Tuhan berbicara kepada
manusia, dengan bahasa dualitas (contoh dualitas ; baik
- buruk, benar - salah, positif - negatif, hidup - mati,
dsb) ... Tuhan "menurunkan bahasa", agar manusia
mampu menjangkau-NYA ... Bahasa "kasarnya", DIA
menurunkan "kelas"-NYA ... Mirip orang level Doktor,
bicara kepada anak TK ... Supaya bisa dipahami, yang
level Doktor lah, yang perlu menyesuaikan dirinya ...
Namun sebaliknya ... Bagi manusia yang berniat sangat
dalam, untuk mengenal-NYA, mereka perlu menaikkan
bahasa dalam konsep pikirannya ... Yaitu, meninggalkan
bahasa dualitas (yang tadi saya tulis di atas) ...
Dualitas, adalah tembok penghalang tipis namun tebal,
yang menyebabkan kita sulit memahami paradoks (contoh
paradoks ; ada tapi tiada - tiada tapi ada, awal
sekaligus akhir, kosong adalah isi - isi adalah kosong,
yang di luar ada di dalam - yang di dalam ada di luar,
hidup tapi tidak mati, sangat dekat tapi jauh - jauh
tapi sangat dekat, dsb) ... Karena DIA, dzat yang
melampaui dualitas, dan Maha Paradoks ...
Pihak pertama, menurunkan bahasa ... Pihak kedua,
menaikkan bahasa ... Mereka akan berjumpa dalam
"ruang pemahaman", yang sulit dijelaskan ...
Ini adalah Blog Pribadi Segala resiko menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing. Semoga Semua Mahluk Berbahagia Rahayu!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MENGHORMATI YANG TUA : Apakah Makna Sesungguhnya Begitu?
Mari kita uraikan ☕ Kalau ditelusuri, adab menghormati yang tua awalnya lahir dari akar budaya agraris dan komunal Nusantara — di mana ha...
-
Muniri Chodri, Dalam suatu kesempatan, saya terlibat diskusi tentang pertentangan Ahli fiqh dan kaum Sufi. Ahli fiqh menyangsikan amaliah ya...
-
"Bagaimana bisa dikatakan cinta, jikalau engkau sepi dari jiwa dan semangat berkorban kepada yang dicintai, cinta itu tiada menuntut ba...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar