhan
Mereka orang pilihan
Mereka dianggap punya kemampuan
Mereka akan dimatangkan
Mereka akan diberi rahasia ilmu tertentu
Dan mereka akan diangkat derajatnya
Dan dimuliakan hidupnya
Sepanjang masa
Maka berterimakasihlah jika kita punya masalah
Bersyukurlah kalau masalah itu bertubi-tubi datangnya
Asal kita tak pernah menyerah
Asal kita percaya ke-Mahaan-Nya
Semua akan indah pada waktunya
Semua akan baik-baik saja nantinya
Asal kita tidak cengeng dengan masalah
Asal kita tak pernah menghindari masalah
Asal kita tetap tenang berhadapan dengan apapun masalah, seberat apapun masalah
Hidup itu ya berpindah dari satu masalah ke masalah
Di situlah ada cara dan rahasia Tuhan memandu hamba-Nya
Dengan tools tools canggih yang tak pernah kita duga dan tak pernah ada contekannya.
Hanya Dia yang punya dan menjadi rahasia-Nya
Itu sebabnya, Dia dua kali berkata
Untuk meyakinkan kita hamba-Nya
Sesudah kesulitan akan datang kemudahan
Sesudah kesukaran akan ada kemuliaan
Itu tegas, itu jelas, tanpa koma, tanpa syarat...
Kalau dengan perkataan Tuhan saja kita tidak percaya
Kepada siapa lagi kita akan percaya?
Sementara fakta selalu membuktikan
yang selalu tidak bisa dipercaya itu justru manusia
Bahkan manusia yang paling kita percaya seringkali tak bisa dipercaya
Itu sudah tertoreh sepanjang sejarah...
.
Nah....
Kalau nggak ingin ujian
Kalau nggak ingin naik level
Kalau nggak ingin jadi hebat
Kalau nggak ingin jadi mulia
Nggak usah ketemu dan bersahabat dengan masalah
Mati saja
Selesai!
Sudah!
Itttuuuuhhhhh!!!!
Dan Anda tak harus setuju!!!!

Minggu, 11 Desember 2016

KNOWLEDGE - UNDERSTANDING - WISDOM

Danz Suchamda,

KNOWLEDGE - UNDERSTANDING - WISDOM

Tujuan hidup sebagai manusia adalah untuk mengenali Realitas. Itulah yang akan membawa anda ke Surga atau pada akhirnya ke Realitas Tertinggi (Ultimate Reality) yaitu Nirwana.
Neraka adalah tempat untuk orang-orang yang tersesat dari realitas.
Bagaimanakah mengenali Realitas?
Tuhan memberikan kepada kita 2 alat , yaitu : Otak dan Hati......Mind and Heart.
Secara modern kita menyebutnya Intelek dan Emosi.
Intelek dan Emosi haruslah bekerja secara sinergis dan imbal-balik untuk menilai kesahihan suatu fenomena sehingga bisa disimpulkan sebagai sebuah realitas.
Intelek adalah suatu fungsi pikiran yang digunakan untuk memproses input-input yang masuk dari alat-alat inderawi kita : mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Dari 5 indera fisik itu jiwa kita berhubungan dengan dunia luar. Tapi disamping 5 indera fisik itu, pikiran dapat juga disebut sebagai sebuah alat pengindera, karena fungsinya adalah mengindera realitas yang dalam fungsi itu disebut sebagai 'persepsi'.
Input-input yang masuk dari alat-alat indera itu berupa DATA mentah. Data-data mentah ini kemudian disusun oleh pikiran, melalui bekal apa yang ada dalam ingatannya, agar menjadi sebuah informasi. Inilah yang disebut persepsi.
Oleh karena itu, maka jangan heran apabila ada 2 orang yang mendapat input data-data inderawi yang sama tetapi menimbulkan persepsi yang berbeda. Inlah awal dari sebuah salah paham atau pertengkaran.
Jadi, yang menjadi persoalan adalah apa yang telah disusupkan dan ditimbun dalam ingatannya. Apabila yang ditimbun dalam ingatannya adalah informasi-infor
masi yang salah, sudah bisa dipastikan bahwa selanjutnya maka ia akan menilai data-data lain yang masuk ke dalam otaknya dengan sebuah persepsi yang salah. Ini yang dinamakan tersesat.
Melalui informasi-informasi yang dikumpulkan dan dijalin dalam sebuah pemahaman yang saling berkaitan, ini disebut sebagai PENGETAHUAN (knowledge). Jadi bisa dilihat bagaimana bila orang mendapat input informasi-informasi yang salah kemudian memiliki versi realitas (pengetahuan) yang salah pula. Inilah yang dimanfaatkan oleh para teroris untuk menghasut dalam propagandanya. Mereka menolak dan sengaja menutupi informasi benar, alih-alih mendoktrinkan informasi-infor
masi karangannya sendiri kepada para umatnya sehingga bertindak sesuai dengan keinginannya.
Itulah kaitan antara PIKIRAN dan EMOSI. Pikiran yang salah memunculkan reaksi emosi yang tidak tepat pula. Seharusnya senang, malah marah; seharusnya jijik malah bangga.
Itulah mengapa disebut sebagai "The Other Side" atau "Sitra Achra" ...istilah yang digunakan dalam Bible untuk merujuk pada Iblis. (Note : Lucifer bukanlah nama aslinya. Pengistilahan "Lucifer" (Bintang Fajar) adalah suatu kesalah-kaprahan pada saat penerjemahan naskah Ibrani menuju Latin pada versi Septuginta).
Bagi kaum yang tersesat, maka informasi akan berhenti sebagai sebuah penjahanaman diri sendiri. Tidak akan berkembang lebih lanjut menjadi UNDERSTANDING (pengertian). Padahal dasar dari KASIH dan pengenalan akan Tuhan adalah UNDERSTANDING ini. Dimana saat mengenali Tuhan dari realitas yang mengada ini (kasunyatan, kesenyataan) maka dapat disebut WISDOM (Hikmah, hikmat, kebijaksanaan).
Proverb 2 : 5-7
5Then you will discern the fear of the Lord and discover the KNOWLEDGE OF GOD (Da'ath / Jnana). 6For the Lord gives WISDOM (Chokmah / Prajna); From His mouth come KNOWLEDGE (da'ath / Vid [:Veda]) and UNDERSTANDING (Binah / Vidya). 7He stores up sound wisdom for the upright; He is a shield to those who walk in integrity,...
( Amsal 2:5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. b 2:6 Karena Tuhanlah yang memberikan HIKMAT, dari mulut-Nya datang PENGETAHUAN dan KEPANDAIAN. 2:7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, 2:8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. 2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.)
Inilah TRISULA VEDA, senjata sang Putra Batara Indra!
Rahayu!

Jumat, 09 Desember 2016

TUHAN MANA LAGI YANG MAU DICATUT?

Muhammad Nurul Banan
TUHAN MANA LAGI YANG MAU DICATUT?
Secara kauniyah tubuh Anda tidak bisa utuh sebagai waujud biologis bila tubuh Anda hanya terdiri dari satu unsur. Apa yang terjadi kalau tubuh Anda hanya tulang saja tidak ada unsur lainnya, bisakah wujud biologis Anda ada? Anda terwujud dari ke-bhinneka-an unsur-unsur biologis yang berbeda-beda, ada unsur air, unsur tulang, unsur daging, hingga unsur-unsur najis turut serta mewujudkan bentuk biologis Anda. Bumi bila hanya terdiri dari unsur batu, bisakah Anda hidup di Bumi ini? Batu, air, udara, tanah, mineral, oksigen, karbohidrat, semuanya unsur yang berbeda-beda. Dari ke-bhinneka-an, Allah meng-fayakun-kan alam semesta, dari ke-bhinneka-an, Allah mencipta. Tanpa ke-bhinneka-an, alam semesta ini gagal tercipta. Dari ke-bhinneka-an alam semesta ini terwujud, alam ini di bawah rahmat Ke-Bhinneka-an Allah. Karena ini Allah bergelar Ar-Rahmān, di mana di titik Ar-Rahmān kesadaran Allah adalah kesadaraan ke-bhinneka-an total, Allah sangat plural tiada batas. Semua diperlakukan dan diberi hak yang sama di bawah kesadaran Ar-Rahmān-Nya. Tidak ada bedanya antara yang hitam dan putih, antara Fremashon dan ISIS, antara Donald Trump dan King Abdul Aziz, antara atas dan bawah. Semua direngkuh oleh-Nya sebagai satu kesatuan tak berbeda. Karena ini Anda jangan heran, K.H. Abdurrahman Wahid, K.H. Ahmad Musthofa Bisri, Buya Syafii Maarif, Dr. Nur Cholis Madjid, Jalaluddin Rumi, Ibn 'Arabi, Manshur Al-Hallaj, Siti Jenar, dll., terlihat begitu plural, mereka tidak hanya mengasihi yang seagama, tetapi yang berbeda agama mereka tidak hanya mengasihi tetapi melindungi. Bukan mereka liberal, tetapi mereka para penzikir yang mencapai kekekalan, mereka mengenali Allah seutuhnya dengan mata hati mereka, mereka tahu "Allah Maha Bhinneka" di dalam Ke-Ahad-an-Nya. Merekalah para pencapai iman. Bahkan semua spiritualis dari agama apapun sama-sama mengenali-Nya sebagai Zat Yang Bhinneka. Bunda Teresha, Dai Lama, Paus Fransiskus, Sir Thomas Aquinas, Mahatma Gandhi, Gede Prama, dll., contohnya. Mereka tidak mempermasalahkan sekat agama, karena mereka semua tahu Ke-Mahabhinnekaan-Nya. Tidak bisa di kehidupan ini hanya Islam saja, hanya Kristen saja, hanya Budha saja, dan seterusnya. Alam semesta runtuh kalau di Bumi ini hanya ada satu agama saja, seperti runtuhnya tubuh Anda ketika hanya tersusun dari unsur tulang. Mereka paham benar dengan Allah karena itu mereka sedikitpun tidak mau mengingkari kebijaksanaan Allah. Alam semesta telah digarisbawahi dengan sunnatu-llāh, maka mereka menerima keanekaragaman setulus hati tanpa punya kepentingan SARA. Sebab ini, komunisme sebagai aliran filsafat anti Tuhan, justru menemukan kalau hidup ini anti perbedaan. Catatlah Korea Utara, stasiun televisi dan radio hanya satu, mereka takut dengan perbedaan informasi, kebijaksanaan pemerintahan hanya boleh satu komando Kim Jong Un, partai politik hanya ada satu, bahkan saya mendengar cukuran pria hanya boleh satu model yakni model rambut Kim Jong Un. Berani berbeda di Korea Utara langsung bunuh. Dan semua negara-negara komunis di dunia melakukam revolusi dengan pembunuhan massal, memaksa orang untuk satu pendapat, satu kemauan, berani beda diteror dan dibunuh. Karenanya sistem sosial komunisme adalah "sosialisme" di mana semua kebijaksanaan untuk rakyat dikendalikan oleh pemerintah. Mereka anti perbedaan, anti kritik, sangat tertutup dan otoriter sebab keantian mereka terhadap Tuhan. Mereka mengingkari sunnatu-llāh tercipta dari perbedaan. Di dalam beragama, banyak kelompok dengan "mengatasnakan Tuhan" dengan semangat sekali mengkotak-kotak k*f*r, dicolok-colokkan semangat peng-k*f*r-an, bunuh, bunuh, bunuh. ISIS begitu semangat membunuh atas nama Tuhan, tidak seide dengan ideologi ISIS halal dibunuh. Semua harus berbaju sama, semua harus ISIS, beda dengan ISIS harus musnah. Dikira mewujudkan tubuh biologis cukup dengan unsur tulang, mewujudkan agama haq harus membunuh aliran yang berbeda. Ini ingkar sunnatu-llāh, artinya ingkar Tuhan. Lalu model mengenali Tuhan dengan semangat seperti ini apa bedanya dengan semangat sosialis-komunis? Bedanya komunis di bawah formalitas ateis, ISIS di bawah formalitas teis. Itu semua terjadi karena Tuhan dipahami sebagai formalitas dalil, tidak sebagai rasa hati nurani. Ujar-ujar mengatasnamakan Tuhan eeh realitasnya anti Tuhan. Tidak hanya dalam Islam, kasus anti beda juga sedang marak di Myanmar, Budhis Myanmar begitu semangat membunuh atas nama Tuhan, Yahudi Israel begitu semangat membantai muslim dan Arab atas nama Tuhan, Donald Trump begitu semangat mendiskriminasi kan muslim, Arab Saudi begitu semangat memboikot haji muslim Iran. Di negeri kita semangat anti Tuhan dengan mengatasnamakan Tuhan mulai marak, ada issu roti kafir, dan kemarin di Bandung KKR di jalan dilarang, padahal di Monas juga ada shalat Jumat di jalan. Semangat meng-k*f*r-kan tidak ada beda dengan semangat anti Tuhan, lalu Tuhan yang mana yang sedang diatasnamakan? Tuhan Yang Maha Esa bersifat plural, segala keragaman Dia akui, segala ke-bhinneka-an diikat, lalu Tuhan mana lagi yang mau dicatut? Mau jubahan, mau pakai kalung Salib besar, mau kepala plontos dengan jubah orange, mau jenggotan dengan surban dan jidat hitam, kalau ide peng-k*f*r-annya masih kuat, aah itu karakter Kim Jong Un yang anti Tuhan. Kecuali dalam keadaan tertentu, seperti Shalahuddin Al-Ayyubi menghadapi pasukan Salib Eropa, Nelson Mandela menghadapi rasisme warna kulit, Bung Karno dan Mahatma Gandhi menghadapi penjajahan, demi membela hak, mereka berani duel dalam perbedaan. Bukan 1 nyamuk dilawan oleh 7 ribu obat anti nyamuk.

