Arif Rh
Bisa kebayang gak, kalau di perempatan, lampu traffic
light-nya, nyala ijonya bersamaan di ke empat jalur? ...
Bisa berantakan dan mengakibatkan kecelakaan ... Jadi
kudu antri khan? ... Kalau ada yang giliran ijo ... Yang
lain kudu merah ... Dan seterusnya ...
Sama halnya dengan harapan dan do'a ... Kalau harapan
dan do'a kita semua, dikabulkan bersamaan, bisa jadi
malah rusak kehidupan ini ... Anda maunya A+ ... Si X
maunya A- ... Hal yang dimaui, obyeknya sama (yaitu
A), waktunya juga sama ... Bisa kebayang kalau
dikabulkan semua ... Bubrah ...
Saat kita egois, kita tidak perduli perihal keseimbangan
kehidupan ini ... Saat kesadaran kita sudah tinggi ...
Penglihatan batin kita meluas ... Dan menyadari bahwa,
kadang, pengabulan harapan dan do'a pun, ada
semacam antrian ... Ada semacam lampu traffic light,
yang tidak boleh nyala hijau bersamaan ...
Orang yang sadar dan bijaksana, dalam berlalu lintas ...
Saat dia di perempatan "dapat" lampu merah ... Dia
tidak merasa tujuannya dihambat dan tidak merasa
diperlambat ... Dia menyadari, bahwa dia sedang
memberikan kesempatan pada orang lain, untuk menuju
tujuannya lebih dahulu, dengan lancar dan selamat ...
Dia tidak iri dan dengki melihat orang lain lampunya
nyala ijo lebih dahulu ...
Demikian pula ... Orang yang sadar dan bijaksana dalam
menjalani kehidupan ... Saat harapan dan do'anya tidak,
atau belom dikabulkan ... Belum juga jadi nyata ... Dia
sadar, bahwa dia sedang dilibatkan oleh-NYA, dalam
mekanisme proses pengabulan do'a dan harapan orang
lain ...
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Jumat, 20 Mei 2016
.:: SANG MAHA PERENCANA ::.
ARIF RH,
Tidak disangka, meskipun kemaren adalah hari rabu,
jalur menuju puncak Bogor macet, sehingga diterapkan
sistem buka tutup ... Padahal bukan weekend ya? ...
Why? ... Oh, kami baru "ngeh", ini adalah zona waktu
usai ujian sekolah ... Jadi banyak orang piknik ...
Akibatnya, antrian kendaraan "mengular" ... Tim
penjemput saya menuju lokasi acara kementrian
keuangan, mengubah rencananya, yang tadinya melewati
jalur A, B, C, menjadi lewat "jalan tikus" ... Karena
keputusan itu, saya tidak terlambat sampai di lokasi ...
Seandainya mereka tetep "keras kepala" pada rencana
mereka, kami malah stuck dalam kemacetan ...
Banyak di antara kita, dalam hidup ini, punya rencana
... Dan, salah satu hal paling tidak meng-enakkan bagi
setiap penyusun rencana adalah, ketika alurnya berbelok
dari rencananya ... Gimana ini? ... Mengapa tidak
sesuai rencana? ... Berbagai prasangka pun bermunculan
... Karena, berbelok dari rencana, artinya adalah
segudang ketidakpastian ...
Dzat yang Mengatur Kehidupan ini, adalah Maha
Perencana ... Tapi, banyak orang yang lupa, bahwa
Sang Maha Pengatur Kehidupan ini, adalah juga dzat
yang "Maha Fleksible" ... Saat membuat rencana, kita
kadang tidak tahu, bila di depan sana, di jarak yang
tidak kita ketahui, ada titik-titik kemacetan ... Sang
Pengatur Kehidupan pun, membelokkan kita, dikeluarkan
secara paksa dari jalur rencana, dan dimasukkan ke
jalur alternatif ...
Dan tahu sendiri lah ... Yang namanya jalur alternatif,
umumnya jalannya sempit, jelek, berlobang sana sini,
bahkan tidak beraspal ... Boro-boro nyaman ... Lha
wong "pating gronjal", gimana bisa nyaman? ... Tapi,
dengan melalui jalur "tidak enak itu", justru kita sampai
lebih cepat di tujuan ... Serta terbebaskan, dari situasi
kemacetan, yang menguras tenaga dan batas kesabaran
...
Apakah ada di antara anda, yang sedang mengalami,
segala sesuatu seolah meleset dari rencana anda? ...
Dimana dalam "peta rencana", semuanya terlihat mulus,
lancar ... Dan realitanya, anda dipaksa masuk ke "jalur
alternatif" yang perjalanannya sangat tidak enak? ...
Berprasangkalah baik kepada-NYA ... Karena, siapa
tahu, semua kejadian itu, adalah dalam rangka agar
anda, sampai tujuan lebih cepat, dihindarkan dari
kemacetan yang memperlambat perjalanan anda ...
Janganlah terlalu kaku dalam hidup, karena beberapa
benda yang terlalu kaku, justru mudah dipatahkan,
mudah dihancurkan ... JADILAH LENTUR ... BE
FLEXIBLE ...
Tidak disangka, meskipun kemaren adalah hari rabu,
jalur menuju puncak Bogor macet, sehingga diterapkan
sistem buka tutup ... Padahal bukan weekend ya? ...
Why? ... Oh, kami baru "ngeh", ini adalah zona waktu
usai ujian sekolah ... Jadi banyak orang piknik ...
Akibatnya, antrian kendaraan "mengular" ... Tim
penjemput saya menuju lokasi acara kementrian
keuangan, mengubah rencananya, yang tadinya melewati
jalur A, B, C, menjadi lewat "jalan tikus" ... Karena
keputusan itu, saya tidak terlambat sampai di lokasi ...
Seandainya mereka tetep "keras kepala" pada rencana
mereka, kami malah stuck dalam kemacetan ...
Banyak di antara kita, dalam hidup ini, punya rencana
... Dan, salah satu hal paling tidak meng-enakkan bagi
setiap penyusun rencana adalah, ketika alurnya berbelok
dari rencananya ... Gimana ini? ... Mengapa tidak
sesuai rencana? ... Berbagai prasangka pun bermunculan
... Karena, berbelok dari rencana, artinya adalah
segudang ketidakpastian ...
Dzat yang Mengatur Kehidupan ini, adalah Maha
Perencana ... Tapi, banyak orang yang lupa, bahwa
Sang Maha Pengatur Kehidupan ini, adalah juga dzat
yang "Maha Fleksible" ... Saat membuat rencana, kita
kadang tidak tahu, bila di depan sana, di jarak yang
tidak kita ketahui, ada titik-titik kemacetan ... Sang
Pengatur Kehidupan pun, membelokkan kita, dikeluarkan
secara paksa dari jalur rencana, dan dimasukkan ke
jalur alternatif ...
