Senin, 22 Februari 2016

.::NETRAL TANPA MEMIHAK::.

Oleh : Gobind Vashdev


Banyak yang bertanya pendapat saya baik di Inbox,
Comment atau langsung tentang LGBT,
Jawaban saya seperti biasa selalu 'ngambang' , jika
Anda berharap mendapatkan jawaban setuju atau tidak,
LGBT itu benar atau salah, mungkin Anda akan kecewa.
Sama sekali tidak keberatan bila seseorang mengatakan
saya tidak punya pendirian, plin plan atau tidak berani
bersikap.
100 % saya bisa mengerti label yang diberikan pada
saya, semengerti saya pada sikap kelompok yang
mendukung dan menolak LGBT.
Kita menyetujui sesuatu atau sebaliknya, mengatakan
benar atau salah, semuanya tergantung data dan
program yang tertanam di dalam diri. Lingkungan,
budaya, kepercayaan, nilai di masyarakat dan berbagai
hal lainnya turut membentuk penilaian kita.
Sehingga mengatakan orang yang setuju itu salah atau
yg tidak setuju itu tidak benar adalah sesuatu dilema.
"Tapi Bin ini masalah kodrat, bukanya Tuhan
menciptakan kita berpasangan-pasangan, kalau mereka
melakukannya dengan sejenis maka itu kan sudah pasti
salah" kata seorang sahabat."
Saya juga punya pandangan dan meyakini bahwa
manusia itu kodratnya adalah herbivora, dari bentuk
gigi, enzim yang ada di air liur, gerakan mengunyah,
asam di lambung, panjang usus dan berbagai hal lainnya
cocok dengan makhluk lain yang memakan tetumbuhan.
Saya mempraktekkan untuk diri saya namun saya juga
mengerti sahabat yang lain yang menganut pola hidup
omnivora.
Dari pengertian ini muncul sikap tidak menyalahkan,
memaksa apalagi menakut-nakuti sahabat yang lain
dengan dosa atau hukuman yang datang dari Tuhan.
Saya tidak mau wajah Tuhan yang penyayang dan
pengasih saya ubah menjadi wajah yang seram dan kejam
hanya untuk orang lain menurut pada apa yang saya
ucapkan.
Tujuan menjadi vegetarian sama seperti tujuan seseorang
membaca kitab suci, berhijab atau bermeditasi, yaitu
agar hati ini menjadi lebih Welas asih.
Kalau kita setelah membaca kitab suci, bervegetarian,
memakai busana tertutup atau melakukan duduk hening
merasa lebih suci, lebih bersih lalu menghakimi atau
menakuti orang lain yang tidak melakukan seperti yang
kita lakukan maka kita semakin menjauh dari apa yg
diajarkan para suci.
Kita perlu menengok kebelakang, belajar dari yang sudah
berlalu, juga meluaskan pandangan kita, menyalahkan
seseorang atau menghukumnya bukan serta merta
membuat seseorang berubah, yang ada ia semakin kuat
dan hubungan kita dengan orang yang ingin kita ubah
menjadi jauh.
Kalaupun ia berubah, perubahan itu lebih sering hadir
dari trauma atau rasa bersalah bukan dari kesadaran.
Untuk yang mendukung atau tidak , lakukan sesuatu
pada apa yang Anda yakini, buatlah kampanye,
pelatihan,sosialisasi, konseling, atau apapun namanya,
namun sebelum melakukan alangkah baiknya mengadakan
dialog dengan pihak yang tidak sepaham agar kita
mendapat pengertian lebih dalam.
Lewat pengertian yang dalam akan muncul sikap rendah
hati, terbuka, welas asih dalam tindakan yang akan kita
gelorakan.
Manusia di manapun akan lebih gampang tersentuh
hatinya dengan cara-cara lembut.
Kemarahan dan kekerasan bukan hanya berpotensi
melukai pihak lain, membuat musuh namun juga
merugikan batin ini. Tindakan dan penghakiman yang kita
lontarkan bukan menunjukkan siapa pihak lain itu,
melainkan kita sedang menelanjangi diri kita sendiri.
Saya menghormati makhluk hidup apalagi manusia yang
disebut yang termulia.
Sifat-sifat mulia ini lah yang selayaknya menjadi
pedoman kita dalam berpikir, berucap bersikap, dan
bertingkah laku.
saya menghormati mereka yang memilih beragama juga
menghormati yang memilih tidak percaya Tuhan, karena
manusia lebih penting daripada apa yang dia percayai.
saya menghormati homoseksual juga heteroseksual
,manusia lebih penting daripada orientasi sex nya.
Yang mendukung dan tidak mendukung, keduanya saya
hormati seperti saya menghormati mereka yang setuju
dan tidak setuju dengan status ini, saya tidak akan
membiarkan kebencian merampas kedamaian di dalam,
hanya karena seseorang atau sekelompok orang
mengkritik tulisan ini.