Senin, 28 November 2016

MEDITASI

Danz Suchamda,

MEDITASI BUKAN BERARTI SEKEDAR TEKNIK

       Meditasi adalah suatu keadaan menjaga kesadaran dan perhatian secara terus menerus dalam setiap aktivitas kehidupan. Jadi, yang disebut meditasi bukan sekedar persoalan teknik, entah itu teknik meditasi duduk ataupun berjalan. Kita sebut meditasi dalam pengertian sebuah teknik ini sebagai "Sitting Session" (Sesi Duduk). Dan meditasi di dalam kehidupan sehari-hari ini kita istilahkan sebagai "Post-Meditation" (Setelah-meditasi). Sementara itu, untuk mengembangkan sikap dan gaya hidup yang kondusif dengan kesadaran, maka kita perlu memahami beberapa pengertian Dharma. Caranya antara lain dengan mengembangkan pengertian, aspirasi dan juga motivasi. Hal-hal ini kita sebut dengan "Preliminary Training" (Pelatihan Awal).

SITTING SESSION
Teknik meditasi secara khusus pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam :
1. Meditasi Samatha (Placement Meditation / Single-pointed Meditation)
2. Meditasi Pandangan Terang (Meditasi Pengenalan Diri / Insight Meditation / Clear Seeing Meditation / Vipassana. Istilah dari Ki Ageng Suryomentaram : Nyawang Karep. Kejawen : Sholat Do'im).
Inti dari teknik pengembangan Kesadaran itu terdapat pada Meditasi Pandangan Terang (Insight Meditation). Tetapi karena batin sifatnya juga seperti otot, yaitu kekuatan otot kita dapat ditingkatkan melalui penggemblengan / training latihan otot, maka untuk menguatkan aspek-aspek batin seseorang biasanya mendahuluinya dengan melatih Meditasi Samatha.

MEDITASI SAMATHA
Pada intinya disini adalah untuk mengembangkan relaksasi dan fokus perhatian / kemampuan berkonsentrasi / fokus pada satu hal dalam suatu saat. Obyek meditasinya hanya satu dan bersifat tetap (terus menerus sampai akhir sitting session). Ada berbagai macam teknik Meditasi Samatha.

Dalam tradisi Shravakayana dapat dikenal 40 macam Meditasi Samatha. Belum lagi teknik2 dalam Mahayana dan Vajrayana, plus variasi dalam tiap2 sektenya. Plus bila anda ingin meninjau teknik2 meditasi Hindu berdasar Veda, Advaita Vedanta, Yoga dan Tantra, apalagi bila kita menggali dari metode2 tradisional yang ada pada Nusantara / jawa, maka akan jadi bervolume-volume buku. Terlalu njelimet kalau diterangkan semuanya disini, karena tujuan tulisan ini bukan untuk membedah secara detail, tapi untuk memberikan kata pengantar saja. Cukup basic2nya dulu saja, sementara bila sudah mahir, maka jenis2 meditasi yg lain dapat dicoba dan akan dengan cepat membuahkan experience (pengalaman) karena batin sudah lebih tergembleng (dasarnya sudah terbentuk).
Di antara sekian banyak teknik meditasi yang berbasiskan Samatha maka saya referensikan satu teknik saja yang paling umum dan paling aman untuk dapat dilatih sendiri di rumah masing-masing, yaitu :

- Meditasi Perhatian pada Nafas (Anapanasati).
Caranya mudah :
Duduk bersila (bebas). Yang penting punggung tegak dan rileks tidak bergerak. Pejamkan mata. Arahkan perhatian pada bagian antara bibir atas dan lubang hidung. Disitu perhatikan aliran keluar masuknya nafas. Sadari sensasi setiap nafas yang keluar dan masuk. Fokus perhatian disitu selama mungkin, sesuai kemampuan. Tetapi standar pelatihan Meditasi Samatha adalah 2 jam per sitting session.

MEDITASI PANDANGAN TERANG (Insight Meditation / SHALAT DO'IM / Nyawang Karep )

       Intinya adalah untuk mengembangkan perhatian (mindfulness; sati). Perhatian yang penuh dan intens akan mengembangkan Kesadaran (Awareness). Tahap pelatihan pengembangan kesadaran ini secara tradisional meliputi 5 aspek konstruk diri :
- Badan/ fisik (rupa),
- Pikiran (manas),
- Perasaan (vedana),
- Persepsi (sanna) dan,
- Matan-Kesadaran (consciousness; chitta).

        Meditasi Pandangan Terang ini adalah mengamati-menyadari secara pasif obyek kesadaran yang muncul. Disini obyek meditasinya tidak tentu tetapi berubah-ubah mengikuti apa yang muncul dalam ruang kesadaran kita, disebut Momentary-concentration (khanika samadhi). Dan disitulah kita secara perhatian penuh menyadari / mencatatnya di dalam batin. Hal ini dilakukan secara bertahap pada fisik, pikiran, perasaan, persepsi, dan pada akhirnya pada fenomena dharma. Satu persatu pada aspek diri tersebut sampai mencapai suatu titik kemampanan / penguasaan keahlian yang tertentu, yaitu sampai anda mengenali sifat-sifat dari batin itu sendiri.

Inti dari teknik meditasi ini adalah : mengamati / menyadari secara PASIF tanpa berusaha mengubah, mengikuti, memikirkan, menerima, atau menolak apa yang muncul di dalam ruang batin. Cukup catat di dalam batin.
Misalkan mendengar suara, catat dalam batin "mendengar...mendengar....mendengar..."; apabila muncul suatu gerak keinginan di dalam batin , catat "ingin..ingin..ingin.."; walau bila kemudian hilang rasa keinginan itu dan tidak ada apa-apa...maka alihkan perhatikan ke naik-turunnya perut mengikuti nafas; itu pun biasanya tidak lama (kecuali anda tersedot ke meditasi Samatha), ...sejenak kemudian kalau muncul emosi apa pun (misal : marah) catat "perasaan...per asaan...perasaan...", demikian juga pada waktu merasa takut, catat secara sama karena kategorinya sama "perasaan...perasaan..perasaan.." dst. Jadi, yang dicatat adalah bukan nama partikular fenomenanya, tetapi KATEGORI fenomenanya. Seringkali bagi pemula sering terhanyut dengan obyek yang muncul dalam ruang kesadarannya. Alih-alih menyadarinya secara pasif jadi turut mengikuti atau menganalisanya, ini namanya melamun. Pada saat melamun tidak sadar melamun, tetapi bila muncul detik2 kesadaran, maka segera tarik kembali perhatian ke posisi semula TANPA menghakimi, merasa kesal atau merasa "kok saya gagal terus". Semua itu adalah pikiran-pikiran yang cukup dicatat saja, "mikir...mikir...mikir..", dst dst.

Demikian pula, semakin intens berlatih dan batin anda menjadi peka, maka kadang-kadang muncul berbagai macam variasi fenomena diluar kebiasaan. Tidak usah takut. Tidak ada apa-apa, semua hanya proyeksi pikiran sendiri. Semisal muncul suatu "kehadiran" di samping anda yg membuat anda takut, cukup catat "merasa...merasa...merasa...." Disini diuji kemampuan anda untuk gentur dalam konsentrasi-bergerak (momentary concentration / khanika samadhi). Tapi bila anda tidak kuat, ya buka mata saja... biasanya tidak ada apa-apa. Biasanya... hehe

Latihan MPT ini dapat dilakukan pada sesi duduk, sembari berjalan atau kalau sudah mahir dalam aktivitas sehari-hari. Tapi untuk pemula, saya sarankan tidak dilakukan sembari melakukan kegiatan lain terutama yang membahayakan (misal : menyetir, mengoperasikan mesin, dsb). Karena batin pemula seringkali terjatuh dalam lamunan walau mengira dirinya sedang sadar. Sementara kalau secara praktis dalam kegiatan2 ringan yg tidak membahayakan seperti misalnya : menyapu, mencuci-piring atau dalam mengerjakan suatu pekerjaan tangan, anda dapat melakukannya dengan lambat-lambat dan penuh perhatian kepada apa yang sedang dikerjakannya. Rasakan secara penuh sensasi-sensainya, sentuhan dengan tekstur yang sedang dikerjakan, perhatikan detail dari bentuk2 dan warnanya, perhatikan perubahan2nya, dsb. Itulah yang disebut PERHATIAN (mindfullness / sati / eling). Lawan kata dari perhatian adalah LALAI atau kondisi LUPA (alpa, ora eling, meleng, mlinger).

Saya rasa sebegitu saja dulu penjelasannya, agar tidak menjadi terbeban terlalu banyak teori. Dan saya tidak perlu memberi anda anda iming-iming apa pun atas buah2 dari latihan meditasi ini... bermanfaat untuk ini untuk itu,... nanti bisa begini bisa begitu. Tidak! Kalau memang mau ya lakukan, kalau tidak ya tidak usah. Soal apa hasilnya, nanti rasakan sendiri aja. Karena ini adalah pelatihan kesadaran, maka pemberian iming-iming justru akan menghalangi proses kesadaran. Masing-masing insan sudah memiliki panggilan jiwanya masing-masing sesuai dengan kematangan buah karma baiknya masing-masing. Kalau memang bukan panggilan jiwanya, dikasih iming-iming, ya bisa praktek sementara waktu, tapi ujung2nya malah tersesat (oleh fantasi dan keinginannya sendiri yg belum murni). Disitulah letak perlunya Preliminary Training yang akan kita bahas lain waktu.
Rahayu!

Yang benar itu BUKAN mengatur egonya,tetapi MENYADARI egonya. Cukup sadar dan mengetahui, laksanakan meditasi pengenalan batin sendiri untuk Eling terus menerus.....silakan dilihat sendiri...dan baru nanti kemukakan pendapatmu sendiri...