Dan tahu sendiri lah ... Yang namanya jalur alternatif,
umumnya jalannya sempit, jelek, berlobang sana sini,
bahkan tidak beraspal ... Boro-boro nyaman ... Lha
wong "pating gronjal", gimana bisa nyaman? ... Tapi,
dengan melalui jalur "tidak enak itu", justru kita sampai
lebih cepat di tujuan ... Serta terbebaskan, dari situasi
kemacetan, yang menguras tenaga dan batas kesabaran
...
Apakah ada di antara anda, yang sedang mengalami,
segala sesuatu seolah meleset dari rencana anda? ...
Dimana dalam "peta rencana", semuanya terlihat mulus,
lancar ... Dan realitanya, anda dipaksa masuk ke "jalur
alternatif" yang perjalanannya sangat tidak enak? ...
Berprasangkalah baik kepada-NYA ... Karena, siapa
tahu, semua kejadian itu, adalah dalam rangka agar
anda, sampai tujuan lebih cepat, dihindarkan dari
kemacetan yang memperlambat perjalanan anda ...
Janganlah terlalu kaku dalam hidup, karena beberapa
benda yang terlalu kaku, justru mudah dipatahkan,
mudah dihancurkan ... JADILAH LENTUR ... BE
FLEXIBLE ...
Kamis, 19 Mei 2016
.:: SAKIT ADALAH GURU BESAR ::.
SAKIT ADALAH GURU BESAR
Rigpa dari beberapa hari lalu sampai kemarin suhu
tubuhnya tinggi, sebagian besar manusia memberi judul
'sakit'. ribuan tawa dan senyum yang ditebarkan setiap
hari olehnya, telah terganti dengan tangisan tak henti
sepanjang hari.
Belum bisanya menangkap arti tangisan Rigpa membuat
kecemasan membajak wilayah yg luas dalam hati yang
mendengarnya.
Ketika saya menjelaskan kondisi Rigpa pada setiap orang
yang bertanya, hampir semua balik bertanya "Sudah
dibawa ke Dokter?"
"kami memilih untuk memberikan ruang agar tubuhnya
membangun sistem imunitas serta menyembukan dirinya
sendiri" jawab saya.
beberapa orang kembali bertanya " bagaimana bisa
sembuh kalau tidak diobati?"
saya dan istri hanya bisa tersenyum.
hari ini krisis kepercayaan terbesar manusia bukan pada
lembaga-lembaga eksekutif, yudikatif atau legislatif
melainkan pada tubuhnya sendiri.
kita telah menelan begitu banyak pengetahuan sampai
sampai pengetahuan itu menjadi autoimun. kita seolah-
olah kembali mempercayai bahwa bumi itu datar.
Suhu meninggi adalah reaksi alami karena tubuh ingin
mengaktifkan enzim serta mematikan bakteri, jamur atau
virus yang telah menyebar.
beberapa hari Rigpa tidak mau makan, ia hanya ingin
menelan air dan air, sesekali ASI, dan kami
menghormatinya sekaligus belajar dari kebijaksanaan
pikiran yang belum tercemar ini.
Tubuh yang panas membuat lidah tidak nyaman memakan
sesuatu, dan itulah kebijaksanaan tubuh yang ingin
berpuasa namun sering kita abaikan.
Lagi-lagi virus pengetahuan 'makanan dan kesehatan'
dari produsen makanan memang telah berkembang biak
dipikiran kita dibanding 'puasa dan kesehatan"
Perlu dan sangat mendesak bagi kita umat manusia
untuk hidup lebih rileks, mengurangi kebisingan pikiran
dengan jutaan keinginan dan mulai mendengarkan tubuh.
selayaknya kita menyadari bahwa tubuh yang nano
ukurannya bila dibandingkan alam semesta ini adalah
salah satu mahakarya dari pencipta.
untuk itu sudah saatnya kita lebih mempercayai
ciptaanNya dibanding dengan komposisi kimia yang
diciptakan massal dengan tambahan ego didalamnya.
sama sekali tidak anti, bahkan saya memuliakan profesi
dokter, serta semua teknologi kesehatan yang telah
membantu miliyardan orang.
Dokter berasal dari bahasa latin docere yang berarti
yang mengabarkan, yang memberitakan. Memberitakan
bahwa peran besar kesembuhan bukan terletak pada hal
luar namun apa yang ada di dalam.
persis seperti kata sang penemu Thomas Alva Edison
“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun
akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka
bimbingan kemanusiaan.."
hari ini adalah masa depan bagi Edison, sudah banyak
yang mengabarkan ,sudah banyak pula yang membimbing
manusia pada kemampuan diri sejatinya.
Sekarang sikap apa yang akan kita ambil sewaktu
keadaan tidak seimbang sedang menerpa diri ini, karena
sikap seseorang dalam menghadapi tubuhnya yang sedang
menyembuhkan dirinya sangatlah penting, seperti yang
dikatakan oleh bapak kedoketran modern Hippocrates
"Saya lebih suka mengetahui orang macam apa yang
mengidap penyakit daripada mengetahui jenis
penyakitnya."
jika selama ini dalam mengadapi "sakit" kita memberi
label dan konotasi negatif pada sakit, seperti Tuhan
yang sedang menghukum saya, atau menyalahkan cuaca,
virus dan sebab lainnya, alangkah baiknya kita
merangkul rasa tersebut, menjadikan Guru serta
mengambil pelajarannya.
Ada banyak karunia berlimpah disaat tubuh atau orang
disekitar kita menjalani proses yang dinamakan 'sakit'
tersebut.
sayang sekali bila kecemasan, ketakutan dibiarkan
mengisi tempat yang bisa diisi oleh banyak pelajaran
mencerahkan.
Sakit adalah guru besar yang mengajarkan kita untuk
menerima. Tatkala kita menyadari dan menerima keadaan
yang sedang dan akan terjadi, langkah hidup menjadi
ringan.
Ada baiknya kita melihat sakit sebagai sahabat,
merangkulnya seperti memeluk saudara kembarnya yang
bernama sehat. Di saat kita mampu memeluk keduanya,
disaat itulah kesadaran sejati memeluk diri kita.
_/|\_
Rigpa dari beberapa hari lalu sampai kemarin suhu
tubuhnya tinggi, sebagian besar manusia memberi judul
'sakit'. ribuan tawa dan senyum yang ditebarkan setiap
hari olehnya, telah terganti dengan tangisan tak henti
sepanjang hari.