.::SEMUA KUALITAS AKAN MEMBIASA::.

By : Arif RH


Dulu, zaman saya masih kecil ... Kalau naik kereta api,
tidak pernah naik kereta kelas bisnis atau eksekutif ...
Selalu naik kereta kelas ekonomi ... Maklumlah, ayah
saya perlu berhemat ketat ... Dan di zaman saya dulu,
kereta api ekonomi, belom seperti sekarang ... Penuh
sesak, banyak pengamen dan asongan ... Belom ber-AC
... Panas ... Dan bau kotoran hewan, karena belom ada
larangan membawa hewan ...
Wah ... Enak yaaa naik kereta kelas bisnis dan
eksekutif ... Begitu pikir saya dulu ... Sampai pada suatu
masa, akhirnya ... Kemana-mana naiknya kereta
eksekutif ... Hampir tidak pernah naik kereta api
ekonomi ... Awalnya, nikmaaaat ... Joknya empuk ...
Sunyi ... Fasilitas oke ... Toilet bersih ... Waktu
perjalanan lebih cepat ... Dan segala kualitas yang
sangat saya syukuri ... Jauh dengan naik ekonomi ...
Sampai suatu titik, karena saking seringnya naik kereta
eksekutif ... Semua kualitas yang awalnya menakjubkan
... Awalnya memicu kenikmatan dan rasa syukur yang
mendalam ... Lama-kelamaan, seolah hilang entah
kemana ... Sering muncul keluhan, "aduh lama banget sih
ini, gak nyampe-nyampe ... badanku sudah capek
banget" ... Padahal, itu sudah paling cepet itu, kereta
api yang dinaiki ...
Ini mirip kayak anda beli hape canggih ... Pas baru beli
... Wuaduuu itu nguplek aja sama hape barunya ... Pas
beli mobil baru juga sama ... Beli motor baru iya juga
serupa rasanya ... Lama-lama membiasa ... Syukurnya
lama-lama memudar ... Tidak sebagaimana awal-awal ...
Dan mulai melihat yang lain lagi, yang belom dimiliki ...
Ya ... Pelangi, selalu nampak ada di atas kepala orang
lain ... Jika kita tidak menyadarinya, pengejaran
kebahagiaan, tidak akan pernah berakhir ... Mengejar
kebahagiaan, akan menjadi suatu pengejaran yang
teramat sangat melelahkan ...
Semua kualitas, pasti suatu saat akan membiasa ...
Itulah yang akan mengikis rasa syukur dan kebahagiaan
kita ... Sadari, bahwa sesuatu keadaan yang kita
keluhkan sekarang, bisa jadi adalah keadaan yang
diimpikan oleh orang lain ...
"Ketika kualitas yang di level atas, sudah susah
disyukuri dan dinikmati ... Sempatkan untuk kembali
"turun" ... Melihat lagi yang ada di bawah" ...
Pernah heran melihat orang kaya raya, assetnya
milyaran atau bahkan trilyunan, malah sederhana, suka
tidur di gubuk? ... Bikin rumah di gunung atau di
pedesaan? ... Makan makanan seadanya? ... Mulai lagi
sering naik kereta ekonomi? ... Dan sebagainya semacam
itu? ... Itu adalah sebuah upaya, agar mereka kembali
bisa melihat keindahan, pada sesuatu yang sudah
membiasa dalam kehidupan mereka ...
Yang belom pernah naik pesawat udara ... Memimpikan
naik pesawat, membayangkan indahnya naik pesawat,
saat pesawat menembus awan-awan indah di langit ...
Yang sering naik pesawat ... Pas pesawat menembus
awan-awan di langit, justru membuat pesawat
bergoncang keras (turbulance), dan ini membuat mereka
kepingin cepat turun dari pesawat hahahaha ...
"Semua kualitas ... Akan membiasa" ...