Saya yakin anda pasti tidak mampu menjelaskan kenapa hanya dengan menyadari maka ego teratur sendiri tanpa diatur.
Tapi ini bukan sulap bukan trik, tapi kenyataan. Buktikanlah sendiri dan kurangi berargumen utk hal ini. Kalau menggunakan terminolog 'nafsu', maka bila perhatian yang terus menerus secara pasif (tanpa menanggapI) ke dalam batin itu cukup kuat dan kontinyu, maka 'nafsu' itu lenyap dengan sendirinya, tanpa usaha. Nah, dari situ anda akan bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Antara gerak pribadi, dan gerak yang digerakkan oleh YME.
Ingat, manusia itu mahluk biologis. Anda masih hidup di dunia dengan tugas merawat tubuh biologis anda supaya tidak hanya sehat lahiriah tetapi juga sehat jiwa. Karena fisik berhubungan erat dengan jiwa. Jika anda mendera fisik anda kelewat batas, maka jiwa anda pun lama2 jadi sakit / berubah.
Oleh karena itu, kebutuhan2 biologis manusia : makan-minum, sandang, papan, hiburan dan olahraga, prokreasi (sex), kebutuhan2 sosial dan psikologisnya....semua harus dipenuhi secara BERIMBANG.

Kesalahan orang Indonesia pada umumnya hanya mengartikan kata 'nafsu' itu sebagai seks. Ini double error (kesalahan dobel).

Pertama, sex sebagai kebutuhan (tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis) tetap harus dipenuhi dalam jalur2 kewajaran /kenormalan.

Kedua, nafsu itu bukan semata-mata urusan sex. Masi banyak nafsu2 negatif lain yg harus lebih diprioritaskan untuk diatasi, antara lain : nafsu kemalasan, nafsu ingin disebut suci, nafsu untuk merasa menang-menangan sendiri dan nafsu kebencian.

Tidak mungkin Tuhan itu menciptakan mahluknya dengan sexualitas tapi melarang-larang sex ketika hidup dilahirkan dengan kodrat itu, sementara malah mengiming-iming dengan surga sex ketika sudah lepas dari kodrat ketubuhannya. Kalau anda paham akan prinsip spiritual, maka tidak pernah ada assymetry verticalseperti itu diatas. Karena fractal what is above selalu symettry dengan fractal what is below.

Bahaya dari usaha ego mengatasi ego. Atau nafsu suci mengatasi nafsu2 yang lain , adalah : Memang pada awalnya NAMPAKNYA seolah-olah ego yg mengeraskan diri itu tampak berhasil mengatasi nafsu.. Itu hanyalah trik ego.
Dalam kenyataannya makin lama ego itu menjadi "besar kepala" mampu mengatasi nafsu. Padahal nafsu itu sendiri MASIH TETAP UTUH ada di dalam batin anda. Hanya saja beralih wujud....istilah psikologisnya : kompensasi, substitusi, proyeksi, dsb.Dari situlah akar muasal semua keruwetan batin (manifesjadi keruwetan aturan2/ hukum2) dan segala kemunafikan terjadi!
Karena si ego tetap intact tak berkurang sedikitpun di dalam batin, melainkan hanya berputar-putar di dalam diri beralih wujud satu menjadi yang lain untuk mencari celah-celah jalan keluar melalui hal-hal yang bisa jadi pembenarannya!

Franky Liang, "Manusia adalah makhluk kesadaran yang berlapis-lapis kesadarannya."

1. Kesadaran pertama adalah kesadaran fisik. Kesadarannya baru sampai pada bahwa tubuhnya adalah dirinya. Maka hidupnya habis hanya untuk mengejar kesenangan indriawi. Yaitu sebagai berikut : Yang enak didengar telinga Yang enak dilihat mata Yang enak dirasakan lidah Yang enak dicium hidung Yang enak dirasakan kulit Untuk lepas dari kesadaran fisik ini harus belajar hidup prihatin, puasa, mengurangi kenikmatan fisik.

2. Kesadaran Rasa.
Rasa adalah dirinya. Maka hidupnya mengejar pemenuhan akan kenikmatan rasa. Pada dasarnya adalah egoisme.
Yang terbagi atas :
Rasa tamak
Rasa iri
Rasa marah Dan akumulasinya adalah kebebalan rasa.
Untuk lepas dari jerat rasa, seorang harus belajar : merasa senang melihat orang lain senang.
Hal ini akan menguatkan dirinya hingga lalu aktif menyenangkan orang lain, akhirnya ia bisa mengikhlaskan rasa egoisnya dan berhenti mengharapkan kebaikan sebagai imbalan perbuatan baiknya. Inilah hampanya rasa.

3. Kesadaran Pikir.
Pikiran adalah dirinya. Maka dirinya adalah segala konsep yang dipercayanya dan dibelanya mati-matian. Termasuk konsep Tuhan. Ia menggambarkan Tuhan sesuai akal pikirnya sendiri, sesuai kehendaknya sendiri, jadilah ia menemukan berhala, bukan Tuhan, bila beribadah maka ia menyembah Tuhan sesuai gambaran pikirannya, aneh bukan bila sosok Yang Maha Segalanya, Tak Tergambarkan, Tak Terdefinisikan, Tak Menyerupai CiptaanNya dapat digambarkan dan dibentuk oleh pikiran CiptaanNya? Dibuat dan dibentuk sesuai imajinasi CiptaanNya. Itulah Penyembahan Berhala. Untuk menembus kesadaran pikir yang selalu membela diri sendiri ini, maka seorang harus belajar berendah hati. Sampai tahap tidak ada yang bisa menyakiti dirinya lagi, yaitu ia tidak bisa merasa tersinggung lagi. Akhirnya ia mengikhlaskan pula pikirannya yang sebenarnya hanya terdiri dari benar dan salah versi pribadinya.

4. Tiada.
Sudah tiada lagi bentuk - bentuk konsep disini, seorang sudah sadar bahwa dirinya bukanlah fisiknya, bukanlah rasanya, bukanlah pikirannya yang berisi dualitas. Di tahap inilah seorang akan paham apa itu Yang Tak Terdefinisikan, Tak Tergambarkan, Tak menyerupai apapun. Dalam Islam disebut :
"Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, waman arofa Robbahu faqod jahillah nafsahu".
Siapa yang mengenali dirinya (nafsunya), maka Ia mengenal Tuhannya, dan barang siapa mengenal Tuhannya, Ia merasa bodoh (kosong).

Penjelasannya :

- Nafsu atau egoisme itu terdiri dari egoisme fisik, egoisme rasa, egoisme pikir. Saat ia menemukan bahwa semua itu adalah kosong, Ia menemukan hakekat Tuhan yang sejati dalam kekosongan itu.

- Marifat.
Dalam ajaran Syeh Siti Jenar disebut Jumbuh (bersatu). Atau Manunggaling Kawula Gusti (menyatunya manusia dan Tuhan).
Tentunya bukan secara fisik tapi dalam pemahaman yang sejati akan fananya segala sesuatu ini. Tuhan itu lebih dekat dari urat di leher, hanyalah kita yang tidak pernah sadar karena tertutup oleh egoisme fisik, rasa, dan pikir kita.
Dalam Buddha disebut Anutarra Samyak Samboddhi, mencapai Kebuddhaan, menemukan hakekatnya kosong. Inilah pemahaman yang sudah ditemukan oleh para suci jaman dahulu kala.
Tahap terakhir bagi seorang insan kamil, manusia paripurna, Buddha, tentunya adalah berkarya, menyebarkan pengetahuan akan jati diri manusia ini.
Rahmatan lil alamin. (Berkah bagi alam).
Hamemayu Hayuning Bhawana. (Menambah indah dan kebaikan di dunia ini).
Sabhe satta bhavantu sukhitatta. (Semoga semua makhluk berbahagia).

Lakukan meditasi dgn sadar dan hening ... pada saat "sadar" itu secara otomatis kesadaran naik/bertumbuh (tercipta tangga2) ... tapi begitu ada "keinginan" yang muncul dengan otomatis juga tangga2 kesadaran akan stop naik/bertumbuh ... malah bisa mengurangi pertumbuhannya.
Maka jangan memasukan sesuatu niat atau keinginan dalam meditasi.
Selayaknya kesadaran bertumbuh/meningkat akan menghasilkan pikiran yang jernih (hati yg murni) dan dapat kita gunakan dalam tingkah laku kita sehari2 (mengamalkan).

Lalu apakah yang disebut dengan Post Meditation atau Latihan Setelah Meditasi atau disebut Meditasi / Eling Dalam Kehidupan Sehari-hari?
Inilah contohnya.

Segala sesuatu dilakukan dengan prinsip "Semoga semua mahluk berbahagia". Melakukan segala sesuatu BUKAN untuk diri tetapi untuk mahluk lain. Ini hanya mungkin dilaksanakan bila anda AWARE kepada sekeliling anda adalah hidup dan kehidupan dalam setiap saatnya. Pada akhirnya anda akan mampu menjadi saksi bahwa Sang Hidup hadir dimana-mana.

Cobalah rilex dan berserah penuh sampai pikiran-pikiran menjadi tenang dan lihatlah ke dalam ruangan batin. Di tengah masalah, kegaduhan, tekanan, kegelapan, disitu selalu terdapat secercah sinar Illahi. Ketahuilah bahwa sepercik kejernihan yang gemilang itu adalah jiwa murnimu. Your pure-soul.

Meditasikanlah :

- Pejamkan mata dan sadari seluruh tubuh anda. Lalu perhatian diletakkan pada perut / dada yang naik dan turun pada saat bernafas dengan alami.

- Setelah beberapa saat, tengoklah jiwamu. Dan sadarilah bahwa apa pun diluar, jiwa anda tetaplah murni. Segelap apa pun diluaran, tidaklah akan mampu memadamkan cahaya jiwa-murnimu. Ucapkan dengan penyadaran berkali-kali "My soul is pure....my soul is pure......my soul is pure.."dst.

- Setelah merasakan keteduhan. Visualisasikanlah orang-orang yang mengganggu batinmu, yg menyebabkan munculnya amarah dan benci. Tataplah wajahnya dan matanya, dan ketahuilah bahwa dalam jiwanya pun terdapat
pure-soul itu. Ucapkan dengan penyadaran dalam hati, "Your soul is pure....your soul is pure....your soul is pure..." dst.

- Rasakan dan sadarilah bahwa antara kamu dan dia adalah bersumber dari akar pure-soul yang sama. Seluruh mahluk hidup di dunia ini berakar dari akar yang sama.
"Be still!! --and know-- I AM -- God". Ehyeh Asher Ehyeh.

Salam mangan Beling ! Bendinane eling hehe.
Rahayu !