Belum bisanya menangkap arti tangisan Rigpa membuat
kecemasan membajak wilayah yg luas dalam hati yang
mendengarnya.
Ketika saya menjelaskan kondisi Rigpa pada setiap orang
yang bertanya, hampir semua balik bertanya "Sudah
dibawa ke Dokter?"
"kami memilih untuk memberikan ruang agar tubuhnya
membangun sistem imunitas serta menyembukan dirinya
sendiri" jawab saya.
beberapa orang kembali bertanya " bagaimana bisa
sembuh kalau tidak diobati?"
saya dan istri hanya bisa tersenyum.
hari ini krisis kepercayaan terbesar manusia bukan pada
lembaga-lembaga eksekutif, yudikatif atau legislatif
melainkan pada tubuhnya sendiri.
kita telah menelan begitu banyak pengetahuan sampai
sampai pengetahuan itu menjadi autoimun. kita seolah-
olah kembali mempercayai bahwa bumi itu datar.
Suhu meninggi adalah reaksi alami karena tubuh ingin
mengaktifkan enzim serta mematikan bakteri, jamur atau
virus yang telah menyebar.
beberapa hari Rigpa tidak mau makan, ia hanya ingin
menelan air dan air, sesekali ASI, dan kami
menghormatinya sekaligus belajar dari kebijaksanaan
pikiran yang belum tercemar ini.
Tubuh yang panas membuat lidah tidak nyaman memakan
sesuatu, dan itulah kebijaksanaan tubuh yang ingin
berpuasa namun sering kita abaikan.
Lagi-lagi virus pengetahuan 'makanan dan kesehatan'
dari produsen makanan memang telah berkembang biak
dipikiran kita dibanding 'puasa dan kesehatan"
Perlu dan sangat mendesak bagi kita umat manusia
untuk hidup lebih rileks, mengurangi kebisingan pikiran
dengan jutaan keinginan dan mulai mendengarkan tubuh.
selayaknya kita menyadari bahwa tubuh yang nano
ukurannya bila dibandingkan alam semesta ini adalah
salah satu mahakarya dari pencipta.
untuk itu sudah saatnya kita lebih mempercayai
ciptaanNya dibanding dengan komposisi kimia yang
diciptakan massal dengan tambahan ego didalamnya.
sama sekali tidak anti, bahkan saya memuliakan profesi
dokter, serta semua teknologi kesehatan yang telah
membantu miliyardan orang.
Dokter berasal dari bahasa latin docere yang berarti
yang mengabarkan, yang memberitakan. Memberitakan
bahwa peran besar kesembuhan bukan terletak pada hal
luar namun apa yang ada di dalam.
persis seperti kata sang penemu Thomas Alva Edison
“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun
akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka
bimbingan kemanusiaan.."
hari ini adalah masa depan bagi Edison, sudah banyak
yang mengabarkan ,sudah banyak pula yang membimbing
manusia pada kemampuan diri sejatinya.
Sekarang sikap apa yang akan kita ambil sewaktu
keadaan tidak seimbang sedang menerpa diri ini, karena
sikap seseorang dalam menghadapi tubuhnya yang sedang
menyembuhkan dirinya sangatlah penting, seperti yang
dikatakan oleh bapak kedoketran modern Hippocrates
"Saya lebih suka mengetahui orang macam apa yang
mengidap penyakit daripada mengetahui jenis
penyakitnya."
jika selama ini dalam mengadapi "sakit" kita memberi
label dan konotasi negatif pada sakit, seperti Tuhan
yang sedang menghukum saya, atau menyalahkan cuaca,
virus dan sebab lainnya, alangkah baiknya kita
merangkul rasa tersebut, menjadikan Guru serta
mengambil pelajarannya.
Ada banyak karunia berlimpah disaat tubuh atau orang
disekitar kita menjalani proses yang dinamakan 'sakit'
tersebut.
sayang sekali bila kecemasan, ketakutan dibiarkan
mengisi tempat yang bisa diisi oleh banyak pelajaran
mencerahkan.
Sakit adalah guru besar yang mengajarkan kita untuk
menerima. Tatkala kita menyadari dan menerima keadaan
yang sedang dan akan terjadi, langkah hidup menjadi
ringan.
Ada baiknya kita melihat sakit sebagai sahabat,
merangkulnya seperti memeluk saudara kembarnya yang
bernama sehat. Di saat kita mampu memeluk keduanya,
disaat itulah kesadaran sejati memeluk diri kita.
_/|\_
Selasa, 17 Mei 2016
.:: KETIKA MENDIDIK ANAK ADALAH DILEMA ::.
Gobind Vashdev
MENDIDIK ANAK ADALAH DILEMA
"Pak, anak saya itu malas sekali, teknik apa yang perlu
saya lakukan agar dia rajin?"
"Pak, anak saya itu susah sekali dibilangi, trus gimana
dong supaya dia bisa nurut?"
"Pusing saya pak, tolong bapak aja yang nasehatin dia
,siapa tau bisa berubah?"
Hampir semua orang tua pingin anaknya berubah karena
melihat atau merasa ada yang salah di anaknya dan
menariknya hampir tidak ada orangtua yang merasa
bahwa ada yang salah dalam caranya melihat anak
tersebut.
Terus terang saya mendambakan orangtua datang dengan
pertanyaan seperti
"Pak bagaimana saya bisa menguasai diri saya ketika
saya berhubungan dengan anak saya?"
atau "saya sadar bahwa ada kemarahan dan ketakutan
yang besar dalam diri saya dalam mendidik anak saya,
apakah bapak punya saran untuk saya?"
kita yang berjuluk manusia dewasa, bertitel orangtua
adalah insan yang penuh luka, penuh trauma, ada begitu
banyak kebencian, kemarahan, iri, dengki, gelisah, cemas
,takut dan ratusan lainnya.
Pada tubuh yang berat ini dengan percaya diri kita
berani memberi label bahwa "salah satu tugas saya
adalah 'mendidik' anak"
Bagi saya kata 'mendidik anak' adalah dilema besar.
Bagaimana kita dengan pikiran yang sudah terkotak-
kotak, penuh penghakiman, rasis, gender berani mendidik
seseorang yang hadir dengan kemampuan melihat apa
adanya?
Ya memang kita lebih pintar dalam calistung, kita
mampu mendelegasikan, berkomunikasi, memanjat,
mengetik, naik motor dan jutaan hal lainnya namun
sadarkah kita bahwa semua kemampuan yang kita
pelajari adalah berujung pada sebuah kata yang kita
ingin capai yaitu bahagia, sementara anak yang kita
ingin didik kualitas bahagianya jauh diatas kita.