Sabtu, 20 Februari 2016

.::KEIKHLASAN BUKAN METODE MENJADI KAYA::.

Oleh : Gobind Vashdev


Setelah teori tentang pencapaian keinginan dengan hasrat
yang menggebu-gebu mulai ditinggalkan, teori ikhlas dan
pasrah mulai menggeliat di kelas-kelas pelatihan
pengembangan diri.
Banyak sahabat yang bercerita bagaimana pencapaian
jauh lebih besar, lebih cepat, lebih permanen dan lebih
nyaman bisa didapat bila menggunakan keikhlasan
sebagai dasar dalam melangkah.
Tentu saya setuju lebih berserah pada apa yang akan
terjadi lebih baik daripada menggenggam keinginan dan
menggunakan segala daya upaya agar target menjadi
harus didapat, kalau perlu melakukan barter, atau
memerintah bahkan menodong Tuhan.
Namun setiap kali mendengar cerita keikhlasan dan
diakhiri dengan kesenangan atas pencapaian dari suatu
tujuan atau harapan, setiap kali pula hati saya
bertanya, bagaimana bila keinginan itu tidak terwujud
atau bahkan berseberangan dengan hasil yang
diharapkan? Apakah kebahagiaan kita tetap sama ?
Walau sering mendapati sahabat yang bernada dan
berekspresi berbeda ketika menjawab bahwa dirinya tetap
bahagia disaat goal tidak tergapai, saya tidak berhak
memvonis tingkat kebahagiaan seseorang.
Kita semua sedang bertumbuh.
Masih teringat bagaimana masa kuliah management saya
isi dengan mencibir orang yang tidak punya tujuan,
setiap hari dipikiran ini hanya strategi dalam mengejar
materi sampai-sampai mengorbankan kesehatan juga
kedamaian pikiran. Setelahnya bertahun-tahun saya
menambahkan usaha lain agar mendapat pengakuan dari
masyarakat.
Semakin usia bertambah, hadir kesadaran baru bahwa
menjalani hidup yang bermakna jauh lebih
membahagiakan, kesadaran ini menelorkan kata
"kontribusi" sebagai jargon utamanya.
"bukan berapa banyak yang kau kumpulkan namun
seberapa besar yang kau kontribusikan yang membuat
perbedaan mencolok dalam dirimu"
Dan dengan kesadaran saat ini, materi dan pengakuan
telah memudar kemilaunya, sementara tujuan dan
kontribusi juga bukanlah hal yang penting lagi.
apa yang bisa kita banggakan dari kontribusi yang kita
berikan, bukankah semua kepintaran, kesehatan, materi,
bahkan peluang adalah pemberianNya.
Tujuan dan kontribusi sering mengandung "aku", dengan
kata lain ada ego yang halus bersembunyi dibalik tameng
tujuan dan topeng kontribusi.
Ketika seseorang mengikhlaskan ego untuk pergi, maka
ia akan menemui dirinya ditopang oleh kekuatan yang
tak terhingga, ia menyatu dan berpelukan dengan arus
semesta yang mengalir.
Keikhlasan bukanlah metode untuk mencapai sesuatu
yang diharapkan. Keikhlasan adalah sebuah tingkat
kesadaran yang bukan hanya melepaskan hasil yang akan
diperoleh, tapi juga sikap serta cara memandang yang
netral, dimana putih tidak lebih baik daripada hitam,
kesedihan bukan berlawanan dengan kegembiraan dan
sakit tidak berbeda dengan sehat.
Keduanya diterima serupa seperti saudara kembar.
Layaknya anak-anak yang bermain jungkat-jungkit, mau
di atas atau di bawah, yang menghias wajahnya
hanyalah senyuman.
Akhirnya saya juga sadar, bahwa ada yang setuju dan
pasti juga ada yang menolak tulisan ini. Baik yang suka,
atau yang mencemooh, semuanya diterima dengan
senyuman yang sama.