Jumat, 25 November 2016

PERBEDAAN AGAMA DAN SPIRITUALITAS

PERBEDAAN AGAMA DAN SPIRITUALITAS

oleh : Danz Suchamda
 1. Agama membuat anda menunduk, spiritualitas membebaskan anda.
2. Agama mengenalkan ketakutan, spiritualitas menunjukkan bagaimana anda menjadi berani.
3. Agama menunjukkan anda kebenaran, spiritualitas menunjukkan cara bagaimana anda menemukannya sendiri.
4. Agama memisahkan anda dari agama2 lain, spiritualitas menghubungkan dan menyatukan segalanya.
5. Agama menjadikan anda ketergantungan, spiritualitas menjadikan anda mandiri.
6. Agama menerapkan hukuman, spiritualitas mengajarkan konsekwensi (karma)
7. Agama membuat anda mengikuti jejak orang lain, spiritualitas mengajak anda menempuh jalur anda sendiri.
8. Agama mensyaratkan anda percaya begitu saja telan mentah-mentah, spiritualitas menjelaskan mekanisme dan hubungan-hubungannya.
9. Agama memandang Tuhan ada diluar sana, spiritualitas memandang Tuhan ada dibatin yg terdalam pada semua ciptaan.
10. Agama (khususnya exoteric) melarang pengolahan dalam (inner training), spiritualitas justru mengenalkan anda ada dunia luas di dalam dan mengajak utk mengolah dalam.
11. Agama berbasiskan kitab / buku yang dianalisa dengan suatu teori pengetahuan tertentu (hermeneutika / ilmu tafsir), spiritualitas mengajak anda membaca alam baik luar dan dalam.
12. Agama membatasi apa yang boleh dipercaya, spiritualitas mendobrak batasan2 itu agar anda melihat bahwa segala sesuatu itu beralasan dan memiliki maknanya sendiri2 sebagai suatu kesatuan agung.
13. Agama dan sains tidak dapat disatukan, spiritualitas sejalan dengan sains.
14. Agama disconnect dari realitas, spiritualitas connect ke realitas.
15. Agama mensyaratkan keanggotaan dan ikatan pada suatu institusi / label tertentu, spiritualitas mengarahkan pada pembebasan diri dari identitas apa pun.
16. Agama menggunakan Faith Below Reason, sedangkan Spiritualitas menuju Faith Above Reason.

Kamis, 24 November 2016

MASUKNYA ISLAM KE TURKI (BIZANTIUM)

MASUKNYA ISLAM KE TURKI (BIZANTIUM)
http://www.historyofjihad.org/byzan...