Bagaikan tangan kotor ingin membersihkan tangan yang
steril
Pikiran ruwet vs pikiran polos
Hati semrawut vs hati sempurna
Anak-anak hadir dengan kebijaksanaan jauh, sekali lagi
jauh lebih tinggi daripada kita sementara ego kita tidak
terima, ia ingin tampil dan terlihat lebih hebat, lebih
tinggi, lebih berpengalaman, lebih bisa dan lebih-lebih
yang lain.
sampai kapankah kita ingin mengontrol, menguasai
mencekoki Guru besar dalam raga kecil yang hadir untuk
menyadarkan kita ini?
Lihatlah ia, hanya lihat ... hanya Lihat .. tanpa
meletakan apapun, seperti yang pernah ia lakukan ketika
ia melihatmu untuk pertama kalinya,
Lihatlah apa adanya ... dan engkau tak mungkin salah
_/|\_
MENDIDIK ANAK ADALAH DILEMA
"Pak, anak saya itu malas sekali, teknik apa yang perlu
saya lakukan agar dia rajin?"
"Pak, anak saya itu susah sekali dibilangi, trus gimana
dong supaya dia bisa nurut?"
"Pusing saya pak, tolong bapak aja yang nasehatin dia
,siapa tau bisa berubah?"
Hampir semua orang tua pingin anaknya berubah karena
melihat atau merasa ada yang salah di anaknya dan
menariknya hampir tidak ada orangtua yang merasa
bahwa ada yang salah dalam caranya melihat anak
tersebut.
Terus terang saya mendambakan orangtua datang dengan
pertanyaan seperti
"Pak bagaimana saya bisa menguasai diri saya ketika
saya berhubungan dengan anak saya?"
atau "saya sadar bahwa ada kemarahan dan ketakutan
yang besar dalam diri saya dalam mendidik anak saya,
apakah bapak punya saran untuk saya?"
kita yang berjuluk manusia dewasa, bertitel orangtua
adalah insan yang penuh luka, penuh trauma, ada begitu
banyak kebencian, kemarahan, iri, dengki, gelisah, cemas
,takut dan ratusan lainnya.
Pada tubuh yang berat ini dengan percaya diri kita
berani memberi label bahwa "salah satu tugas saya
adalah 'mendidik' anak"
Bagi saya kata 'mendidik anak' adalah dilema besar.
Bagaimana kita dengan pikiran yang sudah terkotak-
kotak, penuh penghakiman, rasis, gender berani mendidik
seseorang yang hadir dengan kemampuan melihat apa
adanya?
Ya memang kita lebih pintar dalam calistung, kita
mampu mendelegasikan, berkomunikasi, memanjat,
mengetik, naik motor dan jutaan hal lainnya namun
sadarkah kita bahwa semua kemampuan yang kita
pelajari adalah berujung pada sebuah kata yang kita
ingin capai yaitu bahagia, sementara anak yang kita
ingin didik kualitas bahagianya jauh diatas kita.
Bagaikan tangan kotor ingin membersihkan tangan yang
steril
Pikiran ruwet vs pikiran polos
Hati semrawut vs hati sempurna
Anak-anak hadir dengan kebijaksanaan jauh, sekali lagi
jauh lebih tinggi daripada kita sementara ego kita tidak
terima, ia ingin tampil dan terlihat lebih hebat, lebih
tinggi, lebih berpengalaman, lebih bisa dan lebih-lebih
yang lain.
sampai kapankah kita ingin mengontrol, menguasai
mencekoki Guru besar dalam raga kecil yang hadir untuk
menyadarkan kita ini?
Lihatlah ia, hanya lihat ... hanya Lihat .. tanpa
meletakan apapun, seperti yang pernah ia lakukan ketika
ia melihatmu untuk pertama kalinya,
Lihatlah apa adanya ... dan engkau tak mungkin salah
_/|\_
Senin, 16 Mei 2016
.:: 3 HAL TENTANG KEPERCAYAAN DIRI ::.
Arif RH,
Ada 3 konsep terkait, sejauh mana kita mencintai, dan
menerima diri kita sendiri ...
Pertama ; Diri ideal (Self Ideal) ...
Diri ideal, adalah segenap kualitas fisik dan psikis yang
diharapkan seseorang. Misalnya, "aduuh aku kepingin
hidungnya mancung kayak artis anu (fisik)" ... "Ihhh
itu si anu itu pede banget yaaa, kepingin deh kayak
diaaa (pikis)" ...
Kedua ; Citra Diri (Self Image) ...
Citra diri, adalah bagaimana seseorang memandang
dirinya sendiri, baik secara psikis maupun fisik. "Aku
kok wajahnya jelek yaaaa (fisik)" ... "Aku wajahnya
cantik bangeeeet (fisik)" ... "Aku ini minderan
(psikis)" ... "Aku ini optimis orangnya (psikis)" ...
Ketiga ; Harga Diri (Self Esteem) ...
Harga Diri, adalah bagaimana "timbangan" antara Diri
Ideal dengan Citra Diri. Kalau "timbangan", antara Diri
Ideal dengan Citra Diri sama bobotnya, seseorang akan
pede dan mencintai dirinya sendiri. Kalau bobot Diri
Ideal, melebihi Citra Diri, seseorang akan minderan,
tidak pede dan rendah diri. Kalau Citra Diri bobotnya
jauh melebihi Diri Ideal, ni orang biasaya jadi kepedean
banget bahkan songong wkkk ...
Orang tidak pede, minderan, rendah diri, sulit menerima
dirinya sendiri apa adanya, itu terjadi karena dia
membandingkan "apa yang ia lihat tentang dirinya",
dengan diri ideal (segenap kualitas kesempurnaan), yang
ada di dalam angan-angannya ... Kadang, diri ideal,
terlihat ada pada diri orang lain ... Sehingga beberapa
orang, "kepingin jadi orang lain", "dan tidak mau
"menjadi dirinya sendiri" ... Maka solusinya antara dua
ini ;
1) Menurunkan bobot Diri Idealnya. Kriteria sosok
sempurna yang diharapkan ada pada diri sendiri, jangan
dipersulit. Sadari, tidak ada manusia yang sempurna.
Adanya ketidaksempurnaan pada setiap orang itulah,
yang justru merupakan kesempurnaan manusia.
2) Menaikkan bobot Citra Dirinya. Yaitu, memandang
diri sendiri lebih positif. Jangan focus pada kekurangan
diri, focus lah pada kelebihan dan keunikan yang ada
pada diri sendiri. Menara Pisa di Italy, kekurangannya,
bangunannya miring. Tapi gara-gara miring itulah, malah
jadi keunikan yang bikin terkenal.