Kamis, 18 Februari 2016

.::Sang Bijak::.

" Hidup di lumpur namun tidak kotor, berada di air tapi
tidak basah.
Hiduplah di dunia, laksanakan tugas sesuai dharmamu
namun janganlah melekat, pasrahkan hasilnya,
berserahlah dengan sempurna. "

.::MENYENANGKAN ANAK SANGATLAH TIDAK PENTING !::.

By : Gobin Vashdev

Hari itu, Ibunya Rigpa ingin beryoga ria dan seperti
kebanyakan anak yang secara emosional dekat dengan
ibunya, pasti juga ia ingin dekat secara fisik.
Rigpa tidak menginginkan ibunya pergi, ia ingin ikut
bersama ibunya, namun dengan berbagai pertimbangan
kami memutuskan bahwa Ibunya pergi sendiri.
Tentu ada berbagai cara untuk membuat anak tidak
melihat kepergian ibunya, dengan membuatnya sibuk atau
mengajak mandi misalnya namun sejak awal kami
menjalani rumah tangga, cara-cara seperti itu tidak
kami pilih.
Saya dan Rigpa mengantarkan Kartika pergi, dan bisa
diramal bahwa Rigpa akan menjerit, meronta dan
meraung dengan cucuran air mata bak keran air.
Setelah 15 menit, masih di jalan sempit yang diapit
sawah tempat kami berpisah tangisan juga air mata
tidak terputus. Pak Made pemilik rumah dimana kami
menyewa datang dengan tergopoh-gopoh " ada apa ini?"
belum sempat saya menjawab, dengan tangan seperti
hendak menggendong ia berkata "yuk sama bapak lihat
bebek disana".
Sekilas memang seperti inilah seharusnya kehidupan
dijalankan, kalau sakit yang diobatin segera, kalau
nangis ya ditenangkan, kalau marah diademkan, kalau
sedih ya dihibur jawabannya.
Bagaimana menenangkan anak versi sebagian besar
orangtua?
diberi permen, coklat atau makanan yang enak, diajak
melihat sesuatu yang membuat pikirannya sibuk, diberi
gadget, ditontonkan tv atau sejenisnya.
Sepertinya tujuan utamanya adalah supaya nangisnya
berhenti, namun kalau kita telusuri lebih dalam semua
bentuk perlakuan orangtua tua itu adalah bukan untuk
kepentingan anak melainkan kepentingan dirinya sendiri.
kita semua tidak pernah bermasalah dengan apapun dan
siapapun diluar diri kita, kita menenangkan anak yang
sedang menjerit karena kita ingin menghilagkan rasa
gegana (gelisah galau dan merana) dalam diri kita
sendiri.
Yang meradang didalam namun yang dibereskan diluar,
yang terbakar didalam tapi yang disiram yang diluar.
Artinya apapun yang kita lakukan diluar sejatinya adalah
apa yang kita lakukan didalam.
Dengan kata lain, bila orangtua terbiasa meng alihkan
ketidaknyamanan anak pada sesuatu yang lainnya,
artinya ia juga sedang berusaha mengalihkan rasa tidak
nyaman yang berkecamuk dalam dirinya.
Begitupula dengan sikap yang lain, ketika kita ingin
mengatur segalanya diluar , sebenarnya kita ingin
mengatur yang ada didalam, kita mengontrol diluar
karena kita ingin mengontrol rasa yang didalam.
Sadari tugas pertama kita adalah memadamkan
kebakaran yang ada didalam.
Anak terlahir adalah sebagai Guru besar bagi
orangtuanya. Ia tidak hanya terhubung secara fisik dan
emosional, namun juga pada tingkatan yang lebih dalam,
sehingga apapun prilaku anak Anda semuanya adalah
cermin dari tingkat energi terdalam dari diri Anda
sebagai orangtuanya.
Bukannya kita mendidik, namun anak-anaklah yang
menuntun orangtuanya untuk mendapatkan kesadaran
yang baru.
Namun perhatikanlah apa yang biasanya terjadi? kita
mengabaikan emosi-emosi yang terpancing lewat tingkah
laku anak yang selayaknya dibereskan tapi Malah
sebaliknya dengan segera kita mengalihkannya,
memarahinya.
Dan sebaliknya kita sibuk menyenagkan anak dengan
hadiah, merayakan ulang tahun atau menuruti semua
keinginannya.
Menyenangkan anak sangatlah tidak penting, karena ia
hadir dengan kebahagiaan yang lebih dari kita. kita
mencekokin cara kita bahagia yang penuh syarat dan
kalkulasi pada anak yang penuh kemurnian.
Sebaliknya kitalah yang perlu belajar darinya, pada
kepolosannya, pada kemampuannya melihat tanpa
menghakimi dan jutaan hal lainnya.
Proses bertemu dan pergi adalah proses yang paling
alamiah, seperti matahari yang datang dan pergi, juga
kesedihan dan kesenangan yang muncul dan lenyap.
Begitupulah raungan anak yang akan terganti oleh tawa
yang renyah setelah beberapa saat.
menerima anak yang menangis sama halnya kita sedang
menerima ketidaknyamanan yang ada didalam.
Tatkala kita sudah mampu menerima kesedihan, bukan
serta merta kesedihan larut dan menghilang, mungkin
sekali kesedihan masih ada, namun ia tidak membuat
kita menderita.
"Nak inilah kehidupan, kemarin papa pergi sekarang
papa ada disini, baru saja
Mommy pergi sebentar juga Mommy akan datang.
Kemarin Rigpa senang, saat ini terganti oleh kesedihan,
inilah kehidupan semuanya hadir dan pergi. rangkulah
ketidaknyamananmu, peluklah sedihmu Nak"
Itulah nasehat yang saya ucapkan waktu itu, memang
kelihatannya untuk Rigpa, padahal lagi-lagi nasehat
tersebut paling pas untuk orang yang mengatakannya.

Senin, 15 Februari 2016

.::BEBAS MERDEKA::.

Tidak berusaha mengesankan orang lain adalah pertanda
seseorang telah menerima dirinya dengan utuh, ia tidak
perlu lagi persetujuan, penerimaan, penghargaan dari
lainnya.
Ia adalah orang yang bebas dan merdeka.
“To be beautiful means to be yourself. You don’t need
to be accepted by others. You need to accept yourself.”
- Thich Nhat Hanh

.::MEMBUMILAH::.

Tentang keduniawian, jika engkau selayaknya orang yang
sedang memandang langit, maka langit itu tak ada
batasannya, terlalu luas, jika mengikuti "ingin" terus,
tidak akan ada habis habisnya......
Jika engkau memandang ke bawah, maka pandanganmu
akan mentok ketanah, akan mentok dalam rasa syukur,
rasa selalu merasa beruntung dari orang banyak, karena
banyak yang jauh lebih malang daripada kita.......
Bintang2 itu terlalu indah, tak bisa engkau gapai, hanya
bisa engkau impikan...... tanah inilah yang nyata
dihadapanmu dan bisa engkau gapai dengan mudah.......
"langit hanya rendah ketika sudah kiamat, saat yang
sudah terlambat untuk menggapai bintang bintang......."

.::TUHAN & DUALITAS::.

Tuhan berbicara kepada
manusia, dengan bahasa dualitas (contoh dualitas ; baik
- buruk, benar - salah, positif - negatif, hidup - mati,
dsb) ... Tuhan "menurunkan bahasa", agar manusia
mampu menjangkau-NYA ... Bahasa "kasarnya", DIA
menurunkan "kelas"-NYA ... Mirip orang level Doktor,
bicara kepada anak TK ... Supaya bisa dipahami, yang
level Doktor lah, yang perlu menyesuaikan dirinya ...
Namun sebaliknya ... Bagi manusia yang berniat sangat
dalam, untuk mengenal-NYA, mereka perlu menaikkan
bahasa dalam konsep pikirannya ... Yaitu, meninggalkan
bahasa dualitas (yang tadi saya tulis di atas) ...
Dualitas, adalah tembok penghalang tipis namun tebal,
yang menyebabkan kita sulit memahami paradoks (contoh
paradoks ; ada tapi tiada - tiada tapi ada, awal
sekaligus akhir, kosong adalah isi - isi adalah kosong,
yang di luar ada di dalam - yang di dalam ada di luar,
hidup tapi tidak mati, sangat dekat tapi jauh - jauh
tapi sangat dekat, dsb) ... Karena DIA, dzat yang
melampaui dualitas, dan Maha Paradoks ...
Pihak pertama, menurunkan bahasa ... Pihak kedua,
menaikkan bahasa ... Mereka akan berjumpa dalam
"ruang pemahaman", yang sulit dijelaskan ...