Sementara Persia berhasil dikalahkan, pasukan muslim melanjutkan  perhatian ke musuh lawas Persia; kaum Bizantin Kristen. (634-1453)
Pertempuran Heiromyak (Al Yarmuk)
📷 Pada pertempuran di sungai Yarmuk antara Arab dan Bizantin, Arab kalah  dalam bagian perang pada tahap pertama. Saat kemenangan hampir dekat  bagi pihak Bizantin, Arab berganti taktik dan memanfaatkan kontingen  wanita yang membabi buta menyerang pasukan Bizantin sambil berteriak2  histeris. Karena tidak terbiasa menghadapi musuh wanita, tentara Bizantin bingung, apalagi saat jendral mereka memerintahkan agar pasukan  tidak menyerang wanita dan sebaiknya mengundurkan diri.
Ketika Muslim melihat bahwa taktik ini berhasil, mereka mengirimkan  tentara Arab yang mengenakan pakaian wanita agar menyerang Bizantin.  Salah seorang jendral Arab, Khalid-ibn-Walid, juga berpura2 sebagai  wanita, mendekati dan menyerang sang Jendral Bizantin, Harbis,  mematahkan tulang rusuknya dan membunuhnya. Dengan matinya jendral  mereka, tentara Bizantin kehilangan pemimpin dan perang mulai dimenangkan pihak Arab. Inilah caranya mereka memenangkan perang Yarmuk.
Pertempuran Caesarea, Babylon (kota Bizantin Mesir), dan Alexandria
Taktik lain yang digunakan tentara2 Allah adalah dengan menyuap para  penyapu jalan. Mereka itu memberitahu Muslim dimana letak saluran2 bawah  tanah agar bisa dimasuki di malam hari, membuka gerbang dan menyerang  kota itu. Taktik ini digunakan di Babylon (kota Bizantin Mesir, bukan di  Mesopotamia). Kota dengan tembok2 setinggi 10 meter dengan menara2 tinggi yang sempat bertahan selama lebih dari 8 bulan, akhirnya  diinfiltrasi Muslim secara licik dan berakhir dengan pembantaian setiap  penduduknya, sampai tidak lagi ada yang tersisa.
Taktik pengikut Allah ini juga diterapkan di Caesarea, kota sibuk dengan  lebih dari 300 jalanan sibuk. Kota ini merupakan kota pelabuhan, jadi  serangan tidak bisa dilakukan dari bagian laut yang menghadap kota itu.  Lagi2 pihak Arab menyuap para tukang sapu dan meng-infiltrasi lewat got2 kota itu. Ini menunjukkan bahwa Arab Muslim menghalalkan segala cara,  termasuk merendahkan derajad mereka sedemikian rupa, demi kemenangan  yang dibantu Allah.
Begitu pasukan Muslim menyerang kota Caesarea, mereka tidak hanya  membantai semua tentara, tetapi memenggali kepala mereka, dan untuk  menakut2i kaum wanita, mereka membelah dada tentara, mencabut jantung  dan segala isi tubuh mereka yang kemudian dipertontonkan di jalanan.
Kebiadaban ini begitu membekas di ingatan kaum Bizantin Kristen selama  berabad2. Saat perang salib membalas invasi Muslim pada abad 11 (1096-  1291M), para crusader membalas kekejaman Muslim dengan membakar tubuh  tawanan dan bak kambing guling memakan daging Muslim saat tentara kekurangan suplai makanan.
Bagaimana Bizantin bertahan selama 8 abad sementara Persia jatuh di tangan Muslim dalam 17 tahun
Arab menyerang Konstantinopel dua kali, pada tahun 674 dan 717, namun  kota itu berhasil dipertahankan dengan senjata baru bernama Greek Fire,  Api Yunani. Ini adalah cairan panas yang mengakibatkan luka2 bakar  menyakitkan bagi mereka yang dijadikan sasaran. Ini sama dengan senjata napalm jaman sekarang. Pihak Bizantin menggunakan senjata ini melawan  invasi Arab pada tahun 674-678 dan 717-718. Pihak Arab mencoba keras  untuk mempelajari rahasia Api Yunani itu tetapi tidak berhasil. Karena  senjata ini, lebih dari 300.000 Arab yang menyerang Konstantinopel, dan  hanya 20.000 yang kembali. Yang lainnya tewas akibat Api Yunani.
Bizantin juga berhasil membendung serangan Muslim di Cilicia di Turki Tenggara. Muslim2 Arab akhirnya memutuskan untuk mengambil rute laut dan menyerang pulau Rhodes dan menghancurkan patung raksasa Rhodes (patung  yang didirikan orang Yunani jaman dulu). Masih ingat Taleban  menghancurkan patung Budha Bameyan ? Persis sama kejadiannya !
Tongkat Jihad di-oper ke kaum Turki Seljuk
Jihad Arab kemudian patah semangat ketika pada tahun 732 di Poiters  (Perancis) mereka dikalahkan kaum Franks. Serangan Arab berhenti pada  pertengahan abad ke 8, ketika sesama kalif saling cekcok karena perbedaan shiah-sunni.
Jihad kemudian dimulai lagi pada abad ke 11 dengan diserahkannya tongkat  jihad kepada Turki Seljuk. Mereka menganut kepercayaan animisme dengan  campuran Zoroastrian sebelum di-Islamisasi oleh Persia (yang juga di-Islamisasi) antara thn 651 dan 751.
Ketika orang Persia yang di-Islamisasi itu menyerang Turki, muncullah  nama seorang pendekar bernama Abu Muslim. Ia lahir dari orang tua  Zoroastrian dan ia berpura2 memeluk Islam karena ingin balas dendam terhadap penjajah Muslim di Persia. Selain pura2 sebagai muslim, ia juga  menyerang bangsa non-Muslim Turki dan malah memaksa mereka memeluk  Islam. Langkah berikutnya adalah melakukan kudeta terhadap kalifah  Abbasid di Baghdad. Tetapi ia difitnah oleh teman2 terdekatnya dan sang  kalif memberi perintah agar ia disiksa sampai mati.
Pertempuran Manzikert antara Bizantin dan Turki Seljuk
Pemeluk baru Islam ini mencampurkan keberingasan alami mereka dengan fanatisme Islam. Terbentuklah kombinasi maut. Kalau Arab gagal merebut Konstantinopel dengan mendobrak pagar Cilicia, kaum Turki Seljuk dengan  pelan tapi pasti menggrogoti pinggir2 utara Bizantin di Armenia. Disana  mereka memporakporandakan penduduk Kristen Armenia. Tirani berdarah  Turki terhadap Armenia terulang kembali dalam abad berikutnya dan Turki  tidak henti2nya menikmati pembantaian masal penduduk sipil.
Kawasan Caucasus (atau Kavkaz) ini bertubi2 menjadi garis depan tempat berlangsungnya bentrokan peradaban sejak saat itu sampai sekarang.  Beslan di Russia bagian Ossetia, dimana anak2 sekolah dibantai teroris  Muslim, tidak jauh dari Manzikert, tempat utama bentrokan antara Muslim-Kristen di tahun 1071.
Kaisar Bizantin ketika itu adalah Romanus IV Diogenes. Ia menduduki  tahta tahun 1068. Seperti biasanya, terdapat banyak komplotan kekuasaan  di Bizantin. Ini semakin nampak karena selama 400 tahun dari 640-1068, kaum Bizantin memperkuat angkatan bersenjata mereka dengan menyewa tentara2 bayaran dari kaum Franks, Ostrogoths, Visigoths, Bulgar, Avar  dan masyarakat2 Kristen lainnya ditambah dengan kaum Latin yang selalu  merupakan lobby kuat di Konstantinopel. Tentara2 bayaran ini digunakan  untuk menangani serangan Arab, tetapi dalam masa damai mereka menjadi  lobby2 kuat dalam politik dalam negeri Bizantin. Untuk menjaga keseimbangan politik, beberapa raja daerah bagian Bizantin mengikutkan  dalam kontingen mereka tentara cadangan berupa orang2 Seljuk Turki.  Keputusan ini terbukti membawa celaka kepada Bizantin di Manzikert.
Romanus membagi pasukannya menjadi dua. Ia memimpin yang satu dan yang  lainnya dipimpin oleh Joseph Tarchaniotes, orang keturunan Turki (!!)  yang secara rahasia memeluk Islam, kepercayaan yang dianut kebanyakan  rakyatnya – kaum Seljuk Turki. Tarchaniotes mengkomando kontingen tentara bayaran terbesar, kaum Cuman Turki. Romanus merebut kembali  kota2 yang dijajah kaum Seljuk Turki yang akhirnya berpuncak kepada  Pertempuran Manzikert.
Jendral tentara pihak Islam (pihak Seljuk Turki) adalah Alp Arslan yang  bermarkas di dekat Manzikert. Romanus menunggu jendralnya (Si Joseph  yang Turki dan Muslim itu) untuk menyerang markas Turki milik Alp Arslan  itu. Tapi sang jendral Joseph Bizantin itu membelot ke pihak musuh  bersama dengan pasukannya. Seperti juga pembelotan tentara Persia pada  Pertempuran Qadissiyah antara Sassanid dengan Arab Muslim, ini sekali  lagi membuktikan bahwa tentara Muslim tidak akan setia pada atasan yang non muslim.
Dan kemenangan muslim lagi2 dicapai dgn kecurangan. Saat matahari  terbenam, kedua pasukan menarik diri setelah seharian bertempur. Pihak  Turki membunyikan trompet mereka, menandakan pengakhiran sementara  pertempuran. Namun etika pertempuran ini tidak diperhatikan Turki. Saat  tentara Bizantin mengundurkan diri ke markas mereka untuk beristirahat,  Turki menyerang mereka. Dan sebelum lonceng menandakan pukul 12 malam,  Romanus sudah menjadi tawanan Alp Arslan.
Jendral Turki ini berjanji untuk melepaskan sang raja itu jika ia  mengembalikan kepada Turki tanah2 Bizantin yang direbut Turki. Sang raja  tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menarik tentaranya dari  seluruh kawasan Anatolia sampai Konstantinopel. Ia hanya meminta agar  Alp Arslan berjanji bahwa pihak Seljuk Turki tidak akan mengganggu  penduduk sipil Bizantin. Romanus-pun kembali ke Konstantinopel sambil  yakin bahwa Alp Arslan tidak akan mengancam perbatasan timur kekuasaannya.
Perjanjian antara Alp Arslan dengan Romanus ini menjadikan tanah  Bizantin, Anatolia, sebagai wilayah Turki yang kemudian dikenal sebagai  Turkestan (tanah orang Turki) atau Turki. Karena tidak lagi menghadapi  tantangan akan infiltrasinya kedalam Anatolia yang Kristen, dalam beberapa dekade mereka berhasil merebut kekuasaan Anatolia dari  Bizantin, dan mendekati Konstantinopel dari selat Bosporus. Merekalah  yang sekarang berkuasa atas rute para peziarah Kristen lewat Anatolia ke  Tanah Suci Yerusalem. Dan bisa ditebak, mulai lagi cerita2 teror Turki  terhadap para peziarah Kristen. Berita ini sampai ke raja2 Eropa,  bersama dengan permintaan bantuan para raja Bizantin dan mulailah  perjuangan Kristen merebut kembali Bizantin dan Tanah Suci dari penjajah  Muslim. Inilah asal mula Perang Salib yang dimulai pada tahun 1096 (dan berlanjut sampai 1291). Secara tidak langsung ini merupakan akibat  Pertempuran Manzikert tahun 1071.
Pelajaran dari Pertempuran Manzikert dan jatuhnya Konstantinopel (1453)
http://www.historyofjihad.org/turke...
Bysantium berhasil merebut kembali Antioch, Damascus, Jerusalem,  Bethlehem, Nazareth dari tangan Muslim dan menyerahkannya kepada pemilik  asli, Bizantin. Tapi kemudian di tahun 1184, para Salibis dikalahkan  oleh orang Kurdi dan sekutu Turki bernama Saladin. Tetapi para Salibis  masih bertahan sampai Konstantinopel pada tahun 1291 sampai pertengahan  abad 14 dimana Turki dibawah dinasti Ottoman secara bertahap mendorong mundur Salibi. Serangan Muslin terhadap Bizantin berikutnya terhadap Konstantinopel terjadi tahun 1350 dan kemudian pada tahun 1453, saat  Turki merebut Konstantinopel dan mengakhiri kerajaan Bizantin.
Sejarah: Pembantaian oleh Khalifah TURKI
http://www.debate.org.uk/topics/his...
📷 Memanglah sudah menjadi tujuan bagi muslim untuk membangun kembali  Khalifah yang dihapuskan oleh Kemal Ataturk pada 1924. Dalam konteks  yang modern, ini berkaitan dengan cita2 para tokoh utama Islam untuk  membentuk sebuah kekuasaan hegemoni Islam yang global dan bersatu (Daulah Islamiah). Tentu saja tidak bisa terhindarkan apabila dalam  wilayah yang sangat luas itu akan ada beragam kaum minoritas agama lain.  Muslim selalu ngotot menyatakan bahwa masyarakat non-muslim selalu  diperlakukan dengan adil dan hormat oleh para pemimpin Muslim sejati.  Oleh karena itu tulisan ini akan menyelidiki apakah klaim muslim  tersebut benar demikian berdasar bukti2 sejarah Islam.
Karena di bawah kekuasaan Ottoman (Turki)-lah sebuah negara Islam sampai  mencakup wilayah yang berpenghuni banyak orang non-muslimnya, dan  sesungguhnya juga menjajah wilayah yang sangat besar di Eropa, kita akan  membatasi tulisan ini kepada beberapa kejadian-kejadian penting dalam  sejarahnya, khususnya setelah Khalifah terakhir dipegang oleh bangsa Ottoman Turki. Titik berat studi ini adalah untuk menyelidiki  pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Khalifah Ottoman Turki.  Tujuan kita adalah pembuktian, jika memang hak asasi manusia yang paling  mendasar, yakni hak untuk hidup, dengan seringnya dilanggar oleh Khalifah Turki, maka kaum Muslim yang ingin menghidupkan kembali  Khalifah dan menggembar-gemborkan bahwa non-Muslim itu hidupnya damai  sejahtera diperlakukan manusiawi di bawah kekuasaan Islam, mestinya  mempunyai penjelasan yang lebih baik dari sekedar mengibuli.
1. Timbulnya Ottoman Turki dan Penaklukan Konstantinopolis (Istanbul sekarang)