Pecayalah, sehebat-hebatnya Celine Dion menyanyi ...
Dia bisa jadi "sangat bodoh" dalam hal membuat nasi
goreng ... Seseorang nampak sedemikian sempurna,
karena kita tidak melihat ketidaksempurnaannya ...
Stop comparing ... Start accepting ...
_/|\_
Ada 3 konsep terkait, sejauh mana kita mencintai, dan
menerima diri kita sendiri ...
Pertama ; Diri ideal (Self Ideal) ...
Diri ideal, adalah segenap kualitas fisik dan psikis yang
diharapkan seseorang. Misalnya, "aduuh aku kepingin
hidungnya mancung kayak artis anu (fisik)" ... "Ihhh
itu si anu itu pede banget yaaa, kepingin deh kayak
diaaa (pikis)" ...
Kedua ; Citra Diri (Self Image) ...
Citra diri, adalah bagaimana seseorang memandang
dirinya sendiri, baik secara psikis maupun fisik. "Aku
kok wajahnya jelek yaaaa (fisik)" ... "Aku wajahnya
cantik bangeeeet (fisik)" ... "Aku ini minderan
(psikis)" ... "Aku ini optimis orangnya (psikis)" ...
Ketiga ; Harga Diri (Self Esteem) ...
Harga Diri, adalah bagaimana "timbangan" antara Diri
Ideal dengan Citra Diri. Kalau "timbangan", antara Diri
Ideal dengan Citra Diri sama bobotnya, seseorang akan
pede dan mencintai dirinya sendiri. Kalau bobot Diri
Ideal, melebihi Citra Diri, seseorang akan minderan,
tidak pede dan rendah diri. Kalau Citra Diri bobotnya
jauh melebihi Diri Ideal, ni orang biasaya jadi kepedean
banget bahkan songong wkkk ...
Orang tidak pede, minderan, rendah diri, sulit menerima
dirinya sendiri apa adanya, itu terjadi karena dia
membandingkan "apa yang ia lihat tentang dirinya",
dengan diri ideal (segenap kualitas kesempurnaan), yang
ada di dalam angan-angannya ... Kadang, diri ideal,
terlihat ada pada diri orang lain ... Sehingga beberapa
orang, "kepingin jadi orang lain", "dan tidak mau
"menjadi dirinya sendiri" ... Maka solusinya antara dua
ini ;
1) Menurunkan bobot Diri Idealnya. Kriteria sosok
sempurna yang diharapkan ada pada diri sendiri, jangan
dipersulit. Sadari, tidak ada manusia yang sempurna.
Adanya ketidaksempurnaan pada setiap orang itulah,
yang justru merupakan kesempurnaan manusia.
2) Menaikkan bobot Citra Dirinya. Yaitu, memandang
diri sendiri lebih positif. Jangan focus pada kekurangan
diri, focus lah pada kelebihan dan keunikan yang ada
pada diri sendiri. Menara Pisa di Italy, kekurangannya,
bangunannya miring. Tapi gara-gara miring itulah, malah
jadi keunikan yang bikin terkenal.
Pecayalah, sehebat-hebatnya Celine Dion menyanyi ...
Dia bisa jadi "sangat bodoh" dalam hal membuat nasi
goreng ... Seseorang nampak sedemikian sempurna,
karena kita tidak melihat ketidaksempurnaannya ...
Stop comparing ... Start accepting ...
_/|\_
Sabtu, 14 Mei 2016
.:: SIAPA YANG DAPAT MENYAKITI (2) ::.
Gobind Vasdev,
Ijinkan saya meneruskan berbagi pelajaran kedua dari
gigitan semut yang amat berjasa itu.
Ia bagaikan seorang Guru yang menjelma menjadi semut,
ia seolah tahu bahwa bagian yang ia gigit adalah bagian
yang sedang meregang, bagian yang sedang saya
perhatikan.
Ada jeda antara gigitan hingga memindahkan semut yang
membuat saya mempunyai waktu untuk merasakan dan
berpikir sejenak.
saya membandingkan, biasanya kalau semut menggigit,
seluruh atau paling tidak salah satu bagian tubuh
langsung bereaksi keras, tidak jarang pula teriakan
'Aouuuww' terlontar, namun kali ini sakitnya sangat
terlokalisir.
Ketika saya memperhatikan lebih dalam pada titik gigit
tersebut rasa sakit tidaklah se-mengerikan sebelumnya.
saya yakin hal yang sama juga terjadi dalam sisi
kehidupan yang lain, ketika muncul masalah yang dirasa
besar, seketika kita merasa dunia runtuh.
Reputasi hilang lah, tidak mungkin bisa mendapatkan
kesempatan yang sama kembali, atau merasa percuma
dan putus asa.
padahal kalau mau jujur, masalahnya cuma satu saja,
dan tidak nyata alias ilusi, yaitu ego.
ada bagian diri (ego) yang tidak bisa menerima
keadaan, lalu dengan lihainya ia menunjukan gamba-
gambar mengerikan tentang masa depan atau apa yang
akan terjadi.
walau saya sudah pernah bangkrut lalu bangkit kembali,
kebangkrutan kedua masih saja menakutkan, saya
merasa hidup saya hancur dan tidak mungkin bisa
bangkit lagi.
Bayangan, para sahabat menjauh, kembali akan
menjalani rutinitas pagi sampai malam bekerja pada
orang lain, tidak bebas, tidak punya tabungan untuk
membeli yang diinginkan, cicilan tidak akan bisa
dilanjutkan dan benda akan disita dan ratusan lainnya.
Walau semua bayangan itu akhirnya terjadi (faktanya
tidak pernah), hidup yang dijalani tidak akan se-
mengerikan bayangan.
Bahkan tidak jarang di suatu masa kita akan
berterimakasih pada kejadian-kejadian itu.
Mirip seperti apa yang dikatakan komedian Jenius
Charlie Chaplin “Life is a tragedy when seen in close-
up, but a comedy in long-shot. To truly laugh, you must
be able to take your pain, and play with it!”
Kalau kita mau memperhatikan lebih dalam ke dalam,
sekali lagi 'ke dalam' bukan seperti bayangan diatas,
maka kita akan menemukan hal yang sederhana dan tak
heran kita pun tertawa sambil tepok jidat.