.::ADA APA DENGAN CINTA::.

jatuh cinta adalah jawabannya.
Tidak perlu mendefinisikan Cinta atau pentingnya
mengetahui alasan kenapa cinta bisa jatuh,
yang jauh lebih penting ditanyakan adalah "kemana kah
Cinta merangkak naik meninggalkan kejatuhannya setelah
beberapa lama berselang?"
bukan hanya kehambaran saja yang mengisi kekosongan
hati setelah ditinggalkan Cinta namun kemarahan dan
kebencian sering sekali menjadi penghuni tetapnya.
Semua ini sangat wajar terjadi, karena apa yang
dianggap Cinta oleh sebagian besar Pecinta bukanlah
Cinta, melainkan kriteria yang terpenuhi.
saya mempunyai kriteria di otak saya tentang wanita
yang akan menjadi pendamping hidup saya, tatkala saya
bertemu dengan wanita dengan tinggi badan, warna
kulit, panjang rambut, cara berbicara, cara berpikir,
agama dan ratusan hal lainnya sama dengan kriteria
yang saya inginkan maka "Cinta" hadir.
begitu kriteria ini berangsur-angsur lenyap , "Cinta" pun
memudarkan dirinya.
Rumi pernah mengatakan "From Understanding Comes
Love "
"Dari Pemahaman, Cinta hadir"
"Pemahaman tentang apa?" itu pertanyaan plus
kebingungan saya ketika pertama membaca kalimat Rumi
tersebut, berbulan -bulan kemudian titik terang mulai
terlihat ketika membaca apa yang di sampaikan Albert
Eistein “Our separation of each other is an optical
illusion of consciousness.”
"Keterpisahan dengan yang lain adalah ilusi dari
kesadaran"
Siapa yang memisahkan kita dengan yang lain? Ego
adalah jawabannya.
Ketika ego menyelinap, ia memisahkan antara diri sendiri
dan lain, dan keterpisahan ini pelahan-lahan
memudarkan energi yang sebelumnya terhubung.
Untuk mempertahankan energinya, ego menciptakan peran
agar mendapat penghargaan, pengakuan, penerimaan
atau jenis-jenis energi dari luar lainnya.
ketika ego tidak mendapatkan energi, ia mulai menekan
dan menuntut.
Bila sebelumnya kita membiarkan orang lain tumbuh
secara organik, setelah hadirnya ego kita mulai melihat
pasangan, anak atau orang lain dengan keharusan yang
kita inginkan, disini biasanya terjadi gesekan dan luka
yang mendalam.
Selama luka ini belum tersembuhkan selama itulah
kemarahan dan kebencian menggenangi bathin ini.
Disaat seseorang mampu terlepas dari segala egonya dan
merasakan keterhubungan dengan orang lain bahkan ia
kehilangan dirinya sendiri , disanalah Cinta menjemput
seperti yang pernah diceritakan oleh Attar dari
Neishapur :
Seseorang yang sedang jatuh cinta mengetuk pintu rumah
kekasihnya. 'Siapa?' tanya sang kekasih dari dalam.
'Aku,' kata orang itu, 'Pergi sajalah! Rumah ini tidak
akan muat untuk kau dan aku.'
Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke padang gurun.
Di sana ia merenung selama berbulan-bulan, memikirkan
kata-kata kekasihnya. Akhirnya, ia kembali dan
mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.
Siapa yang mengetuk itu?
'Engkau!'
Segera pintu dibukakan.
Bunda penuh Welas Asih, Mother Theresa pernah berujar
"If we have no peace, it is because we have forgotten
that we belong to each other"
Jikalau kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita
telah melupakan bahwa kita saling memiliki"
senada dengan apa yang di katakan Muslih –Ud-Din
Saadi "Semua putra Adam adalah anggota tubuh yang
sama."
kesadaran terhubung ini membawa kita pada level yang
tak mungkin terjangkau oleh kebencian, mirip seperti
tangan kanan yang menggaruk tangan kiri hingga luka.
Tangan kiri tidak mungkin marah pada tangan kanan,
karena ia sadar bahwa tangan yang menggaruk adalah
bagian dari dirinya sendiri.
Di India ada istilah Vasudhaiva Kutumbhakam, semua
makhluk bersaudara. Ya kita semua diciptakan oleh
tangan yang sama, tangan yang penuh dengan Kasih,
kita semua tanpa terkecuali adalah percikan dari Cinta
Ilahi yang tak terhingga, oleh karenanya sangat tidak
masuk akal bila kita tidak saling mencintai.