Kaum Turki Osmanli atau Ottoman muncul sebagai sebuah kekuatan pada abad  14M, menggantikan Emirat Turki Seljuk Konya sebelumnya [1] Mereka  adalah ‘…para Muslim fanatik…Para pemimpin suku mereka disebut sebagai  Ghazi, pejuang pembela aqidah Islam. Menaklukan para kafir adalah bagi  mereka sebuah kewajiban ilahi.’ [2] Sebab itu, ciri-ciri jihad bagi kaum Ottoman adalah sama saja baik offensive/menyerang maupun defensive, dan  sudah menjadi keyakinan mereka bahwa non-Muslim harus ditundukkan oleh  pedang. Pada 1354 mereka pun menduduki Gallipoli, dan lalu meluas ke  seluruh jazirah Balkan, menaklukan bangsa Serbia pada Perang Kosovo  1389, lalu meneruskan penjajahan ke Bulgaria dan Thessalia, 1393. Ini  berarti bahwa ibu kota Kekaisaran Byzantium (atau apalah yang tersisa  daripadanya saat itu), Konstantinopolis, sekarang sudah terkepung.  ‘Tutuplah gerbang-gerbang kotamu’ kata Sultan kepada Kaisar Byzantium  Manuel II (1391-1425), ‘aku toh sudah memiliki semuanya di luar kotamu’  [3]
Saat itu tinggal masalah waktu saja kapan Konstantinopolis akan  diserang, dan di bawah kekuasaan Sultan Mehmet II yang enerjetik dan  kejam, orang2 Ottoman mulai mengepung ibu kota Byzantium pada April 1453  – ini bahkan bertentangan dengan sumpahnya sendiri pada saat naik tahta sultan pada 1451, bahwa sultan bersumpah demi Al-Quran kepada duta  besar Byzantium bahwa dirinya akan menghormati kedaulatan wilayah yang  terakhir ini. [4]
Rupa-rupanya, sebuah sumpah kepada seorang ‘infidel/kafir’ adalah omong  kosong belaka. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa pengepungan  Konstantinopolis merupakan sebuah bentuk jihad yang membela-diri,  malahan, ini jelas adalah tindakan agresi yang sepihak. Mati-matian membela diri, kalah jumlah dan kalah senjata, kota itu akhirnya jatuh  pada hari Senin 28 Mei 1453 (atau sumber resmi lain: Selasa 29 Mei  1453). Harus dicatat di sini bahwa pada 6 April Sultan Mehmet II mengirimkan pesan kepada Kaisar Konstantin XI, tentang sebuah maklumat yang kemudian ditolak oleh Konstantin, ‘menyatakan bahwa, sebagai mana  yang tertulis dalam hukum Islam, setiap warga kota akan dibiarkan hidup  jika kota diserahkan tanpa perlawanan.’ [5]
Implikasi maklumat ini sangat jelas: jika kota melawan, jiwa para  penduduk tentu akan terancam. Dan memang inilah yang terjadi pada saat  kota itu jatuh pada hari Selasa 29 Mei 1453, pasukan-pasukan Muslim membantai, menjarah, dan memperbudak masyarakat Kristiani dalam jumlah  yang sangat besar [6] Kenyataan ini, yang jarang disebutkan oleh para  Muslim pada saat mereka merayakan event kemenangan mereka,  memperlihatkan betapa tertanamnya nilai pembantaian dan penindasan di  dalam Khalifah Ottoman, dan wajar saja beralasan bagi non-Muslim untuk was-was prihatin kapan pun mereka mendengar Muslim bernostalgia  mengenang ‘kejayaan’ masa lalu mereka. Mehmet II lalu memasuki gereja  agung Agia Sofia, kathedral utama kaum Kristen Timur, alih-alih dari  menghormati integritas religinya, dia malah mengislamkanya, mengubahnya secara resmi jadi masjid (sekarang namanya Aya Sofia di Istanbul).  Menjelang abad ke-16, seluruh Balkan sudah dijajah oleh penguasa Muslim.
2. Kebebasan dan Harga Diri Kaum Nasrani di bawah Kekuasaan Turki Ottoman
Gambarannya memang tidak melulu gelap. Bangsa Turki memang mengizinkan  kaum Kristen Orthodox Yunani sebuah hak otonomi internal untuk mengatur  sendiri urusan-urusan sosial dan agama mereka – konsep Millat namanya.  Sultan sering mengangkat seorang Yunani sebagai Grand Vizier (Wasir  Agung), dan panglima dari Angkatan Laut Ottoman seringkali adalah seorang Yunani [7]. Namun bagaimana pun, status kewarganegaraan penuh  hanya diperuntukkan bagi mereka yang memeluk Islam. Sultan seringkali  ikut campur dalam hal pemilihan ketua gereja Orthodox (patriarch), dan  bahkan bisa-bisanya mengatur urusan mereka. Pada waktu-waktu tertentu,  beberapa patriarch malah dieksekusi mati. Tidak ada kebebasan beragama  penuh ataupun persamaan hak.
Salah satu yang praktek2 yang paling meyakinkan untuk mempertanyakan Keagungan Khalifah Ottoman yang ‘katanya’ merupakan Masa Keemasan bagi  kaum minoritas agama lain adalah rekrutmen/caranya merekrut Janissariyah  (pasukan khusus Ottoman), yang dimulai pada abad 14.’ …mereka secara  paksa merampas anak-anak lelaki dari keluarga Kristen yang diperbudakkan  (umumnya dari keluarga orang Yunani, tapi lalu juga dari bangsa2 Armenia, Bulgaria, Albania, dan Serbia), dan membesarkan anak2 ini dalam  sebuah kamp khusus. Mereka lalu melatih anak2 ini menjadi Turki  fanatik, penjagal2 berdarah dingin terhadap keluarga mereka sendiri. Anak2 ini dibesarkan untuk mempercayai bahwa ayah mereka adalah sang  Sultan dan jika mereka sampai tewas di medan perang berarti mereka masuk  surga. Jadi, karena Angkatan Perang baru ini, Janissariah (Yeni-ceri  bahasa Turkinya) orang2 Turki melanjutkan penaklukan2 mereka.’ [8]
Pasukan2 Ottoman lalu menyerang desa-desa Kristen, menculik anak2 kecil,  yang kemudian dibawa ke Konstantinopolis sebagai serdadu-budak, dan  secara paksa di-Islamkan. Mereka ini dilarang berhubungan dengan wanita,  kecuali saat mereka menyerang kota atau desa musuh, itulah saatnya  diperkenankan untuk menjarah dan memperkosa sepuasnya selama tiga hari berturut-turut. Hal ini berlanjut terus sampai 1700, setelah keanggotaan  lambat laun berubah menjadi tradisi turun-temurun, dan akhirnya  berakhir dengan penghapusan Janissariyah, setelah timbul sebuah pemberontakan. Anak-anak orang Nasrani lainnya masih saja diculik untuk  dijadikan budak sebagai pembantu-pembantu istana, kasim, dan gundik  (harem). Praktek-praktek macam inilah yang meninggalkan kenangan pahit  bagi penduduk Balkan dan Armenia tentang masa penjajahan Muslim yang berabad-abad itu.
Praktek/kebiasaan2 ini tentulah akan menjadi budaya di Eropa Barat juga  jika saja pengepungan Ottoman terhadap Vienna tahun 1683 itu sampai  berhasil dengan kemenangan. Lagi-lagi, tidak ada alasan untuk mengatakan  bahwa ini adalah jihad membela diri. Inilah agresi sepihak. Tindakan  Ottoman menyerang Austria mulai membuat orang Eropa sadar akan apa yang akan menimpa mereka jika sampai Khalifah berhasil memperluas wilayahnya  sampai menguasai seluruh Eropah. Anggota2 pasukan Ottoman ‘membakar  habis desa-desa, memperbudak kaum wanita dan anak-anak, dan kaum lelaki  yang trampil. Yang sakit dan yang tua mereka penggal. Mereka membumiratakan gereja2 dan menginjak2 lambang2 salib di tanah.’ [9]
Mereka sibuk ‘membakar, memperkosa, menjagal, memperbudak…’ [10]. Harus diingat bahwa pasukan Muslim ini dipimpin oleh Wasir Agung sendiri, Kara  Mustafa. Sulit untuk dimengerti bagaimana perilaku2 semacam itu bisa  dianggap sesuatu yang membuat orang tertarik kepada Islam.
Diskriminasi terhadap kaum Nasrani terus berlanjut berabad-abad di bawah pemerintahan Khalifah Ottoman. Sebuah contoh akan hal ini ditemukan di  dalam perjanjian damai yang mengakhiri Perang Krimea 1854-56. Perang  dimulai dari pertengkaran antar Rusia dengan Khalifah Ottoman.  Kesepakatan diulangi oleh Perjanjian Paris pada Maret 1856. Biasanya perhatian utama diberikan kepada pasal Inggris dan Prancis yang melarang  kapal perang Rusia di Laut Hitam. Perhatian yang lebih kecil difokuskan  pada Artikel 9 dari Kesepakatan itu, yang mengharuskan Khalifah Ottoman  memperlakukan penduduk dengan adil ‘tanpa membedakan agama atau ras’.  Ini membuktikan bahwa Khalifah Ottoman memang benar2 terlibat dalam  sebuah upaya pen-diskriminasi-an yang sistematik. Alih-alih dari  menghormati kesepakatan damai, Khalifah ini malah mengeluarkan sebuah  maklumat pada tahun yang sama yang mewajibkan kaum non-Muslim untuk  mendapatkan izin dahulu dari sang Khalif sendiri kalau ingin membangun atau memperbaiki tempat2 ibadah. Secara effektif, ini berarti sebuah  kelanjutan dari prinsip2 hukum Syari’ah Islam, dan suatu pelanggaran  dari Kesepakatan Damai Paris.
Tidak hanya kebebasan kaum Nasrani yang dibatasi oleh Khalifah,  harga-diri kaum Kristen ini juga sering kali diinjak-injak. Sampai  menjelang Perang Besar dan pembersihan etnis 1915, orang2 Nasrani Armenia mendandani anak2 perempuan mereka supaya kelihatan seperti anak2 lelaki agar jangan sampai diperkosa atau diculik (atau dua2nya) oleh  Muslim2 Ottoman. Faktanya, setiap bocah berada di bawah bahaya  penculikan. Sebuah contoh yang khas dari kedengkian Muslim Ottoman terhadap orang Kristen diperlihatkan oleh bukti dokumen izin-pemakaman  yang dikeluarkan oleh seorang qadi (penggawa/lurah Muslim) dalam 1855  yang diperuntukkan bagi seorang Nasrani yang wafat: ‘Kami menyatakan ini  kepada pendeta gereja Maryam, bahwa bangkai si Saideh yang najis,  busuk, dan bau, terkutuklah hari ini, sudah boleh dimakamkan.’ [11]  Tidak diragukan lagi, jika sentimen2 yang tertulis sedemikian itu dimaksudkan untuk satu saja jasad Muslim, Muslim akan mengganggap ini  sebagai kebencian dan tidak berprikemanusiaan; jadi tidak sepantasnyalah  mereka kaget jika lalu orang2 Nasrani pun bisa bereaksi sama, dan sulit  untuk meng-iya-kan Khalifah sebagi sebuah rejim-pemerintah idaman.
3. Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah
Menjelang abad 19 kekaisaran Ottoman memudar, dan gerakan2 ke arah kemerdekaan mulai bermunculan di antara bangsa2 Balkan. Masa ini adalah  cikal-bakal nasionalisme modern, dan ada suatu keinginan besar di antara  orang2 Nasrani Balkan untuk membebaskan diri mereka dari para penjajah  Turki (dan dalam hal bangsa Romania, dari penguasa Phanariot Yunani yang  dipakai Ottoman sebagai kaki-tangan mereka). Namun, nasionalisme saja  tidak cukup untuk memotivasi Eropa untuk membebaskan diri dari Turki.  Sebagai Kristen, orang2 Balkan paling tinggi derajatnya hanya sebagi  warga kelas dua – barang rendahan, tidak punya persamaan derajat  beragama. ‘Orang-orang Nasrani, sungguh, dijauhkan dari posisi politik, diwajibkan membayar sebuah pajak khusus [Jizyah] dan pelan-pelan  dimusnahkan/dibasmi secara sistematis.’ [12]
3.1 Perlawanan Yunani
📷 Kekalahan2 Ottoman di tangan bangsa Polandia dan Austria di 1683, dan  dalam beberapa kesempatan selanjutnya oleh orang2 Rusia, dan pendudukan  sementara Morea oleh orang2 Venesia pada masa 1690an sampai 1718  membuktikan bahwa Khalifah itu bukanlah super-jagoan tanpa tanding.  Percobaan2 pertama membebaskan diri oleh bangsa Serbia dipimpin oleh  Kara George pada 1804. Perlawanan berhasil, namun kekuasaan Ottoman  terbentuk kembali pada 1813. Perlawanan lainnya pada 1815 di bawah  Milosch Obrenovitch menjadikan Serbia mendapatkan hak otonomi, dan  bahkan dirinya diberi gelar ‘Pangeran Serbia’ oleh Sultan. [13] Tonggak sejarah utama, yang memulakan runtuhnya Ottoman adalah  perjuangan-kemerdekaan Yunani pada 1821. Sejak zaman kebudayaan klasik  Yunani, komunitas2 Yunani telah mendiami daerah2 sekitar Laut Hitam, termasuk wilayah2 yang dikuasai oleh Rusia pada abad ke-18. Asisten  Militer untuk Tsar Rusia 1821 adalah seorang Yunani, Pangeran Hypsilanti, yang juga adalah pemimpin dari kelompok rahasia nasionalis  Yunani yang disebut Etairia Filiki - ‘Perkumpulan para Sahabat’, yang  didirikan pada 1814 di Odessa, memiliki 20,000 anggota, dan beroperasi  di wilayah2 berpenduduk Yunani di dalam Kekhalifahan Ottoman. [14]
Perlawanan dimulai secara setengah2, ketika Hypsilanti dan sekelompok  orang Yunani melintasi Moldavia pada bulan Maret 1821, dan mendorong  penduduk Orthodox untuk bangkit melawan penjajah Ottoman. Namun, bangsa  Romania, walaupun Orthodox, bukanlah Yunani, dan tidak senang akan keunggulan orang Yunani dalam Kekhalifahan, dan konflik antara orang2 Yunani dan Romanian pun timbul. Jujur saja untuk dituliskan bahwa  Hypsilanti dan pengikutnya pun pernah berperangai sejahat bangsa Ottoman  yakni waktu mereka membantai sebuah komunitas Muslim lokal. [15] Karena  latar belakang inilah, tidak heran jika pada bulan Juni di Skaleni para pejuang dikalahkan oleh kaum Ottoman.