Apalagi kalau kita mau melihat dengan pespektif lebih
luas, kalau kita bisa membayangkan bahwa bumi yang
besar ini hanyalah debu diangkasa semesta ini, maka
seberapa besar masalah kita sampai berani-beraninya
berkata 'saya punya masalah besar'
Lagian sebesar apapun masalah, sejatinya Anda jauh
lebih besar daripada masalah apapun, selalu sadari yang
digigit bukan seluruh tubuh tapi hanyalah bagian kecil
dari tubuh.
Dunia ini mempunyai dua kutub, satu pisau bisa untuk
berbuat baik juga berbuat jahat.
Di Tiongkok ada pepatah, 'ketika angin datang, sebagian
orang membangun tembok dan sebagian lagi mendirikan
kincir angin.'
Begitupula Sebuah masalah yang datang memang bisa
menumbuhkan ego baru yang lebih kekar, namun bagi
mereka yang kebijaksanaannya sudah tinggi, masalah
yang datang adalah kesempatan emas untuk melepaskan
ego yang melekat.
Ijinkan saya meneruskan berbagi pelajaran kedua dari
gigitan semut yang amat berjasa itu.
Ia bagaikan seorang Guru yang menjelma menjadi semut,
ia seolah tahu bahwa bagian yang ia gigit adalah bagian
yang sedang meregang, bagian yang sedang saya
perhatikan.
Ada jeda antara gigitan hingga memindahkan semut yang
membuat saya mempunyai waktu untuk merasakan dan
berpikir sejenak.
saya membandingkan, biasanya kalau semut menggigit,
seluruh atau paling tidak salah satu bagian tubuh
langsung bereaksi keras, tidak jarang pula teriakan
'Aouuuww' terlontar, namun kali ini sakitnya sangat
terlokalisir.
Ketika saya memperhatikan lebih dalam pada titik gigit
tersebut rasa sakit tidaklah se-mengerikan sebelumnya.
saya yakin hal yang sama juga terjadi dalam sisi
kehidupan yang lain, ketika muncul masalah yang dirasa
besar, seketika kita merasa dunia runtuh.
Reputasi hilang lah, tidak mungkin bisa mendapatkan
kesempatan yang sama kembali, atau merasa percuma
dan putus asa.
padahal kalau mau jujur, masalahnya cuma satu saja,
dan tidak nyata alias ilusi, yaitu ego.
ada bagian diri (ego) yang tidak bisa menerima
keadaan, lalu dengan lihainya ia menunjukan gamba-
gambar mengerikan tentang masa depan atau apa yang
akan terjadi.
walau saya sudah pernah bangkrut lalu bangkit kembali,
kebangkrutan kedua masih saja menakutkan, saya
merasa hidup saya hancur dan tidak mungkin bisa
bangkit lagi.
Bayangan, para sahabat menjauh, kembali akan
menjalani rutinitas pagi sampai malam bekerja pada
orang lain, tidak bebas, tidak punya tabungan untuk
membeli yang diinginkan, cicilan tidak akan bisa
dilanjutkan dan benda akan disita dan ratusan lainnya.
Walau semua bayangan itu akhirnya terjadi (faktanya
tidak pernah), hidup yang dijalani tidak akan se-
mengerikan bayangan.
Bahkan tidak jarang di suatu masa kita akan
berterimakasih pada kejadian-kejadian itu.
Mirip seperti apa yang dikatakan komedian Jenius
Charlie Chaplin “Life is a tragedy when seen in close-
up, but a comedy in long-shot. To truly laugh, you must
be able to take your pain, and play with it!”
Kalau kita mau memperhatikan lebih dalam ke dalam,
sekali lagi 'ke dalam' bukan seperti bayangan diatas,
maka kita akan menemukan hal yang sederhana dan tak
heran kita pun tertawa sambil tepok jidat.
Apalagi kalau kita mau melihat dengan pespektif lebih
luas, kalau kita bisa membayangkan bahwa bumi yang
besar ini hanyalah debu diangkasa semesta ini, maka
seberapa besar masalah kita sampai berani-beraninya
berkata 'saya punya masalah besar'
Lagian sebesar apapun masalah, sejatinya Anda jauh
lebih besar daripada masalah apapun, selalu sadari yang
digigit bukan seluruh tubuh tapi hanyalah bagian kecil
dari tubuh.
Dunia ini mempunyai dua kutub, satu pisau bisa untuk
berbuat baik juga berbuat jahat.
Di Tiongkok ada pepatah, 'ketika angin datang, sebagian
orang membangun tembok dan sebagian lagi mendirikan
kincir angin.'
Begitupula Sebuah masalah yang datang memang bisa
menumbuhkan ego baru yang lebih kekar, namun bagi
mereka yang kebijaksanaannya sudah tinggi, masalah
yang datang adalah kesempatan emas untuk melepaskan
ego yang melekat.
Kamis, 12 Mei 2016
.:: SEKOLAH 'KNOWING' & SEKOLAH 'BEING' ::.
Djoko Madurianto Sunarto
SEKOLAH 'KNOWING' vs SEKOLAH 'BEING'
Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat
pimpinan baru
dari Perusahaan induknya di Jepang. Ia akan
menggantikan Pimpinan yang lama yang memang sudah
waktunya untuk balik ke negaranya.
Sebagai partner, saya ditugaskan utk mendampinginya
selama ia di Indonesia.
Saya menawarkan kepadanya selain perkenalan kpd relasi
juga, utk melihat2 objek wisata kota Jakarta dan
Bandung .
Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini
selalu berusaha utk mencari zebra cross. Berbeda dgn
saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang
di mana saja sesukanya.
Teman saya ini tetap tdk terpengaruh oleh situasi. Dia
terus mencari zebra cross ataupun jembatan
penyeberangan, setiap kali akan menyeberang. Padahal
di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn.sarana
seperti itu.
Yg lbh memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap
saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi
kecepatan guna memberi kesempatan pada para
penyeberang. Teman saya geleng2 kepala mengetahui
perilaku masyarakat kita.
Akhirnya saya coba menanyakan pandangan teman saya
ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.
Saya bertanya, mengapa orang2 di negara ini
menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka
tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana utk
menyeberang jalan. Sementara kenapa dia selalu
konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua
jalan di negara kami dilengkapi dgn sarana tsb..
Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya, "It's all
happened because of The Education System."
Saya kaget juga mendengar jawabannya. Apa
hubungannya menyeberang jalan sembarangan dgn sistem
pendidikan?
Dia melanjutkan penjelasannya,
"Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang
pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan
anak2 kita menjadi mahluk 'Knowing' atau sekedar tahu
saja, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak
anak2 menjadi mahluk 'Being'.
Apa maksudnya?
Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal
utk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat
siswa mau melakukan apa yg diketahui sebagai bagian dr
kehidupannya.