Minggu, 14 Februari 2016

.:: SOSIAL MEDIA ITU ?::.

Pernah gak anda mengamati ... Beberapa anak kecil
yang berkelahi rebutan mainan ... Salah satu kalah,
yang kalah menangis meraung-raung sejadi-jadinya ...
Bahkan berguling-guling di lantai ... Marah, sedih,
kecewa, meledak melalui tangisannya ...
Apakah anak kecil itu lebay / berlebihan? ... Tunggu
dulu ... Perhatikan setelah itu ... Satu jam kemudian ...
Anak-anak yang bertengkar tadi, bermain bersama
kembali, seolah tidak pernah ada perseteruan yang
terjadi di antara mereka sebelumnya ... Kok bisa? ...
Apa sebenarnya rahasia mereka? ...
Rahasianya, anak-anak diberikan ruang "kemakluman"
untuk mengungkapkan emosinya ... Ketika anak-anak
menangis, orang-orang maklum dan mengatakan, "yaaah
namanya juga anak-anak" ... Itulah sebuah ruang
perlakuan, dimana anak-anak diberikan kesempatan,
utuk menyembuhkan diri mereka ...
Lalu amati orang dewasa ... Nampak cool ... Setelah
berselisih pendapat, seolah tidak ada apa-apa ... Tidak
ada tangisan ... Tidak ada guling-guling di tanah ...
Tidak ada raungan ... Tapi sejak itu, putuslah
pesahabatan ... Iya khan? ... Anak-anak hanya butuh 1
jam ... Orang dewasa bertahun-tahun ... Mengapa? ...
Saat dewasa, ada norma dan nilai, yang membunuh
kemampuan alami penyembuhan emosi ... Nangis itu
lemah ... Marah itu jelek ... Dan sebagainya ...
Sehingga, semenjak beranjak dewasa, kita lebih
diarahkan untuk menumpuk emosi di dalam, daripada
dibuang keluar ...
Dengan ditumpuk ke dalam ... Memang nampak elegan ...
Memang nampak tenang, damai dan diam ... Tapi tidak
kah anda heran ... Orang yang kita sebut orang baik,
banyak diam, malah cenderung penyakitan dan mati
duluan? ... Sementara orang yang kita sebut bangsat,
ngomong asal njeplak, malah sehat bugar umurnya
panjang? ...
Anak kecil, tampil apa adanya dan diberikan kebebasan,
mengungkapkan emosi mereka ... Sementara orang
dewasa, malah memilih tidak merdeka dan lebih suka
mengenakan topeng sebanyak-banyaknya ... Di sosial
media, orang dipaksa pula begitu pula ... Tidak tampil
apa adanya ... Akhirnya, antara "ruang tamu jiwa" dan
"dapur jiwa", sangat kontras keadaan aslinya ...
Semakin terkenal, semakin populer, semakin berpura-
pura ... Semakin dituntut sempurna ... Semakin banyak
aturannya ... Kalau di facebook, semakin tidak merdeka
membuat postingannya, karena takut dikomentarin,
"anda khan public figur, mosok statusnya begini?" ...
Kasihan sekali khan hahahahaha ... Semakin sukses,
semakin menderita ... Karena semakin sempit ruang
pemaklumannya ...
Padahal alam itu, tampil apa adanya, seperti anak kecil
dengan kepolosannya ... Saatnya gunung meletus, dia
meletus ... Saatnya badai, dia badai ... Saatnya hujan
petir, dia hujan petir ... Apa adanya ... Sudah benar
adanya dan begitulah seharusnya ...
Alam tidak menahan-nahan dinamikanya, untuk menjaga
image ... Gunung tidak berpikir, "gua kagak meletus ah,
ntar dianggap saya pembawa bencana" ... Petir tidak
mempertimbangkan, "gua kagak nyamber ah, kelihatan
nanti tidak ramah" ... Tidak ada itu begitu-begitu ...
Alam mengekspresikan dinamika dirinya dengan apa
adanya ...
Semakin banyak teman, bisa jadi semakin banyak gak
boleh gini, gak boleh gitunya...