Bagaimanapun, kejadian2 di Moldavia itu akhirnya memicu kebangkitan  besar dari bangsa Yunani di Morea bersumber dari pengaruh Etairia Filiki  . Namun sayang, sekali lagi orang Yunani menodai perjuangan mereka  dengan membantai komunitas 25,000 Muslim dalam waktu enam minggu setelah  pecahnya perlawanan. Kaum Ottoman pun membalas dendam dengan membantai  bangsa Yunani yang ada di Thessalia, Makedonia, dan di pulau-pulau Aegean. Di salah-satu pulau ini, yaitu Chios, Ottoman menghabisi nyawa  27,000 Nasrani, termasuk kaum wanita dan anak-anak. [16]
Hampir seluruh orang Nasrani di pemukiman Yunani di Konstantinopolis tewas dijagal. [17] Pada Hari Paskah 1822, Patriarch Orthodox di  Konstantinopolis digantung oleh Turki Ottoman, dan jenazahnya lalu  dilemparkan ke selat Bosphorus, akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal  Yunani dan dibawa ke Odessa, di mana Patriarch akhirnya dimakamkan di sana sebagai martir. [18]
Pembunuhan Patriarch merupakan sebuah perhitungan yang sangat keliru dan mengundang bencana bagi Khalifah, kemuakan yang besar tersebar di  mana-mana di Eropa, dan Rusia mengancam akan turun tangan. Hal  kemerdekaan Yunani kini menjadi buah-bibir masyarakat Eropa yang prihatin melihat sesama saudaranya Nasrani ditindas, dibantai dan  tawanan2 Kristen Yunani dijual sebagai budak di Mesir. [19] Kesalehan  beragama Raja Charles X dari Prancis membawanya untuk mendukung perjuangan kaum Nasrani Yunani. Pujangga terkenal Inggris, Lord Byron,  sebagaimana banyak orang Eropa lainnya, menjadi sukarelawan berjuang  bersama-sama orang Yunani, dan gugur di sana. Di sisi lain, banyak  Muslim mengikuti panggilan jihad melawan kafir yang dikumandangkan oleh Khilafah pada bulan Maret 1821.
Kemenangan2 militer, terutama angkatan laut Yunani menyebabkan Khalifah  mencari bala bantuan Muhammad Ali, wakilnya di Mesir, supaya turun  tangan dengan armada Mesirnya, dia dijanjikan wilayah2 Morea, Kreta, dan  Lebanon. Putra Muhammad Ali, Ibrahim, mendarat di Pulau Kreta di mana populasi pada waktu itu kurang-lebih sepertiganya Muslim, dan mulai  membantai masyarakat Nasrani yang mayoritas. Seperti itu juga, ketika  pasukan2 Ibrahim mendarat di Morea, ‘mulailah mereka menyapu bersih penduduk Yunani.’ [20] Haruslah dinyatakan di sini bahwa inilah perintah  Khalifah, yang didesak oleh para ulama Muslim, bahwa ‘para pemberontak  harus diperangi secara terbuka dan dihabisi oleh pedang, harta-milik  mereka harus dirampas dan anak-istri mereka harus dihabiskan, dijadikan budak’ [21]. Seperti yang telah kita lihat, baik perbudakan maupun  genocide (pemusnahan massal) sebenarnya memang telah terjadi – ‘seluruh  populasi penduduk Yunani daratan terancam oleh kepunahan massal’ [22].
Pemusnahan massal dan ancaman campur-tangan Russia akhirnya menyebabkan  the Great Powers (Sekutu), yang dipimpin oleh Inggris, turun tangan  dalam pertempuran di Navarino pada 1827, yang mana mereka menghancurkan  armada2 Ottoman dan Mesir, dan memberikan jalan bagi pasukan2 Prancis  untuk menyerbu Morea, sedangkan pasukan2 Rusia maju ke daerah Trachea. Haruslah dinyatakan di sini bahwa sebelumnya ini terjadi, Sekutu (The  Powers) telah menawarkan kepada Ottoman kesepakatan untuk membiarkan  Ottoman Turki tetap berkuasa secara simbolik dan Yunani sebagai daerah  jajahan dengan status otonomi penuh, tetapi sang Khalifah, yang kukuh  dengan prinsip Islamnya akan menundukkan kaum non-Muslim, menolak tawaran tersebut. Kesalah-perhitungan ini akhirnya membawa Sekutu untuk memperjuangkan kemerdekaan penuh Yunani di tahun 1832.
3.2 Pembantaian-pembantaian Khilafah dari 1840-1860
Fakta, bahwa kejadian pembunuhan massal (genocide) yang berulang-ulang  yang akhirnya membawa intervensi Barat dalam urusan2 Ottoman, akhirnya  meruntuhkan pula Negara itu. Pada 1842, Muslim terlibat dalam  pembantaian2 berikut:
Badr Khan Bey, seorang pemimpin (Amir) Kurdi Hakkari, bersama2 dengan  pasukan2 Kurdi lainnya yang dipimpin Nurallah, menyerang orang2 Assyria,  bermaksud untuk membakar, membunuh, menghancurkan, dan, jika mungkin, memunahkan seluruh bangsa Assyria dari daerah2 pegunungan. Kaum Kurdi  yang ganas ini melumatkan dan membakar apa saja yang mereka temui.  Pembantaian tanpa pandang bulu terjadi. Para wanita dibawa ke hadapan  sang Amir dan dibantai dengan darah dingin. Insiden berikut ini menggambarkan betapa buasnya perbuatan mereka: ibunda Mar Shimun,  Patriarch (Bapa Gereja Timur) yang sudah berusia lanjut, ditangkap oleh  mereka, dan lalu setelah melakukan hal-hal biadab yang luar biasa  memuakkan kepadanya, mereka membelah tubuhnya menjadi dua bagian dan  melemparkannya ke sungai Zab, seiring dengan seruan “pergilah dan  bawalah ke putramu yang terkutuk itu pengetahuan bahwa nasib yang sama  sedang menunggunya.” Hampir sepuluh ribu orang Assyria dibunuh, dan  sejumlah yang sama banyaknya dari kaum wanita dan anak2 dibawa sebagai  tawanan, hampir seluruhnya dikirim ke Jezirah untuk dijual sebagai  budak2, untuk dipersembahkan sebagai hadiah2 bagi tokoh-tokoh Muslim yang berpengaruh. (Death of a Nation, pp. 111-112). [23]
Kejadian yang sama berlangsung tahun 1846. [24] Dalam kedua kasus  tersebut tidak pernah sekalipun Pemerintah Ottoman maupun aparat2  keamanannya turun tangan untuk mencegah pembantaian2 atau menghukum para  pelaku pembunuhan, suatu tanda bahwa mereka justru gembira dengan  perbuatan2 tsb, jadi membuat pemerintahan Khalifah sebagai oknum pembantu kriminal pembantaian massal. Pada 1847, pasukan2 Muslim  membantai lagi 30,000 anggota komunitas Nasrani Assyria. Sebagai satu  contoh telak betapa bersekongkolnya Pemerintah dalam pembantaian2 kaum  Nasrani bermula dari individual Muslim terjadi di Lebanon dan Syria pada  1860, yang mana akhirnya hanya bisa dihentikan lewat campur tangan pasukan2 Perancis:
Di Lebanon, dari April sampai Juli, lebih dari 60 desa di Al-Matn dan  Al-Shuf dibumihanguskan oleh kaum Druze dan pasukan2 Kurdi. Menyusul  kemudian kota2 besar. Komandan garnisun Ottoman menawarkan lagi  perlindungan kepada penduduk Maronite (Kristen), seperti yang telah  ditawarkannya kepada desa2 yang lebih kecil, meminta mereka menyerahkan senjata dan lalu menyembelih mereka di penginapan padang pasir lokal.  Begitulah nasib dari Dayr al-Qamar, yang kehilangan 2600 penduduknya;  Jazzin dan sekitarnya, di mana 1500 dibantai; Hasbayya, 1,000 dari 6,000  disembelih secara keji; Rashayya, 800 tewas. Perintah komando bagi  Hasbayya yaitu semua laki-laki di antara 7 sampai 70 tahun harus  disembelih. Mata buas mereka berpesta-pora menyaksikan mayat-mayat muda  dan tua yang mereka sembelih dicabik-cabik di pekarangan istana Shihabi.  Zahla, kota terbesar di antara semuanya dengan 12,000 penduduk,  bertahan sementara waktu sampai akhirnya harus tunduk di bawah serbuan  pasukan termasuk kaum penyerang dari Harwan dan suku2 Beduin dari padang  pasir. Kota itu terletak nyaman di lembah yang curam terbentuk oleh  jalur Bardawni yang mengalir dari Gunung Sannin. Tidak satu rumahpun  lolos dari amukan api. Total hilangnya jiwa dalam masa tiga bulan dan  rentang jarak beberapa kilometer diperkirakan mencapai 12,000. Dari  Lebanon api kebencian menjalar ke Damascus dan menyulut tangki  kedengkian Muslim yang terbentuk oleh kebijakan Ibrahim Pasha dan hukum2  egalitarian Khatti Humayyun. Wilayah pemukiman Assyrian dibakar dan  sekitar 11,000 penghuninya disembelih. [25]
3.3 Pembantaian-pembantaian Balkan 1870an
📷 Di Bosnia-Herzegovina, para petani di pedesaan Kristen masih tinggal di  bawah sistem penghambaan, dan dibebankan atas mereka pajak2 yang berat  oleh Khalifah, yang tidak berlaku untuk para Muslim. Penduduk Balkan  menderita oleh panen gagal tahun 1874, kelaparan menimpa mereka, namun  Turki Ottoman, jauh dari itikad menolong mereka, masih saja menuntut  pajak2 – sekali lagi, ini dipengaruhi oleh Syari’ah Islam. [26] Himpitan-tekanan bathin ini akhirnya meledak pada 1875, orang Kristen  Bosnia-Herzegovina memberontak terhadap Khilafah. Perlawanan menyebar  sampai ke Serbia dan Montenegro, yang telah berstatus otonomi sejak 1829  meskipun masih bersujud kepada Ottoman. Segera saja perjuangan menyebar  juga ke Bulgaria, yang belum diberikan hak pemerintahan sendiri di  bawah Khilafah, karena adanya komunitas2 besar Turki dan Muslim di sana dan jaraknya yang dekat ke ibukota Istanbul.
 Sultan yang baru naik tahta, Abdul Hamid II (dikenal dalam sejarah  sebagai “Red Sultan”) tidak berkompromi sedikitpun dengan para pemberontak.’ [27] Kebijakan Khalifah adalah pemusnahan massal  (genocidal): ‘seluruh desa diluluhlantakkan, penduduknya disembelih.  Penghuni penjara2 Bulgaria ditembak mati setelah lebih dulu disiksa  dengan sangat biadab.’ [28] Antara April sampai Agustus 1876 ribuan  warga Nasrani Bulgaria secara mengerikan dibantai oleh pasukan2 Khalifah  – dalam satu bulan Mei saja 12,000 laki2, perempuan, dan anak2  disembelih dengan brutal. [29] Sekutu mencoba membujuk Khilafah dengan  menawarkan perjanjian Andrassy (berdasarkan nama seorang menteri  Hungaria), menawarkan proposal untuk mereformasi kebijakan2 Ottoman,  yang mana secara pura-pura diterima oleh Sultan. Kaum Nasrani Balkan,bagaimanapun, sudah kenyang dengan pahitnya pengalaman, tidak  percaya lagi dengan janji-janji Turki Ottoman yang tidak didukung oleh  jaminan penuh dari Barat.
Sekutu, dengan pengecualian Inggris, saat itu mengirimkan Memorandum  Berlin kepada Kalifah Ottoman, dengan ancaman akan turun tangan membantu  perlawanan Balkan apabila tawaran reformasi tidak juga dilaksanakan  dalam dua bulan. Namun, tanpa hadirnya Inggris, Ottoman merasa di atas  angin untuk menghiraukan saja tawaran tersebut. Russia bersiap-siap  untuk menyerbu Khalifah Ottoman, tetapi ini dicegah oleh sebuah  konferensi international di Konstantinopolis di mana Abdul Hamid II  menyetujui reformasi konstitusional, yang diajukan oleh menterinya,  Midhat Pasha, yang berpandangan liberal, yang mana dimasukkan juga di  situ perlakuan2 yang lebih manusiawi bagi orang2 Kristen/Nasrani. Namun  juga, segera saja setelah konferensi dibubarkan, Midhat Pasha dicopot  dan dibunuh beberapa waktu kemudian. Undang2 yang baru itu segera juga  dicabut kembali, bersama dengan jaminan2 perlindungan bagi umat  Kristiani. [30] Ini menunjukkan bahwa penganiayaan atas umat Kristiani  memang akan terus-menerus terjadi selama masih ada Khalifah di bumi ini.
Akhirnya, kelicikan dan pengkhianatan janji Ottoman menghasilkan  penyerbuan Russia-Romania, dan puncaknya Inggris campur-tangan, membawa  hasil akhir Perjanjian Berlin 1878 yang mengakui kemerdekaan total dari  Serbia, Romania, dan Montenegro, sedangkan Austria mengambil-alih Bosnia dan daerah Sandjak dari Novibazar. Bulgaria mendapatkan hak  pemerintahan sendiri, dengan Rumelia timur, yang berbatasan dengan  Thrakia timur, selalu harus diperintah oleh seorang Gubernur yang Kristen. [31] Perang telah membuat Khalifah kehilangan banyak sekali  wilayah di Eropa, inilah masa untuk bersuka bagi para umat Kristiani  Balkan. Namun demikian haruslah diakui juga, bahwa di negara2 Balkan  yang baru saja merdeka setelah 1878 itu terdapat rasa benci dan  perlakuan kejam terhadap kaum penduduk Muslim mereka, sama seperti yang  dilakukan Khalifah terhadap umat Kristiani, dan sebagai hasilnya, banyak umat Muslim setelah sering menerima penganiayaan, hijrah ke Kesultanan Ottoman.
Kerugian yang lebih besar lagi bagi Khalifah Ottoman ialah hilangnya  dukungan Inggris. Khabar2 mengenai pembantaian2 orang Bulgaria disambut  dengan kemurkaan massa. Perdama Menteri, Disraeli, karena kuatir akan  rencana2 expansi Russia, membantah berita2 pembantaian itu sebagai propaganda semata – ‘gossip warung kopi’ katanya. Namun pemimpin  oposisi, Gladstone, menuliskan sebuah pamflet yang terkenal dengan judul  The Bulgarian Horrors and the Question of the East , yang sangat laku  terjual. Untuk sementara waktu, Khalifah Ottoman dianggap sebagai sumber kejijikan seperti orang memperlakukan Nazi Jerman sekarang. Situasi ini  masih saja diperparah oleh tindakan2 Sultan-Khalifah Abdul Hamid yang  melanggar janji2nya sendiri tentang perlakuan manusiawi untuk umat  Kristiani yang dia tandatangani di Kongres Berlin. [32]