Anak2 tumbuh hanya menjadi 'Mahluk Knowing', hanya
sekedar 'mengetahui' bahwa:
- zebra cross adalah tempat menyeberang,
- tempat sampah adalah utk menaruh sampah.
Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah
sembarangan.
Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali
mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya
stress, pressure & akhirnya mogok sekolah. Segala
macam diajarkan dan banyak hal yg diujikan, tetapi tak
satupun dr siswa yang menerapkannya setelah ujian.
Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.
Di negara kami, sistem pendidikan benar2 diarahkan utk
mencetak manusia2 yg 'tidak hanya TAHU apa yg benar
tetapi MAU melakukan apa yg benar sebagai bagian dr
kehidupannya'.
Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata
pelajaran pokok:
1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social
Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus
dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar
kehidupan mereka.
Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU
menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya.
Anak2 ini jg tahu persis alasan mengapa mereka mau
atau tidak mau melakukan sesuatu.
Cara ini mulai diajarkan pd anak sejak usia mereka
masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg
kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk 'Being',
yakni manusia2 yg melakukan apa yg mereka tahu
benar."
Betapa sekolah begitu memegang peran yg sangat penting
bagi pembentukan perilaku & mental anak2 bangsa.
Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai lembaga
sertifikasi yg hanya mampu memberi ijazah kepada para
anak bangsa.
Karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk
membangun anak didik yang lebih beradab dalam
berperilaku, Bukan sekadar angka-angka akademik
seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah
ataupun Indeks Prestasi IPK..
Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama,
sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian,
karena setiap anak terlahir pintar dan pendidikan itu
sendiri adalah perkembangan
Oleh sebab itu, seyogyanya, kita tidak perlu terlalu risau
jika seorang anak belum bisa calistung ( baca tulis
hitung ) atau Pipolondo ( Ping Poro Lan Sudo ) saat
masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun,
Tapi mestinya kita "harus peduli jika sorang anak tidak
jujur dan beretika buruk".
Pendidikan itu bukan persiapan utk hidup, karena
pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
SEKOLAH 'KNOWING' vs SEKOLAH 'BEING'
Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat
pimpinan baru
dari Perusahaan induknya di Jepang. Ia akan
menggantikan Pimpinan yang lama yang memang sudah
waktunya untuk balik ke negaranya.
Sebagai partner, saya ditugaskan utk mendampinginya
selama ia di Indonesia.
Saya menawarkan kepadanya selain perkenalan kpd relasi
juga, utk melihat2 objek wisata kota Jakarta dan
Bandung .
Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini
selalu berusaha utk mencari zebra cross. Berbeda dgn
saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang
di mana saja sesukanya.
Teman saya ini tetap tdk terpengaruh oleh situasi. Dia
terus mencari zebra cross ataupun jembatan
penyeberangan, setiap kali akan menyeberang. Padahal
di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn.sarana
seperti itu.
Yg lbh memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap
saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi
kecepatan guna memberi kesempatan pada para
penyeberang. Teman saya geleng2 kepala mengetahui
perilaku masyarakat kita.
Akhirnya saya coba menanyakan pandangan teman saya
ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.
Saya bertanya, mengapa orang2 di negara ini
menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka
tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana utk
menyeberang jalan. Sementara kenapa dia selalu
konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua
jalan di negara kami dilengkapi dgn sarana tsb..
Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya, "It's all
happened because of The Education System."
Saya kaget juga mendengar jawabannya. Apa
hubungannya menyeberang jalan sembarangan dgn sistem
pendidikan?
Dia melanjutkan penjelasannya,
"Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang
pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan
anak2 kita menjadi mahluk 'Knowing' atau sekedar tahu
saja, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak
anak2 menjadi mahluk 'Being'.
Apa maksudnya?
Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal
utk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat
siswa mau melakukan apa yg diketahui sebagai bagian dr
kehidupannya.
Anak2 tumbuh hanya menjadi 'Mahluk Knowing', hanya
sekedar 'mengetahui' bahwa:
- zebra cross adalah tempat menyeberang,
- tempat sampah adalah utk menaruh sampah.
Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah
sembarangan.
Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali
mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya
stress, pressure & akhirnya mogok sekolah. Segala
macam diajarkan dan banyak hal yg diujikan, tetapi tak
satupun dr siswa yang menerapkannya setelah ujian.
Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.
Di negara kami, sistem pendidikan benar2 diarahkan utk
mencetak manusia2 yg 'tidak hanya TAHU apa yg benar
tetapi MAU melakukan apa yg benar sebagai bagian dr
kehidupannya'.
Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata
pelajaran pokok:
1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social
Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus
dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar
kehidupan mereka.
Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU
menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya.
Anak2 ini jg tahu persis alasan mengapa mereka mau
atau tidak mau melakukan sesuatu.
Cara ini mulai diajarkan pd anak sejak usia mereka
masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg
kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk 'Being',
yakni manusia2 yg melakukan apa yg mereka tahu
benar."
Betapa sekolah begitu memegang peran yg sangat penting
bagi pembentukan perilaku & mental anak2 bangsa.
Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai lembaga
sertifikasi yg hanya mampu memberi ijazah kepada para
anak bangsa.
Karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk
membangun anak didik yang lebih beradab dalam
berperilaku, Bukan sekadar angka-angka akademik
seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah
ataupun Indeks Prestasi IPK..
Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama,
sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian,
karena setiap anak terlahir pintar dan pendidikan itu
sendiri adalah perkembangan
Oleh sebab itu, seyogyanya, kita tidak perlu terlalu risau
jika seorang anak belum bisa calistung ( baca tulis
hitung ) atau Pipolondo ( Ping Poro Lan Sudo ) saat
masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun,
Tapi mestinya kita "harus peduli jika sorang anak tidak
jujur dan beretika buruk".
Pendidikan itu bukan persiapan utk hidup, karena
pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
.:: BERSATU KITA RUNTUH BERCERAI KITA TUMBUH ::.
Arif Rh
Pepatah yang umum didengar oleh kita sejak dulu adalah
begini ;
"Bersatu kita teguh ... Bercerai kita runtuh" ...
Namun dalam hidup, hampir tidak ada yang berlaku
dalam semua keadaan ... Yang pernah saya alami malah
kebalikannya ... Yaitu begini ;
"Bersatu, malah gaduh ... Bercerai, malah
bertumbuh" ...
Iya suerr ... Pernah beberapa kali kerja sama ... Malah
stuck ... Kita pertahankan bersatu, progressnya gitu-
gitu aja ... Setelah berpisah, saya jauh bertumbuh ...