"Media sosial, adalah ruang dinamis bagi setiap orang
untuk bertumbuh ... Tapi bila tidak diwaspadai ... Media
sosial adalah ruang sempit untuk membunuh ...
Membunuh kemerdekaan ... Membunuh kejujuran ...
Membunuh kealamian yang apa adanya ..." Kaya kuwe lah
...
Tidak setuju? ... Tidak apa-apa hahahahahahahaha .

Sabtu, 13 Februari 2016

.::SIFAT ASLI KRITIKAN ITU MENGHANCURKAN ::..

Ya, kritikan itu menghancurkan..
Kritik, tidak akan pernah bisa membangun, kecuali orang
yang dikiritik, memiliki kemampuan membangun dirinya,
pasca dikritik ... Coba deh anda yang punya anak, sejak
lahir, kritik terus itu anak sampai gede ... Kita lihat
hasilnya bagaimana? ...
Saya menduga, anak yang terus menerus dikritik itu,
akan hancur ... Mengapa ... Karena anak itu, tidak
dikuatkan kemampuan membangunnya ... Cuman
dihancurkan setiap waktu ... Anda boleh coba deh
dengan pasangan hidup anda ... Suami, terus aja sering
kritik istrinya ... Atau sebaliknya .. Bisa bubar itu ...
Terus gimana donk, padahal kritik itu katanya
membangun?
Begini ... Bagaimana agar kritik itu membangun? ... Itu
tadi, bangun kemampuan orang yang dikritik, agar bisa
membangun dirinya, pasca kita kritik ... Caranya? ...
Sederhana, jangan kasih kritik, kalau orangnya tidak
meminta kritik ... Kalau orangnya sudah berkata,
"monggo, barangkali ada kritik buat saya ...
silahkan" ... Nah, kalau begitu, orangnya sudah ada
kemampuan membangun ... Kalau sudah begitu, kritik
akan pasti bisa membangun ...
Ingat sekali lagi, saat kita mengkritik, kita
menghancurkan, membangun adalah pekerjaan tambahan
orang yang dikiritik ... Banyak orang mengkritik, tidak
bertanggungjawab ... Kayak penggusuran, tanpa
pemberitahuan ... Tanpa negosiasi rumah-rumah langsung
dihancurkan ... Kalau dikasih tahu dulu mau ada
penggusuran, ada negosiasi, dihancurkan pun akan bisa
membangun ... Minimal, membangun mentalitasnya, tidak
trauma melihat rumahnya dihancurkan ...
Tapi yang menarik, saat ada orang mengatakan,
"silahkan, barangkali ada kritik buat saya" ... Malah
kagak ada kritikan ... Silahkan anda buat status begitu
... Malah gak ada kritik loh .. Kritik, justru muncul saat
tidak dipersilahkan khan? ... Itu yang saya bilang tadi
... Sifat asli dari kritik itu, menghancurkan ... Dan
orang latah suka menghancurkan, tanpa membantu
kesiapan orang yang dikiritik, agar dia bisa membangun
...
Berikan kritik saat kita diminta memberikan kritik ...
Atau, bisa dengan meminta ijin, "apakah saya boleh
memberikan kritik?" ... "kalau saya kritik boleh
tidak?" ... Dengan cara itu, orang sudah siap
dihancurkan ... Dan dia akan mampu membangun dirinya
kembali ...
Seseorang itu bisa diibaratkan beras ... Saat beras
dihancurkan menjadi tepung ... Jika kemampuan
membangun dirinya sudah dibangun ... Maka ia pasti
tahu dan mampu, bagaimana memanfaatkan beras
hancur (tepung) itu, menjadi sesuatu yang bermanfaat,
bagi dirinya ...

MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?

Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...