3.4 Pembantaian-pembantaian tahun1890an
📷 Di sisi lain, Turki Ottoman terus saja membantai seluruh komunitas  Kristiani, kejadian yang paling menonjol adalah pembantaian antara  1894-96 di mana ribuan umat Kristiani Armenia dan Assyria – lebih dari  300,000 – dibantai secara brutal dimulai gara-gara keinginan Sang Sultan  Merah Abdul Hamid II. Jerman telah memberinya angin untuk melawan  setiap reaksi Eropa, dan ternyata dia betul. Enam ribu umat Kristiani  Armenia dibunuh hanya Konstantinopolis saja. [33] Di Inggris, Gladstone  berhenti dari istirahat untuk menuntuk tindakan melawan Ottoman, dan Pemerintah Inggris memang berusaha membujuk Sekutu untuk melakukan  sesuatu, namun tidak ada tindakan nyata. [34] Menghadapi partisan2  nasionalis di Makedonia, provinsi Eropa terakhir yang masih di bawah  kontrol penuh Ottoman, pasukan2 Turki membablas tanpa rintangan.  Diperhadapkan dengan perlawanan di Pulau Kreta pada 1897, pemerintah  Turki bukan saja menekan pemberontakan tapi juga maju berperang melawan  Yunani, mengalahkan musuh lama itu, hanya kemudian Sekutu turun tangan dan menuntut pengangkatan Gubernur yang Kristiani untuk pulau tersebut.
3.5 Pembantaian massal 1915 (yang terkenal dan ditutup-tutupi sampai sekarang)
Pada 24 April 1915 pemerintah Ottoman memerintahkan pengusiran  (deportasi) seluruh penduduk Kristiani Armenia dan Assyria di Asia Minor  Timur ke Syria dan Iraq, yang masa itu masih menjadi bagian Kekhalifahan Ottoman, dan membantai banyak jumlah dari mereka.  Pembantaian berlanjut sepanjang tahun. Menjelang 1915, 1,500,000 orang  Armenia dan 250,000 Assyria telah hilang nyawanya. Banyak kaum wanita  diperkosa dan anak2 diculik dan dijadikan budak untuk lalu dibesarkan sebagai Muslim. Banyak umat Kristiani – terlebih kaum perempuan –  disalib (gambar2 fotografi masih ada sampai sekarang).
Sekitar 200,000 orang Armenia lolos dari pembantaian/pembersihan etnis  dengan cara masuk memeluk Islam. Seluruh desa masuk Islam demi  menghindari pembantaian. Gereja2 dihancurkan atau dikotori dengan cara  diubah menjadi lumbung2 tani. Upaya-upaya serius dilakukan untuk  menghancurkan setiap jengkal jejak-jejak warisan budaya Kekristenan di  wilayah2 bersangkutan. ‘Dalih’ Ottoman untuk membenarkan perbuatan  mereka adalah bahwa orang2 Armenia adalah pilar kelima dan bahwa ada orang2 Armenia yang menjadi tentara Russia. Mereka tidak peduli  kenyataan bahwa orang2 Armenia Rusia itu tidak punya banyak pilihan,  bahwa ada orang2 Muslim Turki juga yang menjadi tentara Russia, dan  bahwa orang Assyrian ada sangat sedikit kalaupun ada yang bergabung dengan tentara Russia. Pada 1914 orang2 Armenia Ottoman menyatakan  kesetiaan mereka kepada negara, meski ada pembelotan2 yang terisolasi  dan sebuah perlawanan kecil di Cilicia. Ottoman secara salah menuduh  bahwa ada pemberontakan di Van, dan bahwa ada pembunuhan dalam konteks  perang saudara. Pernyataan ini jelas salah, karena 250,000 orang Armenia tergabung di dalam angkatan perang Ottoman. Bahkan, prajurit2 Armenia menyelamatkan seorang pemimpin Ottoman, Enver Pasha, yang hampir  ditangkap tentara Russia ketika kalah berperang. [35]
Hampir semua pembantaian dilakukan oleh polisi biasa, meskipun ada  sebuah ‘Organisasi Khusus’ yang dibentuk, terdiri atas penjahat2 yang  dibebaskan dengan syarat mereka harus membunuhi orang2 Armenia. [36]  Lebih lanjut, bahkan kaum Armenia Rusia pun dibantai ketika Ottoman menyerbu 1918 – 15,000 bangsa Armenia dibunuh di Baku. Pengungsi2  Armenia dibuat sebagai objek latihan bayonet. [37] Harus dicatat juga  dengan jujur juga bahwa banyak desa2 Arab di Syria yang menolong para  pengungsi Armenia, dan beberapa pejabat ulama Muslim melakukan protes mengenai kebijakan2 ini. [38] Turki sampai sekarang masih membantah  kenyataan sejarah mengenai genocide mereka. Hitler melihat ini seolah  sebagai alasan untuk membenarkan perbuatannya, bahwa dunia toh tidak  mempedulikan pembantaian umat Armenia oleh bangsa Ottoman, jadi dunia juga akan membiarkan saja dirinya membinasakan kaum apa saja yang dia  mau binasakan.
KESIMPULAN
Pembantaian2 kaum Muslim yang dilakukan oleh bangsa Yunani tahun 1821  yang lalu dilakukan juga oleh bangsa2 Balkan lainnya saat mereka  mendapatkan kemerdekaan tidak dapat dibenarkan, seperti halnya juga yang  dilakukan oleh umat Muslim terhadap umat Kristiani. Namun, di sini ada  sebuah hal yang membedakan antara kejahatan yang dilakukan oleh bangsa  Yunani dan Balkan pada abad ke-19 dengan kejahatan yang dilakukan oleh  Khalifah. Pembantaian2 yang dilakukan oleh orang Yunani menodai  nasionalisme Yunani, daripada sekedar agama mereka; kejahatan2 itu  dilakukan atas nama nasionalisme mereka, bukan dari agama-nya. Lebih  jauh lagi, orang2 Yunani saat itu bukanlah mewakili sebuah pemerintahan,  melainkan hanya sekelompok pejuang pemberontak (tentu saja, ini tidak  berlaku bagi pembantaian2 yang terjadi kemudian setelah provinsi2 Balkan  menjadi negara2 merdeka). Pembantaian2 yang dilakukan Khalifah di sisi  lain, memiliki ciri-ciri yang berbeda. Bahkan orang2 Yunani tidak pernah  meng-klaim suatu inspirasi ilahi dari nasionalisme Yunani mereka, dan  sedikit saja sekarang yang kira2 masih akan membenarkan pembantaian2  itu. Muslim, sebaliknya, yakin seyakin2nya bahwa Khalifah itu ada atas  ridho Allah dan bahwa jihad itu memang sesuatu yang terinspirasi secara  ilahi. Pembantaian2 mereka dilakukan atas nama Khalifah dan jihad.
References
 1. Smith, Michael Llewellyn, The Fall of Constantinople, in History  Makers magazine No. 5, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick &  Jackson, 1969) p. 189.
2. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
3. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
4. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
5. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
6. Smith, The Fall of Constantinople, p. 192.
7. Stokes, Gwenneth and John, Europe 1850-1959, (Longman, London, 1966 & 1969), p. 129.
8. http://imia.cc.duth.gr/turkey/chro.... 1999.
9. Earle, Peter, Vienna 1683, in History Makers magazine No. 6, (London,  Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 261.
10. Earle, Vienna 1683, p. 261.
11. Stokes, Europe 1850-1959, p. 143.
12. Fisher, H. A. L., A History of Europe, (Edward Arnold, London, 1936 & 1965), p. 726.
13. Peacock, H. L., A History of Modern Europe, (Heinemann, London, 1971), p. 216.
14. Peacock, A History of Modern Europe, p. 218.
15. Peacock, A History of Modern Europe, pp. 218-219.
16. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
17. Fisher, A History of Europe, p. 882.
18. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
19. Fisher, A History of Europe, p. 881.
20. Peacock, A History of Modern Europe, p. 220.
21. Ye’or, Bat, The Decline of Eastern Christianity under Islam, (Associated University Presses, USA, 1996), p. 191.
22. Fisher, A History of Europe, p. 881.
23. http://aina.org/martyr.htm 1999
24. "In Asheetha, Zinger Beg with a force of 400 Kurds practiced the  most barbarous cruelties upon the villagers of Tyari. The Assyrians bore  his tyranny patiently for some time, but finally decided to put an end to it and decided to attack the garrison. They slew twenty of their  numbers and besieged the remainder for the space of six days. On promising that they would immediately surrender and evacuate the  fortress they were supplied with water by the Assyrians, when suddenly  defying their besiegers a fresh conflict succeeded. In the midst of these renewed hostilities a company of 200 cavalry arrived from Badr  Khan Beg, and turned the fortunes of the day. The Assyrians, taken by  surprise, were completely routed, no quarter was given, and men, women,  and children fell in one common massacre. The village was set on fire,  and three bags of ears were cut off from the wounded, the dying, and the  dead. And sent as trophy to Badr Khan Beg. All the chiefs of Tyari were  killed in the massacre, besides thirty priests, and sixty deacons, Mar Shimoons’s brother Kasha Sadok, and his nephew Jesse, and many of his  relatives. In the month of October 1846, a united force of Badr Khan Beg  and Noorallah Beg entered the Tkhooma district, and committed ravages  too horrible to be related. During the invasion 300 hundred women and as many children were brutally put to the sword in one indiscriminate  slaughter; only two girls who were left for dead on the field escaped to  relate the sad tale of this horrible tragedy.
The Kurds then attacked the men, who had taken up a most disadvantageous  position in a valley, where they were soon surrounded by their enemies,  and after fighting bravely for two hours gave up the contest. Numbers were killed in attempting to escape, and as many as one hundred  prisoners, mostly women and children, were afterwards taken from the  houses, which were then fired by the Kurds, as were the trees and other cultivation in the neighborhood. These unfortunate victims were then  brought before Noorallah Beg and the lieutenant governor of Jezeerah, as  they sat near one of the churches, and heard their doom pronounced by  those blood-thirsty barbarians: Make an end of them’, said they. A few  of the girls, remarkable for their beauty, were spared, the rest were immediately seized and put to death" (Nestorians and Their Rituals, pp. 370) http://aina.org/martyr.htm 1999
25. http://aina.org/martyr.htm 1999
26. Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
27. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 232.
28. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 195.
29. Fisher, A History of Europe, p. 1040; Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
30. Stokes, Europe 1850-1959, p. 206.
31. Stokes, Europe 1850-1959, pp. 209-210.
32. Stokes, Europe 1850-1959, p. 211.
33. Peacock, The Making of Modern Europe, (4th edition, Heinemann, London, 1971), pp. 267-268.
34. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 268
35. Lang, D. M., and Walker, C.J., The Armenians, (Minority Rights Group, London, 1987), p. 7.
36. Lang, and Walker, The Armenians, p. 8.
37. Lang,, and Walker, The Armenians, p. 8.
38. Lang,, and Walker, The Armenians, pp.7-8.
Gambar2 diambil dari sumber: http://www.armeniapedia.org/
http://www.armeniapedia.org/images/...
BLACK TUESDAY: 29 Mei 1453
http://www.indonesia.faithfreedom.org/...
GENOCIDE BANGSA YUNANI (The Hellenic Genocide)
http://www.greece.org/genocide/quot...
Kutipan dari dokumen dan foto2 sejarah.
Pembantaian Masal Bangsa Yunani adalah penyiksaan, pembantaian dan  ethnic cleansing secara sistimatis terhdp JUTAAN orang Yunani oleh Turki  di Turki di Asia Minor, Konstantinopel (yg disebut Istanbul oleh orang  Turki), Thrace Timur, Imvros, Tenedos, Macedonia, Cappadocia dan Pontos antara th 1890-an sampai akhir 1950-an.
JUTAAN ANAK2, lelaki dan wanita diusir dari rumah mereka hanya karena  mereka bangsa Yunani. Pada saat bersamaan, juga berlangsung pembantaian  terhdp jutaan orang Armenia dan Assyria dari segala umur. Dosa mereka ?  Karena mereka tinggal di daerah tempat peninggalan nenek moyang mereka  selama ribuan tahun sebelum invasi oleh Turki. Dgn kekejaman yg tidak terbayangkan, mereka melaksanakan rencana mereka yg dinamakan "Turki  bagi bangsa Turki."
Kebijakan eksterminasi bangsa Yunani ini dilakukan terhdp penduduk pulau  Chios, thn 1822, persis 100 tahun sebelum tentara Turki menghancurkan  kota Bizantin, Smyrna. Genocide yg paling dikenal, Holocaust yg dilakukan Nazi Jerman (dgn dukungan Turki), tidak mungkin terjadi kalau  Genocide oleh Turki (dgn bantuan Nazi) with support of Germany) sudah  diakui. Kami tidak dapat mengerti sepenuhnya alasan dibelakang Holocaust  tanpa sebelumnya mengerti Genocide2 yg terjadi sebelumnya.
http://www.greece.org/genocide/quot...

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...