Dan mereka juga melompat jauh ... Mengapa bisa
begitu? ...
Karena saat bersatu, kami gak bisa menyatu ... Raga
bergerak ke arah yang sama, di hati tidak demikian
adanya ... Di level fisik, ada sinergi ... Di level vibrasi,
energinya terus merugi wkkk ...
Jadi begini ... Kalau bersatu, tidak bisa menyatu ... Hati
tetep enggak bisa klik sampai ke dalam ... Berpisah lebih
baik ... Itu yang saya pelajari ... Ini berlaku dalam hal
apapun ... Termasuk anda yang bertanya, perihal
percekcokan dalam rumah tangga ...
Jawabannya, kembali ke diri anda ... Tapi intinya,
bersatu belum tentu teguh, kalau tidak menyatu ...
Bercerai, tidak selalu akan jadi runtuh, bisa juga malah
bertumbuh dan segala luka di bathin menjadi sembuh ...
Tapi, jika bersatu bisa semakin menyatu ... Dengan
bersatu menjadi semakin teguh dan semakin sembuh ...
Maka bercerai, bukanlah sebuah pilihan yang perlu
ditempuh ...
Pepatah yang umum didengar oleh kita sejak dulu adalah
begini ;
"Bersatu kita teguh ... Bercerai kita runtuh" ...
Namun dalam hidup, hampir tidak ada yang berlaku
dalam semua keadaan ... Yang pernah saya alami malah
kebalikannya ... Yaitu begini ;
"Bersatu, malah gaduh ... Bercerai, malah
bertumbuh" ...
Iya suerr ... Pernah beberapa kali kerja sama ... Malah
stuck ... Kita pertahankan bersatu, progressnya gitu-
gitu aja ... Setelah berpisah, saya jauh bertumbuh ...
Dan mereka juga melompat jauh ... Mengapa bisa
begitu? ...
Karena saat bersatu, kami gak bisa menyatu ... Raga
bergerak ke arah yang sama, di hati tidak demikian
adanya ... Di level fisik, ada sinergi ... Di level vibrasi,
energinya terus merugi wkkk ...
Jadi begini ... Kalau bersatu, tidak bisa menyatu ... Hati
tetep enggak bisa klik sampai ke dalam ... Berpisah lebih
baik ... Itu yang saya pelajari ... Ini berlaku dalam hal
apapun ... Termasuk anda yang bertanya, perihal
percekcokan dalam rumah tangga ...
Jawabannya, kembali ke diri anda ... Tapi intinya,
bersatu belum tentu teguh, kalau tidak menyatu ...
Bercerai, tidak selalu akan jadi runtuh, bisa juga malah
bertumbuh dan segala luka di bathin menjadi sembuh ...
Tapi, jika bersatu bisa semakin menyatu ... Dengan
bersatu menjadi semakin teguh dan semakin sembuh ...
Maka bercerai, bukanlah sebuah pilihan yang perlu
ditempuh ...
Selasa, 10 Mei 2016
.:: MENJADI TUAN ATAU BUDAK ? ::.
Ifan Winarno
berhentilah jadi budak masa lalumu .. jadilah tuan
atas nasibmu .. kalo kau mau menyuruh nasibmu
berubah, apa yang kau lakukan sebagai seorang
tuan? .. memerintah thok? membencinya? .. hanya
kalo tuannya berubah, baru semuanya berubah .
berhentilah jadi budak masa lalumu .. jadilah tuan
atas nasibmu .. kalo kau mau menyuruh nasibmu
berubah, apa yang kau lakukan sebagai seorang
tuan? .. memerintah thok? membencinya? .. hanya
kalo tuannya berubah, baru semuanya berubah .
.:: YANG GEDE BERAWAL DARI YANG SEPELE ::.
Arif Rh
Beberapa keributan antara suami istri, sering disebabkan
oleh hal-hal sepele ... Asli, hanya persoalan sepele ...
Masalah kecil, yang dibesar-besarkan ...
Sebenarnya, jika sering begitu ... Sebaiknya anda
bertanya ke diri sendiri ... Apakah anda masih mencintai
pasangan anda? ... Atau sudah enggak cinta, tapi
sudah terlanjur masuk dalam "ikatan" menikah dan
punya anak? ...
Logikanya sederhana ... Karena seharusnya, kalau masih
cinta, kesalahan besar pun kadang mampu dimaafkan ...
Apalagi yang kesalahan kecil khan? ... Karena rasa
cinta yang sangat besar, pasti memadamkan letupan
emosional ... Beneran masih cinta? ... Itu pertanyaannya
...
So ... Berhentilah menjalani kehidupan dengan bermental
"mak erot" ... Apa itu mental mak erot? ... Yaitu,
ketika seseorang, suka membesar-besarkan, hal yang
awalnya kecil ...
Beberapa keributan antara suami istri, sering disebabkan
oleh hal-hal sepele ... Asli, hanya persoalan sepele ...
Masalah kecil, yang dibesar-besarkan ...
Sebenarnya, jika sering begitu ... Sebaiknya anda
bertanya ke diri sendiri ... Apakah anda masih mencintai
pasangan anda? ... Atau sudah enggak cinta, tapi
sudah terlanjur masuk dalam "ikatan" menikah dan
punya anak? ...
Logikanya sederhana ... Karena seharusnya, kalau masih
cinta, kesalahan besar pun kadang mampu dimaafkan ...
Apalagi yang kesalahan kecil khan? ... Karena rasa
cinta yang sangat besar, pasti memadamkan letupan
emosional ... Beneran masih cinta? ... Itu pertanyaannya
...
So ... Berhentilah menjalani kehidupan dengan bermental
"mak erot" ... Apa itu mental mak erot? ... Yaitu,
ketika seseorang, suka membesar-besarkan, hal yang
awalnya kecil ...
.:: KENYANG ::.
Arif Rh
Serakus-rakusnya orang makan, maka, kenyang, akan
menghentikannya ... Sepongah-pongahnya orang dalam
hidup ... Maka, "kejedhot" akan menyadarkannya
Serakus-rakusnya orang makan, maka, kenyang, akan
menghentikannya ... Sepongah-pongahnya orang dalam
hidup ... Maka, "kejedhot" akan menyadarkannya
Langganan:
Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Saya pernah dengar gosip bahwa sekarang ada metode Kristenisasi dengan meniru-niru agama Islam. Tapi rupanya gosip itu berasal dari orang ya...
-
Arif RH, Dulu banget, saat memberikan pelatihan, saya sering menggunakan game flash di laptop ... Gamenya game kartu ... Ini game jadul bang...